The Times, sebuah harian terkemuka di Inggris (09/10/08) mengeluarkan daftar peringkat perguruan tinggi terkemuka di dunia tahun 2008. Seperti mungkin banyak diduga orang, perguruan tinggi dengan nama besar menduduki peringkat-peringkat atas. Harvard University dan Yale University di Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dan kedua. Peringkat ketiga dan keempat diduduki oleh Cambridge University dan University of Oxford di Inggris. Selanjutnya perguruan-perguruan tinggi di benua Amerika Utara, Eropa, dan Australia mendominasi keseluruhan daftar itu.

 

Dari Benua Asia, University of Tokyo di Jepang didampingi University of Kyoto dan University of Hongkong sebagai wakil tertinggi Asia yang menduduki peringkat 19, 25 dan 26 di daftar itu. Dari negara-negara tetangga Indonesia, hanya National University of Singapore (peringkat 30) dan Nanyang Technological University (peringkat 77) yang mampu menembus rangking 100 besar Universitas di dunia. Hanya ada satu universitas lain dari Asean yang mampu duduk di rangking 166 dunia yaitu Chulalongkorn University dari Thailand.

 

 

Mungkin bukan hal yang aneh kalau tidak satu pun perguruan tinggi dari Indonesia yang bisa menembus peringkat 200 besar dunia. Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung yang merupakan universitas terkemuka di Indonesia belumlah dapat menandingi kualitas universitas-universitas dari manca negara.

 

 

Lepas dari hasil itu, marilah kita analisis kriteria apa yang digunakan untuk menentukan peringkat tersebut. Ada beberapa kriteria yang digunakan oleh penyusun peringkat ini. Kriteria paling penting dengan bobot 40% adalah penilaian berupa ‘peer review’ dari 6354 orang akademisi dari seluruh dunia yang mewakili berbagai bidang ilmu dan juga lokasi geografis. Para ahli dari Amerika Utara, Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Latin mendapat alokasi yang proporsional.

 

Kriteria penting berikutnya adalah jumlah kutipan tulisan di jurnal ilmiah internasional per staf akademik dan rasio staf akademik dibanding mahasiswa dengan bobot masing-masing 20%. Sisa pembobotan lainya adalah penilaian dari perusahaan atau institusi perekrut lulusan, serta jumlah mahasiswa dan staf akademik yang berasal dari luar negeri.

 

Menilik kriteria utama yang berupa penilaian dari akademisi di seluruh dunia tentang reputasi universitas lainnya, tidak ada satupun institusi dari Indonesia yang dipandang bahkan dengan sebelah mata oleh mereka. Nama perguruan-perguruan tinggi besar di Indonesia ternyata belum masuk dalam khasanah pemikiran para akademisi dunia.

 

Hal yang juga menarik adalah bahwa ternyata fasilitas gedung yang megah, halaman parkir yang luas, serta jumlah komputer yang tersedia bukanlah kriteria yang patut dijadikan pedoman baiknya mutu sebuah pendidikan tinggi. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa perguruan tinggi dengan gedung yang megah merupakan indikator utama mutu sebuah institusi pendidikan. Persepsi dikalangan kaum akademis sendiri ditambah dengan mutu produk yang dihasilkan (yang diukur dengan jumlah kutipan jurnal internasional dan rasio dosen-mahasiswa) adalah hal yang lebih penting.

 

Lalu bagaimana perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih meningkatkan namanya di mata internasional? Ada dua hal yang merupakan kunci jawaban dalam hal ini.

 

Hal yang sangat jelas perlu peningkatan adalah kualitas pendidikan. Selama ini ditengarai banyak perguruan tinggi yang mendahulukan kuantitas daripada kualitas pendidikan. Hal ini mungkin patut dimaklumi karena banyak perguruan tinggi yang mengedepankan kemampuan mereka untuk survive dulu dengan mencari pemasukan sebanyak-banyaknya dari SPP mahasiswa. Demikian pula dengan beberapa perguruan tinggi negeri yang berubah statusnya menjadi BHMN, dimana mereka dituntut untuk dapat mandiri dalam mengelola keuangannya.

Dengan meningkatkan kualitas pendidikan, lulusan perguruan tinggi pun akan lebih mudah dilirik oleh perusahaan-perusahaan serta institusi-institusi ternama yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan reputasi perguruan tinggi di Indonesia.

 

Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan? Tentu saja faktor pendukung seperti gedung, fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan, dan manajemen pendidikan merupakan hal penting yang harus selalu dicoba ditingkatkan kualitasnya. Namun hal yang paling utama adalah ketersediaan sumber daya manusia berupa staf akademis yang qualified dan berkomitmen. Kemampuan perguruan tinggi untuk menarik dan mempertahankan staf akademis yang berkualitas adalah kuncinya. Pihak perguruan tinggi harus berupaya untuk tidak hanya mampu menyediakan insentif finansial yang memadai namun juga harus mampu menciptakan iklim akademis yang mendukung agar stafnya dapat menghasilkan produk pendidikan dan penelitian yang baik.

 

Kedua diperlukan upaya serius untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset di perguruan tinggi dan diseminasi hasilnya di publikasi internasional. Selama ini, sudah banyak perguruan tinggi di Indonesia yang mendengung-dengungkan pentingya riset pada kehidupan sebuah perguruan tinggi. Hanya sayangnya sebagian besar hal ini hanya tinggal sebatas jargon belaka yang belum banyak buah nyatanya.

 

Persepsi kalangan akademik dunia terhadap perguruan tinggi di Indonesia bisa berubah bila mereka bisa lebih sering membaca produk riset berupa laporan hasil penelitian, review, pandangan, argumentasi, atau kritik ilmiah yang dituliskan pada berbagai jurnal-jurnal ilmiah internasional. Untuk itu, diperlukan upaya dari institusi di Indonesia untuk dapat menggencarkan upaya staf-nya agar dapat menelurkan riset dan mempublikasinya ke jurnal internasional.

 

Tentu saja ini membutuhkan upaya peningkatan kemampuan staf akademis dalam melakukan penelitian secara baik pada bidang-bidang yang strategis dan penting. Disamping itu, hasil penelitian yang brilian tidak akan bernilai apa-apa jika tidak dideseminasi dengan baik melalui tulisan-tulisan ilmiah. Ketidakmampuan menulis utamanya dalam bahasa Inggris menjadi hambatan utama dalam hal ini.

 

Peningkatan upaya riset tentu membutuhkan sumber daya finansial untuk mendukungnya. Perguruan tinggi bisa mencoba bermitra dengan perusahaan serta institusi baik dari dalam maupun luar negeri untuk bekerja sama dalam melakukan penelitian yang hasilnya berguna bagi kedua pihak. Pemerintah juga seyogyanya ikut membantu dengan mengalokasikan lebih banyak dana penelitian yang bisa diperebutkan oleh perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dalam bentuk dana hibah penelitian atau sejenisnya.

 

Hasil-hasil riset yang telah dikemukakan diatas dapat dijadikan amunisi yang kuat sebagai bekal peningkatan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan riset menjadi hal yang saling mendukung dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara umum.

 

Meningkatkan kualitas pendidikan dan riset adalah kunci agar perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih kompetitif di mata internasional. Suatu perjuangan berat yang tidak mudah namun tetap harus dimulai bagaimanapun juga beratnya.