Bau amis anyir cepat menyergap masuk ke relung hidung begitu mendekat ke sebuah ruang perawatan anak. Bau yang tidak jelas asalnya. Bau karbol tidak mampu mengalahkan kerasnya bau anyir ini.

Di dalam ruangan itu ada sekitar 15 anak sedang dirawat dengan berbagai jenis penyakitnya. Beberapa anak tertidur, satu dua meringis kesakitan. Kantong cairan infus bergelantungan di sana sini, dengan selangnya yang panjang berputar-putar.

Ibu-ibu berbaju kumal berbekal kain sarung menemani putra-putri mereka yang sedang sakit. Ada yang duduk di bawah, tiduran di tempat tidur sempit berbagi dengan anaknya, dan ada yang duduk bermenung sambil mengipasi anaknya.

Seorang ibu batuk-batuk di ujung ruangan, berdahak berat. Dilepehkan dahaknya ke lantai. Mungkin itu sumber bau amisnya.

Suster yang berjaga di sudut ruangan sibuk mencatat status pasien yang bertumpuk di mejanya. Beberapa jenis obat terlihat tergeletak di meja itu juga. Di meja kecil di sampingnya, terlihat beberapa jenis obat, baik tablet, kapsul maupun jenis obat suntik, yang sengaja terlihat dikumpulkan jadi satu.

Melihat lirikan mata saya ke obat-obatan itu, sang Suster itu tersenyum. “Itu obat sisa pak“. “Kenapa nggak dibuang?” tutur saya ringan. “Sayang. Masih banyak anak-anak yang tidak mampu bayar obat pak. Kita pakai saja obat sisa itu untuk mereka“, jelasnya datar. “Obat suntik juga?“. “Ya, justru itu yang biasanya mahal pak” tukas sang suster.

Erangan salah seorang anak membuat sang Suster menghentikan pembicaraan kami karena ia segera menghampiri sang anak. Sayapun mengikuti dari belakang. “Suspect Meningitis, sudah tiga hari di sini“, kata sang Suster.

Tidak lama di sana, saya beranjak ke ruang rawat intensif. Tidak seperti ruang ICU di rumah sakit-rumah sakit besar Jakarta, ruang rawat intensif di rumah sakit tipe D di kabupaten miskin ini sangatlah sederhana. Hanya terdiri dari beberapa ruangan dengan kaca besar, dan beberapa meja perawat yang penuh dengan alat-alat medis. Perbedaan mencolok dengan ruang rawat anak tadi adalah tidak adanya bau amis di sana. Hanya bau obat menusuk.

Di salah satu ruangan seorang anak terlihat tertidur sendirian. Tubuhnya diinfus. “Kemana ibunya?” tanya saya pada seorang suster. “Sedang mengurus obat. Pakai kartu sehat sih. Tapi nggak semua obatnya bisa didapat gratis. Obat yang bagus nggak dikasih. Mahal sih“, kata sang suster.

Sang anak tidak bergerak. Diam saja. “Dia sudah seminggu koma. Nggak sadar“, jelas sang suster. “Ooohhh“…

Bayangan kedua anak saya membayang di belakang mata. Ujung mata saya basah.

Dalam rangka membantu sebuah proyek penelitian, beberapa tahun lalu saya pernah diminta menemani peneliti utama dari Inggris untuk mencari data tentang program MCH (Maternal and Child Health) di Kalimantan Selatan.

Setelah beberapa hari berada di Banjarmasin, ibukota Kalsel, kami beranjak ke beberapa kabupaten di provinsi ini untuk melihat perkembangan program yang sedang kami teliti dan evaluasi.

Sampai di sebuah Puskesmas kecil yang terawat resik dan asri, kami disambut oleh ibu dokter pimpinan Puskesmas. Ternyata ia dan suami sama-sama bekerja di Puskesmas yang sama. Istrinyalah yang menjadi kepala Puskesmas di sana. Rumah mereka terletak di samping gedung Puskesmas.

Sambil mendengarkan keterangan ibu kepala Puskesmas, saya pun menyempatkan diri melihat-lihat laporan dan kondisi Puskesmas itu. Sangat rapi. Semua dokumen dan laporan tersimpan dengan rapi. Walau gedung dan fasilitas di Puskesmas itu tidaklah tergolong baru namun semuanya terlihat tertata dengan rapi.

Setelah selesai mendapatkan data dan informasi dari beliau, kamipun ngobrol-ngobrol secara santai dengan beliau. Ternyata beliau dan suami adalah sama-sama lulusan dari fakultas kedokteran sebuah universitas swasta di Jakarta. Mereka berasal dari keluarga yang cukup mampu. Kedua orangtuanya sang ibu dokter masih tinggal di sebuah kawasan elit di Jakarta Selatan.

Setelah lepas makan siang, kami diagendakan untuk bertemu dengan para bidan di desa di bawah tanggungjawab Puskesmas tersebut. Cukup banyak jumlahnya, antara 10-15 orang kira-kira. Kebetulan mereka pagi harinya ada pertemuan rutin di Puskesmas, sehingga waktu siangnya bisa dipergunakan untuk bertemu kami.

Semuanya masih muda-muda. Yang paling tua mungkin berumur sekitar 25 tahun. Sebagian besar mengenakan kerudung mengikuti kepercayaan dan kebiasaan masyarakat setempat. Kamipun berbagi tugas mewawancarai mereka secara informal. Saya kebetulan menemani Damian, bule asal London yang kebetulan juga adik kelas saya sewaktu sekolah master dulu.

Umumnya bidan-bidan itu malu-malu menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Tapi ada satu orang yang menarik perhatian kami. Ia ditugaskan di suatu daerah yang cukup jauh. Untuk ke Puskesmas dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dengan menumpang ojek dari desa tempat ia bertugas. Jadi kalau ada pertemuan di Puskesmas seperti hari ini, dia harus datang satu hari sebelumnya dan menginap di rumah teman atau bahkan di Puskesmas. Wajahnya cukup menarik, dan tutur sapanya menunjukkan kecerdasannya.

Tanpa dinyana, sang bidan dengan tanpa ragu menimpali pertanyaan-pertanyaan kami dalam bahasa Inggris yang cukup bagus. Saya sangat kagum. Damian duduk terhenyak. Kaget. Gadis yang bertugas di ujung gunung ini mampu berbahasa Inggris dengan baik! Jadilah pembicaraan kami semakin lancar adanya. Lebih jauh ia bercerita bahwa selepas dari SMA ia masuk pendidikan ‘crash program’ bidan 1 tahun. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 selepas masa kontraknya selesai.

Bidan di desa dikontrak selama 3 tahun. Kebanyakan dari mereka hanya diberi bekal pendidikan kebidanan selama satu tahun, walaupun normalnya adalah setingkat D3. Namun karena mengejar program penempatan bidan di Desa, diadakanlah crash program tersebut. Jadi, sebenarnya bekal mereka masih minim sekali. Pengalaman ‘hands on’ membantu proses melahirkan belumlah didapat dengan jumlah yang memadai selama di pendidikan. Jadilah mereka terpaksa harus ‘learning by doing’ di tempat tugasnya.

Setelah selesai sesi wawancara tidak terstruktur siang itu, kami berangkat ke sebuah desa yang terletak kira-kira 30 menit perjalanan mobil dari Puskesmas tersebut. Melekat di bibir sungai, ada sebuah balai pertemuan milik desa tersebut. Di sisinya, ada kamar kecil dilengkapi dapur dan kamar mandi, tempat salah seorang Bidan tinggal.

Jadilah kami ngobrol di sana, mengamati ‘first hand’ kehidupan bidan di desa yang sebenarnya. Sang bidan, yang kebetulan sama sekali tidak pandai berbahasa Inggris, dengan senang hati curhat pada kami menjelaskan suka duka dan seluk beluk profesi dan kehidupannya sebagai bidan di desa.

Bidan di desa, dengan pendidikan yang cukup tinggi untuk ukuran pedesaan, umumnya menjadi perhatian pemuda di kampung. Tidak sedikit cerita adanya bidan yang diminta menikah dengan pemuda setempat, atau menjadi istri muda kepala desa. Semuanya menjadi bagian dari dinamika kehidupan mereka.

Paraji, dukun, dan mantri kampung juga menjadi bagian dari tantangan pekerjaan mereka. Maklum, biasanya para penyedia jasa kesehatan tersebut sudah lama berada di sana dan menjadi tumpuan harapan masyarakat umum. Dengan adanya bidan maka sedikit banyak mereka merasa ‘terancam’ keberadaannya.

Di sela obrolan kami, pisang goreng hangat yang baru dimasak di dapur menyertai sore itu. Damainya suasana, sambil mata memandang aliran sungai coklat di belakang rumah. Sang bidan terus bercerita tentang kehidupannya, pekerjaannya, dan harapannya.

Menjelang maghrib, kami harus kembali ke Banjarmasin, masih beberapa jam perjalanan dari sana. Malamnya, aku tidak bisa tidur nyenyak. Membayangkan seorang bidan yang harus sakit pantatnya 4 jam duduk di bangku ojek, dan seorang lagi yang pasti sibuk menepuk nyamuk pinggir sungai. Tempat tidur empuk hotel kami yang ongkos semalamnya hampir setengah dari gaji bidan sebulan tidak mampu membantu tidurku.

Umar - 1 diantara 35
Tadi siang saya kedatangan salah seorang mahasiswa, Umar namanya, asal Nigeria. Dia baru beberapa kali ketemu saya sebelumnya. Dua kali di kampus dan beberapa kali di Masjid dekat kampus.

Dia sedang duduk di ruang tunggu ketika saya sapa namanya. Dia agak kaget dan ketika kemudian kami ngobrol-ngobrol lebih lanjut dia berkata, “I was surprised that you knew my name, we just met several times”. Kebetulan saya memang pelupa akan nama orang, apalagi mahasiswa yang jumlahnya bejibun. Tapi nama dia kok gampang diingat, jadi saya ingat nama dia. Seriusnya, kadang saya lupa nama kakak-kakak saya sendiri, padahal jumlahnya cuma 6 orang saja.

Si Umar ini menimpali: “Two brothers and four sisters are not much you know, you should have no problem at all remembering their names”. Saya senyam-senyum saja mengingat kadang memang kalau sedang “error” memang saya lupa nama-nama orang…he…he….

“I have 35 brothers and sisters. And I remember them all”, timpalnya.

Saya agak terperanjat. “35? How come? From the same father?”
“Yes, from one father”, katanya.

“From how many wifes?
“Four”

“Oh, so in average one mother has 9 children then”.
“My mom has 11″.

Amazing Family

Klara - Climber, Tour Guide, and Doctor

Klara berasal dari Republik Ceko (Czech Republic). Cantik, tinggi, dan kerap kali mengenakan pakaian yang agak ‘mengundang’.

Dia adalah seorang dokter. Sebelum meneruskan kuliah, dia bekerja di Pakistan sebagai volunteer di sebuah International NGO. Dia sedang berlibur di Inggris ketika ia bertemu beberapa orang yang hendak meneruskan kuliah di sini. Klarapun tertarik dan ia ikut mendaftar. Jadi sebetulnya ia tidak ada niat untuk bersekolah pada awalnya.

Klara orangnya cukup kritis. Kuliah pertama kali ia men-challenge saya. Agak gelagapan juga saya ditanya demikian kritis oleh dia, tapi jurus ‘angsa mengelak serangan elang’ pun saya kibaskan….he…he….

Kemudian saya tahu kalau hobi Klara adalah Rock Climbing. Puncak-puncak gunung tinggi di Eropa sudah dijelajahinya. Demikian pula dinding-dinding terjal terkemuka di pegunungan Alpen. Strong girl.

Barusan saya terima email dari Klara. Masa liburan summer ini dia manfaatkan sebagai tour guide sebuah perusahaan travel. Ia mengantar turis-turis keliling negara-negara eropa. Ia berjanji mau mengirimkan postcard buat saya.

Amazing Girl.

Sally - Director, Professor, and Mum
Sally adalah direktur lembaga tempat saya bekerja dulu. Stafnya ada sekitar 35 orang, terdiri dari beberapa professor, banyak PhD, dan staf-staf lainnya. Dari sekian banyak staf ini, hanya dua yang laki-laki. Saya dan Richard. Saat saya memutuskan untuk pindah kerja, hanya tinggal Richard laki-laki yang bekerja di sana.

Sebagai direktur, Sally tentu sangat sibuk. Dari pagi sampai petang. Dari rapat, mengajar, membimbing mahasiswa, sampai mengkoordinasi stafnya. Apalagi ia orang yang sangat memperhatikan kebutuhan anak-buahnya. Pada saya, Sally sangat baik sekali. Saat meeting appraisal pekerjaan saya misalnya, kami bicara panjang lebar mengenai banyak hal. Saya sangat terbuka padanya karena ia adalah orang yang sangat mendengarkan keluhan stafnya, dan ia berupaya membantu semampunya.

Pekerjaannya tentu saja sangat stressful. Ia harus bisa mendapatkan cukup project setiap tahunnya untuk mencukupi target yang ditentukan oleh pimpinan universitas. Selain untuk membiayai gaji anak buah dan kebutuhan kantor lainnya, unit kami adalah unit ‘cash cow’ yang diharapkan menjadi motor penggali dana bagi universitas.

Sally juga seorang Professor. Artinya dia sangat mumpuni dalam bidang akademis. Kalau lihat dari CV-nya dia memulai dari profesi yang jauh dari rute menuju profesorship. Awalnya dia adalah Health Visitor, kemudian beralih menjadi pengajar, melanjutkan sekolah, sampai kemudian mencapai gelar professor pada usia 45-an. Prestasi yang membanggakan tentunya.

Sally adalah seorang Ibu juga. Ia berputri dua, sudah hampir besar dua-duanya. Setiap menjelang sore, Sally berpikir hendak memasak apa untuk makan malam suami dan dua putrinya. Saat ia terpaksa terlambat pulang, ia harus menelepon suaminya minta tolong memasukkan ayam ke dalam oven. Saat musim semi tiba, giliran rumput halaman belakang rumah yang dipikirkan. Saat putrinya hendak ujian, sang ibupun turut cemas memikirkan.

Amazing (ex) Boss……

Lebih dari tiga puluh tahun lalu, saat usia baru lepas balita, saya mulai ikut kegiatan Pramuka. Saat itu saya masuk Pramuka Siaga, kategori termuda dalam gerakan Pramuka. Gugus depan kami bernama Dharma Cempaka, dengan nomor Gudep 617-618.

Setiap Minggu sore, pukul setengah empat saya pergi dengan berseragam pramuka ke tempat latihan kami di pinggir sungai belakang kompleks. Mulai dari upacara pembukaan, kegiatan, sampai acara penutupan menjelang maghrib tiba. Hampir semua anak di kompleks kami ikut bergabung dalam kegiatan Pramuka di sana.

Salah seorang kakak pembina kami bernama Sunarwan. Kami memanggilnya dengan panggilan ‘Kak Narwan’. Selain kak Narwan, ada juga kak Marmin, kak Rahmat, dan satu-dua pembina lainnya. Sayangnya saya sudah lupa nama-nama yang lainnya.

Kak Narwan bertanggungjawab pada kami, kegiatan pramuka Siaga. Kegiatan Pramuka kami sangat sederhana. Tidak macam-macam. Satu hari kami berlatih berbaris. Lain hari bermain kacu (dasi) pramuka, saat lain kami masak-memasak.

Kak Narwan selalu hadir tepat waktu. Dengan sepeda ontelnya beliau datang dari rumahnya di kawasan kemayoran ke tempat latihan di Cempaka Putih. Kadang kalau saya malas pergi berlatih Pramuka beliau datang menghampiri saya ke rumah dan mengajak saya pergi dengan menggonceng sepedanya.

Tahun demi tahun berlalu, dan setiap akhir pekan hampir tidak pernah lepas aku hadir di latihan Pramuka. Aku lalu mengajak teman-teman dari sekolahku untuk ikut berlatih Pramuka di sana. Walau di sekolah kami juga bergabung dalam kegiatan Pramuka sekolah, di hari Minggu kami berlatih kembali di Dharma Cempaka. Lama kelamaan, jumlah anggota Pramuka kami lebih banyak yang berasal dari kawan teman sekolahku dibanding anak-anak dari kompleks kami.

Saat kami mulai beranjak besar, kamipun ‘naik kelas’ ke kelompok Penggalang. Kegiatannya mulai agak lain sifatnya. Tapi semuanya masih bersifat ‘fun’ yang positif. Karena jumlah pelatih kami makin berkurang jumlahnya (kak Rahmat meninggal dunia, kak Marmin aktif di tempat lain), kak Narwan kemudian menjadi tulang punggung pelatihan Gugus Depan kami.

Sampai saat terakhir aku masih aktif di gerakan Pramuka 11 tahun kemudian, gerakan Pramuka sudah tidak banyak lagi pamornya di kalangan anak-anak dan remaja. Mungkin ada banyak kegiatan lainnya yang mereka lebih minati.

Namun kak Narwan masih rajin datang setiap akhir pekan walau jumlah yang datang makin sedikit. Memang ia mendapat honor dari pengurus Kompleks, tapi jumlahnya aku yakin sangat jauh dari memadai. Aku tahu honornya sangatlah minim, bahkan nyaris bagai kerja sukarela. Namun ia selalu tersenyum dan bersemangat melatih kami.

Saat gerakan Pramuka kami sudah tinggal nama karena tidak ada lagi pesertanya, kak Narwan masih rajin menyambangi kami. Masih dengan sepeda ontel tuanya, tanpa diminta beliau aktif mengirimkan majalah ke-Pramukaan ke rumah kami masing-masing. Sampai tidak enak hati kami jika mendapat kiriman dari beliau. Setiap Lebaran kami selalu mendapat kartu lebaran, atau beliau datang langsung berkunjung. Kamipun kadang membalas dengan mengirimkan parcel saat Natal, mengingat beliau adalah pemeluk agama Kristen.

Terakhir saya bertemu beliau sekitar 5-6 tahun yang lalu saat pulang ke Indonesia dan menyempatkan diri bertamu ke kediamannya. Masih di gang sempit kawasan padat penduduk di bilangan Kemayoran. Sayang waktu itu beliau tidak ada di rumah, pergi kerja sebagai Satpam di bilangan Menteng, masih dengan sepeda ontel tuanya.

Saat ini, lebih dari 30 tahun saya sudah mengenal kak Narwan. Entah kenapa saya selalu merasa berhutang budi pada beliau.

*Aang, Anton, Arfian, Irfan, Wawan, Dodo, Taufik, Adi & Abi. Kemana kamu semua? Reuni-an yuk……

Yes, it is our story.

We as a family first came to the UK in 2003. We live in an enclosed University owned accomodation in Norwich. All of our neighbours were postgraduate students. We made good friendships with our neighbours, people from different nationalities.

Our next door neighbours was an Egyptian Family. Mahmoud and his wife was very nice and we helped each other. When he finished his study, we helped them packup, cleaned out his house, and put their belongings in the car bound for Heathrow airport. Our other neighbours were Malaysians, Japanese, Israelis, Nigerians, Mexicans, Germans, Finnish, and British. Our best friends were the Talib’s family from Malaysia. They shared our sadness and also happiness.

Unfortunately, near the end of the year 2004, we had to move on. I got a job offer in Hertfordshire and we need to move closer to the area. After a tireless house hunting, we opted to rent the cheapest house available close to my office. It was a two bedroom flat in St Albans, about 15 minutes drive to my office in Hatfield. The house was very cold (no carpet on first floor, heavily worn and very filthy carpet on second floor, and no double glazed windows), we literally have to use thick clothing indoors. But we had to move in, and fortunately, our children accepted and did not complain about anything. That was our second house move.

We only lived in that flat for 8 months. I then got a mortgage offer to buy a house for a 25 year period from a national bank, and as the area we live at that time was so expensive, we decided to buy the house in Sandy, about 32 miles (more than 50 kms) from St Albans. We then moved there.

What a beautiful feeling we had when we moved in into our own house. It was literally empty house though as we did not have any furniture at all at that time. Mainly through E-bay then we bought our household contents - from chairs to fridge. We also attended an auction house in St Albans to get bargain goods. We collected and transported everything ourselves. I rent a van for several weekends and collected the bunk bed near Colchester (Essex), the sofa in Baldock (Hertfordshire), and the Fridge and Washing Machine in Daventry, near Coventry.

We commuted every day, all of us. We deliberately did not move our children education near home. They continued their schooling in St Albans. I worked in Hatfield, and my wife worked in Welwyn Garden City. All within 10 miles distance or so. Hence, each morning we left home together, I drove and we chatted all the way down to St Albans area. In the afternoon, my wife would take our children from school and later took me from my office.

We lived in that house for only one and a half years. Our fourth house move was required when I got a chance to step into my next professional career. The choice was to move directly closer to my new job location or I temporarily rent a room over there. We decided to sell the house and rent a house back in St Albans to get close to our children school and my wife’s place of work. We planned to stay in St Albans for 6 months or so.

I rented a room in Wolverhampton, just next to the Mollyneux Stadium (Wolverhampton City FC), and a 10 minutes walk to my new office. I use the room from Monday to Friday, and I go back to St Albans every weekends.

Now it’s almost the time to move closer to my office. It would be summer, hence school transfer to my children would be easier. I’ve been looking for a house to rent in Wolverhampton and have some ideas already on which one to rent.

If we are successfully moving house to Wolverhampton, it would be our fifth house in the five years we’ve been here in the UK. However, the move to Wolverhampton would be subjected to one particular thing that still on the pipeline. Please wait for a further news.

Kemarin 25/06/07 saya dapat kesempatan bertemu Dr. R.M Marty Natalegawa, duta besar RI untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia. Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan dan laporkan selaku pengurus ICMI London dan KIBAR kepada beliau selaku ‘pengemong’ warga Indonesia di Inggris. 

Saya pribadi sangat mengagumi beliau. Di usianya yang masih relatif muda, beliau sudah dipercaya memegang amanah yang sangat berat, yaitu menjadi wakil pemerintah Indonesia di negara superpower seperti Inggris ini.  Daya analisis, kemampuan beliau berdiplomasi dan mengungkapkan pengetahuan dan pandangannya secara verbal sangatlah mengagumkan. 

Namun demikian, beliau tetaplah rendah hati dan siap diajak bicara. Di luar kapasitas beliau sebagai pejabat negara, seringkali beliau juga bercanda pada kami warga Indonesia yang sedang berada di Inggris ini. Beberapa bulan lalu misalnya, selepas sebuah acara resepsi di KBRI, saya dan teman-teman menyempatkan diri berfoto di depan podium Pidato di KBRIruang resepsi sambil bergaya seakan-akan saya sedang berbicara di sebuah forum resmi kenegaraan (di podium itu ada gambar garuda pancasilanya). Tak dinyana ketika itu beliau belum keluar dari ruangan dan melihat saya sedang bergaya di depan kamera. Beliau kemudian mendatangi saya, dan (diluar dugaan) malah menertawakan saya sambil berguyon ‘Lain kali Anda saya minta bicara beneran deh di situ’ katanya….. saya tersenyum-senyum malu mengingat ada banyak staf KBRI dan tamu undangan lain yang masih ada di sana.

Kembali ke cerita pertemuan kami kemarin, pak Dubes dengan ramah dan penuh perhatian mendengarkan pemaparan dan laporan kami. Setelah itu beliau mengemukakan pandangannya pada hal-hal yang kami sampaikan secara panjang lebar. Pertemuan yang biasanya hanya dijadwalkan sekitar 30 menit ternyata berlangsung sampai dua jam. Beliau terlihat antusias berdiskusi dengan kami dan bertukar pandangan yang tentu saja sangat kami hargai dari beliau.

Menjelang pukul 12, terdengar sinyal dari sebuah handphone yang menandakan masuknya sebuah sms. Ternyata itu berasal dari handphone beliau. Nampaknya itu adalah sms dari sekretaris beliau yang mengindikasikan bahwa ada hal lain yang perlu dikerjakannya.

Saat itu saya kemudian memperhatikan handphone yang beliau pegang. Handphone Nokia tipe yang sangat sederhana. Tidak ada kameranya. Tidak ada macam-macamnya.

Dalam hati saya berpikir, masak Dubes handphonenya sederhana banget sih? Nggak mungkin kan beliau tidak punya budget untuk membeli handphone yang lebih ‘upmarket’?

Pikiran saya lalu melayang ke rapat-rapat yang dulu sering saya hadiri ketika di Jakarta. Rapat terakhir yang saya hadiri adalah sebuah pertemuan/diskusi dengan beberapa perwakilan manajemen rumah sakit, akademisi, dan staf departemen kesehatan. Saat itu, semua orang rasanya saling berlomba mengeluarkan handphone masing-masing. Semuanya tipe terbaru. Beberapa mengeluarkan Nokia Communicatornya. Dering handphone dengan berbagai macam nadanya kerap memenuhi ruangan.

Kontras sekali pertemuan itu dengan kondisi yang saya temui dari pak Dubes. Beliau hanya menggunakan handphone yang sangat sederhana, dan digunakan hanya untuk keperluan yang sederhana. 

Keterkaguman sayapun bertambah.

 

 

 

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] 261)

Sabda Rasul: Barang siapa yang ingin dimudahkan urusannya oleh Allah, ingin diringankan penderitaannya oleh Allah dan ingin ditolong oleh Allah disetiap permasalahannya, hendaklah dia membantu sesama, meringankan penderitaan sesama, dan menolong mereka yang lebih susah, lebih menderita.

H.R Ath-Thabrani

Risau saya membaca penjelasan (resmi?) pemerintah tentang keputusan Indonesia mendukung resolusi 1747 Dewan Keamanan PBB yang ditulis oleh Dino Patti Djalal, Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional/Juru Bicara Presiden di harian KOMPAS pada tanggal 28 Maret 2007. Resolusi ini berisi tekanan pada Iran untuk lebih membuka dirin untuk bekerjasama dengan dunia internasional untuk memverifikasi program nuklirnya.

Dino menggambarkan bahwa pada dasarnya keputusan Indonesia mendukung resolusi didasarkan pada ketidak percayaan dunia internasional pada komitmen Iran untuk mengembangkan program nuklir untuk keperluan damai. Ini didukung oleh pernyataan IAEA yang belum dapat memverifikasi perkembangan teknologi nuklir Iran. Alasan kedua bahwa ada negara di Timur Tengah yang juga khawatir akan perkembangan Iran sebagai negara yang menguasai teknologi nuklir. Ketiga, apapun keputusan Indonesia tentang resolusi ini tidak akan mengubah keputusan resolusi ini. Dengan kata lain, suara Indonesia tidak akan berguna jika tidak sepakat dengan pengajuan resolusi ini.

Oleh sebab itu, agar Indonesia bisa berperan lebih dalam kancah diplomasi politik kawasan timur tengah, diambillah  keputusan untuk mendukung resolusi tersebut. Di bagian akhir uraiannya Dino Patti Djalal menguraikan betapa keputusan ini merupakan ungkapan sikap politik Indonesia yang bebas aktif, yaitu dengan tidak tunduk pada anggota DK PBB manapun dan tidak bertuan pada kepada Iran. Jadilah Indonesia kemudian mendukung resolusi yang diusulkan oleh beberapa Negara anggota tetap DK PBB ini.

Penjelasan yang dipaparkan Dino tersebut mempunyai kelemahan di sana-sini yang tidak menggambarkan kemerdekaan berpikir dan bertindak pemerintah Indonesia dan mencerminkan semangat politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Iran pertama kali mengembangkan teknologi nuklir mereka pada akhir dekade 50-an dengan dibantu sepenuhnya oleh Amerika. Pada tahun 1968 Iran menandatangani kesepakatan Non-Proliferasi Nuklir dan meratifikasikannya pada tahun 1970. Sampai saat ini Iran secara resmi mengumumkan untuk tetap memegang teguh kesepakatan ini dan hanya akan mengembangkannya untuk kepentingan damai.

Masalahnya, sampai saat ini Iran belum membuka sepenuhnya akses ke International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk memverifikasi klaim pemerintah Iran bahwa program nuklir mereka adalah untuk kepentingan damai.

Ironi dari resolusi ini adalah bahwa DK PBB tidak berbuat hal yang sama pada beberapa negara yang saat diketahui mempunyai teknologi Nuklir yang dikembangkan tidak untuk keperluan damai. Pakistan dan India diketahui mempunyai senjata nuklir dan kedua negara ini tidaklah menandatangi kesepakatan non-proliferasi nuklir. Israel yang sudah lama dicurigai mempunyai senjata nuklir, juga tidak menandatangi kesepakatan ini. Kepastian bahwa Israel mempunyai senjata nuklir secara tidak langsung dikukuhkan oleh Perdana Menteri Ehud Olmert saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi Jerman pada akhir tahun 2006.

Di pihak lain, negara-negara pemilik senjata nuklir seperti AS, Inggris, Perancis, Russia, dan Cina juga setengah hati mengurangi kelengkapan persenjataan nuklir mereka seperti tercanang dalam perjanjian proliferasi nuklir yang ditandatangi mereka. Parlemen Inggris misalnya belum lama ini mengesahkan rencana pembangunan armada kapal selam baru senilai 20 milyar poundsterling guna membawa senjata nuklir mereka.

Tentu saja kita ingin Timur Tengah – bahkan dunia –  bebas dari senjata nuklir. Namun jika dilihat dari fakta-fakta diatas terlihat nyata adanya aspek dual standard pada beberapa Negara yang tercermin dari upaya menekan program nuklir Iran tapi menutup mata pada keberadaan senjata nuklir di beberapa negara yang sudah memilikinya.

Iran memang harus diminta untuk bekerjasama dengan IAEA untuk membuktikan bahwa program nuklir mereka adalah bertujuan damai. Iran harus bisa membuktikan bahwa mereka memegang teguh kesepakatan nuklir mereka. Namun seharusnya hal yang sama harus dilakukan pada negara-negara lainnya. Jika keputusan DK PBB ini berat sebelah dengan hanya mentargetkan pada Iran, patut dipertanyakan alasan politik kepentingan negara-negara besar anggota tetap DK PBB.

Alasan bahwa ada sebuah negara di Timur Tengah yang risau dengan kemampuan Iran mengexplorasi tenaga nuklir juga bisa backfired pada kepentingan Indonesia. Saat ini Indonesia juga ingin mengembangkan tenaga nuklir untuk kepentingan damai. Bagaimana kalau kemudian negara-negara tetangga Indonesia ‘berkoar’ takut bahwa program nuklir kita?

Alasan ketiga yang diungkapkan Dino sangatlah menyedihkan. Apapun yang diputuskan Indonesia tidak akan berpengaruh apapun pada hasil resolusi itu. Benarkah Indonesia tidak bisa punya andil apapun di kancah politik luar negeri? Benarkah kita hanya berfungsi sebagai pelengkap penderita di Dewan Keamanan PBB? Jika benar demikian, mungkin tidak perlu Indonesia masuk ke dalam jajaran negara anggota tidak tetap DK PBB. Buang-buang energi saja.

Adalah patut jika kesempatan emas menjadi anggota DK PBB digunakan untuk membersihkan kembali nama Indonesia yang sempat terpuruk di dunia Internasional dengan adanya kasus Timor-Timur, Aceh, Papua, dan kerusuhan tahun 1998 yang lalu. Amat disayangkan bila dengan alasan supaya bisa masuk ke dalam kancah negosiasi lebih lanjut kita harus tunduk pada arus dunia internasional yang menyudutkan Iran tapi melupakan kekuatan nuklir lainnya.

Mungkin Indonesia bisa dikatakan tidak tunduk pada anggota DK PBB lainnya. Mungkin Indonesia bisa dikatakan tidak bertuan pada Iran. Namun satu yang cukup jelas adalah bahwa diplomasi pemerintah Indonesia belum bisa menyatakan jati dirinya sendiri, yang menyandarkan keputusannya pada rasa percaya diri dan  kebenaran sejati.

Tugas rekan-rekan di bidang diplomatik memang berat. Namun seberat apapun tugas itu tentu harus dihadapi dengan langkah yang tegas dan jelas. Akankah Indonesia bisa berperan lebih aktif “di luar kandang”?

By: Rana Rofifah

One day Rana saw a cat. The cat was black and also small.

And the cat was very very cute and cuddly. Rana bought the cat home. Now the cat was Rana’s pet. Rana called the cat Belle. One day Rana and her cat Belle went to the park. When they got there they played fetch. When belle got the stick she was lost.

She was lost in some big trees and some ponds too. The park was very very big so that was how Belle got lost. Then Rana knew belle was lost.

A minute later a man saw Belle. Belle did not now what the man was going to do to her. She was very very scared. But the man picked Belle and the man said I need to find your mum, she must be in this park too. Then the man saw Rana say where is my black cat she said the man heard Rana so he got Belle and gave her to Rana. So that was how I got belle back.

THE END

Sebuah pesawat Garuda rute mengalami kecelakaan dan terbakar di Bandara Adisutjipto Yogyakarta pada tanggal 7 Maret 2007 yang lalu. Dua puluhan penumpangnya ditemukan tewas terbakar, sedangnya seratus sepuluhan lainnya selamat.

Hati saya miris hebat.

Belum lama sebelum kecelakaan ini sebuah pesawat Adam Air hilang tak tentu rimbanya di perairan pulau Sulawesi pada bulan Januari 2007. Hanya sepihannya yang berhasil diketemukan di pantai dan diombang-ambing ombak. 96 penumpang dan 6 awaknya hilang bersama pesawat Boeing 737 berusia 17 tahun itu.

September 2005, sebuah pesawat Mandala Airlines jatuh di kawasan padat penduduk dekat bandara Polonia Medan. 104 penumpang pesawat tewas, disertai 39 orang lain yang menjadi korban tertimpa reruntuhan pesawat dan kebakaran yang menyertainya.

Masih terngiang pula dalam ingatan kita, tragedi yang menimpa pesawat Lion Air di Adi Sumarmo Airport Surakarta. Pesawat mendarat tidak sempurna dan terbakar. 25 orang termasuk sang pilot meninggal dunia, dari keseluruhan 146 penumpangnya.

Miris hati bertambah-tambah.

Kembali terngiang ingatan kejadian limabelas tahun silam ketika suara seorang kakak ipar saya mengabarkan dari ujung telepon bahwa pesawat yang ditumpangi seorang kakak kandung saya hilang di tengah lebatnya hujan sore hari sekitar Bandara Pattimura Ambon. Pencarian segera dilakukan.

Besok harinya baru didapatkan laporan dari penduduk sekitar tentang adanya penemuan reruntuhan pesawat dan mayat manusia di seputar bukit Liliboi, sekitar 15 km dari airport. Evakuasi segera dijalankan, dengan harapan masih ada penumpang yang bisa diselamatkan. Namun sayang, kondisi pesawat sudah hancur berantakan. Tidak ada yang selamat dari seluruh 63 penumpang dan 7 awak.

Kami yang ada di Jakarta, menunggu dengan hati hancur. Kakak laki-laki saya yang ikut dalam penerbangan ini punya dua anak yang masih kecil-kecil. Saya yang bertugas menyampaikan berita duka ini ke rumah mereka di Bogor. Ketika itu tidak ada telepon di sana, jadi saya harus menyampaikan langsung dan menjemputnya.

Demikian pula Ibu dan Bapak. Ketika itu beliau berdua baru pulang dari perjalanan lama ke luar kota. Ketika baru masuk rumah, segera disampaikan berita ini pada mereka berdua. Sedih tidak terkira.

Dua hari setelah pesawat jatuh, identifikasi korban baru dilakukan. Itupun tidak semua bisa ditemukan. Kami pasrah saja menerima.

Tiga hari setelah pesawat jatuh, peti yang berisi jenasah dikirimkan ke masing-masing daerah asal korban. Petinya dibuat terburu-buru. Asal jadi saja. Di Bandara Halim Perdana Kusuma, jenasah asal Jakarta diserahterimakan pada keluarga masing-masing. Beberapa keluarga hanya mendapatkan peti jenasah berukuran sangat kecil, yang tidak sesuai dengan kondisi sang korban ketika hidup. Pemandangan yang sangat memilukan.

Malam harinya jenasah kakak saya tiba di rumah orangtua kami. Penguburan jenasah secara darurat dilakukan esok paginya. Tidak seperti lazimnya penguburan biasa, peti mati yang dibungkus plastik meja makan berlapis-lapis untuk mengurangi aroma menusuk langsung dikubur begitu saja.

Adalah berat kehilangan orang yang dekat dengan kita. Apalagi jika kehilangan dengan cara seperti ini.

Kira-kira dua tahun setelah musibah itu, saya berkesempatan menengok tempat jatuhnya pesawat Mandala yang ditumpangi kakak saya itu. Perjalanan dari kota Ambon menuju desa Liliboi harus melalui jalan kecil berliku menyusur pantai teluk Ambon yang cantik. Beberapa sungai tanpa jembatan harus dilalui. Ikan dan udang dapat terlihat dengan jelas bermain-main di dasar sungai.

Dengan diantar beberapa penduduk lokal, kami mendaki bukit Liliboi. Tidak mudah mendakinya. Sampai menjelang puncak, kami melihat sisa-sisa kecelakaan ini. Tanah yang menghitam akibat api yang membakar pesawat masih terlihat di beberapa tempat. Pohon-pohon yang meranggas masih bisa ditemui. Bahkan masih tersisa potongan kain yang tersangkut di ujung pohon-pohon tinggi. Serpihan-serpihan pesawat masih berserak di sana sini. Bahkan kami masih menemukan sekeping jam tangan tanpa tali yang jarumnya berhenti tepat pada waktu pesawat jatuh kebumi.

Pemandangan dari lokasi musibah sangat asri. Bukit-bukit cantik dengan suara burung Nuri terbang berkelompok mengisi sore hari. Pantai dan biru teluk Ambon terlihat di kejauhan. Sayang mengapa tragedi terjadi di tempat ini.

Kalau mengingat musibah yang menimpa keluarga kami, sangat terbayang apa yang dirasakan oleh mereka yang mkehilangan akibat musibah Garuda, Adam Air, Mandala dan Lion Air. Kalau menghadapi musibah Tsunami, Gempa, dan naturan disaster lainnya, kita tidak bisa menyalahkan alam yang mengakibatkannya. Itu semata cobaan Allah. Walau kita bisa mencoba meminimalisasi resiko kerusakan dan fatalitasnya, sebagian besar kita tetap harus menerima apa yang terjadi.

Tapi kalau tragedi yang terjadi adalah karena kurang awasnya kita mengelola sektor transportasi dengan baik, maka pasti ada yang tidak beres dalam pengelolaan bisnis transportasi. Kita mengabaikan aspek ’safety’? Sangat mungkin rasanya.

Hati dan doa kita bersama mereka yang kehilangan, mereka yang bersedih atas musibah ini.

 

Sayang banjir hebat melanda Jakarta. Isyu-isyu lainnya jadi tenggelam karenanya. Termasuk diantaranya isyu penanganan flu burung. Sudah banyak yang menulis tentang bahaya flu burung tapi tidak banyak yang membahas isu penanggulangannya.

Medio Januari lalu, Gubernur DKI mencanangkan program sertifikasi bebas flu burung untuk unggas yang dipelihara masyarakat di pemukiman. Menurut informasi yang ada di surat kabar, sertifikasi ini dilakukan gratis pada kediaman masyarakat yang memelihara ungga/burung di lingkungannya. Bagi unggas yang sehat dan tidak ditemukan infeksi flu burung diberikan sertifikat bebas flu burung, yang berlaku selama 6 bulan. Jadi teorinya 6 bulan kemudian harus ada sertifikasi ulang pada unggas-unggas ‘bebas flu burung’ tersebut.

Berita dimulainya program ini digembar-gemborkan lewat berbagai media massa dengan memperlihatkan proses sertifikasi tersebut di kediaman pak Gubernur. Hebat! Rupanya kali ini pemerintah ‘cepat tanggap’ menghadapi flu burung.

Eit, tapi tunggu dulu…..

Pertama upaya ini sudah agak kadaluarsa. Kasus penularan Flu burung pada unggas di Indonesia sudah merebak sejak tahun 2003. Menurut informasi dari seorang rekan, kasus ini sudah diketahui sejak lama namun entah kenapa ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk ‘menekan’ informasi ini agar tidak menyebar ke masyarakat luas. Mungkin takut masyarakat luas panik, atau apalah. Jadi kalau sertifikasi ini dilakukan pada awal 2007, ya upaya agak-agak terlambat beberapa tahun gitu ya…. sudah jutaan unggas mati, dan puluhan manusia jadi korban lompatan penularannya ke manusia.

Upaya sertifikasi ini juga bukanlah upaya yang tepat. Unggas yang mendapat sertifikat bebas flu burung memang mungkin sehat dan bebas dari gejala flu burung. Namun bukan tidak mungkin pada saat pemeriksaan sebenarnya sang unggas sudah terkena infeksi virus tersebut namun belum menunjukkan gejala-gejala terinfeksi (symptoms) - masa ini disebut induction period dan latency period. Dari Jadi unggas yang mendapat sertifikasi bebas flu burung belum tentu benar-benar ‘bebas’ dari infeksi virus itu.

Lebih jauh lagi, sertifikasi ini berlaku untuk 6 bulan. Mengingat waktu inkubasi virus H5N1 yang merupakan virus penyebab merebaknya kasus flu burung ini selama 2-5 hari saja, masa 6 bulan ‘bebas flu burung’ sesuai dengan sertifikat itu menjadi tidak ada artinya. Misalnya saja beberapa hari setelah sertifikat itu diterbitkan, sang unggas terkena virus flu burung, maka dalam hitungan hari saja si sertifikat sudah tidak ada artinya.

Sertifikasi ini memberikan rasa aman yang salah pada pemelihara hewan ternak unggas/ayam. Pemilik unggas lalu bisa bercengkerama dengan hewan peliharaannya dalam lingkungan yang dekat. Suatu langkah yang salah mengingat meluasnya serangan flu burung belakangan ini.

Sertifikat yang dikeluarkan bukanlah jaminan bahwa sang unggas dijamin tidak akan terserang flu burung. Program sertifikasi flu burung (hampir) tidak ada gunanya.

Upaya yang lebih harus digalakkan mengingat begitu menyebarnya kasus ini adalah relokasi hewan unggas peliharaan dan peternakan ke tempat yang tidak berada dalam lingkungan hunian manusia. Pada peternakan kemudian perlu dilakukan pengetatan biosecurity atas hewan ternak yang ada. Pengamatan ketat, pemeriksaan kesehatan rutin dan surveillance perlu dilakukan untuk memonitor pergerakan infeksi flu burung ini pada unggas.

Pada mereka yang memelihara unggas pada lingkungan rumah mereka, mengingat begitu kuatnya efek flu burung ini pada manusia (60% mortality rate - WHO), disarankan untuk tidak memeliharanya di sekitar rumah. Mungkin bisa dititipkan di peternakan ayam atau diberikan ke kebun binatang.

Kalau tidak bisa juga, jauhkanlah kandangnya dari rumah dan jangkauan manusia. Perhatikan higiene kandang dan monitor terus kondisi kesehatannya. Jika ada tanda-tanda terserang penyakit, segera isolasikan dan jika sampai mati segera bungkus dengan plastik sampai kedap kemudian dikubur di tempat yang tidak mudah dijangkau hewan pengerat atau aktivitas manusia.

baca juga: http://donowidiatmoko.wordpress.com/2005/09/22/ada-klb-flu-burung-di-indonesia

Beberapa bulan setelah saya menulis ini “2050: (sebagian) Jakarta tinggal kenangan” , ternyata Jakarta benar-benar tenggelam, 43 tahun sebelum tahun yang tertera di judul tulisan itu.

Kali ini Jakarta tenggelam karena Banjir. Hujan deras yang berkepanjangan di Jakarta dan kawasan lereng pegunungan yang ada di Jawa Barat menyebabkan Jakarta terendam parah. Semua orang panik. Bukan saja kawasan tempat tinggal dan jalur transportasi yang terputus, bahkan jalur telekomunikasi pun terputus juga. Baru kali ini saya tidak bisa menghubungi nomor telepon orang tua saya di kawasan Cempaka Putih karena jalur telepon terputus akibat STO-nya tergenang banjir. HP juga tidak bisa digunakan karena baterainya tidak bisa di-charge akibat aliran listrik yang mati.

Kenapa bisa timbul banjir yang sedemikian parah di Jakarta? Mas Rovicky sudah memberikan penjelasannya.

Saya sendiri menduga ada beberapa sebab mendasar:

1. Curah hujan yang meninggi; sebagian disebabkan oleh global warming

Perubahan iklim dunia yang sebagian juga disebabkan oleh ulah manusia lewat pemanasan global (global warming), menyebabkan berubahnya pola dan intensitas pembentukan awan di pelbagai belahan dunia. Iklim dunia cenderung menjadi lebih ekstrim. Setelah memasuki masa musim kering yang lebih panjang dari yang biasa kita alami selama ini, tibalah musim hujan dengan curah hujan yang lebih tinggi. Badai melanda berbagai wilayah Indonesia dan berakibat pada timbulnya beberapa musibah seperti tenggelamnya beberapa kapal, dan jatuhnya pesawat Adam Air.

2. Hilangnya daerah resapan dan daerah genangan alami

Curah hujan yang tinggi ini tidak mampu diterima oleh daratan kota Jakarta dengan infrastrukturnya yang kompleks. Dengan meningginya tingkat kebutuhan manusia akan lahan hidup, semakin sedikit tersedia ruang bagi air untuk terserap secara alami ke lapisan tanah tanpa harus melalui saluran air, selokan ataupun sungai. Air sebagian besar mengalir melalui saluran air baik yang natural maupun yang man-made. Sayangnya banyak hambatan yang berada di sepanjang daerah aliran sungai, mulai dari infrastruktur yang mengganggu aliran air sampai dengan sampah dan bangunan liar yang juga menghambat penyaluran air ke laut dengan cepat.

Selain itu, Jakarta aslinya adalah daratan alluvial yang timbul karena endapan lumpur dan tumbuhan bakau. Lokasi yang semula merupakan daerah tangkapan air alami seperti situ, danau, empang, dan rawa-rawa semakin lama semakin tergusur dengan infrastruktur kebutuhan manusia. Terlebih lagi beberapa tahun belakangan ini daerah-daerah rawa di sekitar Jakarta semuanya tergusur untuk kepentingan pengembangan perumahan, seperti yang bisa kita saksikan di daerah Pluit, Kapuk, Kelapa Gading, dan lain-lain.

3. Menurunnya muka tanah Jakarta

Beratnya beban yang dipikul oleh struktur tanah kota Jakarta membuat turunnya muka tanah (subsidence). Selain itu besarnya penyedotan air tanah oleh rumah tangga dan industri yang ada di Jakarta semakin memperburuk kekuatan tanah dari tekanan aktifitas manusia dan infrastruktur di atasnya. Turunnya muka air tanah ini membuat genangan air muncul dimana-mana dan semakin sulit untuk menyalurkannya ke saluran air dan laut.

4. Naiknya muka air laut

Secara bersamaan, naiknya muka air laut yang terjadi akibat pemanasan global (Global Warming) juga semakin menggila. Kebetulan saat hujan deras ini juga merupakan saat bulan penuh (purnama) sehingga pasang lautpun sedang mencapai puncaknya. Hasilnya adalah daerah-daerah yang rendah dan berada dekat dengan laut harus menampung curahan air hujan dan naiknya muka air laut pada saat yang bersamaan.

5. Kurang mampunya infrastruktur pengalih air hujan dalam menampung besarnya curah hujan

Saya pribadi tidak percaya adanya siklus 5 tahunan banjir di Jakarta. Menurut saya faktor-faktor ini lebih berpengaruh dibandingkan dengan siklus tersebut. Kalau kita tidak berupaya menjawab permasalahan mendasar yang menjadikan banjir ini, tentu saja banjir itu akan datang secara rutin dan siap-siap kebanjiran terus!

dsc_6613.JPG

Sewaktu jalan-jalan ke Bath last weekend, saya melihat seorang penjual Olives di city centre. Snap!

Dua kata ini sama artinya. Lihat arti kata ini di kamus Merriam-Webster:

Expatriate: to withdraw (oneself) from residence in or allegiance to one’s native country
intransitive verb : to leave one’s native country to live elsewhere; also : to renounce allegiance to one’s native country

Immigrant : a person who comes to a country to take up permanent residence 

Kira-kira sama kah artinya? Ya.

Namun dalam penggunaannya, apa sama maknanya? Tidak juga.

Belakangan ini di media masa Inggris banyak disebut-sebut tentang Immigration Pollicy. Banyak pihak yang merasa ‘ketakutan’ akan banyaknya immigran yang masuk ke Inggris atau negara-negara eropa lainnya. Sebagian besar ketakutan itu berasal dari ketakutan mereka bahwa para ‘immigran’ ini akan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada seenak perutnya. Misalnya fasilitas kesehatan, pendidikan, perumahan, dll. Lebih lagi para immigran ini adalah merupakan ‘pesaing’ di pasar tenaga kerja lokal.

Well, adalah hak setiap orang untuk mengemukakan pendapatnya, dan silahkan kemudian hal itu dirumuskan oleh para politisi untuk mengubah peraturan-peraturan dan perundangan. If you don’t want immigrants, that’s fine, if you do want them, please regulate properly.

Di lain pihak, warga negara Inggris yang pindah ke luar negeri, bekerja dan menetap di luar negeri disebut sebagai ExpatriatesWell, excuse me, what’s the difference?

Expatriates sebenarnya adalah immigrants juga. Sama saja. Hanya kosa kata ‘immigrant’ ini memang berkonotasi lebih rendah derajatnya dibanding ‘expatriates’. Lihat saja orang asing yang kerja di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia atau negara disebut sebagai ‘expatriates’, nggak ada yang disebut ‘immigrants’. Sementara lihat pendatang yang kerja di Malaysia misalnya, mereka disebut ‘immigran’ dan bukan ‘expatriates’.

Huh!