Seorang teman pagi tadi memforward sebuah email ke milis pengajian Manchester. Isinya rekaman suara di cockpit pesawat Adam Air yang jatuh pada tanggal 1 Januari 2007 yang lalu. Kalau mau mendengar silahkan download di sini.
Tapi bagi yang kira-kira tidak kuat mendengarkan langsung, isinya secara garis besar menggambarkan percakapan pilot dan copilot tentang kerusakan instrumen pesawat mereka, dan suara instrumen pesawat ketika pesawat bank (miring) dan menukik, suara deru angin akibat kecepatan pesawat mendekati kecepatan suara (Mach 0.96), dan teriakan-teriakan memuja Allah ketika mereka sadar bahwa upaya menormalisasi keadaan sulit dilakukan, dan diakhiri oleh sunyi sebelum pesawat menyentuh muka air selat Makasar.
Saat itu pesawat Boeing 737-300 Adam Air Flight 574 terbang dari bandara Juanda Surabaya menuju bandara Sam Ratulangi Manado, di pagi hari pertama tahun 2007. Penerbangan semula berjalan lancar sampai mendekati daerah selat Makasar dimana kondisi cuaca tidaklah baik. Berbarengan dengan kondisi cuaca yang tidak baik itu, Pilot dan Copilot merasakan adanya keanehan pada instrumen IRS (Inertial Reference System), sistem yang memberikan informasi tentang posisi, arah dan kecepatan arah pesawat. Setelah beberapa lama mencoba memperbaiki semampunya, kedua awak pesawat sepakat untuk mematikan sistem IRS yang rusak itu. Mungkin tanpa disadari keduanya, saat alat IRS dimatikan, sistem autopilot yang semula ON menjadi OFF. Pesawat lalu sedikit demi sedikit miring ke arah kanan dan hidung pesawat menukik.
Pesawat terus miring sampai lebih dari 100 derajat dan menukik tajam sebanyak 60 derajat dengan moncong dibawah. Kecepatan bertambah-tambah karena ditarik oleh gaya gravitasi sampai mencapai 0,926 mach (1.138 km/jam atau 315 m/detik). Pesawat yang awalnya terbang pada ketinggian 35.000 kaki turun drastis ke 16.000 kaki dalam waktu kurang dari 50 detik.
Saat sadar apa yang terjadi, pilot mencoba melakukan pitch recovery tanpa sempat merubah kemiringan pesawat dulu. Hidung pesawat sempat naik tapi besarnya perubahan daya gravitasi yang dialami pesawat saat menghujam dan kemudian berbelok naik lagi terlalu besar bagi struktur pesawat untuk menahannya. Cockpit Voice Recorder merekam sebuah bunyi keras yang kemungkinan besar adalah bunyi patahnya struktur pesawat, dan diikuti oleh jeritan sebutan asma Allah oleh kedua orang awak pesawat di cockpit. Pada ketinggian 9.000 kaki rekaman suara berhenti.
Dari laporan lengkap Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), diperkirakan pesawat kemudian jatuh lurus menhujam muka selat Makasar yang berkedalaman laut sampai 2 kilometer ini. Laporan lengkap insiden ini dari KNKT dapat dilihat di sini.
Di luar dari aspek teknis tragedi ini, saya terus membayangkan suasana yang dialami oleh pilot dan copilot saat tahu bahwa ada sebuah kesalahan fatal pada penerbangan itu. Waktunya hanya sempit saja. Kurang dari satu menit sejak tahu ada kesalahan pada jalannya penerbangan, mungkin sudah hilanglah kehidupan keduanya, ditambah dengan 4 awak kabin, 85 penumpang dewasa, 7 anak, dan 4 bayi.
Entah apa yang melintas di benak keduanya saat tahu pesawat itu menghujam tajam menuju ke laut lepas. Entah apa yang mereka pikirkan saat tahu pesawat itu tidak mungkin bisa mendarat selamat. Jeritan Allahu Akbar berulang-ulang seakan-akan menggambarkan golakan hati dan pikiran mereka ketika itu. Apa pula yang dipikirkan oleh keluarga keduanya saat mendengar rekaman suara di cockpit ini, di detik-detik akhir usia mereka.
Subhanallah, mungkin rekaman itu akan membuka mata hati kita, supaya lebih siap menghadapi akhir hayat kita. Siapa yang tidak pernah meleng sedikit ketika mengendarai mobil atau motor, mengambil sesuatu dari tas di samping ketika nyetir mobil, atau menengok kebelakang mengecek anak yang sedang membuat hati kita jengkel. Di saat lengah itu mungkin bisa terjadi hal-hal yang membahayakan kita, dan siapa tahu pula nyawa kita bisa hilang karenanya.
Masih beruntung mungkin nasib kedua orang tersebut, yang masih bisa mengingat asma Allah saat keduanya hendak dipanggil Allah. Mungkinkah kita mendapat kesempatan seperti itu?




4 comments
Comments feed for this article
5 Agustus 2008 pada 9:14 am
manggis
Subhanallah….kalau memang begitu kebenarannya. Tapi rilis KNKT mengenai rekaman yg beredar luas itu menyatakan itu ulah para hacker saja lho mas don…
But, terlepas dari itu…memang itu mrp pembelajaran ‘persiapan’ kematian yang paling bagus buat kita2 yg masih hidup…!
5 Agustus 2008 pada 9:16 am
ammadis
Waduuh…aku punya nama laen tuh utk komment di atas…Maaf mas Don….itu juga username ku yg laen…!
28 Agustus 2008 pada 2:02 am
ammadis
Kemana nih…koq hilang lagi…?
2 September 2008 pada 5:32 am
prima
ketemu juga blog nya. Nice post!