Sewaktu aku kecil, aku sering mengkhayal. Ingat aku sering duduk berdua dengan si Ija’, teman main waktu kecil yang tinggal di bagian lain dari kompleks rumahku, asik mengkhayalkan kalau kita jadi orang kaya. Kadang kami juga membayangkan apa yang akan kami lakukan kalau kami jadi Presiden. Mau membangun jalan layang yang malang melintang seperti apa yang kami sering lihat di televisi. Ingin membangun airport di pinggir pantai yang landasannya bisa juga langsung digunakan oleh pesawat amphibi. Banyak khayalan kami ketika itu.
Saat besar kelak, si Ija ini kalau tidak salah bekerja di Bank Indonesia. Insya Allah suatu saat bisa bertemu dia lagi dan mudah-mudahan tidak mengkhayal lagi tapi berbuat sesuatu yang lebih kongkrit.
Setelah besar besar sedikit, aku mulai punya cita-cita. Saat aku SD, salah seorang kakakku ada yang kuliah di jurusan Fisika sebuah perguruan tinggi. Aku kerap membaca buku-buku dan majalah yang dimilikinya. Ada sebuah majalah yang aku senang betul yaitu majalah “Mekatronika”. Mungkin sudah almarhum itu majalah karena sudah sejak lama aku tidak pernah melihat judul majalah itu dijual orang kecuali di pasar loak Senen. Jadilah cita-citaku ingin jadi Fisikawan, walau aku nggak tahu kerjanya apa ya kalau lulus sekolah dari jurusan Fisika kelak.
Ketika SMP cita-citaku berubah. Kali itu aku ingin menjadi matematikawan. Ini karena pengaruh salah seorang guru SMP ku yang sangat menyenangkan kalau mengajar matematika. Sayang aku sudah lupa nama beliau. Asyik sekali kalau aku belajar matematika.
Masuk SMA, aku mulai belajar komputer. Saat itu kakakku sudah lulus dari kuliahnya dan sudah punya uang sendiri untuk membeli sebuah komputer mini (lebih tepat disebut kalkulator kali yaaa…) bermerk Casio. Suatu sore ketika pulang sekolah aku temui ‘mainan’ baru ini di kamar kakakku dan langsung saja aku kutak-katik sampai malam. Komputer mini ini bisa diprogram dengan bahasa Basica. Hari itu aku langsung belajar bahasa pemrograman Basica dari buku petunjuk yang ada bersama komputer itu. Sejak hari itu cita-citaku berubah menjadi seorang akhli Komputer.
Namun seiring dengan bertambahnya usiaku, aku mulai kehilangan cita-cita yang jelas. Pokoknya kesempatan apa yang ada di hadapanku ya aku ambil saja. Hilang sudah cita-cita menjadi seorang akhli komputer.
Kalau sekarang ditanya apa cita-citaku, aku juga nggak tahu…. Yang penting aku berusaha saja memanfaatkan kemampuan dan tenaga yang ada ini dengan sebaik-baiknya. Bak air mengalir, dimana ada daratan yang rendah aku akan pergi ke situ. Jalani saja hidup ini bak air.
Kalau bermimpi, aku sering. Kadang aku ‘menggambar’ mimpiku sendiri. Biasanya dimulai dengan berkhayal, ingin ini ingin itu, kemudian malamnya saat tidur aku bermimpi akan hal yang aku khayalkan itu. Biasanya jalan cerita mimpi sesuai dengan apa yang aku kehendaki, tapi kadang juga ending storynya malah jadi aneh dan tidak sesuai skenario yang aku kehendaki….he…he….
Saat ini jalan hidup membawaku bekerja di alam akademik. Baru sejak lulus sarjana aku punya keinginan untuk kembali terjun di dunia pendidikan. Sebelumnya sama sekali tidak ada khayalan, cita-cita atau mimpi untuk jadi dosen. Itu juga diawali dengan bincang-bincang kecil dengan salah seorang kenalanku yang bernama mbak Kandi. Sudah lama juga tidak bertemu dengan beliau ini, sudah lebih dari 12 tahun yang lalu. Saat itu dia tanya mau kerja apa nanti saat aku sudah selesai kuliah. Aku jawab aku juga nggak tahu. Tapi at least aku akan kembali mengajar di kampus. Soalnya ternyata aku senang bicara kepada mahasiswa dan berinteraksi dengan mereka. Mbak Kandi ini juga dosen, dan dia malah menertawaiku sambil mengingatkan bahwa pilihan jadi dosen itu tidak akan membawa financial reward yang mencukupi. “Nggak apa-apa” tangkisku, yang penting aku bisa at least bersikap idealis di dunia perguruan tinggi. “Idealis tapi nggak punya duit nggak ada artinya Don!”, demikian tukasnya. “Lebih baik jadi orang kaya dan idealis, karena orang kaya itu didengar orang…. dan kalau kamu kaya kamu bisa memberikan rejeki kamu ke orang lain…. coba kalau miskin… kamu yang minta-minta aja…..”
Aku tertegun sambil berpikir tentang kebenaran ungkapannya. Mungkin benar.
Saat aku sudah mulai mengajar di kampus, Prof Ascobat Gani, salah seorang guruku yang sangat aku segani pernah bicara setengah serius denganku. Beliau bertanya apa aku sudah sanggup memutuskan untuk menjadi dosen. Aku jawab sudah. Beliau lalu bercerita bahwa beliau sudah agak frustasi menjadi dosen. Hasil karya seorang guru atau dosen itu tidak kelihatan. Kalau ada hasilnya, itu juga baru bertahun-tahun lagi baru kelihatan hasilnya. Beliau mencontohkan bahwa hampir semua pejabat di kantor2 dinas kesehatan pernah beliau ajar. Tapi apa hasilnya? Apa kesehatan masyarakat Indonesia membaik atas apa yang dia ajarkan kepada mereka? Kayaknya nggak ada bedanya tuh?
“Lagipula, jadi dosen nggak ada duitnya Don!” ucapnya. “Lihat saja saya. Saya sudah jadi dosen berpuluh tahun, mengerjakan proyek ini itu, jadi konsultan disini situ, ngomong di seminar A-Z, dan lain lain. Tapi lihat saja rumah saya. Lihat mobil saya. Saya nggak punya apa-apa Don. Dibanding dengan teman-teman saya kuliah dulu yang jadi pengusaha, spesialis (beliau ini dokter), dan politisi, saya ini nggak ada apa-apa secara finansial!”
“Yach…. Bapak jangan bikin saya keder duluan dong…. saya baru mulai ngajar nih pak….” kataku. Beliau tersenyum dan berkata, “Bukan begitu Don, saya hanya ingin mengutarakan bahwa seorang dosen itu harus siap lahir batin, siap berjuang dalam jangka panjang…. ‘Ausdauer’ (tenaga dalam) -nya harus kuat……”
Kekagumanku pada beliau bertambah-tambah. Beliau bukan saja guru dan seniorku yang pandai, dan senang membagi ilmu, tapi beliau juga tulus membimbingku untuk menjadi akademisi sejati.
Kembali ke Khayalan, Cita-cita, dan Mimpi.
Aku tidak pernah berkhayal untuk kerja di luar negeri. Tidak pernah punya cita-cita untuk mencari rejeki jauh dari tanah air. Tidak bermimpi untuk mengajar bangsa orang lain. Malah kebalikannya. Aku ingin agar tenaga dan kemampuanku sebesar-besar dimanfaatkan untuk kebaikan tanah airku, saudara-saudaraku.
Namun Allah kadang mentakdirkan jalan hidup kita tidaklah seperti apa yang kita hendaki, khayalkan, atau cita-citakan. Kadang jalan hidup kita lebih baik dari kemauan kita, kadang juga kebalikannya.
Kita jalani saja dengan ikhlas dan tawakkal.




3 comments
Comments feed for this article
14 Januari 2007 pada 5:49 am
murniramli
Setuju !!
Semuanya adalah ketetapan yg terbaik bagi kita.
Tidak ada yang tahu mana yang lebih baik untuk hamba-Nya selain Dia Yang Kuasa.
Salam kenal, blognya saya masukkan ke blogroll saya boleh ?
26 Februari 2007 pada 4:24 am
Hari Sudibyo
Hidup untuk ibadah
Jalanilah kehidupan dengan ilmu…
26 Februari 2007 pada 9:56 am
khikmia
menurutku dunia khayalan adalah dunia terindah yang pernah aku miliki karna dalam dunia khayal aku dapat mengatur adegan-adegan yang tak laksana sang sutradara. namun aku takut pula ketika aku membuka mataku karna akuharus menyambut dunia nyataku yang tak sesuai denagan dunia khayal yang aku miliki. namun bagi para sahabat jangan maulah kita hanya hidup dalam dunia khayal doang, buktikan saja apa yang kamu khayalkan dalam dunia nyatamu, ok……. Chayooo abys and semangat. mari kita hidupkan dunia nyata kita