Fotografi adalah salah satu hobby saya. Hobi yang sudah berjalan puluhan tahun lamanya.
Bermula dari seringnya saya menggunakan kamera pentax milik bapak ketika masih SD dulu. Kameranya adalah kamera Pentax Auto 110, sebuah kamera mungil yang istimewa karena menggunakan mekanisme SLR yang tidak lazim ada pada kamera seukuran itu. Filmnya adalah film ukuran 110 yang dibungkus cartridge. Proses pemasangan filmnya mudah dan cepat, tapi karena ukuran filmnya kecil kualitas gambar yang dihasilkan tidaklah mampu untuk dicetak dalam ukuran besar.
Layaknya kamera SLR lainnya, Pentax Auto 110 ini juga menggunakan interchangeable lens system, dimana lensa kameranya bisa diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan. Kalau tidak salah dulu bapak hanya punya dua lensa, satu lensa normal dan satu lagi lensa semi tele yang masih mini juga ukurannya. Sistem pencahayaannya automatic, dan hanya fokusnya saja yang diatur secara manual. Sayang kalau tidak salah kamera itu kemudian rusak dan sulit untuk dibetulkan kembali oleh distributornya di Indonesia.
Dari situ lalu bapak mengganti kameranya jadi kamera Nikon pocket non SLR tapi berfasilitas zoom, saya lupa nomor serinya tapi kamera itu sering sekali saya pakai untuk keperluan jeprat-jepret disetiap kesempatan.
Saat SMA, pacar seorang kakak saya (kelak ia jadi kakak ipar saya juga) membeli satu set kamera SLR Nikon lengkap dengan perangkat lensa tripodnya dari saudara sepupu. Seperti biasa saya lalu memberanikan diri meminjam dan belajar memakainya. Nikon FM2N, si kamera pinjaman itu, menurut saya adalah kamera terbaik yang pernah saya gunakan sampai sekarang. Kameranya full manual – tidak ada otomatisnya. Aperture, speed, focus. Lensanya ada 3 jenis. 50 mm f1.2, 105 mm macro, dan 80-200 mm zoom lens.
Berhubung tidak ada yang bisa ditanya-tanya (si pacar kakak ini dulu juga belum pandai menggunakan kamera SLR), saya coba-coba saja sendiri menggunakan kamera itu. Setting pencahayaan manual yang ribet bisa dipelajari dari bungkus film yang ada ISO guide-nya. Untuk mendapatkan kombinasi aperture dan speed lain ya coba-coba saja sendiri. Beberapa teman yang jadi korban model saya selaku fotografer amatir kelas kambing waktu itu adalah teman-teman SMA. Saya lupa bagaimana awalnya suatu hari saya mengajak 6 orang teman SMA, yang semuanya perempuan, untuk foto2 di taman bunga wiladatika cibubur. Sok yakin saja waktu itu berfoto-foto ala model majalah remaja, nggak tahu nanti hasilnya bagaimana. Eh, nggak dinyana hasilnya bagus-bagus juga!
Dari situ, saya lalu jadi lebih sering meminjam kamera milik pacar kakak itu. Bahkan, kamera itu rasanya lebih sering ada pada saya dibanding pada si pemilik aslinya. Hihihi, kurang ajar memang ya
Kemudian saya membeli lensa sendiri dari uang hasil ‘proyek’ dan kegiatan lain sewaktu kuliah. Kadang juga saya memfoto teman-teman yang ingin difoto dengan bayaran ala teman. Kameranya ya tetap kamera pinjaman itu tapi lumayan deh sudah bisa mengklaim punya sesuatu.
Selain itu, seorang kakak yang lain sudah mulai punya penghasilan yang lumayan dan pernah membeli sebuah kamera. Mereknya Minolta Dynax 3000i, kamera SLR automatis yang tidak bisa terlalu banyak dipakai belajar dan eksperimen. Nevertheless, kamera itu berjasa besar juga dalam proses pembelajaran fotografi hasil pinjam-meminjam ini.
‘Mentor’ fotografi saya waktu itu adalah Dodo, teman pramuka Gudep 617 Dharma Cempaka yang kemudian ketemu lagi jaman kuliah. Dia kuliah di Fisip yang kelompok fotografinya kuat dan saya kuliah di fakultas baru yang relatif sepi mahasiswa. Dodo juga punya banyak koleksi buku fotografi yang sering saya numpang baca di rumahnya yang nyaman di jalan Alu-Alu kawasan Rawamangun. Kalau pegangan kamera pinjaman saya adalah Nikon FM2, Dodo selalu istiqomah dengan Canon-nya.
Jaman kuliah itu, ada pembentukan panitia kegiatan UI cup – sebuah kegiatan olahraga antar fakultas di UI. Saya mendaftar dan iseng-iseng melamar jadi seksi dokumentasi. Tidak dinyana, walau tidak punya pengalaman apa-apa soal ini, saya diminta untuk jadi ketua seksi dokumentasi. Ya nekat aja deh, at least bisa menyalurkan hobi foto tanpa harus mengeluarkan uang untuk membeli film dan jasa cuci-cetaknya. Di sini saya belajar banyak, karena anggota seksi dokumentasinya adalah teman-teman yang sudah lebih mumpuni dalam dunia fotografi. Dodo, mentor fotografi saya itu, kebetulan malah menjadi salah satu tim fotografi saya, yang lalu juga mengajak teman-teman kelompok fotografinya untuk bergabung menjadi panitia. Pokoknya kesempatan ini saya pergunakan betul untuk belajar dan bereksperimen dalam perfotografian, khususnya sports photography.
Di kampus FKM yang relatif masih sepi mahasiswa itu, saya mengajak beberapa teman membentuk kelompok peminat fotografi. Anggotanya ya teman-teman yang ingin belajar potret-memotret. Selain itu saya juga dekat dengan lab fotografi di FKM UI. Kadang saya pinjam kamera F2 Titanium yang mantabs sekali milik kampus. Pernah juga diajak pak Zulasmi Mamdy, dosen PKIP di FKM UI, untuk membuat foto-foto yang akan digunakan sebagai media promosi kesehatan. Di situ saya juga belajar teknik kamar gelap, pakai studio milik kampus, maklum cari yang gratisan dong.
Di luar itu, saya juga mulai diminta untuk membantu dokumentasi acara pernikahan dan lain-lain. Tentu saja diterima dengan senang hati karena duitnya lumayan. hehehe.
Toko-toko perlengkapan fotografi di kawasan jalan sabang dan pasar baru lalu menjadi salah tempat wajib kunjung. Seringnya sih bukan untuk membeli sesuatu tapi seringnya untuk melihat perkembangan terbaru teknologi kamera dan film. Kalau ada rejeki, ya coba-coba lah membeli film yang belum pernah dicoba atau jarang memakainya seperti slide film.
Lalu seorang kakak yang lain (itu enaknya punya kakak banyak) berbaik hati mensubsidi pembelian body kamera buat saya. Saya pilih Nikon F90. Sebuah kamera SLR yang cukup mantap dengan berbagai kemampuan yang canggih untuk masa itu. Namun demikian, saya tetap lebih sreg dengan kamera Nikon FM2N pinjaman itu. Tapi ya pinjaman tetap pinjaman, bukan milik sendiri dong. Kemudian menjelang akhir masa kuliah, atas prestasi saya bapak dan ibu berbaik hati mengumpulkan uang untuk membelikan sebuah hadiah. Sebuah Blitz Nikon yang mantap! Terimakasih Ibu dan Bapak!
Jika pergi kemana-mana, tentu kamera milik sendiri atau si kamera pinjaman ikut menyertai. Saat ikut KKN, si kamera menemani saya keluar masuk kampung di desa Dalam Balar, Pandeglang. Pernah juga diajak mendaki bukit Liliboi tempat kecelakaan pesawat Mandala di Ambon. Juga pernah jeprat-jepret di gunung anak krakatau, dan kawasan ujung kulon.
Saat dapat kesempatan bersekolah lanjutan ke negeri asing, sekali lagi kamera menemani menjalani hari-hari yang sepi. Pokoknya, si kamera seakan menjadi bagian integral dari aktifitas sehari-hari. Nempel terus kemana-mana.
Setelah kemudian menikah dan punya anak, giliran anak-anak yang sering jadi sasaran jeprat-jepret. Lalu kemudian era digital kamera datang bagai air bah. Awal mengenal kamera SLR juga dari kamera pinjaman milik satu teman kantor. Kalau nggak salah mereknya Kodak Easyshare DX Series. Sering saya pinjam untuk buat stock foto keperluan presentasi kantor. Dengan kamera digital, biaya cuci-cetak menjadi nol sehingga urusan jeprat-jepret menjadi lebih leluasa tanpa perlu memikirkan anggaran.
Setelah itu, mulailah saya membeli kamera digital sendiri sampai tahun 2005 dimana saya membeli kamera DSLR yang sampai saat ini masih menemani kemana-mana.
Kamera digital memang membuat fotografi menjadi mudah. Teknologinya jauh lebih canggih, biaya operasionalnya murah, dan hasilnya juga mudah diedit sesuai keperluan dengan sotosop atau sejenisnya. Tapi, entah kenapa rasanya ‘roh’ fotografinya agak berkurang, tidak sama dengan kamera SLR film 35mm, apalagi si Nikon FM2N pinjaman itu.
Memang tidak selamanya teknologi digital lebih menyenangkan hati!




Tinggalkan Komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini