Hari ini saya membantu direktur unit memilih beberapa pelamar untuk di’shortlist’ sebagai calon karyawan yang akan diinterview untuk posisi sebagai Researcher. Pekerjaan yang ditawarkan adalah mengerjakan research tentang efektifitas Screening pada penemuan dini penyakit Jantung. Proyek ini lumayan besar, yang akan dikerjakan dalam jangka 3 tahun.

Dari 9 pelamar yang masuk, hanya satu pelamar yang berwarganegara Inggris. Satu orang warga Uni Eropa dan lainnya adalah ‘orang asing’ yang entah sedang tinggal atau bekerja di Inggris, dan bahkan beberapa pelamar internasional.

Dari sembilan orang ini, hanya dua yang kami putuskan untuk diinterview. Sebenarnya ada satu orang pelamar (dari Mesir nih!) yang sangat qualified tapi menurut kami kurang punya pengalaman dan kemampuan untuk melakukan proyek ini.

Ternyata susah mengambil keputusan untuk memilih. Ada rasa berat juga untuk memutuskan tidak melanjutkan proses aplikasi pekerjaan seseorang. Seseorang mengajukan lamaran pekerjaan kan pasti ada alasannya di belakangnya. Menghidupi keluarga? Impian mencapai hari depan yang lebih baik? Apalagi kalau pelamar dari Negara ‘berkembang’, mendapat pekerjaan di negara maju mungkin impian terbesar mereka.

Saya lalu jadi ingat pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali mulai kerja. Waktu itu hanya beberapa hari setelah saya ‘diterima’ kerja (saya tulis pakai tanda kutip karena saya sendiri dapat pekerjaan tersebut tanpa proses melamar, interview, dll – KKN banget yach….).

Waktu itu saya tiba-tiba diminta membantu proses penerimaan calon staf di kantor kami. Padahal saya sendiri baru saja ‘diterima’ kerja selama beberapa hari. ‘Ngantor’ belum pernah (fisik kantornya belum ada), rapat belum pernah.

Sabtu itu saya datang, pakai celana jeans dan baju kemeja (untungnya!). Saat itu dibuka 4 posisi kerja di kantor kami, ada sekitar 30 calon yang diundang mengikuti proses seleksi. Seleksi dimulai dengan tes kemampuan praktis (komputer dll). Pagi itu juga hasilnya keluar. Hanya sekitar 15 orang yang diminta melanjutkan interview di siang harinya. Sisanya boleh balik kanan dan pulang.

Keduapuluh ini kemudian langsung diinterview oleh kami. Kami berempat (Bos, dua staf lainnya, dan saya ) masing-masing menginterview sekitar 4 orang di tempat yang berbeda-beda.

Dari 4 orang yang saya wawancarai, satu orang cukup ‘berbobot’ dan qualified. Cuma dia minta gaji yang agak ketinggian menurut saya. Satu orang lagi sangat desperate-nya ingin kerja malah hanya ingin dibayar 125 ribu per bulan!!!! Walau saat itu masih beberapa tahun sebelum Krisis Moneter (Krismon) menurut saya jumlah itu kecil sekali – tidak akan cukup untuk kebutuhan hidup dan tidak sesuai dengan tanggung jawabnya kelak. Ketika saya tanya apa dengan uang segitu bakal cukup untuk kehidupan, dia menjawab bahwa dia bisa tinggal menumpang dengan kakak, jalan kaki ke kantor, dll.  

Eh perlu diceritakan sedikit, saat mewawancarai mereka itu, saya malah belum tahu jumlah gaji saya sendiri! Keterlaluan yach….

Setelah selesai interview, kami rapat kecil untuk memutuskan siapa yang bisa maju ke final interview. . Dari 15-an orang itu, dipilih 8 orang. Uniknya, final interview ini dibuat seperti interview ‘keroyokan’, semua kandidat hadir di ruangan yang sama, dan ditanya oleh kami secara bersama-sama pula.

Hasilnya, terpilih 4 orang yang kami terima. Tapi hanya 3 yang kemudian benar-benar bergabung dengan kami. Tidak ada satupun orang yang saya wawancarai sebelumnya yang direkrut. Dari 3 ini, satu orang tidak ‘berumur panjang’ di kantor kami. Dia mengundurkan diri beberapa bulan saja setelah mulai kerja. Terlalu sulit mungkin bagi dia. Yang ‘tahan banting’ ada satu, yang sampai saat ini masih bekerja di institusi yang sama walau lain unit.

Pengalaman satu lagi saat saya kerja di sebuah perusahaan konsultan. Saya diminta mewawancarai seorang calon, yang sebelumnya kerja di sebuah bank di Phillipina. Sang calon ini tinggi orangnya, perempuan yang masih muda. Bahasa Inggrisnya baik sekali, demikian juga bahasa Tagalognya. Bahasa Indonesianya payah banget. Yang bikin saya kaget, ternyata dia orang Indonesia! Ternyata orangtuanya adalah orang Indonesia yang sudah lama kerja di Phillipina.

Sang calon ini cukup smart dan qualified. Tapi menurut penilaian saya waktu itu belumlah cukup mampu untuk menangani pekerjaan-pekerjaan di kantor kami. Jadi di akhir wawancara saya melaporkan pada boss bahwa kemungkinan dia tidak cocok untuk kerja di sana. Tapi nampaknya si boss punya pendapat lain dan tetap mempekerjakan dia.

Akhirnya dia kerja di team kami, dan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa penilaian saya kepada dia dulu ternyata salah. Dia menjadi seorang staf yang andal dan sampai sekarang masih kerja di bidang yang sama walaupun saya sudah lama cabut dari bidang itu….he..he….