Setiap orang punya masalah. Besar, kecil. Relatif.
Dari yang pernah saya pelajari, definisi masalah adalah sesuatu hal dimana kenyataan yang ada tidaklah sesuai dengan harapan yang kita idamkan. Ada masalah dalam pekerjaan, masalah dalam rumah tangga, masalah dengan lingkungan, masalah keuangan, masalah dalam kehidupan sosial, bahkan juga masalah dengan diri sendiri.
Besarnya masalah juga bersifat relatif. Suatu masalah yang sama mungkin akan dipersepsikan berbeda oleh orang yang mengalaminya dalam setting atau kondisi yang lain. Suatu masa mungkin masalah itu tidak dirasakan, suatu masa yang lain masalah yang sama bisa seperti onak dalam daging. Masalah nisbi sifatnya.
Setiap orang punya rejeki. Besar, kecil. Relatif.
Walau semua rejeki datangnya dari Allah, namun kita wajib berusaha sekuat tenaga mencarinya. Calon kakek mertua saya (kini alm) pernah bilang sewaktu saya masih belum menikah dulu, bahwa menikah itu ada rejekinya. Anak juga ada rejekinya. Tentu saja rejeki itu tidak akan tumpah begitu saja dari langit masuk ke rekening bank kita, tapi dengan adanya istri dan anak, maka kita akan lebih bersemangat dalam mencari rejeki dalam rangka menunaikan kewajiban kita pada mereka.
Almarhum dr. Fahmi Saifuddin, dosen saya dulu di FKM UI, pernah mengkuliahi saya secara pribadi di teras masjid UI selepas suatu shalat magrib. Beliau berkata, dalam hidup ini janganlah kita hanya mengejar harta. Uang akan datang dengan sendirinya kalau kita bisa buktikan bahwa kita mampu menghasilkan nilai lebih pada apapun yang kita kerjakan. Semakin banyak ‘value’ yang kita hasilkan, semakin banyak pula kemampuan kita akan dihargai orang lain.
Kadang, walaupun kita sudah habis berpeluh mencari rejeki, hasil yang didapat tidak memadai untuk kehidupan kita. Kadang, tanpa diminta rejeki datang sendiri mencari kita.
Besarnya harta dan rejeki juga tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan dalam hidup. Harta yang banyak bisa menyelesaikan banyak masalah, namun juga bisa menciptakan banyak masalah baru. Harta yang sedikit tidak melulu identik dengan kesengsaraan hidup. Semuanya kembali kepada penerimaan kita pada rejeki yang diberikan Allah.
Kuncinya, kita harus bersyukur atas apapun yang diberikan Allah. Selalu lihat ke bawah, dan jangan terlalu sering melihat ke atas.
Setiap orang punya umur. Panjang, pendek. Relatif.
Umur manusia juga rahasia Allah. Sebagian orang dikaruniai umur yang panjang, sebagian orang lain tidak. Sebagian dari kita akan mencapai umur lebih dari 50, 60, 70, bahkan 80. Sebagian lagi mungkin tidak bisa melewati umur seperempat abad. Ujung-ujungnya semua orang akan menemui ajalnya, hanya entah kapan waktunya dan apa penyebabnya.
Salah seorang kakakku dulu adalah seorang perokok kelas berat. Dalam sehari ia bisa merokok sekelas Dji Sam Soe sebanyak 1-2 bungkus. Ia juga punya hobi yang sedikit banyak menyerempet-nyerempet bahaya. Dalam benakku dulu aku sempat berpikir bahwa mungkin kebiasaan merokoknya lah yang akan menyebabkan akibat buruk baginya. Namun tidak. Ia meninggal akibat kecelakaan yang sama sekali bukan merupakan kesalahannya. Ia meninggal karena pesawat terbang yang ditumpanginya menabrak gunung di tengah cuaca buruk.
Panjang pendeknya umur juga bukan jaminan untuk mendapat tempat yang lebih baik di hari kemudian. Semakin panjang karunia umur kita, semakin panjang dan banyak pula cobaan yang akan diberikan Allah pada kita. Adalah pilihan kita sendiri untuk menggunakan kesempatan umur itu. Jalan kebaikan terbuka lebar, namun jalan keburukan juga banyak. Umur panjang-pendek itu relatif.




3 comments
Comments feed for this article
6 Nopember 2006 pada 12:53 am
Deni Triwardana
Yup… Umur, Rizki, dan mati hanya Allah yang menentukan, yang memberikan, gimana?
6 Nopember 2006 pada 7:25 am
Hari Sudibyo
Taqobalallahu minna wa minkum
Yach terlambat dech…
yang penting niatnya dech…
14 Februari 2008 pada 9:51 am
imam mulyadi
Lahir,Rejeki,Jodoh,Mati semua rahasia ILAHI……betul!!!!??????