You are currently browsing the category archive for the 'Life' category.
SD Ijo. Demikian umumnya nama sekolahku disebut orang. Sumbernya adalah seragam sekolah kami yang baju putih-celana hijau. Kadang-kadang SD kami juga disebut SD Wartawan, karena lokasinya di kompleks yang semula dibangun untuk para pekerja media. Nama aslinya sih cukup panjang: SD Negeri Cempaka Putih Barat 01 Pagi.
Semula gedung SD itu kecil saja, tapi sewaktu aku kelas 2 gedungnya dibongkar dan diganti menjadi gedung bertingkat 2 dalam bentuk hampir seperti lingkaran penuh. Setelah jadi, kompleks gedung sekolah itu lalu digunakan oleh 6 sekolah dasar. Yang masuk pagi SD 01, 011, dan 013. Yang masuk sore ada 3 sekolah juga.
Sekolah ini tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah orangtuaku. Jadi sejak kelas 1 atau 2 saya sudah berjalan sendiri ke sana. Teman-temanku waktu itu sudah banyak yang aku lupa nama-namanya. Saya sebutkan saja yang masih ingat dan kadang masih kontak juga di sini: Rakhmatdi Hatmosrojo (A’ang), Akhmad Diponegoro (Adip), Jurgantono Usman (Tono), Singgih (begeng), Muhammad Arfian, Muhammad Taufik, Iskandar, Bagus Mukti Wibowo (Adi) dan Bagus Mukti Laksono (Abi), Muhammad Irfan, Rozano Rumambi, Wawan, Rahmat, Muhammad Isa Ismail, Daniel, Tanti, Diana, Dewi, Cici, Susi, Safrina Desita (Sita), Liesa Pratiwi (Icha), dll.
Sewaktu kelas 1-3 nggak terlalu banyak memory yang masih nyangkut di kepala. Yang ada adalah ingatan kalau main bola kami menggunakan lahan berdebu samping gedung sekolah. Juga saat sekolah terpaksa pindah sementara ke SD lain di kawasan Jatop saat pembangunan gedung baru. Pulang pergi ke sekolah selalu melewati pinggir kali memandangi tanaman singkong dan sawi yang ditanam orang di pinggir kali. Sekolah sementara ini dulu pernah kebanjiran, dan saat pulang ke rumah saya pernah terperosok masuk ke got dengan air sedalam leher
Walau sudah aktif di gerakan Pramuka Gudep 617 di dekat rumahku, di sekolah saya juga ikutan Pramuka. Regu kami regu Gajah namanya. Saya jadi ketua regu dengan anggota Singgih, Arfian, Irfan, Taufik, A’ang dan Adip kalau nggak salah.
Regu kami ikut camping di sekolah beberapa kali. Suatu kali saya ingat kami kedapatan nomor kapling 23, nomor jelek katanya. Tapi cuek aja malah bisa menang lomba saat itu. Camping ini juga cuma ecek-ecek doang sih, bayangin aja masak camping halaman kecil samping teras sekolah, di luar banyak abang-abang jualan makanan kecil, gorengan, dll.
Lucunya, sebagian teman di kelompok Pramuka itu dan terutama regu kami bisa saya ajak untuk ikut aktif di gerakan pramuka gugus lain yang saya ikuti, gudep 617 Dharma Cempaka. Jadi Arfian, Taufik, Irfan, Adi-Abi bisa saya ‘bajak’ aktif di gudep pramuka Pertamina itu. Sedangkan Adip dan A’ang sudah sejak lama ikut Pramuka di Dharma Cempaka.
Guru-guru yang masih saya ingat adalah bu Nani, bu Amir, pak Asep (?), dan pak Yani. Bu Nani guru kelas 4, bu Amir guru kelas 5, dan kelas 6 pak Yani yang kemudian digantikan oleh pak Asep.
Sewaktu kelas 5 dan 6 saya ikut les tambahan, dengan bu Amir, pak Asep dan pak Yani. Juga ikut les agama dengan pak Mahmud, sedangkan belajar mengaji Qur’an setiap minggu pagi dengan mbak Wati yang datang ke rumah.
Pak Yani, setiap hari Sabtu membersihkan kelas. Sambil membersihkan kelas kami selalu menyalakan radio tape compo keras-keras biar semangat. Juga Pak Yani meminta murid-murid bergantian membawa makanan kecil sebagai penganan saat membersihkan kelas itu. Makanan yang paling beliau sukai adalah Gandasturi, sejenis gorengan dengan isi Kacang Ijo manis. Setiap sabtu kami digilir secara berkelompok membeli makanan gorengan itu untuk disantap bersama.
Pak Asep guru terakhirku di kelas 6. Beliau tinggal di Pondok bambu, tidak terlalu jauh dari rumah paklek-ku di sana. Suatu hari kami pernah pergi camping bersepeda dari Cempaka Putih ke sebuah lahan dekat sekolah yang belum jadi di kawasan dekat rumah pak Asep. Senang juga bisa bersepeda dan camping kayak cerita2 lima sekawan di Inggris.
Saat kelas 6, saya menjadi juru bicara tim lomba Cerdas Cermat SD-ku yang ditayangkan langsung tiap hari Jumat Sore di stasiun televisi satu-satunya saat itu: TVRI. Anggota timnya adalah Diana dan Tono. Tim ‘bayangan’nya adalah Adip, Rahmat, dan….. saya lupa. Setelah melewati beberapa kali seleksi dan latihan di sekolah, terpilih saya jadi juru bicara. Saya sendiri waktu itu heran kenapa sampai terpilih karena Adip dan Rahmat adalah teman-teman yang lebih pintar. Tono, on the other hand, memang pinter banget orangnya
Saat berangkat, kami diantar oleh bu Nani dengan mobilnya. Turut ikut juga pak Asep dan tim bayangan kami sebagai penonton. Sampai di sana, studionya ternyata dingiiinnnn sekali, jadi di bawah meja kami sibuk menggosok-gosok tangan ke paha karena kedinginan bercelana pendek. Lombanya berjalan baik, dan tim kami menang quite comfortably, walaupun beberapa kali diingatkan oleh pembawa acaranya untuk tidak terlalu banyak ngobrol dan ngomong sendiri diantara kami.
Pulangnya, sewaktu berjalan kaki ke rumah dari sekolah, beberapa anak kecil (walau waktu itu saya juga masih kecil) mengenali di pinggir jalan. “Yang tadi di TV yaaa…..”, kata mereka. Bangga dikit deh…. he..he…
Selain sebuah piala kecil, hadiah lomba cerdas cermat ini adalah tiket berkunjung ke Monas dan alat-alat olahraga (raket dan net badminton, bola volley dan net volley). Kami boleh membawa raket badmintonnya pulang sedangkan hadiah-hadiah lain dijadikan inventaris sekolah. Sedangkan tiket kunjungan ke Monasnya kami gunakan bersama diantar oleh Bu Nani dan suaminya ke sana. Setelah turun dari puncak gedung Monas, kami diajak makan soto di warung-warung tenda di seputar Monas….. yam….yam…..
Selepas SD, saya tidak banyak berhubungan dengan teman-teman karena aku memilih SMP yang lokasinya agak jauh. Hanya A’ang saja yang mengambil sekolah yang sama. Tapi tidak dinyana, hubungan dengan beberapa kawan malah timbul lagi sekarang - dengan bantuan internet tentunya. Walau ada yang sudah meninggal (Susi - Daniel), yang lain masih bisa dirunut. Tono kerja di perusahaan minyak di Oman dan Adip mengajar di Jakarta, dua-duanya sudah PhD. Tanti nggak sengaja gatuk karena ketemu adiknya (Witri) di Harlow. Sita ketemu di Friendster. Icha di milis alumni Boedoet. Senangnya bisa bersilaturahmi dengan teman-teman masa lalu.
Manusia diciptakan secara sempurna oleh yang Maha Pencipta. Termasuk di dalamnya dengan kemampuannya bereproduksi. Sel telur yang jumlahnya terbatas di indung telur wanita dikeluarkan secara rutin setiap bulan sekali sejak saat puber pertama sampai beberapa saat setelah menopause. Sel sperma yang diproduksi di scrotum berbelah menjadi jutaan secara terus menerus tanpa henti sampai hari tua.
Semua ini dilengkapi juga dengan gairah yang ada secara naluriah. Tanpa ada yang mengajaripun, manusia bisa tahu cara bereproduksi. Tanpa ada yang menyuruh, sel sperma mampu mencari, mengejar dan menembus sel telur wanita.
Semuanya dirancang Allah untuk kelangsungan masa depan manusia. Wanita ditakdirkan dengan kecenderungan pada kelemahlembutan, kecantikan, dan empati. Pria diberi kekuatan dan ketegasan lebih dibanding wanita. Kecantikan wanita menjadi daya tarik bagi pria, dan kelebihan pria menjadi dorongan bagi wanita untuk mencari pasangannya.
Hasil reproduksi manusia menjadi bentuk keturunan kita yang juga secara alamiah ditumbuhkan dan dipersiapkan di rahim para ibu. Setelah lahir, cairan yang keluar dari payudara ibu menjadi sumber alami kehidupan bagi bayinya bahkan sampai beberapa bulan kedepan.
Anak yang bertumbuh besar akan belajar utamanya dari orang tua dan lingkungannya. Belajar dari usapan, belaian, bisikan dan ciuman. Belajar dengan meniru apa yang dilakukan orang tua, dan lingkungan sekitarnya. Sampai suatu saat nanti sang anak siap melanjutkan tali regenerasi reproduksi manusia sampai akhir jaman.
Keturunan yang kita dapatkan adalah karunia bagi orang tua, cahaya dalam kehidupan mereka. Karunia yang sekaligus juga menjadi tanggung jawab luar biasa. Suami dan Istri bisa bercerai dan putus hubungan sama sekali. Lain halnya antara hubungan orang tua dengan anak. Sang anak tetap membawa paling tidak gen orang tuanya sampai kapanpun. Adanya nyawa sang anak tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kedua orangtuanya.
Putra-putri kita menjadi amanah bagi orangtuanya, amanah untuk memberi makanan yang baik, membesarkan, mendidik, membimbing sampai juga nanti menikahkannya. Semuanya ujian Allah bagi para orang tua.
Namun ada kalanya sebagian dari kita tidak dimudahkan mendapat keturunan. Mulai dari belum mendapat pasangan, kendala penyakit, sampai infertilitas. Semuanya cobaan yang Maha Kuasa.
Saya anak terkecil dari 7 bersaudara. Jadi kami dari keturunan keluarga yang cukup besar. Salah seorang kakak saya baru dikaruniai seorang putra setelah hampir 10 tahun menikah. Satu lagi kakak saya bahkan belum juga dikaruniai keturunan sampai saat ini, 15 tahun usia pernikahannya. Segala cara sudah ditempuh, tapi tidak juga kunjung berhasil.
Mungkin ada rahasia Allah pada mereka. Setiap manusia akan mendapat ujian, dengan segala bentuknya. Ujian berupa tidak atau belum adanya keturunan juga salah satunya. Hanya ujian kecil diantara berbagai ujian besar lainnya.
Maha Besar Allah dengan segala karunianya
i’m not used to feel a failure
or maybe I’ve never tried to feel it
i was laid back, easy going
everything seemed to flow naturally
successes, failures did not bother me
except once
an immense feeling of disappointment
about my self
i put myself in the blame although knew it wasn’t fair to me
the feel of failure, guilt, and despair stormed in
i was hopeless
it wasn’t me
i didn’t want to be me
none anymore
it’s nothing than a small reminder
from the creator of all
a little pinch
that I need to realise the value of life
and the drama that He has created
with happiness
with wealth
with health
with successes
with mistakes
with fear
with failures
with death
Siapa yang belum pernah berurusan dengan copet? Kayaknya hampir semuanya sudah ya, kecuali yang nggak pernah naik kendaraan umum atau dari tampangnya memang nggak laku untuk didekatin para copet ya….. he..he…
Saat setiap hari menggunakan kendaraann umum dulu, sangat sering saya melihat tingkah laku para pencopet. Mulai dari yang halus sampai yang sangar. Kelihatan sih naga-naganya jadi saya kadang bisa mengingatkan teman dan orang2 sekeliling akan adanya para pencopet itu.
Pernah ada yang coba menghadang saya, tapi saya pelototin terus dia nggak berani. Pernah juga ada yang nggerayangin tas saya, terus tangannya segera saya tepis tanda protes. Alhasil saya belum pernah kehilangan barang berharga akibat pencopetan.
Pernah juga ada pencopet yang berkeliaran di kampus. Tapi dia mengutil dari tas-tas yang ditinggal pemiliknya di perpustakaan atau mushala. Pernah ada pengutil laki-laki yang menyaru pakai jilbab dan mengambil dompet dari tas perempuan di mushala putri. Setelah dikejar dia ganti baju di toilet laki-laki dan keluar dengan pakaian laki-laki.
Saya pribadi pernah menangkap tangan seorang pengutil yang mencoba mengambil kamera yang ada di tas saya di perpustakaan kampus. Awalnya seorang teman memberi tahu kalau ada seseorang yang membuka tas saya di tempat penyimpanan. Setelah saya amati, eh ternyata memang benar. Dengan santainya, saya yang berbadan kecil ini menangkap tangan si pengutil dan membawanya masuk ke bagian administrasi perpustakaan dimana banyak staf perpustakaan yang ada di sana. Entah kenapa dia diam saja, dan saya juga kok berani banget ya…. padahal badannya gede lho…he..he… Alhasil kamera saya nggak jadi hilang dan si calon pengutil diserahkan ke kantor polisi.
Jaman SMP, saya malah punya pengalaman seru dengan pencopet. Saat baru duduk di bangku belakang bus menuju rumah, saya sadar kalau di sekeliling saya duduk beberapa laki-laki yang berprofesi sebai copet. Mereka sedang membuka barang utilannya. Ternyata yang baru jadi korban adalah seorang siswa SMA yang baru saja turun. Barang yang dicopet ternyata tidak banyak yang terlalu berharga, hanya dompet dan kotak pinsil yang berisi alat tulis saja. Saya tahu sih tapi ngeper banget mau ngapa-ngapain. Alhasil, malah kemudian salah seorang pencopet itu menyodorkan kotak pinsil berikut seluruh isinya ke saya. “Nih buat kamu. Mau nggak?” katanya. Saya gemetar sambil berkata lirih menolaknya, “Nggak usah bang, sudah punya”. Si penyodor tadi tersenyum gorilla sambil berkata “Ya udah”, dan kemudian melemparkan kotak pinsil itu ke luar bus. Wuih…..
Tapi jangan sangka di negara maju kayak Inggris nggak ada copet. Di tempat-tempat umum di London banyak tulisan yang mengingatkan terutama pada turis untuk hati-hati pada copet yang berkeliaran. Katanya sih banyakan kaum pendatang dari eropa timur yang punya profesi jadi pencopet di sana, termasuk diantaranya anak-anak yang di’salahgunakan’ untuk mencopet. Khusus pencopet anak ini sudah lama ada ceritanya di London yang bahkan dijadikan film dan opera musical ‘Oliver’ di West End theatre.
Demikian juga kota Makkah, tanah suci umat Islam. Di area masjidil Haram saja, ada banyak sekali kasus kehilangan dompet, uang, dan barang berharga lainnya. Padahal itu di depan Ka’bah, dan kalau tertangkap tangan hukumannya sangat keras lho. Lucunya, satu-satunya pengalaman saya kehilangan dompet karena dicopet adalah saat tawaf mengelilingi ka’bah. Copet-copet ganas di Jakarta ternyata kalah sama copet di Mekah!
Hari ini saya membantu direktur unit memilih beberapa pelamar untuk di’shortlist’ sebagai calon karyawan yang akan diinterview untuk posisi sebagai Researcher. Pekerjaan yang ditawarkan adalah mengerjakan research tentang efektifitas Screening pada penemuan dini penyakit Jantung. Proyek ini lumayan besar, yang akan dikerjakan dalam jangka 3 tahun.
Dari 9 pelamar yang masuk, hanya satu pelamar yang berwarganegara Inggris. Satu orang warga Uni Eropa dan lainnya adalah ‘orang asing’ yang entah sedang tinggal atau bekerja di Inggris, dan bahkan beberapa pelamar internasional.
Dari sembilan orang ini, hanya dua yang kami putuskan untuk diinterview. Sebenarnya ada satu orang pelamar (dari Mesir nih!) yang sangat qualified tapi menurut kami kurang punya pengalaman dan kemampuan untuk melakukan proyek ini.
Ternyata susah mengambil keputusan untuk memilih. Ada rasa berat juga untuk memutuskan tidak melanjutkan proses aplikasi pekerjaan seseorang. Seseorang mengajukan lamaran pekerjaan kan pasti ada alasannya di belakangnya. Menghidupi keluarga? Impian mencapai hari depan yang lebih baik? Apalagi kalau pelamar dari Negara ‘berkembang’, mendapat pekerjaan di negara maju mungkin impian terbesar mereka.
Saya lalu jadi ingat pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali mulai kerja. Waktu itu hanya beberapa hari setelah saya ‘diterima’ kerja (saya tulis pakai tanda kutip karena saya sendiri dapat pekerjaan tersebut tanpa proses melamar, interview, dll – KKN banget yach….).
Waktu itu saya tiba-tiba diminta membantu proses penerimaan calon staf di kantor kami. Padahal saya sendiri baru saja ‘diterima’ kerja selama beberapa hari. ‘Ngantor’ belum pernah (fisik kantornya belum ada), rapat belum pernah.
Sabtu itu saya datang, pakai celana jeans dan baju kemeja (untungnya!). Saat itu dibuka 4 posisi kerja di kantor kami, ada sekitar 30 calon yang diundang mengikuti proses seleksi. Seleksi dimulai dengan tes kemampuan praktis (komputer dll). Pagi itu juga hasilnya keluar. Hanya sekitar 15 orang yang diminta melanjutkan interview di siang harinya. Sisanya boleh balik kanan dan pulang.
Keduapuluh ini kemudian langsung diinterview oleh kami. Kami berempat (Bos, dua staf lainnya, dan saya ) masing-masing menginterview sekitar 4 orang di tempat yang berbeda-beda.
Dari 4 orang yang saya wawancarai, satu orang cukup ‘berbobot’ dan qualified. Cuma dia minta gaji yang agak ketinggian menurut saya. Satu orang lagi sangat desperate-nya ingin kerja malah hanya ingin dibayar 125 ribu per bulan!!!! Walau saat itu masih beberapa tahun sebelum Krisis Moneter (Krismon) menurut saya jumlah itu kecil sekali – tidak akan cukup untuk kebutuhan hidup dan tidak sesuai dengan tanggung jawabnya kelak. Ketika saya tanya apa dengan uang segitu bakal cukup untuk kehidupan, dia menjawab bahwa dia bisa tinggal menumpang dengan kakak, jalan kaki ke kantor, dll.
Eh perlu diceritakan sedikit, saat mewawancarai mereka itu, saya malah belum tahu jumlah gaji saya sendiri! Keterlaluan yach….
Setelah selesai interview, kami rapat kecil untuk memutuskan siapa yang bisa maju ke final interview. . Dari 15-an orang itu, dipilih 8 orang. Uniknya, final interview ini dibuat seperti interview ‘keroyokan’, semua kandidat hadir di ruangan yang sama, dan ditanya oleh kami secara bersama-sama pula.
Hasilnya, terpilih 4 orang yang kami terima. Tapi hanya 3 yang kemudian benar-benar bergabung dengan kami. Tidak ada satupun orang yang saya wawancarai sebelumnya yang direkrut. Dari 3 ini, satu orang tidak ‘berumur panjang’ di kantor kami. Dia mengundurkan diri beberapa bulan saja setelah mulai kerja. Terlalu sulit mungkin bagi dia. Yang ‘tahan banting’ ada satu, yang sampai saat ini masih bekerja di institusi yang sama walau lain unit.
Pengalaman satu lagi saat saya kerja di sebuah perusahaan konsultan. Saya diminta mewawancarai seorang calon, yang sebelumnya kerja di sebuah bank di Phillipina. Sang calon ini tinggi orangnya, perempuan yang masih muda. Bahasa Inggrisnya baik sekali, demikian juga bahasa Tagalognya. Bahasa Indonesianya payah banget. Yang bikin saya kaget, ternyata dia orang Indonesia! Ternyata orangtuanya adalah orang Indonesia yang sudah lama kerja di Phillipina.
Sang calon ini cukup smart dan qualified. Tapi menurut penilaian saya waktu itu belumlah cukup mampu untuk menangani pekerjaan-pekerjaan di kantor kami. Jadi di akhir wawancara saya melaporkan pada boss bahwa kemungkinan dia tidak cocok untuk kerja di sana. Tapi nampaknya si boss punya pendapat lain dan tetap mempekerjakan dia.
Akhirnya dia kerja di team kami, dan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa penilaian saya kepada dia dulu ternyata salah. Dia menjadi seorang staf yang andal dan sampai sekarang masih kerja di bidang yang sama walaupun saya sudah lama cabut dari bidang itu….he..he….
Lebih dari tiga puluh tahun lalu, saat usia baru lepas balita, saya mulai ikut kegiatan Pramuka. Saat itu saya masuk Pramuka Siaga, kategori termuda dalam gerakan Pramuka. Gugus depan kami bernama Dharma Cempaka, dengan nomor Gudep 617-618.
Setiap Minggu sore, pukul setengah empat saya pergi dengan berseragam pramuka ke tempat latihan kami di pinggir sungai belakang kompleks. Mulai dari upacara pembukaan, kegiatan, sampai acara penutupan menjelang maghrib tiba. Hampir semua anak di kompleks kami ikut bergabung dalam kegiatan Pramuka di sana.
Salah seorang kakak pembina kami bernama Sunarwan. Kami memanggilnya dengan panggilan ‘Kak Narwan’. Selain kak Narwan, ada juga kak Marmin, kak Rahmat, dan satu-dua pembina lainnya. Sayangnya saya sudah lupa nama-nama yang lainnya.
Kak Narwan bertanggungjawab pada kami, kegiatan pramuka Siaga. Kegiatan Pramuka kami sangat sederhana. Tidak macam-macam. Satu hari kami berlatih berbaris. Lain hari bermain kacu (dasi) pramuka, saat lain kami masak-memasak.
Kak Narwan selalu hadir tepat waktu. Dengan sepeda ontelnya beliau datang dari rumahnya di kawasan kemayoran ke tempat latihan di Cempaka Putih. Kadang kalau saya malas pergi berlatih Pramuka beliau datang menghampiri saya ke rumah dan mengajak saya pergi dengan menggonceng sepedanya.
Tahun demi tahun berlalu, dan setiap akhir pekan hampir tidak pernah lepas aku hadir di latihan Pramuka. Aku lalu mengajak teman-teman dari sekolahku untuk ikut berlatih Pramuka di sana. Walau di sekolah kami juga bergabung dalam kegiatan Pramuka sekolah, di hari Minggu kami berlatih kembali di Dharma Cempaka. Lama kelamaan, jumlah anggota Pramuka kami lebih banyak yang berasal dari kawan teman sekolahku dibanding anak-anak dari kompleks kami.
Saat kami mulai beranjak besar, kamipun ‘naik kelas’ ke kelompok Penggalang. Kegiatannya mulai agak lain sifatnya. Tapi semuanya masih bersifat ‘fun’ yang positif. Karena jumlah pelatih kami makin berkurang jumlahnya (kak Rahmat meninggal dunia, kak Marmin aktif di tempat lain), kak Narwan kemudian menjadi tulang punggung pelatihan Gugus Depan kami.
Sampai saat terakhir aku masih aktif di gerakan Pramuka 11 tahun kemudian, gerakan Pramuka sudah tidak banyak lagi pamornya di kalangan anak-anak dan remaja. Mungkin ada banyak kegiatan lainnya yang mereka lebih minati.
Namun kak Narwan masih rajin datang setiap akhir pekan walau jumlah yang datang makin sedikit. Memang ia mendapat honor dari pengurus Kompleks, tapi jumlahnya aku yakin sangat jauh dari memadai. Aku tahu honornya sangatlah minim, bahkan nyaris bagai kerja sukarela. Namun ia selalu tersenyum dan bersemangat melatih kami.
Saat gerakan Pramuka kami sudah tinggal nama karena tidak ada lagi pesertanya, kak Narwan masih rajin menyambangi kami. Masih dengan sepeda ontel tuanya, tanpa diminta beliau aktif mengirimkan majalah ke-Pramukaan ke rumah kami masing-masing. Sampai tidak enak hati kami jika mendapat kiriman dari beliau. Setiap Lebaran kami selalu mendapat kartu lebaran, atau beliau datang langsung berkunjung. Kamipun kadang membalas dengan mengirimkan parcel saat Natal, mengingat beliau adalah pemeluk agama Kristen.
Terakhir saya bertemu beliau sekitar 5-6 tahun yang lalu saat pulang ke Indonesia dan menyempatkan diri bertamu ke kediamannya. Masih di gang sempit kawasan padat penduduk di bilangan Kemayoran. Sayang waktu itu beliau tidak ada di rumah, pergi kerja sebagai Satpam di bilangan Menteng, masih dengan sepeda ontel tuanya.
Saat ini, lebih dari 30 tahun saya sudah mengenal kak Narwan. Entah kenapa saya selalu merasa berhutang budi pada beliau.
*Aang, Anton, Arfian, Irfan, Wawan, Dodo, Taufik, Adi & Abi. Kemana kamu semua? Reuni-an yuk……
Wong urip ki mung mampir ngombe. Orang hidup itu hanya sekedar untuk mampir minum.
Sudah berapa tahun kita hidup di dunia ini? Apa saja yang sudah kita lakukan?
Tahun ini umur saya menginjak 36. Itu artinya kira-kira saya sudah sekitar 20-an tahun hidup dalam ranah kehidupan orang dewasa.
Dari TK, Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah atas dihabiskan dalam waktu 14 tahun. Kuliah 5 tahun, ditambah 5 tahun lagi pada level pendidikan lanjutan. Jadi sudah berapa tahun umur saya dihabiskan untuk menempuh pendidikan? 24 tahun dari si 36 tahun. Padahal 5 tahun pertama kehidupan kita hanya bergantung pada orang tua saja. Jadi, dari 36 tahun saya hidup, baru 7 tahun saya mencoba hidup sendiri, di luar menempuh pendidikan full time.
Masih berapa lama lagi umur kita? Tidak ada yang tahu. Hanya Allah yang tahu.
Sudenly it was like coming home. Saya mengajar kembali. Setelah sempat absen beberapa tahun dalam aktifitas mengajar di kelas, saya kembali lagi mendapat kesempatan mengajar. Senang sekali rasanya bisa kembali mengajar di depan kelas.
Hari itu saya mengajar di dua sesi yang berbeda. Pagi dan siang. Masing-masing jatahnya 3 jam tatap muka. Panjang juga. Mahasiswanya ya itu-itu juga.
Beberapa hari sebelumnya saya sudah mencoba cari inspirasi tentang apa saja yang harus saya bicarakan dalam mengisi mata ajaran itu. Maklum sudah lama tidak mengajar jadi harus siap-siap untuk beraksi lagi di depan kelas.
Pagi hari sebelum berangkat ke kelas saya ingin memfoto copy bahan kuliah. Mesin fotocopy rusak. Saya utak-atik sebentar nggak bisa juga. Ya sudah akhirnya tidak jadi membawa hands out kuliah. Sampai di ruang kelas, saya telat dua-tiga menit. Nggak apa-apa. Yang jadi masalah berikutnya adalah bahwa saya salah menginformasikan ruang kelasnya ke mahasiswa. Jadilah kita pakai ruangan itu selama 1 jam saja, terus pindah ke ruangan lain sebagai lanjutannya. Kacaunya, di ruangan yang ’sebenarnya’ ternyata tidak tersedia audio visual aids, nggak ada proyektor, LCD, atau komputer. Jadi bahan mengajar yang sudah saya siapkan tidak bisa dipake deh. Kacau!
Tapi mau gimana lagi, pantang mundur dong. Jadilah kuliah dimulai dengan bicara saja, mengandalkan kemampuan memory otak tanpa alat bantu presentasi. Untungnya lancar. Alhamdulillah.
Rasa was-was dan cemas yang ada sebelum memberi kuliah hilang sudah. Kenapa was-was? Pertama saya mengajar di tempat baru. Belum ada satu bulan saya bekerja di sini. Kedua, saya harus mengajar dengan bahasa yang bukan bahasa ibu. Jadi sok jago aja ngomong walau grammarnya ngaco. Ketiga, saya sebetulnya belum pernah mengajar topik yang saya ajarkan ini. Walau dari dulu saya sehari-hari bergaul dalam bidang yang diajarkan, namun pengalaman mengajar saya adalah kebanyakan dalam bidang Health Economics dan Management Care Management. Keempat, sebagian besar dari mahasiswa yang saya ajar adalah mahasiswa asing (overseas student), hanya dua orang yang berasal dari Inggris Raya. Ada yang dari Nigeria, India, Pakistan, dan Chech Republic. Tentu saja ekspektasi mereka tinggi dong. Kan mereka bayar mahal untuk datang sekolah di Inggris. Ditambah lagi, kelas saya ini sebagian besar mahasiswanya adalah Dokter. Ada juga dokter gigi, midwifes (bidan), dan human anatomist. Pasti orang pinter-pinter semua.
Yang kurang saya antisipasi adalah kekuatan fisik dalam mengajar. Dulu sih saya kuat mengajar beberapa jam di beberapa kelas. Setelah selesai mengajar kemarin, saya merasa capek yang luar biasa. Capek banget. Capek ngomong, capek mikir, capek kaki karena berdiri.
Asyiknya, semua mahasiswa nampaknya cukup antusias mengikuti pelajaran. Hanya saat sesi siang hari sebagian mukanya sudah berubah menjadi muka ngantuk dan capek. Jadi saya agak banyak cerita dan bercanda agar mereka (dan saya) nggak kebablasan ngantuknya.
Akhirnya hari yang penting itu sudah lewat. Ditutup dengan datangnya seorang mahasiswa untuk konsultasi pada jam 5 sore. Dia datang dengan istrinya, ikut duduk bersama di ruangan saya. Setelah selesai, malah istrinya yang bilang pada saya, “You need a rest“…. he…he… tau aja…..
Satu hari masuk batas tahun baru 2007, mulailah lembaran baru kehidupan profesional saya. Kembali ke lingkungan akademik, mengatur mahasiswa, masuk kelas, dll. Mmmm sounds familiar business. Satu-satunya yang tidak familiar adalah saya melakukannya di sebuah universitas di West Midlands, dekat Birmingham.
Saya ditempatkan di lantai 3 sebuah gedung tua (ex-hotel katanya) yang menghadap sebuah perempatan sibuk di Wolverhampton City Centre. Di luar jendela sana lalu lalang bus kota dan orang yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.
Komputer sudah siap terpasang, meja dan kursi sudah ada. Namun saya belum dapat ID card, Computer access, library code dll. Maklum my line manager belum masuk kerja setelah liburan Natal dan tahun baru kemarin. Tapi untungnya laptop yang saya bawa dari rumah bisa langsung dipakai di sini dan bisa akses internet tanpa register macam-macam. Aman dah!
Hari pertama masuk kerja saya dikenalkan pada puluhan orang yang ada di school of health. Beberapa wajah sudah pernah saya temui sebelumnya saat interview dulu, demikian juga dari informasi yang ada di website. Sebagian besar lainnya nama-nama dan wajah baru. Pusing juga mencoba menghapal nama-nama mereka.
Hari kedua mulailah the fun part begins. Tanggung jawab saya adalah sebagai Award Leader untuk program Master in Public Health. Kerjaan berat juga nih. Soalnya selama ini saya tidak begitu jelas tugas saya sebagai apa. Saya kira cuma sebagai staf pengajar ‘tok’ nggak tahunya saya punya tanggung jawab berat nih…..
Salah seorang kolega yang selama ini memegang tanggung jawab tersebut pelan-pelan menjelaskan segala sesuatunya pada saya, dan mulai memforward email-email penting. Tambah pusing…..
Sementara ini saya tinggal di sebuah flat di dekat kampus. Kebetulan tempatnya dekat sekali dengan supermarket ASDA yang buka 24 jam, dan juga stadion sepakbola Wolverhampton Wanderers. Dari sana cukup jalan kaki 5-10 menit untuk sampai ke kantor saya.
That’s it for now, New Year, New Job, New House
Insya Allah the best for all of us!
Pagi tanggal 30 Mei sepucuk email masuk ke inbox account gmail-ku membawa kabar duka. Email itu berisi kabar bahwa Ana, salah seorang teman dan juga mantan anak buahku, tertabrak motor sewaktu hendak menuju ATM BCA di jalan Nusantara, Depok. Saat email itu dikirim Ana masih sedang dioperasi di RS MMC Jakarta.
Aku menjadi sangat sedih. Betapa tidak, kemarin siangnya, aku masih chatting dengan Ana via Yahoo Messenger, sampai di sore hari saat selesai kantor dia pamit hendak pulang. Isi chat kami masih seperti biasanya. Candaan dan tawaan serta berbagi informasi tentang Jakarta dan teman-teman semua.
Aku kenal pertama kenal Ana sewaktu ia dibawa Adi, salah seorang mahasiswa D3 AKK yang aku rekrut untuk bantu-bantu kerja di PS KARS. Saat itu aku butuh banyak tenaga untuk entry data abstrak thesis mahasiswa S2 KARS di perpustakaan FKM UI. Niat kami adalah semua abstrak thesis mahasiswa yang sudah lulus sejak awal program itu ada bisa diakses dalam bentuk database elektronik. Saat itu juga ada Ninies, sahabat Ana, yang juga ikut kerja bareng bertiga bersama Adi. Lama kelamaan, Ana dan Ninies jadi sering kami minta membantu kami untuk melakukan pekerjaan kantor lain. Mulai dari membereskan administrasi sampai menyiapkan ujian mahasiswa. Kami semua senang dengan mereka berdua karena mereka cekatan dalam bekerja dan mudah bergaul dengan kami staf di program itu. Mereka bekerja dari pagi hari sampai sore, saatnya mereka kuliah di Program D3 FKM UI yang waktu kuliahnya di sore hari.
Di kantor saat itu juga ada Uki, Idel, Adru, Nuning, dan Asep yang bekerja sebagai staf. Di jajaran staf pengajar jurusan AKK yang mengelola program ada pak Alex, pak Wiku, dan aku sendiri.
Di luar ruangan kantor, aku juga mengajar Ana karena aku juga dapat ‘jatah’ mengajar di program D3. Banyak rekan-rekan Ana, Ninies, dan Adi yang kemudian juga aku kenal karena aku dekat dengan mereka bertiga.
Setelah lulus dari program D3, Ana mendaftar ke program S1 di FKM UI. Demikian pula Ninies. Jadilah mereka terus bekerja sambil kuliah. Setelah lulus, Ana melamar kerja di sebuah perusahaan Asuransi milik pemerintah, sedangkan Ninies tetap bekerja di FKM UI. Ana kemudian menikah dan tidak lama kemudian mempunyai seorang putri yang cantik. Sewaktu anaknya lahir, aku dan teman-teman sempat menjenguk ke rumah ibunya di Depok. “Anak kecil kok bisa punya anak ya” demikian candaan kami ketika itu pada Ana. Maklum, Ana mempunyai postur tubuh yang kecil dan wajah yang kekanak-kanakan.
Sewaktu aku berangkat sekolah dan kemudian bekerja ke luar negeri, hubungan dengan Ana masih tetap aku jaga dengan kontak via email dan chatting via Yahoo. Sampai tibanya email dari Ninies pagi itu.
Hanya sedikit lebih dari satu minggu kemudian setelah kecelakaan itu, sebuah SMS dari Uki mengabarkan bahwa Ana sudah berpulang ke Yang Maha Kuasa. Ia meninggal dunia tanpa sempat sadar lagi dari koma yang dialaminya. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun.
Entah kenapa, tadi malam 6 bulan setelah Ana kembali kepadaNya, aku teringat kembali tentang dia. Entah kenapa.
Ia seperti mengingatkan bahwa ajal tidak bisa diterka. Siapa sangka Ana yang ceria dan masih bercanda denganku tiba-tiba diambil kembali ke haribaan Allah. Meninggalkan putri kecilnya, dan suami tercintanya. Kenangan terakhir dari Ana padaku adalah sepucuk SMS darinya yang masih aku simpan di handphoneku.
Ana pernah juga ‘curhat’ via Yahoo padaku, tentang kondisi kerja di kantornya. Dimana ia pernah diminta oleh atasannya untuk membuat laporan keuangan yang tidak semestinya. Ia tidak mau melakukannya tapi sang atasan tetap memaksa. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ana terhadap permintaan itu tapi yang jelas Ana merasa bahwa perbuatan itu tidak benar. Alhamdulillah. Ia masih bisa punya pendirian yang benar.
Meski Ana hanya salah seorang temanku, kehilangan Ana cukup membuatku tersadar pada kehidupan ini. Hidup ini hanya fana dan hanya satu hal yang pasti. Kita pasti mati.
Selamat jalan Ana. Selamat jalan temanku. Doa kami menyertaimu.
Setiap orang punya masalah. Besar, kecil. Relatif.
Dari yang pernah saya pelajari, definisi masalah adalah sesuatu hal dimana kenyataan yang ada tidaklah sesuai dengan harapan yang kita idamkan. Ada masalah dalam pekerjaan, masalah dalam rumah tangga, masalah dengan lingkungan, masalah keuangan, masalah dalam kehidupan sosial, bahkan juga masalah dengan diri sendiri.
Besarnya masalah juga bersifat relatif. Suatu masalah yang sama mungkin akan dipersepsikan berbeda oleh orang yang mengalaminya dalam setting atau kondisi yang lain. Suatu masa mungkin masalah itu tidak dirasakan, suatu masa yang lain masalah yang sama bisa seperti onak dalam daging. Masalah nisbi sifatnya.
Setiap orang punya rejeki. Besar, kecil. Relatif.
Tadi pagi sebelum berangkat aku temukan tulisan tangan anak perempuanku di selembar kertas agak tebal.

Terharu sekaligus bangga aku membaca tulisannya, yang walaupun masih berantakan dan banyak salah kesalahan spelling, isinya cukup dapat dimengerti.
Bulan lalu ia genap berumur 6 tahun.
Jas. Pakaian yang satu ini, sering dijadikan simbol status. Kalau di Indonesia ada orang yang kemana-mana pakai jas pasti orang kaya dan/atau penting. Paling tidak ia harus kemana-mana dengan menggunakan kendaraan yang ber AC. Juga ruang tempat ia bekerja harus sejuk ber AC. Kan nggak lucu kalau kita pakai jas dan naik metromini atau bus kota, pasti deh basah kuyup kebasahan keringat.
Minggu pagi lalu, selepas makan sahur dan shalat Subuh kami kembali tidur. Maklum badan masih letih setelah kedatangan tamu kerabat kami dari jauh dan mengantar mereka putar-putar berwisata dan belanja.
Pukul 1o pagi, aku masih santai di tempat tidur. Istriku membuka pintu depan rumah untuk membuang sampah. Terkejut ia melihat ada tumpukan tinggi koran tergeletak di depan rumah kami, dengan kondisiyang agak basah terkena hujan. Istriku segera berlari dan berteriak ke arahku di kamar. “Mas! Koran udah ada tuh harus dianterin sekarang!!!!” katanya dengan tergesa-gesa.
Stepping my feet to the First Capital Connect service to London this morning, I felt different. I wore a tie and suit. That’s different. I am not usually going to work using a formal attire, but rather using a more relaxed shirt or even casual shirt.
It was Friday morning rush hour train service to London, one of the most important city in the world. It was still a relatively empty train as she was just started its journey two stations earlier. I joined the score of commuters starting their journey today either to work, or do something important in the country’s capital. Men in dark suits and women in blazers or chick clothing flocked the train. Occasionally you’ll see young men in shirts and shorts, and girls in fancy skirts. Some brought their hot coffeem newspapers, novels, laptops and ipods to accompany them spending the journey in this morning midst.
UK: 1.5 yrs + 3.5 yrs (and counting….) - Study and Work
Australia: 3 months - Study
New Zealand : 6 days - Leisure
Singapore: 1 day - Leisure
Malaysia: 4 days - Work
France: 3 days - Leisure
Netherlands: 1 day - Leisure
Belgium: 1 day - Leisure
USA: 6 days - Work
Egypt: 1 day - Leisure (unintended)
Saudi Arabia: 5 days + 14 days - Religious
Airport Only: Taiwan, Srilanka, UAE, Switzerland
Indonesian places:
Jakarta, Pandeglang, Serang, Ujung Kulon, Bandar Lampung, Tanggamus, Palembang, Prabumulih, Muara Enim, Padang, Bukittinggi, Banda Aceh, Banjarmasin, Palu, Makasar, Ambon, Mataram, Praya, Selong, Denpasar, Surabaya, Kediri, Blitar, Malang, Surakarta, Semarang, Yogyakarta, Magelang, Klaten, Playen, Prembun, Purwokerto, Cirebon, Karawang, Majalengka, Tasikmalaya, Bandung, Sukabumi, Bogor.
British places:
London, Norwich, Colchester, Cambridge, Cromer, Chatteris, Thetford, Wroxham, Great Yarmouth, Leeds, York, Scarborough, Whitby, Harrogate, Bradford, Leicester, Huddersfield, Sheffield, Newcastle, Manchester, Birmingham, Kendall, Edinburgh, Aberdeen, Dundee, Aviemore, Inverness, Carlisle, Bristol, Aberysthwyth, Bath, Oxford, Swindon, Bicester, Milton Keynes, Luton, Bedford, Huntingdon, Slough, Windsor, Canterburry, Guildford, Hatfield, St Albans, Welwyn Garden City, Stevenage, Letchworth, Hitchin.
Countries I would really like to visit:
Peru: Nazca Lines and Machu Pichu
Russia: St Petersburg and Trans Siberia Trainline
Monggolia: Trans Siberia Trainline
China: Trans Siberia Trainline, The Great Wall and Tibet
Iceland: Reykjavic
Nepal: Over the clouds country
Jordan: Petra
Spain: Barcelona and Cordoba
Morocco: Marakech, Casablanca, and Sahara
Czech Republic: Prague
Greece: Athens
Hungary: Budapest
create your own map
Nama ibuku sangatlah sederhana. Amat sangat sederhana. Aku juga tidak tahu mengapa sampai kakekku (bapak dari ibuku) memberi nama yang sangat sederhana itu. Mungkin agar hidupnya selalu diberi kemurahan oleh Tuhan, atau apalah aku tidak tahu persis.
Ibuku tidak berpendidikan tinggi. Jangankan kuliah atau SMA, sekolah dasarku ia hanya mengikuti selama beberapa tahun saja. Maklum, waktu beliau kecil sekolah masih menjadi sesuatu yang sangat berat baik dari sisi akses maupun biaya. Waktu aku sudah pandai membaca, ibuku masih tertatih-tatih membaca suratkabar. Aku kadang ikut membantunya membaca.
Waktu aku belajar mengaji, ibuku diam-diam ikut belajar juga. Ia belajar sendiri sedikit-sedikit. Tapi dengan semangatnya yang kuat, akhirnya beliau mampu mengaji dengan baik. Bahkan jauh lebih baik dan lancar dari aku.
Ibuku jarang sekali mengeluh. Apa yang diterima dari bapak selalu diterima dengan sabar dan baik. Ibu juga jarang sekali memperlihatkan rasa sedihnya. Hanya pernah satu kali aku ketika masih kecil melihat ibu menangis sendirian di kamar. Aku datangi beliau dan coba menghibur tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Akhirnya aku cuma duduk menunggu beliau selesai menangis saja ketika itu.
Ibu jarang mengeluh sakit. Paling penyakit yang dikeluhkannya adalah varices di kakinya, dan ketika usianya telah bertambah senja adalah pengapuran di pergelangan kakinya. Teman-teman dan saudara hanya sedikit yang tahu tentang apa yang dikeluhkannya. Bahkan sampai saat sakit berat, ia hanya bercerita bahwa ia hanya sakit kecapekan saja.
Menjelang penghujung tahun lalu, aku telepon ke rumah ibu. Dijawab oleh orang yang menerima telepon, bahwa semua orang sedang ke rumah sakit. Ibu dirawat katanya. Aku kaget tidak kepalang. Ibu kan jarang sakit pikirku. Saat aku tanya kemudian harinya, kakak-kakakku dan bapak hanya memberi tahu bahwa ibu kecapekan jadi harus dirawat di rumah sakit. Badannya hangat terus. Demikian cerita mereka. Setelah beberapa hari dirawat, ibu dibolehkan pulang. Akupun lega.
Tidak berapa lama kemudian, ibu harus dirawat kembali di rumah sakit. Beliau tidak mau makan katanya. Badannya tambah lemah. Suhu badannya agak tinggi dan tidak turun-turun. Kalau aku menelepon ibu langsung ke rumah sakit, beliau hanya bilang badannya lemas. Nggak mau makan. Tapi Ibu nggak apa-apa kok kata beliau.
Menjelang liburan Natal, saat aku telepon Jakarta, kakakku membisikkan sesuatu yang
menggetarkan hatiku. Ibu sakit Leukemia katanya. Aku lemas dan tidak bisa berkata-kata. “Beneran mbak?” kataku. Kakakku menjawab bahwa itulah diagnosa saat itu, tapi untuk kepastiannya masih menunggu hasil laboratorium. Namun ibu disarankan untuk langsung diberi chemotherapy beberapa hari kemudian.
Aku langsung ceritakan berita ini pada istriku. Ia langsung berkata padaku: “Mas, kamu pulang saja langsung. Ini persis seperti bapakku”, katanya. Mertuaku yang laki-laki memang dulu juga meninggal karena Leukemia.
Secepatnya aku cari tiket untuk menjenguk ibu di Jakarta. Aku pulang tanpa memberi tahu bapak dan ibu karena pasti ibu melarang kalau tahu aku mau pulang hanya untuk menjenguk beliau. Sampai di Jakarta, hari sudah larut malam aku langsung masuk ke kamar ibuku. Melihat aku datang, ibu tersenyum walau ia terlihat lemah sekali. Ia mencoba bangun menyambutku.
Setelah beberapa hari di Jakarta, aku mengajak Ibu meminta pandangan alternatif dari dokter spesialis darah lain kenalanku. Dengan membawa hasil pemeriksaan laboratorium beberapa minggu terakhir kami menemui dokter itu. Sang dokter yang baik memeriksa Ibu dengan telaten sambil bercanda sedikit. Di akhir pemeriksaan beliau menulis di secarik kertas dan disodorkan kepadaku tanpa melalui ibu. “Leukemia Myeloblastic Akut”. Demikian tulisan yang ada di kertas itu.
Aku serahkan kertas itu ke kakakku (yang kebetulan dokter juga) yang juga menemani Ibu di ruang itu. Iapun mengangguk lemah dan pasrah. Dokter spesialis darah itu melanjutkan obrolan dengan Ibu. Tidak ada satupun tindakan besar yang direkomendasikannya. Tidak juga Chemotherapy yang umum dilakukan untuk pengidap penyakit ini. Apalagi Bone Marrow Transplant. Tidak disebut-sebut sama sekali.
Ibu tidak perlu dirawat, boleh makan apa saja yang tidak terlalu merangsang pencernaannya, dan tidak perlu sering-sering kontrol ke dokter. Saran yang cukup mengejutkan. Setelah aku pelajari sendiri, di negara majupun untuk mereka yang sudah berumur di atas 60 tahun Chemotherapy untuk menangani Leukemia memang tidak dianjurkan. Hanya perawatan paliatif, menjaga kualitas hidup saja yang akan diberikan pada Ibu.
Akhirnya Ibu dirawat di rumah oleh keluarga saja. Selain mendapat vitamin dan makanan tambahan dari dokter, Ibu juga minta diantar untuk mendapat pengobatan alternatif. Kebetulan adik bapakku pernah terkena stroke dan setelah itu dirawat oleh seorang akhli pengobatan tradisional di kawasan Bekasi. Ibu minta diantar ke sana dan kami turuti. Walau aku kurang ‘sreg’ dengan sang juru pengobatan, Ibu merasa cocok dan minta terus diantar ke sana secara rutin.
Pernah juga kakakku membawa seorang akhli pengobatan dari Surabaya. Ia ini seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan, berjilbab, dan berasal dari kawasan Indonesia Timur. Kakakku sangat percaya pada dia karena salah seorang familinya yang pernah dinyatakan tidak tertolong oleh dokter sembuh setelah diobati oleh akhli pengobatan ini. Ternyata ia hanya pembohong besar.
Suatu ketika Ibu kadar Hb dan Lekosit dalam darahnya menurun drastis. Setelah mengkonsultasikan dengan kakakku yang dokter, kami putuskan untuk minta ditransfusi darah di rumah sakit. Jadilah beliau dirawat selama beberapa hari, dan kami minta sumbangan darah dari sepupuku yang kebetulan bergolongan darah yang sama. Aku puas menunggu dan merawat Ibuku, mencoba membalas kebaikan beliau padaku.
Ibu tidak lama sanggup bertahan. Kurang dari dua bulan sejak didiagnosa menderita penyakit fatal ini, beliaupun pergi menghadap sang Khalik. Sayang menjelang saat terakhirnya aku tidak bisa menungguinya. Seminggu sebelum beliau meninggal, aku pergi kembali ke tempat tinggalku sekarang, pertama karena ada komitmen untuk menghadiri sebuah acara pengumpulan dana di London dan kedua juga aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan istri dan anak-anakku. Saat aku pamit, aku cium kedua tangannya sambil mohon ampun atas segala kesalahanku. Aku sampaikan padanya untuk tidak ragu memanggilku pulang ke Jakarta kalau beliau ingin aku pulang. Aku takut kehilangan ibuku.
Sayang beberapa hari kemudian, kesehatan Ibu menurun. Ibu kembali tidak mau makan. Semangatnya menurun. Rencana kunjungan rutin ke dokter langsung diubah menjadi rawat inap. Kesehatannya terus menurun. Aku segera mencari tiket pulang ke Jakarta, dengan pesawat seadanya. Sayang, Ibu tidak bisa menungguku. Saat kami hendak boarding pesawat KLM di bandara London Heathrow, suara kakak iparku di ujung telepon mengabarkan bahwa Ibu sudah tiada. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Aku dulu dulu sempat punya keinginan untuk bisa memandikan jenasah Ibuku sendiri, sebagai tanda balas budiku padanya. Namun jarak yang memisahkan aku dengan ibu terlalu jauh untuk dapat ditempuh dalam waktu singkat sebelum jasad Ibu dikebumikan.
Sebelum meninggal dulu, saat aku, kakakku yang tertua, serta Bapak menemani Ibu nonton televisi, Ibu sempat menyampaikan agar jika meninggal kelak jasadnya untuk dikuburkan di kampung halamannya ketika kecil di tanah kapur Gunung Kidul. Ia pun minta agar jika Bapak meninggal kelak, bisa dikuburkan pula di dekatnya.
Untungnya aku masih bisa menemui jasad Ibuku sebelum dikuburkan. Wajahnya yang memutih masih sempat aku pandangi lama-lama. Maafkan aku Ibu. Aku belum bisa membahagiakanmu. Aku masih harus banyak belajar tentang dunia ini. Aku masih banyak belajar darimu.
Aku melompat masuk ke liang lahat dari tanah basah berpasir, untuk menerima jasad Ibu untuk dibaringkan di sana. Aku elus belakang kepalanya untuk terakhir kali sambil mengucap selamat jalan. Selamat jalan Ibu. Hanya doaku yang pergi bersamamu.




