Sewaktu harus ganti kereta di stasiun Manchester Piccadilly pagi tadi, kebetulan waktu nunggunya cukup lama, sekitar 20 menit. Ini terjadi karena ada beberapa kereta yang jadwalnya dibatalkan entah kenapa.

Dari arah peron kereta api, saya sengaja berbelok jalan menuju ruang tunggu dan tidak langsung menuju peron kereta berikutnya, soalnya masih lama nunggunya. Seorang petugas, melihat saya lalu menanyakan tiket kereta. Saya kira dia curiga bahwa saya tidak membawa tiket kereta atau mau cari gratisannya saja. Tentu saja saya lalu keluarkan tiket langganan kereta saya dan lalu dia periksa dengan telilti. No problem – jalan terus. Istirahatlah saya kemudian di ruang tunggu sambil minum coklat panas di musim dingin ini.

Setelah kereta hampir datang, saya lalu bergerak menuju peron. Eh ternyata ketemu lagi si petugas yang nanya tentang tiket saya sebelumnya. Saya perlihatkan tiket saya lagi, dan dia lalu ingat kalau sayalah yang tadi disetop dia dengan kecurigaan.

Tak dinyana dia lalu minta maaf tentang sikapnya beberapa menit yang lalu. Saya kaget juga sebenarnya, dan karena memang merasa dia tidak salah, ya saya jawab nggak apa-apa, karena itu memang tugasnya dia.

Dalam hati lalu saya bertanya, kenapa dia mesti minta maaf ya? Padahal kan itu tugasnya menanyakan tiket kereta siapapun yang akan memasuki peron. Kalau dia tidak bertanya, malah mungkin dia tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Mmmm….

Apa karena dia merasa malu telah mencurigai saya yang berlebihan karena tampang ‘minoritas’ saya atau gimana ya? Apalagi pagi itu saya memakai Shemagh alias scarf ala palestina yang sering dipakai Yaser Arafat. Apa karena itu dia minta maaf?

Sebenarnya saya sering mengalami hal seperti ini. Urusan tampang dan ‘potongan’ yang sering membuat orang salah kaprah.

Setiap tahun ajaran baru misalnya, saya sering disangka mahasiswa baru dan bukannya orang yang mengajar mereka di kelas. Yang salah sangka bukan hanya mahasiswa, tapi dosen dan staf lain juga.

Tampang saya yang ‘awet muda’ atau ‘awet kecil’ ini sering kadang membuat saya ‘direndahkan’. Bukannya saya ingin ‘dituakan’ atau ‘ditinggikan’ tapi kadang nggak enak juga selalu disangka mahasiswa undergraduate atau karyawan urusan domestik ;)

Kebetulan saya memang sering nggak peduli dengan penampilan. Whatever yang ada di lemari ya saya pakai saja. Urusan beli dll biasanya istri saya yang membelikan. Potong rambut ya terserah si tukang pangkas saja gayanya mau dibuat bagaimana.

Namun demikian, saya sendiri sering salah menilai orang dari penampilannya. Pernah suatu hari saat ketemu teman baru, saya sok akrab sok kenal nanya berapa bulan si kenalan baru ini hamil. Badannya agak gemuk dan pakai baju yang loose. Jadi saya kira hamil. Eh ternyata dia memang begitu badannya, kagak hamil sama sekali… kawin aja belum :D . Saya sama sekali tidak ada niat meledek atau mengolok-oloknya, tapi mungkin dia sih sakit hati ya maaf yaaa….. namanya juga salaaaahhhhh……