You are currently browsing the category archive for the 'Islam' category.
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] 261)
Sabda Rasul: Barang siapa yang ingin dimudahkan urusannya oleh Allah, ingin diringankan penderitaannya oleh Allah dan ingin ditolong oleh Allah disetiap permasalahannya, hendaklah dia membantu sesama, meringankan penderitaan sesama, dan menolong mereka yang lebih susah, lebih menderita.
H.R Ath-Thabrani
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
QS 29:45
Narrated by Abdullah bin Mas’ud: The Prophet Muhammad salallahu alaihi wassalam said, “Do not wish to be like anyone except in two cases. The first is a person, whom Allah has given wealth and he spends it righteously (according to what Allah has ordained in a just and right way); (the second is) the one whom Allah has given Al-Hikmah [wisdom i.e. the knowledge of the Quran and Sunna of the Prophet] and he acts according to it and teaches it to others“. Book of Knowledge, Sahih al Bukhari.
- - - - - - - - - - - - -
I always like Freddie Mercury. Infact he is my favorite singer and song writer. I do sometimes think to become a singer like him, where I sing in front of thousands of people in Wembley stadium. I had wished to be like him before.
But this beautiful saying from our beloved prophet reminds us that if we wish to become someone else, just wish to be among those two categories of people: a wealthy man but spending his wealth in the way that please Allah, or a knowledgeable person in Quran and Sunnah and share his knowledge to others.
A long time ago when I did my Masters in York, I was involved in a deep discussion with Kandi Dahlan, a PhD student in Bradford and now a prominent economist analyst in Indonesia, about what we would like to be in the future. She commented on my plan to become a lecturer in the future as I like to channel my idealism through teaching and lecturing others. “You won’t get much money”, she said. There is little point just to be come a good man and just telling others about our ideal world. She suggested me to simply aim to become a wealthy man. Get as much money as possible. Be rich. If we are rich, people will be looking at whatever you are doing. They will listen. No need to preach, lecture, and telling people about things. And the wealth we are having can be spent on good things, to help people, to work in the way that pleases Allah. Of course we should get our wealth in appropriate ways in the first place.
I see her point. And the saying of the Prophet sallallahu alaihi wassalam seems to agree with that.
In our life, we can see examples of those people who have worked hard, become rich, and spend their money in good cause. However, we can also see people who are not only gaining their wealth inappropriately, but also spend them incredibly wastefully. I remember some years ago there was a court battle in Singapore between the families of AT, a late Indonesian rich man, and the Indonesian national oil company regarding the a large amount of money deposited in his name. The families, without contrition, are pursuing this money which were acquired through commissions and other shameful ways. Where do you think the family would spend the money had they got it?
However, all of this is true IF we wish to be someone else. If you are happy to be like yourself as you are now, it is of course your choice!

Say: Even if the ocean were ink for writing the words of my Lord, the ocean would be exhausted before the words of my Lord were exhausted, even if We were to add another ocean to it.
(QS Al Kahf: 109)
Tulisan ini bersumber dari Surat Yusuf, surat 12 dalam Al Quran.
Ibrahim AS, adalah bapak para Nabi. Ibrahim berputra tiga orang, 2 diantaranya adalah nabi, yaitu nabi Ismail AS (Siti Hajar) dan nabi Ishaq AS (Siti Sarah). Nabi Ismail menurunkan Nabi Muhammad SAW beberapa generasi selanjutnya.
Nabi Ishaq mempunyai 2 orang anak, yaitu Isu dan Ya’qub AS.
Nabi Ya’qub (Israil) – keturunannya disebut Bani Israil. Punya 12 anak yang membentuk 12 suku Bani Israil. Salah seorang diantaranya adalah Nabi Yusuf AS.
Suku Bani Israil ini menurunkan banyak nabi: Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Ilyas AS, Nabi Ilyasa AS, Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Yunus AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS.
Nabi Yusuf hidup kira-kira pada tahun 1700 S.M atau 3700 tahun yang lalu.
Surat ini dimulai dengan cerita mimpi Nabi Yusuf semasa dia kanak-kanak. Mimpi itu diceritakannya kepada ayahnya Yaakub, yang juga menjadi seorang Nabi.
“Ayah, saya melihat sebelas bintang, dan matahari, dan bulan; saya melihat mereka sujud kepada saya” (12:4).
Setelah mendengar cerita Yusuf, ayahnya melarang mimpi itu daripada diceritakan kepada saudara-saudaranya (12 bersaudara). Dia juga memberi tahu Yusuf bahawa Tuhan telah memilihnya dan mengajarnya interpretasi mimpi.
Abang-abangnya tidak suka padanya Karena mereka mengira Yusuf dan adiknya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah mereka daripada mereka. Lalu mereka bercadang untuk membunuh atau membuang Yusuf ke tempat lain, lalu mereka berjanji akan menjadi orang Shaleh (bertaubat). Akan tetapi,
“Seorang daripada mereka berkata, ‘Tidak, janganlah membunuh Yusuf, tetapi lemparlah dia ke dasar sumur, dan supaya dipungut oleh sebagian orang-orang yang lalu (pengembara), jika kamu mau melakukan’” (12:10).
Setelah menetapkan rencana itu mereka pergi kepada ayah mereka (Nabi Ya’qub), meminta ijin dari ayah mereka, supaya Yusuf dapat pergi bersama mereka untuk bersenang-senang dan bermain pada keesokan hari.
Pada mulanya ayah mereka keberatan untuk membolehkan Yusuf pergi bersama mereka, dengan berkata “Sesunggungnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau ia dimakan serigala, sedang kamu lalai daripadanya ” (12:13).
Maka ketika mereka membawa Yusuf pergi dan kemudian memasukkannya ke dalam sumur, lalu Allah menurunkan wahyu pada kepada nabi Yusuf “Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tiada ingat lagi” (12:15).
Mereka balik kepada ayah mereka pada waktu petang hari, seraya menangis dan berkata, “Ayah, kami pergi berlomba lari, dan kami meninggalkan Yusuf dengan barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala. Tetapi ayah tentu tidak akan mempercayai kami, sekalipun kami berkata benar.”
Dan, mereka menunjukkan baju Yusuf dengan lumuran darah palsu padanya. Ayahnya berkata, “Bahkan sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) ini, maka kesabaran itulah yang baik. Dan Allah jualah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”
Tidak lama kemudian, orang-orang datang ke sumur di mana Yusuf berada di dasarnya. Mereka mengutus seseorang untuk mengambil air dari sumur, lalu dia menurunkan timbanya. Tiba-tiba dia berkata, “Oh, kabar gembira! Ini seorang anak muda.”
Mereka merahasiakan penemuan Yusuf dari kafilah lainnya dan mengambil Yusuf sebagai barang dagangan; dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Kemudian mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, hanya beberapa dirham saja, karena mereka tidak tertarik padanya.
Orang yang membelinya, berasal dari Mesir, berkata kepada istrinya, “Hormatilah kedudukannya, boleh jadi dia akan bermanfaat kepada kita, atau kita pungut dia sebagai anak sendiri.”
Dengan itu, Tuhan meneguhkan Yusuf di bumi (Yusuf kelak menjadi pemimpin di Mesir) dan agar Allah dapat mengajarnya interpretasi mimpi.
Maka tinggallah Nabi Yusuf bersama orang Mesir yang membelinya sehingga dewasa. Dia menjadi seorang lelaki yang amat tampan. Ketampanan beliau membuat Zalikha, istri pembesar yang membelinya, menjadi tergoda.
Perempuan itu menutup pintu-pintu di rumah mereka seraya berkata, “Marilah engkau kesini!” Yusuf menjawab, “Aku berlindung pada Allah, sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan baik”
Kalau tidak karena pertolongan Allah, Nabi Yusuf akan tergoda pada perempuan itu. Dan keduanya lari ke pintu, lalu perempuan tersebut mengkayakkan baju Yusuf dari belakang.
Mereka mendapati suami perempuan itu di depan pintu. Perempuan itu berkata, “Apakah balasan bagi orang yang menghendaki berbuat serong dengan istrimu selain dipejarakan atau dihukum dengan sisaan yang pedih?”
Yusuf berkata, “Dia yang menggoda saya”. Lalu seorang saksi dari keluarga perempuan itu memberi suatu kesaksian, “Jika bajunya koyak di bagian depan, maka perempuan itu telah berkata benar, dan Yusuf berdusta termasuk orang yang berdusta. Tetapi jika bajunya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang berdusta, dan Yusuf orang yang benar.”
Maka tatkala suaminya melihat baju Yusuf koyak di belakang, dia berkata, “Sesungguhnya perbuatan ini adalah sebagian dari tipu daya kamu. Yusuf, berpalinglah dari hal ini, dan engkau hai istriku, mohon ampunlah atas dosamu itu karena sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah.”
Kejadian itu sampai ke telinga wanita-wanita lain di kota itu. Mereka berkata, “Istri pembesar itu menggoda hambanya yang menundukkan hatinya dengan cinta!”
Maka tatkala perempuan itu mendengar ejekan mereka dan diundanglah perempuan-perempuan itu untuk datang ke rumahnya. Ia memberikan tiap-tiap orang yang datang sebilah pisau. Kemudian, dia menyuruh Yusuf datang ke ruangan tempat mereka berkumpul. Ketika mereka melihatnya, mereka sangat kagum kepadanya, hingga pisau yang mereka genggam melukai jari-jari mereka. “Maha Sempurna Allah, ini bukan manusia, ini tidak lain hanya malaikat yang mulia.”
Lalu isteri pembesar itu berkata, “Inilah dia orang yang kamu cela aku karenanya. Benar, aku telah menggoda dia, tetapi dia menolak. Dan, jika dia tidak mematuhi apa yang aku perintahkan, niscaya dia akan dipenjarakan.”
Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan padaku. Dan jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka daripadaku, niscaya hatiku cenderung kepadanya, dan tentulah aku tergolong orang-orang yang bodoh.
Maka Tuhan memperkenankan doanya, dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Untuk menutupi aib keluarga pembesar tersebut, maka Yusuf dimasukkan ke dalam penjara. Masuklah bersamanya dua orang pemuda. Salah seorang daripada mereka berkata, “Sesungguhnya aku bermimpi memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi bahwa aku membawa roti di atas kepalaku dan sebagian diantaranya dimakan burung. Terangkan pada kami artinya. Sesungguhnya kami memandangmu sebagai orang yang berbuat kebajikan.”
Lalu Yusuf menerangkan arti mimpi mereka, “Wahai kedua temanku dalam penjara, salah seorang dari kamu akan memberi minuman arak untuk tuannya (dia akan kembali ke pekerjaannya semula sebagai pelayan sekeluarnya dari Penjara), dan yang satu lagi, dia akan disalib, lalu burung memakan sebagian kepalanya.”
Kemudian dia berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua, “Ingatkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Akan tetapi, setan menjadikan dia lupa untuk mengingatkan keadaan Yusuf kepada tuannya. Maka tinggallah Yusuf dalam penjara selama beberapa tahun.
Suatu hari, raja berkata, “Aku bermimpi tujuh ekor sapi betina yang gemuk, dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; dan tujuh tangkai yang hijau, dan tujuh tangkai lain yang kering. Wahai para pembesar, terangkanlah padaku tentang arti mimpiku.”
Tiada seorang pun antara mereka yang tahu. Kemudian pemuda yang telah diselamatkan dahulu (teman Yusuf di penjara) berkata, setelah teringat pada Yusuf, “Aku sendiri akan memberitahu padamu artinya, maka utuslah aku (pada Yusuf).”
Setelah bertemu Yusuf, ia bertanya,”Wahai Yusuf orang yang benar, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk, yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, dan tujuh tangkai yang hijau, dan tujuh tangkai lain yang kering, supaya aku kembali kepada mereka (raja dan para pembesar mesir tadi) agar mereka mengetahuinya.”
Yusuf berkata, “Kamu bercocok tanam tujuh tahun sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan pada tangkainya, kecuali sedikit daripadanya untuk kamu makan. Kemudian setelah itu, akan datang tujuh tahun yang amat sulit menghabiskan apa yang kamu sediakan itu kecuali sedikit yang kamu simpan. Kemudian sesudah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan, dan dimasa itu mereka memeras buah-buahan.”
Setelah mendengar interpretasi mimpi itu, Raja berkata, “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf, “Kembalilah kepada tuanmu, dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya (Yusuf). Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka”
Raja mengabulkan permintaan Yusuf, serta memanggil perempuan-perempuan itu dan bertanya, “Apakah urusan kamu, perempuan-perempuan, sehingga kamu menggoda Yusuf?” Mereka menjawab, “Maha Sempurna Allah! Kami tidak mengetahui keburukan padanya.” Isteri pembesar itu berkata, “Sekarang sudah nyatalah kebenaran. Sayalah yang menggodanya.”
Raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku. Aku akan memilihnya sebagai pembantu dekatku.” Setelah Yusuf berada didekatnya, dia berkata kepada Yusuf, “Pada hari ini, engkau di sisi kami mempunyai kedudukan lagi dipercaya.”
Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendahara negeri ini (Mesir). Sesungguhnya aku sanggup memelihara lagi cukup mengetahui.”
Maka Yusuf ditetapkan Allah untuk memperoleh kedudukan terhormat di negeri Mesir, walaupun ia dapat tinggal di mana saya yang ia kehendaki.
Suatu hari, datanglah saudara-saudara Yusuf, lalu masuk menemuinya. Yusuf mengenali mereka, tetapi mereka tidak. Mereka datang untuk meminta pertolongan makanan.
Setelah Yusuf menyiapkan perbekalan untuk mereka, dia berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang sebapak (yaitu Bunyamin). Tidakkah kamu melihat aku menepati sukatan (timbangan/ukuran), sedang aku sebaik-baik penerima tamu? Tetapi jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapatkan sukatan (lagi) dari padaku, dan jangan kamu mendekatiku.”
Mereka menjawab, “Kami akan membujuk ayah kami; dan sungguh kami akan melakukannya.”
Lalu Yusuf menyuruh budak-budak suruhannya untuk mengembalikan uang yang dibawa untuk mengganti perbekalan makanan dari Yusuf ke dalam pundi-pundi mereka, supaya mereka dapat mengenalinya apabila mereka balik kepada keluarga mereka.
Maka tatkala mereka kembali kepada ayah mereka, mereka berkata, “Ayah, sukatan itu dilarang bagi kami, sebab itu kirimlah saudara kami (Bunyamin) bersama kami supaya kami mendapat sukatan itu. Sesungguhnya kami akan menjaganya.”
Ayah mereka (Ya’qub) berkata, “Adakah aku akan mempercayai kamu kepadanya seperti aku mempercayai kamu kepada saudaranya dahulu?”
Dan, ketika mereka membuka barang-barang mereka, mereka dapati uang mereka dikembalikan lagi kepada mereka. Mereka berkata, “Ayah, apakah yang kita inginkan lagi? Uang kita sudah dikembalikan kepada kita, dan kami mendapat bekalan makanan untuk keluarga kami, dan kami akan menjaga saudara kita; kami akan mendapat tambahan beban seekor unta. Itulah sukatan (perhitungan) yang mudah.”
“Aku tidak akan mengutusnya bersama kamu sehingga kamu memberi aku satu janji yang teguh dengan Allah, bahwa kamu pasti akan mendatangkannya kembali kepadaku, kecuali kamu dikepung.” Maka tatkala mereka telah memberikan janji mereka, dia berkata, “Allah menjadi saksi atas apa yang kami ucapkan.”
Maka apabila mereka menemui Yusuf sekali lagi, Yusuf membawa saudaranya ketempatnya, seraya berkata, “Sesungguhnya aku adalah saudaramu; maka janganlah engkau bersedih terhadap apa yang telah mereka perbuat.”
Maka tatkala Yusuf menyiapkan perbekalan mereka, dia meletakkan gelas minumannya ke dalam karung milik saudaranya.
Ketika mereka hendak pergi untuk kembali kepada keluarga mereka, datang orang yang menyerukan, “Hai kafilah, kamu pencuri!”
Mereka bertanya sambil mendekati orang yang menyeru, “Barang apakah yang hilang dari kamu?”
“Kami kehilangan gelas berkaki kepunyaan raja. Dan barang siapa dapat mendatangkannya akan memperoleh bahan makanan seberat beban seekor unta; itu aku jamin.”
Mereka berkata, “Demi Allah, kamu mengetahui bahwa kami tidak datang untuk membuat kerusakan di muka bumi (Mesir ini). Kami bukanlah pencuri.”
“Apakah balasannya jika kamu adalah pendusta?”
“Balasannya adalah – bahwa barangsiapa didapati barang yang hilang dalam karungnya, maka dia sendirilah balasannya. Begitulah kami memberi hukuman terhadap orang-orang yang zalim.”
Maka Yusuf mulai memeriksa karung-karung mereka sebelum memeriksa karung saudaranya, kemudian dia mengeluarkan gelas itu dari karung saudaranya.
Demikianlah Allah membuat muslihat untuk Yusuf. Menurut peraturan raja, saudara Yusuf haruslah dijadikan hamba sahaya, tapi Yusuf tidak menghukum saudaranya karena dia tahu saudaranya tidak bersalah.
Mereka berkata, “Jika dia seorang pencuri, seorang saudaranya (yaitu Yusuf) adalah seorang pencuri juga.” Tetapi Yusuf merahasiakannya di dalam dirinya, dan tidak menampakkannya kepada mereka, dengan berkata, “Kamulah yang lebih buruk kedudukannya; Allah Maha Mengetahui apa yang kamu terangkan itu.”
Mereka berkata, “Wahai al-aziz (yang perkasa), sesungguhnya dia mempunyai ayah yang sangat tua; maka ambillah salah seorang antara kami untuk mengganti tempatnya; kami melihat bahwa engkau adalah termasuk orang-orang yang berbuat baik.”
Yusuf berkata, “Kami berlindung kepada Allah daripada menahan seseorang, kecuali orang yang kami temukan harta benda kami padanya, sesungguhnya jika kami berbuat demikian, maka kami termasuk orang-orang yang zalim (12: 79).
Maka kembalilah mereka kepada ayah mereka dan menceritakan tentang saudaranya yang mencuri dan ditahan di Mesir. Kedukaan ayahnya (Ya’qub bertambah), lalu dia berpaling dari mereka, dan berkata, “Aduhai, dukacitaku untuk Yusuf!” dan kedua-dua matanya menjadi putih karena kedukaannya, tetapi dia menahan perasaannya.
Kemudian dia berkata, “Wahai anak-anakku, pergilah dan carilah berita mengenai Yusuf dan saudaranya. Janganlah berputus asa dari kesenangan Allah; sesungguhnya tiada yang berputus asa melainkan kaum yang tidak percaya (kafir).”
Lalu mereka pergi kepada Yusuf dan berkata, “Wahai al-aziz, penderitaan telah menyentuh kami dan keluarga kami. Kami datang dengan membawa barang-barang yang tidak berharga. Tepatilah kepada kami sukatan untuk kami, dan bersedekahlah kepada kami; sesungguhnya Allah membalas orang-orang yang bersedekah.”
Yusuf bertanya, “Apakah kamu mengetahui apa yang kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya, yang ketika itu kamu belum mengetahuinya?”
Mereka menjawab, “Mengapa, apakah kamu benar-benar Yusuf?”
Dia berkata, “Aku Yusuf. Ini saudaraku. Sungguh, Allah telah berbudi baik kepada kami. Sesiapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang yang berbuat baik.”
Mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah lebih menyukai kamu daripada kami, dan sesungguhnya kami bersalah.”
Yusuf berkata, “Tidak ada cercaan pada hari ini kepada kamu; Allah mengampuni kamu; Dia adalah yang Maha Penyayang diantara yang paling para penyayang. Pergilah, ambil baju ini, dan kamu letakkanlah ke wajah ayahku, dan dia akan memperoleh kembali penglihatannya; kemudian bawalah kepadaku keluarga kamu semuanya.”
Maka, apabila kafilah telah berangkat, ayah mereka berkata, “Sesungguhnya aku mendapati bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduh aku lemah akal.”
Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh engkau adalah dalam kekeliruan engkau yang dahulu.”
Tetapi apabila pembawa berita gembira datang kepadanya dan meletakkan baju Yusuf ke mukanya, tiba-tiba dia kembali dapat melihat. Dia berkata, “Tidakkah aku mengatakan kepada kamu bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak tahu?”
Mereka berkata, “Ayah kami, mohonkanlah ampun untuk kami atas kesalahan-kesalahan kami; sesungguhnya kami bersalah.”
“Sungguh, aku akan meminta memohonkan ampun bagi kamu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagu Maha Penyayang.”
Kemudian mereka berangkat ke Mesir untuk menemui Yusuf.
Maka, ketika mereka datang menemui Yusuf, dia membawa ibu dan ayahnya kepadanya, dan berkata, “Masuklah kamu ke Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman.”
Dan dia menaikkan ibu dan ayahnya ke atas singgasana; dan mereka yang lainnya jatuh bersujud kepadanya. Berkata, ‘Ayah, inilah arti mimpi saya yang dahulu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya kebenaran yang nyata. Dia telah berbuat baik kepadaku ketika Dia mengeluarkanku dari penjara, dan Dia mendatangkan kamu dari dusun setelah setan memecah-belah antara aku dan saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Halus (aturan-Nya) terhadap apa yang Dia kehendaki; Sesungguhnya Dialah Yang Mengetahui lagi Yang Maha Bijaksana.
Bagian 1 : London – Jedah Airport
Bersiap memenuhi panggilan Allah
Jika niat dan panggilan untuk menunaikan perintah Allah pergi ke tanah suci untuk beribadah haji sudah datang, Insya Allah semua hambatan dan rintangan dapat dilalui dengan kesabaran dan takwa. Itulah garis besar hikmah dan pelajaran yang dapat kami ambil dari perjalanan kami menempuh ibadah Haji pada musim haji tahun 1424 Hijriah yang lalu.
Kami berkumpul di bandara Heathrow, London dari berbagai pelosok negeri Inggris. Ada anggota rombongan yang berasal dari Scotland, Bristol, Birmingham, Leeds, Norwich bahkan Isle of Wight, sebuah pulau kecil di selatan Inggris. Kami sudah sempat berkenalan dengan beberapa orang anggota rombongan sewaktu diadakan ‘manasik’ mini beberapa minggu sebelum keberangkatan, namun ada pula yang baru saat itu kami berkenalan. Jamaah haji Indonesia yang tergabung dalam kelompok kami ini total berjumlah 16 orang, termasuk diantaranya 4 orang anak perempuan yang semuanya berusia di bawah 6 tahun.
Di bandara, kami melihat beberapa calon jamaah haji (bukan rombongan kami) yang sudah menggunakan pakaian Ihram sejak dari Bandara Inggris. Rombongan kami sendiri sepakat tidak mengenakan pakaian ihram dari kediaman masing-masing di Inggris. Kami hanya bersiap dengan mandi bersih dari rumah, dan berniat untuk mengenakan pakaian ihram serta shalat sunat ihram di bandara Cairo, tempat kami stop over selama beberapa jam. Hal ini dipilih atas dasar pertimbangan praktis karena kami tidak ingin kedinginan selama perjalanan dari rumah masing-masing ke bandara Heathrow, yang waktu itu masih di penghujung bulan Januari yang dinginnya masih menusuk tulang.
Sebenarnya keberangkatan rombongan kami termasuk kuran persiapannya. Selain dari manasik mini yang pernah diselenggarakan beberapa minggu sebelumnya di kota Birmingham, kami tidak sempat membicarakan segala sesuatunya secara langsung. Hanya satu dua diskusi lewat e-mail pernah terlontar diantara kami, calon jamaah haji Indonesia yang berada di Inggris. Bahkan, kami belumlah mempunyai ketua rombongan (Amir) yang pasti untuk mengkoordinir perjalanan kami ini. Barulah di Bandara, salah seorang diantara kami diberitahu tahu bahwa ia diminta untuk menjadi ketua rombongan kami selama perjalanan haji ini.
Setelah membicarakan beberapa persiapan terakhir, antri-lah kami di check-in counter. Karena kami tergolong terlambat untuk check in, kursi yang kami dapati di dalam pesawat sudah terpencar-pencar. Bahkan anak-anak juga mendapat nomor kursi yang terpisah nomor kursinya dari orang tuanya. Namun Alhamdullilah, setelah masuk pesawat Egypt Air, dengan kebaikan hati penumpang lain dan juga awak pesawat, akhirnya anggota jamaah dari setiap keluarga dapat diusahakan untuk duduk bersama-sama dengan keluarganya.
Sebelum pesawat bergerak, hati kamipun mulai tergetar…. Labbaik Allahumma labbaik…. Labbaik kalaa syariikalakalabbaik….. Ya Allah.. kami datang memenuhi panggilanmu ya Allah…..
Perjalanan udara ke Cairo pun berjalan mulus tanpa hambatan. Namun tanpa diduga, cobaan yang cukup berat ternyata menghadang di bandara Cairo. Seperti diungkapkan di atas, termasuk dalam rombongan kami 4 orang anak kecil, yang 2 orang diantaranya adalah putri-putri kembar dari keluarga Bp. Purtojo yang baru selesai dari bertugas di sebuah perusahaan pembuat pesawat terbang. Ternyata Visa Haji untuk pergi ke Saudi Arabia yang ada di passport keluarga Purtojo hanyalah mencantumkan 1 orang anak sebagai ‘dependent’ orang tuanya.
Mungkin kesalahan ini terjadi sewaktu proses pengajuan visa di kedutaan besar Saudi di London, yang menganggap jumlah anak yang diajukan hanya satu orang. Mungkin juga pihak yang membantu kami mengurus Visa lalai dalam mengajukan surat-surat dan dokumen yang diperlukan dalam pengurusan Visa untuk keduanya. Memang kedua putri manis tersebut wajahnya bak pinang dibelah dua. Selintas sulitlah dibedakan antara keduanya. Namun demikian, kamipun alpa dengan tidak mengecek kembali status Visa semua anggota jamaah kami saat passport dibagikan di bandara. Memang kami baru mendapat passport dari pihak yang membantu kami mengurus visa haji dari kedutaan Saudi di London pada saat bertemu di Heathrow Airport pada pagi itu.
Petugas airport dan Egypt Air tidaklah membolehkan adanya calon penumpang pesawat yang tidak mempunyai Visa masuk ke Saudi Arabia. Tentu saja hal ini menimbulkan kebimbangan dan kepanikan seluruh rombongan kami, karena bagaimana mungkin kami bisa meninggalkan seorang anak untuk tidak pergi ke Saudi karena tidak ada Visanya? Ditambah pula bahwa seorang anggota rombongan kami yang wanita ‘dititipkan’ sebagai mahram dari keluarga Purtojo. Jadi bila masalah Visa ini tidak beres, keluarga Purtojo dapat batal berangkat ke tanah suci, ditambah pula dengan jamaah wanita tersebut.
Setelah lama menunggu kebijaksanaan petugas di bandara Cairo, akhirnya kamipun dipanggil petugas. Dr. Muhktaruddin, selaku Amir (ketua) rombongan kami, saya selaku bendahara rombongan, dan pak Purtojo selaku orang tua anak yang bersangkutan diajak diskusi oleh petugas yang bernama Amin (dapat dilihat dari badge nama yang digunakannya). Ia mengungkapkan bahwa sang anak yang tidak punya Visa itu bisa tetap pergi ke Saudi, tapi pihak airlines (Egypt Air) akan memperoleh denda dari pemerintah Saudi karena mengangkut penumpang tanpa Visa yang sah. Pihak Egypt Air meminta kami meninggalkan uang deposit sebesar 3000 Saudian Riyal (sekitar £500 atau Rp. 7,5 juta), yang nantinya bila ternyata tidak jadi didenda oleh pemerintah Saudi dapat diambil kembali di bandara Cairo dalam perjalanan kembali dari ke London.
Kami setuju untuk membayar uang deposit itu, dengan catatan bahwa sang anak pasti dibolehkan masuk ke Saudi Arabia dan tidak akan dideportasi oleh pihak imigrasi di bandara Jedah. Sang petugas memastikan bahwa pemerintah Saudi tidak akan mendeportasikan orang yang sudah masuk ke bandara Jedah, karena saringan Visa ini sudah dilakukan oleh masing-masing airlines. Jadi kalau kita tidak punya Visa masuk ke Saudi Arabia, pihak airlines pasti menolak kita untuk bisa check in masuk pesawat terbang. Khusus untuk kami, petugas Egypt Air ini berusaha memberikan dispensasi karena kasusnya cukup unik.
Setelah mendapat kepastian ini, kamipun menunggu lagi proses selanjutnya. Cukup lama kami menunggu, dan waktu menunggu ini kami pergunakan untuk sekali lagi berbersih diri, dan mengenakan pakaian Ihram. Ternyata sulit juga membiasakan diri mengenakan dua helai pakaian tanpa berjahit ini. Ada perasaan kosong saat mengenakan pakaian ini. Subhanallah, Allah memang ingin menunjukkan pada kita, bahwa kita harus meninggalkan semua atribut duniawi kita saat pergi haji. Tidaklah berharga harta kita di hadapan Allah, saat menghadapNya kita semua sama dan sederajat, tanpa dibedakan merek dan model pakaian. Yang membedakan kita hanyalah takwa kita di hadapan Allah.
Setelah shalat sunah Ihram 2 rakaat, kamipun istirahat, menunggu proses Visa dan keberangkatan pesawat.
Menjelang waktu keberangkatan pesawat, ternyata pesawat ditunda keberangkatannya selama beberapa jam. Amin, petugas Egypt Air itu, memanggil kami lagi dan menyampaikan berita baru. Uang deposit ternyata tidak perlu ditinggal di bandara Cairo. Uang akan dititipkan pada petugas Egypt Air yang ikut berangkat ke Jedah. Jika tidak ada denda yang dikenakan ke Egypt Air, maka uang akan dikembalikan langsung di bandara Jedah. Hal ini cukup melegakan kami, karena akan jauh memudahkan proses nantinya.
Kemudian ia ganti meminta pertolongan pada kami. “I’ve helped you, right?” katanya, “Now you have to help me”. Kami pun bertanya apa gerangan yang harus kami berikan pertolongan pada si petugas ini. Pesawat yang sedianya kami naiki ternyata sudah overbooked. Dan kami diminta untuk mencari 2 orang dari rombongan kami untuk dipindah ke pesawat lain yang akan berangkat lebih dulu. Ia menjanjikan bahwa di bandara Jedah nanti kami akan sampai tidak jauh berbeda waktunya sehingga rombongan kami akan tetap utuh. Kamipun sepakat, dan kami minta pak Shah (dokter Warga Negara Malaysia yang ikut dalam rombongan kami) dan pak Taufik (mantan karyawan IPTN yang sekarang bekerja di Isle of Wight, Inggris) untuk bisa pindah ke pesawat tersebut. Mereka pun setuju.
Setelah semua dipersiapkan, dan uang jaminan diserahkan, ternyata ada perkembangan baru. Semua anggota rombongan akan dipindahkan ke pesawat yang berangkat sekitar satu jam lebih awal dari jadwal pesawat kami semula. Kami dipersilahkan untuk bergegas siap berangkat lebih awal. Perlu diceritakan bahwa dalam pesawat kami semula dari London, ada banyak jamaah lain yang pergi haji juga, diantaranya adalah jamaah haji kelompok warga Malaysia yang berjumlah kurang lebih 25 orang. Mereka semua tidak dipindah dan tetap pada pesawat yang dijadwalkan semula.
Akhirnya kamipun boarding ke pesawat menuju Jedah, dengan pesawat boeing 737 yang jauh lebih kecil dari pesawat kami semula Boeing 777. Kamipun menahan kantuk agar tidak terlewatkan masa untuk melafazkan niat berhaji atau berumrah (tergantung niat kita untuk haji Ifrad atau Tamattu) di Miqat sekitar 15 menit sebelum pesawat mendarat di Jedah. Haji Ifrad adalah pergi melaksanakan haji dulu baru berumrah, dan haji Tamattu adalah pergi melaksanakan umrah dulu baru berhaji. Dengan berhaji Ifrad, calon haji tidak dikenai kewajiban membayar Dam (denda) berupa menyembelih seekor kambing atau domba, namun cukup berat karena harus dalam kondisi ihram terus selama masa sampai di Mekah sampai selesai bertahalul selepas melontar jumrah aqabah dan tawah Ifadah. Walau badan lelah dan mata mengantuk, kami tahan sekuatnya agar sah perjalanan kami ini, dengan mengucapkan niat di Miqat.
Saat awak pesawat memberitahukan dalam bahasa Arab dan Inggris bahwa pesawat sudah dalam posisi Miqat (tempat yang ditentukan Rasulullah untuk berniat Haji atau Umrah), dengan lantang kamipun melafazkan niat ber-umrah dalam rangka berhaji dengan cara Tamattu: Labbaik Allahumma Umratan!
Niat sudah dipasang, pakaian Ihram sudah dikenakan, larangan Ihram sudah berlaku. Tinggal bagaimana kita melaksanakan ibadah dengan khusuk dan ikhlas.
#### bersambung ####
http://donowidiatmoko.wordpress.com/2004/02/01/berhaji-ala-jamaah-inggris-2/
Bagian 2 : Jedah Airport – Mekah
Mekah: tempat Islam dilahirkan
Jedah airport pagi itu sudah sangat sibuk. Terminal khusus haji yang menangani kedatangan kami sudah dipenuhi berbagai pesawat besar kecil dari berbagai penjuru dunia. Lega dan bangga hati ini melihat sebuah pesawat dengan logo Garuda Indonesia ikut parkir di apron airport tersebut.
Hari itu tanggal 26 Januari 2004 (4 Dzulhijjah 1424 Hijriah), 5 hari sebelum puncak ibadah Haji di padang Arafah. Kami dimasukkan ke dalam sebuah ruangan mirip aula dengan kursi fibreglass di sekelilingnya. Sambil melepaskan penat, dan menanti shalat Subuh, paspor kami mulai diperiksa satu demi satu oleh petugas yang mendatangi tempat kami duduk. Alhamdulillah, semua lancar tanpa masalah.
Ternyata ruangan itu hanyalah semacam ruangan transit per kelompok kedatangan pesawat. Tidak lama di sana, kami digeser ke bagian lain dari ruangan itu. Sekali lagi paspor kami diperiksa petugas. Ketika memasuki waktu shalat Subuh, kamipun shalat berjamaah dengan jamaah lainnya, yang kebetulan banyak berasal dari Mesir (karena kami naik Egypt Air dari Cairo).
Dari sana, kami dimasukkan ke ruangan lain di sebelahnya yang berisi bangku panjang berderet-deret. Sekali lagi paspor kami diperiksa oleh petugas yang mendatangi kami satu persatu. Ternyata petugas tersebut bertugas mempersiapkan dan memastikan kelengkapan dokumen kami, dan membagikan alokasi maktab (kantor urusan haji di Saudi) kami nantinya. Karena kami berangkat dari Inggris, maka kami dimasukkan sebagai jamaah di kelompok Muasassah Eropa dan Amerika.
Tidak lama di ruangan itu kami langsung dipanggil menuju counter imigrasi satu demi satu. Proses berjalan cepat, seluruh petugas kelihatannya siap melayani jamaah dengan baik. Namun yang terasa adalah ketatnya pemeriksaan seluruh dokumen. Setiap kali memasuki atau pindah ruangan, paspor kami selalu diperiksa satu demi satu.
Sebelum berangkat dari Inggris, kami diberitahukan oleh rekan jamaah yang berangkat Haji tahun lalu bahwa seluruh proses imigrasi ini perlu waktu yang lama karena petugasnya yang ‘alon-alon asal kelakon’ alias kadangkala bertindak semau mereka dalam melayani jamaah. Namun kesan ini sama sekali tidak terlihat dari pelayanan petugas di Bandara Jedah. Semua tampaknya berlangsung cepat, walaupun di sana-sini masih terlihat hal-hal yang seharusnya dapat ditingkatkan efisiensinya. Namun hal-hal ini patut dimaklumi karena mereka mengatur jutaan jamaah haji dari seluruh dunia dalam waktu yang sempit (lebih kurang 2 bulan).
Setelah keluar dari imigrasi, barang-barang bagasi sudah siap untuk diambil. Tas-tas kami dengan mudah dapat diidentifikasikan karena sudah diberi tanda berupa pita berwarna oranye. Kamipun langsung menuju pemeriksaan barang, yang di luar dugaan kami pula, sudah mempergunakan sistem ‘jalur hijau’ yang hanya memerlukan pemeriksaan barang melalui sinar X. Berdasarkan cerita rekan-rekan yang berangkat haji tahun lalu, pemeriksaan barang dilakukan secara langsung, dimana semua tas harus dibuka dan diperiksa dengan cara manual.
Barang-barang kami pun langsung diangkat oleh petugas porter pengantar barang, dan langsung dikelompokkan tersediri sesuai dengan tujuan jamaah kami (maktab 44 Eropa). Sekali lagi paspor kami dicek sebelum keluar dari tempat pemeriksaan barang tadi, kali ini untuk mengecek bank draft yang harus telah bayarkan sewaktu mengurus Visa di kedutaan besar Saudi di London. Bank Draft ini dipergunakan untuk transport standar jamaah haji dari Jedah ke Mekah, Mekah ke Madinah, dan Madinah ke Jedah, atau bisa juga menggunakan rute sebaliknya (tergantung tanggal kita datang ke Jedah). Bank draft ini juga termasuk biaya service lain-lain yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi.
Alhamdulillah, semua lancar sampai saat ini. Hanya satu hal yang masih mengganjal: Bagaimana status uang deposit bagi si kecil yang Visa-nya terlewatkan? Ternyata, si kecil dapat lolos masuk ke Saudi tanpa dikenakan denda. Uang jaminan pun langsung diberikan pada kami kembali. Alhamdulillah. Kalau kita mantap dan ikhlas niat untuk beribadah, Insya Allah semua masalah akan dapat teratasi.
Kami sudah siap, dan barang-barangpun sudah siap. Ingin kami segera pergi ke Mekah untuk melakukan ibadah kami. Perlu diketahui bahwa sebagian besar dari kami berniat melakukan Haji Tamattu, dimana kami melakukan Umrah terlebih dahulu baru disusul melakukan Haji. Empat orang diantara kami memilih melakukan Haji Ifrad, dimana mereka melakukan Haji terlebih dahulu, baru melakukan Umrah. Sebenarnya ada satu jenis lagi cara menjalankan haji, yaitu dengan cara Qiran, dimana jamaah haji melakukan haji dan umrah sekaligus.
Dari rombongan kami, ada beberapa orang yang sudah pernah menunaikan ibadah haji sebelumnya. Bahkan pak Muchtar, ketua rombongan kami, sudah berkali-kali menunaikan ibadah haji dari Indonesia. Namun ternyata bagi beliau proses perjalanan kali ini adalah sesuatu yang baru. Biasanya, di airport Jedah sudah ada orang yang menjemput dan membantu mengatur transport kepergian ke Jedah. Jamaah haji ONH biasa dari Indonesia juga sudah diatur rapi lengkap dengan petugas yang mengibarkan bendera Indonesia tinggi-tinggi agar jamaah dapat dengan mudah berkumpul dan berkoordinasi. Rombongan kami kali ini tidak demikian. Ketika ditelepon, contact-person di Arab Saudi yang akan membantu mengatakan baru dapat menemui kami di kota Mekah nanti. Karena itu kami harus mencari tahu sendiri bagaimana agar kami dapat sampai ke lokasi penginapan kami di Mekah.
Ketua rombongan kami mulai mencoba mencari tahu bagaimana caranya agar rombongan bisa pergi ke Mekah secepatnya. Sementara itu, kami anggota rombongan beristirahat di kursi-kursi yang ada di terminal Haji Jedah. Rasa penat dan kantuk bergabung menjadi satu, dan kami semua pun tertidur kelelahan.
Pak Mukhtar kembali ke rombongan ketika matahari langit Saudi menghujam kulit di bawah pakaian ihram. Kami diharap bersiap untuk berangkat. Tunggu punya tunggu, tidak juga kami berangkat. Porter yang semula sudah siap membantu mendorong trolley bagasi bahkan sudah menghilang entah kemana.
Sampai hampir tengah hari, barulah kami memperoleh kepastian bahwa kami akan dapat naik bus yang disediakan pemerintah Saudi (bus Naqaba). Paspor kemudian diserahkan ke supir bus untuk disimpan di kantor maktab di Mekah. Sejak itu kami tidak pernah memegang paspor lagi sampai saat hendak check in lagi di Jedah airport untuk pulang ke Inggris.
Bus pun berjalan meninggalkan Jedah menuju Mekah. Kalimat talbiyah dikumandangkan jamaah dalam bus. Namun rasa letih dan kantuk membuat seruan talbiyah menghilang sedikit demi sedikit karena satu demi satu penumpang bus terlelap dalam tidur.
Ba’da Ashar kami pun memasuki kota Mekah. Gunung batu tampak mengepung kota Mekah. Subhanallah, terbayang di benak kami betapa beratnya kondisi di jaman Rasulullah Muhammad SAW, apalagi mungkin di jaman Nabi Ibrahim AS. Rasanya sulit membayangkan kehidupan di daerah yang sedemikian keras, jauh lebih keras dari tandusnya daerah asal orang tua saya di Gunung Kidul. Sepanjang mata memandang, terlihat pegunungan batu dengan tonjolan batu cadas menonjol di setiap tempat yang terlihat, dengan hanya sedikit pepohonan terlihat di antaranya.
Saat ini kota Mekah sudah terbangun megah, dengan jalan layang dan terowongan yang menembus gunung batu. Namun nampaknya tata kota tidaklah terpikirkan dengan baik oleh pemerintah Saudi. Hal ini tampak dari tumpang tindihnya hotel, apartemen dan penginapan lain di sekitar Masjidil Haram. Apalagi kalau dilihat sistem pengaturan lalu lintas di kota itu. Disiplin dan peraturan lalu lintas yang kami lihat di sana sangatlah jauh berbeda dengan apa yang biasa kami lihat di Inggris, dimana sebagian besar pengemudi sangat disiplin dan santun dalam mengemudikan kendaraannya.
Bus kami berhenti di sebuah kantor Maktab, dimana kami diberikan gelang identitas sebagai pengganti paspor kami selama di Mekah dan Madinah. Dari sana kamipun diantar ke penginapan kami di kawasan Aziziyah.
Kami tinggal di sebuah rumah milik seorang Indonesia keturunan Arab yang sudah 20 tahun bermukim di Mekah dan sudah menjadi warga negara Arab Saudi. Begitu datang, kami disambut dengan makanan Indonesia yang sangat menantang sedapnya! Setelah sekian lama ‘berpuasa’ dari makanan enak selama di Inggris, mendapat sajian hidangan yang mantap luar biasa ini langsung menimbulkan semangat pada diri kami kembali.
Segera setelah itu, kamipun berangkat menuju Masjidil Haram untuk berumrah. Didampingi oleh 2 orang mutawwif (pembimbing ibadah) mahasiswa asal Indonesia yang bersekolah di Sudan, kami berangkat menyewa taksi yang banyak terdapat di kota Mekah. Jangan bayangkan taksi yang dimaksud di sini adalah taksi biru (atau kuning) yang banyak berseliweran di Jakarta, atau Black Cab yang menjadi ciri khas kota London. Taksi di kota Mekah kebanyakan adalah mobil-mobil pribadi yang dapat disewa untuk berpergian ke manapun dengan tarif yang harus ditawar sebelum kita bisa naik. Taksi resmi pun sebenarnya ada, namun biasanya harganya lebih mahal dan jumlahnya pun hanya sedikit.
Sampai di Masjidil Haram, adzan Maghrib sudah selesai dikumandangkan, bahkan shalat berjamaah sudah dimulai. Kamipun segera mencari lokasi untuk shalat, namun karena keterlambatan kami berangkat dari rumah, masjid sudah penuh bahkan sampai memenuhi seluruh pelataran di sekitar masjid. Dengan terpaksa kami shalat di jalan raya di samping masjidil Haram, dengan alas shalat seadanya. Beberapa orang dari kami terpaksa shalat dengan dahi langsung mencium aspal jalanan, tanpa alas apapun juga.
Lepas maghrib, kami masuk ke dalam Masjidil Haram untuk Tawaf. Tergetar hati kami begitu pertama melihat bangunan Ka’bah yang diselimuti kain hitam berhiaskan emas yang anggun. Doa pun dipanjatkan dengan bimbingan mutawwif kami.
Ternyata jumlah jamaah malam itu banyak sekali. Tempat tawaf di sekeliling Ka’bah dipenuhi lautan manusia yang bergerak perlahan bertawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali. Setelah menimbang bahwa dalam rombongan kami terdapat beberapa anak kecil yang berisiko terdesak-desak kerumunan manusia, diputuskan untuk tawaf di lantai 2, dimana kondisi tidak terlalu sesak walaupun keseluruhan jarak tawafnya menjadi lebih jauh.
Tawaf dimulai dari garis yang berujung di Hajar Aswad, batu hitam yang berasal dari zaman Nabi Ibrahim AS. Di lantai 2 tempat kami tawaf, tempat mulai tawaf tadi juga ditandai dengan adanya lampu berwarna hijau dengan tulisan berbahasa Arab dan Inggris (Tawaf start here). Lambaian tangan ke arah Ka’bah disertai ucapan Bismillahi Allahu Akbar dikumandangkan orang ketika memulai tawaf dari garis tersebut.
Dengan sisi bahu kanan pakaian ihram kami dibuka sesuai sunah Nabi, kamipun bergerak perlahan mengitari Ka’bah dengan arah berlawanan dengan perputaran jarum jam, sehingga Ka’bah berada di sebelah kiri kami. Selayaknya jamaah laki-laki disarankan dapat berjalan lebih cepat pada tiga putaran awal tawaf tersebut. Namun, melihat kondisi padatnya saat itu, kami pun berjalan perlahan untuk menghindari mencelakakan diri kami sendiri dan orang lain.
Doa-doa pun dipanjatkan dengan dibimbing oleh mutawwif, walaupun kenyataannya sulit sekali mengikuti apa yang diucapkannya karena ramainya suasana. Tidak apa, dengan berbekal buku doa yang kami bawa, setiap orang berusaha membaca doanya masing-masing.
Saya dan istri membawa 2 jenis buku yang berupa catatan kecil yang diberi tali. Yang satu khusus dipesan untuk dibawakan dari Indonesia dengan teks berbahasa Indonesia. Atas saran seorang sahabat kami warga Mesir di Inggris, kami juga membeli buku ‘Hajj Made Easy’ terbitan Al Hidaayah Publishing Inggris, yang kami dapatkan lewat www.simplyislam.com, toko virtual di internet. Buku ini terbuat dari kertas agak tebal yang dilaminating sehingga tidak mudah robek, dan dibundel dengan ring besi besar dan kuat. Buku ini berisi hal-hal yang relatif dasar yang menurut kami lebih mudah dimengerti dan diikuti daripada buku terbitan Indonesia yang cukup njelimet.
Selama Tawaf, ternyata anak-anak dari rombongan kami merasa kecapekan, sehingga harus ditinggal di sisi rute tawaf, dan dijaga salah satu anggota rombongan kami. Namun demikian, Widuri, putri dari Mohammad Richard salah seorang muallaf anggota jamaah kami warga negara Australia terus digendong ayahnya mengelilingi Ka’bah walaupun sambil tertidur.
Setelah tujuh putaran Tawaf berhasil diselesaikan, kami shalat sunah Tawaf 2 rakaat di belakang Makam Ibrahim. Tidak tepat juga disebut persis ‘di belakang’ karena kami harus shalat di lantai 2 agak jauh dari Makam Ibrahim karena padatnya suasana.
Setelah itu kami pergi ke tempat air Zamzam. Seingat saya waktu pergi umrah pertama kali dulu di tahun 1997, ada ruangan sumur zamzam di lantai bawah dekat makam Ibrahim. Namun ternyata ruangan itu sudah ditutup dan sebagai gantinya air Z
amzam disediakan secara berlimpah lewat kran-kran air di berbagai tempat di dalam dan di luar masjidil Haram.
Disertai doa dan rasa haru, kami teguklah air Z
amzam itu dalam tiga kali nafas sesuai contoh Rasulullah SAW. Rasa segar dan kesejukan yang ditimbulkannya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Subhanallah, inilah air yang sama dengan air yang didapatkan Siti Hajar saat mencari air minum untuk putranya Nabi Ismail AS yang kehausan.
Segera setelah itu kami pergi ke bukit Safa untuk memulai Sa’i. Sa’i adalah berjalan diantara bukit Safa dan bukit Marwah sebanyak tujuh kali, dimulai dari Safa dan berakhir di Marwah. Bukit Safa saat ini tidaklah lagi terlihat sebagai sebuah bukit secara fisik, namun sudah merupakan bagian dari masjidil Haram. Untuk menandakan bahwa tempat itu adalah bukit Safa, sebagian tempatnya sedikit ditinggikan dengan gundukan batu-batu.
Dengan tetap didampingi mutawwif, kamipun mulai bergerak menuju bukit Marwah di ujung lain dari Masjidil Haram bersama ratusan atau mungkin ribuan jamaah lainnya pada saat yang bersamaan. Di sepanjang rute antara Safa dan Marwah terdapat sebuah tempat yang ditandai dengan adanya dua buah lampu berwarna hijau. Di tempat itu kita disunahkan untuk berlari kecil mengikuti sejarah Siti Hajar saat mencari air untuk anaknya yang kehausan.
Setelah 7 kali berjalan antara Safa dan Marwah, selesailah Sa’i kami, lalu kamipun bertahalul dengan menggunakan gunting yang dibawa dari rumah. Tiga kali potongan rambut dilakukan dengan mantap, dan selesailah umrah kami. Bagi teman-teman yang melakukan haji Ifrad, mereka tidaklah melakukan Sa’i dan bertahalul dan mereka hanya melakukan Tawaf Qudum (Tawaf selamat datang). Dengan selesai kami bertahalul ini, kami lepas dari larangan ihram dan bebas mengenakan pakaian biasa sehari-hari. Sedangkan jamaah yang berhaji Ifrad, mereka harus tetap mengenakan pakaian ihram dan berada dalam kondisi ihram sampai selesai wukuf di Mina dan melontar jumrah di Mina.
Malam itu setibanya di penginapan kami disambut dengan makan malam ala Indonesia yang lezat luar biasa, setidaknya bagi lidah kami yang sudah sangat rindu cita rasa tanah air.
Sayangnya, rasa letih kami tidak bisa langsung disambut dengan kondisi peraduan yang baik. Rumah penginapan kami sepertinya tidak disiapkan dengan baik untuk menyambut kedatangan kami. Bau debu terasa mengambang di setiap kamar, toilet tidak sempat dibersihkan dahulu, bahkan rumah itu terkesan cukup kumuh. Bahkan, rombongan kami dikejutkan oleh kejadian yang cukup ‘menakutkan’ bagi kami yang sudah biasa tinggal di Inggris, yaitu terlihatnya beberapa ekor tikus bermain-main di kamar mandi dan di tempat kamar tidur jamaah wanita.
Spontan kami pun mengajukan protes kepada tuan rumah yang menyediakan penginapan kami selama di Mekah. Respons sang tuan rumah sangat baik, segera jamaah wanita kami dipindahkan ke ruangan lain di rumah pribadinya sendiri di samping penginapan kami. Malam itu sementara jamaah laki-laki tetap berada di penginapan pertama, tanpa sempat menghiraukan munculnya makhluk Allah yang cukup menjijikan bagi sebagian orang itu. Kami dijanjikan untuk dipindahkan ke ruangan lain di rumah pribadi sang tuan rumah demi kenyamanan kami beristirahat pada esok harinya.
Demikianlah pengalaman hari pertama kami di tanah suci Mekah, yang ditutup dengan tidur, jauh lepas dari tengah malam. Rasa letih, lega karena telah sampai di Mekah, serta sedikit kesal karena kejadian yang kami alami sebelum tidur, bercampur dalam mimpi kami masing-masing.
Esok pagi harinya, sebagian anggota rombongan kami berangkat shalat Tahajud dilanjutkan dengan shalat Subuh di Masjidil Haram. Saya sendiri termasuk yang tidak sanggup berangkat pagi itu karena masih terlelap tidur sampai masa menjelang terbitnya matahari.
Tahun ini, bulan Dzulhijjah dimana ibadah haji dilaksanakan, tanah Arab memasuki musim dingin. Hal ini terasa dengan mundurnya waktu terbit fajar, sehingga shalat Tahajud dapat dilaksanakan sampai sekitar pukul 5.30 pagi hari, saat adzan Subuh dikumandangkan. Di Mekah, suhu udara siang hari tidak terlalu berbeda dengan kondisi di tanah air, sedangkan di malam hari suhu terasa lebih sejuk, seperti berada di kawasan Puncak pada siang hari.
Hari itu, acara dilanjutkan dengan ziarah ke tempat bersejarah dan tempat-tempat penting lainnya yang berhubungan dengan agama Islam dan ibadah haji. Dengan menyewa sebuah kendaraan minibus berkapasitas 20 –an orang, perjalanan dimulai ke Jabal Tsur, dimana terletak sebuah gua yang pernah digunakan Rasulullah sebagai tempat bersembunyi sewaktu dikejar-kejar kaum kafir Mekah dalam perjalanan hijrah ke Madinah.
Kami lalu pergi ke padang Arafah, dimana setiap orang yang menjalankan ibadah haji harus berada di sana pada tanggal 9 Dzulhijjah untuk sah-nya ibadah mereka. Padang Arafah ditandai dengan papan besar berwarna kuning bertuliskan Arab dan Inggris “Arafat Starts Here” pada sisi-sisinya. Pada hari itu tenda-tenda di padang Arafah tengah dipersiapkan oleh pemerintah Saudi untuk menerima tamu-tamu Allah. Terlihat di sana-sini aktivitas pekerja mempersiapkan fasilitas toilet untuk buang air, mandi, serta wudhu. Terbayang tugas berat tapi mulia untuk mempersiapkan hal ini, yang notabene fasilitas tersebut hanya akan digunakan oleh jamaah haji tidak lebih dari 1 hari saja!
Padang Arafah juga sudah terlihat hijau berkat pohon-pohon yang ditanam di sana sebagai pelindung panas. Kalau tidak salah, penanaman pohon di padang Arafah adalah berkat saran dari bapak Suharto, mantan presiden RI. Padang Arafah juga terasa lebih sejuk berkat adanya semburan partikel air lewat pipa yang banyak menjulang tinggi di mana-mana. Hal ini sangat berguna untuk mengurangi besarnya tekanan panas akibat suhu dan teriknya matahari.
Di tengah padang Arafah terletak Jabal Rahmah, dimana Rasulullah berdiam di atas untanya sewaktu wukuf. Bukit itu sendiri juga dikabarkan sebagai tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa, sewaktu keduanya diturunkan Allah SWT ke bumi dari surga.
Saya dan istri menyempatkan diri berfoto sambil menunggang unta yang dihias dengan bunga berwarna-warni seperti pelaminan bagi pengantin. Saat unta hendak berdiri, kami seakan digoncang keras oleh punggungnya yang tidak rata, sehingga kami nyaris terjatuh. Ternyata menunggang unta bukanlah sesuatu yang mudah!
Dari sana ziarah kami lanjutkan ke Muzdalifah, tempat dimana kami akan mabit (berdiam) di sana selepas meninggalkan Arafah setelah matahari terbenam. Muzdalifah adalah tempat persinggahan Rasulullah dalam perjalanannya dari Arafah ke Mina. Muzdalifah saat ini hanya terlihat sebagai sebuah padang kosong, dengan tempat tempat parkir bus disiapkan berjajar dengan rapi, lengkap dengan toilet dan tempat minum di sepanjang tempat itu.
Lepas dari sana kami beranjak ke Mina, yang terletak hanya beberapa kilometer saja dari Muzdalifah. Di sana terletak tiga jumrah yang merupakan perlambang setan yang menggoda Nabi Ibrahim AS sewaktu beliau akan menyembelih putranya sebagai perwujudan ketaatannya pada Allah SWT. Saat ini ketiga jumrah tersebut dapat didekati melewati jalan bawah atau jalan atas berupa jalan layang untuk pejalan kaki yang khusus digunakan untuk melempar jumrah di hari-hari tasyrik (3 hari setelah Idul Fitri).
Ketiga jumrah tersebut terletak sejajar, dimulai dari jumrah Ula, jumrah Wustha, dan terakhir jumrah Aqabah. Jumrah Aqabah adalah jumrah yang terbesar dan terletak di pinggir kawasan Mina yang menuju kota Mekah. Ketiga jumrah itu berada di lembah yang dihimpit bukit terjal di sisi kanan dan kirinya.
Praktis tidak ada tanah yang dibiarkan kosong di Mina. Kecuali tempat yang memang dialokasikan sebagai jalan mobil dan manusia, semua lahan sudah diisi oleh tenda-tenda putih yang dibatasi oleh pagar-pagar besi sebagai pembatas antar Maktab. Semua tenda di Mina sudah dilengkapi dengan Desert Airconditioner, semacam AC yang khusus diproduksi sebagai penyejuk udara di suasana yang cukup ekstrim di padang pasir. Tenda-tenda itu pula konon sudah dibuat anti api, sebagai upaya mengurangi resiko menjalarnya api seperti yang terjadi pada musibah kebakaran besar beberapa tahun yang lalu di Mina. Semua jamaah juga tidak diijinkan untuk memasak sendiri di dalam tenda. Sebagai gantinya, setiap maktab memberikan pelayanan berupa makanan bagi setiap jamaah yang terdaftar dalam maktab tersebut.
Dari Mina, kami beralih ke Jabal Nur, tempat dimana terletak gua Hira, dimana Muhammad ketika itu menerima wahyu pertama dari Allah. Gua Hira ternyata terletak tinggi sekali di gunung tersebut. Terbayang dalam hati betapa sulitnya naik ke atas sana, apalagi dalam kondisi lebih dari 14 abad yang lalu dimana belum ada listrik, senter, atau petromaks yang dapat menerangi jalan kita menuju gua itu di waktu malam. Kami memutuskan untuk tidak mencoba naik ke bukit itu karena pasti hanya akan sangat melelahkan, dan mengunjungi gua Hira bukanlah hal yang disunatkan apalagi diwajibkan dalam menjalankan ibadah Haji.
Demikianlah ziarah kami hari itu. Puas hati kami mengunjungi tempat-tempat di mana Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim AS, dan Nabi Adam AS pernah berada. Lega rasanya karena selama ini kita selalu ingin melihat keindahan kota-kota besar dunia seperti Parliament House di London, Harbour Bridge di Sydney, menara Eiffel di Paris, atau Golden Bridge in San Fransisco, tapi melupakan tempat bersejarah dalam agama Islam seperti tempat-tempat yang baru kami kunjungi ini. Alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan Allah untuk melihatnya selama hayat masih dikandung badan.
Hari itu kemudian kami habiskan di Masjidil Haram untuk Tawaf, shalat wajib dan salat sunah, mengaji serta berdoa sebanyak-banyaknya. Rasulullah SAW pernah berkata bahwa shalat di Masjidil Haram pahalanya seratus ribu kali lebih besar daripada shalat di masjid lain. Berdzikir dan melantunkan ayat-ayat Al Quran di Masjidil Haram sungguhlah menenteramkan serta memberikan keteduhan dalam hati. Apalagi bila kita melihat saudara-saudara kita sesama muslim juga saling berlomba-lomba memperbanyak ibadah di sana.
Allahu Akbar, rasa haru menyelimuti kalbu kala melihat ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang mengikuti dalam hati bacaan Imam ketika shalat berjamaah, sama-sama ruku’ dan sujud, serentak mengikuti komando Imam shalat. Dengan tidak mengenal bangsa dan warna kulit, umur, kaya dan miskin, semua larut dalam pujian pada Allah disertai doa kepadanya. Saudara kita kaum muslim dari Pakistan, Afghanistan, India, dan Bangladesh bercampur dengan kaum muslim dari Aljazair, Maroko, Libya, dan Mesir. Tampak disana-sini saudara kita muslimin yang berkulit putih dari Eropa dan Amerika, dan bahkan dari daratan Cina dan Taiwan. Jamaah yang paling mudah dikenali oleh kami adalah jamaah dari Turki dan Indonesia. Jamaah Turki selalu tampak bergerombol dan mengenakan pakaian seragamnya yang khas berwarna coklat muda, sedangkan jamaah Indonesia yang secara umum berbadan relatif kecil tentu sangat mudah diidentifikasi dari paras mukanya.
Demikianlah, waktu menunggu sebelum berangkat ke Mina dan Arafah, kami manfaatkan sedapat mungkin untuk beribadah di Masjidil Haram. Biasanya kami berangkat pada dini hari untuk shalat Tahajud dan Witir, dilanjutkan dengan shalat sunat Fajar dan shalat Subuh. Kami pulang ke rumah setelah shalat Dhuha untuk sarapan dan bersih-bersih. Setelah itu kami berangkat lagi ke Masjidil Haram setelah makan siang, sampai setelah Isya.
Hal yang unik di Mekah adalah cara kita mencapai Masjidil Haram dari tempat penginapan. Kebanyakan jamaah berusaha mencari penginapan terdekat dengan Masjidil Haram. Bagi mereka yang mampu, bisa menggunakan hotel Hilton yang terletak persis di samping masjid. Beberapa kelompok jamaah haji ONH plus dari Indonesia menggunakan hotel ini sebagai penginapan mereka selama di Mekah. Beberapa hotel berbintang lima lainnya juga tersedia di Mekah seperti hotel Sheraton dan hotel Daarut Tawhid yang juga hanya sepelemparan batu dari masjidil haram. Jamaah yang berkantong lebih tipis dapat memilih penginapan yang sedikit lebih jauh dari Masjidil Haram, dengan konsekuensi harus lebih lama berjalan kaki atau naik kendaraan umum untuk pergi ke masjid.
Kami sendiri tinggal kawasan Aziziyah Somaliyah sekitar 10 km dari Masjidil Haram. Tempatnya ditandai dengan adanya sebuah masjid bernama masjid Faqiha, yang banyak digunakan oleh jamaah haji asal Turki. Sebenarnya ada bus pemerintah Saudi yang rutin berjalan dari kawasan itu menuju Masjidil Haram, namun frekuensinya sangat jarang sehingga kami selalu menggunakan jasa taksi untuk pergi ke sana. Ongkos taksi bervariasi menurut waktu, kondisi mobil, dan kemampuan kita menawar. Semua teknik menawar kami gunakan, dengan menggunakan bahasa apapun yang bisa dimengerti oleh pengemudi taksi. Ada beberapa sopir taksi yang tahu bahasa Inggris, bahkan ada pula yang tahu angka-angka bahasa Indonesia. Namun sebagian besar hanya tahu bahasa Arab, sehingga kamipun mau tidak mau harus berlatih menggunakannya. Lima riyal adalah angka yang paling banyak disebutkan. Khamsa real (5 riyal) adalah satuan yang paling umum disebutkan untuk banyak jenis jasa (seperti ongkos taksi per orang) dan barang dagangan (seperti sandal jepit, atau makanan).
Rumor yang banyak beredar sebelum kami berangkat adalah bahwa jangan sekali-sekali wanita pergi sendirian naik taksi di Arab Saudi. Atau bahkan jika pergi bersama muhrimnya, sang wanita harus naik mobil setelah muhrim laki-lakinya naik dulu ke mobil. Wanita juga harus turun lebih dulu sebelum si laki-laki. Ketakutan ini disebabkan adanya isu yang menyebutkan bahwa banyak kejadian wanita yang naik taksi sendirian ‘dilarikan’ oleh sang pengemudi taksi. Walaupun kami melihat hal itu rasanya tidak mungkin terjadi, tetap saja kami selalu menjalankan saran tersebut demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
#### bersambung ####
http://donowidiatmoko.wordpress.com/2004/02/01/berhaji-ala-jamaah-inggris-3/
Bagian 3 : Mina – Arafah – Muzdalifah – Mina
Puncak ibadah Haji
Hari Jumat tanggal 8 Dzulhijjah yang bertepatan dengan tanggal 30 Januari 2004 Masehi, kami berangkat ke Mina. Sebenarnya pergi ke Mina pada hari ini tidaklah merupakan kewajiban dalam menjalankan ibadah haji, namun hanyalah Sunah saja. Pagi hari kami mandi dan mengenakan pakaian ihram, yang dilanjutkan dengan shalat sunat ihram. Niatpun dilafazkan Labbaik Allahumma Hajjan. Ya Allah kami penuhi panggilanMu untuk menjalankan ibadah Haji.
Dengan kendaraan sewaan kami berangkat ke Mina, yang ditempuh dengan waktu kurang dari 30 menit saja. Seluruh penghuni rumah yang kami tempati pergi berhaji waktu itu, yaitu kami, tuan rumah, bahkan pembantu-pembantunya juga turut serta. Kalimat talbiyah dikumandangkan kuat-kuat sampai suara kami serak.
Di Mina sebenarnya kami mempunyai jatah tinggal di Maktab yang tergabung dalam muasassah Eropa dan Amerika, yang letaknya jauh di ujung padang Arafah. Menurut cerita seorang teman dari Malaysia yang kebetulan tinggal di maktab itu, jaraknya ke tempat jumrah sekitar 6 kilometer! Namun ternyata oleh orang yang membantu kami selama di Mekah, kami ditempatkan di maktab jamaah ONH Plus (sekarang sebenarnya disebut Biro Perjalanan Ibadah Haji – BPIH Khusus) dari Indonesia. Letaknya kira-kira hanya 200 meter saja dari jumrah nomor 2 (Wustha), dan hanya dibatasi oleh jalan raya saja. Maktab ini tenda-tendanya dilengkapi dengan alas tidur berupa matras dari busa tipis di atas karpet, sehingga kita bisa beristirahat lebih nyaman. Hal ini berbeda dengan tenda standar yang hanya beralaskan karpet saja. Makanpun di sini diselenggarakan secara prasmanan, dengan fasilitas minuman dalam kotak dan air mineral yang tersedia secara melimpah, baik panas maupun dingin.
Di sana kami meng-qashar (memendekkan) shalat wajib kami tanpa men-jama’ nya (menggabungkan dua waktu shalat). Sisa waktu kami pergunakan untuk beristirahat, mengaji, dan berdzikir. Kami juga berkesempatan melihat-lihat suasana di sekitar tempat jumrah dan sekeliling tenda kami yang waktu itu masih tidak terlalu ramai karena tidak semua orang berdiam di Mina pada hari itu.
Fasilitas yang disediakan pemerintah Saudi di Mina sebenarnya cukup memadai. Di setiap maktab tersedia toilet yang dilengkapi dengan fasilitas shower untuk mandi. Jumlahnya memang relatif kurang karena pada saat-saat ‘peak hours’ seperti sebelum waktu Subuh, antrian orang yang akan menggunakan kamar mandi bisa sampai 5-6 orang per kamar mandi. WC umum di luar pagar tenda juga tersedia, namun ini jumlahnya lebih terbatas lagi.
Kran-kran tempat air minum tersedia di banyak tempat. Beberapa kedai cepat saji sengaja dibangun pada tempat-tempat strategis yang mudah dicapai jamaah yang perlu untuk membeli makanan.
Yang agak disayangkan adalah kurangnya fasilitas pembuangan sampah yang tertutup. Hal ini menyebabkan sampah-sampah bertebaran dimana-mana, ditambah lagi dengan kurang disiplinnya sebagian jamaah yang tidak membuang sampah pada tempatnya. Hal ini kontras sekali dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa ‘kebersihan adalah sebagian dari Iman’.
Di dekat tempat jumrah tersedia beberapa tempat pencukuran rambut, dengan papan besar bertuliskan ‘Potong Rambut’ dan ‘Barbar’, selain tulisan berbahasa lainnya. Fasilitas pelayanan kesehatan juga terdapat di sekitar maktab, yang tersedia secara gratis bagi setiap jamaah.
Di dalam maktab ONH Plus dari Indonesia, kami beruntung bisa bertemu dengan beberapa wajah yang cukup familiar di mata kami melalui televisi Indonesia. Anwar Fuadi, Taufik Savalas, Ulfa Dwiyanti, dan Primus adalah sebagian artis Indonesia yang terlihat di maktab kami. Alhamdulillah, ternyata kehidupan artis tidak selamanya hanya terlihat glamour tanpa memikirkan kehidupan rohani.
Malam itu kami beristirahat penuh untuk mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah yang kebetulan jatuh pada hari Sabtu keesokan harinya.
Esok paginya setelah sarapan kami bersiap untuk pergi ke Arafah. Lama kami menunggu bus yang akan mengantar kami ke Arafah. Teman-teman kami satu tenda yang berasal dari beberapa rombongan jamaah haji ONH Plus pun juga banyak yang menunggu lama sebelum berangkat. Hal ini terjadi karena terjadi kemacetan bus-bus yang mengangkut jamaah ke Arafah. Bayangkan saja, semua jamaah harus berangkat pagi itu ke Arafah untuk dapat masuk ke padang Arafah saat shalat Dzuhur.
Teman setenda kami dari kelompok sebuah perusahaan ONH Plus di Bandung akhirnya berangkat sekitar pukul 10.30 pagi setelah siap menunggu selepas Subuh. Kamipun akhirnya dapat naik kendaraan sekitar pukul 11.00 pagi hari. Kendaraan yang kami tumpangi adalah sebuah bus jenis ‘coaster’ dengan kapasitas sekitar 24 tempat duduk. Kendaraan itu sendiri sudah cukup tua usianya, terlihat dari banyaknya karat di penjuru mobil.
Berhubung rombongan kami jumlahnya membengkak, yaitu dicampur dengan anggota keluarga dan pembantu di rumah tuan rumah tempat kami menginap di Mekah, ditambah lagi dengan beberapa warga negara Saudi kenalan sang tuan rumah, mobil itu pun tidak mencukupi kapasitasnya. Terpaksa beberapa anggota jamaah, termasuk saya, naik ke atas atap mobil itu agar kami semua dapat berangkat bersama-sama.
Ketua rombongan kami dari Inggris, pak Muchtar, sangat mengkhawatirkan keselamatan kami yang duduk di atas atap mobil karena teriknya panas matahari pada siang itu. Dengan pengetahuannya sebagai seorang dokter, dan juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, ditambah pengalamannya sebagai pengelola jamaah haji dari Indonesia selama bertahun-tahun, beliau khawatir bahwa kami akan dapat terkena ‘Heat Stroke’. “Jangan sampai haus”, demikian petunjuk yang ia berikan pada kami. Waktu itu kami merasa himbauannya agak mengada-ada karena saya sangat yakin akan ketahanan fisik kami siang itu, apalagi duduk bersama saya di atap mobil seorang anggota jamaah kami warga negara Malaysia dari Birmingham, yang juga seorang dokter spesialis anestesi yang praktek di Inggris. Walau demikian, kamipun bersiap untuk perjalanan ke Arafah ini dengan minta supply air dan buah-buahan dari anggota rombongan yang duduk di kursi di dalam mobil.
Perjalananpun dimulai. Sebagian besar jamaah haji yang tinggal di Mina sudah berangkat lebih dulu dari kami. Sebagian lainnya sedang menunggu bus, atau bahkan sebagian sudah mulai berjalan kaki menuju Arafah. Dari atap bus kami melihat pemandangan yang cukup mengharukan, dimana beberapa kali terlihat beberapa jamaah yang sudah cukup berumur atau tidak kuat fisiknya terpaksa didorong di atas kursi roda untuk mencapai padang Arafah. Masya Allah, saya bayangkan, berapa lama diperlukan waktu berjalan kaki dari Mina ke Arafah? Apalagi di atas kursi dorong?
Kalimat talbiyah kami kumandangkan kuat-kuat dari atap kendaraan. Ya Allah…. Kami datang memenuhi panggilanMu….Kami datang untuk berhaji di padang Arafah… Mudahkanlah kami dalam perjalanan ini ya Allah….
Sopir kendaraan yang kami tumpangi, atas dasar saran dari putra tuan rumah yang kami tumpangi di Mekah yang ikut dalam rombongan kami, menempuh jalur memutar yang lebih jauh untuk mencapai Arafah. Ternyata keputusan ini tepat karena kemacetan yang kami hadapi selama perjalanan tidaklah terlalu berat dan kami dapat sampai padang Arafah sebelum masa shalat Dhuhur.
Pemandangan yang terlihat dari atap kendaraan yang kami tumpangi sangatlah menarik. Kamera digital yang saya bawa tidak pernah lepas dari genggaman tangan untuk siap digunakan apabila ada pemandangan yang perlu direkam sebagai kenang-kenangan. Mulai dari pemandangan ribuan tenda putih berderet rapi, ratusan orang dengan pakaian ihram berjalan kaki, sampai iring-iringan kendaraan berbagai jenis berlomba cepat untuk sampai ke padang Arafah pada waktunya. Rasanya kami ini pergi sebagai Cowboy yang duduk di atas kuda besi ber-merk Toyota atau Mitsubishi, karena perjalanan ini sedemikian uniknya bagi kami, melewati padang luas yang gersang, di tengah teriknya panas matahari.
Makin lama panas terik makin terasa, apalagi dalam kondisi ber-ihram kami dilarang untuk menggunakan tutup kepala. Kebetulan beberapa anggota rombongan membawa payung yang bisa digunakan dan tidak terlarang bagi kami menggunakannya. Tapi apa daya, payung yang ada ternyata adalah payung ‘fancy’ bagi anak-anak yang tidak terlalu efektif menghadang terjaman cahaya matahari. Air minum yang tersedia sudah hampir habis, sementara nampaknya perjalanan masih cukup jauh. Beberapa penumpang bus dari kendaraan lain yang ada di sisi kiri-kanan kendaraan kami juga kehausan, dan mengisyaratkan pada kami untuk memberikan air pada mereka. Melihat itu, kami melontarkan beberapa botol air mineral yang kami miliki pada mereka. Namun sayang, karena bus masih bergerak, upaya itu tidak sepenuhnya berhasil.
Semangat untuk membantu sesama muslim yang pergi berhaji sangat terlihat sewaktu perjalanan ini. Di tengah kemacetan yang terjadi, dari sebuah mobil boks beberapa orang sibuk membagikan kotak-kotak berisi air mineral bagi siapapun yang membutuhkannya secara gratis. Alhamdulillah, kendaraan kami pun mendapat bagian dua kotak besar air dari mereka.
Perjalanan ini semakin terasa berat, panas semakin menghujam, kemacetan tambah terasa. Beberapa kendaraan nekat menempuh bahu jalan, yang menimbulkan kepulan debu berterbangan ke udara. Satu dua kendaraan mesinnya kepanasan dan terpaksa berhenti di pinggir jalan. Di tengah kepadatan arus menuju Arafah dengan yang ditandai dengan penuhnya bus, coaster, atau kendaraan pribadi, kami juga melihat beberapa mobil pribadi dengan penumpang satu orang yang duduk tenang dengan kaca full tertutup dengan AC yang menyala kuat. Mungkin ini cobaan penglihatan dari Allah agar kami tidak berfikir negatif, atau iri hati pada mereka. Masih banyak jamaah lain yang tidak senyaman kami, terpaksa duduk atau berdiri berhimpit-himpit di atas bus rombongan mereka. Kami masih diberi kesempatan untuk duduk santai dengan relatif aman berpegangan pada besi penutup atap kendaraan.
Akhirnya, kami melihat tanda batas padang Arafah. Kendaraan yang boleh masuk ke kawasan Arafah hanyalah jenis bus dan coaster yang memiliki ijin masuk ke sana. Kendaraan pribadi diperintahkan petugas untuk parkir di lahan-lahan kosong yang ada di dekat padang Arafah. Namun demikian terlihat beberapa kendaraan pribadi yang bisa lolos dan parkir di pinggir jalan di dalam padang Arafah.
Akhirnya kami sampai di maktab kami, yang ada di belakang bukit Jabal Rahmah. Di sana kami juga ditempatkan pada maktab jamaah ONH Plus dari Indonesia. Terlihat bahwa persiapan di padang Arafah lebih baik daripada di Mina. Begitu masuk kompleks maktab, kami disambut dengan umbul-umbul persis seperti yang dapat terlihat dalam kesenian lenong betawi, dan juga spanduk-spanduk dari berbagai kelompok perusahaan perjalanan haji ONH Plus dari Indonesia.
Fasilitas yang ada di padang Arafah ini mirip dengan yang ada di Mina. Bedanya adalah ternyata beberapa tenda dilengkapi dengan kasur busa (spring bed) sebagai alas tidur, sedangkan sisanya hanyalah menggunakan alas busa seperti yang kami temui di Mina. Kebersihan di Arafah ini rasanya lebih baik bila dibandingkan dengan di Mina, demikian pula kondisi toilet dan sarana berwudhu.
Saat adzan Dhuhur dikumandangkan, kami baru memasuki tenda kami. Ternyata masing-masing kelompok penyelenggara haji melalukan shalat wajib menurut kelompoknya masing-masing. Dalam rombongan kami, kami tidak mempunyai ustadz sendiri yang bisa menjadi Imam dan memberikan khutbah Arafah. Setelah dirundingkan bersama, kamipun berbagi tugas. Shalat Dhuhur dan Ashar secara jama’ dan qashar akan dipimpin oleh pak Shah, sahabat kami dari Malaysia. Beliau juga akan menyampaikan khutbah Arafah, yang bahannya kami ambil dari buku bimbingan haji yang kami bawa. Setelah itu dzikir bersama akan dipimpin oleh pak Muchtar, pimpinan rombongan kami. Saya sendiri bertugas membacakan doa setelah dzikir bersama. Kebetulan salah seorang jamaah kami ada yang membawa fotocopy doa yang disampaikan oleh ulama kondang Indonesia, KH Abdullah Gymnastiar. Doa itu akan kami baca dan diaminkan oleh seluruh anggota rombongan.
Maka mulailah kami menjalankan shalat Dhuhur dua rakaat, disambung dengan shalat Ashar 2 rakaat pula yang dilakukan secara jama’ takdim. Setelah selesai, khutbah Arafah pun disampaikan oleh Imam shalat kami. Sang Imam yang berasal dari Malaysia itu berusaha keras untuk membacakan teks khutbah yang tertulis dalam bahasa Indonesia. Namun tidak apa, kekhusu’an kami tidak berkurang karena itu, inti khutbah itu tetap dapat kami pahami dan dapat dicerna dengan baik isinya.
Setelah itu kami memutuskan untuk makan siang dulu sebelum mulai berdzikir dan berdoa bersama-sama, karena waktu makan siang sudah hampir selesai. Kalau kami terlambat makan, mungkin kami tidak akan sempat makan siang hari itu. Makanan dan minuman di Arafah sangat mencukupi dan memenuhi selera, sehingga hilang rasa lapar dan haus kami setelah makan siang. Selintas terlihat teman-teman setenda kami dari rombongan Bandung yang yang tadi berangkat lebih dulu dari Mina, baru sampai di Arafah siang itu karena terjebak kemacetan di jalan.
Setelah semua anggota jamaah siap, dimulailah dzikir bersama kami. Kalimat puji-pujian bagi Allah, Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir kami luncurkan dari lidah kami. Allah terasa sangat dekat dengan kami pada saat puncak ibadah haji ini. Tiada Tuhan selain Allah, dan tiada sekutu bagi Nya. Untuk-Nya lah segala kerajaan dan pujian, yang menghidupkan dan mematikan. Di tangan-Nya segala kebaikan dan Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak lupa pada Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat beliau kami lantunkan kalimat pujian dan doa-doa, atas jasa beliau menyampaikan perintah Allah pada umat manusia.
Doa-doa lain pun kami panjatkan, dengan bantuan fotocopy teks doa AA Gym ketika beliau berdoa bersama di Arafah pada musim haji yang lalu.
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan sekiranya Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat pada kami, tentulah kami termasuk orang-orang yang merugi.
Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
Doa-doa yang ditulis AA Gym sungguh sangat menyentuh hati. Dan karena tertulis dalam bahasa Indonesia, seakan doa itu langsung bersumber dari hati kami sendiri. Terima kasih ulama kami AA Gym, doa yang pernah kau ucapkan sangat berarti bagi kami. Semoga rahmat Allah terus tercurah pada engkau sehingga dapat terus mengalirkan dakwahmu pada umat.
Doa demi kebaikan diri pribadi kami, orang tua, keturunan, tetangga serta sahabat kami panjatkan. Tidak lupa pula doa kami panjatkan pada para ulama, guru kami, serta para pemimpin kami, agar mereka dapat diberikan cahaya dan jalan yang baik dalam membawa kami ke situasi yang lebih baik.
Tidak terasa air mata kami meleleh di pipi, dan jatuh di atas kertas tulisan doa itu……..
Rabbana aatina fiddunya hasanatan wafil aakhirati hasanatan waqina adzabannaar. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan hindarkan kami dari siksa neraka.
Ya Allah, berikanlah kami rejeki dan kemampuan untuk datang kembali memenuhi panggilanMu di padang Arafah ini di lain waktu. Ya Allah kabulkanlah segala permohonanku.
Demikianlah, waktu yang tersisa sampai menjelang waktu maghrib kami habiskan untuk berdzikir dan berdoa, karena waktu inilah yang paling mustajab, bahkan mungkin waktu yang terpenting seumur hidup kita. Bagaimana tidak. Puncak haji adalah Wukuf di Arafah mulai dari waktu Dhuhur sampai terbenam matahari, yang waktunya kurang dari 6 jam saja. Dan kewajiban kita pergi berhaji hanyalah sekali dalam seumur hidup. Jadi bisa disimpulkan bahwa waktu Wukuf di Arafah ini adalah waktu terpenting dalam hidup kita. Subhanallah.
Selepas dari doa bersama di tenda kami, banyak rombongan jamaah haji lain yang berdoa sambil berdiri menghadap arah Ka’bah. Kamipun kadang ikut bergabung dengan mereka, untuk berdoa bersama memohon pada Allah SWT. Sambil kadang menangis tergugu-gugu, menyadari kekhilafan kami selama ini, dan mohon dibukakan ampunan Allah sebelum ajal datang menjemput.
Saya pribadi mempunyai pengalaman batin yang amat kuat saat wukuf ini. Kala doa bersama di dalam tenda tadi, secara umum saya hanya membacakan doa dari AA Gym saja. Namun entah kenapa pada penghujung doa saya meluncurkan doa spontan dari lidah. Ya Allah, berikanlah padaku ilmu yang berlimpah. Namun janganlah Engkau memberikan aku ilmu itu, jika itu hanya mendatangkan Riya atau kesombongan padaku.
Terus terang saja, hati saya tergetar hebat setelah membaca doa itu, dan dalam hati agak menyesali mengapa sampai terlontar doa itu di waktu Wukuf yang sangat mustajab ini. Saya takut doa itu betul-betul didengar oleh Allah, dan saya takut studi saya saat ini di Inggris dapat gagal karena doa itu. Namun setelah saya pikirkan dalam-dalam, sampailah saya dalam kesimpulan bahwa doa itu sangat tepat adanya. Saya tidak ingin mendapat ilmu dan gelar tinggi, tapi hanya menjadi orang yang sombong, yang merasa lebih dari orang lain. Saya bersyukur telah mengucapkan doa itu dan sangat yakin doa itu telah didengar oleh Allah SWT. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang tawadhu, yang merasa kecil dihadapanmu ya Allah.
Sebelum langit gelap pada tanggal 9 Dzulhijjah itu, kami menyempatkan diri berfoto bersama sebagai kenangan seumur hidup.
Setelah masuk waktu maghrib, kami bersiap untuk pergi ke Muzdalifah kemudian terus ke Mina. Niat kami sebenarnya untuk memenuhi sunah nabi untuk shalat Maghrib dan Isya di jama’ dan qashar di Muzdalifah. Namun, untuk mengantisipasi kemungkinan kami tidak bisa turun dari kendaraan selama di Muzdalifah, akhirnya kami putuskan untuk shalat Maghrib dan Isya di Arafah sebelum berangkat.
Setelah makan malam, rombongan kami berangkat ke Muzdalifah dengan bus coaster yang kali ini kondisinya jauh lebih baik dibandingkan dengan saat kami berangkat ke Arafah pagi harinya. Namun demikian, tetap saja kapasitasnya kurang memadai untuk rombongan kami sehingga kami harus duduk berdesak-desakan, bahkan ada yang harus berdiri sepanjang perjalanan.
Perjalanan menuju Muzdalifah berjalan cukup lancar, dan walaupun agak tersendat bila dibandingkan dengan jalur jalan lain yang khusus diperuntukkan untuk bus-bus pemerintah Saudi bagi sebagian besar jamaah haji. Memang jalur bagi kendaraan pribadi dan bus yang disewa rombongan secara khusus adalah berbeda dengan jalur bus standar pemerintah Arab Saudi.
Sampai di Muzdalifah sekitar pukul 9 malam. Di sana kami duduk menggelar tikar, beristirahat sambil mengumpulkan batu-batu untuk keperluan melontar jumrah keesokan harinya pad pada hari-hari Tasyrik lainnya. Pemerintah Arab Saudi telah mempersiapkan kondisi di Muzdalifah dengan menyebarkan tanah dan batu-batuan yang sudah dipecah kecil-kecil di tanah terbuka, pelataran, ataupun emperan jalan sepanjang Muzdalifah sehingga upaya mencari batu menjadi sangat mudah. Dalam waktu singkat terkumpullah batu dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk persiapan melontar jumrah.
Kami mabit (berdiam) di Muzdalifah sampai lewat tengah malam, bersama ribuan jamaah lain dari berbagai negara. Sekali lagi kami rasakan bahwa aspek kebersihan tidaklah diperhatikan oleh sebagian jamaah haji sehingga tempat itu terasa kumuh. Orang tidur sembarangan di berbagai tempat, bahkan di saluran pembuangan air hujan yang kebetulan sedang tidak ada airnya. Sampah berserakan di mana-mana, bahkan terlihat bangkai seekor domba yang dibiarkan begitu saja di sebuah tempat.
Setelah lepas tengah malam, kamipun naik kendaraan lagi untuk pergi ke Mina. Namun ternyata perjalanan kali ini sangatlah berat. Untuk menempuh jarak beberapa kilometer saja dari Muzdalifah ke Mina ternyata memerlukan waktu lebih dari 4 jam karena kemacetan berat terjadi. Namun demikian, walau dalam situasi berdesak-desakan kami pun tertidur karena lelahnya.
Sampai di Mina menjelang Subuh, kami langsung pergi melontar jumrah Aqabah yang letaknya hanya sekitar 400 meter dari tenda kami. Memang melontar jumrah di waktu ini bukanlah pada waktu terbaik yang disarankan Rasulullah. Namun rombongan kami ingin mencoba langsung pergi ke Masjidil Haram untuk shalat Idul Adha dan Tawaf Ifadah. Ternyata melontar jumrah pada pagi itu memang tergolong mudah, karena sebagian besar jamaah haji masih tertahan di Muzdalifah ataupun di tengah jalan menuju Mina. Melontar 7 kali batu kerikil kecil dapat kami laksanakan dengan mudah sambil bertakbir ketika melontarkan setiap batu.
Setelah shalat Subuh, kami pun mandi dan bergegas pergi ke Masjidil Haram. Ternyata mencari kendaraan untuk pergi ke Masjidil Haram bukanlah pekerjaan yang mudah di saat-saat seperti ini. Hukum ekonomi dimana ketika permintaan banyak dan penawaran sedikit, menimbulkan tingginya harga yang diminta oleh pengemudi taksi. Bahkan salah pahampun terjadi dengan pengemudi taksi, dimana kami mengira ongkos ke masjidil haram adalah 30 riyal per bus untuk jarak yang tidak terlalu jauh padahal ia meminta 30 riyal per kepala, padahal rombongan kami ada 11 orang ketika itu. Akhirnya kami membayar lebih dari sekitar 70 riyal untuk jasa transport kami dari Mina ke Masjidil Haram.
Tidak semua anggota rombongan kami ikut pergi ke Masjidil Haram pagi itu karena anak-anak kecil dalam rombongan kami masih sangat lelah akibat perjalanan panjang kami dua hari terakhir ini. Diputuskan anak-anak tinggal di Mina untuk istirahat dengan orang tua mereka. Namun seorang anak putri dari ketua rombongan kami nampaknya kuat untuk terus diajak pergi hari itu, sehingga ikutlah pagi itu ia pergi ke Masjidil Haram.
Kami tiba di Masjidil Haram saat iqamah untuk shalat Ied dikumandangkan. Ikutlah kami dalam barisan shalat Ied di sana, walaupun tidak semua orang ikut melaksanakannya. Sewaktu shalat Ied yang sunah itu, sebagian orang tetap terus melaksanakan Tawaf dan Sa’i diantara orang yang bershalat.
Selesai shalat, kami pun ber-Tawaf Ifadah yang kemudian dilanjutkan dengan Sa’i dari bukit Safa ke bukit Marwah. Subhanallah, ribuan orang luruh dalam Tawaf dan Sa’i hari itu sehingga kamipun terkadang sulit untuk berjalan karena padatnya suasana. Terutama saat Sa’i dimana kemacetan terjadi sepanjang jalur yang disediakan baik di lantai atas maupun bawah akibat padatnya jamaah haji yang ingin segera dapat bertahallul di hari itu.
Alhamdulillah, kamipun dapat menyelesaikan tugas kami pada hari itu pada pukul 11 siang, yang artinya kami membutuhkan waktu hampir 4 jam untuk Tawaf dan Sai. Setelah memotong rambut untuk bertahalul, hilanglah larangan ihram kami dan kamipun boleh berganti pakaian biasa.
Segera setelah itu kami kembali ke Mina untuk beristirahat. Panas terik siang hari tanggal 10 Dzulhijjah, di hari raya Idul Adha itu membuat kami kelelahan. Segera setelah sampai di tenda, kamipun shalat Dhuhur dan Ashar, lalu segera jatuh tertidur pulas di tenda masing-masing.
Menjelang waktu Ashar, saya terbangun karena panggilan istri saya seraya mengacungkan handphone kami. “Mas, ada telepon dari Jakarta!”. Saya pun kaget dan terlompat bangun dari tidur. “Kamu nggak apa-apa Don?” itu suara salah seorang kakak perempuan saya yang tinggal di Jakarta. Ternyata ia ingin memastikan bahwa kami sehat-sehat saja, karena mereka khawatir mendengar berita musibah yang menimbulkan banyak korban manusia di kawasan jumrah Aqabah. Saya kaget bukan kepalang disertai rasa tidak percaya. Bagaimana mungkin kami sampai tidak tahu musibah itu terjadi, padahal tenda kami menginap letaknya hanyalah sekitar 400 meter dari jumrah Aqabah? Suara helikopter dan ambulans memang sering terdengar meraung-raung minta diberikan jalan pada para pejalan kaki, namun karena seringnya kami mendengar suara ambulans itu kami tidak terlalu memperhatikan lagi kalau ternyata ada musibah besar terjadi di dekat tenda kami.
Akhirnya kami tahu, jika pagi itu ada sekitar 250 jamaah haji, 56 diantara jamaah dari Indonesia yang meninggal dunia akibat jatuh, terdesak, dan terinjak-injak jamaah lainnya ketika melontar jumrah Aqabah hari itu. Inna lillahi wa innaillaihi rojiun.
Suasanya sekitar tempat melontar jumrah memang terkesan sangat semrawut. Walaupun pemerintah Arab Saudi telah menempatkan banyak petugas untuk mengatur jamaah haji yang akan melontar jumrah, tetap saja terjadi kesemrawutan yang sangat memungkinkan terjadi musibah, apalagi ditambah dengan panasnya terik matahari di lantai atas jalan layang tempat jumrah.
Secara matematis saja sudah sulit membayangkan aktifitas melontar jumrah ini jauh dari resiko. Jumlah jamaah haji yang ada tahun ini lebih dari dua juta orang. Anggap saja agar mudahnya jumlahnya persis 2 juta orang. Tempat melontar jumrah bisa dari bawah atau dari lantai atas jembatan layang, jadi dari tiap tempat 1 juta orang akan melontar jumrah setiap harinya. Dalam waktu satu hari penuh, mungkin 20-an jam diantaranya dipergunakan orang untuk melontar jumrah, jadi setiap jam ada 50 ribu jemaah melontar pada jumrah yang sama. Dapat dihitung bahwa dalam satu menit ada 850-an jamaah atau setiap detik ada 14-an jamaah yang melontar jumrah itu. Padahal satu orang tidaklah hanya melontar jumlah satu kali saja, melainkan 7 kali. Itu belum dihitung lemparan yang gagal mengenai jumrah, dan harus diulang lagi. Perhitungan matematis ini tentu saja mengasumsikan contant flow rate dari jemaah yang pergi melontar, yaitu jamaah yang melontar jumlahnya sama saja dari waktu ke waktu selama waktu yang kita perhitungkan. Padahal tentu saja tidak demikian. Ada masanya orang agak enggan pergi melontar, yaitu saat matahari bersinar terik, dan ada masanya orang berbondong-bondong datang hendak melontar jumrah. Besarnya jumlah orang yang melontar jumrah ini menimbulkan resiko terjadinya musibah cukup tinggi.
Melontar jumrah adalah perlambang kita melempar setan yang mengoda keimanan kita. Namun sikap banyak jamaah haji saat melontar jumrah kadang-kadang tidak bisa dimengerti. Sebagian dari jamaah mencoba melontar jumrah dari jarak yang sangat jauh dari jumrahnya itu sendiri, yang tentu saja kemungkinan lontarannya tidak mengenai jumrah, atau bahkan mengenai jamaah lain sangat besar. Sebagian lain terlalu bersemangat ingin melempar sehingga bergerak maju ke tengah kerumunan jamaah lainnya dengan sekuat tenaganya. Sebagian lagi tidak ingin terpisah dari kelompoknya sewaktu melempar jumrah, sehingga terkadang mendorong dan mendesak jamaah lainnya yang sedang melontar jumrah. Ada kawan yang berkata nampaknya saat jumrah kita tidak saja melontar setan, tapi bahkan melontar bersama-sama dengan setan! Masya Allah……
Beberapa jamaah yang sudah bertahalul mensiasati resiko terkena batu sewaktu melontar jumrah dengan mengenakan sorban sebagai pelindung kepala mereka dari lontaran batu nyasar. Nampaknya bagi sebagian orang hal ini efektif, tapi sebenarnya masalah terbesar bukanlah dari resiko terkena lontaran batu, melainkan dari kemungkinan terserimpet, terdorong, dan terinjak jamaah lainnya. Sorban juga tidak terlalu efektif, karena seorang teman saya terkena lontaran batu nyasar pada giginya! Sorban sudah jelas tidak akan banyak bermanfaat melindungi gigi dari lontaran batu.
Sampah yang berserakan di sekitar area jumrah juga menimbulkan resiko kaki terserimpet tas plastik, atau sampah lainnya. Demikian juga orang yang duduk beristirahat saat menunggu rekannya melontar jumrah, atau sekedar menunggu waktu (mabit) di sekitar jumrah menimbulkan tersendatnya aliran massa sehingga menimbulkan resiko terjadinya musibah. Ditambah lagi dengan banyaknya orang yang berjualan di sekitar sana, membuat suasana lebih ramai dan padat lagi.
Lokasi maktab kami yang berada sangat dekat dengan ketiga jumrah membuat kami leluasa mengatur strategi waktu pelemparan jumrah. Jika terlihat area sekitar jumrah sepi dan kami masih perlu melontar jumrah, segera kami bersiap dan pergi melontar jumrah. Kemudahan ini tidaklah dapat dirasakan oleh jamaah lain yang tidak seberuntung kami mendapatkan maktab yang dekat dengan jumrah. Sebagian besar jamaah Indonesia tinggal jauh di kawasan belakang bukit, dimana untuk mencapainya perlu menembus sebuah terowongan yang terkenal dengan nama “terowongan Mina”. Terowongan ini pernah menjadi sorotan orang seluruh dunia karena pernah pula menjadi tempat musibah orang terdesak dan terinjak-injak dimana ratusan nyawa manusia melayang ketika itu.
Mereka yang tinggal jauh dari tempat jumrah, tidaklah bisa melihat suasana ramai atau sepinya tempat jumrah. Mereka hanya mengira-ngira apakah jamaah lainnya juga akan melontar pada saat yang sama atau tidak. Banyak orang rasanya memperkirakan bahwa melontar pada saat yang dianjurkan (yaitu ba’da shalat Dhuhur) akan sangat sulit karena banyak orang yang akan melontar saat itu. Namun hal itu tidak terbukti, karena kenyataannya pada saat-saat itu malah terkesan agak sepi. Mungkin kebanyakan orang berpikiran sama untuk menghindari saat-saat yang diperkirakan ramai sehingga menghindari saat-saat yang dianjurkan tersebut.
Demikianlah pelontaran jumrah kami lakukan setiap hari pada hari-hari Tasyrik itu, dimana kali itu ketiga jumrah dilempar dengan batu kerikil kecil sebanyak masing-masing tujuh kali, dimulai dari jumrah Ula, Wustha, dan Aqaba. Kami membagi rombongan kami menjadi beberapa kelompok kecil yang melontar jumrah secara bergantian. Jika kelompok lain menggunakan bendera berwarna-warni sebagai penanda agar anggota kelompoknya tidak tersesat akibat terpencar karena ramainya suasana, kami menggunakan bunga plastik yang diikat di atas sepotong kayu. Inilah kelompok kami, kelompok bunga (Wardah dalam bahasa Arab).
Dalam hari-hari Tasyrik ini, aktivitas kami di dalam maktab adalah beristirahat, mengaji, berdzikir, dan menambah teman dengan mengobrol panjang lebar dengan teman satu tenda. Rekan satu tenda kami ada yang berasal dari Bogor, dan bercerita bahwa salah seorang putranya yang berusia 23 tahun baru saja meninggal beberapa bulan sebelumnya karena terkena penyakit demam berdarah. Saya pun terhenyak mendengarnya karena salah seorang keponakan saya yang masih bayi juga baru meninggal dunia karena penyakit yang sama, satu hari sebelum kami berangkat haji.
Ada pula kenalan lain yang baru maju menjadi caleg sebuah partai politik di pulau Kalimantan. Ada juga dokter spesialis dari Makasar, pengusaha real estate dari Samarinda, serta seorang artis ternama dari Jakarta. Karena adanya artis ini pula-lah tenda kami selalu ramai didatangi ibu-ibu dan kaum putri lainnya yang ingin berfoto bareng dengan dia.
Kebetulan salah seorang jamaah haji yang ada dalam rombongan kami dari Mekah adalah seorang yang mempunyai kemampuan pijat refleksi. Dari hasil ngobrol-ngobrol dan membantu memijat satu-dua orang, ternyata makin lama makin banyak orang yang mendatangi tenda kami untuk minta dipijat dan dimintai pendapatnya tentang berbagai hal. Bahkan ada seorang artis lainnya dari Jakarta yang khusus datang dari maktab sebelah untuk mengunjunginya. Alhasil tidur kami pun agak terganggu karena hal-hal yang saya sebutkan di atas.
Setelah bertahalul sesudah melakukan Tawaf Ifadah, banyak orang yang memutuskan untuk menggunduli rambutnya. Hal ini disebabkan oleh adanya anjuran Rasulullah SAW untuk memendekkan rambut kita. Di dekat maktab kami tersedia tukang cukur resmi yang bertugas menggunduli rambut jamaah. Dengan membayar 15 riyal rambut kita dapat dipangkas habis dalam waktu singkat. Saya sendiri termasuk orang yang memutuskan untuk memangkas habis rambut saya di sana. Seumur hidup yang saya ingat, baru kali ini saya tidak mempunyai rambut lagi di atas kepala!
Selain dari tukang pangkas ‘resmi’ itu, banyak juga orang yang saling memotong rambut masing-masing. Banyak juga yang memotong rambutnya dengan cara yang agak ‘mengerikan’ yaitu dengan menggunakan silet untuk mengerik rambut. Banyak orang yang kepala gundulnya terlihat terluka akibat proses ini. Pinjam-meminjam silet juga praktek yang mudah ditemui, yang tentu saja menimbulkan resiko menularnya penyakit-penyakit yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya seperti Hepatitis B dan HIV/AIDS.
Ada pula yang lebih modern saling memotong rambut dengan menggunakan mesin pangkas rambut listrik atau bertenaga baterai. Salah seorang artis Indonesia yang terkenal dengan acara “Tok-Tok-Wow”, bahkan sempat terlihat membuka gerai potong rambut di samping toilet maktab. Ia mengaku menggunduli lebih dari 10 kepala dalam waktu 1 jam secara gratis! Saya sendiri juga berperan sebagai pemangkas rambut selama di Mina, walaupun hanya memangkas biasa saja dan bukan menggunduli. Rambut ketua rombongan kami dan brother Muhammad Richard keduanya menjadi sasaran tangan saya memendekkan rambut mereka.
Sampai tanggal 12 Dzulhijjah siang hari, kami memutuskan untuk ber-nafar awal, yaitu meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam hari itu. Setelah melontar jumrah, kami pun berkemas kembali ke penginapan kami di kota Mekah.
Ternyata perjalanan pulang ke penginapan juga bukanlah hal yang mudah. Kendaraan yang ada hanya sedikit, dan sebagian besar dari mereka hanya mau mengantarkan jamaah ke Masjidil Haram saja. Akhirnya saya dan istri terpaksa pulang ke penginapan dengan berjalan kaki, di tengah terik matahari Mina sampai ke kota Mekah.
#### bersambung ####
http://donowidiatmoko.wordpress.com/2004/02/01/berhaji-ala-jamaah-inggris-4/
Bagian 4 : Mekah – Madinah – Jedah – London
Mabrurkah haji kita?
Saya terbangun di sore hari setelah badan tertidur pulas akibat letih berjalan dari Mina ke penginapan kami di Mekah hari itu. Sudah selesaikah saya menjalankan perintah Allah rukun Islam yang kelima? Sudah hajikah saya?
Alhamdulillah, semua rukun dan wajib haji sudah kami jalani. Mulai dari bersiap ihram, berniat, menjauhi larangan ihram, berumrah, wukuf, melontar jumrah, dan bertahalul sudah kami jalani semua. Karena kami mengambil haji Tamattu (umrah dahulu baru berhaji) kami pun sudah membayarkan dam berupa menyembelih seekor hewan kurban, yang pelaksanaannya kami percayakan pada tuan rumah kami selama di Mekah. Tinggal kami pasrah dan ridha bagaimana Allah memberi penilaian kami melaksanakan ibadah haji. Tidak ada seorangpun yang bisa menilainya, kecuali Ia semata.
Sebelum berangkat, banyak orang mendoakan agar haji kami Mabrur adanya. Mabrur dalam arti bahwa ibadah kami diterima Allah dan kemudian kami selalu berusaha meningkatkan keimanan, takwa dan ibadah kami pada Allah lebih dari saat kami belum berangkat haji. Semua itu tentu saja dalam rangka mengejar janji Rasulullah SAW yang berkata “Haji mabrur itu, tidak ada balasan baginya melainkan surga“.
Jadwal kami setelah selesai wukuf, mabit di Muzdalifah dan Mina serta melontar jumrah adalah pergi ke Madinah untuk shalat di Masjid Nabawi, Masjid Quba, serta menziarahi tempat-tempat bersejarah lain di kota Madinah. Namun kami masih mempunyai beberapa hari luang di Mekah, yang kemudian kami manfaatkan untuk shalat, mengaji, dan i’tikaf di Masjidil Haram.
Bahkan, kami masih menyempatkan diri pergi ber-umrah sekali lagi. Kali ini kami melakukannya dengan mengambil Miqat dari masjid Tan’im persis luar tanah Haram. Kali ini umrah kami jauh lebih lancar karena kami sudah terbiasa mengenakan pakaian ihram, dan sudah hapal liku-liku Masjidil Haram. Umrah ini kami niatkan untuk memperbaiki hal-hal yang kurang dari pelaksanaan umrah dan haji tamattu kami kemarin. Ada juga anggota jamaah kami yang berumrah karena dimintakan oleh sahabatnya, untuk menggantikannya yang tidak bisa pergi berumrah dan haji tahun ini.
Kami pun menyempatkan diri berdoa di tempat yang mustajab di Masjidil Haram, yaitu di Multazam (tempat antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad). Karena masih padatnya suasana pada hari-hari tersebut, kami tidak bisa terlalu mendekati tempat itu, sehingga kami shalat dan berdoa di area yang menghadap Multazam, di tempat yang aman dan tidak mengganggu orang lain yang juga beribadah.
Hingga tiba tanggal 14 Dzulhijjah (5 Pebruari 2004), dimana kami akan meninggalkan Mekah menuju Madinah. Sebelum berangkat, kami berangkat ke masjidil Haram untuk Tawaf Wa’da (perpisahan). Tawaf ini relatif lebih mudah dibandingkan dengan tawaf-tawaf kami sebelumnya. Kelenggangan tempat tawaf di lantai dasar Masjidil Haram membuat kami mempunyai kesempatan untuk mendekati bangunan Ka’bah dan menikmati keanggunannya. Namun demikian, tempat-tempat mustajab seperti Multazam, pintu Ka’bah dan Hajar Aswad, tetap dipenuhi oleh jamaah yang ingin mendekatinya. Kamipun tidak terlalu memaksakan diri mendekati tempat-tempat tersebut.
Rasanya berat hati kami untuk meninggalkan Masjidil Haram, dan melihat rumah Allah untuk terakhir kalinya. Walau niat hati dan doa kami terpanjatkan agar kami dapat kembali lagi bersimpuh di depan Ka’bah diwaktu mendatang, namun hanya Allah-lah yang tahu berapa panjang kesempatan kita hidup di dunia ini. Mungkin saja inilah kesempatan terakhir kami untuk melihat rumah Allah secara langsung.
Setelah itu, kami bersiap dan berkemas, sambil saling mencatat alamat dengan jamaah lain di luar rombongan kami yang juga tinggal di penginapan yang sama. Siapa tahu persaudaraan kami selama ini dengan mereka dapat terus disambung di tanah air, walaupun kami masih harus kembali berjuang di Inggris dulu sebelum bisa berkiprah kembali di tanah air. Foto-foto pun diambil sebagai bahan yang mudah-mudahan bisa membawa kenangan kami kembali ke masa kami di Mekah ini.
Sore hari, berangkatlah seluruh rombongan kami dengan kendaraan sewaan ke kantor maktab, untuk mengurus paspor dan surat jalan bagi kami. Setelah urusan di sana beres, kami pergi ke stasiun bus untuk pergi ke Madinah dengan kendaraan yang disiapkan pemerintah Arab Saudi.
Rombongan kami yang 16 orang ternyata digabung dengan jamaah lain dari berbagai negara. Di atas bus, kami dibagikan air Zamzam yang dimasukkan dalam botol air mineral secara gratis. Alhamdulillah, ini bisa dipakai sebagai ‘back up’ persediaan air Z
amzam yang sudah kami masukkan ke dalam beberapa jerigen.
Perjalanan ke Madinah terasa cukup nyaman, walaupun mengambil waktu lebih dari 6 jam. Tak dinyana kami ternyata menghadapi masalah baru di terminal penerimaan jamaah Haji di Madinah. Sewaktu kami tiba di sana sekitar pukul 8 pagi, sudah ada puluhan bahkan ratusan bus yang parkir di sana menunggu selesainya pengurusan paspor serta surat jalan. Kamipun terpaksa menunggu di dalam bus selama pengurusan administrasi tersebut. Saya pribadi memanfaatkan waktu itu untuk tidur karena memang tidak ada yang bisa dikerjakan di dalam bus selain tidur.
Setelah selesai shalat Jumat yang diadakan di terminal bus itu, barulah kami mendapatkan clearance untuk pergi ke penginapan kami. Itu berarti untuk urusan administratif paspor saja kami harus menunggu hampir 6 jam lamanya.
Kota Madinah dilihat dari atas bus jauh berbeda dari kota Mekah. Kota itu terasa lebih sejuk, baik dari sisi iklim maupun dari cara kehidupan penduduknya. Pemandangan kota ini didominasi oleh menara masjid Nabawi, dan kuburan Baqi yang ada di sampingnya. Di sekeliling masjid Nabawi berdiri hotel-hotel yang tertata jauh lebih rapi bila dibandingkan dengan kota Mekah.
Penginapan kami adalah sebuah hotel kecil di ujung jalan kecil yang penuh disesaki toko-toko yang menjual berbagai produk. Berbelanja di Madinah sangatlah mudah, karena hampir seluruh pedagang dapat berbahasa Indonesia, minimal dapat mengerti angka-angka dalam bahasa Indonesia. “Lima real, murah” adalah kata-kata yang akrab di telinga kami. Bahkan petugas di sebuah money changer adalah orang Indonesia yang dengan ramah melayani kami menukar mata uang poundsterling ke Saudian Riyal. Beruntunglah kami yang berangkat dari Inggris karena sekarang ini mata uang Poundsterling sedang menguat tinggi kurs-nya bila dibandingkan dengan dolar Amerika atau mata uang lainnya. Jadi dengan uang yang relatif sedikit (untuk ukuran Inggris) kami bisa berbelanja banyak, atau jajan makanan di restoran dengan biaya yang menurut kami murah sekali. Bayangkan saja, semangkuk bakso ala Indonesia di Madinah dihargai sebesar 5 real, dan itu bila dikurskan nilainya hanya kurang dari 1 poundsterling. Di Inggris, mana bisa kami beli makanan enak siap santap dengan uang sebesar 1 poundsterling?
Berbagai makanan Indonesia bisa kami dapatkan di tempat yang tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi. Perjalanan kami pergi haji ini memang serasa bagaikan tetirah berwisata ke luar kota untuk menikmati makanan yang sangat sulit dirasakan di Inggris. Sop kaki kambing, gule, rendang, sate, bakso, dan bahkan tempe goreng dapat dengan mudah dinikmati di Madinah ini. Bahkan kami memaksakan diri untuk dapat membawa beberapa potong tempe segar, bahan sayur asam, dan bakso berdaging halal beku untuk dibawa kembali ke Inggris. Maklum, makanan seperti itu di Inggris adalah sebuah kenikmatan lezat yang sulit dicari di toko manapun.
Tujuan utama kami di Madinah adalah beribadah di masjid Nabawi, berziarah ke makam Rasulullah, dan tempat-tempat lainnya. Alhamdulillah, letak hotel kami yang tidak terlalu jauh dari masjid sangat membantu mudahnya proses kami berangkat ke masjid setiap masuk waktu shalat wajib.
Bila kita berada di dalam masjid Nabawi, kesejukan dan keramahan masjid itu sangatlah terasa. Kesejukan yang terpancar bukan saja berasal dari sarana penyejuk udara yang dipasang integrated di tiang-tiang masjid, tapi juga dari desain bangunan dan atmosfir di dalam masjid itu sendiri. Petugas masjid juga sangat ramah dan efisien menjalankan tugasnya mengatur jamaah agar semua mendapatkan tempat untuk shalat di masjid itu.
Di dalam masjid terdapat kawasan yang disebut Raudhah, yaitu tempat yang saat ini diberi batas berupa kain putih di dekat tempat imam memberikan khutbah. Sebenarnya, lokasi Raudhah adalah di antara makam Rasulullah dengan mimbar masjid, yang luas areanya tidaklah begitu besar. Tempat itu pernah disebut Rasulullah sebagai bagian dari taman yang ada di Surga. Karena itu, dekorasi di sekitar tempat itu dihiasi oleh motif bunga yang berwarna sejuk, dengan karpet berwarna putih kecoklatan yang berbeda dengan kawasan lain di masjid Nabawi.
Raudhah tidak pernah sepi dari orang yang ingin shalat dan berdoa di dalamnya. Walau berdesak-desak dan antri menunggu tempat sedikit longgar untuk dapat shalat di dalamnya, banyak orang tetap bersikeras untuk dapat masuk ke tempat itu. Memang jika kita shalat di dalamnya, hati terasa damai, seakan kita berada dekat sekali dengan Rasulullah, di taman yang dijanjikan Allah sebagai balasan orang-orang yang beriman pada-Nya.
Keluar dari Raudhah, kita akan melewati ruangan berwarna hijau yang merupakan makam Rasulullah Muhammad SAW, beserta dua orang khulafaur rasyidin sahabat nabi yaitu Abu Bakar RA dan Umar bin Khatab RA. Di sana jamaah mengucapkan salam kepada Rasulullah, dan juga kepada kedua sahabatnya. Assalamu’alaika ayyuhannbiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera dan rahmat Allah semoga dilimpahkan padamu ya Rasulullah. Assalamu’alaika ya Abu Bakr, Assalamu’alaika ya Umar.
Selepas shalat Subuh, pintu kuburan Baqi di sisi masjid Nabawi dibuka, dan kami dapat berziarah ke sana. Mungkin sudah jutaan orang yang dikuburkan di sana sejak dari zaman Rasulullah SAW, termasuk khalifah Usman, para istri Rasulullah, dan kerabat-kerabat lainnya. Di sana dikebumikan pula jenasah orang yang meninggal di Madinah selama musim haji. Dengan ziarah kubur, kita bisa lebih menghayati bahwa akhir kehidupan manusia adalah kematian, jasad yang kita tinggalkan akan hancur di dalam tanah kembali menyatu dengan asal mula jasad kita.
Z
iarah ke Masjid Quba, juga sangat disarankan untuk dilakukan sewaktu kita di berada di Madinah. Masjid Quba adalah masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah SAW. Masjid ini sedemikian pentingnya sehingga Rasulullah bersabda bahwa orang yang berniat berwudhu dari rumahnya, dan pergi shalat di masjid Quba, pahalanya akan setara dengan pahala orang yang mengerjakan umrah. Bahkan masjid ini juga disebutkan dalam Al Qur’an sebagai masjid yang dibangun berdasarkan Takwa (QS 9:108).
Tempat lain yang bersejarah dalam Islam adalah masjid Qiblatain, yaitu tempat ketika Rasulullah mendapat wahyu dari Allah untuk memindahkan arah kiblat dari masjidil Aqsa di Palestina ke masjidil Haram di Mekah. Untuk itu masjid itu diberi nama masjid Qiblatain yang berarti masjid dengan 2 kiblat.
Di dekat kota Madinah juga terletak bukit Uhud, tempat dimana perang Uhud terjadi, dimana kemenangan pasukan muslim yang sudah di depan mata dapat hilang karena ketamakan untuk mendapat harta rampasan perang. Di sisi lain dari kota Madinah terdapat tempat perang Khandak (parit), yang mungkin kita pernah mendengar cerita penghianatan kaum Yahudi Madinah terhadap Rasulullah SAW sehubungan dengan perang itu.
Demikianlah, waktu 3 hari di kota Madinah kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk beribadah di masjid Nabawi, berziarah, serta tak lupa membeli oleh-oleh untuk teman-teman di Inggris dan Indonesia. Terbayang di benak kami teman-teman dari berbagai bangsa di kota kami yang turut memperhatikan dan mendoakan keberangkatan kami beribadah Haji. Perhatian ini bahkan muncul pula dari tetangga dan teman-teman kami yang bukan beragama Islam. Bahkan seorang tetangga saya warga negara Israel sangat antusias atas keberangkatan kami berhaji. Oleh-oleh itu kami niatkan untuk mereka nanti, sebagai tanda terima kasih kami atas perhatian dan bantuan mereka kepada keluarga kami.
Semua sahabat di Inggris menawarkan berbagai bantuan pada kami, mulai dari menjaga dan mengantar sekolah kedua anak kami yang terpaksa ditinggal di rumah karena tidak mungkin diajak serta ke tanah Arab, sampai pada tawaran untuk membelikan belajaan di supermarket secara rutin. Kebetulan ibu mertua saya sanggup datang sendirian dari Indonesia ke Inggris, khusus untuk menjaga anak-anak di rumah. Upaya orang tua yang kami muliakan ini sangatlah patut dihargai, karena ini adalah kali pertama beliau tinggal di negeri asing, apalagi di musim dingin, untuk menjaga kedua anak kami yang masih kecil-kecil yang sedang senang-senangnya memamerkan kemampuan mereka berbahasa Inggris bahkan pada neneknya sendiri.
Teman-teman lain saya mintakan untuk dapat bergiliran tinggal di rumah kami untuk membantu ibu mertua saya itu menjaga rumah dan kedua anak kami. Kebaikan teman-teman itu rasanya sulit diukur dengan nilai duniawi. Semoga Allah dapat membalas kebaikan hati semuanya, dan dapat memberikan rejeki dan umur yang cukup bagi mereka untuk memenuhi panggilan-Nya pergi haji.
Kami sangat bersyukur karena telah dapat memenuhi perintah Allah sekali seumur hidup ini dikala usia kami masih muda, kondisi fisik mencukupi, dan kemudahan waktu yang relatif mudah diatur. Terbayang kesulitan yang kami lihat dari banyak jamaah haji yang berangkat di waktu umur sudah tidak muda lagi, menjalankan ibadah haji yang banyak menuntut kekuatan fisik. Kesibukan saya sebagai mahasiswa riset juga mudah diatur dengan pembimbing di kampus. Pekerjaan part-time saya di sebuah nursing home bagi penyandang cacat mental dan pekerjaan istri saya di sebuah rumah sakit dapat pula dimintakan cuti dengan mudah.
Hingga tiba saatnya kami harus meninggalkan Madinah menuju Jedah, untuk kembali ke London dengan Egypt Air. Dengan bus pemerintah Saudi kami berangkat ke Jedah, dan kali ini tidak terlalu banyak hambatan yang kami rasakan. Hal terberat mungkin adalah sempitnya kursi di bus ini relatif dengan bus-bus terdahulu yang pernah kami tumpangi.
Kami pun sampai di terminal haji Jedah hari Senin, 18 Dzulhijjah atau 9 Pebruari 2004. Karena kami sampai di airport 6 jam lebih awal dari waktu keberangkatan pesawat, kami dialihkan untuk dapat naik pesawat yang berangkat lebih dahulu daripada yang tertera di tiket pesawat kami. Dengan tergesa-gesa kamipun memasukkan bagasi ke check in counter dan




