Sewaktu pertama membaca kata-kata di atas di sebuah website saat blogwalking, saya sebenarnya juga bingung maksudnya apa. Ternyata ungkapan itu dipakai untuk menjelaskan upaya penipuan criminal yang menggunakan cara-cara persuasi yang kadang kita tidak sadar kalau itu adalah penipuan – sampai kita tahu kalau kerugian kita ternyata sangat nyata.

Misalnya yang klasik adalah adanya email dari seseorang yang menjanjikan adanya uang sekian juta dollar yang sudah lama tidak diklaim siapapun sebagai pemiliknya dari sesuatu bank, atau menjanjikan komisi sekian persen dari Mrs. Anu janda dari raja siapa di mana yang perlu menginvestasikan uangnya di Negara kita. Ada juga email yang memberi tahu kalau kita menang lotere sekian juta dollar atau menang undian Green Card untuk tinggal di Amerika sana.

Biasanya email itu dikirim menggunakan list email yang ada di berbagai mailing list, atau di bank email yang juga banyak diperjual belikan di internet. Walau kebanyakan saat ini fasilitas email sudah punya fasilitas untuk memfilternya langsung (bulk mail/spam),  Tapi kadang juga masih ada satu dua yang lolos.

Ciri email itu biasanya dikirim menggunakan email gratisan seperti Yahoo, Hotmail, atau Gmail. Perusahaan yang bonafide tentu saja akan menghindari penggunaan email gratisan seperti itu. menggunakan bahasa Inggris yang banyak salah ketik, atau salah grammarnya. Sekali lagi biasanya karyawan perusahaan yang bonafide tidak akan banyak salah dalam menulis hal-hal resmi kantor.

Yang aneh beberapa email itu bahkan menggunakan bahasa Indonesia antah berantah yang tidak sesuai dengan norma bahasa Indonesia umumnya. Sangat mungkin email itu dikirim menggunakan fasilitas seperti google translate dari bahasa Inggris atau bahasa lainnya.

Tidak sedikit orang yang terkena perangkap jenis penipuan kriminal ini. Saya kebetulan pernah mengelola beberapa organisasi dan websitenya yang ada di UK sudah sering menerima kontak dari orang di Indonesia (kenalan atau tidak kenal sama sekali) yang meminta bantuan untuk mengkonfirmasi si X di London, atau perusahaan Y di Manchester. Selama ini semuanya bohong belaka.

Modus operandinya adalah dengan menjanjikan si penerima email untuk menerima atau mengelola uang, menerima kiriman barang berharga atau sejenisnya. Namun kemudian untuk mengambilnya, harus ada uang administrasi atau uang pelabuhan yang harus dibayar lebih dahulu lewat pihak lain. Lalu kita disarankan untuk menghubungi si pihak ketiga yang akan membantu itu. Di sinilah kerugiannya terjadi. Biasanya kita diminta membayar uang administrasi atau sejenisnya itu melalui Western Union atau Money Gram. Uang yang dikirimkan lewat kedua jenis pengiriman uang itu bisa dicairkan dimanapun di seluruh dunia asal nomor kode pengirimannya diketahui.

Email penipuan ini biasanya berasal dari negara ketiga, yang menggunakan alamat pos ‘benaran’ di negara maju supaya penerima email percaya. Kadang website yang tertera di email adalah website resmi organisasinya, tapi biasanya nomor telepon yang diberikan adalah menggunakan +44703….. atau sejenisnya, yang merupakan nomor non-geographic yang bisa diforward ke nomor lain (biasanya ke nomor handphone di negara lain).  Beberapa kali saya mencoba menghubungi nomor-nomor itu langsung dan bahkan gantian ngerjain mereka!

Alamat yang ada di email bisa benar bisa juga bohong-bohongan saja. Misalnya ada yang mengaku perusahaan transport/logistik tapi menggunakan alamat satu kantor di Central London, yang sebenarnya adalah alamat salah satu radio besar di sana. Kalau mau ditelusuri lebih lanjut, email penipuan itu sebenarnya bisa ditelusuri dari IP Address yang tertanam di dalam body email, walau kebanyakan orang tidak bisa melihatnya langsung.

Belakangan modus penipuan seperti ini mulai beragam dan “kreatif”. Ada yang menawarkan berbisnis, ada yang menawarkan kerjaan, bahkan jodoh. Ada seseorang yang menanyakan tentang bekerja jadi Au Pair di London, karena dia sudah ‘diterima bekerja’ di sebuah keluarga kaya di kawasan Mayfair London. Saya telusuri informasinya ternyata bohong belaka. Pemerintah Inggris tidak akan mengijinkan pleamar visa Au Pair dari Indonesia. Kemungkinan besar si penipu tahu informasi tentang dia dari website Au Pair yang banyak ada di Internet.

Banyak juga penipuan yang melibatkan pekerja ‘professional’. Pelamar dari Indonesia diminta mengirimkan CV, yang kemudian data dari CV itu akan dijadikan amunisi penipuan mereka. Langsung diterima kerja tanpa wawancara macam-macam, kemudian disuruh melengkapi dokumen keimigrasian dengan biaya sekian. Setelah dikirim uangnya bukan urusan selesai tapi malah minta uang lebih banyak lagi. Bisa ditebak ijin kerja tidak keluar, uangnya saja yang terus dibongkar.

Yang paling keji adalah penipuan dengan modus cinta. Para penipu bisa mencari detail seseorang dari banyaknya site perjodohan yang ada di Internet. Dari situ mereka berpura-pura tertarik pada si calon korban yang ada, lalu berjanji ini itu. Merasa mendapat angin surga dari sang calon yang tinggal jauh di sana, apapun juga mungkin dilakukan untuk menggapainya. Misalnya si penipu bilang bahwa dia telah mengirimkan satu paket perhiasan mahal untuk digunakan sang calon, dan hanya tinggal membayar biaya ongkos cukai atau biaya ini itu sejumlah sekian ratus dólar saja.

Penipuan dengan menggunakan daya persuasi ini banyak juga dikenal di Indonesia dengan penipuan via sms, undian berhadiah, hipnotis, sirep, ‘ilmu gendam’ atau sejenisnya. Menurut saya pada dasarnya ya sama saja dengan penipuan via email bahwa si penipu mencoba mempengaruhi calon korbannya sehingga percaya apa yang dikatakannya. Begitu sang korban sudah terkena kait umpannya, gampang saja memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan yang banyak.

Saya sendiri pernah mengalami usaha ‘crimes of persuasión’ ini secara langsung. Suatu hari suami dari baby sitter yang membantu keluarga kami datang bersama seseorang dan mengabarkan bahwa sang baby sitter kecelakaan di suatu rumah sakit dan butuh biaya pengobatan. Yang memberi tahu informasi ini adalah si orang yang tidak dikenal itu. Saya kebetulan tahu kalau si baby sitter itu tidak sakit tapi memang pergi ke kampung untuk menjenguk keluarganya, jadi nggak mungkin dirawat di rumah sakit. Jadi saya berkeras itu nggak mungkin dan ternyata benar adanya!

—————–

Cerita tentang au pair di atas pernah saya tulis di sini: http://donowidiatmoko.multiply.com/journal/item/23/Yati_ingin_jadi_Au_Pair