Dalam rangka membantu sebuah proyek penelitian, beberapa tahun lalu saya pernah diminta menemani peneliti utama dari Inggris untuk mencari data tentang program MCH (Maternal and Child Health) di Kalimantan Selatan.
Setelah beberapa hari berada di Banjarmasin, ibukota Kalsel, kami beranjak ke beberapa kabupaten di provinsi ini untuk melihat perkembangan program yang sedang kami teliti dan evaluasi.
Sampai di sebuah Puskesmas kecil yang terawat resik dan asri, kami disambut oleh ibu dokter pimpinan Puskesmas. Ternyata ia dan suami sama-sama bekerja di Puskesmas yang sama. Istrinyalah yang menjadi kepala Puskesmas di sana. Rumah mereka terletak di samping gedung Puskesmas.
Sambil mendengarkan keterangan ibu kepala Puskesmas, saya pun menyempatkan diri melihat-lihat laporan dan kondisi Puskesmas itu. Sangat rapi. Semua dokumen dan laporan tersimpan dengan rapi. Walau gedung dan fasilitas di Puskesmas itu tidaklah tergolong baru namun semuanya terlihat tertata dengan rapi.
Setelah selesai mendapatkan data dan informasi dari beliau, kamipun ngobrol-ngobrol secara santai dengan beliau. Ternyata beliau dan suami adalah sama-sama lulusan dari fakultas kedokteran sebuah universitas swasta di Jakarta. Mereka berasal dari keluarga yang cukup mampu. Kedua orangtuanya sang ibu dokter masih tinggal di sebuah kawasan elit di Jakarta Selatan.
Setelah lepas makan siang, kami diagendakan untuk bertemu dengan para bidan di desa di bawah tanggungjawab Puskesmas tersebut. Cukup banyak jumlahnya, antara 10-15 orang kira-kira. Kebetulan mereka pagi harinya ada pertemuan rutin di Puskesmas, sehingga waktu siangnya bisa dipergunakan untuk bertemu kami.
Semuanya masih muda-muda. Yang paling tua mungkin berumur sekitar 25 tahun. Sebagian besar mengenakan kerudung mengikuti kepercayaan dan kebiasaan masyarakat setempat. Kamipun berbagi tugas mewawancarai mereka secara informal. Saya kebetulan menemani Damian, bule asal London yang kebetulan juga adik kelas saya sewaktu sekolah master dulu.
Umumnya bidan-bidan itu malu-malu menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Tapi ada satu orang yang menarik perhatian kami. Ia ditugaskan di suatu daerah yang cukup jauh. Untuk ke Puskesmas dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dengan menumpang ojek dari desa tempat ia bertugas. Jadi kalau ada pertemuan di Puskesmas seperti hari ini, dia harus datang satu hari sebelumnya dan menginap di rumah teman atau bahkan di Puskesmas. Wajahnya cukup menarik, dan tutur sapanya menunjukkan kecerdasannya.
Tanpa dinyana, sang bidan dengan tanpa ragu menimpali pertanyaan-pertanyaan kami dalam bahasa Inggris yang cukup bagus. Saya sangat kagum. Damian duduk terhenyak. Kaget. Gadis yang bertugas di ujung gunung ini mampu berbahasa Inggris dengan baik! Jadilah pembicaraan kami semakin lancar adanya. Lebih jauh ia bercerita bahwa selepas dari SMA ia masuk pendidikan ‘crash program’ bidan 1 tahun. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 selepas masa kontraknya selesai.
Bidan di desa dikontrak selama 3 tahun. Kebanyakan dari mereka hanya diberi bekal pendidikan kebidanan selama satu tahun, walaupun normalnya adalah setingkat D3. Namun karena mengejar program penempatan bidan di Desa, diadakanlah crash program tersebut. Jadi, sebenarnya bekal mereka masih minim sekali. Pengalaman ‘hands on’ membantu proses melahirkan belumlah didapat dengan jumlah yang memadai selama di pendidikan. Jadilah mereka terpaksa harus ‘learning by doing’ di tempat tugasnya.
Setelah selesai sesi wawancara tidak terstruktur siang itu, kami berangkat ke sebuah desa yang terletak kira-kira 30 menit perjalanan mobil dari Puskesmas tersebut. Melekat di bibir sungai, ada sebuah balai pertemuan milik desa tersebut. Di sisinya, ada kamar kecil dilengkapi dapur dan kamar mandi, tempat salah seorang Bidan tinggal.
Jadilah kami ngobrol di sana, mengamati ‘first hand’ kehidupan bidan di desa yang sebenarnya. Sang bidan, yang kebetulan sama sekali tidak pandai berbahasa Inggris, dengan senang hati curhat pada kami menjelaskan suka duka dan seluk beluk profesi dan kehidupannya sebagai bidan di desa.
Bidan di desa, dengan pendidikan yang cukup tinggi untuk ukuran pedesaan, umumnya menjadi perhatian pemuda di kampung. Tidak sedikit cerita adanya bidan yang diminta menikah dengan pemuda setempat, atau menjadi istri muda kepala desa. Semuanya menjadi bagian dari dinamika kehidupan mereka.
Paraji, dukun, dan mantri kampung juga menjadi bagian dari tantangan pekerjaan mereka. Maklum, biasanya para penyedia jasa kesehatan tersebut sudah lama berada di sana dan menjadi tumpuan harapan masyarakat umum. Dengan adanya bidan maka sedikit banyak mereka merasa ‘terancam’ keberadaannya.
Di sela obrolan kami, pisang goreng hangat yang baru dimasak di dapur menyertai sore itu. Damainya suasana, sambil mata memandang aliran sungai coklat di belakang rumah. Sang bidan terus bercerita tentang kehidupannya, pekerjaannya, dan harapannya.
Menjelang maghrib, kami harus kembali ke Banjarmasin, masih beberapa jam perjalanan dari sana. Malamnya, aku tidak bisa tidur nyenyak. Membayangkan seorang bidan yang harus sakit pantatnya 4 jam duduk di bangku ojek, dan seorang lagi yang pasti sibuk menepuk nyamuk pinggir sungai. Tempat tidur empuk hotel kami yang ongkos semalamnya hampir setengah dari gaji bidan sebulan tidak mampu membantu tidurku.




1 comment
Comments feed for this article
12 Januari 2008 pada 11:04 am
ikhy
saya berharap agar pemintah pusat lebih lagi memperhatikan kota tidore (maluku utara)