Lebih dari tiga puluh tahun lalu, saat usia baru lepas balita, saya mulai ikut kegiatan Pramuka. Saat itu saya masuk Pramuka Siaga, kategori termuda dalam gerakan Pramuka. Gugus depan kami bernama Dharma Cempaka, dengan nomor Gudep 617-618.

Setiap Minggu sore, pukul setengah empat saya pergi dengan berseragam pramuka ke tempat latihan kami di pinggir sungai belakang kompleks. Mulai dari upacara pembukaan, kegiatan, sampai acara penutupan menjelang maghrib tiba. Hampir semua anak di kompleks kami ikut bergabung dalam kegiatan Pramuka di sana.

Salah seorang kakak pembina kami bernama Sunarwan. Kami memanggilnya dengan panggilan ‘Kak Narwan’. Selain kak Narwan, ada juga kak Marmin, kak Rahmat, dan satu-dua pembina lainnya. Sayangnya saya sudah lupa nama-nama yang lainnya.

Kak Narwan bertanggungjawab pada kami, kegiatan pramuka Siaga. Kegiatan Pramuka kami sangat sederhana. Tidak macam-macam. Satu hari kami berlatih berbaris. Lain hari bermain kacu (dasi) pramuka, saat lain kami masak-memasak.

Kak Narwan selalu hadir tepat waktu. Dengan sepeda ontelnya beliau datang dari rumahnya di kawasan kemayoran ke tempat latihan di Cempaka Putih. Kadang kalau saya malas pergi berlatih Pramuka beliau datang menghampiri saya ke rumah dan mengajak saya pergi dengan menggonceng sepedanya.

Tahun demi tahun berlalu, dan setiap akhir pekan hampir tidak pernah lepas aku hadir di latihan Pramuka. Aku lalu mengajak teman-teman dari sekolahku untuk ikut berlatih Pramuka di sana. Walau di sekolah kami juga bergabung dalam kegiatan Pramuka sekolah, di hari Minggu kami berlatih kembali di Dharma Cempaka. Lama kelamaan, jumlah anggota Pramuka kami lebih banyak yang berasal dari kawan teman sekolahku dibanding anak-anak dari kompleks kami.

Saat kami mulai beranjak besar, kamipun ‘naik kelas’ ke kelompok Penggalang. Kegiatannya mulai agak lain sifatnya. Tapi semuanya masih bersifat ‘fun’ yang positif. Karena jumlah pelatih kami makin berkurang jumlahnya (kak Rahmat meninggal dunia, kak Marmin aktif di tempat lain), kak Narwan kemudian menjadi tulang punggung pelatihan Gugus Depan kami.

Sampai saat terakhir aku masih aktif di gerakan Pramuka 11 tahun kemudian, gerakan Pramuka sudah tidak banyak lagi pamornya di kalangan anak-anak dan remaja. Mungkin ada banyak kegiatan lainnya yang mereka lebih minati.

Namun kak Narwan masih rajin datang setiap akhir pekan walau jumlah yang datang makin sedikit. Memang ia mendapat honor dari pengurus Kompleks, tapi jumlahnya aku yakin sangat jauh dari memadai. Aku tahu honornya sangatlah minim, bahkan nyaris bagai kerja sukarela. Namun ia selalu tersenyum dan bersemangat melatih kami.

Saat gerakan Pramuka kami sudah tinggal nama karena tidak ada lagi pesertanya, kak Narwan masih rajin menyambangi kami. Masih dengan sepeda ontel tuanya, tanpa diminta beliau aktif mengirimkan majalah ke-Pramukaan ke rumah kami masing-masing. Sampai tidak enak hati kami jika mendapat kiriman dari beliau. Setiap Lebaran kami selalu mendapat kartu lebaran, atau beliau datang langsung berkunjung. Kamipun kadang membalas dengan mengirimkan parcel saat Natal, mengingat beliau adalah pemeluk agama Kristen.

Terakhir saya bertemu beliau sekitar 5-6 tahun yang lalu saat pulang ke Indonesia dan menyempatkan diri bertamu ke kediamannya. Masih di gang sempit kawasan padat penduduk di bilangan Kemayoran. Sayang waktu itu beliau tidak ada di rumah, pergi kerja sebagai Satpam di bilangan Menteng, masih dengan sepeda ontel tuanya.

Saat ini, lebih dari 30 tahun saya sudah mengenal kak Narwan. Entah kenapa saya selalu merasa berhutang budi pada beliau.

*Aang, Anton, Arfian, Irfan, Wawan, Dodo, Taufik, Adi & Abi. Kemana kamu semua? Reuni-an yuk……