Rambut memutih pertanda tubuh dimakan usia. Demikian juga saya. Lima tahun lalu, hanya sehelai dua helai rambut putih yang bisa terlihat di kepala. Sekarang lain lagi ceritanya. Mudah saja mencari helai-helai putih pertanda berjalannya usia saya.
Selain memutih, jumlah rambut yang rontok tidak diimbangi oleh jumlah rambut yang tumbuh baru. Alhasil di beberapa sisi kepala rambut menipis, membotak, juga sebagai tanda penuaan.
Biasanya sekali dalam sebulan saya memotong rambut di tempat cukur rambut. Di dekat rumah saya, ongkos cukur biasa sangat mahal: £11 untuk proses cukur yang hanya 10-15 menit lamanya saja. Untuk student dan OAP (Old Age and Pensioner) ongkosnya £8.5. Sayang saya sekarang tidak punya lagi kartu mahasiwa full time jadi tidak bisa menghemat £2.5 alias sekitar Rp 35.000 per cukurnya.
Sebenarnya kalau mau lebih hemat, bisa mencari tempat cukur di kawasan perumahan Asia. Di sana ongkos cukur cuma skitar £5 saja. Lama lagi nyukurnya bisa sampai ngantuk-ngantuk saat dicukur. Walau tanpa pijat seperti di Indonesia, lumayan lah daripada 11 pound hanya dapat quick cut.
Sebenarnya paling hemat adalah minta dicukur konco wingking alias istri sendiri. Sayangnya, sudah hampir 12 tahun kami menikah baru satu kali dia berani mencukur saya. Itupun dengan gaya rambut hampir plontos kayak orang habis sakit tipus. Sejak itu dia tidak berani lagi mencukur rambut saya dan upaya penghematan tidak bisa dilakukan! Coba dia berani mencukur rambut saya (dan saya juga berani dicukur oleh dia), dalam satu bulan bisa dihemat uang £11, setahun £132 sekitar 2 juta rupiah! Banyak kan?
Saat di asrama kampus dulu, saya bercukur di tukang cukur dalam kampus yang menyewa satu kamar di dalam kampus. Enak juga sih lokasinya persis di samping danau, dan kalau musim panas jendelanya dibuka bisa mencium aroma danau yang macem-macem. Tukang cukur itu hanya buka saat term time, dan kalau mau cukur harus buat appointment dulu. Nyukurnya ala kilat, pokoknya 10 menit harus kelar.
Di Indonesia, saya selalu pilih tukang cukur yang ongkosnya sudah mencakup ekstra service pijat bahum, leher dan kepala. Rasanya segar sekali sehabis ngantuk-ngantuk diurut otot yang kaku dan kulit kepala dipijat. Di beberapa tempat juga ongkosnya termasuk satu teh botol dingin. Segaarrrr…..
Yang patut dihindari adalah tukang cukur yang tempatnya banyak nyamuk. Ini sering saya alami dulu sewaktu jaman SMP di tukang cukur di daerah Tanah Tinggi dekat Senen. Nyukurnya sih OK dan enak, tapi nyamuk-nyamuk yang ada di sana berpesta pora meminum darah segar saya dari kaki yang tidak tertutup celana pendek SMP kala itu…..
Di luar Jakarta, saat ikut KKN saya pernah coba datang ke tukang cukur di Pasar Pandeglang (Jawa Barat ketika itu). Di tengah los pasar yang saat itu sepi di siang hari. Angin semilir menghembus disela suara radio dangdut disetel keras los sebelah. Bapak tukang cukur tua memainkan guntingnya dengan tangkas. Ongkosnya murah saja. Secarik puisi sempat tercurah setelah episode cukur siang itu. Rambutku tertinggal di Pasar Pandeglang.
Urusan cukur-mencukur rambut, saya juga punya satu talent terpendam – mencukur. Selama ini sih hanya dipraktekkan ke anak-anak dan istri saya. Dulu juga kadang ada tetangga berkantong kempes minta dicukurin ke saya. Sewaktu di asrama juga pernah mencukur rambut teman-teman di sana.
Semua ini dimulai dari tantangan mencukur rambut orang Ghana yang full kriwil. Tetangga kamar saya si orang Ghana kebetulan waktu itu membeli mesin cukur rambut, yang kala itu di tahun 90-an masih rada-rada termasuk alat canggih. Niatnya membeli untuk memotong rambut anak-anaknya yang ditinggal di Ghana. Dia juga ingin mencoba mesin itu dipakai di rambutnya. Saya yang waktu itu belum pernah mencukur rambut orang sama sekali dimintanya menjajal. Okelah pikir saya. Rambut kriwil kan nggak ada mode-nya. Pasti cuma sembarang potong saja jadi.
Ternyata, dugaan saya salah sama sekali. Rambutnya yang kriwil kribo sudah bertahun-tahun tidak dikeramasin, disisirpun tidak. Jadi tugas pertama adalah menarik-narik rambutnya supaya bisa karuan bentuknya dengan sisir logam besar mirip garpu panjang, yang selama itu menjadi ’sisir’ utamanya. Minta ampun sampah yang keluar dari keriwil rambutnya. Segala macam ada deh. Setelah itu, sang mesin cukur baru beraksi. Tapi entah saya yang nggak bisa menggunakannya atau si mesin cukur yang kuat memotong gumpalan rambut yang hampir menggimbal itu, proses mencukurnya ini jadi lamaaaaa sekali. Hampir dua jam sepertinya baru selesai. Kapok deh nyukur rambut orang Afrika!
Tapi sejak itu saya lalu jadi PeDe kalau diminta nyukur rambut orang lain. Rambut orang Afrika aja bisa gimana cuma rambut orang Indonesia!
Kemarin pagi, saya mencukur rambut Sofia putri kami yang lahir 4 minggu yang lalu. Walau saat aqiqah dulu sebagian rambutnya sudah dipotong, sebagai bagian dari sunnah rasullullah SAW kami memutuskan untuk mencukurnya sekalian. Dua anak kami terdahulu tidak dicukur habis rambutnya, namun yang ketiga ini habis rambutnya dicukur nyaris botak.
Cukur aqiqah tentu saja bukan perlambang penuaan seperti yang terjadi pada saya, tapi melambangkan kasih orang tua pada anaknya. Yaitu dengan merawat sang anak dan juga memberinya nama yang baik. Semoga menjadi awal yang baik untuk sepanjang hidupnya.




3 comments
Comments feed for this article
24 April 2009 pada 12:43 pm
murni
Pernah nyoba dicukur istri dg alat cukur “Babybliss” gak? Tanya mas Y deh lol
24 April 2009 pada 12:45 pm
Dono Widiatmoko
Pernah dulu waktu botak
26 April 2009 pada 6:23 am
budisan68
jika rambut mulai berwara, berarti pertanda mulai meninggalkan dunia hitam