Albeit less than half of Manchester United players are in fact British, most would say that it is part of the British National pride. The English monarchy, Rolls Royce, the channel tunnel, and Harry Potter novels and movies are also symbolising the pride of the nations which stands firm from the other nations.

The Japanese would probably say that they are proud of the disciplines and high tech businesses. Karate, Sony, Mitsubishi, Shinkansen Bullet train are a few examples of things that the Japanese might be pride of.

What about the pride of Indonesians? Do we need one that we can associate with as an Indonesian?

The image of contemporary Indonesia might not be looking so great. For many, perhaps it is much easier to write Indonesia’s shame list than our pride. Corruptions, terrorisms, human rights violations, forest fire and the smoke it produces have been the major embarrassments for Indonesia in the world’s arena.

However, it is important that we associate with something that lift up our spirit, and can be used to propel our drive to do and achieve more as a nation.

In the past, Indonesia has been widely known for its military strength within South East Asia. Not anymore though. The strength of our once mighty air force has been reduced to a very limited operational aircrafts, with heavy reliance on overseas support.

In its heyday, Pertamina was a strong contender at least for region high achiever in the business and economic field. Many large Indonesian conglomerates such as Salim Group, Bimantara, Bakrie and the like have not developed into our national pride due to both their economic performance as well as the association of their success with Suharto’s regime.

We also had IPTN as an attempt to jump-start Indonesia to a high tech aerospace business which was very rare in the developing world. Indonesia was also hailed as the first developing country to own and operate a high tech telecommunication satellite.

In the field of sport, Badminton, as sport which Indonesia has a long history of success and great names, has been in the continuous decline over so many years. Football, although arguably is the much loved and watched sport, has not been Indonesia’s strongest talent.

None of those can be considered as our pride anymore. They might be in the past, but it is certainly not the case today.

What are the things that Indonesian should be pride of then? The answer maybe lies in our everyday live. It is the language that all Indonesians speak.

Bahasa Indonesia is certainly the main candidate for the Indonesian pride. It has glued a widely diverse Indonesian population and ethics groups scattered in thousands of islands into a single common ground uniting the diversity. With more than 220 million people speak the same language, it is now one of the world’s top ten most spoken languages.

Derived largely from the Malay language, Bahasa Indonesia was spread across the region through peaceful means, carried through commerce and the spread of Islam in the Archipelago. Lingua Franca status was achieved as a universal language on top of the numerous native languages in the archipelago. The declaration made by the Indonesian Youth in 1928 helped to shape the formal adoption of the Lingua Franca into Indonesia’s unifying language. In 1945, Bahasa Indonesia was formally adapted in the Indonesian Constitutions.

Bahasa Indonesia has no contest in showing that language alone can unite the whole archipelago into a common means. While many might said that English is the world’s unifying language, its historical spread was more or less related to the spirit of colonialism of the British. Spanish and French languages are unfortunately share the same background with English.

The success of Bahasa Indonesia in unifying Indonesia into a single entity is our biggest pride. While we should learn to master and use English, and other foreign languages alike, Bahasa Indonesia should be kept as the medium of Indonesia’s formal language and national identity. And the fact that I wrote this article in English does not reduce my praise and appreciation of Bahasa Indonesia as our national pride.

Kemarin siang selepas shalat Jumat saya “kabur” dari kantor. Tujuannya mau menengok pameran BodyWorlds-nya Gunther von Hagens, si dokter ahli anatomi ‘gila’ dari Jerman.

Beberapa tahun lalu saya melihat seri program ‘Autopsy’ di TV Channel 4 (dulu biasanya disiarkan menjelang tengah malam), yang menggambarkan si Gunther ini mengautopsi jenasah manusia secara ‘live’ di studio di hadapan penonton umum. Lusi amat sangat anti nonton acara ini (walau katanya dulu dia cita-cita jadi dokter), sedangkan saya (yang nggak pernah pengen jadi dokter) malah senang sekali menontonnya.

Kebetulan di Manchester Museum of Science of Industry (MOSI) sejak beberapa bulan terakhir diadakan pameran ‘BodyWorlds‘, yang menyuguhkan koleksi hasil “plastination” (proses pengawetan jenasah dan organ tubuh manusia menggunakan bahan sejenis polymer/plastik) temuan Gunther von Hagens ini. Tadinya saya mau nonton pameran ini mengajak anak-anak saya, tapi karena waktu pameran sudah mau habis akhir bulan ini dan saya mau ‘konsentrasi’ nontonnya sendirian, jadilah saya kabur saja pas jam kerja jumat kemarin.

Setelah naik kereta 6 menit dari kantor ke stasiun kereta Deansgate, ditambah jalan kaki beberapa menit, sampailah saya di MOSI. Setelah antri beli tiket yang cukup mahal harganya (£11.5), barulah saya masuk ke lokasi pameran. Benar pilihan saya untuk nonton pameran ini di jam kerja karena yang nonton tidak begitu banyak dan tidak banyak pula anak kecil, jadi saya bisa serius mengamati displaynya satu persatu.

Mulai dari pengantar yang ada di dekat pintu masuk, semua penjelasan tentang pameran ini, perkembangan ilmu anatomi, dan teknik preservasi jenasah dipajang di poster -poster besar di dinding ruangan. Pajangannya secara garis besar dibagi menjadi pajangan yang ada di dalam display kaca untuk spesimen kecil (tulang, organ dalam, jaringan syaraf, dll), pajangan yang dibuka begitu saja di ruangan walau hanya boleh dilihat dan tidak boleh disentuh (rangka, jaringan otot, display seluruh tubuh dll). Semuanya dipreservasi dengan menggunakan teknik plastinasi (plastination).

Saya lalu pelan-pelan mengamati dan mendalami semua display yang ada. Di ruang paling depan diperlihatkan rangka manusia dan tulang-tulang yang ada. Dari tempurung kepala manusia yang dipotong dari berbagai arah, tulang belakang, tulang panggul sampai tulang terkecil yang ada di manusia – tulang ossicles di jaringan telinga.

Beralih ke bagian lain diperlihatkan jaringan ratusan otot yang menguatkan dan menggerakkan jaringan tulang. Lalu jaringan darah yang memberi makan semua organ. Juga jaringan syaraf yang merasa dan mengirimkan informasi ke pusat pengolahan. Tidak ketinggalan semua jaringan organ dalam manusia. Otak, mata, hidung, tenggorokan, paru-paru, jantung, lambung, diaphragma, usus, hati, ginjal, pankreas, kandung kemih, sampai alat kelamin pria dan wanita semua dijelaskan dengan jelas dan detil.

Display organ-organ ini dilengkapi juga dengan berbagai jenis hasil diseksi jaringan dari berbagai sudut. Ada spesimen yang dipisahkan antara tulang dengan jaringan ototnya, ada yang dipisah antara jaringan darah dengan jaringan syaraf, ada yang diwarnai sesuai dengan fungsinya. Cara diseksi spesimennya juga dilakukan dengan berbagai teknik: ada yang vertikal, horizontal, dan juga miring. Satu spesimen dipotong horisontal seluruh tubuhnya dan lalu tubuhnya dipajang secara horizontal tergantung di tali-tali plastik. Jadi dari ujung kepala sampai kaki tubuh jenasah dipotong melintang kira-kira setebal 2 cm per bagiannya. Spesimen lain dipotong menjadi 3 bagian: – kanan, bagian dalam tubuh, dan kiri, semuanya masih bergabung di bagian kaki.

Sebagian besar spesimen yang utuh dipajang dengan berbagai posisi – yang oleh van Hugens disebut sebagai ‘art’. Ada spesimen yang dipajang sedang bermain badminton, berlari, berenang, melompat, bermain bridge, dll. Saya pribadi tidak begitu setuju sebenarnya dengan display model ini. Seharusnya pemajangan spesimen jenasah hanya dilakukan untuk keperluan pendidikan, dan tidak atas nama seni atau komersial.

Di luar itu, secara keseluruhan pameran ini menurut saya sangat positif. Kita jadi memahami betapa sempurnanya tubuh kita yang hanya merupakan sebagian kecil dari ciptaan Allah SWT. Subhanallah, sungguh ciptaan dari yang Maha Sempurna.

SD Ijo. Demikian umumnya nama sekolahku disebut orang. Sumbernya adalah seragam sekolah kami yang baju putih-celana hijau. Kadang-kadang SD kami juga disebut SD Wartawan, karena lokasinya di kompleks yang semula dibangun untuk para pekerja media. Nama aslinya sih cukup panjang: SD Negeri Cempaka Putih Barat 01 Pagi.

Semula gedung SD itu kecil saja, tapi sewaktu aku kelas 2 gedungnya dibongkar dan diganti menjadi gedung bertingkat 2 dalam bentuk hampir seperti lingkaran penuh. Setelah jadi, kompleks gedung sekolah itu lalu digunakan oleh 6 sekolah dasar. Yang masuk pagi SD 01, 011, dan 013. Yang masuk sore ada 3 sekolah juga.

Sekolah ini tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah orangtuaku. Jadi sejak kelas 1 atau 2 saya sudah berjalan sendiri ke sana. Teman-temanku waktu itu sudah banyak yang aku lupa nama-namanya. Saya sebutkan saja yang masih ingat dan kadang masih kontak juga di sini: Rakhmatdi Hatmosrojo (A’ang), Akhmad Diponegoro (Adip), Jurgantono Usman (Tono), Singgih (begeng), Muhammad Arfian, Muhammad Taufik, Iskandar, Bagus Mukti Wibowo (Adi) dan Bagus Mukti Laksono (Abi), Muhammad Irfan, Rozano Rumambi, Wawan, Rahmat, Muhammad Isa Ismail, Daniel, Tanti, Diana, Dewi, Cici, Susi, Safrina Desita (Sita), Liesa Pratiwi (Icha), dll.

Sewaktu kelas 1-3 nggak terlalu banyak memory yang masih nyangkut di kepala. Yang ada adalah ingatan kalau main bola kami menggunakan lahan berdebu samping gedung sekolah. Juga saat sekolah terpaksa pindah sementara ke SD lain di kawasan Jatop saat pembangunan gedung baru. Pulang pergi ke sekolah selalu melewati pinggir kali memandangi tanaman singkong dan sawi yang ditanam orang di pinggir kali. Sekolah sementara ini dulu pernah kebanjiran, dan saat pulang ke rumah saya pernah terperosok masuk ke got dengan air sedalam leher :D

Walau sudah aktif di gerakan Pramuka Gudep 617 di dekat rumahku, di sekolah saya juga ikutan Pramuka. Regu kami regu Gajah namanya. Saya jadi ketua regu dengan anggota Singgih, Arfian, Irfan, Taufik, A’ang dan Adip kalau nggak salah.

Regu kami ikut camping di sekolah beberapa kali. Suatu kali saya ingat kami kedapatan nomor kapling 23, nomor jelek katanya. Tapi cuek aja malah bisa menang lomba saat itu. Camping ini juga cuma ecek-ecek doang sih, bayangin aja masak camping halaman kecil samping teras sekolah, di luar banyak abang-abang jualan makanan kecil, gorengan, dll.

Lucunya, sebagian teman di kelompok Pramuka itu dan terutama regu kami bisa saya ajak untuk ikut aktif di gerakan pramuka gugus lain yang saya ikuti, gudep 617 Dharma Cempaka. Jadi Arfian, Taufik, Irfan, Adi-Abi bisa saya ‘bajak’ aktif di gudep pramuka Pertamina itu. Sedangkan Adip dan A’ang sudah sejak lama ikut Pramuka di Dharma Cempaka.

Guru-guru yang masih saya ingat adalah bu Nani, bu Amir, pak Asep (?), dan pak Yani. Bu Nani guru kelas 4, bu Amir guru kelas 5, dan kelas 6 pak Yani yang kemudian digantikan oleh pak Asep.

Sewaktu kelas 5 dan 6 saya ikut les tambahan, dengan bu Amir, pak Asep dan pak Yani. Juga ikut les agama dengan pak Mahmud, sedangkan belajar mengaji Qur’an setiap minggu pagi dengan mbak Wati yang datang ke rumah.

Pak Yani, setiap hari Sabtu membersihkan kelas. Sambil membersihkan kelas kami selalu menyalakan radio tape compo keras-keras biar semangat. Juga Pak Yani meminta murid-murid bergantian membawa makanan kecil sebagai penganan saat membersihkan kelas itu. Makanan yang paling beliau sukai adalah Gandasturi, sejenis gorengan dengan isi Kacang Ijo manis. Setiap sabtu kami digilir secara berkelompok membeli makanan gorengan itu untuk disantap bersama.

Pak Asep guru terakhirku di kelas 6. Beliau tinggal di Pondok bambu, tidak terlalu jauh dari rumah paklek-ku di sana. Suatu hari kami pernah pergi camping bersepeda dari Cempaka Putih ke sebuah lahan dekat sekolah yang belum jadi di kawasan dekat rumah pak Asep. Senang juga bisa bersepeda dan camping kayak cerita2 lima sekawan di Inggris.

Saat kelas 6, saya menjadi juru bicara tim lomba Cerdas Cermat SD-ku yang ditayangkan langsung tiap hari Jumat Sore di stasiun televisi satu-satunya saat itu: TVRI. Anggota timnya adalah Diana dan Tono. Tim ‘bayangan’nya adalah Adip, Rahmat, dan….. saya lupa. Setelah melewati beberapa kali seleksi dan latihan di sekolah, terpilih saya jadi juru bicara. Saya sendiri waktu itu heran kenapa sampai terpilih karena Adip dan Rahmat adalah teman-teman yang lebih pintar. Tono, on the other hand, memang pinter banget orangnya :D

Saat berangkat, kami diantar oleh bu Nani dengan mobilnya. Turut ikut juga pak Asep dan tim bayangan kami sebagai penonton. Sampai di sana, studionya ternyata dingiiinnnn sekali, jadi di bawah meja kami sibuk menggosok-gosok tangan ke paha karena kedinginan bercelana pendek. Lombanya berjalan baik, dan tim kami menang quite comfortably, walaupun beberapa kali diingatkan oleh pembawa acaranya untuk tidak terlalu banyak ngobrol dan ngomong sendiri diantara kami.

Pulangnya, sewaktu berjalan kaki ke rumah dari sekolah, beberapa anak kecil (walau waktu itu saya juga masih kecil) mengenali di pinggir jalan. “Yang tadi di TV yaaa…..”, kata mereka. Bangga dikit deh…. he..he…

Selain sebuah piala kecil, hadiah lomba cerdas cermat ini adalah tiket berkunjung ke Monas dan alat-alat olahraga (raket dan net badminton, bola volley dan net volley). Kami boleh membawa raket badmintonnya pulang sedangkan hadiah-hadiah lain dijadikan inventaris sekolah. Sedangkan tiket kunjungan ke Monasnya kami gunakan bersama diantar oleh Bu Nani dan suaminya ke sana. Setelah turun dari puncak gedung Monas, kami diajak makan soto di warung-warung tenda di seputar Monas….. yam….yam…..

Selepas SD, saya tidak banyak berhubungan dengan teman-teman karena aku memilih SMP yang lokasinya agak jauh. Hanya A’ang saja yang mengambil sekolah yang sama. Tapi tidak dinyana, hubungan dengan beberapa kawan malah timbul lagi sekarang – dengan bantuan internet tentunya. Walau ada yang sudah meninggal (Susi – Daniel), yang lain masih bisa dirunut. Tono kerja di perusahaan minyak di Oman dan Adip mengajar di Jakarta, dua-duanya sudah PhD. Tanti nggak sengaja gatuk karena ketemu adiknya (Witri) di Harlow. Sita ketemu di Friendster. Icha di milis alumni Boedoet. Senangnya bisa bersilaturahmi dengan teman-teman masa lalu.

Whatever good reasons for the Indonesian Health Minister Dr. Siti Fadilah Supari to refuse sending Bird Flu virus samples to World Health Organization (WHO) seem to backfire. A lot of international media negatively covers her refusal to be a threat to the world health. For example, the editorial column at the Wall Street Journal today condemned her decision. It says that Indonesia’s denial to send those H5N1 virus samples to the WHO would lead to inevitable pandemic in the region, if not the world.

As Indonesia leads the rank of country with reported H5N1 bird flu cases, the refusal to send bird flu sample for vaccine development are important. As of mid-April 2008, there were 132 confirmed human cases of H5N1 virus infection with 107 deaths in Indonesia. This represents 35 percent of the worldwide known cases of this deadly virus. Without Indonesia’s bird flu samples, development of vaccines would be difficult.

Many international commentators speculated that Dr. Supari stance was mainly to gain domestic political support, in particular by bringing anti US sentiments to her personal gain. Some went further to suggest that she tried to gain support from the even stronger Indonesian Muslim’s sentiments against the US.

Most international media stated the minister claims that ultimately this bird flu virus samples would be used by the US government as a potential biological weapons. Dr. Supari denies this by saying that a translation error from her original Indonesian writing to the English version of the book was to blame.

Instead, from her own word, the main reason for rejection was that the virus samples sent to the WHO laboratories would be used by Western Pharmaceutical companies to produce vaccines which later would be sold in high prices to developing countries.

It has to be mentioned that Bird Flu Vaccine development is potentially a big buck business. Although development of such vaccines are very difficult, mainly because virus strains are changing rapidly which make vaccine development such a tricky business, a successfully developed vaccine would bring a rewarding financial return as it would be required in high numbers both to people in develop world and to those in developing countries.

What is also interesting was that the refusal to send this virus samples were mostly contested by the US Government rather than the WHO itself. The latest salvo against her decision was coming from the US Minister of Health and Human Service, which on the recent visit to Jakarta pressed for Indonesia’s acceptance to send the samples to the US laboratory.

The latest saga in this battlefield comes from the ban of US Navy’s Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) laboratory from operating in Indonesia. Reports from Indonesian media mentioned that further collaboration with this institution which has long been operating in Indonesia doing virology, microbiology, epidemiology, immunology, parasitology, and entomology research is halted pending further negotiation with the US Government.

Would the Indonesian people (or its government) have a share in the development of the vaccines is the main political concern here. So far, people living in less developed countries such as Indonesia are seen more as an object and target of many western product or development in health field. Many drug trials for example are now done in the developing countries, mainly because of the less stringent requirements in accepting drug trials as well as the relatively cheaper costs to do such a trial in those countries. The profits from developing such medicines and vaccines are primarily goes to industrialists from major pharmaceutical companies. What left from the people and government of the less developed countries is the price to pay for those development created right under their nose. This is certainly a world of unfair play.

Dr. Supari effort seems to bear some fruit. The World Health Organization had commissioned a study on the ‘ownership’ and patent issues surrounding the Influenza viruses. Further negotiations on the issue of handing over the samples to international bodies and possibly commercial companies are still on going.

However, the most important issues facing the Indonesian Health Minister is that possible backlash to her if this struggle to achieve a stronger bargaining position was lost. Indonesia might be accused of bringing the world in danger of global pandemic of bird flu by not giving access to international effort to produce the vaccines, and in effect leaving the virus to groom in the wild.

While many prominent figures in Indonesian health sector backed her decision, loosing this battle from an international perspective would be a disaster for Indonesia. There are enough examples where Indonesian government position hung out to dry in facing negative international media coverage. There is certainly a need to turn the international media perception toward Indonesia and in particular the stance of Dr. Supari to get better bargaining position in this regard.

Manusia diciptakan secara sempurna oleh yang Maha Pencipta. Termasuk di dalamnya dengan kemampuannya bereproduksi. Sel telur yang jumlahnya terbatas di indung telur wanita dikeluarkan secara rutin setiap bulan sekali sejak saat puber pertama sampai beberapa saat setelah menopause. Sel sperma yang diproduksi di scrotum berbelah menjadi jutaan secara terus menerus tanpa henti sampai hari tua.

Semua ini dilengkapi juga dengan gairah yang ada secara naluriah. Tanpa ada yang mengajaripun, manusia bisa tahu cara bereproduksi. Tanpa ada yang menyuruh, sel sperma mampu mencari, mengejar dan menembus sel telur wanita.

Semuanya dirancang Allah untuk kelangsungan masa depan manusia. Wanita ditakdirkan dengan kecenderungan pada kelemahlembutan, kecantikan, dan empati. Pria diberi kekuatan dan ketegasan lebih dibanding wanita. Kecantikan wanita menjadi daya tarik bagi pria, dan kelebihan pria menjadi dorongan bagi wanita untuk mencari pasangannya.

Hasil reproduksi manusia menjadi bentuk keturunan kita yang juga secara alamiah ditumbuhkan dan dipersiapkan di rahim para ibu. Setelah lahir, cairan yang keluar dari payudara ibu menjadi sumber alami kehidupan bagi bayinya bahkan sampai beberapa bulan kedepan.

Anak yang bertumbuh besar akan belajar utamanya dari orang tua dan lingkungannya. Belajar dari usapan, belaian, bisikan dan ciuman. Belajar dengan meniru apa yang dilakukan orang tua,  dan lingkungan sekitarnya. Sampai suatu saat nanti sang anak siap melanjutkan tali regenerasi reproduksi manusia sampai akhir jaman.

Keturunan yang kita dapatkan adalah karunia bagi orang tua, cahaya dalam kehidupan mereka. Karunia yang sekaligus juga menjadi tanggung jawab luar biasa. Suami dan Istri bisa bercerai dan putus hubungan sama sekali. Lain halnya antara hubungan orang tua dengan anak. Sang anak tetap membawa paling tidak gen orang tuanya sampai kapanpun. Adanya nyawa sang anak tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kedua orangtuanya.

Putra-putri kita menjadi amanah bagi orangtuanya, amanah untuk memberi makanan yang baik, membesarkan, mendidik, membimbing sampai juga nanti menikahkannya. Semuanya ujian Allah bagi para orang tua.

Namun ada kalanya sebagian dari kita tidak dimudahkan mendapat keturunan. Mulai dari belum mendapat pasangan, kendala penyakit, sampai infertilitas. Semuanya cobaan yang Maha Kuasa.

Saya anak terkecil dari 7 bersaudara. Jadi kami dari keturunan keluarga yang cukup besar. Salah seorang kakak saya baru dikaruniai seorang putra setelah hampir 10 tahun menikah. Satu lagi kakak saya bahkan belum juga dikaruniai keturunan sampai saat ini, 15 tahun usia pernikahannya. Segala cara sudah ditempuh, tapi tidak juga kunjung berhasil.

Mungkin ada rahasia Allah pada mereka. Setiap manusia akan mendapat ujian, dengan segala bentuknya. Ujian berupa tidak atau belum adanya keturunan juga salah satunya. Hanya ujian kecil diantara berbagai ujian besar lainnya. 

Maha Besar Allah dengan segala karunianya

 

i’m not used to feel a failure

or maybe I’ve never tried to feel it

i was laid back, easy going

everything seemed to flow naturally

successes, failures did not bother me

 

except once

 

an immense feeling of disappointment

about my self

 

i put myself in the blame although knew it wasn’t fair to me

the feel of failure, guilt, and despair stormed in

i was hopeless

it wasn’t me

i didn’t want to be me

 

none anymore

 

it’s nothing than a small reminder

from the creator of all

a little pinch

that I need to realise the value of life

and the drama that He has created

with happiness

with wealth

with health

with successes

with mistakes

with fear

with failures

with death

Saat jaman SMA saat sedang jadi penumpang mobil yang disetiri si Adip sahabat kental saya, Adip melanggar lampu lalu lintas di kawasan Gambir. Polisi yang sudah biasa mangkal selepas lampu merah itu sigap menunjuk mobil kami untuk berhenti. Setelah diberitahu kesalahannya, waktu itu kami seperti banyak orang lain minta “damai” saja karena malas ngurus tilang ini itu.

Mendengar permintaan pak Polisi itu wajahnya berubah jadi masam. “Kamu kira saya apa mau nyogok saya!” katanya. Tertegun saya mendengarnya. Ternyata tidak semua polisi bisa disogok pikir saya. Mendengar itu kamipun pasrah. Biarin deh kita susah mengurus sidang tilang, ini petugas juga perlu dihormati.

Setelah menunggu beberapa saat, tidak dinyana si petugas berkata “Kalau nggak 20 ribu saya nggak mau!” Seketika itu rasa hormat yang tinggi pada pak polisi itu langsung musnah…..

Pengalaman lain dengan polisi ini kadang lucu juga. Beberapa kali saya distop polisi karena kesalahan kecil. Suatu kali distop di depan Arion plaza di Rawamangun, karena melanggar garis jalur bus katanya. Saya diminta berhenti di jalur bus itu. Saya bertanya heran, “Katanya saya salahnya melanggar jalur bus, terus kenapa saya malah disuruh berhenti di sini pak? Bukannya lebih melanggar lagi nih berhenti di sini?” Pak polisi itu kayaknya jadi malu dan bertanya, “Memangnya mau kemana sih”? Saya jawab bahwa saya mau ngajar di depok. Eh, pak polisi itu malah langsung mempersilahkan saya jalan.

Hal serupa juga saya alami di kawasan Tomang, karena memotong garis pembatas jalan. Seorang polisi bermotor menyetop dan mendatangi saya. Karena gerah saya minum air mineral dalam gelas dulu, dan begitu dia datang saya tawari juga pak polisi itu untuk minum. Sama seperti cerita sebelumnya, dia tanya saya mau kemana. Saya jawab mau ngajar kelas sore di salah satu universitas swasta di dekat situ. Nggak macam-macam saya segera disuruh melaju lagi. Pokoknya aman deh kalau ngaku dosen……he..he….

Yang paling lucu waktu saya mengantar orangtua kondangan. Di bundaran HI saya diberhentikan karena dianggap melanggar lampu. Ya sudah saya keluar mendekati mobil polisi. Kali ini si polisi yang menawarkan air minumnya pada saya. Saya tolak malu dong. Melihat nama di SIM saya berbau Jawa, sang Polisi mengajak saya berbahasa Jawa, ya saya jabanin saja semampunya. Terus si Polisi bilang “Wis kono njaluk selawe ewu karo boss mu”. Saya kaget, terhina, tapi sekaligus senang. Terhina karena saya dianggap sopir yang sedang menemani majikan di mobil, tapi senang karena cuma diminta 25 ribu! Ini saya nggak minta damai lho…. si polisi yang minta langsung. Begitu masuk ke dalam mobil dan jalan lagi, saya kasih tahu apa yang terjadi pada bapak dan beliau ketawa sambil memberi tahu kalau biasanya sopir dia ngasih minimum 50 ribu kalau ada urusan ‘damai’ dengan polisi…..

Sekarang beralih dari soal ditangkap Polisi jalan raya. Sewaktu kerja di UI dulu, saya pernah diminta salah seorang senior ngurusin proyek pembuatan buku di salah satu departemen. Proyek ini bernilai 50 juta rupiah, dan saya diminta menemui orang yang bertanggung jawab dalam penentuan proyek itu. Kebetulan, si pimpro ini mantan mahasiswa kami jadi agak kenal-kenal dikit deh. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kami tiba pada pucuk permasalahan.

“Begini Dik (dia memanggil dik karena saya memang jauh lebih muda), karena kami perlu koordinasi dan lain-lain, uang yang bisa dialokasikan ke tim kalian 15 juta”, demikian katanya santai. Hah! Saya terkejut. Masak nilai proyeknya 50 juta tapi yang bisa dicairkan cuma 15 juta! Artinya disunat 70 persen dong! Saya kemudian tanya alasannya dia menjawab macam-macam. Pokoknya, kalau kami mau mengerjakan, segitu duitnya. Titik.

Dalam perjalanan pulang ke kampus, saya teringat pada ucapan Prof. Soemitro Joyohadikusumo yang mengatakan bahwa tingkat inefisiensi (baca: korupsi) di Indonesia mencapai 30%. Lha kenyataan lapangan menunjukkan jauh dari itu Prof!

Lalu saya melapor pada kepala Jurusan, dan beliau juga sama terkejutnya dengan saya. “Itu mah keterlaluan Don! Dah jangan mau” demikian ‘petunjuk’nya. Jadilah saya melupakan proyek itu. Lucunya beberapa waktu setelah itu, saya dengar proyek ini ternyata dikerjakan oleh salah satu kolega saya sendiri….hiii…hii…… mau ya dia…..

Siapa yang belum pernah berurusan dengan copet? Kayaknya hampir semuanya sudah ya, kecuali yang nggak pernah naik kendaraan umum atau dari tampangnya memang nggak laku untuk didekatin para copet ya….. he..he…

Saat setiap hari menggunakan kendaraann umum dulu, sangat sering saya melihat tingkah laku para pencopet. Mulai dari yang halus sampai yang sangar. Kelihatan sih naga-naganya jadi saya kadang bisa mengingatkan teman dan orang2 sekeliling akan adanya para pencopet itu.

Pernah ada yang coba menghadang saya, tapi saya pelototin terus dia nggak berani. Pernah juga ada yang nggerayangin tas saya, terus tangannya segera saya tepis tanda protes. Alhasil saya belum pernah kehilangan barang berharga akibat pencopetan.

Pernah juga ada pencopet yang berkeliaran di kampus. Tapi dia mengutil dari tas-tas yang ditinggal pemiliknya di perpustakaan atau mushala. Pernah ada pengutil laki-laki yang menyaru pakai jilbab dan mengambil dompet dari tas perempuan di mushala putri. Setelah dikejar dia ganti baju di toilet laki-laki dan keluar dengan pakaian laki-laki.

Saya pribadi pernah menangkap tangan seorang pengutil yang mencoba mengambil kamera yang ada di tas saya di perpustakaan kampus. Awalnya seorang teman memberi tahu kalau ada seseorang yang membuka tas saya di tempat penyimpanan. Setelah saya amati, eh ternyata memang benar. Dengan santainya, saya yang berbadan kecil ini menangkap tangan si pengutil dan membawanya masuk ke bagian administrasi perpustakaan dimana banyak staf perpustakaan yang ada di sana. Entah kenapa dia diam saja, dan saya juga kok berani banget ya…. padahal badannya gede lho…he..he… Alhasil kamera saya nggak jadi hilang dan si calon pengutil diserahkan ke kantor polisi.

Jaman SMP, saya malah punya pengalaman seru dengan pencopet. Saat baru duduk di bangku belakang bus menuju rumah, saya sadar kalau di sekeliling saya duduk beberapa laki-laki yang berprofesi sebai copet. Mereka sedang membuka barang utilannya. Ternyata yang baru jadi korban adalah seorang siswa SMA yang baru saja turun. Barang yang dicopet ternyata tidak banyak yang terlalu berharga, hanya dompet dan kotak pinsil yang berisi alat tulis saja. Saya tahu sih tapi ngeper banget mau ngapa-ngapain. Alhasil, malah kemudian salah seorang pencopet itu menyodorkan kotak pinsil berikut seluruh isinya ke saya. “Nih buat kamu. Mau nggak?” katanya. Saya gemetar sambil berkata lirih menolaknya, “Nggak usah bang, sudah punya”. Si penyodor tadi tersenyum gorilla sambil berkata “Ya udah”, dan kemudian melemparkan kotak pinsil itu ke luar bus. Wuih…..

Tapi jangan sangka di negara maju kayak Inggris nggak ada copet. Di tempat-tempat umum di London banyak tulisan yang mengingatkan terutama pada turis untuk hati-hati pada copet yang berkeliaran. Katanya sih banyakan kaum pendatang dari eropa timur yang punya profesi jadi pencopet di sana, termasuk diantaranya anak-anak yang di’salahgunakan’ untuk mencopet. Khusus pencopet anak ini sudah lama ada ceritanya di London yang bahkan dijadikan film dan opera musical ‘Oliver’ di West End theatre.

Demikian juga kota Makkah, tanah suci umat Islam. Di area masjidil Haram saja, ada banyak sekali kasus kehilangan dompet, uang, dan barang berharga lainnya. Padahal itu di depan Ka’bah, dan kalau tertangkap tangan hukumannya sangat keras lho. Lucunya, satu-satunya pengalaman saya kehilangan dompet karena dicopet adalah saat tawaf mengelilingi ka’bah. Copet-copet ganas di Jakarta ternyata kalah sama copet di Mekah!

Saat putar-putar dekat dekat kediaman kami dulu di Sandy – Bedfordshire, kami melihat ada sebuah gereja yang sudah di convert jadi sebuah rumah yang cantik. Sejak saat itu saya lalu tertarik melihat-lihat di internet gereja-gereja yang available for purchase karena tidak digunakan lagi oleh komunitasnya.

Saat liburan ke Wales minggu lalu, kami melihat banyak sekali gereja yang sudah beralih fungsi. Ada satu gereja yang diubah fungsinya jadi concert hall kecil dan disewakan untuk fasilitas rekaman audio (karena akustik gedungnya baik).

Di dekat kami menginap, ada sebuah gereja kukuh yang di halaman depannya dipenuhi keramik hiasan menarik dari berbagai penjuru dunia. Gereja ini juga for sale. Letaknya strategis sekali di seberang Benteng/Castle tua di tepi pantai cantik.

Malah ada satu gereja yang tampak luarnya masih gereja utuh 100% (termasuk mosaik-mosaik cantik di jendelanya yang lebar) tapi di dalamnya sudah dirombak menjadi sebuah Children Activity Centre! Di dalamnya lengkap ada arena tembak-tembakan laser, tempat bermain anak, dan juga cafe. Dalam brosur North Wales attractions, children activity centre ini malah masuk jadi salah satu dari 10 ten attractions-nya.

Total jenderal sepanjang perjalanan liburan seminggu yang lalu kami menghitung antara 5-10 bangunan gereja yang ada pampangan “For Sale” di halamannya. Ini baru dari daerah North Wales saja, dan tidak terhitung di daerah lainnya.

Sewaktu kami ikut rihlah pengajian al Ikhlas di London beberapa tahun yang lalu, kami menginap di tenda yang dipasang di area ex-seminari kristen yang luar biasa besarnya. Saat itu bangunan dan tanahnya sudah dibeli oleh yayasan pendidikan Islam yang mengubahnya jadi semacam ‘pesantren’ atau madrasah. Lantai bawah dan atas yang semula adalah ruang kelas dan ruang kantornya sekarang diubah menjadi ruang kelas dan ruang shalat (mushala). lantai paling atas masih berupa kamar-kamar kecil yang semula adalah ruang tempat tinggal siswa-siswa seminarinya. Di halamannya yang luas, malah ada sebuah kolam renang outdoor (jarang nih ada kolam renang outdoor di Inggris) yang terbayang ‘grandeur’nya di masa kejayaannya seminari ini dulunya.

Di London, Birmingham, Manchester, dan ada beberapa gedung gereja yang sudah juga beralih fungsi menjadi…… Masjid. Jadi jangan kaget kalau orang yang keluar dari bangunan “Gereja” itu malah bersorban dan berjenggot panjang. Lucunya lagi, karena di sekeliling gereja biasanya ada kuburan yang tidak boleh dipindahkan, kuburan dan nisannya itu tetap saja bertengger tegak di halaman…. (kebayang-kan kalau ada shalat Ied di luar masjid-gereja itu?).

Untungnya, di kawasan tempat kami tinggal sekarang semua gereja terlihat rapi dan setiap sabtu atau minggu terlihat ramai dikunjungi warganya. Walau saya tidak beragama nasrani, tapi saya lebih senang kalau gereja tidak dijual dan berisi penuh penganut agamanya dibanding harus dilego menjadi tempat rekreasi!

Hari ini saya membantu direktur unit memilih beberapa pelamar untuk di’shortlist’ sebagai calon karyawan yang akan diinterview untuk posisi sebagai Researcher. Pekerjaan yang ditawarkan adalah mengerjakan research tentang efektifitas Screening pada penemuan dini penyakit Jantung. Proyek ini lumayan besar, yang akan dikerjakan dalam jangka 3 tahun.

Dari 9 pelamar yang masuk, hanya satu pelamar yang berwarganegara Inggris. Satu orang warga Uni Eropa dan lainnya adalah ‘orang asing’ yang entah sedang tinggal atau bekerja di Inggris, dan bahkan beberapa pelamar internasional.

Dari sembilan orang ini, hanya dua yang kami putuskan untuk diinterview. Sebenarnya ada satu orang pelamar (dari Mesir nih!) yang sangat qualified tapi menurut kami kurang punya pengalaman dan kemampuan untuk melakukan proyek ini.

Ternyata susah mengambil keputusan untuk memilih. Ada rasa berat juga untuk memutuskan tidak melanjutkan proses aplikasi pekerjaan seseorang. Seseorang mengajukan lamaran pekerjaan kan pasti ada alasannya di belakangnya. Menghidupi keluarga? Impian mencapai hari depan yang lebih baik? Apalagi kalau pelamar dari Negara ‘berkembang’, mendapat pekerjaan di negara maju mungkin impian terbesar mereka.

Saya lalu jadi ingat pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali mulai kerja. Waktu itu hanya beberapa hari setelah saya ‘diterima’ kerja (saya tulis pakai tanda kutip karena saya sendiri dapat pekerjaan tersebut tanpa proses melamar, interview, dll – KKN banget yach….).

Waktu itu saya tiba-tiba diminta membantu proses penerimaan calon staf di kantor kami. Padahal saya sendiri baru saja ‘diterima’ kerja selama beberapa hari. ‘Ngantor’ belum pernah (fisik kantornya belum ada), rapat belum pernah.

Sabtu itu saya datang, pakai celana jeans dan baju kemeja (untungnya!). Saat itu dibuka 4 posisi kerja di kantor kami, ada sekitar 30 calon yang diundang mengikuti proses seleksi. Seleksi dimulai dengan tes kemampuan praktis (komputer dll). Pagi itu juga hasilnya keluar. Hanya sekitar 15 orang yang diminta melanjutkan interview di siang harinya. Sisanya boleh balik kanan dan pulang.

Keduapuluh ini kemudian langsung diinterview oleh kami. Kami berempat (Bos, dua staf lainnya, dan saya ) masing-masing menginterview sekitar 4 orang di tempat yang berbeda-beda.

Dari 4 orang yang saya wawancarai, satu orang cukup ‘berbobot’ dan qualified. Cuma dia minta gaji yang agak ketinggian menurut saya. Satu orang lagi sangat desperate-nya ingin kerja malah hanya ingin dibayar 125 ribu per bulan!!!! Walau saat itu masih beberapa tahun sebelum Krisis Moneter (Krismon) menurut saya jumlah itu kecil sekali – tidak akan cukup untuk kebutuhan hidup dan tidak sesuai dengan tanggung jawabnya kelak. Ketika saya tanya apa dengan uang segitu bakal cukup untuk kehidupan, dia menjawab bahwa dia bisa tinggal menumpang dengan kakak, jalan kaki ke kantor, dll.  

Eh perlu diceritakan sedikit, saat mewawancarai mereka itu, saya malah belum tahu jumlah gaji saya sendiri! Keterlaluan yach….

Setelah selesai interview, kami rapat kecil untuk memutuskan siapa yang bisa maju ke final interview. . Dari 15-an orang itu, dipilih 8 orang. Uniknya, final interview ini dibuat seperti interview ‘keroyokan’, semua kandidat hadir di ruangan yang sama, dan ditanya oleh kami secara bersama-sama pula.

Hasilnya, terpilih 4 orang yang kami terima. Tapi hanya 3 yang kemudian benar-benar bergabung dengan kami. Tidak ada satupun orang yang saya wawancarai sebelumnya yang direkrut. Dari 3 ini, satu orang tidak ‘berumur panjang’ di kantor kami. Dia mengundurkan diri beberapa bulan saja setelah mulai kerja. Terlalu sulit mungkin bagi dia. Yang ‘tahan banting’ ada satu, yang sampai saat ini masih bekerja di institusi yang sama walau lain unit.

Pengalaman satu lagi saat saya kerja di sebuah perusahaan konsultan. Saya diminta mewawancarai seorang calon, yang sebelumnya kerja di sebuah bank di Phillipina. Sang calon ini tinggi orangnya, perempuan yang masih muda. Bahasa Inggrisnya baik sekali, demikian juga bahasa Tagalognya. Bahasa Indonesianya payah banget. Yang bikin saya kaget, ternyata dia orang Indonesia! Ternyata orangtuanya adalah orang Indonesia yang sudah lama kerja di Phillipina.

Sang calon ini cukup smart dan qualified. Tapi menurut penilaian saya waktu itu belumlah cukup mampu untuk menangani pekerjaan-pekerjaan di kantor kami. Jadi di akhir wawancara saya melaporkan pada boss bahwa kemungkinan dia tidak cocok untuk kerja di sana. Tapi nampaknya si boss punya pendapat lain dan tetap mempekerjakan dia.

Akhirnya dia kerja di team kami, dan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa penilaian saya kepada dia dulu ternyata salah. Dia menjadi seorang staf yang andal dan sampai sekarang masih kerja di bidang yang sama walaupun saya sudah lama cabut dari bidang itu….he..he….

Hari Minggu terakhir di tahun 2007, kami sekeluarga diundang Mohammad, dokter asal Iran yang sedang studi di kampus saya tentang Pemerataan Kesehatan di Iran. Kebetulan saya diminta membantu menjadi co-supervisornya di kampus. Rumahnya terletak persis di seberang gedung tempat saya kerja.

Dengan ramah Mohammad dan istrinya menyambut kami. Dua putrinya yang cantik, Raihana dan Sarah, juga ikut bercanda dengan kami di ruang tamu. Tidak lama chit-chat, hidangan makan siang pun dikeluarkan.

Ada dua jenis nasi terhidang di meja. Nasi putih dan nasi campur kismis merah. Selain itu ada juga ayam bakar dan sayur bayam daging ala Iran. Ditambah juga salad buah dengan bumbu minyak zaitun dan lemon. Di ujung meja ada sepinggan nasi yang agak gosong (kerak nasi) alias intip dalam bahasa Jawa.

Mulailah kami mengambing porsi makan kami secukupnya. Semua kami coba tapi tentu saja si nasi gosong alias kerak nasi tidak kami senggol sama sekali. Setelah itu mulailah kami lahap nasinya dengan dengan nikmat. Masakannya cocok dengan selera kami. Enak sekali.

Sedang asik makan, tiba-tiba Mohammad menyodorkan pinggan yang berisi kerak nasi tadi. Saya tentu saja agak kaget. Lha, masak kerak nasi disodorkan? Mohammad menjelaskan dengan santun, “This is a delicacy in Iranian cuisine. People in Iran like this kind of rice“, demikian jelasnya. Jadilah saya mencoba menyembunyikan rasa kaget saya dan mengambil sebagian nasi kerak itu.

Sambil makan ingatan saya melayang pada almarhumah Ibu. Dulu beliau selalu mengambil nasi kerak dan nasi sisa lain untuk dimakan dengan garam. Ya dimakan saja seperti itu. Dibilang delicacy ya bukan, tapi beliau merasa sayang kalau ada nasi terbuang percuma. Namun seringkali nasi kerak itu terlampau banyak dan akhirnya sering sengaja dikeringkan di atap rumah, dengan niat setelah kering nanti akan digoreng menjadi semacam rengginang. Tapi kenyataannya, jarang sekali kerak kering tadi jadi digoreng. Lebih sering menjadi santapan burung puter dan burung gereja yang mampir di atap rumah kami.

Bicara soal makanan ini, dulu kakek saya yang sudah renta tinggal bersama kami di rumah. Setiap hari beliau duduk di halaman menghabiskan waktu. Suatu ketika, beliau melihat seekor belalang yang cukup besar tapi ya tidak besar-besar amat. Mungkin sekitar 10 cm panjangnya. Dengan hati-hati ditangkapnya sang belalang dan ditaruh di genggamannya.

Melihat saya datang mendekat, beliau memanggil. Permintaannya kemudian membuat saya kaget. Dimintanya saya memasak belalang itu! Wah, gimana caranya ya? Saya waktu itu memang aktif di gerakan Pramuka yang diajarkan cara memasak dengan bahan baku seadanya. Tapi gimana caranya memasak belalang?

Setelah kejadian itu, saya bertanya pada Ibu tentang hal ini. Beliau berkata bahwa karena daerah tempat kakek tinggal adalah daerah tandus dan minus yang kurang bahan pangan. Segala jenis hewan dan tanaman yang bisa hidup dicoba untuk dimanfaatkan. Termasuk diantaranya belalang, laron, dll. Jadilah saya kemudian belajar menghargai betapa kesulitan memaksa manusia untuk beradaptasi pada lingkungannya.

Lain lagi kalau kita makan pecel lele di pinggir jalan Jakarta. Saya ingat sewaktu kuliah dulu pernah pesan pecel lele di pinggir jalan Margonda di Depok. Lelenya besar dan mantab. Masih hidup pula ketika mau dimasak. Si penjual sekaligus koki mengambilnya dari ember plastik yang ditutup daun, dengan si Lele masih memberontak hebat kesana-kemari. Si Lele kemudian dilontarkan di samping kedai, di bahu jalan yang berdebu tebal. Kemudian dengan pentungan batu yang ada pinggir jalan, diketuklah kepala si Lele dengan kuat hingga langsung mati. Kemudian dimasukkan ke dalam mangkok berisi bumbu dan kemudian langsung masuk penggorengan dengan minyak panas! Sedap!

Salah satu favorit makanan saya di Jakarta adalah burung goreng. Langganan saya adalah sebuah kedai kaki lima di kawasan Prumpung, Jatinegara. Perlu diketahui juga kalau di sekitar daerah ini cukup terkenal dengan warung remang-remangnya yang sudah menjadi rahasia umum menyediakan layanan esek-esek selain dari minuman teh botol atau kopi pahit.

Penjualnya ada dua orang. Bosnya berpostur agak gemuk dan selalu mengenakan kopiah di kepalanya. Negosiasi harga selalu dilakukan dengan si bos. Satu ekor burung sawah biasanya dihargai 15-25 ribu rupiah. Setelah harga disepakati, sang asisten kemudian memotong-motong dan merendamnya dalam larutan bumbu sebentar. Sang asisten ini berpostur kurus dengan sebuah mata yang agak cacat. Agak menyeramkan tampangnya, apalagi kalau memegang pisau besar pemotong daging burung itu. Penggorengan dilakukan di sebuah wajan dengan minyak yang biasanya sudah berwarna agak kelam karena jarang diganti. Tapi hasilnya…. bikin ketagihan…… mungkin karena bumbu dan minyak gorengnya sudah bercampur ampas solar dari truk yang banyak seliweran di jalan itu.

Lain cerita saat saya ikut KKN di kawasan Pandeglang, Banten (Jawa Barat ketika itu). Pemuda-pemuda desa punya kebiasaan untuk begadang sambil masak nasi liwet yang luar biasa sedapnya. Biasanya kami mahasiswa KKN ikut nongkrong. Beras diliwet langsung di panci, dan diatasnya ditaruh tomat, cabai, terasi, dan bawang yang dibungkus daun pisang. Sebelum nasi tanak, tomat, cabai, terasi, dan bawang tadi diulek jadi sambal. Lauknya ikan asin goreng atau kadang juga ikan sawah yang diambil langsung malam-malam dari sawah di samping lapangan kampung. Untuk lalapnya diambil setengah bongkol kol atau kadang juga jantung pisang. Semua bahan-bahan biasanya diambil dari warung di tengah kampung, kecuali si ikan sawah (hasil ngaduk sawah langsung!) dan jantung pisang (hasil memarang pohon pisang terdekat).

Nasi yang sudah tanak disajikan di daun pisang panjang digelar di pinggir jalan. Di atasnya disebarkan ikan asin, ikan bakar, daun kol dan jantung pisang tadi. Sambal juga dicampakkan di sekeliling nasi. Nasi mengepul dengan aroma sambal terasi yang kuat. Semua peserta “liwetan” alias “makan malam-malam” duduk mengelilingi tempat hidangan dari daun pisang tadi. Dengan setengan berjongkok pesta makan dimulai. Laki perempuan berpesta makan sedap nian. Biasanya tidak lebih dari sepuluh menit, tandas semua yang tersedia di atas daun pisang itu. Licin!

Pengalaman yang jauh berbeda saya pernah alami di sebuah restoran di Washington DC, ibukota negara yang tidak begitu saya sukai. Ketika itu saya sedang ikut sebuah conference mewakili Indonesia dalam membahas dampak Globalisasi pada sektor kesehatan. Oleh panitianya, kami semua diajak makan malam bersama (tentu saja bayar sendiri-sendiri) di sebuah restoran tradisional ala Amerika. Apalagi kalau bukan restoran Steak.

Saya pesan saja sebuah steak yang paling murah harganya. Maklum, dari negara berkembang nih ;)   Lagipula ketika itu saya belum pernah makan steak di restoran sama sekali.

Tidak lama datanglah pesanan kami. Masya Allah. Besar sekali porsinya! Daging sebesar itu kalau di Indonesia mungkin sudah bisa jadi rendang untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga selama beberapa hari. Tapi dagingnya sudah tersedia jadi mau apa lagi, ya santap saja. Rasanya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Jauh lebih enak rasanya kalau di rendan. Ujung-ujungnya, saya cuma habis 1/2 porsi saja. Sisanya? Dibuang lah…. saya malu sama teman-teman (bos-bos dari berbagai organisasi kesehatan dunia) kalau minta bungkus buat dibawa pulang ke kamar hotel……

* Tulisan ini dibuat dengan berdasarkan pada catatan harian perjalanan hidup yang dibuat sendiri dalam bahasa Jawa oleh Bp. Sukandi bin Mangunpawiro


Sebenarnya aku tidak pernah memanggil beliau dengan sebutan Ayah. Dari kecil aku selalu memanggil beliau dengan sebutan Bapak. Sebutan ini aku juga gunakan untuk menamakan diriku pada anak-anakku, sehingga mereka memanggil ‘Bapak’ padaku. Namun rasanya tidak terlalu enak menulis orangtuaku dengan sebutan Bapak dalam tulisan ini, sehingga aku memutuskan memakai sebutan “Ayah”.

Ayahku dilahirkan di dusun Menggoran, suatu dusun kecil pegunungan Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1929. Seperti pada daerah selatan kabupaten Gunung Kidul lainnya, dusun ini tergolong kering, susah mendapat air dari hasil menggali sumur. Sebagian besar penduduknya secara tradisional mengambil air dari sungai di samping dusun, dan membawanya menggunakan pikulan di pundak.

Baru sekitar belasan tahun yang lalu ada inisiatif dari beberapa warga dusun dan kerabat yang tinggal di luar daerah ini untuk membuat sarana pipa air dari sumber air di tepi sungai menuju pusat-pusat distribusi air di dusun. Ayahku secara aktif terlibat dalam upaya menggalang dana dan inisiatif distribusi air ini.

Dulu pernah dipikirkan rencana memompa air dari mata air yang terletak jauh lebih rendah dari dusun dengan mengunakan teknologi kincir angin. Kalau tidak salah Mas Nyoto, almarhum kakakku, turut aktif memikirkan dan mendesain rencana itu. Akhirnya Namun entah kenapa rencana itu tidak bisa dilanjutkan dan diganti dengan pompa diesel. Mas Marjuni alias “Mas Jendut”, salah seorang sepupuku dari pihak ibu menjadi salah seorang motor penggerak pembangunan pompanisasi itu. Akhirnya walau pompa dieselnya sering rusak, saat ini air berhasil didistribusikan ke kantong-kantong distribusi di penjuru desa.

Pada zaman ayahku dilahirkan dulu, dusun Menggoran ini masih dikelilingi hutan jati dan tanaman lain. Bahkan mbah Mangunpawiro (orangtua ayahku) dulu berprofesi sebagai “Djogomirudo” (pengawas Hutan?) di dusun itu. Saat ini tidak ada lagi hutan yang tersisa di sana. Walau ada upaya penghijauan dan lain-lain pokok-pokok tanaman kuat yang menjadi besar tidaklah mampu bertahan lama karena dicuri atau ditebang orang.

Sebagian besar penduduk Menggoran dulu menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian dan hasil hutan. Namun seiring dengan berkurangnya areal hutan yang tersedia, hanya berladang saja yang dijadikan tumpuan oleh masyarakat. Karena saat ini banyak warga dusun dan keturunannya yang tinggal di luar daerah, sumber penghasilan juga beralih dari pertanian. Namun bagi mereka yang tidak mampu berbuat lain, hasil pertanian yang tidak seberapalah yang menjadi tumpuan hidup mereka sehari-hari.

Di masa kecilnya, ayahku diasuh oleh Mbah Dijah. Sama seperti anak desa lainnya, ia pernah sakit patek (Frambusia). Penyakit ini dimasa lalu identik dengan kemiskinan dan rendahnya kualitas higiene. Untuk pengobatannya, orang di dusun kebanyakan berobat ke Wonosari (ibukota Kabupaten) atau bahkan ke daerah Imogiri (Kabupaten Bantul).

Masa kecilnya dihabiskan seperti layaknya anak desa, bermain di ladang, menggembala kambing, dan memomong adik-adik. Menurut pengakuannya sendiri, sewaktu kecil ia adalah anak yang cengeng, gampang menangis dan merajuk kalau tidak mendapat apa yang ia sukai atau diminta melakukan sesuatu yang tidak disenangi. Misalnya jika diminta menyanyi lagu jawa (nembang) di sekolah, ia selalu menangis.

Bangku sekolah dilaluinya di sekolah KK (Kawula Kasultanan) di desa Sawahan, dari kelas satu sampai kelas 3. Dari situ ia kemudian disekolahkan di sekolah VV di kota kecamatan Playen, yang letaknya beberapa kilometer dari dusun Menggoran, cukup jauh untuk ukuran waktu itu yang belum ada jalan yang baik dan transportasi umum. Saat itu bangku sekolah tidak bisa dinikmati oleh orang banyak. Biaya iuran sekolah seketip sebulannya. Seketip itu sama dengan harga beras satu ‘beruk’ (setara dengan…..????).

Sekolah Dasar pada jaman itu umum disebut Sekolah Rakyat, atau juga sekolah ‘Ongko Loro’, yaitu sekolah yang ditujukan pada kaum pribumi Indonesia dan dijalani selama 5 tahun. Selesai sekolah Ongko Loro, ia kemudian masuk sekolah Pamardi Siswa (Schakelschool) yang baru didirikan di Playen. Namun sekolah itu tidak bertahan lama dan dibubarkan sembilan bulan kemudian.

Setiap sore sepulang sekolah, ayahku belajar mengaji di rumah mbah Dawam, dan yang mengajar adalah wo Sahid.

Pada awal tahun 1940-an, Jepang masuk ke Indonesia, termasuk ke kawasan Gunung Kidul tempat ayahku tinggal. Setiap kali ada ‘Gobyok’ (alarm), setiap orang harus berlindung di parit-parit. Di jaman perang itu kalau malam lampu dimatikan, kalaupun harus menyalakan lampu bagian atasnya harus ditutupi dengan kukusan supaya tidak terlihat dari atas. Apalagi kalau ada gobyok, semua lampu harus dimatikan, bahkan merokok saja harus ditutupi dengan tangan.

Setelah kelahiran Soekardi (salah seorang adik laki-laki ayahku) sekitar tahun 1941-1942, ayahku tinggal bersama mbah Mangundikromo (mbah Alip) di daerah Besari (Pantjuran), kira-kira 2 km di sebelah selatan kota Wonosari. Mbah Alip ini adalah adiknya mbok gede Atmosentono. Di sana ia diminta membantu macam-macam pekerjaan seperti membantu berjualan, mencari rumput untuk pakan hewan (ngarit), mengangon kambing dan lain-lain.

Tidak berapa lama tinggal di sana, ayahku masuk sekolah (SRI) lagi di kota Wonosari masuk kelas 5. Saat itu Jepang sudah masuk ke sana. Setiap sekolah diharuskan mengajarkan bahasa Jepang (Nipong) ketika itu. Setelah mendapat ijasah lulus kelas 5, ia kemudian meneruskan ke kelas 6 jurusan pertanian.

Saat itu prestasi belajar ayahku cukup membanggakan. Pada suatu hari besar Jepang Meidjisetju ia diikutsertakan perlombaaan bahasa Jepang di Yogyakarta. Hasilnya, ia menang dan memperoleh hadiah “pris Beker”, kain jarik dan juga radio untuk sekolah. Tentu saja ia senang bukan kepalang saat itu. Sampai ketika tiba di kota Wonosari ia dielu-elukan dengan hangat oleh teman-teman sekolahnya. Bukan itu saja, predikat juara kelas (nomor 2) pun didapatnya ketika itu.

Setelah mendaftar dan gagal masuk sekolah guru, ayahku kemudian masuk sekolah Kursus Pemuda Teknik (KPT) di tahun 1944. Ia tinggal di Kritjak, di rumah Pakde Sastroprajitno, kakak dari kakekku Mangunpawiro. Pada tahun itu juga ayahku disunatkan di desa Besari.

Lulus dari KPT, ayahku kemudian mulai bekerja. Awalnya ia kerja di Pabrik Sendjata Kiaratjondong di kota Bandung. Ia ditempatkan di bagian mesin bubut. Selama bekerja di sana ia tinggal bersama teman-teman lainnya di Asrama internir Belanda di kampung Kebonwaru Kidul, Bandung.

Saat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, pabrik dibubarkan. Semua pegawai diminta pulang ke rumah masing-masing sambil menunggu panggilan lagi. Setiap pegawai, termasuk ayahku, diberi pesangon berupa kain, sarung, serta uang. Beliau masih ingat jumlahnya sebesar Rp 247,70. Saat itu gaji di pabrik awalnya Rp 0.80 per hari sampai kemudian menjadi Rp. 1.80 per hari.

Gigi Bungsu alias Wisdom Teeth umumnya muncul dalam susunan gigi saat kita menginjak dewasa. Gigi ini terletak di ujung belakang susunan gigi geraham kita. Seringkali tumbuhnya gigi ini mendesak susunan gigi lain di depannya atau bagian geraham sekitarnya yang menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Demikian pula pada gigi saya belasan tahun yang lalu.

Setelah dua gigi bungsu telah dicabut terlebih dahulu, saat kira-kira berumur 23 tahun geraham kiri bawah saya terasa sakit akibat ulah si gigi bungsu juga. Pasti perlu dicabut pikir saya. Sama seperti dua gigi bungsu saya terdahulu.

Jadilah saya pergi ke klinik gigi di sebuah rumah sakit swasta dekat rumah. Setelah menunggu beberapa lama, duduklah saya di kursi dokter gigi. Setelah diperiksa dokter dan difoto roentgen, simpulannya persis sama dengan tebakan : harus dicabut kata dokter. Oke saya menerima.

Namun rupanya hari itu sang dokter gigi hanya bekerja sendiri, padahal ada banyak pasien yang perlu ditolong hari itu. Akhirnya seseorang yang saya kira adalah seorang asisten senior dokter gigi datang menangani.

Diberinya saya anestesi lokal dengan menyuntikkan obat kebal ke geraham bawah saya. Sakit mulanya tapi lama kelamaan kebal jadinya. Kemudian proses ekstraksi gigi bungsupun dimulai.

Proses ekstraksi berlangsung lama. Rupanya sang gigi tidak bersedia diambil keluar begitu saja. Terlalu besar mungkin, atau nyangkut diantara geraham. Walau si gigi sudah dipotong-potong kecil tidak bisa juga keluar.

Pasrah saja sudah. Mau bagaimana lagi.

Lewat setengah jam kira-kira gigi bungsu saya itu diutak-atik, dipotong-potong, diputar-putar. Tidak mau keluar juga. Ibu senior asisten tadi mulai putus asa. “Ini susah banget keluarnya. Gigi depannya menghalangi giginya. Gimana kalau gigi depannya saya cabut juga jadi bisa gampang keluarnya?”

Saya mau protes. Tapi nggak bisa. Wong mulut lagi dipenuhi berbagai alat gigi, mulut kebal, lidah kelu, dan seluruh ujung badan kedinginan kena AC. Akhirnya saya melotot saja bisanya.

Tapi mau dikata apa coba. Waktu anestesinya sudah hampir lewat. Gigi belum bisa keluar juga. Mau dikasih anestesi lagi mungkin bisa berbahaya. Mau dimasukkin lagi gigi yang sudah diudel duel tadi ya jelas nggak bisa. Akhirnya saya menyerah. Pasrah ………..

Akhirnya gigi geraham sehat di depan si gigi bungsu diambil dengan mudah. Kemudian menyusul si gigi bungsu yang nakal tadi. Saya lega walau kehilangan satu gigi ekstra dari niat semula yang cuma satu gigi saja.

Ini pengalaman yang memberikan ilustrasi hubungan antara supplier dan consumer di bidang pelayanan kesehatan. Supplier dan consumer tidak dalam posisi yang sama dalam ‘transaksi’ pelayanan kesehatan ini. Supplier, dalam hal ini adalah dokter dan pemberi pelayanan kesehatan lainnya, umumnya mempunyai posisi yang ‘lebih’ dibanding consumer. Consumer di lain pihak mempunyai informasi dan kekuatan yang lebih rendah dibanding dengan Supplier.

Supplier sedikit banyak bisa meng’induce’ clientnya melakukan sesuatu atau membeli produk si supplier. Consumer di lain pihak, karena ketidak tahuan dan juga karena posisi yang tidak seimbang dengan supplier ini, kemudian terpaksa menuruti apa yang direkomendasikan si supplier. Fenomena ini dalam health economics dikenal dengan sebuat ‘Supplier Induced Demand’, demand pelayanan yang muncul dari hubungan supplier-consumer muncul karena pengaruh si supplier itu sendiri.

Eh kembali ke soal gigi, karena saya merasa sebagai orang Jawa, maka selalu ambil sisi untungnya saja. Walau yang diambil dua gigi, saya cuma harus membayar ongkos ekstraksi satu gigi doang. Untung kan…… He…he…..

Bau amis anyir cepat menyergap masuk ke relung hidung begitu mendekat ke sebuah ruang perawatan anak. Bau yang tidak jelas asalnya. Bau karbol tidak mampu mengalahkan kerasnya bau anyir ini.

Di dalam ruangan itu ada sekitar 15 anak sedang dirawat dengan berbagai jenis penyakitnya. Beberapa anak tertidur, satu dua meringis kesakitan. Kantong cairan infus bergelantungan di sana sini, dengan selangnya yang panjang berputar-putar.

Ibu-ibu berbaju kumal berbekal kain sarung menemani putra-putri mereka yang sedang sakit. Ada yang duduk di bawah, tiduran di tempat tidur sempit berbagi dengan anaknya, dan ada yang duduk bermenung sambil mengipasi anaknya.

Seorang ibu batuk-batuk di ujung ruangan, berdahak berat. Dilepehkan dahaknya ke lantai. Mungkin itu sumber bau amisnya.

Suster yang berjaga di sudut ruangan sibuk mencatat status pasien yang bertumpuk di mejanya. Beberapa jenis obat terlihat tergeletak di meja itu juga. Di meja kecil di sampingnya, terlihat beberapa jenis obat, baik tablet, kapsul maupun jenis obat suntik, yang sengaja terlihat dikumpulkan jadi satu.

Melihat lirikan mata saya ke obat-obatan itu, sang Suster itu tersenyum. “Itu obat sisa pak“. “Kenapa nggak dibuang?” tutur saya ringan. “Sayang. Masih banyak anak-anak yang tidak mampu bayar obat pak. Kita pakai saja obat sisa itu untuk mereka“, jelasnya datar. “Obat suntik juga?“. “Ya, justru itu yang biasanya mahal pak” tukas sang suster.

Erangan salah seorang anak membuat sang Suster menghentikan pembicaraan kami karena ia segera menghampiri sang anak. Sayapun mengikuti dari belakang. “Suspect Meningitis, sudah tiga hari di sini“, kata sang Suster.

Tidak lama di sana, saya beranjak ke ruang rawat intensif. Tidak seperti ruang ICU di rumah sakit-rumah sakit besar Jakarta, ruang rawat intensif di rumah sakit tipe D di kabupaten miskin ini sangatlah sederhana. Hanya terdiri dari beberapa ruangan dengan kaca besar, dan beberapa meja perawat yang penuh dengan alat-alat medis. Perbedaan mencolok dengan ruang rawat anak tadi adalah tidak adanya bau amis di sana. Hanya bau obat menusuk.

Di salah satu ruangan seorang anak terlihat tertidur sendirian. Tubuhnya diinfus. “Kemana ibunya?” tanya saya pada seorang suster. “Sedang mengurus obat. Pakai kartu sehat sih. Tapi nggak semua obatnya bisa didapat gratis. Obat yang bagus nggak dikasih. Mahal sih“, kata sang suster.

Sang anak tidak bergerak. Diam saja. “Dia sudah seminggu koma. Nggak sadar“, jelas sang suster. “Ooohhh“…

Bayangan kedua anak saya membayang di belakang mata. Ujung mata saya basah.

Dalam rangka membantu sebuah proyek penelitian, beberapa tahun lalu saya pernah diminta menemani peneliti utama dari Inggris untuk mencari data tentang program MCH (Maternal and Child Health) di Kalimantan Selatan.

Setelah beberapa hari berada di Banjarmasin, ibukota Kalsel, kami beranjak ke beberapa kabupaten di provinsi ini untuk melihat perkembangan program yang sedang kami teliti dan evaluasi.

Sampai di sebuah Puskesmas kecil yang terawat resik dan asri, kami disambut oleh ibu dokter pimpinan Puskesmas. Ternyata ia dan suami sama-sama bekerja di Puskesmas yang sama. Istrinyalah yang menjadi kepala Puskesmas di sana. Rumah mereka terletak di samping gedung Puskesmas.

Sambil mendengarkan keterangan ibu kepala Puskesmas, saya pun menyempatkan diri melihat-lihat laporan dan kondisi Puskesmas itu. Sangat rapi. Semua dokumen dan laporan tersimpan dengan rapi. Walau gedung dan fasilitas di Puskesmas itu tidaklah tergolong baru namun semuanya terlihat tertata dengan rapi.

Setelah selesai mendapatkan data dan informasi dari beliau, kamipun ngobrol-ngobrol secara santai dengan beliau. Ternyata beliau dan suami adalah sama-sama lulusan dari fakultas kedokteran sebuah universitas swasta di Jakarta. Mereka berasal dari keluarga yang cukup mampu. Kedua orangtuanya sang ibu dokter masih tinggal di sebuah kawasan elit di Jakarta Selatan.

Setelah lepas makan siang, kami diagendakan untuk bertemu dengan para bidan di desa di bawah tanggungjawab Puskesmas tersebut. Cukup banyak jumlahnya, antara 10-15 orang kira-kira. Kebetulan mereka pagi harinya ada pertemuan rutin di Puskesmas, sehingga waktu siangnya bisa dipergunakan untuk bertemu kami.

Semuanya masih muda-muda. Yang paling tua mungkin berumur sekitar 25 tahun. Sebagian besar mengenakan kerudung mengikuti kepercayaan dan kebiasaan masyarakat setempat. Kamipun berbagi tugas mewawancarai mereka secara informal. Saya kebetulan menemani Damian, bule asal London yang kebetulan juga adik kelas saya sewaktu sekolah master dulu.

Umumnya bidan-bidan itu malu-malu menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Tapi ada satu orang yang menarik perhatian kami. Ia ditugaskan di suatu daerah yang cukup jauh. Untuk ke Puskesmas dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dengan menumpang ojek dari desa tempat ia bertugas. Jadi kalau ada pertemuan di Puskesmas seperti hari ini, dia harus datang satu hari sebelumnya dan menginap di rumah teman atau bahkan di Puskesmas. Wajahnya cukup menarik, dan tutur sapanya menunjukkan kecerdasannya.

Tanpa dinyana, sang bidan dengan tanpa ragu menimpali pertanyaan-pertanyaan kami dalam bahasa Inggris yang cukup bagus. Saya sangat kagum. Damian duduk terhenyak. Kaget. Gadis yang bertugas di ujung gunung ini mampu berbahasa Inggris dengan baik! Jadilah pembicaraan kami semakin lancar adanya. Lebih jauh ia bercerita bahwa selepas dari SMA ia masuk pendidikan ‘crash program’ bidan 1 tahun. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 selepas masa kontraknya selesai.

Bidan di desa dikontrak selama 3 tahun. Kebanyakan dari mereka hanya diberi bekal pendidikan kebidanan selama satu tahun, walaupun normalnya adalah setingkat D3. Namun karena mengejar program penempatan bidan di Desa, diadakanlah crash program tersebut. Jadi, sebenarnya bekal mereka masih minim sekali. Pengalaman ‘hands on’ membantu proses melahirkan belumlah didapat dengan jumlah yang memadai selama di pendidikan. Jadilah mereka terpaksa harus ‘learning by doing’ di tempat tugasnya.

Setelah selesai sesi wawancara tidak terstruktur siang itu, kami berangkat ke sebuah desa yang terletak kira-kira 30 menit perjalanan mobil dari Puskesmas tersebut. Melekat di bibir sungai, ada sebuah balai pertemuan milik desa tersebut. Di sisinya, ada kamar kecil dilengkapi dapur dan kamar mandi, tempat salah seorang Bidan tinggal.

Jadilah kami ngobrol di sana, mengamati ‘first hand’ kehidupan bidan di desa yang sebenarnya. Sang bidan, yang kebetulan sama sekali tidak pandai berbahasa Inggris, dengan senang hati curhat pada kami menjelaskan suka duka dan seluk beluk profesi dan kehidupannya sebagai bidan di desa.

Bidan di desa, dengan pendidikan yang cukup tinggi untuk ukuran pedesaan, umumnya menjadi perhatian pemuda di kampung. Tidak sedikit cerita adanya bidan yang diminta menikah dengan pemuda setempat, atau menjadi istri muda kepala desa. Semuanya menjadi bagian dari dinamika kehidupan mereka.

Paraji, dukun, dan mantri kampung juga menjadi bagian dari tantangan pekerjaan mereka. Maklum, biasanya para penyedia jasa kesehatan tersebut sudah lama berada di sana dan menjadi tumpuan harapan masyarakat umum. Dengan adanya bidan maka sedikit banyak mereka merasa ‘terancam’ keberadaannya.

Di sela obrolan kami, pisang goreng hangat yang baru dimasak di dapur menyertai sore itu. Damainya suasana, sambil mata memandang aliran sungai coklat di belakang rumah. Sang bidan terus bercerita tentang kehidupannya, pekerjaannya, dan harapannya.

Menjelang maghrib, kami harus kembali ke Banjarmasin, masih beberapa jam perjalanan dari sana. Malamnya, aku tidak bisa tidur nyenyak. Membayangkan seorang bidan yang harus sakit pantatnya 4 jam duduk di bangku ojek, dan seorang lagi yang pasti sibuk menepuk nyamuk pinggir sungai. Tempat tidur empuk hotel kami yang ongkos semalamnya hampir setengah dari gaji bidan sebulan tidak mampu membantu tidurku.

a

Visuals

luka

bertigo

Switzerland Trip

More Photos