Bau amis anyir cepat menyergap masuk ke relung hidung begitu mendekat ke sebuah ruang perawatan anak. Bau yang tidak jelas asalnya. Bau karbol tidak mampu mengalahkan kerasnya bau anyir ini.
Di dalam ruangan itu ada sekitar 15 anak sedang dirawat dengan berbagai jenis penyakitnya. Beberapa anak tertidur, satu dua meringis kesakitan. Kantong cairan infus bergelantungan di sana sini, dengan selangnya yang panjang berputar-putar.
Ibu-ibu berbaju kumal berbekal kain sarung menemani putra-putri mereka yang sedang sakit. Ada yang duduk di bawah, tiduran di tempat tidur sempit berbagi dengan anaknya, dan ada yang duduk bermenung sambil mengipasi anaknya.
Seorang ibu batuk-batuk di ujung ruangan, berdahak berat. Dilepehkan dahaknya ke lantai. Mungkin itu sumber bau amisnya.
Suster yang berjaga di sudut ruangan sibuk mencatat status pasien yang bertumpuk di mejanya. Beberapa jenis obat terlihat tergeletak di meja itu juga. Di meja kecil di sampingnya, terlihat beberapa jenis obat, baik tablet, kapsul maupun jenis obat suntik, yang sengaja terlihat dikumpulkan jadi satu.
Melihat lirikan mata saya ke obat-obatan itu, sang Suster itu tersenyum. “Itu obat sisa pak“. “Kenapa nggak dibuang?” tutur saya ringan. “Sayang. Masih banyak anak-anak yang tidak mampu bayar obat pak. Kita pakai saja obat sisa itu untuk mereka“, jelasnya datar. “Obat suntik juga?“. “Ya, justru itu yang biasanya mahal pak” tukas sang suster.
Erangan salah seorang anak membuat sang Suster menghentikan pembicaraan kami karena ia segera menghampiri sang anak. Sayapun mengikuti dari belakang. “Suspect Meningitis, sudah tiga hari di sini“, kata sang Suster.
Tidak lama di sana, saya beranjak ke ruang rawat intensif. Tidak seperti ruang ICU di rumah sakit-rumah sakit besar Jakarta, ruang rawat intensif di rumah sakit tipe D di kabupaten miskin ini sangatlah sederhana. Hanya terdiri dari beberapa ruangan dengan kaca besar, dan beberapa meja perawat yang penuh dengan alat-alat medis. Perbedaan mencolok dengan ruang rawat anak tadi adalah tidak adanya bau amis di sana. Hanya bau obat menusuk.
Di salah satu ruangan seorang anak terlihat tertidur sendirian. Tubuhnya diinfus. “Kemana ibunya?” tanya saya pada seorang suster. “Sedang mengurus obat. Pakai kartu sehat sih. Tapi nggak semua obatnya bisa didapat gratis. Obat yang bagus nggak dikasih. Mahal sih“, kata sang suster.
Sang anak tidak bergerak. Diam saja. “Dia sudah seminggu koma. Nggak sadar“, jelas sang suster. “Ooohhh“…
Bayangan kedua anak saya membayang di belakang mata. Ujung mata saya basah.

2 comments
Comments feed for this article
1 Maret 2008 pada 9:43 pm
ikbal m saleh
i love TIDORE
7 Maret 2008 pada 8:40 am
NASRUN.HS>BAY
“I LOVE U TIDORE”
Tosoninga gam Lau Tora bato……¶
To Kangen Lau tora bato,,,pengen Wako koliho hoda gam Lau re…..¶