Saat jaman SMA saat sedang jadi penumpang mobil yang disetiri si Adip sahabat kental saya, Adip melanggar lampu lalu lintas di kawasan Gambir. Polisi yang sudah biasa mangkal selepas lampu merah itu sigap menunjuk mobil kami untuk berhenti. Setelah diberitahu kesalahannya, waktu itu kami seperti banyak orang lain minta “damai” saja karena malas ngurus tilang ini itu.
Mendengar permintaan pak Polisi itu wajahnya berubah jadi masam. “Kamu kira saya apa mau nyogok saya!” katanya. Tertegun saya mendengarnya. Ternyata tidak semua polisi bisa disogok pikir saya. Mendengar itu kamipun pasrah. Biarin deh kita susah mengurus sidang tilang, ini petugas juga perlu dihormati.
Setelah menunggu beberapa saat, tidak dinyana si petugas berkata “Kalau nggak 20 ribu saya nggak mau!” Seketika itu rasa hormat yang tinggi pada pak polisi itu langsung musnah…..
Pengalaman lain dengan polisi ini kadang lucu juga. Beberapa kali saya distop polisi karena kesalahan kecil. Suatu kali distop di depan Arion plaza di Rawamangun, karena melanggar garis jalur bus katanya. Saya diminta berhenti di jalur bus itu. Saya bertanya heran, “Katanya saya salahnya melanggar jalur bus, terus kenapa saya malah disuruh berhenti di sini pak? Bukannya lebih melanggar lagi nih berhenti di sini?” Pak polisi itu kayaknya jadi malu dan bertanya, “Memangnya mau kemana sih”? Saya jawab bahwa saya mau ngajar di depok. Eh, pak polisi itu malah langsung mempersilahkan saya jalan.
Hal serupa juga saya alami di kawasan Tomang, karena memotong garis pembatas jalan. Seorang polisi bermotor menyetop dan mendatangi saya. Karena gerah saya minum air mineral dalam gelas dulu, dan begitu dia datang saya tawari juga pak polisi itu untuk minum. Sama seperti cerita sebelumnya, dia tanya saya mau kemana. Saya jawab mau ngajar kelas sore di salah satu universitas swasta di dekat situ. Nggak macam-macam saya segera disuruh melaju lagi. Pokoknya aman deh kalau ngaku dosen……he..he….
Yang paling lucu waktu saya mengantar orangtua kondangan. Di bundaran HI saya diberhentikan karena dianggap melanggar lampu. Ya sudah saya keluar mendekati mobil polisi. Kali ini si polisi yang menawarkan air minumnya pada saya. Saya tolak malu dong. Melihat nama di SIM saya berbau Jawa, sang Polisi mengajak saya berbahasa Jawa, ya saya jabanin saja semampunya. Terus si Polisi bilang “Wis kono njaluk selawe ewu karo boss mu”. Saya kaget, terhina, tapi sekaligus senang. Terhina karena saya dianggap sopir yang sedang menemani majikan di mobil, tapi senang karena cuma diminta 25 ribu! Ini saya nggak minta damai lho…. si polisi yang minta langsung. Begitu masuk ke dalam mobil dan jalan lagi, saya kasih tahu apa yang terjadi pada bapak dan beliau ketawa sambil memberi tahu kalau biasanya sopir dia ngasih minimum 50 ribu kalau ada urusan ‘damai’ dengan polisi…..
Sekarang beralih dari soal ditangkap Polisi jalan raya. Sewaktu kerja di UI dulu, saya pernah diminta salah seorang senior ngurusin proyek pembuatan buku di salah satu departemen. Proyek ini bernilai 50 juta rupiah, dan saya diminta menemui orang yang bertanggung jawab dalam penentuan proyek itu. Kebetulan, si pimpro ini mantan mahasiswa kami jadi agak kenal-kenal dikit deh. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kami tiba pada pucuk permasalahan.
“Begini Dik (dia memanggil dik karena saya memang jauh lebih muda), karena kami perlu koordinasi dan lain-lain, uang yang bisa dialokasikan ke tim kalian 15 juta”, demikian katanya santai. Hah! Saya terkejut. Masak nilai proyeknya 50 juta tapi yang bisa dicairkan cuma 15 juta! Artinya disunat 70 persen dong! Saya kemudian tanya alasannya dia menjawab macam-macam. Pokoknya, kalau kami mau mengerjakan, segitu duitnya. Titik.
Dalam perjalanan pulang ke kampus, saya teringat pada ucapan Prof. Soemitro Joyohadikusumo yang mengatakan bahwa tingkat inefisiensi (baca: korupsi) di Indonesia mencapai 30%. Lha kenyataan lapangan menunjukkan jauh dari itu Prof!
Lalu saya melapor pada kepala Jurusan, dan beliau juga sama terkejutnya dengan saya. “Itu mah keterlaluan Don! Dah jangan mau” demikian ‘petunjuk’nya. Jadilah saya melupakan proyek itu. Lucunya beberapa waktu setelah itu, saya dengar proyek ini ternyata dikerjakan oleh salah satu kolega saya sendiri….hiii…hii…… mau ya dia…..




No comments yet
Pengumpan komentar untuk artikel ini