Malam tadi selepas dari pengajian rutin di kediaman pak Opick, saya menyempatkan diri datang ke ceramah rutin di Masjid. Acaranya diselenggarakan langsung selepas shalat Isha. Malam ini pembicaranya adalah Dr Salah-Eddin Zaimeche Al-Djazairi, seorang peneliti sejarah Islam di Manchester. Topik yang dibawakannya adalah tentang kontribusi peradaban Islam pada dunia modern.

Dalam benak saya di awal acara, isi ceramah ini pastilah mengulas hal-hal yang ditemukan atau dikembangkan umat Islam yang bisa ditemukan dalam kehidupan dan ilmu pengetahuan modern saat ini. Kebetulan sewaktu saya aktif mengelola KIBAR, kami pernah mengundang Prof. Salim Al-Hassani yang menulis buku 1001 Inventions; Muslim Heritage in our world. Saat itu terbuka pengetahuan kami atas banyaknya kontribusi ilmuwan dan cendekiawan muslim dalam dunia modern sekarang ini.

Namun demikian, dalam ceramahnya malam ini, Dr Al-Djazairi tidak mengungkapkan seperti apa yang diungkapkan Prof Salim, melainkan menerangkan alur sejarah perjalanan ilmu tersebut dari peradaban Islam di jaman kekhalifahan sampai masa yang disebut kalangan barat sebagai “renaissance” di abad ke 14-17.

Dalam ulasannya, Al-Djazairi menjelaskan bahwa selepas kerajaan Romawi kehilangan kekuatannya di abad 5 masehi, eropa memasuki masa kegelapan (The Dark Ages). Saat itu kebesaran kerajaan Romawi dihancurkan oleh kaum Barbarian yang menghancurkan pusat-pusat kekuasaan Romawi. Pengaruh Romawi pun kemudian hilang menjadi kekuasaan raja-raja lokal di berbagai belahan Eropa.

Sementara itu, Islam diturunkan di abad ke 7 di tanah Arab, dan pengaruhnya cepat tersebar ke penjuru timur tengah sampai ke kawasan Eropa Selatan dan Afrika Utara. Dibawah khalifah-khalifah Islam peradaban Islam berkembang pesat. Berbagai perkembangan ilmu dan teknologi menjadikan masa itu menjadi masa keemasan perkembangan peradaban Islam.

Namun demikian, karena berbagai hal terjadi kemunduran di beberapa kawasan yang semula menjadi pusat peradaban ilmu umat Islam. Yang paling utama adalah dikuasainya Toledo, sebuah kota di Spanyol yang semula adalah sebuah pusat peradaban muslim di kekhalifahan Abasiah Cordoba di abad ke 12. Di Toledo, terdapat perpustakaan besar yang memuat buku-buku ilmu pengetahuan yang ditulis dalam bahasa Arab yang meliputi banyak bidang keilmuan. Kemudian yang terjadi adalah upaya penerjemahan teks berbahasa Arab tersebut ke bahasa Spanyol, dan Latin. Dari sana kemudian para penguasa berbagai negeri, termasuk diantara juga dari Inggris datang untuk belajar ilmu pengetahuan yang bersumber dari ilmuwan muslim tersebut.

Contoh lain adalah Sicilia, sebuah pulau di mediterania yang saat ini menjadi bagian dari negara Italia pernah menjadi salat satu pusat pengembangan ilmu umat Islam. Namun demikian di abad 11, Sicilia dikuasai oleh bangsa Norman yang berasal dari Perancis. Bangsa Norman juga melakukan hal yang sama terhadap buku dan literatur yang ditemukan di Sicilia dari kebudayaan Islam. Bahkan dijelaskan bahwa Oxford University, Universitas tertua di Inggris, juga didirikan berbekal dari bahan-bahan yang dibawa dan diterjemahkan dari pulau Sicilia.

Selain itu saat masa “The Crusades” (Perang Salib), tentara Kristen dari berbagai kerajaan di Eropa mencoba menyerang Yerusalem dari kekuasaan kekhalifahan Islam. Dalam perjalanannya mereka melewati kawasan Turki, Syria, dan Palestina yang saat itu sudah mempunyai tingkat peradaban yang luar biasa. Dalam masa dua abad Perang Salib, banyak hal yang dipelajari, diambil dan dicontoh dari peradaban Islam di Syria dan Palestina bagi perkembangan dunia barat.

Semua hal itu berkembang di akhir masa kegelapan (Dark Ages) sedikit demi sedikit dari kekhalifahan Islam sampai akhirnya muncul apa yang saat ini disebut masa “Renaissance” di Eropa. Saat Eropa kembali berkembang dan lalu diikuti oleh Revolusi Industri, sayangnya perkembangan ilmu pengetahuan di kawasan-kawasan Islam menurun drastis. Imperialisme negara-negara Eropa ke berbagai penjuru dunia juga mendorong tenggelamnya peradaban ilmu dunia Islam.

Dr. Al-Djazairi mengakhiri sesi malam tadi dengan menekankan bahwa sejarah bukan hanya harus dipelajari sebagai sejarah. Tidak ada gunanya hanya terkenang-kenang atas kehebatan dan kemajuan peradaban Islam di masa lalu. Memang merupakan tugasnya selaku historian untuk mempelajari sejarah, tapi yang lebih penting adalah mencari jalan dan berusaha sekuat tenaga untuk kembali mendapat prestasi seperti di jaman keemasan dulu.

Setelah acara selesai, Fakhri, putra saya yang semula agak sungkan mengikuti acara itu berkomentar “I thought it wouldn’t be that interesting” katanya. Untuk memupuk semangatnya saya lalu belikan dia dua buku yang ditulis oleh Dr Al-Djazairi. A Short History of Islam, dan The Crusades. Buku-buku tulisan beliau lainnya bisa dilihat di sini: http://www.islamworlduk.com/scripts/prodList.asp?idCategory=101

About these ads