Setelah sempat presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Martti Ahtisaari dari Finlandia, dan Gareth Evans dari Australia diisukan menjadi kandidat pemenang hadiah Nobel perdamaian tahun 2006, Nobel Foundation akhirnya memberikan penghargaan itu pada Muhammad Yunus dan Grameen Bank dari Bangladesh.

Tidak lama selepas menyelesaikan pendidikannya di Vanderbilt University di Amerika Serikat, Muhammad Yunus kembali ke negeri tanah kelahirannya di Bangladesh dan bergabung dengan University of Chittagong. Sebuah penelitian yang dilakukannya dalam bidang ekonomi pedesaan menjadi titik awal diluncurkannya sebuah proyek kredit mikro untuk kaum miskin pedesaan. Proyek ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat dan kemudian diformalkan menjadi sebuah institusi legal yang bernama Grameen Bank. “Grameen” dalam bahasa Bangla berarti “desa” atau “pedesaan”.

Muhammad Yunus dan Grameen Bank-nya telah berhasil membuktikan bahwa gerakan nyata untuk mendayagunakan ekonomi masyarakat bawah bisa berjalan. Salah satu ciri unik Grameen Bank adalah pola pemberian kreditnya yang disandarkan pada pembentukan kelompok kecil penerima kredit. Satu kelompok terdiri dari lima orang yang saling bantu dan mengawasi dalam proses income generating ini. Hanya dua orang dari mereka yang diperkenankan meminta kredit dari bank, dan jika mereka tidak bermasalah dalam pengembalian kreditnya, dua orang lainnya dalam kelompok boleh ikut meminjam, dan jika semua sukses si orang kelima bisa mengajukan kredit pada bank.

Diantara kriteria pemberian modal yang dianut oleh Grameen Bank adalah bahwa kredit pada masyarakat miskin pedesaan diberikan tanpa perlunya agunan atau penjaminan, kredit digunakan untuk aktifitas yang mendatangkan penghasilan (income generating), adanya pengawasan dan bimbingan ketat dari pihak bank, serta transparansi pada pengelolaan banknya.

Permodalan Grameen Bank hampir semua dimiliki oleh para kreditornya sendiri dan hanya sebagian kecil (6%) dimiliki oleh pemerintah Bangladesh. Saat ini operasional mereka dibiayai dari hasil pemutaran kredit dan sama sekali tidak tergantung dari pinjaman atau bantuan dari pihak lain.

Upaya yang dilakukan Muhammad Yunus dan Grameen Bank ini ternyata berkembang pesat dengan mempunyai 2.226 kantor cabang dan beroperasi di lebih dari 71.000 desa di Bangladesh. Jumlah peminjam kredit mencapai 6.6 juta orang, dan yang sangat menarik adalah bahwa 97% diantara peminjam adalah perempuan.

Perempuan secara tidak disengaja menjadi ujung tombak penerima kredit Grameen Bank. Dengan nilai kredit yang tidak terlalu besar, perempuan pedesaan Bangladesh yang secara tradisional tidak terlalu banyak berkontribusi ekonomi dapat mencoba menumbuhkan usaha-usaha kecil yang menghasilkan uang. Dukungan moral dari sesama anggota kelompok peminjam menjadi pemacu pengembalian kredit secara disiplin. Hanya sebagian kecil dari kreditor yang gagal mengembalikan kredit, sebagian besar (98.85%) mengembalikannya secara penuh tepat pada waktunya.

Lalu mengapa Nobel Foundation memberikan hadiah perdamaian pada sebuah lembaga Micro Finance dan sang pendirinya? Menurut The Nobel Foundation, mereka mendapat hadiah “for their efforts to create economic and social development from below”, karena pembangunan sosial dan ekonomi yang dilakukan dari bawah.

Perdamaian dunia yang sejati tidak akan bisa dicapai tanpa kemampuan masyarakat dunia keluar dari jerat kemiskinan. Pembangunan dari bawah juga dapat meningkatkan kualitas proses demokratisasi dan hak asasi manusia.

Lebih lanjut, Muhammad Yunus dan Grameen Bank menjadi pemecah mata rantai lingkaran setan yang diciptakan antara kemiskinan dan permodalan. Dukungan anggota kelompok dalam proses peminjaman kredit menjadi pengganti perlunya agunan di Grameen Bank. Dalam praktek ekonomi kapitalisme yang umum berlaku, setiap peminjam kredit harus mempunyai sejumlah agunan sebagai jaminan bagi bank. Dengan adanya syarat ini rakyat miskin yang tidak punya apa-apa tidak mungkin mendapat kesempatan mendapatkan modal dalam upayanya meningkatkan penghasilan. Keberhasilan Grameen Bank menjadi nilai tambah yang patut diambil bahan pelajarannya oleh banyak pihak.

Women empowerment yang secara tidak langsung dilakukan oleh Grameen Bank juga menjadi kunci keberhasilannya. Perempuan miskin pedesaan yang sebelumnya dianggap inferior dalam pembangunan ekonomi dan sosial mendapat kesempatan untuk turut berkiprah secara mandiri.

Upaya peningkatan ekonomi pedesaan bila berhasil dilakukan pada skala yang besar seperti dilakukan oleh Grameen Bank juga bisa meningkatkan kondisi ekonomi negara. Diperkirakan 1.1% dari GDP Bangladesh merupakan nilai tambah dari seluruh aktifitas Grameen Bank.

Keberhasilan Grameen Bank di Bangladesh ini selayaknya menjadi bahan pembelajaran bagi kita. Selama ini yang menjadi fokus pembangunan adalah bagaimana menarik modal asing dan seakan melupakan potensi ekonomi kaum miskin pedesaan di Indonesia. Mengingat 65% penduduk Indonesia tinggal di pedesaan, mereka tidak selayaknya menjadi kelompok yang dilupakan dalam upaya meningkatkan perekonomian Indonesia. Sudah lama mereka dilupakan dan sudah saatnya mereka dibantu untuk bangun.

Berbagai upaya harus kita coba lakukan, dengan tidak perlu menunggu umpan dari pemerintah untuk melakukannya. Muhammad Yunus awalnya melakukannya sendiri. Upaya itu juga harus nyata, dan tidak hanya tinggal menjadi kata-kata cantik di berbagai paper dan laporan ilmiah. Mari kita tidak kalah dari Muhammad Yunus dan Grameen Bank.