Hari Minggu terakhir di tahun 2007, kami sekeluarga diundang Mohammad, dokter asal Iran yang sedang studi di kampus saya tentang Pemerataan Kesehatan di Iran. Kebetulan saya diminta membantu menjadi co-supervisornya di kampus. Rumahnya terletak persis di seberang gedung tempat saya kerja.

Dengan ramah Mohammad dan istrinya menyambut kami. Dua putrinya yang cantik, Raihana dan Sarah, juga ikut bercanda dengan kami di ruang tamu. Tidak lama chit-chat, hidangan makan siang pun dikeluarkan.

Ada dua jenis nasi terhidang di meja. Nasi putih dan nasi campur kismis merah. Selain itu ada juga ayam bakar dan sayur bayam daging ala Iran. Ditambah juga salad buah dengan bumbu minyak zaitun dan lemon. Di ujung meja ada sepinggan nasi yang agak gosong (kerak nasi) alias intip dalam bahasa Jawa.

Mulailah kami mengambing porsi makan kami secukupnya. Semua kami coba tapi tentu saja si nasi gosong alias kerak nasi tidak kami senggol sama sekali. Setelah itu mulailah kami lahap nasinya dengan dengan nikmat. Masakannya cocok dengan selera kami. Enak sekali.

Sedang asik makan, tiba-tiba Mohammad menyodorkan pinggan yang berisi kerak nasi tadi. Saya tentu saja agak kaget. Lha, masak kerak nasi disodorkan? Mohammad menjelaskan dengan santun, “This is a delicacy in Iranian cuisine. People in Iran like this kind of rice“, demikian jelasnya. Jadilah saya mencoba menyembunyikan rasa kaget saya dan mengambil sebagian nasi kerak itu.

Sambil makan ingatan saya melayang pada almarhumah Ibu. Dulu beliau selalu mengambil nasi kerak dan nasi sisa lain untuk dimakan dengan garam. Ya dimakan saja seperti itu. Dibilang delicacy ya bukan, tapi beliau merasa sayang kalau ada nasi terbuang percuma. Namun seringkali nasi kerak itu terlampau banyak dan akhirnya sering sengaja dikeringkan di atap rumah, dengan niat setelah kering nanti akan digoreng menjadi semacam rengginang. Tapi kenyataannya, jarang sekali kerak kering tadi jadi digoreng. Lebih sering menjadi santapan burung puter dan burung gereja yang mampir di atap rumah kami.

Bicara soal makanan ini, dulu kakek saya yang sudah renta tinggal bersama kami di rumah. Setiap hari beliau duduk di halaman menghabiskan waktu. Suatu ketika, beliau melihat seekor belalang yang cukup besar tapi ya tidak besar-besar amat. Mungkin sekitar 10 cm panjangnya. Dengan hati-hati ditangkapnya sang belalang dan ditaruh di genggamannya.

Melihat saya datang mendekat, beliau memanggil. Permintaannya kemudian membuat saya kaget. Dimintanya saya memasak belalang itu! Wah, gimana caranya ya? Saya waktu itu memang aktif di gerakan Pramuka yang diajarkan cara memasak dengan bahan baku seadanya. Tapi gimana caranya memasak belalang?

Setelah kejadian itu, saya bertanya pada Ibu tentang hal ini. Beliau berkata bahwa karena daerah tempat kakek tinggal adalah daerah tandus dan minus yang kurang bahan pangan. Segala jenis hewan dan tanaman yang bisa hidup dicoba untuk dimanfaatkan. Termasuk diantaranya belalang, laron, dll. Jadilah saya kemudian belajar menghargai betapa kesulitan memaksa manusia untuk beradaptasi pada lingkungannya.

Lain lagi kalau kita makan pecel lele di pinggir jalan Jakarta. Saya ingat sewaktu kuliah dulu pernah pesan pecel lele di pinggir jalan Margonda di Depok. Lelenya besar dan mantab. Masih hidup pula ketika mau dimasak. Si penjual sekaligus koki mengambilnya dari ember plastik yang ditutup daun, dengan si Lele masih memberontak hebat kesana-kemari. Si Lele kemudian dilontarkan di samping kedai, di bahu jalan yang berdebu tebal. Kemudian dengan pentungan batu yang ada pinggir jalan, diketuklah kepala si Lele dengan kuat hingga langsung mati. Kemudian dimasukkan ke dalam mangkok berisi bumbu dan kemudian langsung masuk penggorengan dengan minyak panas! Sedap!

Salah satu favorit makanan saya di Jakarta adalah burung goreng. Langganan saya adalah sebuah kedai kaki lima di kawasan Prumpung, Jatinegara. Perlu diketahui juga kalau di sekitar daerah ini cukup terkenal dengan warung remang-remangnya yang sudah menjadi rahasia umum menyediakan layanan esek-esek selain dari minuman teh botol atau kopi pahit.

Penjualnya ada dua orang. Bosnya berpostur agak gemuk dan selalu mengenakan kopiah di kepalanya. Negosiasi harga selalu dilakukan dengan si bos. Satu ekor burung sawah biasanya dihargai 15-25 ribu rupiah. Setelah harga disepakati, sang asisten kemudian memotong-motong dan merendamnya dalam larutan bumbu sebentar. Sang asisten ini berpostur kurus dengan sebuah mata yang agak cacat. Agak menyeramkan tampangnya, apalagi kalau memegang pisau besar pemotong daging burung itu. Penggorengan dilakukan di sebuah wajan dengan minyak yang biasanya sudah berwarna agak kelam karena jarang diganti. Tapi hasilnya…. bikin ketagihan…… mungkin karena bumbu dan minyak gorengnya sudah bercampur ampas solar dari truk yang banyak seliweran di jalan itu.

Lain cerita saat saya ikut KKN di kawasan Pandeglang, Banten (Jawa Barat ketika itu). Pemuda-pemuda desa punya kebiasaan untuk begadang sambil masak nasi liwet yang luar biasa sedapnya. Biasanya kami mahasiswa KKN ikut nongkrong. Beras diliwet langsung di panci, dan diatasnya ditaruh tomat, cabai, terasi, dan bawang yang dibungkus daun pisang. Sebelum nasi tanak, tomat, cabai, terasi, dan bawang tadi diulek jadi sambal. Lauknya ikan asin goreng atau kadang juga ikan sawah yang diambil langsung malam-malam dari sawah di samping lapangan kampung. Untuk lalapnya diambil setengah bongkol kol atau kadang juga jantung pisang. Semua bahan-bahan biasanya diambil dari warung di tengah kampung, kecuali si ikan sawah (hasil ngaduk sawah langsung!) dan jantung pisang (hasil memarang pohon pisang terdekat).

Nasi yang sudah tanak disajikan di daun pisang panjang digelar di pinggir jalan. Di atasnya disebarkan ikan asin, ikan bakar, daun kol dan jantung pisang tadi. Sambal juga dicampakkan di sekeliling nasi. Nasi mengepul dengan aroma sambal terasi yang kuat. Semua peserta “liwetan” alias “makan malam-malam” duduk mengelilingi tempat hidangan dari daun pisang tadi. Dengan setengan berjongkok pesta makan dimulai. Laki perempuan berpesta makan sedap nian. Biasanya tidak lebih dari sepuluh menit, tandas semua yang tersedia di atas daun pisang itu. Licin!

Pengalaman yang jauh berbeda saya pernah alami di sebuah restoran di Washington DC, ibukota negara yang tidak begitu saya sukai. Ketika itu saya sedang ikut sebuah conference mewakili Indonesia dalam membahas dampak Globalisasi pada sektor kesehatan. Oleh panitianya, kami semua diajak makan malam bersama (tentu saja bayar sendiri-sendiri) di sebuah restoran tradisional ala Amerika. Apalagi kalau bukan restoran Steak.

Saya pesan saja sebuah steak yang paling murah harganya. Maklum, dari negara berkembang nih ;)  Lagipula ketika itu saya belum pernah makan steak di restoran sama sekali.

Tidak lama datanglah pesanan kami. Masya Allah. Besar sekali porsinya! Daging sebesar itu kalau di Indonesia mungkin sudah bisa jadi rendang untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga selama beberapa hari. Tapi dagingnya sudah tersedia jadi mau apa lagi, ya santap saja. Rasanya biasa saja, tidak terlalu istimewa. Jauh lebih enak rasanya kalau di rendan. Ujung-ujungnya, saya cuma habis 1/2 porsi saja. Sisanya? Dibuang lah…. saya malu sama teman-teman (bos-bos dari berbagai organisasi kesehatan dunia) kalau minta bungkus buat dibawa pulang ke kamar hotel……