Khatib khutbah Jumat siang tadi di masjid kampus mengingatkan tentang kisah Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah SAW. Abdurrahman bin Auf adalah salah satu orang yang paling awal memeluk Islam setelah Rasulullah mendapatkan wahyu Allah SWT. Ia juga adalah salah satu dari 10 sahabat yang pernah disebut Rasullullah sebagai ahli Surga.
Yang menarik dari Abdurrahman bin Auf selain dari keimanannya adalah kerendahan hati dan kemurahan budinya.
Sewaktu hijrah dari kota Mekah ke Madinah, beliau disambut oleh kaum Anshar dan atas petunjuk Rasulullah SAW, beliau dititipkan pada keluarga Sad bin ar-Rabi’ah. Sedemikian tulusnya sambutan kaum Anshar pada saudara seiman kaum Muhajirin, sampai Sad menawarkan setengah hartanya dan bahkan salah satu dari kedua istrinya untuk diperistri oleh Abdurrahman bin Auf. Walau terharu dan berterima kasih atas tawaran saudara seimannya itu, Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan halus dan ia hanya ingin ditunjukkan dimana letak pasar tempat perdagangan di kota Madinah ketika itu.
Setelah ditunjukkan tempatnya, mulailah ia mendatangi pasar untuk mencari nafkah dengan berdagang. Karena kelihaiannya berdagang dan wataknya yang jujur, dalam waktu yang tidak lama ia segera dapat mengumpulkan uang dan mempunyai harta yang banyak.
Bahkan pernah dikiaskan bahwa jika Abdurrahman bin Auf membalikkan sebuah batu yang ditemui, maka dibawahnya akan ditemukan emas – sebuah perumpamaan yang menggambarkan betapa pandainya beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal.
Walau ia kemudian menjadi kaya raya, Abdurrahman bin Auf tidaklah menjadi buta karena hartanya. Ia sangat pemurah dan selalu ingat pada harta sebagai salah satu bentuk nikmat tapi juga cobaan Allah. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya akan memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ia takut bahwa dengan bertambahnya umur dan bertambahnya harta, semakin berat pula hal yang akan kita pertanggungjawabkan di muka Allah.
Suatu saat di Madinah selepas kepulangannya dari berniaga di Syam (sekitar Syria sekarang), ia menyerahkan seluruh hasil perniagaannya sebanyak 700 unta berikut apa yang ada pada rombongannya semata-mata karena diingatkan pada sebuah perkataan Rasulullah yang pernah menyebutkan bahwa Rasulullah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan. Ternyata Abdurrahman bin Auf takut bahwa harta yang didapatnya bisa memperlambatnya masuk surga, walaupun ia sudah dijanjikan Rasulullah sebagai salah satu akhli surga!
Saat menghadapi peperangan, Abdurrahman bin Auf siap menyumbangkan hartanya di jalan Allah. Saat menjelang ekspedisi pasukan muslim ke Tabuk, Umar bin Khattab RA melaporkan pada Rasulullah SAW bahwa Abdurrahman bin Auf menyumbangkan seluruh hartanya untuk ekspedisi itu dan tidak meninggalkan harta apapun untuk keluarganya di rumah. Ketika Rasulullah menanyakan kebenaran hal itu, Abdurrahman bin Auf menjawab bahwa ia sudah meninggalkan hal yang lebih baik pada keluarganya di rumah, yaitu sekedar harta untuk bertahan hidup dan pahala yang sudah dijanjikan oleh Allah dan Rasulullah .
Kerendahan hati, kemurahan budi, dan rasa takut akan Allah ini juga ditunjukkan pada sikapnya akan kekuasaan. Saat amirul mukminin Umar RA wafat, enam orang yang telah ditunjuk oleh Umar berembuk menentukan pemegang kekhalifahan berikutnya. Saat itu semua orang sudah mengharapkan Abdurrahman bin Auf untuk dipilih sebagai Khalifah berikutnya. Tidak dinyana ia malah berkata keras “Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut, lebih baik ambil pisau dan taruh di leherku, kemudian kalian tusukkan sampai tembus!”. Ia lalu menyerahkan kepada ke-lima sahabat yang telah ditunjuk itu untuk menentukan calon khalifah berikutnya.
Sahabat lainnya tentu tertegun mendengar perkataan Abdurrahman bin Auf ini dan malah lebih memunculkan rasa hormat yang lebih dalam. Merekapun sepakat meminta Abdurrahman bin Auf untuk memutuskan siapa yang akan dipilih, dan beliau memutuskan agar Usman bin Affan RA diangkat menjadi khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW wafat.
Sampai saat Abdurrahman bin Auf sakit dan menjelang ajal, Aisyah RA menawarkan padanya bahwa jika ia meninggal apakah ingin dikuburkan di area dekat dengan kubur Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan Umar RA. Walau tentu saja adalah merupakan kehormatan besar bila ia bisa dikuburkan di dekat junjungan kita Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf menolak kesempatan itu dengan alasan bahwa ia merasa tidak pantas diberi kehormatan seperti itu. Selain itu, iapun sudah pernah berpaut janji dengan sahabatnya Usman Bin Mazh’un untuk dikuburkan saling berdekatan jika wafat kelak. Akhirnya ia dikuburkan di kuburan Baqi, dekat dengan dimana sahabatnya itu dikuburkan.
Mudah-mudahan kita bisa meniru Abdurrahman bin Auf, yang walau pandai mencari harta, tidak terlalu menaruh cinta pada harta duniawi, ikhlas bersedekah, terus menjaga rasa malu, dan terus memegang janji sampai akhir hayat.




Tinggalkan komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini