Manusia diciptakan secara sempurna oleh yang Maha Pencipta. Termasuk di dalamnya dengan kemampuannya bereproduksi. Sel telur yang jumlahnya terbatas di indung telur wanita dikeluarkan secara rutin setiap bulan sekali sejak saat puber pertama sampai beberapa saat setelah menopause. Sel sperma yang diproduksi di scrotum berbelah menjadi jutaan secara terus menerus tanpa henti sampai hari tua.

Semua ini dilengkapi juga dengan gairah yang ada secara naluriah. Tanpa ada yang mengajaripun, manusia bisa tahu cara bereproduksi. Tanpa ada yang menyuruh, sel sperma mampu mencari, mengejar dan menembus sel telur wanita.

Semuanya dirancang Allah untuk kelangsungan masa depan manusia. Wanita ditakdirkan dengan kecenderungan pada kelemahlembutan, kecantikan, dan empati. Pria diberi kekuatan dan ketegasan lebih dibanding wanita. Kecantikan wanita menjadi daya tarik bagi pria, dan kelebihan pria menjadi dorongan bagi wanita untuk mencari pasangannya.

Hasil reproduksi manusia menjadi bentuk keturunan kita yang juga secara alamiah ditumbuhkan dan dipersiapkan di rahim para ibu. Setelah lahir, cairan yang keluar dari payudara ibu menjadi sumber alami kehidupan bagi bayinya bahkan sampai beberapa bulan kedepan.

Anak yang bertumbuh besar akan belajar utamanya dari orang tua dan lingkungannya. Belajar dari usapan, belaian, bisikan dan ciuman. Belajar dengan meniru apa yang dilakukan orang tua,  dan lingkungan sekitarnya. Sampai suatu saat nanti sang anak siap melanjutkan tali regenerasi reproduksi manusia sampai akhir jaman.

Keturunan yang kita dapatkan adalah karunia bagi orang tua, cahaya dalam kehidupan mereka. Karunia yang sekaligus juga menjadi tanggung jawab luar biasa. Suami dan Istri bisa bercerai dan putus hubungan sama sekali. Lain halnya antara hubungan orang tua dengan anak. Sang anak tetap membawa paling tidak gen orang tuanya sampai kapanpun. Adanya nyawa sang anak tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kedua orangtuanya.

Putra-putri kita menjadi amanah bagi orangtuanya, amanah untuk memberi makanan yang baik, membesarkan, mendidik, membimbing sampai juga nanti menikahkannya. Semuanya ujian Allah bagi para orang tua.

Namun ada kalanya sebagian dari kita tidak dimudahkan mendapat keturunan. Mulai dari belum mendapat pasangan, kendala penyakit, sampai infertilitas. Semuanya cobaan yang Maha Kuasa.

Saya anak terkecil dari 7 bersaudara. Jadi kami dari keturunan keluarga yang cukup besar. Salah seorang kakak saya baru dikaruniai seorang putra setelah hampir 10 tahun menikah. Satu lagi kakak saya bahkan belum juga dikaruniai keturunan sampai saat ini, 15 tahun usia pernikahannya. Segala cara sudah ditempuh, tapi tidak juga kunjung berhasil.

Mungkin ada rahasia Allah pada mereka. Setiap manusia akan mendapat ujian, dengan segala bentuknya. Ujian berupa tidak atau belum adanya keturunan juga salah satunya. Hanya ujian kecil diantara berbagai ujian besar lainnya. 

Maha Besar Allah dengan segala karunianya