SD Ijo. Demikian umumnya nama sekolahku disebut orang. Sumbernya adalah seragam sekolah kami yang baju putih-celana hijau. Kadang-kadang SD kami juga disebut SD Wartawan, karena lokasinya di kompleks yang semula dibangun untuk para pekerja media. Nama aslinya sih cukup panjang: SD Negeri Cempaka Putih Barat 01 Pagi.
Semula gedung SD itu kecil saja, tapi sewaktu aku kelas 2 gedungnya dibongkar dan diganti menjadi gedung bertingkat 2 dalam bentuk hampir seperti lingkaran penuh. Setelah jadi, kompleks gedung sekolah itu lalu digunakan oleh 6 sekolah dasar. Yang masuk pagi SD 01, 011, dan 013. Yang masuk sore ada 3 sekolah juga.
Sekolah ini tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah orangtuaku. Jadi sejak kelas 1 atau 2 saya sudah berjalan sendiri ke sana. Teman-temanku waktu itu sudah banyak yang aku lupa nama-namanya. Saya sebutkan saja yang masih ingat dan kadang masih kontak juga di sini: Rakhmatdi Hatmosrojo (A’ang), Akhmad Diponegoro (Adip), Jurgantono Usman (Tono), Singgih (begeng), Muhammad Arfian, Muhammad Taufik, Iskandar, Bagus Mukti Wibowo (Adi) dan Bagus Mukti Laksono (Abi), Muhammad Irfan, Rozano Rumambi, Wawan, Rahmat, Muhammad Isa Ismail, Daniel, Tanti, Diana, Dewi, Cici, Susi, Safrina Desita (Sita), Liesa Pratiwi (Icha), dll.
Sewaktu kelas 1-3 nggak terlalu banyak memory yang masih nyangkut di kepala. Yang ada adalah ingatan kalau main bola kami menggunakan lahan berdebu samping gedung sekolah. Juga saat sekolah terpaksa pindah sementara ke SD lain di kawasan Jatop saat pembangunan gedung baru. Pulang pergi ke sekolah selalu melewati pinggir kali memandangi tanaman singkong dan sawi yang ditanam orang di pinggir kali. Sekolah sementara ini dulu pernah kebanjiran, dan saat pulang ke rumah saya pernah terperosok masuk ke got dengan air sedalam leher
Walau sudah aktif di gerakan Pramuka Gudep 617 di dekat rumahku, di sekolah saya juga ikutan Pramuka. Regu kami regu Gajah namanya. Saya jadi ketua regu dengan anggota Singgih, Arfian, Irfan, Taufik, A’ang dan Adip kalau nggak salah.
Regu kami ikut camping di sekolah beberapa kali. Suatu kali saya ingat kami kedapatan nomor kapling 23, nomor jelek katanya. Tapi cuek aja malah bisa menang lomba saat itu. Camping ini juga cuma ecek-ecek doang sih, bayangin aja masak camping halaman kecil samping teras sekolah, di luar banyak abang-abang jualan makanan kecil, gorengan, dll.
Lucunya, sebagian teman di kelompok Pramuka itu dan terutama regu kami bisa saya ajak untuk ikut aktif di gerakan pramuka gugus lain yang saya ikuti, gudep 617 Dharma Cempaka. Jadi Arfian, Taufik, Irfan, Adi-Abi bisa saya ‘bajak’ aktif di gudep pramuka Pertamina itu. Sedangkan Adip dan A’ang sudah sejak lama ikut Pramuka di Dharma Cempaka.
Guru-guru yang masih saya ingat adalah bu Nani, bu Amir, pak Asep (?), dan pak Yani. Bu Nani guru kelas 4, bu Amir guru kelas 5, dan kelas 6 pak Yani yang kemudian digantikan oleh pak Asep.
Sewaktu kelas 5 dan 6 saya ikut les tambahan, dengan bu Amir, pak Asep dan pak Yani. Juga ikut les agama dengan pak Mahmud, sedangkan belajar mengaji Qur’an setiap minggu pagi dengan mbak Wati yang datang ke rumah.
Pak Yani, setiap hari Sabtu membersihkan kelas. Sambil membersihkan kelas kami selalu menyalakan radio tape compo keras-keras biar semangat. Juga Pak Yani meminta murid-murid bergantian membawa makanan kecil sebagai penganan saat membersihkan kelas itu. Makanan yang paling beliau sukai adalah Gandasturi, sejenis gorengan dengan isi Kacang Ijo manis. Setiap sabtu kami digilir secara berkelompok membeli makanan gorengan itu untuk disantap bersama.
Pak Asep guru terakhirku di kelas 6. Beliau tinggal di Pondok bambu, tidak terlalu jauh dari rumah paklek-ku di sana. Suatu hari kami pernah pergi camping bersepeda dari Cempaka Putih ke sebuah lahan dekat sekolah yang belum jadi di kawasan dekat rumah pak Asep. Senang juga bisa bersepeda dan camping kayak cerita2 lima sekawan di Inggris.
Saat kelas 6, saya menjadi juru bicara tim lomba Cerdas Cermat SD-ku yang ditayangkan langsung tiap hari Jumat Sore di stasiun televisi satu-satunya saat itu: TVRI. Anggota timnya adalah Diana dan Tono. Tim ‘bayangan’nya adalah Adip, Rahmat, dan….. saya lupa. Setelah melewati beberapa kali seleksi dan latihan di sekolah, terpilih saya jadi juru bicara. Saya sendiri waktu itu heran kenapa sampai terpilih karena Adip dan Rahmat adalah teman-teman yang lebih pintar. Tono, on the other hand, memang pinter banget orangnya
Saat berangkat, kami diantar oleh bu Nani dengan mobilnya. Turut ikut juga pak Asep dan tim bayangan kami sebagai penonton. Sampai di sana, studionya ternyata dingiiinnnn sekali, jadi di bawah meja kami sibuk menggosok-gosok tangan ke paha karena kedinginan bercelana pendek. Lombanya berjalan baik, dan tim kami menang quite comfortably, walaupun beberapa kali diingatkan oleh pembawa acaranya untuk tidak terlalu banyak ngobrol dan ngomong sendiri diantara kami.
Pulangnya, sewaktu berjalan kaki ke rumah dari sekolah, beberapa anak kecil (walau waktu itu saya juga masih kecil) mengenali di pinggir jalan. “Yang tadi di TV yaaa…..”, kata mereka. Bangga dikit deh…. he..he…
Selain sebuah piala kecil, hadiah lomba cerdas cermat ini adalah tiket berkunjung ke Monas dan alat-alat olahraga (raket dan net badminton, bola volley dan net volley). Kami boleh membawa raket badmintonnya pulang sedangkan hadiah-hadiah lain dijadikan inventaris sekolah. Sedangkan tiket kunjungan ke Monasnya kami gunakan bersama diantar oleh Bu Nani dan suaminya ke sana. Setelah turun dari puncak gedung Monas, kami diajak makan soto di warung-warung tenda di seputar Monas….. yam….yam…..
Selepas SD, saya tidak banyak berhubungan dengan teman-teman karena aku memilih SMP yang lokasinya agak jauh. Hanya A’ang saja yang mengambil sekolah yang sama. Tapi tidak dinyana, hubungan dengan beberapa kawan malah timbul lagi sekarang – dengan bantuan internet tentunya. Walau ada yang sudah meninggal (Susi – Daniel), yang lain masih bisa dirunut. Tono kerja di perusahaan minyak di Oman dan Adip mengajar di Jakarta, dua-duanya sudah PhD. Tanti nggak sengaja gatuk karena ketemu adiknya (Witri) di Harlow. Sita ketemu di Friendster. Icha di milis alumni Boedoet. Senangnya bisa bersilaturahmi dengan teman-teman masa lalu.




3 comments
Comments feed for this article
24 Juni 2008 pada 12:03 pm
rizani
as wr wb
subhanallah. saya tadinya iseng nyari artikel ttg sd cpb 01 eh dapet.
pas dibaca… jujur aja seneeeng banget membaca tulisanini.
Jadi ingat waktu kecil. ngungsi ke sd jatop…
kayaknya saya 2 tahun di atas kamu.
oh ya guru agama sd namanya pak mahmud. mudah2an beliau masih sehat. begitu pula dengan pak yani, pak wiganda, bu as, bu amir, pak yoyok. subhanallah. begitu besar jasa-jasa beliau semua pada kita semua.
was wr wb
24 Juni 2008 pada 12:32 pm
Dono Widiatmoko
wa’alaykum salam wr wb,
makasih mas inputnya… saya tambahkan ke tulisan yang banyak bolongnya itu….
wassalamu’alaykum wr wb
Dono
2 November 2008 pada 5:17 pm
sita
ya ampuuun.. donooo… banyak banget yg lo masih inget yah…???
gw jadi nostalgia mbaca inii.. kemping di skolah, seru bangeeeet..
btw, gue baru tau si daniel dah meninggal don..