Pada pertengahan abad ke 21, atau sekitar tahun 2050-an, temperatur udara global akan naik sekitar 2-3 derajat celsius akibat ‘Global Warming’ apabila kecenderungan emisi karbon akibat aktifitas manusia masih terus berlangsung seperti sekarang ini. Apa artinya dampaknya kenaikan ini pada umat manusia wabil khusus mereka yang tinggal di Indonesia?

Kenaikan suhu udara rata-rata sebesar 2-3 derajat berpengaruh ke banyak sisi kehidupan di bumi ini. Tidak semuanya berakibat negatif. Di negara-negara beriklim dingin, kenaikan suhu udara ini akan mengurangi kebutuhan konsumsi energi sebagai penghangat udara. Diperkirakan akan terjadi juga peningkatan hasil produksi agrikultur pada negara-negara beriklim dingin. Angka kematian akibat suhu udara dingin yang banyak terjadi di negara-negara belahan bumi utara saat winter juga akan berkurang. Jadi kenaikan suhu bumi bisa membawa dampak positif pada sebagian orang.

suhuPada sebagian besar yang lain, sayangnya global warming ini akan berakibat buruk. Misalnya di negara-negara dingin itu misalnya kandungan tanah yang selama ini membeku di daratan Rusia dan Kanada bisa mencair dan merusak jaringan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang ada. Glaciers dan lapisan es di gunung-gunung tinggi akan mencair sehingga kelangsungan water supply bisa terganggu.

Kehidupan flora dan fauna secara global juga sangat mungkin terpengaruh. Pola migrasi burung, ikan, dan mamalia darat yang terpengaruh oleh berubahnya musim bisa berubah. Sedikit perubahan pada pola migrasi ini bisa berakibat fatal pada kelangsungan hidup beberapa spesies fauna karena berubahnya pola pakan dan pola reproduksi.

Dampak paling besar dengan adanya global warming ini ada pada kelompok populasi yang tinggal di tempat yang rendah dan di daerah beriklim tropis, seperti Indonesia. Kenaikan suhu udara 2-3 derajat praktis akan memaksa bertambah intensifnya penggunaan alat pengatur suhu udara (ac, blower) pada tempat tinggal, tempat bekerja, dan alat transportasi. Jika dulu upaya pertama pengaturan udara bisa dilakukan dengan merancang arsitektur rumah dan tempat tinggal agar bisa terjadi pertukaran panas dengan baik, dengan adanya global warming banyak tempat yang mau tidak mau terpaksa menggunakan ac secara maksimal. Ini akan menggenjot penggunaan energi yang sayangnya secara tidak langsung akan menghasilkan pengeluaran emisi karbon ke udara yang pada gilirannya akan menambah efek rumah kaca bumi ini.

Meningkatnya suhu udara akan secara garis besar menurunkan tingkat produktifitas hasil pertanian. Deforestasi dan desertifikasi akan semakin meluas akibat semakin ketidak mampuan beberapa jenis tumbuhan untuk bertahan menghadapi suhu udara yang makin panas dan supply air yang berkurang. Bukan tidak mungkin tekanan panas yang meninggi ini akan menimbulkan lahan-lahan bergurun di kepulauan Indonesia.

Kebakaran lahan dan hutan yang saat ini banyak terjadi di Indonesia akan semakin sering lagi terjadi. Asap yang dihasilkan akan mengurangi besarnya paparan matahari langsung pada tumbuhan sehingga juga akan mengurangi kemampuan tanaman untuk menghasilkan biji dan buah. Partikel yang dihasilkan dari pembakaran ini juga akan berakibat buruk pada kesehatan manusia. Bisa diprediksi bahwa angka kesakitan akibat Asma, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), dan penyakit yang lebih jangka panjang sifatnya seperti kanker paru akan semakin tinggi.

Di bidang perikanan dan kelautan, berubahnya suhu rata-rata bumi akan menimbulkan perubahan suhu lautan pula, yang pada gilirannya akan menimbulkan dampak pada perbedaan arus air laut serta kemampuan hidup tumbuhan dan hewan yang ada di dalamnya. Berubahnya pola arus air antar benua akan mengakibatkan berubahnya pola kehidupan plankton dan jasad renik yang menjadi panganan ikan-ikan pada mata rantai makanan yang lebih tinggi. Perubahan rata-rata suhu bumi dan suhu air laut juga akan mengubah peta tumbuhan karang laut di dunia. Pada daerah yang semula merupakan daerah ideal koral hidup, kemungkinan daerah tersebut akan menjadi terlalu panas untuk karang untuk bisa bertahan. Dampak lanjutnya dari semua ini adalah berubahnya ketersediaan ikan dan aneka ragam jenis produksi laut akibat perubahan suhu rata-rata bumi.

Dampak yang paling mengerikan mungkin adalah berubahkan topografi garis pantai akibat meningginya muka air laut. Lapisan es dan glacier yang ada di belahan utara dan selatan bumi besar kemungkinannya untuk meleleh akibat meningkatnya suhu bumi. Air dari mencairnya lapisan es itu akan memenuhi tempat yang rendah letaknya sehingga sedikit demi sedikit akan meningkatkan muka air laut di seluruh dunia. Apa akibatnya? Garis pantai pada daratan yang rendah akan tergenangi air laut, bukan karena abrasi namun karena air lautnya yang meninggi. Ini artinya negara-negara dengan daratan yang rendah atau bahkan lebih rendah dari muka air laut saat ini menjadi sangat terancam. Belanda adalah salah satunya. Saat ini saja sebagian areal negara Belanda berada di permukaan laut dan dijaga oleh sistem dam yang kompleks. Meningginya muka air laut akan menimbulkan tekanan berat pada sistem itu yang mungkin akan mengancam kelangsungannya.

Indonesia sebagai negara kepulauan juga akan mendapat dampak yang besar. Kemungkinan besar akan banyak pulau di Indonesia yang akan terendam air dan tinggal menjadi gosong-gosong pasir yang tidak bisa ditinggali lagi. Daratan-daratan rendah yang umumnya merupakan daratan yang berasal dari sedimentasi tanah pegunungan juga terancam. Di Indonesia, daratan rendah ini banyak terdapat di pantai utara pulau Jawa, pantai timur pulau Sumatera, sebagian kalimantan, dan pantai barat pulau Papua.

Naiknya muka air laut akan menenggelamkan sebagian areal dataran rendah, dan memundurkan garis pantai ke arah daratan yang lebih tinggi. Akibat yang dihasilkannya akan berlipat ganda.

Infrastruktur yang ada di sepanjang garis pantai akan rusak atau minimum perlu dimodifikasi untuk dapat bertahan mengatasi air laut. Walaupun tidak sepenuhnya merupakan dampak dari global warming, saat ini saja sudah dapat dilihat berbagai efek yang terjadi di Jakarta, Semarang, dan Surabaya akibat masuknya air laut ke daratan. Jalan-jalan terpaksa ditinggikan, rumah-rumah dan gedung dimodifikasi, proses pengkaratan yang berjalan lebih cepat, dan lain sebagainya.

Lama-kelamaan, naiknya muka air laut ini akan memaksa manusia untuk mundur mencari daerah yang lebih tinggi. Ini akan mengubah pola kehidupan dan perekonomian masyarakat dalam skala yang masif. Manusia yang bermigrasi harus mencari sumber pendapatan yang lain. Juga tempat tinggal dan belum lagi masalah-masalah yang akan timbul sebagai dampak ikutan seperti penyediaan sarana pendidikan, kesehatan dan lain-lain.

Naiknya muka air laut ini akan menimbulkan bertambahnya daerah rawa-rawa dan eks hunian manusia yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi sumber risiko berkembangnya penyakit Malaria dan berbagai masalah kesehatan lainnya.

Besarnya luas daratan yang ‘arable’ atau bisa ditanami untuk kegiatan agrikultur juga akan berkurang akibat terdesaknya daratan oleh naiknya air laut. Proses salienasi yang terjadi akibat desakan air laut pada sistem air baik air muka maupun bawah tanah akan menekan produktifitas beberapa jenis tanaman tertentu. Ini dalam jangka panjang akan mengancam kemampuan penghasilan bahan pangan.

Besarnya dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh seluruh dampak global warming ini sungguh luar biasa. Indonesia adalah ‘net looser’ akibat global warming.

Dampak mudahnya bagaimana? Walau para ahli saat ini masih memprediksikan kenaikan 2-3 derajat celsius dalam 50 tahun ke depan, sebagian ahli lain memperkirakan kenaikan ini sebenarnya lebih tinggi dari itu, yaitu sekitar 4-5 derajat celsius. Jika ini benar terjadi, maka pencairan lapisan es di kutub akan semakin besar dan muka air laut juga akan semakin meninggi.

Jika terjadi kenaikan muka air laut setinggi 1 meter saja, ditambah dengan menurunnya muka daratan akibat berkurangnya lapisan aquifer air akibat disedot untuk kepentingan manusia, maka sebagian Jakarta sudah akan tergenang air secara permanen. Sunter, Kemayoran, Pluit, Kelapa Gading, Cempaka Putih dan Rawamangun kemungkinan sudah berada di bawah air.

Apalagi jika kenaikan muka air laut sudah lebih tinggi lagi. 3-4 meter? Mungkin sudah 60% kota Jakarta akan digenangi air, dan rumah kita bak jadi rumah hiasan di dalam aquarium. (Sebagian) Jakarta akan tinggal jadi kenangan.