Kemarin sore saat sedang sibuk mencampur kedele rebus dengan ragi dalam rangka pembuatan tempe, Rana anak kedua saya bicara sesuatu yang agak mengagetkan.
“Bapak, I want to live in Indonesia when I am 13″, katanya. “Why?” tanya saja. Bukan karena saya mau tinggal selamanya di sini tapi ngapain juga dia yang menentukan target sendiri.
“If I live here, I will find it difficult to find a husband”. Waaahhhhh!!!!!!????? Anak saya ini baru 8 tahun umurnya kok sudah ngomong ginian nih? “Why did you say that?” tanya saya lagi.
“You know it’s difficult to find a muslim boyfriend to be my husband, and it must be easier to find one in Indonesia” (more or less gitu deh omongannya… tepatnya saya juga sudah lupa).
Samber geledek! Putri kesayangan saya yang kecil imut ini sudah mikir sejauh itu ya. Saya lalu bingung juga mau menjawab bagaimana, tapi sedikit demi sedikit saya menceritakan kepada dia bahwa di sini (Inggris) juga banyak muslim boys, atau lihat saja beberapa teman keluarga kami yang menikah dengan mualaf di negeri bule ini. “Tuh lihat tante Helena, tante Mila, mereka punya suami orang bule muslim yang baik kan?” Memang kedua sahabat kami ini alhamdulillah menikah dengan mualaf bule. Perbincangan sore itu berlanjut cukup panjang sampai waktunya shalat maghrib.
Dalam hati saya bersyukur, anak saya yang belum akil baligh ini sudah berpikiran sejauh itu, tapi di sisi lain gelisah juga apakah sudah tepat anak seumur itu bicara tentang perkawinan dan lain sebagainya. Tapi mau nggak mau hal semacam ini pasti akan muncul juga di perbincangan keluarga jadi ya tinggal pandai-pandainya kita mengolah jawaban dan argumentasi yang baik saja pada mereka.
Rana putri saya ini tidak neko-neko. Saat ini cita-citanya dia ingin jadi musisi. Sewaktu di kelas ngajinya beberapa waktu lalu dia diberi tahu oleh gurunya kalau sebaiknya perempuan tidak memilih profesi sebagai professional entertainer, dia menangis sedih. “I want to perform in front of a lot of people”, katanya. Kami bilang bahwa boleh saja dia jadi pemain musik tapi sebaiknya tidak perlu menjadi musisi yang tampil di panggung menyanyi dan lain sejenisnya. Cita-citanya juga nanti sambil sekolah dia mau kerja part-time di supermarket untuk mendapat tambahan uang sakunya. “I will find a proper work when I was 20″, katanya.
Fakhri, anak saya yang laki-laki lain lagi. Cita-citanya sekarang adalah menjadi Chef, alias juru masak. Dia sebenarnya tidak terlalu senang menonton program masak-memasak Jamie Oliver atau sejenisnya, tapi entah kenapa dia memproklamirkan dirinya ingin jadi chef beberapa waktu lalu. Saat dia dapat Achievement Award beberapa waktu lalu di sekolah, dia juga menyampaikan cita-citanya di hadapan kepala sekolah dan seluruh siswa sekolah lainnya. Saya sih nggak masalah, dia mau jadi apa yang penting kerjaannya baik dan halal. Kita orang tua tinggal menyokong saja dengan baik. Minggu lalu saya mulai ajari Fakhri belajar memotong ayam. Dari ayam seekor utuh dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan masaknya. Nampaknya dia menikmati pelajaran dari saya itu juga.
Bulan lalu Fakhri bilang bahwa dia ingin maju jadi “Student Council”, alias DPR siswa di sekolahnya. Persiapannya juga serius lengkap dengan ‘kampanye’ dan pemilihannya. Dia membuat sebuat sendiri sebuah draft pidato kampanye, yang kemudian disampaikannya di kelas saat pemilihan. Kebetulan kepala sekolahnya juga ikut menghadiri acara itu di kelasnya. Saat pemilihan dia terpilih dengan suara mayoritas di kelasnya, tanpa saingan berat sama sekali. Agak mengherankan juga karena dia terhitung siswa baru (karena kami baru pindah 1,5 tahun lalu ke daerah ini) dan juga dia hanya salah satu segelintir dari siswa asing (non warga Inggris) yang ada di sekolah ini.
Kami tentu saja bangga melihat pencapaian dia, tapi juga was-was tentangnya. Memang nama yang kami beri pada dia adalah “Fakhri”, yang artinya adalah “kebanggaan”, tapi apakah kita selaku orang tua selalu mencari kebanggaan dari putra-putri kita?




5 comments
Comments feed for this article
7 Februari 2009 pada 10:54 pm
passionate170483
huaaa ranaaa… tenang ajaaa, belum saatnya! tante ana aja masih tenang2 aja koook… eh tenang gitu? hihihihi
9 Februari 2009 pada 1:33 pm
Dono Widiatmoko
‘tenang’? nyang beneran An? he..he….
3 Maret 2009 pada 3:55 pm
Montego
First blog I read after wakeup from sleep today!
—————————-
Are you tension? panic?
5 Maret 2009 pada 7:55 am
asti
Rana nyang imut….. asik banget sih nanyanya…. we love you
5 Maret 2009 pada 7:57 am
asti
fakhri…. nanti tante diajarin masakan eropa yach