* Tulisan ini dibuat dengan berdasarkan pada catatan harian perjalanan hidup yang dibuat sendiri dalam bahasa Jawa oleh Bp. Sukandi bin Mangunpawiro


Sebenarnya aku tidak pernah memanggil beliau dengan sebutan Ayah. Dari kecil aku selalu memanggil beliau dengan sebutan Bapak. Sebutan ini aku juga gunakan untuk menamakan diriku pada anak-anakku, sehingga mereka memanggil ‘Bapak’ padaku. Namun rasanya tidak terlalu enak menulis orangtuaku dengan sebutan Bapak dalam tulisan ini, sehingga aku memutuskan memakai sebutan “Ayah”.

Ayahku dilahirkan di dusun Menggoran, suatu dusun kecil pegunungan Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1929. Seperti pada daerah selatan kabupaten Gunung Kidul lainnya, dusun ini tergolong kering, susah mendapat air dari hasil menggali sumur. Sebagian besar penduduknya secara tradisional mengambil air dari sungai di samping dusun, dan membawanya menggunakan pikulan di pundak.

Baru sekitar belasan tahun yang lalu ada inisiatif dari beberapa warga dusun dan kerabat yang tinggal di luar daerah ini untuk membuat sarana pipa air dari sumber air di tepi sungai menuju pusat-pusat distribusi air di dusun. Ayahku secara aktif terlibat dalam upaya menggalang dana dan inisiatif distribusi air ini.

Dulu pernah dipikirkan rencana memompa air dari mata air yang terletak jauh lebih rendah dari dusun dengan mengunakan teknologi kincir angin. Kalau tidak salah Mas Nyoto, almarhum kakakku, turut aktif memikirkan dan mendesain rencana itu. Akhirnya Namun entah kenapa rencana itu tidak bisa dilanjutkan dan diganti dengan pompa diesel. Mas Marjuni alias “Mas Jendut”, salah seorang sepupuku dari pihak ibu menjadi salah seorang motor penggerak pembangunan pompanisasi itu. Akhirnya walau pompa dieselnya sering rusak, saat ini air berhasil didistribusikan ke kantong-kantong distribusi di penjuru desa.

Pada zaman ayahku dilahirkan dulu, dusun Menggoran ini masih dikelilingi hutan jati dan tanaman lain. Bahkan mbah Mangunpawiro (orangtua ayahku) dulu berprofesi sebagai “Djogomirudo” (pengawas Hutan?) di dusun itu. Saat ini tidak ada lagi hutan yang tersisa di sana. Walau ada upaya penghijauan dan lain-lain pokok-pokok tanaman kuat yang menjadi besar tidaklah mampu bertahan lama karena dicuri atau ditebang orang.

Sebagian besar penduduk Menggoran dulu menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian dan hasil hutan. Namun seiring dengan berkurangnya areal hutan yang tersedia, hanya berladang saja yang dijadikan tumpuan oleh masyarakat. Karena saat ini banyak warga dusun dan keturunannya yang tinggal di luar daerah, sumber penghasilan juga beralih dari pertanian. Namun bagi mereka yang tidak mampu berbuat lain, hasil pertanian yang tidak seberapalah yang menjadi tumpuan hidup mereka sehari-hari.

Di masa kecilnya, ayahku diasuh oleh Mbah Dijah. Sama seperti anak desa lainnya, ia pernah sakit patek (Frambusia). Penyakit ini dimasa lalu identik dengan kemiskinan dan rendahnya kualitas higiene. Untuk pengobatannya, orang di dusun kebanyakan berobat ke Wonosari (ibukota Kabupaten) atau bahkan ke daerah Imogiri (Kabupaten Bantul).

Masa kecilnya dihabiskan seperti layaknya anak desa, bermain di ladang, menggembala kambing, dan memomong adik-adik. Menurut pengakuannya sendiri, sewaktu kecil ia adalah anak yang cengeng, gampang menangis dan merajuk kalau tidak mendapat apa yang ia sukai atau diminta melakukan sesuatu yang tidak disenangi. Misalnya jika diminta menyanyi lagu jawa (nembang) di sekolah, ia selalu menangis.

Bangku sekolah dilaluinya di sekolah KK (Kawula Kasultanan) di desa Sawahan, dari kelas satu sampai kelas 3. Dari situ ia kemudian disekolahkan di sekolah VV di kota kecamatan Playen, yang letaknya beberapa kilometer dari dusun Menggoran, cukup jauh untuk ukuran waktu itu yang belum ada jalan yang baik dan transportasi umum. Saat itu bangku sekolah tidak bisa dinikmati oleh orang banyak. Biaya iuran sekolah seketip sebulannya. Seketip itu sama dengan harga beras satu ‘beruk’ (setara dengan…..????).

Sekolah Dasar pada jaman itu umum disebut Sekolah Rakyat, atau juga sekolah ‘Ongko Loro’, yaitu sekolah yang ditujukan pada kaum pribumi Indonesia dan dijalani selama 5 tahun. Selesai sekolah Ongko Loro, ia kemudian masuk sekolah Pamardi Siswa (Schakelschool) yang baru didirikan di Playen. Namun sekolah itu tidak bertahan lama dan dibubarkan sembilan bulan kemudian.

Setiap sore sepulang sekolah, ayahku belajar mengaji di rumah mbah Dawam, dan yang mengajar adalah wo Sahid.

Pada awal tahun 1940-an, Jepang masuk ke Indonesia, termasuk ke kawasan Gunung Kidul tempat ayahku tinggal. Setiap kali ada ‘Gobyok’ (alarm), setiap orang harus berlindung di parit-parit. Di jaman perang itu kalau malam lampu dimatikan, kalaupun harus menyalakan lampu bagian atasnya harus ditutupi dengan kukusan supaya tidak terlihat dari atas. Apalagi kalau ada gobyok, semua lampu harus dimatikan, bahkan merokok saja harus ditutupi dengan tangan.

Setelah kelahiran Soekardi (salah seorang adik laki-laki ayahku) sekitar tahun 1941-1942, ayahku tinggal bersama mbah Mangundikromo (mbah Alip) di daerah Besari (Pantjuran), kira-kira 2 km di sebelah selatan kota Wonosari. Mbah Alip ini adalah adiknya mbok gede Atmosentono. Di sana ia diminta membantu macam-macam pekerjaan seperti membantu berjualan, mencari rumput untuk pakan hewan (ngarit), mengangon kambing dan lain-lain.

Tidak berapa lama tinggal di sana, ayahku masuk sekolah (SRI) lagi di kota Wonosari masuk kelas 5. Saat itu Jepang sudah masuk ke sana. Setiap sekolah diharuskan mengajarkan bahasa Jepang (Nipong) ketika itu. Setelah mendapat ijasah lulus kelas 5, ia kemudian meneruskan ke kelas 6 jurusan pertanian.

Saat itu prestasi belajar ayahku cukup membanggakan. Pada suatu hari besar Jepang Meidjisetju ia diikutsertakan perlombaaan bahasa Jepang di Yogyakarta. Hasilnya, ia menang dan memperoleh hadiah “pris Beker”, kain jarik dan juga radio untuk sekolah. Tentu saja ia senang bukan kepalang saat itu. Sampai ketika tiba di kota Wonosari ia dielu-elukan dengan hangat oleh teman-teman sekolahnya. Bukan itu saja, predikat juara kelas (nomor 2) pun didapatnya ketika itu.

Setelah mendaftar dan gagal masuk sekolah guru, ayahku kemudian masuk sekolah Kursus Pemuda Teknik (KPT) di tahun 1944. Ia tinggal di Kritjak, di rumah Pakde Sastroprajitno, kakak dari kakekku Mangunpawiro. Pada tahun itu juga ayahku disunatkan di desa Besari.

Lulus dari KPT, ayahku kemudian mulai bekerja. Awalnya ia kerja di Pabrik Sendjata Kiaratjondong di kota Bandung. Ia ditempatkan di bagian mesin bubut. Selama bekerja di sana ia tinggal bersama teman-teman lainnya di Asrama internir Belanda di kampung Kebonwaru Kidul, Bandung.

Saat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, pabrik dibubarkan. Semua pegawai diminta pulang ke rumah masing-masing sambil menunggu panggilan lagi. Setiap pegawai, termasuk ayahku, diberi pesangon berupa kain, sarung, serta uang. Beliau masih ingat jumlahnya sebesar Rp 247,70. Saat itu gaji di pabrik awalnya Rp 0.80 per hari sampai kemudian menjadi Rp. 1.80 per hari.