You are currently browsing the category archive for the 'Stories' category.

SD Ijo. Demikian umumnya nama sekolahku disebut orang. Sumbernya adalah seragam sekolah kami yang baju putih-celana hijau. Kadang-kadang SD kami juga disebut SD Wartawan, karena lokasinya di kompleks yang semula dibangun untuk para pekerja media. Nama aslinya sih cukup panjang: SD Negeri Cempaka Putih Barat 01 Pagi.

Semula gedung SD itu kecil saja, tapi sewaktu aku kelas 2 gedungnya dibongkar dan diganti menjadi gedung bertingkat 2 dalam bentuk hampir seperti lingkaran penuh. Setelah jadi, kompleks gedung sekolah itu lalu digunakan oleh 6 sekolah dasar. Yang masuk pagi SD 01, 011, dan 013. Yang masuk sore ada 3 sekolah juga.

Sekolah ini tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah orangtuaku. Jadi sejak kelas 1 atau 2 saya sudah berjalan sendiri ke sana. Teman-temanku waktu itu sudah banyak yang aku lupa nama-namanya. Saya sebutkan saja yang masih ingat dan kadang masih kontak juga di sini: Rakhmatdi Hatmosrojo (A’ang), Akhmad Diponegoro (Adip), Jurgantono Usman (Tono), Singgih (begeng), Muhammad Arfian, Muhammad Taufik, Iskandar, Bagus Mukti Wibowo (Adi) dan Bagus Mukti Laksono (Abi), Muhammad Irfan, Rozano Rumambi, Wawan, Rahmat, Muhammad Isa Ismail, Daniel, Tanti, Diana, Dewi, Cici, Susi, Safrina Desita (Sita), Liesa Pratiwi (Icha), dll.

Sewaktu kelas 1-3 nggak terlalu banyak memory yang masih nyangkut di kepala. Yang ada adalah ingatan kalau main bola kami menggunakan lahan berdebu samping gedung sekolah. Juga saat sekolah terpaksa pindah sementara ke SD lain di kawasan Jatop saat pembangunan gedung baru. Pulang pergi ke sekolah selalu melewati pinggir kali memandangi tanaman singkong dan sawi yang ditanam orang di pinggir kali. Sekolah sementara ini dulu pernah kebanjiran, dan saat pulang ke rumah saya pernah terperosok masuk ke got dengan air sedalam leher :D

Walau sudah aktif di gerakan Pramuka Gudep 617 di dekat rumahku, di sekolah saya juga ikutan Pramuka. Regu kami regu Gajah namanya. Saya jadi ketua regu dengan anggota Singgih, Arfian, Irfan, Taufik, A’ang dan Adip kalau nggak salah.

Regu kami ikut camping di sekolah beberapa kali. Suatu kali saya ingat kami kedapatan nomor kapling 23, nomor jelek katanya. Tapi cuek aja malah bisa menang lomba saat itu. Camping ini juga cuma ecek-ecek doang sih, bayangin aja masak camping halaman kecil samping teras sekolah, di luar banyak abang-abang jualan makanan kecil, gorengan, dll.

Lucunya, sebagian teman di kelompok Pramuka itu dan terutama regu kami bisa saya ajak untuk ikut aktif di gerakan pramuka gugus lain yang saya ikuti, gudep 617 Dharma Cempaka. Jadi Arfian, Taufik, Irfan, Adi-Abi bisa saya ‘bajak’ aktif di gudep pramuka Pertamina itu. Sedangkan Adip dan A’ang sudah sejak lama ikut Pramuka di Dharma Cempaka.

Guru-guru yang masih saya ingat adalah bu Nani, bu Amir, pak Asep (?), dan pak Yani. Bu Nani guru kelas 4, bu Amir guru kelas 5, dan kelas 6 pak Yani yang kemudian digantikan oleh pak Asep.

Sewaktu kelas 5 dan 6 saya ikut les tambahan, dengan bu Amir, pak Asep dan pak Yani. Juga ikut les agama dengan pak Mahmud, sedangkan belajar mengaji Qur’an setiap minggu pagi dengan mbak Wati yang datang ke rumah.

Pak Yani, setiap hari Sabtu membersihkan kelas. Sambil membersihkan kelas kami selalu menyalakan radio tape compo keras-keras biar semangat. Juga Pak Yani meminta murid-murid bergantian membawa makanan kecil sebagai penganan saat membersihkan kelas itu. Makanan yang paling beliau sukai adalah Gandasturi, sejenis gorengan dengan isi Kacang Ijo manis. Setiap sabtu kami digilir secara berkelompok membeli makanan gorengan itu untuk disantap bersama.

Pak Asep guru terakhirku di kelas 6. Beliau tinggal di Pondok bambu, tidak terlalu jauh dari rumah paklek-ku di sana. Suatu hari kami pernah pergi camping bersepeda dari Cempaka Putih ke sebuah lahan dekat sekolah yang belum jadi di kawasan dekat rumah pak Asep. Senang juga bisa bersepeda dan camping kayak cerita2 lima sekawan di Inggris.

Saat kelas 6, saya menjadi juru bicara tim lomba Cerdas Cermat SD-ku yang ditayangkan langsung tiap hari Jumat Sore di stasiun televisi satu-satunya saat itu: TVRI. Anggota timnya adalah Diana dan Tono. Tim ‘bayangan’nya adalah Adip, Rahmat, dan….. saya lupa. Setelah melewati beberapa kali seleksi dan latihan di sekolah, terpilih saya jadi juru bicara. Saya sendiri waktu itu heran kenapa sampai terpilih karena Adip dan Rahmat adalah teman-teman yang lebih pintar. Tono, on the other hand, memang pinter banget orangnya :D

Saat berangkat, kami diantar oleh bu Nani dengan mobilnya. Turut ikut juga pak Asep dan tim bayangan kami sebagai penonton. Sampai di sana, studionya ternyata dingiiinnnn sekali, jadi di bawah meja kami sibuk menggosok-gosok tangan ke paha karena kedinginan bercelana pendek. Lombanya berjalan baik, dan tim kami menang quite comfortably, walaupun beberapa kali diingatkan oleh pembawa acaranya untuk tidak terlalu banyak ngobrol dan ngomong sendiri diantara kami.

Pulangnya, sewaktu berjalan kaki ke rumah dari sekolah, beberapa anak kecil (walau waktu itu saya juga masih kecil) mengenali di pinggir jalan. “Yang tadi di TV yaaa…..”, kata mereka. Bangga dikit deh…. he..he…

Selain sebuah piala kecil, hadiah lomba cerdas cermat ini adalah tiket berkunjung ke Monas dan alat-alat olahraga (raket dan net badminton, bola volley dan net volley). Kami boleh membawa raket badmintonnya pulang sedangkan hadiah-hadiah lain dijadikan inventaris sekolah. Sedangkan tiket kunjungan ke Monasnya kami gunakan bersama diantar oleh Bu Nani dan suaminya ke sana. Setelah turun dari puncak gedung Monas, kami diajak makan soto di warung-warung tenda di seputar Monas….. yam….yam…..

Selepas SD, saya tidak banyak berhubungan dengan teman-teman karena aku memilih SMP yang lokasinya agak jauh. Hanya A’ang saja yang mengambil sekolah yang sama. Tapi tidak dinyana, hubungan dengan beberapa kawan malah timbul lagi sekarang - dengan bantuan internet tentunya. Walau ada yang sudah meninggal (Susi - Daniel), yang lain masih bisa dirunut. Tono kerja di perusahaan minyak di Oman dan Adip mengajar di Jakarta, dua-duanya sudah PhD. Tanti nggak sengaja gatuk karena ketemu adiknya (Witri) di Harlow. Sita ketemu di Friendster. Icha di milis alumni Boedoet. Senangnya bisa bersilaturahmi dengan teman-teman masa lalu.

Saat jaman SMA saat sedang jadi penumpang mobil yang disetiri si Adip sahabat kental saya, Adip melanggar lampu lalu lintas di kawasan Gambir. Polisi yang sudah biasa mangkal selepas lampu merah itu sigap menunjuk mobil kami untuk berhenti. Setelah diberitahu kesalahannya, waktu itu kami seperti banyak orang lain minta “damai” saja karena malas ngurus tilang ini itu.

Mendengar permintaan pak Polisi itu wajahnya berubah jadi masam. “Kamu kira saya apa mau nyogok saya!” katanya. Tertegun saya mendengarnya. Ternyata tidak semua polisi bisa disogok pikir saya. Mendengar itu kamipun pasrah. Biarin deh kita susah mengurus sidang tilang, ini petugas juga perlu dihormati.

Setelah menunggu beberapa saat, tidak dinyana si petugas berkata “Kalau nggak 20 ribu saya nggak mau!” Seketika itu rasa hormat yang tinggi pada pak polisi itu langsung musnah…..

Pengalaman lain dengan polisi ini kadang lucu juga. Beberapa kali saya distop polisi karena kesalahan kecil. Suatu kali distop di depan Arion plaza di Rawamangun, karena melanggar garis jalur bus katanya. Saya diminta berhenti di jalur bus itu. Saya bertanya heran, “Katanya saya salahnya melanggar jalur bus, terus kenapa saya malah disuruh berhenti di sini pak? Bukannya lebih melanggar lagi nih berhenti di sini?” Pak polisi itu kayaknya jadi malu dan bertanya, “Memangnya mau kemana sih”? Saya jawab bahwa saya mau ngajar di depok. Eh, pak polisi itu malah langsung mempersilahkan saya jalan.

Hal serupa juga saya alami di kawasan Tomang, karena memotong garis pembatas jalan. Seorang polisi bermotor menyetop dan mendatangi saya. Karena gerah saya minum air mineral dalam gelas dulu, dan begitu dia datang saya tawari juga pak polisi itu untuk minum. Sama seperti cerita sebelumnya, dia tanya saya mau kemana. Saya jawab mau ngajar kelas sore di salah satu universitas swasta di dekat situ. Nggak macam-macam saya segera disuruh melaju lagi. Pokoknya aman deh kalau ngaku dosen……he..he….

Yang paling lucu waktu saya mengantar orangtua kondangan. Di bundaran HI saya diberhentikan karena dianggap melanggar lampu. Ya sudah saya keluar mendekati mobil polisi. Kali ini si polisi yang menawarkan air minumnya pada saya. Saya tolak malu dong. Melihat nama di SIM saya berbau Jawa, sang Polisi mengajak saya berbahasa Jawa, ya saya jabanin saja semampunya. Terus si Polisi bilang “Wis kono njaluk selawe ewu karo boss mu”. Saya kaget, terhina, tapi sekaligus senang. Terhina karena saya dianggap sopir yang sedang menemani majikan di mobil, tapi senang karena cuma diminta 25 ribu! Ini saya nggak minta damai lho…. si polisi yang minta langsung. Begitu masuk ke dalam mobil dan jalan lagi, saya kasih tahu apa yang terjadi pada bapak dan beliau ketawa sambil memberi tahu kalau biasanya sopir dia ngasih minimum 50 ribu kalau ada urusan ‘damai’ dengan polisi…..

Sekarang beralih dari soal ditangkap Polisi jalan raya. Sewaktu kerja di UI dulu, saya pernah diminta salah seorang senior ngurusin proyek pembuatan buku di salah satu departemen. Proyek ini bernilai 50 juta rupiah, dan saya diminta menemui orang yang bertanggung jawab dalam penentuan proyek itu. Kebetulan, si pimpro ini mantan mahasiswa kami jadi agak kenal-kenal dikit deh. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kami tiba pada pucuk permasalahan.

“Begini Dik (dia memanggil dik karena saya memang jauh lebih muda), karena kami perlu koordinasi dan lain-lain, uang yang bisa dialokasikan ke tim kalian 15 juta”, demikian katanya santai. Hah! Saya terkejut. Masak nilai proyeknya 50 juta tapi yang bisa dicairkan cuma 15 juta! Artinya disunat 70 persen dong! Saya kemudian tanya alasannya dia menjawab macam-macam. Pokoknya, kalau kami mau mengerjakan, segitu duitnya. Titik.

Dalam perjalanan pulang ke kampus, saya teringat pada ucapan Prof. Soemitro Joyohadikusumo yang mengatakan bahwa tingkat inefisiensi (baca: korupsi) di Indonesia mencapai 30%. Lha kenyataan lapangan menunjukkan jauh dari itu Prof!

Lalu saya melapor pada kepala Jurusan, dan beliau juga sama terkejutnya dengan saya. “Itu mah keterlaluan Don! Dah jangan mau” demikian ‘petunjuk’nya. Jadilah saya melupakan proyek itu. Lucunya beberapa waktu setelah itu, saya dengar proyek ini ternyata dikerjakan oleh salah satu kolega saya sendiri….hiii…hii…… mau ya dia…..

Hari Minggu terakhir di tahun 2007, kami sekeluarga diundang Mohammad, dokter asal Iran yang sedang studi di kampus saya tentang Pemerataan Kesehatan di Iran. Kebetulan saya diminta membantu menjadi co-supervisornya di kampus. Rumahnya terletak persis di seberang gedung tempat saya kerja.

Dengan ramah Mohammad dan istrinya menyambut kami. Dua putrinya yang cantik, Raihana dan Sarah, juga ikut bercanda dengan kami di ruang tamu. Tidak lama chit-chat, hidangan makan siang pun dikeluarkan.

Ada dua jenis nasi terhidang di meja. Nasi putih dan nasi campur kismis merah. Selain itu ada juga ayam bakar dan sayur bayam daging ala Iran. Ditambah juga salad buah dengan bumbu minyak zaitun dan lemon. Di ujung meja ada sepinggan nasi yang agak gosong (kerak nasi) alias intip dalam bahasa Jawa.

Mulailah kami mengambing porsi makan kami secukupnya. Semua kami coba tapi tentu saja si nasi gosong alias kerak nasi tidak kami senggol sama sekali. Setelah itu mulailah kami lahap nasinya dengan dengan nikmat. Masakannya cocok dengan selera kami. Enak sekali.

Sedang asik makan, tiba-tiba Mohammad menyodorkan pinggan yang berisi kerak nasi tadi. Saya tentu saja agak kaget. Lha, masak kerak nasi disodorkan? Mohammad menjelaskan dengan santun, “This is a delicacy in Iranian cuisine. People in Iran like this kind of rice“, demikian jelasnya. Jadilah saya mencoba menyembunyikan rasa kaget saya dan mengambil sebagian nasi kerak itu.

Sambil makan ingatan saya melayang pada almarhumah Ibu. Dulu beliau selalu mengambil nasi kerak dan nasi sisa lain untuk dimakan dengan garam. Ya dimakan saja seperti itu. Dibilang delicacy ya bukan, tapi beliau merasa sayang kalau ada nasi terbuang percuma. Namun seringkali nasi kerak itu terlampau banyak dan akhirnya sering sengaja dikeringkan di atap rumah, dengan niat setelah kering nanti akan digoreng menjadi semacam rengginang. Tapi kenyataannya, jarang sekali kerak kering tadi jadi digoreng. Lebih sering menjadi santapan burung puter dan burung gereja yang mampir di atap rumah kami.

Bicara soal makanan ini, dulu kakek saya yang sudah renta tinggal bersama kami di rumah. Setiap hari beliau duduk di halaman menghabiskan waktu. Suatu ketika, beliau melihat seekor belalang yang cukup besar tapi ya tidak besar-besar amat. Mungkin sekitar 10 cm panjangnya. Dengan hati-hati ditangkapnya sang belalang dan ditaruh di genggamannya.

Melihat saya datang mendekat, beliau memanggil. Permintaannya kemudian membuat saya kaget. Dimintanya saya memasak belalang itu! Wah, gimana caranya ya? Saya waktu itu memang aktif di gerakan Pramuka yang diajarkan cara memasak dengan bahan baku seadanya. Tapi gimana caranya memasak belalang?

Setelah kejadian itu, saya bertanya pada Ibu tentang hal ini. Beliau berkata bahwa karena daerah tempat kakek tinggal adalah daerah tandus dan minus yang kurang bahan pangan. Segala jenis hewan dan tanaman yang bisa hidup dicoba untuk dimanfaatkan. Termasuk diantaranya belalang, laron, dll. Jadilah saya kemudian belajar menghargai betapa kesulitan memaksa manusia untuk beradaptasi pada lingkungannya.

Lain lagi kalau kita makan pecel lele di pinggir jalan Jakarta. Saya ingat sewaktu kuliah dulu pernah pesan pecel lele di pinggir jalan Margonda di Depok. Lelenya besar dan mantab. Masih hidup pula ketika mau dimasak. Si penjual sekaligus koki mengambilnya dari ember plastik yang ditutup daun, dengan si Lele masih memberontak hebat kesana-kemari. Si Lele kemudian dilontarkan di samping kedai, di bahu jalan yang berdebu tebal. Kemudian dengan pentungan batu yang ada pinggir jalan, diketuklah kepala si Lele dengan kuat hingga langsung mati. Kemudian dimasukkan ke dalam mangkok berisi bumbu dan kemudian langsung masuk penggorengan dengan minyak panas! Sedap!

Salah satu favorit makanan saya di Jakarta adalah burung goreng. Langganan saya adalah sebuah kedai kaki lima di kawasan Prumpung, Jatinegara. Perlu diketahui juga kalau di sekitar daerah ini cukup terkenal dengan warung remang-remangnya yang sudah menjadi rahasia umum menyediakan layanan esek-esek selain dari minuman teh botol atau kopi pahit.

Penjualnya ada dua orang. Bosnya berpostur agak gemuk dan selalu mengenakan kopiah di kepalanya. Negosiasi harga selalu dilakukan dengan si bos. Satu ekor burung sawah biasanya dihargai 15-25 ribu rupiah. Setelah harga disepakati, sang asisten kemudian memotong-motong dan merendamnya dalam larutan bumbu sebentar. Sang asisten ini berpostur kurus dengan sebuah mata yang agak cacat. Agak menyeramkan tampangnya, apalagi kalau memegang pisau besar pemotong daging burung itu. Penggorengan dilakukan di sebuah wajan dengan minyak yang biasanya sudah berwarna agak kelam karena jarang diganti. Tapi hasilnya…. bikin ketagihan…… mungkin karena bumbu dan minyak gorengnya sudah bercampur ampas solar dari truk yang banyak seliweran di jalan itu.

Lain cerita saat saya ikut KKN di kawasan Pandeglang, Banten (Jawa Barat ketika itu). Pemuda-pemuda desa punya kebiasaan untuk begadang sambil masak nasi liwet yang luar biasa sedapnya. Biasanya kami mahasiswa KKN ikut nongkrong. Beras diliwet langsung di panci, dan diatasnya ditaruh tomat, cabai, terasi, dan bawang yang dibungkus daun pisang. Sebelum nasi tanak, tomat, cabai, terasi, dan bawang tadi diulek jadi sambal. Lauknya ikan asin goreng atau kadang juga ikan sawah yang diambil langsung malam-malam dari sawah di samping lapangan kampung. Untuk lalapnya diambil setengah bongkol kol atau kadang juga jantung pisang. Semua bahan-bahan biasanya diambil dari warung di tengah kampung, kecuali si ikan sawah (hasil ngaduk sawah langsung!) dan jantung pisang (hasil memarang pohon pisang terdekat).

Nasi yang sudah tanak disajikan di daun pisang panjang digelar di pinggir jalan. Di atasnya disebarkan ikan asin, ikan bakar, daun kol dan jantung pisang tadi. Sambal juga dicampakkan di sekeliling nasi. Nasi mengepul dengan aroma sambal terasi yang kuat. Semua peserta “liwetan” alias “makan malam-malam” duduk mengelilingi tempat hidangan dari daun pisang tadi. Dengan setengan berjongkok pesta makan dimulai. Laki perempuan berpesta makan sedap nian. Biasanya tidak lebih dari sepuluh menit, tandas semua yang tersedia di atas daun pisang itu. Licin!

Pengalaman yang jauh berbeda saya pernah alami di sebuah restoran di Washington DC, ibukota negara yang tidak begitu saya sukai. Ketika itu saya sedang ikut sebuah conference mewakili Indonesia dalam membahas dampak Globalisasi pada sektor kesehatan. Oleh panitianya, kami semua diajak makan malam bersama (tentu saja bayar sendiri-sendiri) di sebuah restoran tradisional ala Amerika. Apalagi kalau bukan restoran Steak.

Saya pesan saja sebuah steak yang paling murah harganya. Maklum, dari negara berkembang nih ;)  Lagipula ketika itu saya belum pernah makan steak di restoran sama sekali.

Tidak lama datanglah pesanan kami. Masya Allah. Besar sekali porsinya! Daging sebesar itu kalau di Indonesia mungkin sudah bisa jadi rendang untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga selama beberapa hari. Tapi dagingnya sudah tersedia jadi mau apa lagi, ya santap saja. Rasanya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Jauh lebih enak rasanya kalau di rendan. Ujung-ujungnya, saya cuma habis 1/2 porsi saja. Sisanya? Dibuang lah…. saya malu sama teman-teman (bos-bos dari berbagai organisasi kesehatan dunia) kalau minta bungkus buat dibawa pulang ke kamar hotel……

* Tulisan ini dibuat dengan berdasarkan pada catatan harian perjalanan hidup yang dibuat sendiri dalam bahasa Jawa oleh Bp. Sukandi bin Mangunpawiro


Sebenarnya aku tidak pernah memanggil beliau dengan sebutan Ayah. Dari kecil aku selalu memanggil beliau dengan sebutan Bapak. Sebutan ini aku juga gunakan untuk menamakan diriku pada anak-anakku, sehingga mereka memanggil ‘Bapak’ padaku. Namun rasanya tidak terlalu enak menulis orangtuaku dengan sebutan Bapak dalam tulisan ini, sehingga aku memutuskan memakai sebutan “Ayah”.

Ayahku dilahirkan di dusun Menggoran, suatu dusun kecil pegunungan Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1929. Seperti pada daerah selatan kabupaten Gunung Kidul lainnya, dusun ini tergolong kering, susah mendapat air dari hasil menggali sumur. Sebagian besar penduduknya secara tradisional mengambil air dari sungai di samping dusun, dan membawanya menggunakan pikulan di pundak.

Baru sekitar belasan tahun yang lalu ada inisiatif dari beberapa warga dusun dan kerabat yang tinggal di luar daerah ini untuk membuat sarana pipa air dari sumber air di tepi sungai menuju pusat-pusat distribusi air di dusun. Ayahku secara aktif terlibat dalam upaya menggalang dana dan inisiatif distribusi air ini.

Dulu pernah dipikirkan rencana memompa air dari mata air yang terletak jauh lebih rendah dari dusun dengan mengunakan teknologi kincir angin. Kalau tidak salah Mas Nyoto, almarhum kakakku, turut aktif memikirkan dan mendesain rencana itu. Akhirnya Namun entah kenapa rencana itu tidak bisa dilanjutkan dan diganti dengan pompa diesel. Mas Marjuni alias “Mas Jendut”, salah seorang sepupuku dari pihak ibu menjadi salah seorang motor penggerak pembangunan pompanisasi itu. Akhirnya walau pompa dieselnya sering rusak, saat ini air berhasil didistribusikan ke kantong-kantong distribusi di penjuru desa.

Pada zaman ayahku dilahirkan dulu, dusun Menggoran ini masih dikelilingi hutan jati dan tanaman lain. Bahkan mbah Mangunpawiro (orangtua ayahku) dulu berprofesi sebagai “Djogomirudo” (pengawas Hutan?) di dusun itu. Saat ini tidak ada lagi hutan yang tersisa di sana. Walau ada upaya penghijauan dan lain-lain pokok-pokok tanaman kuat yang menjadi besar tidaklah mampu bertahan lama karena dicuri atau ditebang orang.

Sebagian besar penduduk Menggoran dulu menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian dan hasil hutan. Namun seiring dengan berkurangnya areal hutan yang tersedia, hanya berladang saja yang dijadikan tumpuan oleh masyarakat. Karena saat ini banyak warga dusun dan keturunannya yang tinggal di luar daerah, sumber penghasilan juga beralih dari pertanian. Namun bagi mereka yang tidak mampu berbuat lain, hasil pertanian yang tidak seberapalah yang menjadi tumpuan hidup mereka sehari-hari.

Di masa kecilnya, ayahku diasuh oleh Mbah Dijah. Sama seperti anak desa lainnya, ia pernah sakit patek (Frambusia). Penyakit ini dimasa lalu identik dengan kemiskinan dan rendahnya kualitas higiene. Untuk pengobatannya, orang di dusun kebanyakan berobat ke Wonosari (ibukota Kabupaten) atau bahkan ke daerah Imogiri (Kabupaten Bantul).

Masa kecilnya dihabiskan seperti layaknya anak desa, bermain di ladang, menggembala kambing, dan memomong adik-adik. Menurut pengakuannya sendiri, sewaktu kecil ia adalah anak yang cengeng, gampang menangis dan merajuk kalau tidak mendapat apa yang ia sukai atau diminta melakukan sesuatu yang tidak disenangi. Misalnya jika diminta menyanyi lagu jawa (nembang) di sekolah, ia selalu menangis.

Bangku sekolah dilaluinya di sekolah KK (Kawula Kasultanan) di desa Sawahan, dari kelas satu sampai kelas 3. Dari situ ia kemudian disekolahkan di sekolah VV di kota kecamatan Playen, yang letaknya beberapa kilometer dari dusun Menggoran, cukup jauh untuk ukuran waktu itu yang belum ada jalan yang baik dan transportasi umum. Saat itu bangku sekolah tidak bisa dinikmati oleh orang banyak. Biaya iuran sekolah seketip sebulannya. Seketip itu sama dengan harga beras satu ‘beruk’ (setara dengan…..????).

Sekolah Dasar pada jaman itu umum disebut Sekolah Rakyat, atau juga sekolah ‘Ongko Loro’, yaitu sekolah yang ditujukan pada kaum pribumi Indonesia dan dijalani selama 5 tahun. Selesai sekolah Ongko Loro, ia kemudian masuk sekolah Pamardi Siswa (Schakelschool) yang baru didirikan di Playen. Namun sekolah itu tidak bertahan lama dan dibubarkan sembilan bulan kemudian.

Setiap sore sepulang sekolah, ayahku belajar mengaji di rumah mbah Dawam, dan yang mengajar adalah wo Sahid.

Pada awal tahun 1940-an, Jepang masuk ke Indonesia, termasuk ke kawasan Gunung Kidul tempat ayahku tinggal. Setiap kali ada ‘Gobyok’ (alarm), setiap orang harus berlindung di parit-parit. Di jaman perang itu kalau malam lampu dimatikan, kalaupun harus menyalakan lampu bagian atasnya harus ditutupi dengan kukusan supaya tidak terlihat dari atas. Apalagi kalau ada gobyok, semua lampu harus dimatikan, bahkan merokok saja harus ditutupi dengan tangan.

Setelah kelahiran Soekardi (salah seorang adik laki-laki ayahku) sekitar tahun 1941-1942, ayahku tinggal bersama mbah Mangundikromo (mbah Alip) di daerah Besari (Pantjuran), kira-kira 2 km di sebelah selatan kota Wonosari. Mbah Alip ini adalah adiknya mbok gede Atmosentono. Di sana ia diminta membantu macam-macam pekerjaan seperti membantu berjualan, mencari rumput untuk pakan hewan (ngarit), mengangon kambing dan lain-lain.

Tidak berapa lama tinggal di sana, ayahku masuk sekolah (SRI) lagi di kota Wonosari masuk kelas 5. Saat itu Jepang sudah masuk ke sana. Setiap sekolah diharuskan mengajarkan bahasa Jepang (Nipong) ketika itu. Setelah mendapat ijasah lulus kelas 5, ia kemudian meneruskan ke kelas 6 jurusan pertanian.

Saat itu prestasi belajar ayahku cukup membanggakan. Pada suatu hari besar Jepang Meidjisetju ia diikutsertakan perlombaaan bahasa Jepang di Yogyakarta. Hasilnya, ia menang dan memperoleh hadiah “pris Beker”, kain jarik dan juga radio untuk sekolah. Tentu saja ia senang bukan kepalang saat itu. Sampai ketika tiba di kota Wonosari ia dielu-elukan dengan hangat oleh teman-teman sekolahnya. Bukan itu saja, predikat juara kelas (nomor 2) pun didapatnya ketika itu.

Setelah mendaftar dan gagal masuk sekolah guru, ayahku kemudian masuk sekolah Kursus Pemuda Teknik (KPT) di tahun 1944. Ia tinggal di Kritjak, di rumah Pakde Sastroprajitno, kakak dari kakekku Mangunpawiro. Pada tahun itu juga ayahku disunatkan di desa Besari.

Lulus dari KPT, ayahku kemudian mulai bekerja. Awalnya ia kerja di Pabrik Sendjata Kiaratjondong di kota Bandung. Ia ditempatkan di bagian mesin bubut. Selama bekerja di sana ia tinggal bersama teman-teman lainnya di Asrama internir Belanda di kampung Kebonwaru Kidul, Bandung.

Saat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, pabrik dibubarkan. Semua pegawai diminta pulang ke rumah masing-masing sambil menunggu panggilan lagi. Setiap pegawai, termasuk ayahku, diberi pesangon berupa kain, sarung, serta uang. Beliau masih ingat jumlahnya sebesar Rp 247,70. Saat itu gaji di pabrik awalnya Rp 0.80 per hari sampai kemudian menjadi Rp. 1.80 per hari.

Gigi Bungsu alias Wisdom Teeth umumnya muncul dalam susunan gigi saat kita menginjak dewasa. Gigi ini terletak di ujung belakang susunan gigi geraham kita. Seringkali tumbuhnya gigi ini mendesak susunan gigi lain di depannya atau bagian geraham sekitarnya yang menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Demikian pula pada gigi saya belasan tahun yang lalu.

Setelah dua gigi bungsu telah dicabut terlebih dahulu, saat kira-kira berumur 23 tahun geraham kiri bawah saya terasa sakit akibat ulah si gigi bungsu juga. Pasti perlu dicabut pikir saya. Sama seperti dua gigi bungsu saya terdahulu.

Jadilah saya pergi ke klinik gigi di sebuah rumah sakit swasta dekat rumah. Setelah menunggu beberapa lama, duduklah saya di kursi dokter gigi. Setelah diperiksa dokter dan difoto roentgen, simpulannya persis sama dengan tebakan : harus dicabut kata dokter. Oke saya menerima.

Namun rupanya hari itu sang dokter gigi hanya bekerja sendiri, padahal ada banyak pasien yang perlu ditolong hari itu. Akhirnya seseorang yang saya kira adalah seorang asisten senior dokter gigi datang menangani.

Diberinya saya anestesi lokal dengan menyuntikkan obat kebal ke geraham bawah saya. Sakit mulanya tapi lama kelamaan kebal jadinya. Kemudian proses ekstraksi gigi bungsupun dimulai.

Proses ekstraksi berlangsung lama. Rupanya sang gigi tidak bersedia diambil keluar begitu saja. Terlalu besar mungkin, atau nyangkut diantara geraham. Walau si gigi sudah dipotong-potong kecil tidak bisa juga keluar.

Pasrah saja sudah. Mau bagaimana lagi.

Lewat setengah jam kira-kira gigi bungsu saya itu diutak-atik, dipotong-potong, diputar-putar. Tidak mau keluar juga. Ibu senior asisten tadi mulai putus asa. “Ini susah banget keluarnya. Gigi depannya menghalangi giginya. Gimana kalau gigi depannya saya cabut juga jadi bisa gampang keluarnya?”

Saya mau protes. Tapi nggak bisa. Wong mulut lagi dipenuhi berbagai alat gigi, mulut kebal, lidah kelu, dan seluruh ujung badan kedinginan kena AC. Akhirnya saya melotot saja bisanya.

Tapi mau dikata apa coba. Waktu anestesinya sudah hampir lewat. Gigi belum bisa keluar juga. Mau dikasih anestesi lagi mungkin bisa berbahaya. Mau dimasukkin lagi gigi yang sudah diudel duel tadi ya jelas nggak bisa. Akhirnya saya menyerah. Pasrah ………..

Akhirnya gigi geraham sehat di depan si gigi bungsu diambil dengan mudah. Kemudian menyusul si gigi bungsu yang nakal tadi. Saya lega walau kehilangan satu gigi ekstra dari niat semula yang cuma satu gigi saja.

Ini pengalaman yang memberikan ilustrasi hubungan antara supplier dan consumer di bidang pelayanan kesehatan. Supplier dan consumer tidak dalam posisi yang sama dalam ‘transaksi’ pelayanan kesehatan ini. Supplier, dalam hal ini adalah dokter dan pemberi pelayanan kesehatan lainnya, umumnya mempunyai posisi yang ‘lebih’ dibanding consumer. Consumer di lain pihak mempunyai informasi dan kekuatan yang lebih rendah dibanding dengan Supplier.

Supplier sedikit banyak bisa meng’induce’ clientnya melakukan sesuatu atau membeli produk si supplier. Consumer di lain pihak, karena ketidak tahuan dan juga karena posisi yang tidak seimbang dengan supplier ini, kemudian terpaksa menuruti apa yang direkomendasikan si supplier. Fenomena ini dalam health economics dikenal dengan sebuat ‘Supplier Induced Demand’, demand pelayanan yang muncul dari hubungan supplier-consumer muncul karena pengaruh si supplier itu sendiri.

Eh kembali ke soal gigi, karena saya merasa sebagai orang Jawa, maka selalu ambil sisi untungnya saja. Walau yang diambil dua gigi, saya cuma harus membayar ongkos ekstraksi satu gigi doang. Untung kan…… He…he…..

Bau amis anyir cepat menyergap masuk ke relung hidung begitu mendekat ke sebuah ruang perawatan anak. Bau yang tidak jelas asalnya. Bau karbol tidak mampu mengalahkan kerasnya bau anyir ini.

Di dalam ruangan itu ada sekitar 15 anak sedang dirawat dengan berbagai jenis penyakitnya. Beberapa anak tertidur, satu dua meringis kesakitan. Kantong cairan infus bergelantungan di sana sini, dengan selangnya yang panjang berputar-putar.

Ibu-ibu berbaju kumal berbekal kain sarung menemani putra-putri mereka yang sedang sakit. Ada yang duduk di bawah, tiduran di tempat tidur sempit berbagi dengan anaknya, dan ada yang duduk bermenung sambil mengipasi anaknya.

Seorang ibu batuk-batuk di ujung ruangan, berdahak berat. Dilepehkan dahaknya ke lantai. Mungkin itu sumber bau amisnya.

Suster yang berjaga di sudut ruangan sibuk mencatat status pasien yang bertumpuk di mejanya. Beberapa jenis obat terlihat tergeletak di meja itu juga. Di meja kecil di sampingnya, terlihat beberapa jenis obat, baik tablet, kapsul maupun jenis obat suntik, yang sengaja terlihat dikumpulkan jadi satu.

Melihat lirikan mata saya ke obat-obatan itu, sang Suster itu tersenyum. “Itu obat sisa pak“. “Kenapa nggak dibuang?” tutur saya ringan. “Sayang. Masih banyak anak-anak yang tidak mampu bayar obat pak. Kita pakai saja obat sisa itu untuk mereka“, jelasnya datar. “Obat suntik juga?“. “Ya, justru itu yang biasanya mahal pak” tukas sang suster.

Erangan salah seorang anak membuat sang Suster menghentikan pembicaraan kami karena ia segera menghampiri sang anak. Sayapun mengikuti dari belakang. “Suspect Meningitis, sudah tiga hari di sini“, kata sang Suster.

Tidak lama di sana, saya beranjak ke ruang rawat intensif. Tidak seperti ruang ICU di rumah sakit-rumah sakit besar Jakarta, ruang rawat intensif di rumah sakit tipe D di kabupaten miskin ini sangatlah sederhana. Hanya terdiri dari beberapa ruangan dengan kaca besar, dan beberapa meja perawat yang penuh dengan alat-alat medis. Perbedaan mencolok dengan ruang rawat anak tadi adalah tidak adanya bau amis di sana. Hanya bau obat menusuk.

Di salah satu ruangan seorang anak terlihat tertidur sendirian. Tubuhnya diinfus. “Kemana ibunya?” tanya saya pada seorang suster. “Sedang mengurus obat. Pakai kartu sehat sih. Tapi nggak semua obatnya bisa didapat gratis. Obat yang bagus nggak dikasih. Mahal sih“, kata sang suster.

Sang anak tidak bergerak. Diam saja. “Dia sudah seminggu koma. Nggak sadar“, jelas sang suster. “Ooohhh“…

Bayangan kedua anak saya membayang di belakang mata. Ujung mata saya basah.

Dalam rangka membantu sebuah proyek penelitian, beberapa tahun lalu saya pernah diminta menemani peneliti utama dari Inggris untuk mencari data tentang program MCH (Maternal and Child Health) di Kalimantan Selatan.

Setelah beberapa hari berada di Banjarmasin, ibukota Kalsel, kami beranjak ke beberapa kabupaten di provinsi ini untuk melihat perkembangan program yang sedang kami teliti dan evaluasi.

Sampai di sebuah Puskesmas kecil yang terawat resik dan asri, kami disambut oleh ibu dokter pimpinan Puskesmas. Ternyata ia dan suami sama-sama bekerja di Puskesmas yang sama. Istrinyalah yang menjadi kepala Puskesmas di sana. Rumah mereka terletak di samping gedung Puskesmas.

Sambil mendengarkan keterangan ibu kepala Puskesmas, saya pun menyempatkan diri melihat-lihat laporan dan kondisi Puskesmas itu. Sangat rapi. Semua dokumen dan laporan tersimpan dengan rapi. Walau gedung dan fasilitas di Puskesmas itu tidaklah tergolong baru namun semuanya terlihat tertata dengan rapi.

Setelah selesai mendapatkan data dan informasi dari beliau, kamipun ngobrol-ngobrol secara santai dengan beliau. Ternyata beliau dan suami adalah sama-sama lulusan dari fakultas kedokteran sebuah universitas swasta di Jakarta. Mereka berasal dari keluarga yang cukup mampu. Kedua orangtuanya sang ibu dokter masih tinggal di sebuah kawasan elit di Jakarta Selatan.

Setelah lepas makan siang, kami diagendakan untuk bertemu dengan para bidan di desa di bawah tanggungjawab Puskesmas tersebut. Cukup banyak jumlahnya, antara 10-15 orang kira-kira. Kebetulan mereka pagi harinya ada pertemuan rutin di Puskesmas, sehingga waktu siangnya bisa dipergunakan untuk bertemu kami.

Semuanya masih muda-muda. Yang paling tua mungkin berumur sekitar 25 tahun. Sebagian besar mengenakan kerudung mengikuti kepercayaan dan kebiasaan masyarakat setempat. Kamipun berbagi tugas mewawancarai mereka secara informal. Saya kebetulan menemani Damian, bule asal London yang kebetulan juga adik kelas saya sewaktu sekolah master dulu.

Umumnya bidan-bidan itu malu-malu menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Tapi ada satu orang yang menarik perhatian kami. Ia ditugaskan di suatu daerah yang cukup jauh. Untuk ke Puskesmas dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dengan menumpang ojek dari desa tempat ia bertugas. Jadi kalau ada pertemuan di Puskesmas seperti hari ini, dia harus datang satu hari sebelumnya dan menginap di rumah teman atau bahkan di Puskesmas. Wajahnya cukup menarik, dan tutur sapanya menunjukkan kecerdasannya.

Tanpa dinyana, sang bidan dengan tanpa ragu menimpali pertanyaan-pertanyaan kami dalam bahasa Inggris yang cukup bagus. Saya sangat kagum. Damian duduk terhenyak. Kaget. Gadis yang bertugas di ujung gunung ini mampu berbahasa Inggris dengan baik! Jadilah pembicaraan kami semakin lancar adanya. Lebih jauh ia bercerita bahwa selepas dari SMA ia masuk pendidikan ‘crash program’ bidan 1 tahun. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 selepas masa kontraknya selesai.

Bidan di desa dikontrak selama 3 tahun. Kebanyakan dari mereka hanya diberi bekal pendidikan kebidanan selama satu tahun, walaupun normalnya adalah setingkat D3. Namun karena mengejar program penempatan bidan di Desa, diadakanlah crash program tersebut. Jadi, sebenarnya bekal mereka masih minim sekali. Pengalaman ‘hands on’ membantu proses melahirkan belumlah didapat dengan jumlah yang memadai selama di pendidikan. Jadilah mereka terpaksa harus ‘learning by doing’ di tempat tugasnya.

Setelah selesai sesi wawancara tidak terstruktur siang itu, kami berangkat ke sebuah desa yang terletak kira-kira 30 menit perjalanan mobil dari Puskesmas tersebut. Melekat di bibir sungai, ada sebuah balai pertemuan milik desa tersebut. Di sisinya, ada kamar kecil dilengkapi dapur dan kamar mandi, tempat salah seorang Bidan tinggal.

Jadilah kami ngobrol di sana, mengamati ‘first hand’ kehidupan bidan di desa yang sebenarnya. Sang bidan, yang kebetulan sama sekali tidak pandai berbahasa Inggris, dengan senang hati curhat pada kami menjelaskan suka duka dan seluk beluk profesi dan kehidupannya sebagai bidan di desa.

Bidan di desa, dengan pendidikan yang cukup tinggi untuk ukuran pedesaan, umumnya menjadi perhatian pemuda di kampung. Tidak sedikit cerita adanya bidan yang diminta menikah dengan pemuda setempat, atau menjadi istri muda kepala desa. Semuanya menjadi bagian dari dinamika kehidupan mereka.

Paraji, dukun, dan mantri kampung juga menjadi bagian dari tantangan pekerjaan mereka. Maklum, biasanya para penyedia jasa kesehatan tersebut sudah lama berada di sana dan menjadi tumpuan harapan masyarakat umum. Dengan adanya bidan maka sedikit banyak mereka merasa ‘terancam’ keberadaannya.

Di sela obrolan kami, pisang goreng hangat yang baru dimasak di dapur menyertai sore itu. Damainya suasana, sambil mata memandang aliran sungai coklat di belakang rumah. Sang bidan terus bercerita tentang kehidupannya, pekerjaannya, dan harapannya.

Menjelang maghrib, kami harus kembali ke Banjarmasin, masih beberapa jam perjalanan dari sana. Malamnya, aku tidak bisa tidur nyenyak. Membayangkan seorang bidan yang harus sakit pantatnya 4 jam duduk di bangku ojek, dan seorang lagi yang pasti sibuk menepuk nyamuk pinggir sungai. Tempat tidur empuk hotel kami yang ongkos semalamnya hampir setengah dari gaji bidan sebulan tidak mampu membantu tidurku.

Umar - 1 diantara 35
Tadi siang saya kedatangan salah seorang mahasiswa, Umar namanya, asal Nigeria. Dia baru beberapa kali ketemu saya sebelumnya. Dua kali di kampus dan beberapa kali di Masjid dekat kampus.

Dia sedang duduk di ruang tunggu ketika saya sapa namanya. Dia agak kaget dan ketika kemudian kami ngobrol-ngobrol lebih lanjut dia berkata, “I was surprised that you knew my name, we just met several times”. Kebetulan saya memang pelupa akan nama orang, apalagi mahasiswa yang jumlahnya bejibun. Tapi nama dia kok gampang diingat, jadi saya ingat nama dia. Seriusnya, kadang saya lupa nama kakak-kakak saya sendiri, padahal jumlahnya cuma 6 orang saja.

Si Umar ini menimpali: “Two brothers and four sisters are not much you know, you should have no problem at all remembering their names”. Saya senyam-senyum saja mengingat kadang memang kalau sedang “error” memang saya lupa nama-nama orang…he…he….

“I have 35 brothers and sisters. And I remember them all”, timpalnya.

Saya agak terperanjat. “35? How come? From the same father?”
“Yes, from one father”, katanya.

“From how many wifes?
“Four”

“Oh, so in average one mother has 9 children then”.
“My mom has 11″.

Amazing Family

Klara - Climber, Tour Guide, and Doctor

Klara berasal dari Republik Ceko (Czech Republic). Cantik, tinggi, dan kerap kali mengenakan pakaian yang agak ‘mengundang’.

Dia adalah seorang dokter. Sebelum meneruskan kuliah, dia bekerja di Pakistan sebagai volunteer di sebuah International NGO. Dia sedang berlibur di Inggris ketika ia bertemu beberapa orang yang hendak meneruskan kuliah di sini. Klarapun tertarik dan ia ikut mendaftar. Jadi sebetulnya ia tidak ada niat untuk bersekolah pada awalnya.

Klara orangnya cukup kritis. Kuliah pertama kali ia men-challenge saya. Agak gelagapan juga saya ditanya demikian kritis oleh dia, tapi jurus ‘angsa mengelak serangan elang’ pun saya kibaskan….he…he….

Kemudian saya tahu kalau hobi Klara adalah Rock Climbing. Puncak-puncak gunung tinggi di Eropa sudah dijelajahinya. Demikian pula dinding-dinding terjal terkemuka di pegunungan Alpen. Strong girl.

Barusan saya terima email dari Klara. Masa liburan summer ini dia manfaatkan sebagai tour guide sebuah perusahaan travel. Ia mengantar turis-turis keliling negara-negara eropa. Ia berjanji mau mengirimkan postcard buat saya.

Amazing Girl.

Sally - Director, Professor, and Mum
Sally adalah direktur lembaga tempat saya bekerja dulu. Stafnya ada sekitar 35 orang, terdiri dari beberapa professor, banyak PhD, dan staf-staf lainnya. Dari sekian banyak staf ini, hanya dua yang laki-laki. Saya dan Richard. Saat saya memutuskan untuk pindah kerja, hanya tinggal Richard laki-laki yang bekerja di sana.

Sebagai direktur, Sally tentu sangat sibuk. Dari pagi sampai petang. Dari rapat, mengajar, membimbing mahasiswa, sampai mengkoordinasi stafnya. Apalagi ia orang yang sangat memperhatikan kebutuhan anak-buahnya. Pada saya, Sally sangat baik sekali. Saat meeting appraisal pekerjaan saya misalnya, kami bicara panjang lebar mengenai banyak hal. Saya sangat terbuka padanya karena ia adalah orang yang sangat mendengarkan keluhan stafnya, dan ia berupaya membantu semampunya.

Pekerjaannya tentu saja sangat stressful. Ia harus bisa mendapatkan cukup project setiap tahunnya untuk mencukupi target yang ditentukan oleh pimpinan universitas. Selain untuk membiayai gaji anak buah dan kebutuhan kantor lainnya, unit kami adalah unit ‘cash cow’ yang diharapkan menjadi motor penggali dana bagi universitas.

Sally juga seorang Professor. Artinya dia sangat mumpuni dalam bidang akademis. Kalau lihat dari CV-nya dia memulai dari profesi yang jauh dari rute menuju profesorship. Awalnya dia adalah Health Visitor, kemudian beralih menjadi pengajar, melanjutkan sekolah, sampai kemudian mencapai gelar professor pada usia 45-an. Prestasi yang membanggakan tentunya.

Sally adalah seorang Ibu juga. Ia berputri dua, sudah hampir besar dua-duanya. Setiap menjelang sore, Sally berpikir hendak memasak apa untuk makan malam suami dan dua putrinya. Saat ia terpaksa terlambat pulang, ia harus menelepon suaminya minta tolong memasukkan ayam ke dalam oven. Saat musim semi tiba, giliran rumput halaman belakang rumah yang dipikirkan. Saat putrinya hendak ujian, sang ibupun turut cemas memikirkan.

Amazing (ex) Boss……

Lebih dari tiga puluh tahun lalu, saat usia baru lepas balita, saya mulai ikut kegiatan Pramuka. Saat itu saya masuk Pramuka Siaga, kategori termuda dalam gerakan Pramuka. Gugus depan kami bernama Dharma Cempaka, dengan nomor Gudep 617-618.

Setiap Minggu sore, pukul setengah empat saya pergi dengan berseragam pramuka ke tempat latihan kami di pinggir sungai belakang kompleks. Mulai dari upacara pembukaan, kegiatan, sampai acara penutupan menjelang maghrib tiba. Hampir semua anak di kompleks kami ikut bergabung dalam kegiatan Pramuka di sana.

Salah seorang kakak pembina kami bernama Sunarwan. Kami memanggilnya dengan panggilan ‘Kak Narwan’. Selain kak Narwan, ada juga kak Marmin, kak Rahmat, dan satu-dua pembina lainnya. Sayangnya saya sudah lupa nama-nama yang lainnya.

Kak Narwan bertanggungjawab pada kami, kegiatan pramuka Siaga. Kegiatan Pramuka kami sangat sederhana. Tidak macam-macam. Satu hari kami berlatih berbaris. Lain hari bermain kacu (dasi) pramuka, saat lain kami masak-memasak.

Kak Narwan selalu hadir tepat waktu. Dengan sepeda ontelnya beliau datang dari rumahnya di kawasan kemayoran ke tempat latihan di Cempaka Putih. Kadang kalau saya malas pergi berlatih Pramuka beliau datang menghampiri saya ke rumah dan mengajak saya pergi dengan menggonceng sepedanya.

Tahun demi tahun berlalu, dan setiap akhir pekan hampir tidak pernah lepas aku hadir di latihan Pramuka. Aku lalu mengajak teman-teman dari sekolahku untuk ikut berlatih Pramuka di sana. Walau di sekolah kami juga bergabung dalam kegiatan Pramuka sekolah, di hari Minggu kami berlatih kembali di Dharma Cempaka. Lama kelamaan, jumlah anggota Pramuka kami lebih banyak yang berasal dari kawan teman sekolahku dibanding anak-anak dari kompleks kami.

Saat kami mulai beranjak besar, kamipun ‘naik kelas’ ke kelompok Penggalang. Kegiatannya mulai agak lain sifatnya. Tapi semuanya masih bersifat ‘fun’ yang positif. Karena jumlah pelatih kami makin berkurang jumlahnya (kak Rahmat meninggal dunia, kak Marmin aktif di tempat lain), kak Narwan kemudian menjadi tulang punggung pelatihan Gugus Depan kami.

Sampai saat terakhir aku masih aktif di gerakan Pramuka 11 tahun kemudian, gerakan Pramuka sudah tidak banyak lagi pamornya di kalangan anak-anak dan remaja. Mungkin ada banyak kegiatan lainnya yang mereka lebih minati.

Namun kak Narwan masih rajin datang setiap akhir pekan walau jumlah yang datang makin sedikit. Memang ia mendapat honor dari pengurus Kompleks, tapi jumlahnya aku yakin sangat jauh dari memadai. Aku tahu honornya sangatlah minim, bahkan nyaris bagai kerja sukarela. Namun ia selalu tersenyum dan bersemangat melatih kami.

Saat gerakan Pramuka kami sudah tinggal nama karena tidak ada lagi pesertanya, kak Narwan masih rajin menyambangi kami. Masih dengan sepeda ontel tuanya, tanpa diminta beliau aktif mengirimkan majalah ke-Pramukaan ke rumah kami masing-masing. Sampai tidak enak hati kami jika mendapat kiriman dari beliau. Setiap Lebaran kami selalu mendapat kartu lebaran, atau beliau datang langsung berkunjung. Kamipun kadang membalas dengan mengirimkan parcel saat Natal, mengingat beliau adalah pemeluk agama Kristen.

Terakhir saya bertemu beliau sekitar 5-6 tahun yang lalu saat pulang ke Indonesia dan menyempatkan diri bertamu ke kediamannya. Masih di gang sempit kawasan padat penduduk di bilangan Kemayoran. Sayang waktu itu beliau tidak ada di rumah, pergi kerja sebagai Satpam di bilangan Menteng, masih dengan sepeda ontel tuanya.

Saat ini, lebih dari 30 tahun saya sudah mengenal kak Narwan. Entah kenapa saya selalu merasa berhutang budi pada beliau.

*Aang, Anton, Arfian, Irfan, Wawan, Dodo, Taufik, Adi & Abi. Kemana kamu semua? Reuni-an yuk……

Yes, it is our story.

We as a family first came to the UK in 2003. We live in an enclosed University owned accomodation in Norwich. All of our neighbours were postgraduate students. We made good friendships with our neighbours, people from different nationalities.

Our next door neighbours was an Egyptian Family. Mahmoud and his wife was very nice and we helped each other. When he finished his study, we helped them packup, cleaned out his house, and put their belongings in the car bound for Heathrow airport. Our other neighbours were Malaysians, Japanese, Israelis, Nigerians, Mexicans, Germans, Finnish, and British. Our best friends were the Talib’s family from Malaysia. They shared our sadness and also happiness.

Unfortunately, near the end of the year 2004, we had to move on. I got a job offer in Hertfordshire and we need to move closer to the area. After a tireless house hunting, we opted to rent the cheapest house available close to my office. It was a two bedroom flat in St Albans, about 15 minutes drive to my office in Hatfield. The house was very cold (no carpet on first floor, heavily worn and very filthy carpet on second floor, and no double glazed windows), we literally have to use thick clothing indoors. But we had to move in, and fortunately, our children accepted and did not complain about anything. That was our second house move.

We only lived in that flat for 8 months. I then got a mortgage offer to buy a house for a 25 year period from a national bank, and as the area we live at that time was so expensive, we decided to buy the house in Sandy, about 32 miles (more than 50 kms) from St Albans. We then moved there.

What a beautiful feeling we had when we moved in into our own house. It was literally empty house though as we did not have any furniture at all at that time. Mainly through E-bay then we bought our household contents - from chairs to fridge. We also attended an auction house in St Albans to get bargain goods. We collected and transported everything ourselves. I rent a van for several weekends and collected the bunk bed near Colchester (Essex), the sofa in Baldock (Hertfordshire), and the Fridge and Washing Machine in Daventry, near Coventry.

We commuted every day, all of us. We deliberately did not move our children education near home. They continued their schooling in St Albans. I worked in Hatfield, and my wife worked in Welwyn Garden City. All within 10 miles distance or so. Hence, each morning we left home together, I drove and we chatted all the way down to St Albans area. In the afternoon, my wife would take our children from school and later took me from my office.

We lived in that house for only one and a half years. Our fourth house move was required when I got a chance to step into my next professional career. The choice was to move directly closer to my new job location or I temporarily rent a room over there. We decided to sell the house and rent a house back in St Albans to get close to our children school and my wife’s place of work. We planned to stay in St Albans for 6 months or so.

I rented a room in Wolverhampton, just next to the Mollyneux Stadium (Wolverhampton City FC), and a 10 minutes walk to my new office. I use the room from Monday to Friday, and I go back to St Albans every weekends.

Now it’s almost the time to move closer to my office. It would be summer, hence school transfer to my children would be easier. I’ve been looking for a house to rent in Wolverhampton and have some ideas already on which one to rent.

If we are successfully moving house to Wolverhampton, it would be our fifth house in the five years we’ve been here in the UK. However, the move to Wolverhampton would be subjected to one particular thing that still on the pipeline. Please wait for a further news.

Kemarin 25/06/07 saya dapat kesempatan bertemu Dr. R.M Marty Natalegawa, duta besar RI untuk Kerajaan Inggris dan Republik Irlandia. Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan dan laporkan selaku pengurus ICMI London dan KIBAR kepada beliau selaku ‘pengemong’ warga Indonesia di Inggris. 

Saya pribadi sangat mengagumi beliau. Di usianya yang masih relatif muda, beliau sudah dipercaya memegang amanah yang sangat berat, yaitu menjadi wakil pemerintah Indonesia di negara superpower seperti Inggris ini.  Daya analisis, kemampuan beliau berdiplomasi dan mengungkapkan pengetahuan dan pandangannya secara verbal sangatlah mengagumkan. 

Namun demikian, beliau tetaplah rendah hati dan siap diajak bicara. Di luar kapasitas beliau sebagai pejabat negara, seringkali beliau juga bercanda pada kami warga Indonesia yang sedang berada di Inggris ini. Beberapa bulan lalu misalnya, selepas sebuah acara resepsi di KBRI, saya dan teman-teman menyempatkan diri berfoto di depan podium Pidato di KBRIruang resepsi sambil bergaya seakan-akan saya sedang berbicara di sebuah forum resmi kenegaraan (di podium itu ada gambar garuda pancasilanya). Tak dinyana ketika itu beliau belum keluar dari ruangan dan melihat saya sedang bergaya di depan kamera. Beliau kemudian mendatangi saya, dan (diluar dugaan) malah menertawakan saya sambil berguyon ‘Lain kali Anda saya minta bicara beneran deh di situ’ katanya….. saya tersenyum-senyum malu mengingat ada banyak staf KBRI dan tamu undangan lain yang masih ada di sana.

Kembali ke cerita pertemuan kami kemarin, pak Dubes dengan ramah dan penuh perhatian mendengarkan pemaparan dan laporan kami. Setelah itu beliau mengemukakan pandangannya pada hal-hal yang kami sampaikan secara panjang lebar. Pertemuan yang biasanya hanya dijadwalkan sekitar 30 menit ternyata berlangsung sampai dua jam. Beliau terlihat antusias berdiskusi dengan kami dan bertukar pandangan yang tentu saja sangat kami hargai dari beliau.

Menjelang pukul 12, terdengar sinyal dari sebuah handphone yang menandakan masuknya sebuah sms. Ternyata itu berasal dari handphone beliau. Nampaknya itu adalah sms dari sekretaris beliau yang mengindikasikan bahwa ada hal lain yang perlu dikerjakannya.

Saat itu saya kemudian memperhatikan handphone yang beliau pegang. Handphone Nokia tipe yang sangat sederhana. Tidak ada kameranya. Tidak ada macam-macamnya.

Dalam hati saya berpikir, masak Dubes handphonenya sederhana banget sih? Nggak mungkin kan beliau tidak punya budget untuk membeli handphone yang lebih ‘upmarket’?

Pikiran saya lalu melayang ke rapat-rapat yang dulu sering saya hadiri ketika di Jakarta. Rapat terakhir yang saya hadiri adalah sebuah pertemuan/diskusi dengan beberapa perwakilan manajemen rumah sakit, akademisi, dan staf departemen kesehatan. Saat itu, semua orang rasanya saling berlomba mengeluarkan handphone masing-masing. Semuanya tipe terbaru. Beberapa mengeluarkan Nokia Communicatornya. Dering handphone dengan berbagai macam nadanya kerap memenuhi ruangan.

Kontras sekali pertemuan itu dengan kondisi yang saya temui dari pak Dubes. Beliau hanya menggunakan handphone yang sangat sederhana, dan digunakan hanya untuk keperluan yang sederhana. 

Keterkaguman sayapun bertambah.

 

 

 

By: Rana Rofifah

One day Rana saw a cat. The cat was black and also small.

And the cat was very very cute and cuddly. Rana bought the cat home. Now the cat was Rana’s pet. Rana called the cat Belle. One day Rana and her cat Belle went to the park. When they got there they played fetch. When belle got the stick she was lost.

She was lost in some big trees and some ponds too. The park was very very big so that was how Belle got lost. Then Rana knew belle was lost.

A minute later a man saw Belle. Belle did not now what the man was going to do to her. She was very very scared. But the man picked Belle and the man said I need to find your mum, she must be in this park too. Then the man saw Rana say where is my black cat she said the man heard Rana so he got Belle and gave her to Rana. So that was how I got belle back.

THE END

Sebuah pesawat Garuda rute mengalami kecelakaan dan terbakar di Bandara Adisutjipto Yogyakarta pada tanggal 7 Maret 2007 yang lalu. Dua puluhan penumpangnya ditemukan tewas terbakar, sedangnya seratus sepuluhan lainnya selamat.

Hati saya miris hebat.

Belum lama sebelum kecelakaan ini sebuah pesawat Adam Air hilang tak tentu rimbanya di perairan pulau Sulawesi pada bulan Januari 2007. Hanya sepihannya yang berhasil diketemukan di pantai dan diombang-ambing ombak. 96 penumpang dan 6 awaknya hilang bersama pesawat Boeing 737 berusia 17 tahun itu.

September 2005, sebuah pesawat Mandala Airlines jatuh di kawasan padat penduduk dekat bandara Polonia Medan. 104 penumpang pesawat tewas, disertai 39 orang lain yang menjadi korban tertimpa reruntuhan pesawat dan kebakaran yang menyertainya.

Masih terngiang pula dalam ingatan kita, tragedi yang menimpa pesawat Lion Air di Adi Sumarmo Airport Surakarta. Pesawat mendarat tidak sempurna dan terbakar. 25 orang termasuk sang pilot meninggal dunia, dari keseluruhan 146 penumpangnya.

Miris hati bertambah-tambah.

Kembali terngiang ingatan kejadian limabelas tahun silam ketika suara seorang kakak ipar saya mengabarkan dari ujung telepon bahwa pesawat yang ditumpangi seorang kakak kandung saya hilang di tengah lebatnya hujan sore hari sekitar Bandara Pattimura Ambon. Pencarian segera dilakukan.

Besok harinya baru didapatkan laporan dari penduduk sekitar tentang adanya penemuan reruntuhan pesawat dan mayat manusia di seputar bukit Liliboi, sekitar 15 km dari airport. Evakuasi segera dijalankan, dengan harapan masih ada penumpang yang bisa diselamatkan. Namun sayang, kondisi pesawat sudah hancur berantakan. Tidak ada yang selamat dari seluruh 63 penumpang dan 7 awak.

Kami yang ada di Jakarta, menunggu dengan hati hancur. Kakak laki-laki saya yang ikut dalam penerbangan ini punya dua anak yang masih kecil-kecil. Saya yang bertugas menyampaikan berita duka ini ke rumah mereka di Bogor. Ketika itu tidak ada telepon di sana, jadi saya harus menyampaikan langsung dan menjemputnya.

Demikian pula Ibu dan Bapak. Ketika itu beliau berdua baru pulang dari perjalanan lama ke luar kota. Ketika baru masuk rumah, segera disampaikan berita ini pada mereka berdua. Sedih tidak terkira.

Dua hari setelah pesawat jatuh, identifikasi korban baru dilakukan. Itupun tidak semua bisa ditemukan. Kami pasrah saja menerima.

Tiga hari setelah pesawat jatuh, peti yang berisi jenasah dikirimkan ke masing-masing daerah asal korban. Petinya dibuat terburu-buru. Asal jadi saja. Di Bandara Halim Perdana Kusuma, jenasah asal Jakarta diserahterimakan pada keluarga masing-masing. Beberapa keluarga hanya mendapatkan peti jenasah berukuran sangat kecil, yang tidak sesuai dengan kondisi sang korban ketika hidup. Pemandangan yang sangat memilukan.

Malam harinya jenasah kakak saya tiba di rumah orangtua kami. Penguburan jenasah secara darurat dilakukan esok paginya. Tidak seperti lazimnya penguburan biasa, peti mati yang dibungkus plastik meja makan berlapis-lapis untuk mengurangi aroma menusuk langsung dikubur begitu saja.

Adalah berat kehilangan orang yang dekat dengan kita. Apalagi jika kehilangan dengan cara seperti ini.

Kira-kira dua tahun setelah musibah itu, saya berkesempatan menengok tempat jatuhnya pesawat Mandala yang ditumpangi kakak saya itu. Perjalanan dari kota Ambon menuju desa Liliboi harus melalui jalan kecil berliku menyusur pantai teluk Ambon yang cantik. Beberapa sungai tanpa jembatan harus dilalui. Ikan dan udang dapat terlihat dengan jelas bermain-main di dasar sungai.

Dengan diantar beberapa penduduk lokal, kami mendaki bukit Liliboi. Tidak mudah mendakinya. Sampai menjelang puncak, kami melihat sisa-sisa kecelakaan ini. Tanah yang menghitam akibat api yang membakar pesawat masih terlihat di beberapa tempat. Pohon-pohon yang meranggas masih bisa ditemui. Bahkan masih tersisa potongan kain yang tersangkut di ujung pohon-pohon tinggi. Serpihan-serpihan pesawat masih berserak di sana sini. Bahkan kami masih menemukan sekeping jam tangan tanpa tali yang jarumnya berhenti tepat pada waktu pesawat jatuh kebumi.

Pemandangan dari lokasi musibah sangat asri. Bukit-bukit cantik dengan suara burung Nuri terbang berkelompok mengisi sore hari. Pantai dan biru teluk Ambon terlihat di kejauhan. Sayang mengapa tragedi terjadi di tempat ini.

Kalau mengingat musibah yang menimpa keluarga kami, sangat terbayang apa yang dirasakan oleh mereka yang mkehilangan akibat musibah Garuda, Adam Air, Mandala dan Lion Air. Kalau menghadapi musibah Tsunami, Gempa, dan naturan disaster lainnya, kita tidak bisa menyalahkan alam yang mengakibatkannya. Itu semata cobaan Allah. Walau kita bisa mencoba meminimalisasi resiko kerusakan dan fatalitasnya, sebagian besar kita tetap harus menerima apa yang terjadi.

Tapi kalau tragedi yang terjadi adalah karena kurang awasnya kita mengelola sektor transportasi dengan baik, maka pasti ada yang tidak beres dalam pengelolaan bisnis transportasi. Kita mengabaikan aspek ’safety’? Sangat mungkin rasanya.

Hati dan doa kita bersama mereka yang kehilangan, mereka yang bersedih atas musibah ini.

 

Oleh: Al Shahida

Sepertinya Ramadhan kali ini sungguh istimewa buatku. Anjuran dan peringatan acap kudapatkan dari seorang sahabat untuk terus meningkatkan qualitas ibadah Ramadhan. Interaksi baik via telepon atau sms dan email kerap menjadi andalan dari seorang Hilaal yang mencoba mengajak kami untuk banyak berbuat ma’ruf baik secara horizontal dan vertical. Sesuai dengan namanya ‘Step To Allah - Jalan Menuju Allah, sebuah peguyuban yang kebanyakan jama’ahnya para muallaf dari berbagai warna dan bangsa, etnis serta latar belakang.

“Ingat malam ini adalah malam 21′ ujarnya lewat email. ‘Ayoo kita mulai mencari sang Lailatul qadar”. Kami, masing masing mencatat tanggal-tanggal ganjil dikalender Ramadhan, dimalam kami berupaya untuk melakukan ibadah ekstra. Hingga pada malam 27 tentunya.

Jauh sebelum Ramadhan, yakni bulan Sya’ban ia telah mengajak teman teman muallaf seperti James, Simon, Aqeel, Paul, Yana untuk melakukan latihan shaum dibulan Sya’ban. Setiap ia pergi ke masjid ia selalu membawa teman baru, pemeluk baru untuk ikutan gabung di pengajian yang sederhana ini. Begitu banyak cara disela sela kesibukan dan kehidupan yang merenggut waktu ini untuk meraih pahala dan ridho Allah.

Read the rest of this entry »

Stepping my feet to the First Capital Connect service to London this morning, I felt different. I wore a tie and suit. That’s different. I am not usually going to work using a formal attire, but rather using a more relaxed shirt or even casual shirt.

It was Friday morning rush hour train service to London, one of the most important city in the world. It was still a relatively empty train as she was just started its journey two stations earlier. I joined the score of commuters starting their journey today either to work, or do something important in the country’s capital. Men in dark suits and women in blazers or chick clothing flocked the train. Occasionally you’ll see young men in shirts and shorts, and girls in fancy skirts. Some brought their hot coffeem newspapers, novels, laptops and ipods to accompany them spending the journey in this morning midst.

….baca selanjutnya

Nama ibuku sangatlah sederhana. Amat sangat sederhana. Aku juga tidak tahu mengapa sampai kakekku (bapak dari ibuku) memberi nama yang sangat sederhana itu. Mungkin agar hidupnya selalu diberi kemurahan oleh Tuhan, atau apalah aku tidak tahu persis.

Ibuku tidak berpendidikan tinggi. Jangankan kuliah atau SMA, sekolah dasarku ia hanya mengikuti selama beberapa tahun saja. Maklum, waktu beliau kecil sekolah masih menjadi sesuatu yang sangat berat baik dari sisi akses maupun biaya. Waktu aku sudah pandai membaca, ibuku masih tertatih-tatih membaca suratkabar. Aku kadang ikut membantunya membaca.

Waktu aku belajar mengaji, ibuku diam-diam ikut belajar juga. Ia belajar sendiri sedikit-sedikit. Tapi dengan semangatnya yang kuat, akhirnya beliau mampu mengaji dengan baik. Bahkan jauh lebih baik dan lancar dari aku.

Ibuku jarang sekali mengeluh. Apa yang diterima dari bapak selalu diterima dengan sabar dan baik. Ibu juga jarang sekali memperlihatkan rasa sedihnya. Hanya pernah satu kali aku ketika masih kecil melihat ibu menangis sendirian di kamar. Aku datangi beliau dan coba menghibur tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Akhirnya aku cuma duduk menunggu beliau selesai menangis saja ketika itu.

Ibu jarang mengeluh sakit. Paling penyakit yang dikeluhkannya adalah varices di kakinya, dan ketika usianya telah bertambah senja adalah pengapuran di pergelangan kakinya. Teman-teman dan saudara hanya sedikit yang tahu tentang apa yang dikeluhkannya. Bahkan sampai saat sakit berat, ia hanya bercerita bahwa ia hanya sakit kecapekan saja.

Menjelang penghujung tahun lalu, aku telepon ke rumah ibu. Dijawab oleh orang yang menerima telepon, bahwa semua orang sedang ke rumah sakit. Ibu dirawat katanya. Aku kaget tidak kepalang. Ibu kan jarang sakit pikirku. Saat aku tanya kemudian harinya, kakak-kakakku dan bapak hanya memberi tahu bahwa ibu kecapekan jadi harus dirawat di rumah sakit. Badannya hangat terus. Demikian cerita mereka. Setelah beberapa hari dirawat, ibu dibolehkan pulang. Akupun lega.

Tidak berapa lama kemudian, ibu harus dirawat kembali di rumah sakit. Beliau tidak mau makan katanya. Badannya tambah lemah. Suhu badannya agak tinggi dan tidak turun-turun. Kalau aku menelepon ibu langsung ke rumah sakit, beliau hanya bilang badannya lemas. Nggak mau makan. Tapi Ibu nggak apa-apa kok kata beliau.

Menjelang liburan Natal, saat aku telepon Jakarta, kakakku membisikkan sesuatu yang menggetarkan hatiku. Ibu sakit Leukemia katanya. Aku lemas dan tidak bisa berkata-kata. “Beneran mbak?” kataku. Kakakku menjawab bahwa itulah diagnosa saat itu, tapi untuk kepastiannya masih menunggu hasil laboratorium. Namun ibu disarankan untuk langsung diberi chemotherapy beberapa hari kemudian.

Aku langsung ceritakan berita ini pada istriku. Ia langsung berkata padaku: “Mas, kamu pulang saja langsung. Ini persis seperti bapakku”, katanya. Mertuaku yang laki-laki memang dulu juga meninggal karena Leukemia.

Secepatnya aku cari tiket untuk menjenguk ibu di Jakarta. Aku pulang tanpa memberi tahu bapak dan ibu karena pasti ibu melarang kalau tahu aku mau pulang hanya untuk menjenguk beliau. Sampai di Jakarta, hari sudah larut malam aku langsung masuk ke kamar ibuku. Melihat aku datang, ibu tersenyum walau ia terlihat lemah sekali. Ia mencoba bangun menyambutku.

Setelah beberapa hari di Jakarta, aku mengajak Ibu meminta pandangan alternatif dari dokter spesialis darah lain kenalanku. Dengan membawa hasil pemeriksaan laboratorium beberapa minggu terakhir kami menemui dokter itu. Sang dokter yang baik memeriksa Ibu dengan telaten sambil bercanda sedikit. Di akhir pemeriksaan beliau menulis di secarik kertas dan disodorkan kepadaku tanpa melalui ibu. “Leukemia Myeloblastic Akut”. Demikian tulisan yang ada di kertas itu.

Aku serahkan kertas itu ke kakakku (yang kebetulan dokter juga) yang juga menemani Ibu di ruang itu. Iapun mengangguk lemah dan pasrah. Dokter spesialis darah itu melanjutkan obrolan dengan Ibu. Tidak ada satupun tindakan besar yang direkomendasikannya. Tidak juga Chemotherapy yang umum dilakukan untuk pengidap penyakit ini. Apalagi Bone Marrow Transplant. Tidak disebut-sebut sama sekali.

Ibu tidak perlu dirawat, boleh makan apa saja yang tidak terlalu merangsang pencernaannya, dan tidak perlu sering-sering kontrol ke dokter. Saran yang cukup mengejutkan. Setelah aku pelajari sendiri, di negara majupun untuk mereka yang sudah berumur di atas 60 tahun Chemotherapy untuk menangani Leukemia memang tidak dianjurkan. Hanya perawatan paliatif, menjaga kualitas hidup saja yang akan diberikan pada Ibu.

Akhirnya Ibu dirawat di rumah oleh keluarga saja. Selain mendapat vitamin dan makanan tambahan dari dokter, Ibu juga minta diantar untuk mendapat pengobatan alternatif. Kebetulan adik bapakku pernah terkena stroke dan setelah itu dirawat oleh seorang akhli pengobatan tradisional di kawasan Bekasi. Ibu minta diantar ke sana dan kami turuti. Walau aku kurang ‘sreg’ dengan sang juru pengobatan, Ibu merasa cocok dan minta terus diantar ke sana secara rutin.

Pernah juga kakakku membawa seorang akhli pengobatan dari Surabaya. Ia ini seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan, berjilbab, dan berasal dari kawasan Indonesia Timur. Kakakku sangat percaya pada dia karena salah seorang familinya yang pernah dinyatakan tidak tertolong oleh dokter sembuh setelah diobati oleh akhli pengobatan ini. Ternyata ia hanya pembohong besar.

Suatu ketika Ibu kadar Hb dan Lekosit dalam darahnya menurun drastis. Setelah mengkonsultasikan dengan kakakku yang dokter, kami putuskan untuk minta ditransfusi darah di rumah sakit. Jadilah beliau dirawat selama beberapa hari, dan kami minta sumbangan darah dari sepupuku yang kebetulan bergolongan darah yang sama. Aku puas menunggu dan merawat Ibuku, mencoba membalas kebaikan beliau padaku.

Ibu tidak lama sanggup bertahan. Kurang dari dua bulan sejak didiagnosa menderita penyakit fatal ini, beliaupun pergi menghadap sang Khalik. Sayang menjelang saat terakhirnya aku tidak bisa menungguinya. Seminggu sebelum beliau meninggal, aku pergi kembali ke tempat tinggalku sekarang, pertama karena ada komitmen untuk menghadiri sebuah acara pengumpulan dana di London dan kedua juga aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan istri dan anak-anakku. Saat aku pamit, aku cium kedua tangannya sambil mohon ampun atas segala kesalahanku. Aku sampaikan padanya untuk tidak ragu memanggilku pulang ke Jakarta kalau beliau ingin aku pulang. Aku takut kehilangan ibuku.

Sayang beberapa hari kemudian, kesehatan Ibu menurun. Ibu kembali tidak mau makan. Semangatnya menurun. Rencana kunjungan rutin ke dokter langsung diubah menjadi rawat inap. Kesehatannya terus menurun. Aku segera mencari tiket pulang ke Jakarta, dengan pesawat seadanya. Sayang, Ibu tidak bisa menungguku. Saat kami hendak boarding pesawat KLM di bandara London Heathrow, suara kakak iparku di ujung telepon mengabarkan bahwa Ibu sudah tiada. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Aku dulu dulu sempat punya keinginan untuk bisa memandikan jenasah Ibuku sendiri, sebagai tanda balas budiku padanya. Namun jarak yang memisahkan aku dengan ibu terlalu jauh untuk dapat ditempuh dalam waktu singkat sebelum jasad Ibu dikebumikan.

Sebelum meninggal dulu, saat aku, kakakku yang tertua, serta Bapak menemani Ibu nonton televisi, Ibu sempat menyampaikan agar jika meninggal kelak jasadnya untuk dikuburkan di kampung halamannya ketika kecil di tanah kapur Gunung Kidul. Ia pun minta agar jika Bapak meninggal kelak, bisa dikuburkan pula di dekatnya.

Untungnya aku masih bisa menemui jasad Ibuku sebelum dikuburkan. Wajahnya yang memutih masih sempat aku pandangi lama-lama. Maafkan aku Ibu. Aku belum bisa membahagiakanmu. Aku masih harus banyak belajar tentang dunia ini. Aku masih banyak belajar darimu.

Aku melompat masuk ke liang lahat dari tanah basah berpasir, untuk menerima jasad Ibu untuk dibaringkan di sana. Aku elus belakang kepalanya untuk terakhir kali sambil mengucap selamat jalan. Selamat jalan Ibu. Hanya doaku yang pergi bersamamu.

Suatu malam di tengah bulan Januari, ketika malam sudah agak larut, kakak perempuanku datang bersama seorang wanita berkerudung dari Surabaya. Kutilik usia tamu itu masih muda, mungkin lebih muda dari umurku. Kakakku memperkenalkan pada kami semua siapa wanita itu. Ternyata ia ‘orang pintar’ yang sengaja diundang kakakku untuk ikut mengobati penyakit Leukemia Ibundaku. Aku tidak tahu apa istilahnya, Tabib mungkin. Tapi kata Tabib umumnya dipakai untuk pria, belum pernah aku mendengar kata Tabib dipakai pada seorang wanita. Tapi tak apalah, siapapun dia, asal dia berniat baik untuk membantu menyembuhkan Ibundaku, aku akan sangat berterima kasih.

Setelah ngobrol sedikit, sang ‘Tabib’ meminta diambilkan sebuah buku tafsir Al Qur’an. Setelah diberikan, ia mengatakan bahwa di dalam Al Qur’an terdapat sumber segala penyembuh. Ia duduk di samping bundaku, dan tafsir Al Qur’an itu diulurkan pada bunda untuk dibuka halaman manapun. Halaman yang dipilih bunda kemudian dibaca keras-keras olehnya. Dengan lancar dibacanya ‘tafsir’ surat dan ayat yang dipilih oleh bundaku dengan acak. Anehnya, ayat yang dibaca jelas-jelas menyebut penyakit bundaku dan menceritakan mengapa ia berbahaya bagi tubuh. Diulanginya proses itu sekali lagi. Ibundaku diminta untuk memilih secara acak halaman al Quran itu. Hasilnya sekali lagi menunjukkan sebuah arti ayat yang berhubungan langsung dengan penyakit Ibuku. Hening ruangan saat itu mendengar tafsir yang dibacakan sang Tabib.

Dalam hati terbersit rasa curigaku pada apa yang dikatakan sang Tabib. Setahuku, dalam Al Qur’an tidak pernah disinggung-singgung tentang penyakit kanker darah yang menghinggapi Ibundaku. Tapi kecurigaanku aku buang jauh-jauh. Masa ada orang yang berani memainkan Al Quran sih?

Apa Ibu mau diobati? Kalau Ibu bersedia dan siap saya sanggup membantu, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa”, demikian ucapnya. Setelah mendapat persetujuan dari Ibundaku dan mendapat anggukan dari bapak, mulailah ia mempersiapkan perlengkapannya.

Ibu diminta masuk kamar dan bersiap diri. Tempat tidurnya diberi alas banyak perlak plastik, ditambah pula dengan kapas berbuntal-buntal. Ibu diminta untuk dibuka bajunya dan diminta tidur miring karena akan diperiksa tulang belakangnya.  Mulanya aku tidak ingin masuk ke dalam kamar karena tidak ingin mengganggu proses tersebut, tapi kakak perempuanku malah memanggilku untuk masuk. Maklum, di keluarga kami akulah yang biasanya paling berani melihat hal-hal seperti ini.

Sang Tabib minta disiapkan gunting dan air hangat. Gunting kertas yang ada di kamar bapak aku ambil dan aku serahkan padanya. Di muka banyak orang ia kemudian mencuci gunting itu dengan air hangat sambil membaca doa-doa.

Mau diapakan ibu ini pikirku.

Sang Tabib kemudian mengajakku masuk ke kamar Ibu. Di dalam Kamar, hanya ada Ibu, si Tabib, kakakku dan aku sendiri. Sang Tabib lalu memeriksa tulang belakang Ibuku. Gunting besar itu didekatkan pada punggung ibu sambil ia terus berkomat-kamit membaca sesuatu. Setelah beberapa lama iapun berkata, “kalau sudah siap, mari kita bacakan ayat-ayat suci”. Kami yang ada di dalam kamar kemudian membacakan ayat-ayat suci sebisa kami.

Suara gunting digerakkan terdengar bergerincing ditengah heningnya kamar. Diantara tumpukan berbundel-bundel kapas, tiba-tiba aku melihat percikan warna merah menggelontori perlak dan kulit ibuku. Sepercik bau obat juga terasa di udara. Pikiranku berpikir cepat. Mana mungkin Ibuku bisa ‘dioperasi’ dengan gunting kertas itu? Gunting itu tidak cukup tajam untuk dapat melukai kulit dengan mudah. Kulihat dengan cepat raut muka Ibuku, ia juga tidak menampakkan raut muka kesakitan. Apa yang terjadi?

Lalu sepintas aku mendengar suara air bergericik, dan kulihat di balik tangan sang Tabib yang menutupi gunting dan kulit ibuku keluar ‘darah’ yang cukup deras. Sambil terus membaca ayat-ayat suci, aku kemudian terus memperhatikan proses yang dilakukan sang Tabib. Rasa curigaku bertambah-tambah.

Masya Allah. Tidak sengaja aku melihat sepucuk kepala botol dari balik tangan sang Tabib. Dari situ ternyata sumber cairan merah berbau itu. Ingin meluap rasanya kata-kata dari mulutku untuk bertanya langsung padanya tentang hal itu, tapi aku tahan sekuatnya demi menjaga peraaan ibu dan kakakku yang ada di dalam kamar saat itu.

Ini darah kotor ibu sudah saya keluarkan. Silahkan lihat sendiri darahnya. Baunyapun sudah busuk sekali karena ibu terlalu banyak minum obat”. Hah! Bohong besar itu, batinku. Kakak perempuanku mendekat dan ikut melihat cairan merah yang membasahi perlak di tempat tidur. Walau dadaku bergemuruh ingin protes, namun aku tidak mau menyakiti hati kakakku yang sedemikian percaya dan juga ibuku yang pasrah saja di tempat tidur.

Setelah selesai sang Tabib minta seluruh kapas yang bernoda cairan merah tadi dibuang ke aliran sungai. Kakak iparku segera mengemas dan membuangnya ke sungai dekat rumah.

Aku, yang sudah tidak respek lagi pada sang Tabib, segera keluar dari kamar dan mundur ke ruang televisi untuk ngobrol dengan keponakan-keponakanku di belakang. Sang Tabib, dan semua orang kemudian pindah ke ruang tamu. Aku hampir sudah tidak peduli lagi.

Aku buka Al Quran yang tadi dipegang si Tabib, dan aku cek surat yang ia sebutkan. Tidak ada sama sekali hal-hal yang diucapkan dia sebelumnya. Tidak ada tafsir tentang darah putih memakan darah merah di Al Quran. Jelas ia pembohong besar yang menjual ayat-ayat Quran demi kepentingannya sendiri.

Setelah si Tabib pulang, aku diminta masuk ke ruang tamu untuk membicarakan proses pengobatan ibu. Rupanya sang Tabib minta agar Ibu tidak diberi makanan yang bersumber dari kacang-kacangan. Mulanya aku coba menekan perasaanku untuk tidak terlalu banyak berkomentar, terutama untuk menjaga perasaan bapak dan kakak-kakakku. Tapi aku tahu kalau sang Tabib ini hanya seorang penipu. Penyakit Ibuku tidak diobati, jadi memang tinggal tunggu waktu saja kasarnya demikian. Jadi mestinya waktu yang tersisa ini dimanfaatkan untuk menyenangkan hati Ibu sebisa mungkin. Tidak tega aku melarang Ibu makan tempe, tahu dan hal-hal lain kesukaannya yang dilarang oleh si Tabib pembohong itu. Jadilah aku bicara agak keras menentang saran sang Tabib yang dibicarakan kembali oleh Bapak.

Bapak bersikeras bahwa kalau Ibu mau sembuh tentu kita harus menuruti saran si Tabib. Aku juga berkeras sampai akhirnya aku kemukakanlah apa yang aku lihat tadi semasa proses ‘operasi’ di kamar. Semuanya bohong belaka.

Di ujung mataku kulihat kakak iparku agak marah padaku. Setelah ‘rapat’ itu selesai, di luar rumah ia berkata padaku, “Harusnya kamu tadi nggak usah ngomong begitu. Aku juga tahu kayaknya dia nggak benar, tapi jangan begitu ngomong di depan Bapak. Kasihan. Bapak kan pengin Ibu sembuh”. Aku juga ingin Ibu sembuh, tapi kalau yang mengobati itu cuma pembohong besar, buat apa aku turuti kata-katanya. 

Malam itu aku tahu. Wujud luar baik belum tentu berhati baik. Orang bicara dengan Al Quran belum tentu mulia juga hatinya.

Malam itu aku tahu.

 

 

 

 

Tadi malam saya bertemu lagi dengan seorang rasis. Kali ini tidak bertemu langsung namun lewat permainan Scrabble online (http://www.isc.ro).

Setelah beberapa kali bermain, bertemulah saya dengan seorang pemain berinisial “solitaire0″. Dalam waktu 8 menit permainan kami selesai dan saya menang tipis. Ia segera menawarkan untuk bermain ulang tapi saya tolak. Pasalnya ia ingin main dengan metode ’single’ dimana seorang pemain bisa meminta server mengecek kebenaran kata yang diletakkan di papan scrable. Saya tidak senang menggunakan metode dan saya lebih senang menggunakan metode ‘void’ dimana si server secara otomatis langsung mengeceknya tanpa diminta.

Tolakan saya dibalas dengan ejekan dari si solitaire tadi. Dia menuduh saya bisa menang game scrabble tadi dengan menggunakan bantuan program Annagram yang bisa menemukan kata-kata terbaik dari pilihan huruf yang kita punyai. Tentu saja saya tidak melakukannya. Saya menang secara fair.

Saya menjawab dengan bahasa Inggris seadanya, dengan kesalahan spelling dan grammar. Lama kelamaan ejekannya berubah menjadi ejekan rasis. “Paki” katanya. Ini ejekan khas orang Inggris pada orang-orang yang berasal atau mempunyai leluhur berasal dari Pakistan. Agak panas juga saya mendengarnya, tapi karena itu saya malah ingin ‘njabanin’ si otak rongsokan ini.

Ejekan rasisnya tidak berkurang, malah bertambah dengan kata-kata kasar. Saya balas dengan kata-kata jenaka walau terus terang juga agak mengejek…he..he… kasarnya saya bilang bahwa dia yang dari kecil pakai bahasa Inggris saja tidak bisa mengalahkan saya yang bahasa Inggrisnya kacau balau….. Saya juga bilang bahwa saya bukan orang Pakistan seperti yang dia ejek, tapi orang Indonesia. Masak nggak bisa ngalahin orang Indonesia sih? he..he…..

Setelah kejadian itu saya berpikir panjang lagi. Kenapa saling ejek itu tadi terjadi ya? Awalnya kan saya hanya menolak bermain dengan memakai cara dia, tapi kenapa dia langsung mengejek dengan menggunakan kata-kata rasis?

Memang ada sesuatu yang salah di otaknya para rasis itu…….

Di hari Minggu penghujung bulan Juli lalu, kami sekeluarga bersama satu keluarga Indonesia lain di Bedford ditambah seorang kawan dari Norwich menyempatkan diri berjalan-jalan di kota Cambridge. Cuaca yang nyaman membuat cukup banyak orang memenuhi sudut-sudut kota Cambridge yang menarik.

Setelah lelah berkeliling kota menikmati suasana, kami berjalan pulang ke tempat mobil diparkir. Di sebuah lorong kecil menuju parking hall, seorang berkulit putih, bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek berjalan menyusul kami sambil menggerundel tidak jelas. Lama-kelamaan suaranya makin jelas dalam telinga kami.

F***ing illegal immigrant“, “Nigger“, “Twat” terlontar semakin keras dari mulutnya sambil sebentar-sebentar menoleh ke arah kami. Merasa dia menujukan ucapannya pada kami, sayapun berkata “Thank You, but that’s not very nice!“. Mendengar itu dia semakin menjadi-jadi, kali ini kata-kata kotor itu diucapkan keras-keras bagai menggelontorkan sampah ke tong sampah.

Panas dan terbakar hati kami mendengarnya sehingga kamipun membalas ucapannya dengan sedikit argumen bahwa kami ini bukan ilegal imigran dan seterusnya. Tapi sampah yang keluar dari mulutnya bukan berhenti namun malah semakin menjadi. Ia lalu merubah arah umpatannya ke arah umpatan pada kaum Muslim. Ungkapan rasis ini terus terang baru kali pertama saya dengar langsung dari seseorang selama beberapa tahun tinggal di UK.

Jelas sudah ia seorang rasis yang mengganggap bahwa hanya mereka yang berkulit putih saja yang pantas tinggal di bumi Inggris dan mereka yang berkulit lain, apalagi yang beragama Islam harus enyah dari tempat ini. Pola pikir ini sudah beberapa lama diusung oleh sebuah partai ultra kanan bernama British Nationalist Party (BNP). Walau tidak banyak mendapat dukungan masyarakat luas, partai ini cukup menimbulkan keresahan. Pikiran para pemimpinnya sedemikian rasis sehingga Polisi menahan serta memenjarakan beberapa pengurus terasnya.

Otak para Rasis ini mungkin letaknya bukan di kepala, tapi di telapak kakinya yang setiap hari ditekan oleh berat badan tubuhnya sehingga tidak bisa berpikir bersih dan hanya bisa mengeluarkan kotoran perut lewat mulutnya saja.

Mengingat waktu itu kami membawa putra-putri kami semua, lebih baik kami mengalah dan menghidar darinya. Kamipun berjalan memisahkan diri dari jalur yang dia ambil sambil berkata, “Please take a mirror and have a look at your face before you speak!” Bahasa kerennya, ngaca dulu deh!!!!

Orang yang dapat dengan mudah mengeluarkan kata-kata sampah dari mulutnya, pasti otaknya penuh dengan sampah pula. Orang yang berpikir bahwa kaumnya lebih baik dari kaum lainnya karena ‘memang sudah dari sononya’ pasti tidak pernah berpikir panjang tentang apa benar demikian, mengapa hal itu terjadi, apalagi bagaimana cara mengatasi perbedaan itu.

Di lain pihak, beberapa minggu yang lalu di sebuah halte bus kecil dekat sekolah anak-anak saya, ada pengalaman bertolak belakang yang saya alami. Seorang nenek berusia di atas 80 tahun berjalan tertatih tatih mencari tempat duduk untuk menunggu bus kota. Saya bergeser ke samping sedikit untuk memberi ruang yang lebih lega baginya untuk duduk. Kamipun ngobrol panjang lebar. Mulai dari cuaca sampai Hongkong. Maklum ia pernah lama tinggal di Hongkong menemani suaminya tinggal di sana beberapa puluh tahun yang lalu. Suaranya masih jelas dan pikirannya sedemikian baik disampaikan pada saya. Mengagumkan bila dilihat dari usianya yang sudah uzur.

Ditengah percakapan ia bertanya apakah saya menetap di Inggris atau hanya sementara saja sekolah di sini. Sayapun menjawab apa adanya, bahwa saya mulanya sekolah dan sekarang ini sedang bekerja mencari pengalaman di Inggris. Beliau menimpali dengan mengeluarkan pendapatnya bahwa ketakutan banyak orang akan kaum imigran yang datang ke Inggris tidaklah perlu. Inggris bisa maju juga karena pertolongan kaum imigran. Warga Inggris juga banyak yang bekerja di luar negeri atau bahkan beremigrasi ke tempat lain. Jadi apa alasan sebagian warga Inggris untuk menolak imigrasi? Obrolan kami terpaksa kemudian berhenti karena bus jurusan city centre sudah datang.

Di kota Hatfield, tempat saya kerja saat ini, sering saya dengar terjadi kasus-kasus racial abuse pada orang yang tidak berkulit putih. Kebanyakan yang sering menjadi target adalah mereka yang berparas muka Asia timur. Kota ini sebagian besar berisi pekerja kelas menengah kebawah yang tinggal di rumah-rumah sempit perkotaan. Index of Social Deprivation kota ini termasuk diatas rata-rata dari kota-kota lainnya.

Kalau kita pergi ke Supermarket di city centre, sebagian besar pekerjanya adalah kaum kulit berwarna. Hal yang cukup aneh mengingat sebagian besar penduduk kota ini adalah orang kulit putih. Kalau diselidiki lebih lanjut, ternyata sebagian besar adalah mahasiswa dari universitas tempat saya bekerja sekarang.

Mungkin ini yang menyebabkan racial abuse sering terjadi. Orang-orang kulit putih merasa lapangan kerjanya didesak oleh orang-orang kulit berwarna, yang tidak banyak neko-neko menuntut pekerjaan yang bagus dan enak. Pekerjaan manual yang biasanya diisi oleh penduduk kota yang ‘less skilled’ sekarang diisi oleh mahasiswa asing dan imigran. Mungkin pantas saja sebagian orang merasa terdesak, sehingga kemudian memunculkan perilaku rasis mereka.

Namun perilaku rasis adalah tercela. Semua orang sama saja. Hidung orang bule tidak lebih mahal dari hidung orang hitam. Nyawa orang Irak tidak lebih murah dari nyawa orang Amerika.

Dari beberapa kali pindah kerja, baik yang full time maupun yang kerja sambilan doang, saya tidak pernah menawar gaji. Semua yang diberikan saya terima begitu saja tanpa komentar. Kecuali kali ini.

Di pekerjaan yang baru, saya ditawari gaji sebut saja sebesar XXX. Nilai ini lebih besar nilainya dari gaji yang saya tulis sewaktu mengisi application form dulu. Bagus dong? Nggak juga. Karena ternyata selepas mengisi dan mengirim application form ternyata gaji saya di tempat yang lama (yg masih saya kerjakan sekarang ini) sudah naik dua kali (bukan dua kali lipat, tapi naik dan naik lagi). Jadi total jenderal gaji yang ditawarkan itu jadinya lebih kecil dari yang saya terima saat ini. Bedanya banyak juga. Dalam setahun cukup deh buat beli mobil (bekas) di sini. he..he…

Berhubung memang saya senang kerjaannya, jadilah saya tanda tangani kontrak dengan gaji yang ditawarkan sebesar XXX itu, walau menyertai surat kontraknya saya sertakan juga selembar surat yang menjelaskan situasi gaji saya saat ini lengkap dengan fotocopy salary slip saya. Dalam hati, kalau dikabulkan bagus, kalau nggak ya ndak apa-apa.

Tadi pagi ada surat datang dari my prospective employer. Ternyata permohonan saya dikabulkan, dan standar gaji ditinggikan menjadi lebih tinggi dari yang saya terima saat ini. Cihuy!

Read the rest of this entry »

Lepas dari SMP, aku mendaftar masuk ke SMAN 1 Jakarta, yang lokasinya hampir persis di belakang SMP 5. Sekolah ini waktu itu cukup terkenal. Lokasinya di jalan Budi Utomo no. 7, sehingga seringkali siswa nya dipanggil sebagai anak Boedoet (Boedi Oetomo). Di jalan ini juga terletak STM 1 Jakarta, dan beberapa sekolah STM swasta yang menggunakan gedung STM ini di siang hari. Nama Boedoet juga cukup terkenal karena seringnya terjadi perkelahian atau tawuran massal antar siswa sekolah.

A’ang dan Budi sahabat dekatku di SMP sayangnya tidak masuk ke sekolah yang sama dengan aku. A’ang ke SMA 30 Rawasari dan Budi ke SMA 68 di Salemba.

Menurutku pelajaran di SMP lebih menyenangkan daripada di SMA. Entah kenapa sewaktu SMP aku sangat senang mempelajari fisika, biologi, matematika, dll. Di SMA bukannya aku jadi tidak senang tapi kok rasanya tidak menantang begitu. Terutama Kimia. Aku tidak bisa maju dalam mata pelajaran ini. Soalnya kita harus menghapalkan bilangan kimia, rumus-rumus kimia, dll.

Di SMA ini aku ikut beberapa kegiatan ekstrakurikuler seperti PMR, Koperasi, Makres (Majalah Kreasi Siswa), dan Paduan Suara. Selain itu aku juga dekat dengan teman-teman dari SRI (Seksi Rohani Islam), Science Club, Pramuka, Palasi (Pencinta Alam), dll.

Saat masuk PMR SMA 1, aku sudah berbeda dengan saat bergabung dengan PMR di SMP dulu. Aku sudah kenal banyak orang, termasuk senior-seniorku waktu itu yang kebanyakan juga adalah senior sewaktu di SMP. Teman-teman dari PMR SMP 5 hampir semua masuk kembali juga ke PMR SMA 1.

Di Koperasi, aku ikut bantu-bantu saja. Seringnya hanya diminta piket ruang koperasi sekolah yang menjual kebutuhan sehari-hari siswa. Kelas 1 semuanya masuk siang hari sehingga pagi harinya aku bisa ikut piket di sini. Pernah ada pengalaman seru saat piket ini. Saat piket di koperasi, aku melihat seorang siswa kelas 3 digotong masuk ke ruang PMR yang lokasinya tidak jauh dari koperasi. Sebagai anggota PMR akupun berinisiatif untuk membantu, dan menutup koperasi untuk sementara. Ternyata orang tadi terkena serangan Epilepsi (Ayan). Badannya kejang-kejang sedangkan ia tidak sadarkan diri. Beberapa kakak senior datang dan membantu menolongnya. Tidak lama kami memutuskan untuk mengantarnya ke Rumah Sakit. Bukan upaya yang mudah ternyata. Badannya yang kaku membuatnya sulit untuk diangkat dengan tandu, apalagi kemudian untuk dimasukkan ke dalam mobil. Badannya terpaksa sebagian berada di luar mobil kijang milik salah seorang siswa yang kami pinjam. Aku kebagian memeluk dan memegang bagian paha dan kakinya di bagian belakang mobil. Di tengah perjalanan aku merasa ada sesuatu yang basah di tanganku, setelah aku periksa lebih lanjut cairan ternyata itu ternyata adalah air seninya yang tidak sengaja keluar ketika dia kejang-kejang. Ooh nasib, pikirku, karena tangan dan bajuku juga basah terkena air seni.

Di PMR kami juga diminta piket secara rutin. Di kelas 1 dan 2 kami piket pagi hari dan di kelas 3 kami piket sore hari.

Suatu ketika pernah ruang PMR digunakan untuk shooting film yang dibintangi antara lain oleh Nia Zulkarnain dan Iyut Bing Slamet (yang kebetulan juga keduanya adalah siswa SMA kami). Kami para anggota PMR kebagian menunggu shootingnya dari pagi sampai malam, sambil iseng-iseng cuci mata melihat para artis yang menunggu shooting.

Ruang PMR juga seringkali dijadikan tempat ‘kabur’ bagi siswa-siswi yang malas belajar. Ada saja alasannya. Paling sederhana adalah ‘Pusing’ dan perlu tiduran. Ruang PMR juga menjadi tempat bagi para gadis-gadis yang sedang haid dan perlu membeli pembalut wanita. Memang kami menyedian pembalut wanita itu. Kadang-kadang aku yang beli pembalut di pasar depan rumah dan dibawa ke sekolah. Penjual pembalutnya terheran-heran melihat yang beli pembalut adalah seorang anak muda.

Pernah juga suatu sore ketika kami menunggu upacara di sore hari, seorang siswi terjatuh pingsan di lapangan. Hari Iwan Setiawan, salah seorang teman anggota PMR dengan sigap berlari ke lapangan dan mengangkatnya seorang diri. Badannya memang tegap dan tanpa kesulitan ia angkat orang yang jatuh itu. Memasuki pintu PMR, ia tendang daun pintunya (model ala pintu bar di film cowboy) dan menerjang masuk. Pintu terbuka tapi kemudian mengayun kembali ke arahnya dan sedikit menghantam si gadis manis yang diangkatnya. Setelah ditidurkan kami periksa ia dan ternyata si gadis mengalami perdarahan di dagunya. Tidak terlalu besar tapi tetap harus dibawa ke rumah sakit. Diam-diam kami berpikir, jangan-jangan luka di dahinya ini bukan karena ia jatuh di lapangan tetapi karena terantuk daun pintu tadi. Tapi ya mau bagaimana lagi, kami segera siapkan kendaraan milik Fadly yang kebetulan kursi bagian tengahnya tidak ada sehingga si pasien bisa ditidurkan di sana. Fadly dan Hari Iwan duduk di kursi depan sementara aku duduk di samping si gadis sambil memberi tekanan pada lukanya. Si gadis yang sudah sadar sebenarnya malu melihat posisi kami yang menolongnya, maklum semuanya laki-laki di mobil itu, dan aku duduk persis di sampingnya dengan posisi seperti hampir mendekapnya.

Di PMR SMAN 1 aku juga dipilih sebagai ketua. Wakilnya Leo (yang dulu juga jadi wakilku di SMP) dan Andri Abbas. Etin sebagai sekretaris dan Mira sebagai Bendahara.

Kebetulan ketika itu tidak ada lomba macam-macam yang diadakan seperti ketika waktu SMP dulu. Yang ada adalah lomba tandu darurat. Spesialis pembuatan tandu darurat di PMR kami adalah Ade Victor Bangsawan dan Sutiadi Kusuma (Cecep). Kebetulan keduanya berbadan cukup besar sehingga bisa membuat tandu yang kuat dalam waktu yang cepat. Mereka rutin berlatih di kantor walikota Jakarta Pusat menjelang perlombaan. Namun kalau tidak salah seminggu menjelang perlombaan ada kekhawatiran kalau Ade Victor tidak bisa berlomba karena sesuatu hal. Aku lalu berinisiatif membuat tim ‘back up’ bersama dengan Aris Djanan Wilogo adik kelasku waktu itu. Badan kami sama-sama kecil jadi tidak diharapkan bisa macam-macam.

Kamipun ikut seleksi tingkat Jakarta Pusat. Ade Victor ternyata bisa ikut bertanding. Seperti sudah diduga tim utama dari SMA kami yaitu Ade dan Cecep bisa jadi juara 1. Alhamdulillah tim backupnya (Aku dan Aris) bisa jadi juara harapan 3 sehingga bisa lolos ikut lomba di tingkat DKI Jakarta. Tim putri kami (Erni dan Indra) juga berhasil lolos ke babak final. Aku dan Aris kemudian berlatih keras menjelang babak final itu. Setiap sore aku menunggu Aris selesai sekolah (aku sudah masuk pagi ketika itu) lalu kami berlatih hingga malam hari.

Babak Finalnya diselenggarakan di Lapangan Monas, dekat stasiun Gambir. Perlu aku ceritakan kalau lomba ini diselenggarakan dengan cara membuat tandu dengan mata tertutup. Jadi kami mengandalkan latihan dan kerjasama tim yang baik. Kalau kerjasama tidak baik, bisa-bisa talinya saling terikat dan malah kusut.

Di hari final, kami bertanding. Aku dan Aris sudah sangat baik bekerja sama. Sebelum dimulai, kami berdoa berdua di samping tempat pertandingan. Ketika mata mulai ditutup, sambil memegang tali dan bambu alat pembuat tenda, kami menyempatkan berpegangan tangan sebagai pertanda kami siap bekerja sama. Dalam waktu singkat kami dapat menyelesaikannya dengan sempurna, namun demikian tim-tim yang lainpun dapat menyelesaikannya dengan baik.

Ketika hasil lomba diumumkan, tim-tim dari Jakarta Pusat hanya sedikit yang bisa menang. Termasuk juga tim tingkat SMP. Tim putri kami tidak bisa menang juga. Tibalah saat pengumuman pemenang kategori ‘puncak’ yaitu putra SMA. Satu persatu pemenangnya diumumkan mulai dari juara harapan 3, harapan 2 dan seterusnya, tidak tersebut nama SMA kami. Tidak juga tim terkuat kami, Ade dan Cecep. Ketika tiba pada juara 2 disebutkan, nama kami tidak juga muncul. Sudah hilang pengharapan kami untuk menang, karena sangat sulit rasanya untuk bisa mendapat kategori juara 1. Tidak jauh dari tempat kami duduk-duduk ada seorang kakak pelatih dari Jakarta Pusat yang sedari awal terus melihat ke tempat kami sambil tersenyum-senyum. “Jangan Takut” dia sempat bicara seperti itu pada kami.

Puncaknya, sebuah nomor peserta disebutkan sebagai pemenang juara 1 lomba tandu darurat hari itu. Dan itu adalah nomor kami! Ya, nomor aku dan Aris! Kami juara 1! Kamipun melonjak-lonjak kegirangan dan berpelukan, lalu diusung ramai-ramai ke tempat pemberian hadiah. Tidak sangka sama sekali kalau kami bisa meraih juara 1. Untuk mengalahkan pasangan utama SMA 1 saja kami tidak bermimpi. Namun setelah kami renungkan, ternyata persiapan kami jauh lebih sungguh-sungguh. Kami bersiap dengan baik, berlatih tekun, saling percaya, dan terus berdoa. Sungguh akhir yang menyenangkan. Hadiahnya berupa sebuah piala besar dan sejumlah uang.

Sebagai ketua PMR aku cukup sibuk. Setiap hari mengurus dan mengawasi piket harian, latihan rutin mingguan, sampai mengikuti undangan macam-macam sebagai tim kesehatan.

Setiap tahun kami melakukan acara pelantikan anggota PMR baru. Biasanya kegiatan ini dilakukan di luar kota. Saat aku kelas 1, pelantikan dilakukan di kawasan gunung Bunder, Bogor. Cuaca ketika itu buruk sekali. Hujan setiap hari. Seingatku waktu itu aku satu regu dengan Hari Iwan Setiawan dan Fadly Chairul. Cukup berat dan seru juga prosesnya ketika itu. Akibat hujan, baju yang kami pakai tidak pernah kering. Termasuk juga ranselku yang walaupun waterproof sempat terguling masuk ke kubangan banjir di dalam tenda sehingga semuanya basah. Lebih kurang 5 hari disana kamipun pulang. Sayang dalam perjalanan pulang, truk yang kami tumpangi tidak bisa naik sampai ke lokasi camping, dan berhenti di perkampungan penduduk sekitar 3-5 km dari lokasi. Jadilah kami yang lelah ‘turun gunung’ dengan pakaian dan sepatu basah, plus ransel yang berat.

Setelah itu, kebetulan aku terpilih untuk langsung ikut latihan gabungan PMR se Jakarta Pusat di Bumi Perkemahan Wiladatika Cibubur. Kalau tidak salah yang terpilih selain aku adalah Leo Wirasaki, Wahyu, Andri, dan dua orang lain. Tim putrinya terdiri dari 6 orang juga. Waktunya hanya berselang 1 hari dari selesainya penutupan pelantikan PMR kami. Jadilah kami hanya sempat pulang ke rumah, ganti pakaian bersih, mandi-mandi, dan berangkat lagi.

Latihan gabungan ini cukup berat. Pagi-pagi setelah bangun dan shalat subuh, kami diwajibkan berolahraga. Yang laki-laki diminta buka baju. Lari, loncat, dan lain-lain. Setelah itu kami mandi dan sarapan pagi. Sarapan ala tentara, 5 menit harus selesai. Letakkan piring dan sendok di tempatnya lalu kami dipaksa lari lagi keliling lapangan sebanyak 5 kali. Tentu saja banyak yang muntah karenanya. Siang sampai sore kami berlatih teori pengobatan darurat. Pembuatan Tandu juga diajarkan. Termasuk juga basic survival. Selain itu ada juga praktek simulasi kejadian darurat, mulai dari observasi pasien sampai evakuasi. Malamnya ada acara ini itu.

Beratnya bagi kami yang baru pulang dari pelantikan adalah letihnya badan kami ini. Selain itu, dari kondisi hampir seminggu berbasah-basah kemudian diikuti oleh kondisi kering selama kira-kira hari lagi di Cibubur. Beberapa bagian kulitku terkelupas, dan menempel pada pakaian. Sakit sekali terutama di sekitar lipatan paha.

Di kelas 2, saat aku jadi ketua PMR, kami tidak diijinkan melakukan pelantikan anggota baru di luar kota. Hanya dibolehkan pak Suhaman (pembimbing PMR) untuk dilakukan di sekolah saja. Hanya kami mensiasatinya dengan melakukan ‘kunjungan’ malam hari ke suatu tempat yang ‘seru’. Seluruh anggota baru ditutup matanya dengan kain segitiga yang biasa dipakai sebagai alat latihan pembalut luka. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok. Lalu mereka dinaikkan mobil dan dibawa ke kompleks UI Salemba, dan disuruh menunggu di taman Kimia (kompleks FK UI), masih dalam kondisi mata tertutup. Saat dibuka, mereka satu persatu diminta berjalan ke kamar mayat RSCM. Saat itu kami bisa minta ijin untuk masuk kamar mayat RSCM lewat tengah malam. Kebetulan ada satu jenasah yang masih baru dan belum dimasukkan ke pendingin. Ia jenasah yang meninggal ditembak saat merampok di jalan. Saya masih ingat nama jenasahnya. Calon anggota baru diminta mencatat nama si jenasah tersebut yang ada di tag di jempol kakinya. Semuanya berjalan lancar malam itu. Pagi harinya, lepas subuh, semua anggota baru dikumpulkan dan ditanya apa pengalamannya malam tadi. Ternyata banyak diantara mereka yang tidak sadar kalau mereka bertemu dengan mayat beneran! Mereka sangka yang mereka lihat itu adalah salah seorang kakak senior yang mencoba menakut-nakuti mereka……

Pengalaman paling seru dengan PMR aku alami sewaktu aku sudah hampir lulus dan tidak lagi menjabat sebagai ketua PMR. Saat ada pergelaran musik (dan aku dijadwalkan untuk ‘manggung’ juga dengan band kelas F-8 ), tiba-tiba suasana menjadi kacau. Terjadi perkelahian massal yang melibatkan siswa-siswa SMA 1, alumni yang datang pada acara itu, melawan siswa-siswa dari beberapa STM yang ada di jalan Budi Utomo. Perkelahian menjadi sangat besar dan mengkhawatirkan. Kami semua terkurung di dalam kompleks SMA 1. Korban luka-luka mulai berdatangan ke ruang PMR. Di saat genting ini ketua PMR saat itu (Achmad Prihatna) yang awalnya membantu menolong korban luka di ‘garis depan’ terjebak keributan di sana sehingga tidak bisa kembali ke markas PMR. Jadilah aku mengorganisir para anggota PMR menolong mereka yang luka-luka.

Setelah ruang PMR penuh sesak oleh mereka yang sakit, ruang kelas sebelah kami buat menjadi ruang darurat perawatan pasien. Tikar camping kami gelar di ruang kelas untuk alas tidur. Peti obat-obatan yang terkunci kami jebol. Masih kurang juga, sebagian ruang Koperasi kami buka untuk merawat mereka yang tidak terluka namun ketakutan. Ada banyak mereka ini. Sebagian diantaranya temanku sendiri. Mereka histeris menjerit-jerit ketakutan.

Tandu-tandu darurat kami buat dan diletakkan di depan ruang PMR, siap digunakan. Lucunya, karena sebagian besar tidak perlu ditandu, tandu-tandu itu sebagian ‘dicuri’ oleh sebagian orang untuk mengangkut batu-batuan amunisi ‘perang batu’ dengan musuh.

Di tengah-tengah keributan itu, dari arah depan sekolah muncul rombongan kawan-kawan kami yang mengangkut seorang yang terluka di bagian mulut dan hidungnya akibat terkena lemparan batu besar. Ia ditidurkan miring di tandu agar darah yang keluar tidak menghalangi aliran nafasnya. Ternyata ia adalah seorang alumni SMA 1 yang kebetulan datang menonton acara kami. Di tengah kepayahan itu, saat melintas di hadapan ratusan siswa-siswi kami yang tidak ikut ‘bertempur’ ia berteriak “Hidup Boooeeedoooeeeettttttt!!!!” sambil mengacungkan kepalan tangannya ke udara. Kami terkesiap sambil tersenyum geli. Lucu sekali nih orang, sudah kesakitan masih terbakar semangatnya. Lagipula, ‘musuh’ kami waktu itu ‘orang Boedoet’ juga yaitu tetangga kami siswa STM. Jadi sebenarnya teriakannya tidak tepat…..

Di ekskul majalah, aku menduduki posisi sebagai pemimpin redaksi Majalah Dinding (Mading). Walau tidak terlalu pandai menggambar, aku juga iseng menggambar serial kartun disana yang tokohnya aku namakan “Mas Don”. Selain itu kami juga menerbitkan majalah sekolah dengan nama “Makres” dimana aku duduk sebagai wakil pemimpin redaksi. Macam-macam juga yang kami tulis ketika itu. Di kelas 3, kami berinisiatif membuat sebuah buku kenangan. Pimpinan proyeknya bernama Puji, wakil ketua Osis ketika itu. Aku sendiri menjabat sebagai Pemimpin Redaksinya, dibantu oleh Doddy Salman. Proses pembuatannya lama dan melelahkan. Aku yang kala itu mulai gemar memotret meminjam kamera poket Nikon milik bapak untuk memotret suasana sekolah. Aku juga sibuk mengumpulkan foto-foto seluruh siswa di sekolah untuk dimasukkan ke buku kenangan. Proses editingnya lebih makan waktu lagi. Apalagi buku ini dibuat pada penghujung kelas 3 dimana kami sibuk menyiapkan diri untuk ujian akhir dan UMPTN. Akhirnya buku bisa diedarkan pada saat pembagian raport kelas 3 sehingga tepat waktunya sebagai kenangan kami saat itu.

Aku juga beberapa kali mengikuti seleksi lomba-lomba. Seingatku untuk