Selepas shalat Dhuhur tadi saya disapa seorang bule di depan Masjid kampus. Bule ini sebelumnya saya lihat shalat Dhuhur sendiri karena telat ikut jamaah jam 13:30 siang tadi.
Kaget juga saya sebenarnya disapa dia. Saya bukan kaget karena bule itu menyapa saya dalam bahasa Indonesia. Saya kenal beberapa orang kulit putih yang tidak ada tampang Indonesianya sama sekali yang mampu berbahasa Indonesia secara halus dan baik. Jauh lebih baik tata bahasanya dari saya yang dari lahir sampai dewasa tinggal di Indonesia.
Misalnya, ada satu pasang suami istri yang dulu pernah tinggal di Bogor bertahun-tahun, karena sang suami menjadi pengajar di IPB. Setelah pensiun mereka kembali ke Inggris dan sering mengundang mahasiswa (yang umumnya berkocek tipis) untuk makan-makan di kediamannya yang asri. Ngobrol bahasa Indonesia sepuasnya bolehlah di kediamannya. Seorang lagi bahkan bahasa Indonesianya baik sekali. Saat saya ada proyek penerjemahan ke bahasa Indonesia, saya meminta beliau untuk menjadi salah seorang professional forward translator (menterjemahkan dari Inggris ke Indonesia) sementara beberapa penerjemah Indonesia diminta menjadi backward translator (dari Indonesia ke Inggris). Beliau ini juga beberapa tahun yang lalu memutuskan menjadi mualaf, Alhamdulillah.
Saat saya kuliah dulu juga punya seorang kenalan, bule Australia seumuran lepas SMA (ketika itu) yang pandai berbahasa Indonesia. Saat kebetulan saya mengerjakan tugas akhir di Melbourne beberapa kali kami jalan bareng sambil ber-loe-gue dengan dia. Maklum, dia ini dulu pernah ikut AFS di kawasan Kemayoran/Sunter dan bersekolah di SMA 13. Tiap hari dia ke sekolah naik becak naik metromini via Senen. Jadilah bahasa Indonesianya lancar ala abang-abang yang ada di Metromini.
Istri saya juga pernah ketemu anak muda bule, yang sedang berdagang baju dan aksesoris klub sepakbola Manchester United saat ada pertandingan di stadion Old Trafford. Si anak muda bule ini juga ber-loe-gue dengan istri saya dan teman-temannya karena ia sebenarnya tinggal di Jakarta mengikuti orang tuanya yang menjadi konsultan sebuah televisi swasta di sana.
Simpulannya, nggak heran kalau kita ketemu bule-bule yang pandai bicara bahasa Indonesia.
Kembali ke si Bule di masjid. Saya juga bukan kaget melihat bule shalat di masjid karena saat ini di Inggris memang banyak bule yang memeluk agama Islam. Diantara teman-teman orang Indonesia muslim yang menikah dengan pria bule, banyak diantara mereka yang mendalami agama Islam. Sebagian diantaranya sangat rajin dan bersemangat belajar agama. Di masjid lokal paling dekat dengan rumah kami (nggak dekat juga, jaraknya dengan rumah sekarang 6 miles = 9,65 km) marbot (atau di sini disebut Manager) masjidnya seorang mualaf bule. Beberapa orang jamaah yang rajin datang juga bule. Satu orang malah aktif minta saya mencarikan seorang gadis/janda yang siap nikah dengan dia.
Sebenarnya banyak mualaf yang sering ditemui di sini, dan bukan monopoli orang kulit putih Inggris alias bule. Pernah ada gadis asal eropa timur yang melafalkan syahadat di masjid itu. Istri saya punya kenalan beberapa mualaf Afrika di circle masjid. Jadi mualaf di Inggris bukan cuma bule saja.
Apalagi lihat umat muslim yang sedang umrah atau haji di tanah suci. Jamaah dari berbagai jenis rupa wajah, perawakan, warna kulit, bahasa dan kebiasaan yang datang ke sana. Dekat tempat penginapan kami dulu ada rombongan jamaah dari China, Taiwan, dan Brasil. Dulu saya tidak pernah bayangkan lho sebenarnya bahwa ada umat Islam yang tinggal di Brasil!
Simpulannya, nggak usah terlalu heran lihat bule yang rajin ke masjid.Yang ke masjid bukan cuma muslim dari Timur Tengah, Asia dan Afrika saja.
Kembali pada si bule yang menyapa saya di masjid. Sebenarnya apa yang membuat saya kaget? Sebelum saya disapanya, si bule ini saya dengar bercakap-cakap dalam bahasa Arab pada satu orang mahasiswa asal Timur Tengah. Lancar dan bagus bahasa Arabnya. Jadi saya pikir waktu itu dia ini pasti orang keturunan Eropa yang tinggal di salah satu negara Timur Tengah. Ternyata setelah itu dia menyapa saya dengan bahasa Indonesia! Wow. Bule yang mampu berbahasa Inggris, Arab dan Indonesia!
Setelah lepas rasa kaget saya, kamipun ngobrol sedikit. Ia ternyata staf pengajar baru di Universitas kami yang dulu pernah beberapa lama tinggal di Indonesia. Istrinya pun berasal dari negara Jiran Malaysia asal kota Kuala Lumpur. Si bule ini berasal dari Australia, dan dulu pernah kerja di Aceh. Ini menjelaskan mengapa ia bisa berbahasa Indonesia dengan baik.
Ia baru saja datang dari Australia untuk mengajar di Universitas kami. Apa yang diajarnya? Bahasa ARAB! Hebat kan?




3 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
29 Agustus 2010 pada 4:47 pm
tamu
Assalamualaikum Mas Dono,
Wah, hebat sekali ya, bangga rasanya tinggal di Inggris melihat tingginya animo orang-orang asing ke Islam.
Iseng ke sini mencari tulisan Mas Dono tentang penghinaan ke muslim selama di UK, karena baru kemarin bertemu orang semacam itu di bandara Thailand. Bule yang ini berkoar-koar tentang tidak perlunya ada tempat sholat khusus muslim di Suvarnabhumi airport (ketika itu kita duduk menghadap prayer place). Nauzubillah.
8 Agustus 2011 pada 6:32 am
eka budi
ALLOH tidak memandang dari suku, bangsa, kulit apapun untuk HIDAYAH NYA
11 September 2011 pada 3:52 pm
Diena
Assalamu’alaikum mas Dono
krn insya alloh saya jg sdg berniat mencari pendamping hidup unt segera menyempurnakan agama dan ibadah saya, tp bkn berarti saya mencari mualaf bule loh…
hanya saya sdg berikhtiar saja, siapapun yg ditakdirkan Alloh unt saya asal yg terbaik menurutNya, insya alloh saya ikhlas….
salam kenal….
Subhanalloh masih ada bangsa asing yang mempunyai keinginan unt menjadi mualaf…begitulah jika Alloh berkehendak…oh ya ada satu kalimat mas dono yg ditulis kalau ada seorang muallaf asing yg sedang mencari pendamping hidup, apa benar????