Siapa yang belum pernah berurusan dengan copet? Kayaknya hampir semuanya sudah ya, kecuali yang nggak pernah naik kendaraan umum atau dari tampangnya memang nggak laku untuk didekatin para copet ya….. he..he…
Saat setiap hari menggunakan kendaraann umum dulu, sangat sering saya melihat tingkah laku para pencopet. Mulai dari yang halus sampai yang sangar. Kelihatan sih naga-naganya jadi saya kadang bisa mengingatkan teman dan orang2 sekeliling akan adanya para pencopet itu.
Pernah ada yang coba menghadang saya, tapi saya pelototin terus dia nggak berani. Pernah juga ada yang nggerayangin tas saya, terus tangannya segera saya tepis tanda protes. Alhasil saya belum pernah kehilangan barang berharga akibat pencopetan.
Pernah juga ada pencopet yang berkeliaran di kampus. Tapi dia mengutil dari tas-tas yang ditinggal pemiliknya di perpustakaan atau mushala. Pernah ada pengutil laki-laki yang menyaru pakai jilbab dan mengambil dompet dari tas perempuan di mushala putri. Setelah dikejar dia ganti baju di toilet laki-laki dan keluar dengan pakaian laki-laki.
Saya pribadi pernah menangkap tangan seorang pengutil yang mencoba mengambil kamera yang ada di tas saya di perpustakaan kampus. Awalnya seorang teman memberi tahu kalau ada seseorang yang membuka tas saya di tempat penyimpanan. Setelah saya amati, eh ternyata memang benar. Dengan santainya, saya yang berbadan kecil ini menangkap tangan si pengutil dan membawanya masuk ke bagian administrasi perpustakaan dimana banyak staf perpustakaan yang ada di sana. Entah kenapa dia diam saja, dan saya juga kok berani banget ya…. padahal badannya gede lho…he..he… Alhasil kamera saya nggak jadi hilang dan si calon pengutil diserahkan ke kantor polisi.
Jaman SMP, saya malah punya pengalaman seru dengan pencopet. Saat baru duduk di bangku belakang bus menuju rumah, saya sadar kalau di sekeliling saya duduk beberapa laki-laki yang berprofesi sebai copet. Mereka sedang membuka barang utilannya. Ternyata yang baru jadi korban adalah seorang siswa SMA yang baru saja turun. Barang yang dicopet ternyata tidak banyak yang terlalu berharga, hanya dompet dan kotak pinsil yang berisi alat tulis saja. Saya tahu sih tapi ngeper banget mau ngapa-ngapain. Alhasil, malah kemudian salah seorang pencopet itu menyodorkan kotak pinsil berikut seluruh isinya ke saya. “Nih buat kamu. Mau nggak?” katanya. Saya gemetar sambil berkata lirih menolaknya, “Nggak usah bang, sudah punya”. Si penyodor tadi tersenyum gorilla sambil berkata “Ya udah”, dan kemudian melemparkan kotak pinsil itu ke luar bus. Wuih…..
Tapi jangan sangka di negara maju kayak Inggris nggak ada copet. Di tempat-tempat umum di London banyak tulisan yang mengingatkan terutama pada turis untuk hati-hati pada copet yang berkeliaran. Katanya sih banyakan kaum pendatang dari eropa timur yang punya profesi jadi pencopet di sana, termasuk diantaranya anak-anak yang di’salahgunakan’ untuk mencopet. Khusus pencopet anak ini sudah lama ada ceritanya di London yang bahkan dijadikan film dan opera musical ‘Oliver’ di West End theatre.
Demikian juga kota Makkah, tanah suci umat Islam. Di area masjidil Haram saja, ada banyak sekali kasus kehilangan dompet, uang, dan barang berharga lainnya. Padahal itu di depan Ka’bah, dan kalau tertangkap tangan hukumannya sangat keras lho. Lucunya, satu-satunya pengalaman saya kehilangan dompet karena dicopet adalah saat tawaf mengelilingi ka’bah. Copet-copet ganas di Jakarta ternyata kalah sama copet di Mekah!




1 comment
Comments feed for this article
12 Mei 2008 pada 12:09 pm
hernowo
i want to see my earth