You are currently browsing the category archive for the 'Thoughts' category.

Sudah pernah dengar belum kalau Tempe ternyata sudah dipatenkan oleh orang Jepang? Saya tadinya nggak terlalu yakin dengan hal itu, karena berpikir mana mungkin sih ada orang yang sejahat itu mengclaim makanan tradisional kita menjadi ‘hak milik’nya.

Kebetulan raksasa Google sudah mendigitisasi hampir semua dokumen aplikasi paten di Amerika, dan bisa diakses langsung di http://www.google.com/patents. Barusan saya iseng-iseng cari apa tempe ada di sana dan ternyataaaaa……. benar adanya…..

Sekelompok warga Jepang (Hideyuki Aoki, Ichiyo Uda, Noriko Miyamoto, Keiko Tagami, Yuji Furuya, Mitsumasa Mankura) telah mengklaim proses produksi secara modern untuk menghasilkan produk hasil fermentasi kacang kedele (soya beans) yang kaya dengan Gamma-aminobutyric acid dan Amino Acids (kedua jenis zat itu sangat berguna untuk metabolisme tubuh manusia). Produk ini tidak lain dan tidak bukan adalah TEMPE.

Paten ini dimasukkan ke US Patent and Trademark office pada tahun 2001 dan lolos resmi dipatenkan pada tahun 2003. Dokumennya bisa dilihat langsung di sini: http://www.google.com/patents?id=hJyFAAAAEBAJ

Lalu apa dampaknya bagi kita? Legalnya sih artinya tidak ada pihak lain yang boleh memproduksi dan menjual Tempe di Amerika dengan metode yang dijabarkan seperti di patent itu, selain si pemegang paten atau yang sudah di-approve oleh mereka. Saya juga tidak tahu apa ada metode lain dalam pembuatan tempe - metode mereka itu sama secara garis besar dengan metode tradisional pembuatan tempe di Indonesia

Karena buta masalah hukum, saya tidak tahu apakah tindakan si jepang-jepang ini sah dengan mempatenkan proses produksi tempe yang dikenal secara tradisional di Indonesia di negara lain. Hak komunal masyarakat Indonesia dalam hal ini rasanya diabaikan begitu saja (hak ulayat? bener nggak ya?).

Mungkin hal ini mirip juga dengan kasus lagu Rasa Sayange yang ‘dibajak’ oleh Malaysia untuk promo program turismenya. Bedanya mungkin lagu rasa sayange tidak diklaim ditulis oleh encik dan puan sana!

Di lain pihak kita juga mesti berkaca diri, kalau kebanyakan dari kita di Indonesia juga masih bermental pembajak, dengan sering menggunakan ciptaan orang lain tanpa ijin penciptanya. Lihat saja produk bajakan berkeliaran di mana-mana, termasuk di komputer kita sendiri ini. Dalam hal musik pun juga sering kita jumpai lagu bahasa Indonesia yang amat sangat mirip dengan lagu ciptaan orang lain. Lihat saja list-nya di sini.

Lepas dari itu, kita mesti mengambil pelajaran bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci dalam hal ini. Si jepang-jepang ini belajar mengurai proses produksi tempe yang sudah kita kuasai luar dalam tanpa tahu proses bioteknologinya lalu bergerak selangkah atau beribu langkah lebih cepat dari kita untuk mempatenkannya. Di Indonesia, mungkin sebagian dari kita punya juga kemampuan dan pengetahuan tapi tidak bertindak segesit mereka.

Saya belajar membuat 100% dari internet. Awalnya dulu dari website Isnet di pertengahan tahun ‘90-an. Belakangan ada beberapa site yang memberi petunjuk pembuatannya, tapi yang paling detail dan ilmiah adalah yang saya temukan di site University of Reading, sekali lagi yang membuat bukan orang Indonesia.

Dari semua ini, hal yang lebih langsung berhubungan dengan saya adalah kalau sampai paten ini diterima di Inggris, saya nggak boleh membuat tempe sendiri! Menyedihkan!

Albeit less than half of Manchester United players are in fact British, most would say that it is part of the British National pride. The English monarchy, Rolls Royce, the channel tunnel, and Harry Potter novels and movies are also symbolising the pride of the nations which stands firm from the other nations.

The Japanese would probably say that they are proud of the disciplines and high tech businesses. Karate, Sony, Mitsubishi, Shinkansen Bullet train are a few examples of things that the Japanese might be pride of.

What about the pride of Indonesians? Do we need one that we can associate with as an Indonesian?

The image of contemporary Indonesia might not be looking so great. For many, perhaps it is much easier to write Indonesia’s shame list than our pride. Corruptions, terrorisms, human rights violations, forest fire and the smoke it produces have been the major embarrassments for Indonesia in the world’s arena.

However, it is important that we associate with something that lift up our spirit, and can be used to propel our drive to do and achieve more as a nation.

In the past, Indonesia has been widely known for its military strength within South East Asia. Not anymore though. The strength of our once mighty air force has been reduced to a very limited operational aircrafts, with heavy reliance on overseas support.

In its heyday, Pertamina was a strong contender at least for region high achiever in the business and economic field. Many large Indonesian conglomerates such as Salim Group, Bimantara, Bakrie and the like have not developed into our national pride due to both their economic performance as well as the association of their success with Suharto’s regime.

We also had IPTN as an attempt to jump-start Indonesia to a high tech aerospace business which was very rare in the developing world. Indonesia was also hailed as the first developing country to own and operate a high tech telecommunication satellite.

In the field of sport, Badminton, as sport which Indonesia has a long history of success and great names, has been in the continuous decline over so many years. Football, although arguably is the much loved and watched sport, has not been Indonesia’s strongest talent.

None of those can be considered as our pride anymore. They might be in the past, but it is certainly not the case today.

What are the things that Indonesian should be pride of then? The answer maybe lies in our everyday live. It is the language that all Indonesians speak.

Bahasa Indonesia is certainly the main candidate for the Indonesian pride. It has glued a widely diverse Indonesian population and ethics groups scattered in thousands of islands into a single common ground uniting the diversity. With more than 220 million people speak the same language, it is now one of the world’s top ten most spoken languages.

Derived largely from the Malay language, Bahasa Indonesia was spread across the region through peaceful means, carried through commerce and the spread of Islam in the Archipelago. Lingua Franca status was achieved as a universal language on top of the numerous native languages in the archipelago. The declaration made by the Indonesian Youth in 1928 helped to shape the formal adoption of the Lingua Franca into Indonesia’s unifying language. In 1945, Bahasa Indonesia was formally adapted in the Indonesian Constitutions.

Bahasa Indonesia has no contest in showing that language alone can unite the whole archipelago into a common means. While many might said that English is the world’s unifying language, its historical spread was more or less related to the spirit of colonialism of the British. Spanish and French languages are unfortunately share the same background with English.

The success of Bahasa Indonesia in unifying Indonesia into a single entity is our biggest pride. While we should learn to master and use English, and other foreign languages alike, Bahasa Indonesia should be kept as the medium of Indonesia’s formal language and national identity. And the fact that I wrote this article in English does not reduce my praise and appreciation of Bahasa Indonesia as our national pride.

Whatever good reasons for the Indonesian Health Minister Dr. Siti Fadilah Supari to refuse sending Bird Flu virus samples to World Health Organization (WHO) seem to backfire. A lot of international media negatively covers her refusal to be a threat to the world health. For example, the editorial column at the Wall Street Journal today condemned her decision. It says that Indonesia’s denial to send those H5N1 virus samples to the WHO would lead to inevitable pandemic in the region, if not the world.

As Indonesia leads the rank of country with reported H5N1 bird flu cases, the refusal to send bird flu sample for vaccine development are important. As of mid-April 2008, there were 132 confirmed human cases of H5N1 virus infection with 107 deaths in Indonesia. This represents 35 percent of the worldwide known cases of this deadly virus. Without Indonesia’s bird flu samples, development of vaccines would be difficult.

Many international commentators speculated that Dr. Supari stance was mainly to gain domestic political support, in particular by bringing anti US sentiments to her personal gain. Some went further to suggest that she tried to gain support from the even stronger Indonesian Muslim’s sentiments against the US.

Most international media stated the minister claims that ultimately this bird flu virus samples would be used by the US government as a potential biological weapons. Dr. Supari denies this by saying that a translation error from her original Indonesian writing to the English version of the book was to blame.

Instead, from her own word, the main reason for rejection was that the virus samples sent to the WHO laboratories would be used by Western Pharmaceutical companies to produce vaccines which later would be sold in high prices to developing countries.

It has to be mentioned that Bird Flu Vaccine development is potentially a big buck business. Although development of such vaccines are very difficult, mainly because virus strains are changing rapidly which make vaccine development such a tricky business, a successfully developed vaccine would bring a rewarding financial return as it would be required in high numbers both to people in develop world and to those in developing countries.

What is also interesting was that the refusal to send this virus samples were mostly contested by the US Government rather than the WHO itself. The latest salvo against her decision was coming from the US Minister of Health and Human Service, which on the recent visit to Jakarta pressed for Indonesia’s acceptance to send the samples to the US laboratory.

The latest saga in this battlefield comes from the ban of US Navy’s Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) laboratory from operating in Indonesia. Reports from Indonesian media mentioned that further collaboration with this institution which has long been operating in Indonesia doing virology, microbiology, epidemiology, immunology, parasitology, and entomology research is halted pending further negotiation with the US Government.

Would the Indonesian people (or its government) have a share in the development of the vaccines is the main political concern here. So far, people living in less developed countries such as Indonesia are seen more as an object and target of many western product or development in health field. Many drug trials for example are now done in the developing countries, mainly because of the less stringent requirements in accepting drug trials as well as the relatively cheaper costs to do such a trial in those countries. The profits from developing such medicines and vaccines are primarily goes to industrialists from major pharmaceutical companies. What left from the people and government of the less developed countries is the price to pay for those development created right under their nose. This is certainly a world of unfair play.

Dr. Supari effort seems to bear some fruit. The World Health Organization had commissioned a study on the ‘ownership’ and patent issues surrounding the Influenza viruses. Further negotiations on the issue of handing over the samples to international bodies and possibly commercial companies are still on going.

However, the most important issues facing the Indonesian Health Minister is that possible backlash to her if this struggle to achieve a stronger bargaining position was lost. Indonesia might be accused of bringing the world in danger of global pandemic of bird flu by not giving access to international effort to produce the vaccines, and in effect leaving the virus to groom in the wild.

While many prominent figures in Indonesian health sector backed her decision, loosing this battle from an international perspective would be a disaster for Indonesia. There are enough examples where Indonesian government position hung out to dry in facing negative international media coverage. There is certainly a need to turn the international media perception toward Indonesia and in particular the stance of Dr. Supari to get better bargaining position in this regard.

Manusia diciptakan secara sempurna oleh yang Maha Pencipta. Termasuk di dalamnya dengan kemampuannya bereproduksi. Sel telur yang jumlahnya terbatas di indung telur wanita dikeluarkan secara rutin setiap bulan sekali sejak saat puber pertama sampai beberapa saat setelah menopause. Sel sperma yang diproduksi di scrotum berbelah menjadi jutaan secara terus menerus tanpa henti sampai hari tua.

Semua ini dilengkapi juga dengan gairah yang ada secara naluriah. Tanpa ada yang mengajaripun, manusia bisa tahu cara bereproduksi. Tanpa ada yang menyuruh, sel sperma mampu mencari, mengejar dan menembus sel telur wanita.

Semuanya dirancang Allah untuk kelangsungan masa depan manusia. Wanita ditakdirkan dengan kecenderungan pada kelemahlembutan, kecantikan, dan empati. Pria diberi kekuatan dan ketegasan lebih dibanding wanita. Kecantikan wanita menjadi daya tarik bagi pria, dan kelebihan pria menjadi dorongan bagi wanita untuk mencari pasangannya.

Hasil reproduksi manusia menjadi bentuk keturunan kita yang juga secara alamiah ditumbuhkan dan dipersiapkan di rahim para ibu. Setelah lahir, cairan yang keluar dari payudara ibu menjadi sumber alami kehidupan bagi bayinya bahkan sampai beberapa bulan kedepan.

Anak yang bertumbuh besar akan belajar utamanya dari orang tua dan lingkungannya. Belajar dari usapan, belaian, bisikan dan ciuman. Belajar dengan meniru apa yang dilakukan orang tua,  dan lingkungan sekitarnya. Sampai suatu saat nanti sang anak siap melanjutkan tali regenerasi reproduksi manusia sampai akhir jaman.

Keturunan yang kita dapatkan adalah karunia bagi orang tua, cahaya dalam kehidupan mereka. Karunia yang sekaligus juga menjadi tanggung jawab luar biasa. Suami dan Istri bisa bercerai dan putus hubungan sama sekali. Lain halnya antara hubungan orang tua dengan anak. Sang anak tetap membawa paling tidak gen orang tuanya sampai kapanpun. Adanya nyawa sang anak tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kedua orangtuanya.

Putra-putri kita menjadi amanah bagi orangtuanya, amanah untuk memberi makanan yang baik, membesarkan, mendidik, membimbing sampai juga nanti menikahkannya. Semuanya ujian Allah bagi para orang tua.

Namun ada kalanya sebagian dari kita tidak dimudahkan mendapat keturunan. Mulai dari belum mendapat pasangan, kendala penyakit, sampai infertilitas. Semuanya cobaan yang Maha Kuasa.

Saya anak terkecil dari 7 bersaudara. Jadi kami dari keturunan keluarga yang cukup besar. Salah seorang kakak saya baru dikaruniai seorang putra setelah hampir 10 tahun menikah. Satu lagi kakak saya bahkan belum juga dikaruniai keturunan sampai saat ini, 15 tahun usia pernikahannya. Segala cara sudah ditempuh, tapi tidak juga kunjung berhasil.

Mungkin ada rahasia Allah pada mereka. Setiap manusia akan mendapat ujian, dengan segala bentuknya. Ujian berupa tidak atau belum adanya keturunan juga salah satunya. Hanya ujian kecil diantara berbagai ujian besar lainnya. 

Maha Besar Allah dengan segala karunianya

Saat jaman SMA saat sedang jadi penumpang mobil yang disetiri si Adip sahabat kental saya, Adip melanggar lampu lalu lintas di kawasan Gambir. Polisi yang sudah biasa mangkal selepas lampu merah itu sigap menunjuk mobil kami untuk berhenti. Setelah diberitahu kesalahannya, waktu itu kami seperti banyak orang lain minta “damai” saja karena malas ngurus tilang ini itu.

Mendengar permintaan pak Polisi itu wajahnya berubah jadi masam. “Kamu kira saya apa mau nyogok saya!” katanya. Tertegun saya mendengarnya. Ternyata tidak semua polisi bisa disogok pikir saya. Mendengar itu kamipun pasrah. Biarin deh kita susah mengurus sidang tilang, ini petugas juga perlu dihormati.

Setelah menunggu beberapa saat, tidak dinyana si petugas berkata “Kalau nggak 20 ribu saya nggak mau!” Seketika itu rasa hormat yang tinggi pada pak polisi itu langsung musnah…..

Pengalaman lain dengan polisi ini kadang lucu juga. Beberapa kali saya distop polisi karena kesalahan kecil. Suatu kali distop di depan Arion plaza di Rawamangun, karena melanggar garis jalur bus katanya. Saya diminta berhenti di jalur bus itu. Saya bertanya heran, “Katanya saya salahnya melanggar jalur bus, terus kenapa saya malah disuruh berhenti di sini pak? Bukannya lebih melanggar lagi nih berhenti di sini?” Pak polisi itu kayaknya jadi malu dan bertanya, “Memangnya mau kemana sih”? Saya jawab bahwa saya mau ngajar di depok. Eh, pak polisi itu malah langsung mempersilahkan saya jalan.

Hal serupa juga saya alami di kawasan Tomang, karena memotong garis pembatas jalan. Seorang polisi bermotor menyetop dan mendatangi saya. Karena gerah saya minum air mineral dalam gelas dulu, dan begitu dia datang saya tawari juga pak polisi itu untuk minum. Sama seperti cerita sebelumnya, dia tanya saya mau kemana. Saya jawab mau ngajar kelas sore di salah satu universitas swasta di dekat situ. Nggak macam-macam saya segera disuruh melaju lagi. Pokoknya aman deh kalau ngaku dosen……he..he….

Yang paling lucu waktu saya mengantar orangtua kondangan. Di bundaran HI saya diberhentikan karena dianggap melanggar lampu. Ya sudah saya keluar mendekati mobil polisi. Kali ini si polisi yang menawarkan air minumnya pada saya. Saya tolak malu dong. Melihat nama di SIM saya berbau Jawa, sang Polisi mengajak saya berbahasa Jawa, ya saya jabanin saja semampunya. Terus si Polisi bilang “Wis kono njaluk selawe ewu karo boss mu”. Saya kaget, terhina, tapi sekaligus senang. Terhina karena saya dianggap sopir yang sedang menemani majikan di mobil, tapi senang karena cuma diminta 25 ribu! Ini saya nggak minta damai lho…. si polisi yang minta langsung. Begitu masuk ke dalam mobil dan jalan lagi, saya kasih tahu apa yang terjadi pada bapak dan beliau ketawa sambil memberi tahu kalau biasanya sopir dia ngasih minimum 50 ribu kalau ada urusan ‘damai’ dengan polisi…..

Sekarang beralih dari soal ditangkap Polisi jalan raya. Sewaktu kerja di UI dulu, saya pernah diminta salah seorang senior ngurusin proyek pembuatan buku di salah satu departemen. Proyek ini bernilai 50 juta rupiah, dan saya diminta menemui orang yang bertanggung jawab dalam penentuan proyek itu. Kebetulan, si pimpro ini mantan mahasiswa kami jadi agak kenal-kenal dikit deh. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kami tiba pada pucuk permasalahan.

“Begini Dik (dia memanggil dik karena saya memang jauh lebih muda), karena kami perlu koordinasi dan lain-lain, uang yang bisa dialokasikan ke tim kalian 15 juta”, demikian katanya santai. Hah! Saya terkejut. Masak nilai proyeknya 50 juta tapi yang bisa dicairkan cuma 15 juta! Artinya disunat 70 persen dong! Saya kemudian tanya alasannya dia menjawab macam-macam. Pokoknya, kalau kami mau mengerjakan, segitu duitnya. Titik.

Dalam perjalanan pulang ke kampus, saya teringat pada ucapan Prof. Soemitro Joyohadikusumo yang mengatakan bahwa tingkat inefisiensi (baca: korupsi) di Indonesia mencapai 30%. Lha kenyataan lapangan menunjukkan jauh dari itu Prof!

Lalu saya melapor pada kepala Jurusan, dan beliau juga sama terkejutnya dengan saya. “Itu mah keterlaluan Don! Dah jangan mau” demikian ‘petunjuk’nya. Jadilah saya melupakan proyek itu. Lucunya beberapa waktu setelah itu, saya dengar proyek ini ternyata dikerjakan oleh salah satu kolega saya sendiri….hiii…hii…… mau ya dia…..

Hari ini saya membantu direktur unit memilih beberapa pelamar untuk di’shortlist’ sebagai calon karyawan yang akan diinterview untuk posisi sebagai Researcher. Pekerjaan yang ditawarkan adalah mengerjakan research tentang efektifitas Screening pada penemuan dini penyakit Jantung. Proyek ini lumayan besar, yang akan dikerjakan dalam jangka 3 tahun.

Dari 9 pelamar yang masuk, hanya satu pelamar yang berwarganegara Inggris. Satu orang warga Uni Eropa dan lainnya adalah ‘orang asing’ yang entah sedang tinggal atau bekerja di Inggris, dan bahkan beberapa pelamar internasional.

Dari sembilan orang ini, hanya dua yang kami putuskan untuk diinterview. Sebenarnya ada satu orang pelamar (dari Mesir nih!) yang sangat qualified tapi menurut kami kurang punya pengalaman dan kemampuan untuk melakukan proyek ini.

Ternyata susah mengambil keputusan untuk memilih. Ada rasa berat juga untuk memutuskan tidak melanjutkan proses aplikasi pekerjaan seseorang. Seseorang mengajukan lamaran pekerjaan kan pasti ada alasannya di belakangnya. Menghidupi keluarga? Impian mencapai hari depan yang lebih baik? Apalagi kalau pelamar dari Negara ‘berkembang’, mendapat pekerjaan di negara maju mungkin impian terbesar mereka.

Saya lalu jadi ingat pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali mulai kerja. Waktu itu hanya beberapa hari setelah saya ‘diterima’ kerja (saya tulis pakai tanda kutip karena saya sendiri dapat pekerjaan tersebut tanpa proses melamar, interview, dll – KKN banget yach….).

Waktu itu saya tiba-tiba diminta membantu proses penerimaan calon staf di kantor kami. Padahal saya sendiri baru saja ‘diterima’ kerja selama beberapa hari. ‘Ngantor’ belum pernah (fisik kantornya belum ada), rapat belum pernah.

Sabtu itu saya datang, pakai celana jeans dan baju kemeja (untungnya!). Saat itu dibuka 4 posisi kerja di kantor kami, ada sekitar 30 calon yang diundang mengikuti proses seleksi. Seleksi dimulai dengan tes kemampuan praktis (komputer dll). Pagi itu juga hasilnya keluar. Hanya sekitar 15 orang yang diminta melanjutkan interview di siang harinya. Sisanya boleh balik kanan dan pulang.

Keduapuluh ini kemudian langsung diinterview oleh kami. Kami berempat (Bos, dua staf lainnya, dan saya ) masing-masing menginterview sekitar 4 orang di tempat yang berbeda-beda.

Dari 4 orang yang saya wawancarai, satu orang cukup ‘berbobot’ dan qualified. Cuma dia minta gaji yang agak ketinggian menurut saya. Satu orang lagi sangat desperate-nya ingin kerja malah hanya ingin dibayar 125 ribu per bulan!!!! Walau saat itu masih beberapa tahun sebelum Krisis Moneter (Krismon) menurut saya jumlah itu kecil sekali – tidak akan cukup untuk kebutuhan hidup dan tidak sesuai dengan tanggung jawabnya kelak. Ketika saya tanya apa dengan uang segitu bakal cukup untuk kehidupan, dia menjawab bahwa dia bisa tinggal menumpang dengan kakak, jalan kaki ke kantor, dll.  

Eh perlu diceritakan sedikit, saat mewawancarai mereka itu, saya malah belum tahu jumlah gaji saya sendiri! Keterlaluan yach….

Setelah selesai interview, kami rapat kecil untuk memutuskan siapa yang bisa maju ke final interview. . Dari 15-an orang itu, dipilih 8 orang. Uniknya, final interview ini dibuat seperti interview ‘keroyokan’, semua kandidat hadir di ruangan yang sama, dan ditanya oleh kami secara bersama-sama pula.

Hasilnya, terpilih 4 orang yang kami terima. Tapi hanya 3 yang kemudian benar-benar bergabung dengan kami. Tidak ada satupun orang yang saya wawancarai sebelumnya yang direkrut. Dari 3 ini, satu orang tidak ‘berumur panjang’ di kantor kami. Dia mengundurkan diri beberapa bulan saja setelah mulai kerja. Terlalu sulit mungkin bagi dia. Yang ‘tahan banting’ ada satu, yang sampai saat ini masih bekerja di institusi yang sama walau lain unit.

Pengalaman satu lagi saat saya kerja di sebuah perusahaan konsultan. Saya diminta mewawancarai seorang calon, yang sebelumnya kerja di sebuah bank di Phillipina. Sang calon ini tinggi orangnya, perempuan yang masih muda. Bahasa Inggrisnya baik sekali, demikian juga bahasa Tagalognya. Bahasa Indonesianya payah banget. Yang bikin saya kaget, ternyata dia orang Indonesia! Ternyata orangtuanya adalah orang Indonesia yang sudah lama kerja di Phillipina.

Sang calon ini cukup smart dan qualified. Tapi menurut penilaian saya waktu itu belumlah cukup mampu untuk menangani pekerjaan-pekerjaan di kantor kami. Jadi di akhir wawancara saya melaporkan pada boss bahwa kemungkinan dia tidak cocok untuk kerja di sana. Tapi nampaknya si boss punya pendapat lain dan tetap mempekerjakan dia.

Akhirnya dia kerja di team kami, dan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa penilaian saya kepada dia dulu ternyata salah. Dia menjadi seorang staf yang andal dan sampai sekarang masih kerja di bidang yang sama walaupun saya sudah lama cabut dari bidang itu….he..he….

Hari Minggu terakhir di tahun 2007, kami sekeluarga diundang Mohammad, dokter asal Iran yang sedang studi di kampus saya tentang Pemerataan Kesehatan di Iran. Kebetulan saya diminta membantu menjadi co-supervisornya di kampus. Rumahnya terletak persis di seberang gedung tempat saya kerja.

Dengan ramah Mohammad dan istrinya menyambut kami. Dua putrinya yang cantik, Raihana dan Sarah, juga ikut bercanda dengan kami di ruang tamu. Tidak lama chit-chat, hidangan makan siang pun dikeluarkan.

Ada dua jenis nasi terhidang di meja. Nasi putih dan nasi campur kismis merah. Selain itu ada juga ayam bakar dan sayur bayam daging ala Iran. Ditambah juga salad buah dengan bumbu minyak zaitun dan lemon. Di ujung meja ada sepinggan nasi yang agak gosong (kerak nasi) alias intip dalam bahasa Jawa.

Mulailah kami mengambing porsi makan kami secukupnya. Semua kami coba tapi tentu saja si nasi gosong alias kerak nasi tidak kami senggol sama sekali. Setelah itu mulailah kami lahap nasinya dengan dengan nikmat. Masakannya cocok dengan selera kami. Enak sekali.

Sedang asik makan, tiba-tiba Mohammad menyodorkan pinggan yang berisi kerak nasi tadi. Saya tentu saja agak kaget. Lha, masak kerak nasi disodorkan? Mohammad menjelaskan dengan santun, “This is a delicacy in Iranian cuisine. People in Iran like this kind of rice“, demikian jelasnya. Jadilah saya mencoba menyembunyikan rasa kaget saya dan mengambil sebagian nasi kerak itu.

Sambil makan ingatan saya melayang pada almarhumah Ibu. Dulu beliau selalu mengambil nasi kerak dan nasi sisa lain untuk dimakan dengan garam. Ya dimakan saja seperti itu. Dibilang delicacy ya bukan, tapi beliau merasa sayang kalau ada nasi terbuang percuma. Namun seringkali nasi kerak itu terlampau banyak dan akhirnya sering sengaja dikeringkan di atap rumah, dengan niat setelah kering nanti akan digoreng menjadi semacam rengginang. Tapi kenyataannya, jarang sekali kerak kering tadi jadi digoreng. Lebih sering menjadi santapan burung puter dan burung gereja yang mampir di atap rumah kami.

Bicara soal makanan ini, dulu kakek saya yang sudah renta tinggal bersama kami di rumah. Setiap hari beliau duduk di halaman menghabiskan waktu. Suatu ketika, beliau melihat seekor belalang yang cukup besar tapi ya tidak besar-besar amat. Mungkin sekitar 10 cm panjangnya. Dengan hati-hati ditangkapnya sang belalang dan ditaruh di genggamannya.

Melihat saya datang mendekat, beliau memanggil. Permintaannya kemudian membuat saya kaget. Dimintanya saya memasak belalang itu! Wah, gimana caranya ya? Saya waktu itu memang aktif di gerakan Pramuka yang diajarkan cara memasak dengan bahan baku seadanya. Tapi gimana caranya memasak belalang?

Setelah kejadian itu, saya bertanya pada Ibu tentang hal ini. Beliau berkata bahwa karena daerah tempat kakek tinggal adalah daerah tandus dan minus yang kurang bahan pangan. Segala jenis hewan dan tanaman yang bisa hidup dicoba untuk dimanfaatkan. Termasuk diantaranya belalang, laron, dll. Jadilah saya kemudian belajar menghargai betapa kesulitan memaksa manusia untuk beradaptasi pada lingkungannya.

Lain lagi kalau kita makan pecel lele di pinggir jalan Jakarta. Saya ingat sewaktu kuliah dulu pernah pesan pecel lele di pinggir jalan Margonda di Depok. Lelenya besar dan mantab. Masih hidup pula ketika mau dimasak. Si penjual sekaligus koki mengambilnya dari ember plastik yang ditutup daun, dengan si Lele masih memberontak hebat kesana-kemari. Si Lele kemudian dilontarkan di samping kedai, di bahu jalan yang berdebu tebal. Kemudian dengan pentungan batu yang ada pinggir jalan, diketuklah kepala si Lele dengan kuat hingga langsung mati. Kemudian dimasukkan ke dalam mangkok berisi bumbu dan kemudian langsung masuk penggorengan dengan minyak panas! Sedap!

Salah satu favorit makanan saya di Jakarta adalah burung goreng. Langganan saya adalah sebuah kedai kaki lima di kawasan Prumpung, Jatinegara. Perlu diketahui juga kalau di sekitar daerah ini cukup terkenal dengan warung remang-remangnya yang sudah menjadi rahasia umum menyediakan layanan esek-esek selain dari minuman teh botol atau kopi pahit.

Penjualnya ada dua orang. Bosnya berpostur agak gemuk dan selalu mengenakan kopiah di kepalanya. Negosiasi harga selalu dilakukan dengan si bos. Satu ekor burung sawah biasanya dihargai 15-25 ribu rupiah. Setelah harga disepakati, sang asisten kemudian memotong-motong dan merendamnya dalam larutan bumbu sebentar. Sang asisten ini berpostur kurus dengan sebuah mata yang agak cacat. Agak menyeramkan tampangnya, apalagi kalau memegang pisau besar pemotong daging burung itu. Penggorengan dilakukan di sebuah wajan dengan minyak yang biasanya sudah berwarna agak kelam karena jarang diganti. Tapi hasilnya…. bikin ketagihan…… mungkin karena bumbu dan minyak gorengnya sudah bercampur ampas solar dari truk yang banyak seliweran di jalan itu.

Lain cerita saat saya ikut KKN di kawasan Pandeglang, Banten (Jawa Barat ketika itu). Pemuda-pemuda desa punya kebiasaan untuk begadang sambil masak nasi liwet yang luar biasa sedapnya. Biasanya kami mahasiswa KKN ikut nongkrong. Beras diliwet langsung di panci, dan diatasnya ditaruh tomat, cabai, terasi, dan bawang yang dibungkus daun pisang. Sebelum nasi tanak, tomat, cabai, terasi, dan bawang tadi diulek jadi sambal. Lauknya ikan asin goreng atau kadang juga ikan sawah yang diambil langsung malam-malam dari sawah di samping lapangan kampung. Untuk lalapnya diambil setengah bongkol kol atau kadang juga jantung pisang. Semua bahan-bahan biasanya diambil dari warung di tengah kampung, kecuali si ikan sawah (hasil ngaduk sawah langsung!) dan jantung pisang (hasil memarang pohon pisang terdekat).

Nasi yang sudah tanak disajikan di daun pisang panjang digelar di pinggir jalan. Di atasnya disebarkan ikan asin, ikan bakar, daun kol dan jantung pisang tadi. Sambal juga dicampakkan di sekeliling nasi. Nasi mengepul dengan aroma sambal terasi yang kuat. Semua peserta “liwetan” alias “makan malam-malam” duduk mengelilingi tempat hidangan dari daun pisang tadi. Dengan setengan berjongkok pesta makan dimulai. Laki perempuan berpesta makan sedap nian. Biasanya tidak lebih dari sepuluh menit, tandas semua yang tersedia di atas daun pisang itu. Licin!

Pengalaman yang jauh berbeda saya pernah alami di sebuah restoran di Washington DC, ibukota negara yang tidak begitu saya sukai. Ketika itu saya sedang ikut sebuah conference mewakili Indonesia dalam membahas dampak Globalisasi pada sektor kesehatan. Oleh panitianya, kami semua diajak makan malam bersama (tentu saja bayar sendiri-sendiri) di sebuah restoran tradisional ala Amerika. Apalagi kalau bukan restoran Steak.

Saya pesan saja sebuah steak yang paling murah harganya. Maklum, dari negara berkembang nih ;)  Lagipula ketika itu saya belum pernah makan steak di restoran sama sekali.

Tidak lama datanglah pesanan kami. Masya Allah. Besar sekali porsinya! Daging sebesar itu kalau di Indonesia mungkin sudah bisa jadi rendang untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga selama beberapa hari. Tapi dagingnya sudah tersedia jadi mau apa lagi, ya santap saja. Rasanya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Jauh lebih enak rasanya kalau di rendan. Ujung-ujungnya, saya cuma habis 1/2 porsi saja. Sisanya? Dibuang lah…. saya malu sama teman-teman (bos-bos dari berbagai organisasi kesehatan dunia) kalau minta bungkus buat dibawa pulang ke kamar hotel……

Gigi Bungsu alias Wisdom Teeth umumnya muncul dalam susunan gigi saat kita menginjak dewasa. Gigi ini terletak di ujung belakang susunan gigi geraham kita. Seringkali tumbuhnya gigi ini mendesak susunan gigi lain di depannya atau bagian geraham sekitarnya yang menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Demikian pula pada gigi saya belasan tahun yang lalu.

Setelah dua gigi bungsu telah dicabut terlebih dahulu, saat kira-kira berumur 23 tahun geraham kiri bawah saya terasa sakit akibat ulah si gigi bungsu juga. Pasti perlu dicabut pikir saya. Sama seperti dua gigi bungsu saya terdahulu.

Jadilah saya pergi ke klinik gigi di sebuah rumah sakit swasta dekat rumah. Setelah menunggu beberapa lama, duduklah saya di kursi dokter gigi. Setelah diperiksa dokter dan difoto roentgen, simpulannya persis sama dengan tebakan : harus dicabut kata dokter. Oke saya menerima.

Namun rupanya hari itu sang dokter gigi hanya bekerja sendiri, padahal ada banyak pasien yang perlu ditolong hari itu. Akhirnya seseorang yang saya kira adalah seorang asisten senior dokter gigi datang menangani.

Diberinya saya anestesi lokal dengan menyuntikkan obat kebal ke geraham bawah saya. Sakit mulanya tapi lama kelamaan kebal jadinya. Kemudian proses ekstraksi gigi bungsupun dimulai.

Proses ekstraksi berlangsung lama. Rupanya sang gigi tidak bersedia diambil keluar begitu saja. Terlalu besar mungkin, atau nyangkut diantara geraham. Walau si gigi sudah dipotong-potong kecil tidak bisa juga keluar.

Pasrah saja sudah. Mau bagaimana lagi.

Lewat setengah jam kira-kira gigi bungsu saya itu diutak-atik, dipotong-potong, diputar-putar. Tidak mau keluar juga. Ibu senior asisten tadi mulai putus asa. “Ini susah banget keluarnya. Gigi depannya menghalangi giginya. Gimana kalau gigi depannya saya cabut juga jadi bisa gampang keluarnya?”

Saya mau protes. Tapi nggak bisa. Wong mulut lagi dipenuhi berbagai alat gigi, mulut kebal, lidah kelu, dan seluruh ujung badan kedinginan kena AC. Akhirnya saya melotot saja bisanya.

Tapi mau dikata apa coba. Waktu anestesinya sudah hampir lewat. Gigi belum bisa keluar juga. Mau dikasih anestesi lagi mungkin bisa berbahaya. Mau dimasukkin lagi gigi yang sudah diudel duel tadi ya jelas nggak bisa. Akhirnya saya menyerah. Pasrah ………..

Akhirnya gigi geraham sehat di depan si gigi bungsu diambil dengan mudah. Kemudian menyusul si gigi bungsu yang nakal tadi. Saya lega walau kehilangan satu gigi ekstra dari niat semula yang cuma satu gigi saja.

Ini pengalaman yang memberikan ilustrasi hubungan antara supplier dan consumer di bidang pelayanan kesehatan. Supplier dan consumer tidak dalam posisi yang sama dalam ‘transaksi’ pelayanan kesehatan ini. Supplier, dalam hal ini adalah dokter dan pemberi pelayanan kesehatan lainnya, umumnya mempunyai posisi yang ‘lebih’ dibanding consumer. Consumer di lain pihak mempunyai informasi dan kekuatan yang lebih rendah dibanding dengan Supplier.

Supplier sedikit banyak bisa meng’induce’ clientnya melakukan sesuatu atau membeli produk si supplier. Consumer di lain pihak, karena ketidak tahuan dan juga karena posisi yang tidak seimbang dengan supplier ini, kemudian terpaksa menuruti apa yang direkomendasikan si supplier. Fenomena ini dalam health economics dikenal dengan sebuat ‘Supplier Induced Demand’, demand pelayanan yang muncul dari hubungan supplier-consumer muncul karena pengaruh si supplier itu sendiri.

Eh kembali ke soal gigi, karena saya merasa sebagai orang Jawa, maka selalu ambil sisi untungnya saja. Walau yang diambil dua gigi, saya cuma harus membayar ongkos ekstraksi satu gigi doang. Untung kan…… He…he…..

Kemarin 25/06/07 saya dapat kesempatan bertemu Dr. R.M Marty Natalegawa, duta besar RI untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia. Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan dan laporkan selaku pengurus ICMI London dan KIBAR kepada beliau selaku ‘pengemong’ warga Indonesia di Inggris. 

Saya pribadi sangat mengagumi beliau. Di usianya yang masih relatif muda, beliau sudah dipercaya memegang amanah yang sangat berat, yaitu menjadi wakil pemerintah Indonesia di negara superpower seperti Inggris ini.  Daya analisis, kemampuan beliau berdiplomasi dan mengungkapkan pengetahuan dan pandangannya secara verbal sangatlah mengagumkan. 

Namun demikian, beliau tetaplah rendah hati dan siap diajak bicara. Di luar kapasitas beliau sebagai pejabat negara, seringkali beliau juga bercanda pada kami warga Indonesia yang sedang berada di Inggris ini. Beberapa bulan lalu misalnya, selepas sebuah acara resepsi di KBRI, saya dan teman-teman menyempatkan diri berfoto di depan podium Pidato di KBRIruang resepsi sambil bergaya seakan-akan saya sedang berbicara di sebuah forum resmi kenegaraan (di podium itu ada gambar garuda pancasilanya). Tak dinyana ketika itu beliau belum keluar dari ruangan dan melihat saya sedang bergaya di depan kamera. Beliau kemudian mendatangi saya, dan (diluar dugaan) malah menertawakan saya sambil berguyon ‘Lain kali Anda saya minta bicara beneran deh di situ’ katanya….. saya tersenyum-senyum malu mengingat ada banyak staf KBRI dan tamu undangan lain yang masih ada di sana.

Kembali ke cerita pertemuan kami kemarin, pak Dubes dengan ramah dan penuh perhatian mendengarkan pemaparan dan laporan kami. Setelah itu beliau mengemukakan pandangannya pada hal-hal yang kami sampaikan secara panjang lebar. Pertemuan yang biasanya hanya dijadwalkan sekitar 30 menit ternyata berlangsung sampai dua jam. Beliau terlihat antusias berdiskusi dengan kami dan bertukar pandangan yang tentu saja sangat kami hargai dari beliau.

Menjelang pukul 12, terdengar sinyal dari sebuah handphone yang menandakan masuknya sebuah sms. Ternyata itu berasal dari handphone beliau. Nampaknya itu adalah sms dari sekretaris beliau yang mengindikasikan bahwa ada hal lain yang perlu dikerjakannya.

Saat itu saya kemudian memperhatikan handphone yang beliau pegang. Handphone Nokia tipe yang sangat sederhana. Tidak ada kameranya. Tidak ada macam-macamnya.

Dalam hati saya berpikir, masak Dubes handphonenya sederhana banget sih? Nggak mungkin kan beliau tidak punya budget untuk membeli handphone yang lebih ‘upmarket’?

Pikiran saya lalu melayang ke rapat-rapat yang dulu sering saya hadiri ketika di Jakarta. Rapat terakhir yang saya hadiri adalah sebuah pertemuan/diskusi dengan beberapa perwakilan manajemen rumah sakit, akademisi, dan staf departemen kesehatan. Saat itu, semua orang rasanya saling berlomba mengeluarkan handphone masing-masing. Semuanya tipe terbaru. Beberapa mengeluarkan Nokia Communicatornya. Dering handphone dengan berbagai macam nadanya kerap memenuhi ruangan.

Kontras sekali pertemuan itu dengan kondisi yang saya temui dari pak Dubes. Beliau hanya menggunakan handphone yang sangat sederhana, dan digunakan hanya untuk keperluan yang sederhana. 

Keterkaguman sayapun bertambah.

 

 

 

Risau saya membaca penjelasan (resmi?) pemerintah tentang keputusan Indonesia mendukung resolusi 1747 Dewan Keamanan PBB yang ditulis oleh Dino Patti Djalal, Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional/Juru Bicara Presiden di harian KOMPAS pada tanggal 28 Maret 2007. Resolusi ini berisi tekanan pada Iran untuk lebih membuka dirin untuk bekerjasama dengan dunia internasional untuk memverifikasi program nuklirnya.

Dino menggambarkan bahwa pada dasarnya keputusan Indonesia mendukung resolusi didasarkan pada ketidak percayaan dunia internasional pada komitmen Iran untuk mengembangkan program nuklir untuk keperluan damai. Ini didukung oleh pernyataan IAEA yang belum dapat memverifikasi perkembangan teknologi nuklir Iran. Alasan kedua bahwa ada negara di Timur Tengah yang juga khawatir akan perkembangan Iran sebagai negara yang menguasai teknologi nuklir. Ketiga, apapun keputusan Indonesia tentang resolusi ini tidak akan mengubah keputusan resolusi ini. Dengan kata lain, suara Indonesia tidak akan berguna jika tidak sepakat dengan pengajuan resolusi ini.

Oleh sebab itu, agar Indonesia bisa berperan lebih dalam kancah diplomasi politik kawasan timur tengah, diambillah  keputusan untuk mendukung resolusi tersebut. Di bagian akhir uraiannya Dino Patti Djalal menguraikan betapa keputusan ini merupakan ungkapan sikap politik Indonesia yang bebas aktif, yaitu dengan tidak tunduk pada anggota DK PBB manapun dan tidak bertuan pada kepada Iran. Jadilah Indonesia kemudian mendukung resolusi yang diusulkan oleh beberapa Negara anggota tetap DK PBB ini.

Penjelasan yang dipaparkan Dino tersebut mempunyai kelemahan di sana-sini yang tidak menggambarkan kemerdekaan berpikir dan bertindak pemerintah Indonesia dan mencerminkan semangat politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Iran pertama kali mengembangkan teknologi nuklir mereka pada akhir dekade 50-an dengan dibantu sepenuhnya oleh Amerika. Pada tahun 1968 Iran menandatangani kesepakatan Non-Proliferasi Nuklir dan meratifikasikannya pada tahun 1970. Sampai saat ini Iran secara resmi mengumumkan untuk tetap memegang teguh kesepakatan ini dan hanya akan mengembangkannya untuk kepentingan damai.

Masalahnya, sampai saat ini Iran belum membuka sepenuhnya akses ke International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk memverifikasi klaim pemerintah Iran bahwa program nuklir mereka adalah untuk kepentingan damai.

Ironi dari resolusi ini adalah bahwa DK PBB tidak berbuat hal yang sama pada beberapa negara yang saat diketahui mempunyai teknologi Nuklir yang dikembangkan tidak untuk keperluan damai. Pakistan dan India diketahui mempunyai senjata nuklir dan kedua negara ini tidaklah menandatangi kesepakatan non-proliferasi nuklir. Israel yang sudah lama dicurigai mempunyai senjata nuklir, juga tidak menandatangi kesepakatan ini. Kepastian bahwa Israel mempunyai senjata nuklir secara tidak langsung dikukuhkan oleh Perdana Menteri Ehud Olmert saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi Jerman pada akhir tahun 2006.

Di pihak lain, negara-negara pemilik senjata nuklir seperti AS, Inggris, Perancis, Russia, dan Cina juga setengah hati mengurangi kelengkapan persenjataan nuklir mereka seperti tercanang dalam perjanjian proliferasi nuklir yang ditandatangi mereka. Parlemen Inggris misalnya belum lama ini mengesahkan rencana pembangunan armada kapal selam baru senilai 20 milyar poundsterling guna membawa senjata nuklir mereka.

Tentu saja kita ingin Timur Tengah – bahkan dunia –  bebas dari senjata nuklir. Namun jika dilihat dari fakta-fakta diatas terlihat nyata adanya aspek dual standard pada beberapa Negara yang tercermin dari upaya menekan program nuklir Iran tapi menutup mata pada keberadaan senjata nuklir di beberapa negara yang sudah memilikinya.

Iran memang harus diminta untuk bekerjasama dengan IAEA untuk membuktikan bahwa program nuklir mereka adalah bertujuan damai. Iran harus bisa membuktikan bahwa mereka memegang teguh kesepakatan nuklir mereka. Namun seharusnya hal yang sama harus dilakukan pada negara-negara lainnya. Jika keputusan DK PBB ini berat sebelah dengan hanya mentargetkan pada Iran, patut dipertanyakan alasan politik kepentingan negara-negara besar anggota tetap DK PBB.

Alasan bahwa ada sebuah negara di Timur Tengah yang risau dengan kemampuan Iran mengexplorasi tenaga nuklir juga bisa backfired pada kepentingan Indonesia. Saat ini Indonesia juga ingin mengembangkan tenaga nuklir untuk kepentingan damai. Bagaimana kalau kemudian negara-negara tetangga Indonesia ‘berkoar’ takut bahwa program nuklir kita?

Alasan ketiga yang diungkapkan Dino sangatlah menyedihkan. Apapun yang diputuskan Indonesia tidak akan berpengaruh apapun pada hasil resolusi itu. Benarkah Indonesia tidak bisa punya andil apapun di kancah politik luar negeri? Benarkah kita hanya berfungsi sebagai pelengkap penderita di Dewan Keamanan PBB? Jika benar demikian, mungkin tidak perlu Indonesia masuk ke dalam jajaran negara anggota tidak tetap DK PBB. Buang-buang energi saja.

Adalah patut jika kesempatan emas menjadi anggota DK PBB digunakan untuk membersihkan kembali nama Indonesia yang sempat terpuruk di dunia Internasional dengan adanya kasus Timor-Timur, Aceh, Papua, dan kerusuhan tahun 1998 yang lalu. Amat disayangkan bila dengan alasan supaya bisa masuk ke dalam kancah negosiasi lebih lanjut kita harus tunduk pada arus dunia internasional yang menyudutkan Iran tapi melupakan kekuatan nuklir lainnya.

Mungkin Indonesia bisa dikatakan tidak tunduk pada anggota DK PBB lainnya. Mungkin Indonesia bisa dikatakan tidak bertuan pada Iran. Namun satu yang cukup jelas adalah bahwa diplomasi pemerintah Indonesia belum bisa menyatakan jati dirinya sendiri, yang menyandarkan keputusannya pada rasa percaya diri dan  kebenaran sejati.

Tugas rekan-rekan di bidang diplomatik memang berat. Namun seberat apapun tugas itu tentu harus dihadapi dengan langkah yang tegas dan jelas. Akankah Indonesia bisa berperan lebih aktif “di luar kandang”?

Sebuah pesawat Garuda rute mengalami kecelakaan dan terbakar di Bandara Adisutjipto Yogyakarta pada tanggal 7 Maret 2007 yang lalu. Dua puluhan penumpangnya ditemukan tewas terbakar, sedangnya seratus sepuluhan lainnya selamat.

Hati saya miris hebat.

Belum lama sebelum kecelakaan ini sebuah pesawat Adam Air hilang tak tentu rimbanya di perairan pulau Sulawesi pada bulan Januari 2007. Hanya sepihannya yang berhasil diketemukan di pantai dan diombang-ambing ombak. 96 penumpang dan 6 awaknya hilang bersama pesawat Boeing 737 berusia 17 tahun itu.

September 2005, sebuah pesawat Mandala Airlines jatuh di kawasan padat penduduk dekat bandara Polonia Medan. 104 penumpang pesawat tewas, disertai 39 orang lain yang menjadi korban tertimpa reruntuhan pesawat dan kebakaran yang menyertainya.

Masih terngiang pula dalam ingatan kita, tragedi yang menimpa pesawat Lion Air di Adi Sumarmo Airport Surakarta. Pesawat mendarat tidak sempurna dan terbakar. 25 orang termasuk sang pilot meninggal dunia, dari keseluruhan 146 penumpangnya.

Miris hati bertambah-tambah.

Kembali terngiang ingatan kejadian limabelas tahun silam ketika suara seorang kakak ipar saya mengabarkan dari ujung telepon bahwa pesawat yang ditumpangi seorang kakak kandung saya hilang di tengah lebatnya hujan sore hari sekitar Bandara Pattimura Ambon. Pencarian segera dilakukan.

Besok harinya baru didapatkan laporan dari penduduk sekitar tentang adanya penemuan reruntuhan pesawat dan mayat manusia di seputar bukit Liliboi, sekitar 15 km dari airport. Evakuasi segera dijalankan, dengan harapan masih ada penumpang yang bisa diselamatkan. Namun sayang, kondisi pesawat sudah hancur berantakan. Tidak ada yang selamat dari seluruh 63 penumpang dan 7 awak.

Kami yang ada di Jakarta, menunggu dengan hati hancur. Kakak laki-laki saya yang ikut dalam penerbangan ini punya dua anak yang masih kecil-kecil. Saya yang bertugas menyampaikan berita duka ini ke rumah mereka di Bogor. Ketika itu tidak ada telepon di sana, jadi saya harus menyampaikan langsung dan menjemputnya.

Demikian pula Ibu dan Bapak. Ketika itu beliau berdua baru pulang dari perjalanan lama ke luar kota. Ketika baru masuk rumah, segera disampaikan berita ini pada mereka berdua. Sedih tidak terkira.

Dua hari setelah pesawat jatuh, identifikasi korban baru dilakukan. Itupun tidak semua bisa ditemukan. Kami pasrah saja menerima.

Tiga hari setelah pesawat jatuh, peti yang berisi jenasah dikirimkan ke masing-masing daerah asal korban. Petinya dibuat terburu-buru. Asal jadi saja. Di Bandara Halim Perdana Kusuma, jenasah asal Jakarta diserahterimakan pada keluarga masing-masing. Beberapa keluarga hanya mendapatkan peti jenasah berukuran sangat kecil, yang tidak sesuai dengan kondisi sang korban ketika hidup. Pemandangan yang sangat memilukan.

Malam harinya jenasah kakak saya tiba di rumah orangtua kami. Penguburan jenasah secara darurat dilakukan esok paginya. Tidak seperti lazimnya penguburan biasa, peti mati yang dibungkus plastik meja makan berlapis-lapis untuk mengurangi aroma menusuk langsung dikubur begitu saja.

Adalah berat kehilangan orang yang dekat dengan kita. Apalagi jika kehilangan dengan cara seperti ini.

Kira-kira dua tahun setelah musibah itu, saya berkesempatan menengok tempat jatuhnya pesawat Mandala yang ditumpangi kakak saya itu. Perjalanan dari kota Ambon menuju desa Liliboi harus melalui jalan kecil berliku menyusur pantai teluk Ambon yang cantik. Beberapa sungai tanpa jembatan harus dilalui. Ikan dan udang dapat terlihat dengan jelas bermain-main di dasar sungai.

Dengan diantar beberapa penduduk lokal, kami mendaki bukit Liliboi. Tidak mudah mendakinya. Sampai menjelang puncak, kami melihat sisa-sisa kecelakaan ini. Tanah yang menghitam akibat api yang membakar pesawat masih terlihat di beberapa tempat. Pohon-pohon yang meranggas masih bisa ditemui. Bahkan masih tersisa potongan kain yang tersangkut di ujung pohon-pohon tinggi. Serpihan-serpihan pesawat masih berserak di sana sini. Bahkan kami masih menemukan sekeping jam tangan tanpa tali yang jarumnya berhenti tepat pada waktu pesawat jatuh kebumi.

Pemandangan dari lokasi musibah sangat asri. Bukit-bukit cantik dengan suara burung Nuri terbang berkelompok mengisi sore hari. Pantai dan biru teluk Ambon terlihat di kejauhan. Sayang mengapa tragedi terjadi di tempat ini.

Kalau mengingat musibah yang menimpa keluarga kami, sangat terbayang apa yang dirasakan oleh mereka yang mkehilangan akibat musibah Garuda, Adam Air, Mandala dan Lion Air. Kalau menghadapi musibah Tsunami, Gempa, dan naturan disaster lainnya, kita tidak bisa menyalahkan alam yang mengakibatkannya. Itu semata cobaan Allah. Walau kita bisa mencoba meminimalisasi resiko kerusakan dan fatalitasnya, sebagian besar kita tetap harus menerima apa yang terjadi.

Tapi kalau tragedi yang terjadi adalah karena kurang awasnya kita mengelola sektor transportasi dengan baik, maka pasti ada yang tidak beres dalam pengelolaan bisnis transportasi. Kita mengabaikan aspek ’safety’? Sangat mungkin rasanya.

Hati dan doa kita bersama mereka yang kehilangan, mereka yang bersedih atas musibah ini.

 

Sayang banjir hebat melanda Jakarta. Isyu-isyu lainnya jadi tenggelam karenanya. Termasuk diantaranya isyu penanganan flu burung. Sudah banyak yang menulis tentang bahaya flu burung tapi tidak banyak yang membahas isu penanggulangannya.

Medio Januari lalu, Gubernur DKI mencanangkan program sertifikasi bebas flu burung untuk unggas yang dipelihara masyarakat di pemukiman. Menurut informasi yang ada di surat kabar, sertifikasi ini dilakukan gratis pada kediaman masyarakat yang memelihara ungga/burung di lingkungannya. Bagi unggas yang sehat dan tidak ditemukan infeksi flu burung diberikan sertifikat bebas flu burung, yang berlaku selama 6 bulan. Jadi teorinya 6 bulan kemudian harus ada sertifikasi ulang pada unggas-unggas ‘bebas flu burung’ tersebut.

Berita dimulainya program ini digembar-gemborkan lewat berbagai media massa dengan memperlihatkan proses sertifikasi tersebut di kediaman pak Gubernur. Hebat! Rupanya kali ini pemerintah ‘cepat tanggap’ menghadapi flu burung.

Eit, tapi tunggu dulu…..

Pertama upaya ini sudah agak kadaluarsa. Kasus penularan Flu burung pada unggas di Indonesia sudah merebak sejak tahun 2003. Menurut informasi dari seorang rekan, kasus ini sudah diketahui sejak lama namun entah kenapa ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk ‘menekan’ informasi ini agar tidak menyebar ke masyarakat luas. Mungkin takut masyarakat luas panik, atau apalah. Jadi kalau sertifikasi ini dilakukan pada awal 2007, ya upaya agak-agak terlambat beberapa tahun gitu ya…. sudah jutaan unggas mati, dan puluhan manusia jadi korban lompatan penularannya ke manusia.

Upaya sertifikasi ini juga bukanlah upaya yang tepat. Unggas yang mendapat sertifikat bebas flu burung memang mungkin sehat dan bebas dari gejala flu burung. Namun bukan tidak mungkin pada saat pemeriksaan sebenarnya sang unggas sudah terkena infeksi virus tersebut namun belum menunjukkan gejala-gejala terinfeksi (symptoms) - masa ini disebut induction period dan latency period. Dari Jadi unggas yang mendapat sertifikasi bebas flu burung belum tentu benar-benar ‘bebas’ dari infeksi virus itu.

Lebih jauh lagi, sertifikasi ini berlaku untuk 6 bulan. Mengingat waktu inkubasi virus H5N1 yang merupakan virus penyebab merebaknya kasus flu burung ini selama 2-5 hari saja, masa 6 bulan ‘bebas flu burung’ sesuai dengan sertifikat itu menjadi tidak ada artinya. Misalnya saja beberapa hari setelah sertifikat itu diterbitkan, sang unggas terkena virus flu burung, maka dalam hitungan hari saja si sertifikat sudah tidak ada artinya.

Sertifikasi ini memberikan rasa aman yang salah pada pemelihara hewan ternak unggas/ayam. Pemilik unggas lalu bisa bercengkerama dengan hewan peliharaannya dalam lingkungan yang dekat. Suatu langkah yang salah mengingat meluasnya serangan flu burung belakangan ini.

Sertifikat yang dikeluarkan bukanlah jaminan bahwa sang unggas dijamin tidak akan terserang flu burung. Program sertifikasi flu burung (hampir) tidak ada gunanya.

Upaya yang lebih harus digalakkan mengingat begitu menyebarnya kasus ini adalah relokasi hewan unggas peliharaan dan peternakan ke tempat yang tidak berada dalam lingkungan hunian manusia. Pada peternakan kemudian perlu dilakukan pengetatan biosecurity atas hewan ternak yang ada. Pengamatan ketat, pemeriksaan kesehatan rutin dan surveillance perlu dilakukan untuk memonitor pergerakan infeksi flu burung ini pada unggas.

Pada mereka yang memelihara unggas pada lingkungan rumah mereka, mengingat begitu kuatnya efek flu burung ini pada manusia (60% mortality rate - WHO), disarankan untuk tidak memeliharanya di sekitar rumah. Mungkin bisa dititipkan di peternakan ayam atau diberikan ke kebun binatang.

Kalau tidak bisa juga, jauhkanlah kandangnya dari rumah dan jangkauan manusia. Perhatikan higiene kandang dan monitor terus kondisi kesehatannya. Jika ada tanda-tanda terserang penyakit, segera isolasikan dan jika sampai mati segera bungkus dengan plastik sampai kedap kemudian dikubur di tempat yang tidak mudah dijangkau hewan pengerat atau aktivitas manusia.

baca juga: http://donowidiatmoko.wordpress.com/2005/09/22/ada-klb-flu-burung-di-indonesia

Beberapa bulan setelah saya menulis ini “2050: (sebagian) Jakarta tinggal kenangan” , ternyata Jakarta benar-benar tenggelam, 43 tahun sebelum tahun yang tertera di judul tulisan itu.

Kali ini Jakarta tenggelam karena Banjir. Hujan deras yang berkepanjangan di Jakarta dan kawasan lereng pegunungan yang ada di Jawa Barat menyebabkan Jakarta terendam parah. Semua orang panik. Bukan saja kawasan tempat tinggal dan jalur transportasi yang terputus, bahkan jalur telekomunikasi pun terputus juga. Baru kali ini saya tidak bisa menghubungi nomor telepon orang tua saya di kawasan Cempaka Putih karena jalur telepon terputus akibat STO-nya tergenang banjir. HP juga tidak bisa digunakan karena baterainya tidak bisa di-charge akibat aliran listrik yang mati.

Kenapa bisa timbul banjir yang sedemikian parah di Jakarta? Mas Rovicky sudah memberikan penjelasannya.

Saya sendiri menduga ada beberapa sebab mendasar:

1. Curah hujan yang meninggi; sebagian disebabkan oleh global warming

Perubahan iklim dunia yang sebagian juga disebabkan oleh ulah manusia lewat pemanasan global (global warming), menyebabkan berubahnya pola dan intensitas pembentukan awan di pelbagai belahan dunia. Iklim dunia cenderung menjadi lebih ekstrim. Setelah memasuki masa musim kering yang lebih panjang dari yang biasa kita alami selama ini, tibalah musim hujan dengan curah hujan yang lebih tinggi. Badai melanda berbagai wilayah Indonesia dan berakibat pada timbulnya beberapa musibah seperti tenggelamnya beberapa kapal, dan jatuhnya pesawat Adam Air.

2. Hilangnya daerah resapan dan daerah genangan alami

Curah hujan yang tinggi ini tidak mampu diterima oleh daratan kota Jakarta dengan infrastrukturnya yang kompleks. Dengan meningginya tingkat kebutuhan manusia akan lahan hidup, semakin sedikit tersedia ruang bagi air untuk terserap secara alami ke lapisan tanah tanpa harus melalui saluran air, selokan ataupun sungai. Air sebagian besar mengalir melalui saluran air baik yang natural maupun yang man-made. Sayangnya banyak hambatan yang berada di sepanjang daerah aliran sungai, mulai dari infrastruktur yang mengganggu aliran air sampai dengan sampah dan bangunan liar yang juga menghambat penyaluran air ke laut dengan cepat.

Selain itu, Jakarta aslinya adalah daratan alluvial yang timbul karena endapan lumpur dan tumbuhan bakau. Lokasi yang semula merupakan daerah tangkapan air alami seperti situ, danau, empang, dan rawa-rawa semakin lama semakin tergusur dengan infrastruktur kebutuhan manusia. Terlebih lagi beberapa tahun belakangan ini daerah-daerah rawa di sekitar Jakarta semuanya tergusur untuk kepentingan pengembangan perumahan, seperti yang bisa kita saksikan di daerah Pluit, Kapuk, Kelapa Gading, dan lain-lain.

3. Menurunnya muka tanah Jakarta

Beratnya beban yang dipikul oleh struktur tanah kota Jakarta membuat turunnya muka tanah (subsidence). Selain itu besarnya penyedotan air tanah oleh rumah tangga dan industri yang ada di Jakarta semakin memperburuk kekuatan tanah dari tekanan aktifitas manusia dan infrastruktur di atasnya. Turunnya muka air tanah ini membuat genangan air muncul dimana-mana dan semakin sulit untuk menyalurkannya ke saluran air dan laut.

4. Naiknya muka air laut

Secara bersamaan, naiknya muka air laut yang terjadi akibat pemanasan global (Global Warming) juga semakin menggila. Kebetulan saat hujan deras ini juga merupakan saat bulan penuh (purnama) sehingga pasang lautpun sedang mencapai puncaknya. Hasilnya adalah daerah-daerah yang rendah dan berada dekat dengan laut harus menampung curahan air hujan dan naiknya muka air laut pada saat yang bersamaan.

5. Kurang mampunya infrastruktur pengalih air hujan dalam menampung besarnya curah hujan

Saya pribadi tidak percaya adanya siklus 5 tahunan banjir di Jakarta. Menurut saya faktor-faktor ini lebih berpengaruh dibandingkan dengan siklus tersebut. Kalau kita tidak berupaya menjawab permasalahan mendasar yang menjadikan banjir ini, tentu saja banjir itu akan datang secara rutin dan siap-siap kebanjiran terus!

Dua kata ini sama artinya. Lihat arti kata ini di kamus Merriam-Webster:

Expatriate: to withdraw (oneself) from residence in or allegiance to one’s native country
intransitive verb : to leave one’s native country to live elsewhere; also : to renounce allegiance to one’s native country

Immigrant : a person who comes to a country to take up permanent residence 

Kira-kira sama kah artinya? Ya.

Namun dalam penggunaannya, apa sama maknanya? Tidak juga.

Belakangan ini di media masa Inggris banyak disebut-sebut tentang Immigration Pollicy. Banyak pihak yang merasa ‘ketakutan’ akan banyaknya immigran yang masuk ke Inggris atau negara-negara eropa lainnya. Sebagian besar ketakutan itu berasal dari ketakutan mereka bahwa para ‘immigran’ ini akan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada seenak perutnya. Misalnya fasilitas kesehatan, pendidikan, perumahan, dll. Lebih lagi para immigran ini adalah merupakan ‘pesaing’ di pasar tenaga kerja lokal.

Well, adalah hak setiap orang untuk mengemukakan pendapatnya, dan silahkan kemudian hal itu dirumuskan oleh para politisi untuk mengubah peraturan-peraturan dan perundangan. If you don’t want immigrants, that’s fine, if you do want them, please regulate properly.

Di lain pihak, warga negara Inggris yang pindah ke luar negeri, bekerja dan menetap di luar negeri disebut sebagai ExpatriatesWell, excuse me, what’s the difference?

Expatriates sebenarnya adalah immigrants juga. Sama saja. Hanya kosa kata ‘immigrant’ ini memang berkonotasi lebih rendah derajatnya dibanding ‘expatriates’. Lihat saja orang asing yang kerja di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia atau negara disebut sebagai ‘expatriates’, nggak ada yang disebut ‘immigrants’. Sementara lihat pendatang yang kerja di Malaysia misalnya, mereka disebut ‘immigran’ dan bukan ‘expatriates’.

Huh!

Sewaktu aku kecil, aku sering mengkhayal. Ingat aku sering duduk berdua dengan si Ija’, teman main waktu kecil yang tinggal di bagian lain dari kompleks rumahku, asik mengkhayalkan kalau kita jadi orang kaya. Kadang kami juga membayangkan apa yang akan kami lakukan kalau kami jadi Presiden. Mau membangun jalan layang yang malang melintang seperti apa yang kami sering lihat di televisi. Ingin membangun airport di pinggir pantai yang landasannya bisa juga langsung digunakan oleh pesawat amphibi. Banyak khayalan kami ketika itu.

Saat besar kelak, si Ija ini kalau tidak salah bekerja di Bank Indonesia. Insya Allah suatu saat bisa bertemu dia lagi dan mudah-mudahan tidak mengkhayal lagi tapi berbuat sesuatu yang lebih kongkrit.

Setelah besar besar sedikit, aku mulai punya cita-cita. Saat aku SD, salah seorang kakakku ada yang kuliah di jurusan Fisika sebuah perguruan tinggi. Aku kerap membaca buku-buku dan majalah yang dimilikinya. Ada sebuah majalah yang aku senang betul yaitu majalah “Mekatronika”. Mungkin sudah almarhum itu majalah karena sudah sejak lama aku tidak pernah melihat judul majalah itu dijual orang kecuali di pasar loak Senen. Jadilah cita-citaku ingin jadi Fisikawan, walau aku nggak tahu kerjanya apa ya kalau lulus sekolah dari jurusan Fisika kelak.

Ketika SMP cita-citaku berubah. Kali itu aku ingin menjadi matematikawan. Ini karena pengaruh salah seorang guru SMP ku yang sangat menyenangkan kalau mengajar matematika. Sayang aku sudah lupa nama beliau. Asyik sekali kalau aku belajar matematika.

Masuk SMA, aku mulai belajar komputer. Saat itu kakakku sudah lulus dari kuliahnya dan sudah punya uang sendiri untuk membeli sebuah komputer mini (lebih tepat disebut kalkulator kali yaaa…) bermerk Casio. Suatu sore ketika pulang sekolah aku temui ‘mainan’ baru ini di kamar kakakku dan langsung saja aku kutak-katik sampai malam. Komputer mini ini bisa diprogram dengan bahasa Basica. Hari itu aku langsung belajar bahasa pemrograman Basica dari buku petunjuk yang ada bersama komputer itu. Sejak hari itu cita-citaku berubah menjadi seorang akhli Komputer.

Namun seiring dengan bertambahnya usiaku, aku mulai kehilangan cita-cita yang jelas. Pokoknya kesempatan apa yang ada di hadapanku ya aku ambil saja. Hilang sudah cita-cita menjadi seorang akhli komputer.

Kalau sekarang ditanya apa cita-citaku, aku juga nggak tahu…. Yang penting aku berusaha saja memanfaatkan kemampuan dan tenaga yang ada ini dengan sebaik-baiknya. Bak air mengalir, dimana ada daratan yang rendah aku akan pergi ke situ. Jalani saja hidup ini bak air.

Kalau bermimpi, aku sering. Kadang aku ‘menggambar’ mimpiku sendiri. Biasanya dimulai dengan berkhayal, ingin ini ingin itu, kemudian malamnya saat tidur aku bermimpi akan hal yang aku khayalkan itu. Biasanya jalan cerita mimpi sesuai dengan apa yang aku kehendaki, tapi kadang juga ending storynya malah jadi aneh dan tidak sesuai skenario yang aku kehendaki….he…he….

Saat ini jalan hidup membawaku bekerja di alam akademik. Baru sejak lulus sarjana aku punya keinginan untuk kembali terjun di dunia pendidikan.  Sebelumnya sama sekali tidak ada khayalan, cita-cita atau mimpi untuk jadi dosen. Itu juga diawali dengan bincang-bincang kecil dengan salah seorang kenalanku yang bernama mbak Kandi. Sudah lama juga tidak bertemu dengan beliau ini, sudah lebih dari 12 tahun yang lalu. Saat itu dia tanya mau kerja apa nanti saat aku sudah selesai kuliah. Aku jawab aku juga nggak tahu. Tapi at least aku akan kembali mengajar di kampus. Soalnya ternyata aku senang bicara kepada mahasiswa dan berinteraksi dengan mereka. Mbak Kandi ini juga dosen, dan dia malah menertawaiku sambil mengingatkan bahwa pilihan jadi dosen itu tidak akan membawa financial reward yang mencukupi. “Nggak apa-apa” tangkisku, yang penting aku bisa at least bersikap idealis di dunia perguruan tinggi. “Idealis tapi nggak punya duit nggak ada artinya Don!”, demikian tukasnya. “Lebih baik jadi orang kaya dan idealis, karena orang kaya itu didengar orang…. dan kalau kamu kaya kamu bisa memberikan rejeki kamu ke orang lain…. coba kalau miskin… kamu yang minta-minta aja…..” 

Aku tertegun sambil berpikir tentang kebenaran ungkapannya. Mungkin benar.

Saat aku sudah mulai mengajar di kampus, Prof Ascobat Gani, salah seorang guruku yang sangat aku segani pernah bicara setengah serius denganku. Beliau bertanya apa aku sudah sanggup memutuskan untuk menjadi dosen. Aku jawab sudah. Beliau lalu bercerita bahwa beliau sudah agak frustasi menjadi dosen. Hasil karya seorang guru atau dosen itu tidak kelihatan. Kalau ada hasilnya, itu juga baru bertahun-tahun lagi baru kelihatan hasilnya. Beliau mencontohkan bahwa hampir semua pejabat di kantor2 dinas kesehatan pernah beliau ajar. Tapi apa hasilnya? Apa kesehatan masyarakat Indonesia membaik atas apa yang dia ajarkan kepada mereka? Kayaknya nggak ada bedanya tuh?

“Lagipula, jadi dosen nggak ada duitnya Don!” ucapnya. “Lihat saja saya. Saya sudah jadi dosen berpuluh tahun, mengerjakan proyek ini itu, jadi konsultan disini situ, ngomong di seminar A-Z, dan lain lain. Tapi lihat saja rumah saya. Lihat mobil saya. Saya nggak punya apa-apa Don. Dibanding dengan teman-teman saya kuliah dulu yang jadi pengusaha, spesialis (beliau ini dokter), dan politisi, saya ini nggak ada apa-apa secara finansial!”

“Yach…. Bapak jangan bikin saya keder duluan dong…. saya baru mulai ngajar nih pak….” kataku. Beliau tersenyum dan berkata, “Bukan begitu Don, saya hanya ingin mengutarakan bahwa seorang dosen itu harus siap lahir batin, siap berjuang dalam jangka panjang…. ‘Ausdauer’ (tenaga dalam) -nya harus kuat……”

Kekagumanku pada beliau bertambah-tambah. Beliau bukan saja guru dan seniorku yang pandai, dan senang membagi ilmu, tapi beliau juga tulus membimbingku untuk menjadi akademisi sejati.

Kembali ke Khayalan, Cita-cita, dan Mimpi.

Aku tidak pernah berkhayal untuk kerja di luar negeri. Tidak pernah punya cita-cita untuk mencari rejeki jauh dari tanah air. Tidak bermimpi untuk mengajar bangsa orang lain. Malah kebalikannya. Aku ingin agar tenaga dan kemampuanku sebesar-besar dimanfaatkan untuk kebaikan tanah airku, saudara-saudaraku.

Namun Allah kadang mentakdirkan jalan hidup kita tidaklah seperti apa yang kita hendaki, khayalkan, atau cita-citakan. Kadang jalan hidup kita lebih baik dari kemauan kita, kadang juga kebalikannya.

Kita jalani saja dengan ikhlas dan tawakkal.

Pagi tanggal 30 Mei sepucuk email masuk ke inbox account gmail-ku membawa kabar duka. Email itu berisi kabar bahwa Ana, salah seorang teman dan juga mantan anak buahku, tertabrak motor sewaktu hendak menuju ATM BCA di jalan Nusantara, Depok. Saat email itu dikirim Ana masih sedang dioperasi di RS MMC Jakarta.

Aku menjadi sangat sedih. Betapa tidak, kemarin siangnya, aku masih chatting dengan Ana via Yahoo Messenger, sampai di sore hari saat selesai kantor dia pamit hendak pulang. Isi chat kami masih seperti biasanya. Candaan dan tawaan serta berbagi informasi tentang Jakarta dan teman-teman semua.

Aku kenal pertama kenal Ana sewaktu ia dibawa Adi, salah seorang mahasiswa D3 AKK yang aku rekrut untuk bantu-bantu kerja di PS KARS. Saat itu aku butuh banyak tenaga untuk entry data abstrak thesis mahasiswa S2 KARS di perpustakaan FKM UI. Niat kami adalah semua abstrak thesis mahasiswa yang sudah lulus sejak awal program itu ada bisa diakses dalam bentuk database elektronik. Saat itu juga ada Ninies, sahabat Ana, yang juga ikut kerja bareng bertiga bersama Adi. Lama kelamaan, Ana dan Ninies jadi sering kami minta membantu kami untuk melakukan pekerjaan kantor lain. Mulai dari membereskan administrasi sampai menyiapkan ujian mahasiswa. Kami semua senang dengan mereka berdua karena mereka cekatan dalam bekerja dan mudah bergaul dengan kami staf di program itu. Mereka bekerja dari pagi hari sampai sore, saatnya mereka kuliah di Program D3 FKM UI yang waktu kuliahnya di sore hari.

Di kantor saat itu juga ada Uki, Idel, Adru, Nuning, dan Asep yang bekerja sebagai staf. Di jajaran staf pengajar jurusan AKK yang mengelola program ada pak Alex, pak Wiku, dan aku sendiri.

Di luar ruangan kantor, aku juga mengajar Ana karena aku juga dapat ‘jatah’ mengajar di program D3. Banyak rekan-rekan Ana, Ninies, dan Adi yang kemudian juga aku kenal karena aku dekat dengan mereka bertiga.

Setelah lulus dari program D3, Ana mendaftar ke program S1 di FKM UI. Demikian pula Ninies. Jadilah mereka terus bekerja sambil kuliah. Setelah lulus, Ana melamar kerja di sebuah perusahaan Asuransi milik pemerintah, sedangkan Ninies tetap bekerja di FKM UI. Ana kemudian menikah dan tidak lama kemudian mempunyai seorang putri yang cantik. Sewaktu anaknya lahir, aku dan teman-teman sempat menjenguk ke rumah ibunya di Depok. “Anak kecil kok bisa punya anak ya” demikian candaan kami ketika itu pada Ana. Maklum, Ana mempunyai postur tubuh yang kecil dan wajah yang kekanak-kanakan.

Sewaktu aku berangkat sekolah dan kemudian bekerja ke luar negeri, hubungan dengan Ana masih tetap aku jaga dengan kontak via email dan chatting via Yahoo. Sampai tibanya email dari Ninies pagi itu.

Hanya sedikit lebih dari satu minggu kemudian setelah kecelakaan itu, sebuah SMS dari Uki mengabarkan bahwa Ana sudah berpulang ke Yang Maha Kuasa. Ia meninggal dunia tanpa sempat sadar lagi dari koma yang dialaminya. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.

Entah kenapa, tadi malam 6 bulan setelah Ana kembali kepadaNya, aku teringat kembali tentang dia. Entah kenapa.

Ia seperti mengingatkan bahwa ajal tidak bisa diterka. Siapa sangka Ana yang ceria dan masih bercanda denganku tiba-tiba diambil kembali ke haribaan Allah. Meninggalkan putri kecilnya, dan suami tercintanya. Kenangan terakhir dari Ana padaku adalah sepucuk SMS darinya yang masih aku simpan di handphoneku.

Ana pernah juga ‘curhat’ via Yahoo padaku, tentang kondisi kerja di kantornya. Dimana ia pernah diminta oleh atasannya untuk membuat laporan keuangan yang tidak semestinya. Ia tidak mau melakukannya tapi sang atasan tetap memaksa. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ana terhadap permintaan itu tapi yang jelas Ana merasa bahwa perbuatan itu tidak benar. Alhamdulillah. Ia masih bisa punya pendirian yang benar.

Meski Ana hanya salah seorang temanku, kehilangan Ana cukup membuatku tersadar pada kehidupan ini. Hidup ini hanya fana dan hanya satu hal yang pasti. Kita pasti mati.

Selamat jalan Ana. Selamat jalan temanku. Doa kami menyertaimu.

Pada pertengahan abad ke 21, atau sekitar tahun 2050-an, temperatur udara global akan naik sekitar 2-3 derajat celsius akibat ‘Global Warming’ apabila kecenderungan emisi karbon akibat aktifitas manusia masih terus berlangsung seperti sekarang ini. Apa artinya dampaknya kenaikan ini pada umat manusia wabil khusus mereka yang tinggal di Indonesia?

Kenaikan suhu udara rata-rata sebesar 2-3 derajat berpengaruh ke banyak sisi kehidupan di bumi ini. Tidak semuanya berakibat negatif. Di negara-negara beriklim dingin, kenaikan suhu udara ini akan mengurangi kebutuhan konsumsi energi sebagai penghangat udara. Diperkirakan akan terjadi juga peningkatan hasil produksi agrikultur pada negara-negara beriklim dingin. Angka kematian akibat suhu udara dingin yang banyak terjadi di negara-negara belahan bumi utara saat winter juga akan berkurang. Jadi kenaikan suhu bumi bisa membawa dampak positif pada sebagian orang.

suhuPada sebagian besar yang lain, sayangnya global warming ini akan berakibat buruk. Misalnya di negara-negara dingin itu misalnya kandungan tanah yang selama ini membeku di daratan Rusia dan Kanada bisa mencair dan merusak jaringan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang ada. Glaciers dan lapisan es di gunung-gunung tinggi akan mencair sehingga kelangsungan water supply bisa terganggu.

Kehidupan flora dan fauna secara global juga sangat mungkin terpengaruh. Pola migrasi burung, ikan, dan mamalia darat yang terpengaruh oleh berubahnya musim bisa berubah. Sedikit perubahan pada pola migrasi ini bisa berakibat fatal pada kelangsungan hidup beberapa spesies fauna karena berubahnya pola pakan dan pola reproduksi.

Read the rest of this entry »

Tuition fee untuk mahasiswa asing (non-UK, non EU) di Inggris dikategorikan sebagai ‘overseas rate’ yaitu berkisar pada £8.500 - £10.000 setahunnya untuk program studi non-lab dan £11.000 – £13.000 untuk program studi yang banyak menggunakan fasiltas laboratorium.

Untuk mahasiswa lokal (UK dan EU), tuition fee yang dibayarkan oleh mahasiswa langsung adalah sekitar £3.000 setahunnya. Banyak mahasiswa yang memanfaatkan Student Loan (pinjaman untuk sekolah) dari bank atau lembaga-lembaga lainnya untuk membayar uang spp ini. Enaknya, pembayaran cicilan pinjaman ini baru akan dimulai jika si peminjam sudah lulus dan bekerja dengan gaji di atas £15.000 setahun.

Selain itu, sebenarnya setiap universitas mendapat subsidi dari pajak yang diperoleh pemerintah Inggris sebesar kira-kira £3.000 juga per mahasiswa. Uang subsidi ini disalurkan oleh HEFCE (Higher Education Funding Council for England) kepada perguruan tinggi - perguruan tinggi di England. Untuk Wales, Scotland, dan Northern Ireland, masing-masing ada lembaga yang khusus menangani hal serupa.

Read the rest of this entry »

Rasisme memang seru dibicarakan. Kadang sentimen rasis ini juga digunakan oleh sebagian politisi untuk mengibarkan namanya di dunia politik dan memajukan agenda kelompoknya sendiri.

racism.jpgMisalnya saja kelompok British Nationalist Party yang mengusung sentimen rasisme untuk menggolkan agenda-agenda besar partainya dalam politik Inggris. Rasisme ini sangat ‘ugly’ sehingga bisa membakar ubun-ubun kita kala mendengar bahwa tanah Inggris hanya untuk orang kulit putih Inggris. Tidak sadarkah jika mereka itu bahwa ‘warga asli Inggris’ sebenarnya adalah warga imigran dari Eropa, dan Skandinavia? Ingat kaum Viking? Roman?

Tapi ada juga rasisme yang lucu banget sampai bisa bikin kita ngakak.

Istri saya pernah cerita tentang pengalaman dia di dalam underground kota London. Saat itu dia sedang bincang-bincang dengan kawannya dalam bahasa Indonesia selepas mengikuti pengajian di sana. Duduk di dekat mereka seorang wanita berkulit hitam. Rupanya dia tidak senang mendengar istri saya dan temannya berbicara dalam bahasa Indonesia. Si wanita itu lalu berpindah tempat duduk ke tempat yang agak jauh sambil ngedumel keras-keras bahwa dia terganggu oleh obrolan bahasa Indonesia istri saya dan temannya itu tadi. Dia lalu duduk di samping seorang bule yang malah lalu senyam-senyum saja mendengar gerundelan ‘aneh’ si wanita tadi. He..he… ini aneh karena logikanya orang yang rasis adalah orang bule yang tidak senang mendengar orang lain bicara dalam bahasa selain bahasa resmi negaranya. Tapi yang ngedumel ini orangnya jelas adalah imigran juga dan kemungkinan besar awalnya juga tidak berbahasa Inggris…..

Read the rest of this entry »

Setiap orang punya masalah. Besar, kecil. Relatif.

Dari yang pernah saya pelajari, definisi masalah adalah sesuatu hal dimana kenyataan yang ada tidaklah sesuai dengan harapan yang kita idamkan. Ada masalah dalam pekerjaan, masalah dalam rumah tangga, masalah dengan lingkungan, masalah keuangan, masalah dalam kehidupan sosial, bahkan juga masalah dengan diri sendiri.

Besarnya masalah juga bersifat relatif. Suatu masalah yang sama mungkin akan dipersepsikan berbeda oleh orang yang mengalaminya dalam setting atau kondisi yang lain. Suatu masa mungkin masalah itu tidak dirasakan, suatu masa yang lain masalah yang sama bisa seperti onak dalam daging. Masalah nisbi sifatnya.

Setiap orang punya rejeki. Besar, kecil. Relatif.

Read the rest of this entry »

Di bidang akademik ada gelar Professor, Doktor, Master, MBA, Insinyur, SH, SE, dan lain-lain. Di bidang lain ada juga sebutan seperti Haji, Hajjah, Kapten, dll. Gelar-gelar yang disebut terakhir ini sih bukan ‘gelar’ per se tapi lebih tepat adalah sebutan penghormatan atau jabatan.

Gelar Doktor, PhD, atau DPhil adalah gelar akademis tertinggi yang bisa dicapai melalui jenjang pendidikan formal. Gelar Professor di lain pihak bukanlah gelar yang didapat dari mengikuti pendidikan formal tapi lebih didasarkan pada penerimaan komunitas pendidikan bahwa seseorang telah mencapai pencapaian yang luar biasa dalam pengembangan keilmuan di bidangnya.

Banyak orang memimpikan mendapat gelar. Segala cara kadang dilakukan untuk melakukannya. Ada cara yang gampang, tinggal mendaftar (dan membayar) universitas-universitas ‘aspal’ yang ada banyak iklannya di koran-koran Indonesia, ada yang susah seperti mengikuti perguruan-perguruan tinggi ‘normal’ baik di dalam maupun di luar negeri.

Sewaktu saya masih sering jalan-jalan ikut kegiatan penelitian ataupun konsultasi di berbagai daerah di Indonesia, banyak pegawai di kantor pemerintahan yang berlomba-lomba mengejar gelar. Tidak peduli bidangnya apa yang penting dapat gelar. Ada yang ikut kuliah sore setiap hari, kuliah weekend, atau kuliah jarak jauh.

Tempat saya bekerja dulu membuka kelas jauh yang khusus dibuka bagi mahasiswa yang tinggal daerah tertentu. Kadang mereka datang ke Jakarta, kadang para dosennya yang menyambangi mereka di daerah.

Menurut saya selama prosesnya masih berjalan baik, dan kualitas pendidikan dan pengajaran masih dapat dipertahankan hal-hal semacam ini sah-sah saja.

Read the rest of this entry »

Setelah sempat presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Martti Ahtisaari dari Finlandia, dan Gareth Evans dari Australia diisukan menjadi kandidat pemenang hadiah Nobel perdamaian tahun 2006, Nobel Foundation akhirnya memberikan penghargaan itu pada Muhammad Yunus dan Grameen Bank dari Bangladesh. …baca selanjutnya

Orang bijak bilang bahwa kita harus punya cita-cita. Bahkan cita-cita harus diletakkan setinggi bintang. Dengan cita-cita itu kita akan berusaha sedikit demi sedikit mencapainya.

Bagaimana dengan cita-cita bangsa Indonesia?

….baca selanjutnya

A few days ago Jack Straw, a British MP and a former Foreign Secretary of the British Government, made a headline on the British Media. He said he urged moslem women to remove their veil to improve community relations.

His view draws supports and critiques from both side of the arguments. His supporters mainly are mainly pointing out that people using veil will distance themselves from other communities. This will strain community relations even further from the already cold relationship between community groups in the UK.

….baca selanjutnya

There are several versions of the world university league tables available. In the UK alone, each major newspaper produces its own league tables showing the different rankings of universities both locally to the UK and at international level. Recently, the Times published its league table on the THES (The Times Educational Supplement).
Fundamentally, there are methodological questions to the way they ranks universities. How do they measure performance? How do they measure good facility? How do they measure relative skills gained by attending those universities? Each league table uses its own method to ranks the universities.

….baca selanjutnya

The Times, sebuah harian terkemuka di Inggris, beberapa hari yang lalu (05/10/06) mengeluarkan rangking 200 perguruan tinggi terkemuka di dunia. Seperti sudah diduga, perguruan tinggi dengan nama besar menduduki peringkat-peringkat atas. Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika menduduki peringkat pertama dan kedua. Peringkat ketiga dan keempat diduduki oleh Cambridge dan Oxford University di Inggris. Selanjutnya perguruan-perguruan tinggi di benua Amerika Utara, Eropa, dan Australia mendominasi keseluruhan daftar itu.

….baca selanjutnya

A few months ago, I thought that the Avian Flu seems very apparent to flood Indonesia by storm. There are many factors that support rapid spread of this lethal virus all over Indonesia.

First of all, Indonesia is a crossing place of birds movements migrating from the northern parts of Asian continents to the continent of Australia and vice versa. This might be the main vehicle of bird to bird disease transmission from China and Vietnam to Indonesia.

….baca selanjutnya

What do you do to earn money? Unless somebody else gives you money or your receives interests from your large endowment in the bank, you would normally work to get money.

So what’s in it in your work effort that gives you money?

….baca selanjutnya

Awal september lalu sebuah berita di BBC menyebutkan tentang ujicoba penggunaan Bioethanol sebagai alternatif pengganti bahan bakar kendaraan. Ujicoba ini dilakukan di kawasan selatan Inggris dan baru melibatkan beberapa puluh kendaraan saja.

Bioethanol adalah ethanol (ethyl alcohol) yang diproduksi dari bahan biologis, dan untuk ujicoba ini dibuat dari limbah pabrik gula. Saat ini penggunaan bioethanol tadi masih sebagai campuran bahan bakar bensin biasa walaupun suatu saat nanti mesin khusus berbahan bakar ethanol akan diproduksi secara massal.

Bayangkan saja, ethanol yang juga merupakan komponen minuman keras bisa berguna mengurangi emisi karbon dari bahan bakar energi fosil yang selama ini kita gunakan. Sungguh suatu penemuan yang berguna bagi kehidupan manusia.

….baca selanjutnya

Sewaktu dulu bekerja di Jakarta, saya sering lihat banyak bule-bule seliweran di kantor-kantor jangkung. Necis dan bergaya. Banyak juga yang muda-muda. Mereka itu kaum expatriate yang kerja di perusahaan-perusahaan baik lokal maupun internasional. Ada juga yang kerja di LSM-LSM atau lembaga lain. Big boss di kantor dulu juga satu orang bule dari Adelaide Australia. Manajer saya langsung juga pernah seorang bule perempuan dari New Zealand.

Mereka semua bergaji tinggi. Manajerku saja dulu dapat fasilitas berupa serviced apartemen di Hilton, mobil, dan tentu saja gaji yang lumayan dalam bentuk dollar Amerika.

Tapi tidak semua expatriate itu berkulit putih. Manajerku setelah si bule New Zealand adalah orang Phillipina. Ada juga beberapa staf lain di kantor yang berasal dari Phillipina. Bagaimana dengan gaji dan fasilitas bagi mereka? Kebanyakan gajinya tidak setinggi bule-bule itu tapi tetap saja masih jauh lebih bagus dari gaji para staf lokal.

Bagaimana dengan kondisi sebaliknya? Maksud saya, para pekerja dari Indonesia yang kerja di luar negeri? Sayangnya, kebanyakan orang lebih memilih menggunakan kata TKI atau TKW yang lebih bernada ‘derogatory’ alias merendahkan. Menurut Webster Dictionary, “Expatriate” berasal dari bahasa Latin expatria (ex:out of - patria:native country). An expatriate is someone temporarily or permanently residing in a country and culture other than that of their upbringing or legal residence, ini kata Wikipedia.

Jadi sebenarnya TKI atau TKW itu adalah kaum expatriate juga. Tidak beda sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang memilih untuk tinggal sementara (untuk bekerja) di tempat yang bukan tanah airnya.

Di Inggris, mereka yang tergolong Indonesian expatriates ini lumayan juga jumlahnya. Dari beberapa yang saya kenal, ada yang bekerja di lembaga pendidikan/universitas baik sebagai pengajar atau researcher (seperti saya), di bank, di perusahaan telekomunikasi, hotel, perusahaan IT-related, konsultan engineering, sampai di area yang kurang formal seperti di restoran dll. Banyak juga mereka yang kerja di bidang “domestic” alias menjadi pembantu rumah tangga. Semuanya “Expatriates“.

Mereka yang beruntung mempunyai job skills yang laku di job market bisa masuk ke pekerjaan yang bergaji tinggi. Perusahaan minyak adalah salah satu jenis perusahaan yang menawarkan gaji tinggi. Telekomunikasi dan IT juga menawarkan tingkat gaji yang lumayan.

Namun demikian, expatriates di Inggris tidaklah mempunyai struktur gaji yang berbeda dengan para staf lokal (e.g. orang Inggris sendiri). Gaji expatriates sama saja dengan gaji staf lokal. Mungkin ada satu-dua pembedaan seperti fasilitas cuti pulang ke negeri asal dengan ongkos tiket dibayarkan oleh perusahaan. Tapi hanya itu.

Hak dan kewajiban para expatriates sama saja dengan “orang lokal” alias mereka yang berwarga kenegaraan Inggris atau negara-negara EU. Pajak, National Insurance, Pension, sama saja harus dibayar dengan rate yang sama.

Hak-hak pekerja dan keluarganya umumnya sama. Fasilitas kesehatan di NHS, Public School, dll bisa kita gunakan tanpa biaya sama halnya dengan penduduk asli Inggris. Ada beda sedikit sebenarnya dalam hal bahwa para pekerja asing ini tidak bisa mendapat beberapa state support seperti yang bisa didapat oleh orang Inggris seperti Job Seeker Allowance, Tax Credit, dll. Baru setelah mendapat status permanent residence di passport kita, fasilitas-fasilitas ini bisa didapat dari pemerintah Inggris.

Bagaimana dengan hak-hak para domestic worker asing di Inggris? Sama saja dengan ‘expatriates’ yang lain. Mereka punya jam kerja yang jelas, bukan 24 jam seperti di Indonesia. Mereka juga punya hak cuti yang jelas. Gaji mereka juga harus sesuai dengan minimum wage yang standar di Inggris. Pokoknya semuanya sama. Jadi, bekerja sebagai pembantu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang rendah.

TKI/TKW atau Expatriates? Sama saja bung!

Tadi malam saya bertemu lagi dengan seorang rasis. Kali ini tidak bertemu langsung namun lewat permainan Scrabble online (http://www.isc.ro).

Setelah beberapa kali bermain, bertemulah saya dengan seorang pemain berinisial “solitaire0″. Dalam waktu 8 menit permainan kami selesai dan saya menang tipis. Ia segera menawarkan untuk bermain ulang tapi saya tolak. Pasalnya ia ingin main dengan metode ’single’ dimana seorang pemain bisa meminta server mengecek kebenaran kata yang diletakkan di papan scrable. Saya tidak senang menggunakan metode dan saya lebih senang menggunakan metode ‘void’ dimana si server secara otomatis langsung mengeceknya tanpa diminta.

Tolakan saya dibalas dengan ejekan dari si solitaire tadi. Dia menuduh saya bisa menang game scrabble tadi dengan menggunakan bantuan program Annagram yang bisa menemukan kata-kata terbaik dari pilihan huruf yang kita punyai. Tentu saja saya tidak melakukannya. Saya menang secara fair.

Saya menjawab dengan bahasa Inggris seadanya, dengan kesalahan spelling dan grammar. Lama kelamaan ejekannya berubah menjadi ejekan rasis. “Paki” katanya. Ini ejekan khas orang Inggris pada orang-orang yang berasal atau mempunyai leluhur berasal dari Pakistan. Agak panas juga saya mendengarnya, tapi karena itu saya malah ingin ‘njabanin’ si otak rongsokan ini.

Ejekan rasisnya tidak berkurang, malah bertambah dengan kata-kata kasar. Saya balas dengan kata-kata jenaka walau terus terang juga agak mengejek…he..he… kasarnya saya bilang bahwa dia yang dari kecil pakai bahasa Inggris saja tidak bisa mengalahkan saya yang bahasa Inggrisnya kacau balau….. Saya juga bilang bahwa saya bukan orang Pakistan seperti yang dia ejek, tapi orang Indonesia. Masak nggak bisa ngalahin orang Indonesia sih? he..he…..

Setelah kejadian itu saya berpikir panjang lagi. Kenapa saling ejek itu tadi terjadi ya? Awalnya kan saya hanya menolak bermain dengan memakai cara dia, tapi kenapa dia langsung mengejek dengan menggunakan kata-kata rasis?

Memang ada sesuatu yang salah di otaknya para rasis itu…….