Kemarin siang selepas shalat Jumat saya “kabur” dari kantor. Tujuannya mau menengok pameran BodyWorlds-nya Gunther von Hagens, si dokter ahli anatomi ‘gila’ dari Jerman.

Beberapa tahun lalu saya melihat seri program ‘Autopsy’ di TV Channel 4 (dulu biasanya disiarkan menjelang tengah malam), yang menggambarkan si Gunther ini mengautopsi jenasah manusia secara ‘live’ di studio di hadapan penonton umum. Lusi amat sangat anti nonton acara ini (walau katanya dulu dia cita-cita jadi dokter), sedangkan saya (yang nggak pernah pengen jadi dokter) malah senang sekali menontonnya.

Kebetulan di Manchester Museum of Science of Industry (MOSI) sejak beberapa bulan terakhir diadakan pameran ‘BodyWorlds‘, yang menyuguhkan koleksi hasil “plastination” (proses pengawetan jenasah dan organ tubuh manusia menggunakan bahan sejenis polymer/plastik) temuan Gunther von Hagens ini. Tadinya saya mau nonton pameran ini mengajak anak-anak saya, tapi karena waktu pameran sudah mau habis akhir bulan ini dan saya mau ‘konsentrasi’ nontonnya sendirian, jadilah saya kabur saja pas jam kerja jumat kemarin.

Setelah naik kereta 6 menit dari kantor ke stasiun kereta Deansgate, ditambah jalan kaki beberapa menit, sampailah saya di MOSI. Setelah antri beli tiket yang cukup mahal harganya (£11.5), barulah saya masuk ke lokasi pameran. Benar pilihan saya untuk nonton pameran ini di jam kerja karena yang nonton tidak begitu banyak dan tidak banyak pula anak kecil, jadi saya bisa serius mengamati displaynya satu persatu.

Mulai dari pengantar yang ada di dekat pintu masuk, semua penjelasan tentang pameran ini, perkembangan ilmu anatomi, dan teknik preservasi jenasah dipajang di poster -poster besar di dinding ruangan. Pajangannya secara garis besar dibagi menjadi pajangan yang ada di dalam display kaca untuk spesimen kecil (tulang, organ dalam, jaringan syaraf, dll), pajangan yang dibuka begitu saja di ruangan walau hanya boleh dilihat dan tidak boleh disentuh (rangka, jaringan otot, display seluruh tubuh dll). Semuanya dipreservasi dengan menggunakan teknik plastinasi (plastination).

Saya lalu pelan-pelan mengamati dan mendalami semua display yang ada. Di ruang paling depan diperlihatkan rangka manusia dan tulang-tulang yang ada. Dari tempurung kepala manusia yang dipotong dari berbagai arah, tulang belakang, tulang panggul sampai tulang terkecil yang ada di manusia – tulang ossicles di jaringan telinga.

Beralih ke bagian lain diperlihatkan jaringan ratusan otot yang menguatkan dan menggerakkan jaringan tulang. Lalu jaringan darah yang memberi makan semua organ. Juga jaringan syaraf yang merasa dan mengirimkan informasi ke pusat pengolahan. Tidak ketinggalan semua jaringan organ dalam manusia. Otak, mata, hidung, tenggorokan, paru-paru, jantung, lambung, diaphragma, usus, hati, ginjal, pankreas, kandung kemih, sampai alat kelamin pria dan wanita semua dijelaskan dengan jelas dan detil.

Display organ-organ ini dilengkapi juga dengan berbagai jenis hasil diseksi jaringan dari berbagai sudut. Ada spesimen yang dipisahkan antara tulang dengan jaringan ototnya, ada yang dipisah antara jaringan darah dengan jaringan syaraf, ada yang diwarnai sesuai dengan fungsinya. Cara diseksi spesimennya juga dilakukan dengan berbagai teknik: ada yang vertikal, horizontal, dan juga miring. Satu spesimen dipotong horisontal seluruh tubuhnya dan lalu tubuhnya dipajang secara horizontal tergantung di tali-tali plastik. Jadi dari ujung kepala sampai kaki tubuh jenasah dipotong melintang kira-kira setebal 2 cm per bagiannya. Spesimen lain dipotong menjadi 3 bagian: – kanan, bagian dalam tubuh, dan kiri, semuanya masih bergabung di bagian kaki.

Sebagian besar spesimen yang utuh dipajang dengan berbagai posisi – yang oleh van Hugens disebut sebagai ‘art’. Ada spesimen yang dipajang sedang bermain badminton, berlari, berenang, melompat, bermain bridge, dll. Saya pribadi tidak begitu setuju sebenarnya dengan display model ini. Seharusnya pemajangan spesimen jenasah hanya dilakukan untuk keperluan pendidikan, dan tidak atas nama seni atau komersial.

Di luar itu, secara keseluruhan pameran ini menurut saya sangat positif. Kita jadi memahami betapa sempurnanya tubuh kita yang hanya merupakan sebagian kecil dari ciptaan Allah SWT. Subhanallah, sungguh ciptaan dari yang Maha Sempurna.