Gigi Bungsu alias Wisdom Teeth umumnya muncul dalam susunan gigi saat kita menginjak dewasa. Gigi ini terletak di ujung belakang susunan gigi geraham kita. Seringkali tumbuhnya gigi ini mendesak susunan gigi lain di depannya atau bagian geraham sekitarnya yang menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan. Demikian pula pada gigi saya belasan tahun yang lalu.
Setelah dua gigi bungsu telah dicabut terlebih dahulu, saat kira-kira berumur 23 tahun geraham kiri bawah saya terasa sakit akibat ulah si gigi bungsu juga. Pasti perlu dicabut pikir saya. Sama seperti dua gigi bungsu saya terdahulu.
Jadilah saya pergi ke klinik gigi di sebuah rumah sakit swasta dekat rumah. Setelah menunggu beberapa lama, duduklah saya di kursi dokter gigi. Setelah diperiksa dokter dan difoto roentgen, simpulannya persis sama dengan tebakan : harus dicabut kata dokter. Oke saya menerima.
Namun rupanya hari itu sang dokter gigi hanya bekerja sendiri, padahal ada banyak pasien yang perlu ditolong hari itu. Akhirnya seseorang yang saya kira adalah seorang asisten senior dokter gigi datang menangani.
Diberinya saya anestesi lokal dengan menyuntikkan obat kebal ke geraham bawah saya. Sakit mulanya tapi lama kelamaan kebal jadinya. Kemudian proses ekstraksi gigi bungsupun dimulai.
Proses ekstraksi berlangsung lama. Rupanya sang gigi tidak bersedia diambil keluar begitu saja. Terlalu besar mungkin, atau nyangkut diantara geraham. Walau si gigi sudah dipotong-potong kecil tidak bisa juga keluar.
Pasrah saja sudah. Mau bagaimana lagi.
Lewat setengah jam kira-kira gigi bungsu saya itu diutak-atik, dipotong-potong, diputar-putar. Tidak mau keluar juga. Ibu senior asisten tadi mulai putus asa. “Ini susah banget keluarnya. Gigi depannya menghalangi giginya. Gimana kalau gigi depannya saya cabut juga jadi bisa gampang keluarnya?”
Saya mau protes. Tapi nggak bisa. Wong mulut lagi dipenuhi berbagai alat gigi, mulut kebal, lidah kelu, dan seluruh ujung badan kedinginan kena AC. Akhirnya saya melotot saja bisanya.
Tapi mau dikata apa coba. Waktu anestesinya sudah hampir lewat. Gigi belum bisa keluar juga. Mau dikasih anestesi lagi mungkin bisa berbahaya. Mau dimasukkin lagi gigi yang sudah diudel duel tadi ya jelas nggak bisa. Akhirnya saya menyerah. Pasrah ………..
Akhirnya gigi geraham sehat di depan si gigi bungsu diambil dengan mudah. Kemudian menyusul si gigi bungsu yang nakal tadi. Saya lega walau kehilangan satu gigi ekstra dari niat semula yang cuma satu gigi saja.
Ini pengalaman yang memberikan ilustrasi hubungan antara supplier dan consumer di bidang pelayanan kesehatan. Supplier dan consumer tidak dalam posisi yang sama dalam ‘transaksi’ pelayanan kesehatan ini. Supplier, dalam hal ini adalah dokter dan pemberi pelayanan kesehatan lainnya, umumnya mempunyai posisi yang ‘lebih’ dibanding consumer. Consumer di lain pihak mempunyai informasi dan kekuatan yang lebih rendah dibanding dengan Supplier.
Supplier sedikit banyak bisa meng’induce’ clientnya melakukan sesuatu atau membeli produk si supplier. Consumer di lain pihak, karena ketidak tahuan dan juga karena posisi yang tidak seimbang dengan supplier ini, kemudian terpaksa menuruti apa yang direkomendasikan si supplier. Fenomena ini dalam health economics dikenal dengan sebuat ‘Supplier Induced Demand’, demand pelayanan yang muncul dari hubungan supplier-consumer muncul karena pengaruh si supplier itu sendiri.
Eh kembali ke soal gigi, karena saya merasa sebagai orang Jawa, maka selalu ambil sisi untungnya saja. Walau yang diambil dua gigi, saya cuma harus membayar ongkos ekstraksi satu gigi doang. Untung kan…… He…he…..




2 comments
Comments feed for this article
20 Oktober 2007 pada 3:09 pm
yani
ass. pak dono..saya nggak sengaja ngebaca blognya dulutentang expatriat di luar negeri. jadi tertarik pengen nanya-nanya.tapi boleh ga ya?
31 Oktober 2007 pada 4:04 pm
benbego
salam kenal dari http://pcmavrc.wordpress.com