The Times, sebuah harian terkemuka di Inggris, beberapa hari yang lalu (05/10/06) mengeluarkan rangking 200 perguruan tinggi terkemuka di dunia. Seperti sudah diduga, perguruan tinggi dengan nama besar menduduki peringkat-peringkat atas. Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika menduduki peringkat pertama dan kedua. Peringkat ketiga dan keempat diduduki oleh Cambridge dan Oxford University di Inggris. Selanjutnya perguruan-perguruan tinggi di benua Amerika Utara, Eropa, dan Australia mendominasi keseluruhan daftar itu.
Beijing University di Cina yang diapit erat oleh Tokyo University di Jepang adalah wakil tertinggi perguruan tinggi dari benua Asia yang menduduki perigkat 15 dan 16 besar. Dari negara-negara yang ada di sekitar kita, National University of Singapore (NUS), menduduki peringkat ke 22 dan Nanyang Technological University (NTU) di peringkat ke 48. Chulalongkor University masih sanggup menempati posisi nomor 121 dunia sedangkan wakil dari negeri saudara dekat kita Malaysia adalah Malaya University di rangking ke 169.
Mungkin kita tidak terkejut kalau tidak bisa menemukan satu pun perguruan tinggi dari Indonesia yang bisa menembus peringkat 200 besar dunia.
Ada beberapa kriteria yang digunakan oleh penyusun daftar ini. Kriteria paling penting dengan bobot 40% adalah penilaian berupa ‘peer review’ dari 2375 akademisi dari seluruh dunia. Para akhli dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia masing-masing mendapat jatah hampir 1/3 dari keseluruhan reviewer tersebut, sedangkan sisanya dijatahkan untuk akhli dari Afrika dan Amerika Latin.
Kriteria penting berikutnya adalah jumlah kutipan tulisan di jurnal ilmiah internasional per staf akademik dan rasio staf akademik dibanding mahasiswa dengan bobot masing-masing 20%. Sisa pembobotan lainya adalah penilaian dari perusahaan atau institusi perekrut lulusan, serta jumlah mahasiswa dan staf akademik yang berasal dari luar negeri.
Menilik kriteria utama berupa penilaian dari akademisi lain di seluruh dunia, tidak ada satupun institusi dari Indonesia yang dipandang bahkan dengan sebelah mata oleh mereka. Nama perguruan-perguruan tinggi besar di Indonesia ternyata belum masuk dalam khasanah pemikiran para akademisi dunia.
Hal yang juga menarik adalah bahwa ternyata fasilitas gedung yang megah, halaman parkir yang luas, serta jumlah komputer yang tersedia bukanlah kriteria yang patut dijadikan pedoman baiknya mutu sebuah pendidikan tinggi. Persepsi dikalangan kaum akademis sendiri ditambah dengan mutu produk yang dihasilkan (yang diukur dengan jumlah kutipan jurnal internasional dan rasio dosen-mahasiswa) adalah hal yang terpenting. Selama ini banyak orang menganggap bahwa perguruan tinggi dengan gedung yang megah merupakan indikator utama mutu sebuah institusi pendidikan.
Lalu bagaimana perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih meningkatkan gengsinya di mata internasional? Ada dua hal yang merupakan kunci jawabannya.
Upaya peningkatan riset dan diseminasi hasilnya adalah jawaban utama.
Selama ini, sudah banyak perguruan tinggi di Indonesia yang mendengung-dengungkan pentingya riset pada kehidupan sebuah perguruan tinggi. Hanya sayangnya sebagian besar hal ini hanya tinggal sebatas jargon belaka yang belum banyak buah nyatanya.
Persepsi kalangan akademik dunia terhadap perguruan tinggi di Indonesia bisa berubah bila mereka bisa lebih sering membaca produk riset berupa laporan hasil penelitian, review, pandangan, argumentasi, atau kritik ilmiah yang dituliskan pada berbagai jurnal-jurnal ilmiah internasional.
Tentu saja ini membutuhkan upaya peningkatan kemampuan staf akademis dalam melakukan penelitian secara baik pada bidang-bidang yang strategis dan penting. Disamping itu, hasil penelitian yang brilian tidak akan bernilai apa-apa jika tidak dideseminasi dengan baik melalui tulisan-tulisan ilmiah. Ketidakmampuan menulis utamanya dalam bahasa Inggris menjadi hambatan utama dalam hal ini.
Peningkatan upaya riset tentu membutuhkan sumber daya finansial untuk mendukungnya. Perguruan tinggi bisa mencoba bermitra dengan perusahaan serta institusi baik dari dalam maupun luar negeri untuk bekerja sama dalam melakukan penelitian yang hasilnya berguna bagi kedua pihak. Pemerintah juga seyogyanya ikut membantu dengan mengalokasikan lebih banyak dana penelitian yang bisa diperebutkan oleh perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dalam bentuk dana hibah penelitian atau sejenisnya.
Hal kedua yang patut mendapat adalah peningkatan kualitas pendidikan.
Selama ini ditengarai banyak perguruan tinggi yang mendahulukan kuantitas daripada kualitas pendidikan. Hal ini mungkin patut dimaklumi karena banyak perguruan tinggi yang mengedepankan kemampuan mereka untuk survive dulu dengan mencari pemasukan sebanyak-banyaknya dari SPP mahasiswa. Demikian pula dengan beberapa perguruan tinggi negeri yang berubah statusnya menjadi BHMN, dimana mereka dituntut untuk dapat mandiri dalam mengelola keuangannya.
Dengan meningkatkan kualitas pendidikan, lulusan perguruan tinggi pun akan lebih mudah dilirik oleh perusahaan-perusahaan serta institusi-institusi ternama yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan reputasi perguruan tinggi di Indonesia.
Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan? Tentu saja faktor pendukung seperti gedung, fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan, dan manajemen pendidikan merupakan hal penting yang harus selalu dicoba ditingkatkan kualitasnya. Namun hal yang paling utama adalah ketersediaan sumber daya manusia berupa staf akademis yang qualified dan berkomitmen. Kemampuan perguruan tinggi untuk menarik dan mempertahankan staf akademis yang berkualitas adalah kuncinya.
Hasil-hasil riset yang telah dikemukakan diatas dapat dijadikan amunisi yang kuat sebagai bekal peningkatan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan riset menjadi hal yang saling mendukung dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara umum.
Meningkatkan riset dan kualitas pendidikan ini adalah kunci agar perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih kompetitif di mata internasional. Suatu perjuangan berat yang tidak mudah namun tetap harus dimulai bagaimanapun juga beratnya.
Hayo UI, ITB, UGM, ITS, dan semuanya… kemana kamu?




86 comments
Comments feed for this article
6 Oktober 2006 pada 5:55 pm
Hari Sudibyo
AMIKOM Yogya kok ga disebutkan…
Maklum kampus swasta, ga terkenal siih
25 Oktober 2006 pada 2:32 pm
Tom
Wah mas, gak baca yang bagian biomedicine nya ya? disitu, urutan ke 73 itu ada UGM. Wah, meski saya alumnus UI, bukan UGM, tetep seneng melihat ada nama Indonesia diantara 100 top univ di dunia…heheheh…
28 Oktober 2006 pada 3:27 am
danasatriya
Hmm.. Pentingkah yang namanya rating. Standarnya saja simpang siur.. Mau ngebandingin antara satu uni dengan uni lain di Indonesia saja susah. Palingan standar yang dipake adalah passing grade SPMB
Hayo UI, ITB, UGM, ITS, dan semuanya… kemana kamu? -> masi banyak universitas selain ini di Indonesia, tapi saya heran karena universitas2 ini tidak mengalami peningkatan, sedangkan universitas swasta mulai melejit..
31 Oktober 2006 pada 9:06 am
Abdullah Koro
IMHO, bagaimana PTN-PTN seperti UI ITB dll mau berprestasi, wong pemerintah kita saja mensubsidi kecil sekali untuk kebutuhan universitas-universitas tsb. Sebagai perbandingan, kira2 UI butuh anggaran 300 milyar setahun dan pemerintah hanya beri subsidi sekitar 20-30 milyar. Sisanya mereka harus cari sendiri. Akhirnya ya mereka kejar banyak mahasiswa, kualitas menurun, dosen dituntut banyak mengajar dll.. dll… Ujung2nya akan seperti lingkaran setan. Pemerintah seharusnya subsidi penuh….
31 Oktober 2006 pada 9:57 am
Dono Widiatmoko
Saya pun ‘berasal’ dari lingkungan PTN di Indonesia. PTN-PTN besar milik pemerintah seperti UI, ITB, UGM menurut saya sudah cukup mendapat ‘endowment’ berupa tanah, gedung, fasilitas, dan - ini yang paling penting - nama yang sudah besar di Indonesia.
Kalau mengharapkan subsidi terus dari pemerintah, pertama itu tidak fair dengan PT-PT lain (yg endowmentnya mungkin tidak sebesar mereka), kedua tidak memacu iklim kompetisi menghasilkan output yang baik, ketiga tidak ada jaminan juga akan lebih baik.
Menurut saya yang lebih tepat adalah subsidi tidak langsung yang diberikan berupa beasiswa pemerintah kepada calon mahasiswa yang tepat, dan si mahasiswa boleh memilih untuk menggunakan beasiswanya tersebut di universitas yang dia pilih (dan diterima).
ohya, untuk mas Tom:
Saya memang kelewatan melihat rangking subyek spesifik dimana UGM masuk ke dalam rangking. Yang saya lihat hanya rangking overall-nya saja, dimana tidak ada satupun universitas di Indonesia yang masuk ke dalamnya.
1 Nopember 2006 pada 2:05 pm
danasatriya
standar peringkat yang tinggi justru mengharuskan sebuah universitas untuk menaikkan uang masuk dan spp nya (ini menurut sebuah forum yang saya baca, tapi lupa forum apa :roll
3 Nopember 2006 pada 4:27 am
MABA UGM
Ah masa sih, liat aja di situs2 koran terkemuka di indonesia dan majalah TIMES edisi OKtober 2006. Satu2nya Universitas yang bisa masuk 100 besar dunia ya hanya UGM(bukan nyombong lo, tapi Fakta).Meraih 3 Kategori dalam bidang Ilmu sosial(47 dunia), Biomedik(73 DUNIA)/Mengalahkan MALAYSIA(95 Dunia), dan ilmu budaya dan humaniora(70 dunia), telah menempatkan UGM sebagai salah satu PT Elit Dunia, mengalahkan saingannya di Indonesia sendiri. Selain itu UGM juga menempati peringkat Pertama di Asia Tenggara dalam standarisasi mutu, diikuti dengan Chulalongkor University Thailand. Makanya mau kuliah di negeri sendiri dan berkualitas Internasional?Hmmm kayanya retoris bgt ya, UGM pastinya.
3 Nopember 2006 pada 4:34 am
MABA UGM
Satu lagi ya, kayanya hampir mustahil PT Dunia menembus 30 Besar dunia, kalau anggaran pendidikan 20 persen masih ngalu ngidul, PT bermutu dijadikan PT BHMN yang malah menjadikan rakyat kecil yang cerdas sulit untuk masuk, dan satu lagi kalo mau kaya Tokyo University yang masuk peringkat 16 Dunia kayanya mikir2 lagi deh, Sanggup gak ya Rakyat Kita Kuliah dengan uang masuknya saja kurang lebih 600 juta, ditambah biaya lainnya. IT yang memadai ditengah SDM yang terbatas, Pemerintah yang korup, dan sikap mental bangsa Indonesia yang malas. Hmmm Gimana ya?
3 Nopember 2006 pada 6:25 am
Dono Widiatmoko
Memang Betul UGM dapat menelusup masuk ke rangking tersebut, pada bidang-bidang yang spesifik (Ilmu sosial, budaya dan humaniora, biomedik). Sewaktu tulisan ini dibuat saya hanya melihat rangking overall 200 perguruan tinggi di dunia.
Dari informasi yang saya dapat lebih lanjut, UI sebenarnya masuk rangking 250 dunia, ITB 258, UGM 270, dan UNDIP 495. Silahkan cari tahu sendiri di: http://www.topuniversities.com yang sumber datanya sama dengan yang dipublikasikan oleh The Times tsb (The Times hanya mempublikasikan the TOP 200).
3 Nopember 2006 pada 1:04 pm
IMW
PTN kebanyakan di-subsidi gimana mau maju hi hi hi hi …
6 Nopember 2006 pada 6:21 am
putut purwandono
Terus terang saya heran UGM bisa masuk 100 besar untuk tiga kategori ilmu (Social, Art&Humanities, dan Biomedicine), tapi ya itulah fakta yang ada. Bangga? Jelas donk, apalagi saya sebagai mahasiswa FE UGM (masuk kategori Social Science) bisa masuk no.47. Wah, tinggal science and technology nich yang belum masuk, gimana kalo Fak.Teknik ITB gabung ma kita plus MIPAnya juga, biar UGM bisa segera masuk Top 200 World Universities. Ide gila sich, kalo yang pengin agak waras ya marilah kita semua segenap civitas akademika UGM bekerja keras biar bisa masuk overall category. Tapi, rekor nggak akan berguna apa-apa jika kita tidak bisa meningkatkan derajat, martabat dan kualitas bangsa kita.
UI,ITB,ITS dll ayo kita bangun bersama negeri ini, PTS juga ikut sumbangsih ya. Jangan kerjaannya cuman ngedrugs, mabok, main cewek. Buat Pak SBY, mbok anggaran pendidikannya ditambahi, apalagi buat UGM, kemahalan nich biaya semesterannya.
10 Nopember 2006 pada 10:38 am
alde
Salut buat UGM!! tapi masuknya UGM dalam jajaran univ kelas dunia dalm bidang spesifik bukanlah cerminan bahwa pendidikan di Indonesia telah maju. Bolehlah kita bangga karena salah satu institusi pendidikan tinggi Indonesia di akui oleh dunia internasional. Lantas buat apa? cuma bangga-banggaan? boleh… tapi yang lebih penting adalah bagaimana bangsa ini mampu meningkatkan kualitas pendidikannya secara total. Bukan hanya “…nih saya kuliah di UGM universitas kelas dunia, saya mahasiswa UI universitas hebat…, saya ITB tempat belajarnya orang-orang pinter (Institut Top Banget)….” ga apa-apa semuanya merasa yang terbaik, tapi jangan berantem ya. Soalnya saya pernah baca satu komentar mahasiswa dari salah satu PTN “terbaik” UGM msk peringkat dunia adalah kabar buruk bagi PTNnya katanya. Wah, bukannya saling mendukung.
Marilah kita bangun negeri ini bersama-sama salah satunya dengan cara peningkatan kualitas pendidikan. Saya rasa yang paling sulit diajak kerja sama adalah Pemerintah. Ayo pemerintah jangan pelit2 dengan anggaran pendidikan!
10 Nopember 2006 pada 11:35 am
nanang
Alde “……Soalnya saya pernah baca satu komentar mahasiswa dari salah satu PTN “terbaik” UGM msk peringkat dunia adalah kabar buruk bagi PTNnya katanya….”>>>>>>hmmm…seru juga .seneng juga kalau masih ada pihak yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan.kalau ada saling sikut antar PTN..ya memang gitu faktanya.narsis.saya sebagai salah satu staf di ugm si cuek aja.jalan terus….ga nyenggol2 yang lain.huehehehehehe!
12 Nopember 2006 pada 2:59 pm
alde
pemberitaan UGM masuk peringkat dunia kayaknya heboh juga, yang UGM pastinya kegirangan (sebagian), pesaing deketnya UGM cemberut (sebagian), ada yang meragukan validitas survey itu dengan berbagai macam komentar dan alasan. Ada yang jelas2 ga terima dengan hasil surveynya “Times” soalnya PTN dia ga diikutkan dalam survey. hehehe… lucu juga.
Oke, silahkan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik!! bagoosss…
Buktikan bangsa kita bisa bersaing tanpa sikut-sikutan.
21 Nopember 2006 pada 6:20 am
Pong
Yah…mau gimana lagi, Indonesia sih! masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan, biaya pendidikan mahal, orang lebih senang cari uang daripada membaca buku. Buku yang dibaca juga masih jauh dari mendidik, akhirnya kalau mau ujian jadi cemas, tidak percaya diri, nilai yang didapat sama dengan nilai teman di sebelah kanan, kiri, depan, belakang. Masih mending kalau nilainya tidak sama dengan teman yang duduk di pojok depan. Kalau mau cari beasiswa untuk lanjut kuliah ke pendidikan tinggi yang bermutu, susahnya minta ampun. Waktu kuliah, dosen sama mahasiswa sama-sama malas, ditambah iklim tropis yang menambah kecenderungan orang untuk lebih senang mencari es putar daripada duduk kuliah, dengan alasan ngantuk. Kalo begini, apa yang bisa diharapkan?
21 Nopember 2006 pada 8:05 am
deden ganjar permana
hidup IPB, hidup pertanian indonesia
salah satu perguruan tinggi yang berkompeten dalam bidang pertanian adalah institut pertanian bogor yang memang memiliki andalan dalam bidang pertanian. kita mesti tahu bahwa PTN ini tidak direkomendasikan sebagai perguruan tinggi yang dapat bersaing dengan PT lain di asia atau bahkan dunia. padahal IPB sendiri sangat maju pesat dalam pengembangan risetnya. selain itu salah satu keunggulan ipb adalah memiliki fakultas terbaik asia tenggara yaitu fakultas kedokteran hewan terbaik asia. tidak hanya UI, ITB,UGM atau ITS saja yang bisa menyaingi universitas lain di dunia tapi IPB juga bisa, apalagi dibidang pertanian yang memang selalu dibutuhkan oleh manusia menjadikan IPB sebagai PTN yang benar-benar memikul amanah yang besar dalam mensejahterakan indonesia bahkan dunia, jadi maju terus IPB. hidup petani, hidup nelayan ,hidup peternak, hidup petani hutan, hidup mahasiswa ,hidup indonesia ,hidup IPB……………..
2 Desember 2006 pada 9:46 am
alde
Iya lah… gue tau sedikit IPB spt apa. kita lihat saja para alumninya. Bapak dan kakak saya alumni IPB, kata bapak saya waktu jaman beliau kuliah dulu orang masuk IPB itu terhitung hebatlah. Kalo mau masuk Deptan atau Dephut pasti diterima. Tapi beliau dan beberapa temannya malah keluar dari Deptan saat sebuah BUMN perkebunan merekrut mereka. Alasannya di BUMN gajinya jauh lebih tinggi (siapa yang dibela?). Kakak saya sekarang mana mau mengabdikan ilmu pertaniannya buat masyarakat. Malah keluar dari PNS katanya gajinya kecil, ehh.. ternyata gabung di perusahaan makanan swasta punya amrik (Membela petani?). Contoh kecil tuh.. teman2 yang lain.. ada dechh, pokoknya ga jauh beda. Malah kebanyakan jadi wirausaha, malah ilmu pertanian yang katanya top itu ga di pake. Yang saya tau alumni IPB itu kebanyakan kreatif, tapi kalo sumbangsihnya terhadap kemajuan pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, dll di Indonesia bahkan dunia masih jadi tanda tanya tuh! Kapan kita bisa ekspor beras dan kedele? Gimana kualitas teh kita di pasar dunia?menurun kan? Apa benar pertanian kita udah maju? mana sumbangsih IPB?
Kalo mau lihat mana PTN yang sebetulnya benar2 terbaik, benar2 unggul maka kita lihat saja para alumninya. Ga cuma menghasilkan orang2 pinter, tapi juga orang2 yg punya rasa tanggung jawab untuk memajukan bagsa Indonesia memalui ilmu yang ia punya, bukan hanya memperkaya diri sendiri. Lihat tuh para petinggi beberapa BUMN kebanyakan alumni ITB, UGM, UI, ITS, IPB.. ehm mana sih BUMN yang bebas dari kasus korupsi? di Pemerintahan juga ga jauh beda. mana PTN kelas dunia? mana PTN terbaik? Mana PTN yang suka membela rakyat?
3 Desember 2006 pada 11:20 am
aang
Gw cma tw dikit masalah….tecknologi.Sebetulnya gw ingin bgt INDONESIA “merdeka KY negara2 laen.dlm hal ya tecknology tu td broo….!!!!!wey bagi loe2 semua yang pengen majuin negara ini yo kita sama2…horas hayu barudak kabeh
16 Desember 2006 pada 3:33 am
Hadi
Kenyataanya secara individual para akdemisi kita masih mampu bersaing ditataran global. Namun gaji para akademisi kita sama dengan gaji standard buruh yang paling rendah di Malaysia, sungguh memprihatinkan.
Saya seorang Dosen Universitas Jambi, mencoba bertahan dengan Idealisme, hidup melarat, rumah tak punya, akhirnya saya menyerah. Dikantor, meja, komputer untuk dosen tidak ada.
Sekarang saya belajar di Malaysia dan berkerja sebagai Research Assistance, ternyata menjadi research assitence jauh lebih baik daripada jadi dosen di Indonesia. Saya bisa beli laptop, dan buku. Di Indonesia saya hanya mampu beli Dekstop Pentium 1 second hand. Bahkan menjadi mahasiswa di Malaysia kita dilayani dengan sangat baik. Jauh lebih baik daripada jadi Dosen di Indonesia.
Malaysia bukanlah negeri yang amat kaya. Akan tetapi mereka mempunyai managament dan system yang bagus dan bersih.
Komitmen pemerintah untuk meningkatkan qualitas pendidikan di Indonesia masih jauh dari yang apa diharapkan.
Oleh karena itu, komitmen, mangemen dan sistem yang baik benar-benar diperlukan untuk mengatur pendidikan di Indonesia.
17 Desember 2006 pada 9:01 am
adit
gw anak meisn itb. jujur aj gw salut banget ama ugm bisa masuk 50 besar dunia. gw juga berharap teknik ITB juga bisa kayak gt (walaupun masih berat tampaknya) tp we’ll see lah
17 Desember 2006 pada 10:42 am
dimas
Mengutip penyataan sdr Hadi: Saya seorang Dosen Universitas Jambi, mencoba bertahan dengan Idealisme, hidup melarat, rumah tak punya, akhirnya saya menyerah. Dikantor, meja, komputer untuk dosen tidak ada.
Mungkin pernyataan anda tidak sepenuhnya mewakili kondisi kesejahteraan para akademisi di Indonesia. mungkin maksud anda adalah kondisi di tempat dimana Anda pernah menjadi dosen. Sebab di lingkungan ITB tempat saya pernah kuliah, disana pelayanan bagi dosen sangat baik, begitu pula layanan bagi para mahasiswa. Jangan bahas mengenai gaji standar, bagi dosen PTN jelas yang berlaku adalah gaji sebagai PNS. jangan bandingkan dengan Malaysia. Secara ekonomi mereka jelas lebih maju. Saya kurang paham dengan istilah idealisme yang anda maksud. Ternyata cukup banyak dosen atau akademisi yang mempunyai dedikasi yang kuat terhadap pendidikan namun mereka hidup makmur di Indonesia dan mereka puas dengan profesinya sebagai akademisi.
Pemerintah tampaknya kurang begitu berminat menaikkan kualitas pendidikan bangsa ini. Saya salut denga perjuangan beberapa PTN top di Indonesia yang sudah mulai berbenah meningkatkan kualitas pendidikannya. Lihat hasil yang telah di capai UGM mendapat pengakuan internasional meskipun baru tiga bidang keilmuan. Meskipun dalam tataran Internasional belum begitu membanggakan, namun hasil yang telah di capai sungguh luar biasa. Mengingat daya dukung pemerintah kita yang sangat rendah. Bravo buat UI, IPB, ITB, Undip, UGM.
19 Desember 2006 pada 7:01 pm
Dono Widiatmoko
Insya Allah saya akan posting lagi beberapa isu yang menyangkut pendidikan, dan pengajaran di Indonesia (dan juga di UK).
26 Desember 2006 pada 5:22 pm
dimas-IPB
Yang harus diperhatikan adalah seberapa besar idealisme mahasiswa2 dan mampukah itu bertahan sampai kelak lulus..?seperti yang kita ketahui, bahwa petinggi2 yang ada di Indonesia adalah lulusan2 universitas2 yang kalian banyak sebutkan bukan?….tidak mungkin pada saat mereka kuliah dulu mereka tidak memiliki idealisme untuk memajukan dan mensejahterakan indonesia…..pasti rasa itu ada…tetapi banyak sekali hal yang membuat orang berubah…entah itu faktor ekonomi maupun sosial (mengutip komentar seseorang yang mengatakan bahwa lulusan IPB kurang memberikan sumbangsih terhadap pertanian Indonesia…)….peliharalah terus idealisme yang kalian tanamkan dalam diri kalian sebagai seorang mahasiswa yang disubsidi oleh rakyat sehingga biaya pendidikan yang kita peroleh di universitas tidak terlampau mahal…..(berikanlah sesuatu yang berharga bagi bangsamu….)..hidup pendidikan Indonesia……
10 Januari 2007 pada 5:03 am
andi
#maba UGM
tuh kan, emang standar simpang siur.. kemaren di biometrik internasional, malah satu2 nya dari Indonesia yang masuk adalah ITB.. UGM kaga masuk, baunya aja ga ada.. (jangan2 minggu depan ada publikasi dari badan internasional yang bilang ITENAS masuk 100 besar dunia
-> no offense )
10 Januari 2007 pada 5:07 am
andi
#maba UGM
lagian , mutu lulusan PTN jauh lebih buruk daripada lulusan universitas swasta.. Kalah di fasilitas, tapi membanggakan peringkat dan kejayaan masa lalu ( I mean, masa gara2 lulusannya yang sukses segelintir saja, UGM sudah melahirkan mahasiswa2 baru seperti mas #maba UGM ini yang masa depannya aja belum tentu jelas begitu lulus dan harus bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lain
)
13 Januari 2007 pada 2:05 pm
gre
Bagaimana kalo lulusan UI,ITB,UGM,IPB, dan univ2 top dalam negeri kerja di luar negeri saja. Seperti Pak Dono ini
Daripada cuma jago kandang..Masa Indonesia cuma bisa ekspor pembokat doang?
19 Januari 2007 pada 5:45 pm
Abdul Muhtadin
gimana PT Indonesia bisa bersaing dengan PT-nya luar negeri, PT negeri yang unggulan aja lebih senang bersaing di dlm negeri kok ketimbang memikirkan bagaimana caranya “go international” dan dana subsidi buat pendidikan dari pemerintahnya pun sedikit (dan dari yang sedikit itu dikorup lagi) bahkan orang-orang elite politik sibuk memikirkan bagaimana caranya agar gaji saya per bulan naik. maka hanyalah mimpi belaka jika PT Indonesia bisa menjadi favorit luar negeri jika moral kaum akademisi yang sudah dapat jabatan (elit politik) menggunaan otaknya hanya untuk korupsi, pesta narkoba, pesta sex, bahkan sibuk mencari istri baru.
31 Januari 2007 pada 2:56 am
Wiro
Salam Sejahtera,
Salam kenal buat semua, dengan maraknya pembicaraan mengenai rangking Universitas Terkemuka di dunia. Saya memohon sedikit bantuan buat pembaca sekalian. Yaitu, mengenai kriteria dan prosedur serta acuan-acuan yang bisa diikuti untuk dapat masuk menjadi World Class University. Komentar dan saran bisa dikirim ke email pjm-ub@brawijaya.ac.id
Terima kasih
9 Maret 2007 pada 6:54 am
CaMara
yah gw rada miris ko IPB ga dimasukin dalam rekomendasi sebagai perguruan tinggi yang bisa bersaing secara internasional padahal kualitas dan kemampuan dari para mahasiswanya oke-oke loh..
buktinya aja peserta lomba PPKM-Pemikiran Kritis pesertanya terbanyak dari IPB..
dan juara bertahan mulu lo di ajang ini..
makanya banyak yang ga suka sama IPB..pengen ngejatohin dengan cara2 licik buktinya aja di lomba PPKM yang kemaren..huHH..bener2 ga fair..tapi sudah lah…
dan kenapa sih..orang2 pada bilang mana IPB ko ga berkarya di bidang pertanian???
HEloooo…….
ya ampyun APBN di Indonesia aja, pertanian cuma dianggarin 3% doang..
yah gimana mau maju pertanian kita..
wong dikit amat mestinya kita berkaca sama negara2 maju..
kaya amerika walaupun bukan negara agraris tapi pertaniannya cukup maju..
perhatiin deh…smua megara maju pasti pertaniannya maju..ko bisa??
ya bisalah wong dianggarkannya gede ko minimal 25% dari anngaran belanjanya..ya kita Indonesia..malah sibuk naikin gaji anggota DPR,jalan2 ke luar negeri..
so udah deh jangan nyalahin IPB mulu..pemerintah tuh yang bener aja kerjanya ko anggaran pertanian da pendidikan kecil amat…
9 Maret 2007 pada 8:05 am
Dono Widiatmoko
Mohon maaf saya tidak menyebutkan IPB, Unhas, USU, Trisakti, dll dalam tulisan saya. Tentu masing-masing institusi punya kekuatan dan keunggulan di bidang-bidang masing-masing.
Tentang anggaran bidang pertanian, ini repot. Setiap bidang bilang bidangnyalah yang penting dan harus diberi alokasi anggaran yang lebih. Nyatanya, bidang pendidikan yang sudah dipatok harus dikasih 20% saja dalam amandemen UUD sampai saat ini masih jauh dari kenyataan.
Jadi, mungkin lebih baik kita nggak perlu berkoar-koar minta anggaran lebih, lebih baik buktikan dengan prestasi insya Allah nanti income mengikuti….
19 Maret 2007 pada 2:19 pm
Darmo_gandul
Mungkin ada beberapa standart yang digunakan, namun beberapa standart tersebut tidak disebutkan yang sangat membuat bingung pembaca..
Saya sebagai civitas akademika its merasa bahwa perguruan tinggi yang ada di Indonesia pun tidak kalah terhadap PT Luar Negeri, sebagai bukti ITS pernah menjadi ” JUARA DUNIA ABU ROBOCON 2001″ mengalahkan Universitas top lainnya di dunia, apa hal ini jtidak diperhitungkan juga………??????.
Orang luar negeri cuma menang publikasi,sebenarnya perguruan tinggi di Indonesia pun sudah cukup baik.Coba publikasi prestasi kita cukup gencar seperti luar negeri pasti peringkat kita naik.
26 Maret 2007 pada 8:15 am
arozaq
Meskipun demikian Ku salut ma Universitas Brawijaya Malang yang membuktikan Bahwa salah satu Universitas Negri di Jawa Timur masih Perlu Di perhitungkan,ini Terlihat Bahwa Universitas Brawijaya Masuk dalam jajaran Universitas terbaik se-asia tenggara urutan ke-59 diatas ITS yang berada di Urutan ke-68 ini Berdasarkan PT terbaik versi Laboratorium Cybermetrics milik CINDOC-CSIC yang bermarkas di Madrid, Spanyol
9 April 2007 pada 4:18 am
ayu
Emang si ITS menang dalam kontes robot 2001,tapi itukan tingkat Asia-pasifik,ku punya temen yang kuliah di sana katanya fasilitasnya kurang memuaskan kalah jauh ma UNIBRAW malang yangkatanya si universitas terbaik di jawarimur and ini di buktikan peringkat Universitas terbaik se-asia tenggara PT terbaik versi Laboratorium Cybermetrics milik CINDOC-CSIC yang bermarkas di Madrid, Spanyol
11 April 2007 pada 10:42 am
Berkaryalah Untuk Bangsa.. « kesetrum cinta
[...] disokong dana oleh panitia. Buat para orang2 yang merasa bangga dengan institusinya, semisal di sini, berpartisipasilah.. Saatnya tunjukkan kebanggaan kalian, bukan hanya dengan berkata saja .. [...]
13 April 2007 pada 8:50 am
adit
to ayu
dengan segala hormat
bisa di konfirmasi ulang mengenai masalah fasilitas yg kurang memuaskan ?
itu terjadi dimana ya ?
sepertinya saya salah persepsi mengenai info Anda tersebut
terima kasih
13 April 2007 pada 11:08 am
tika
mau tanya neeeh
ada yank tau situs apa yang ada info daftar passing grade masing-masing
jurusan di UNIVERSITAS NEGERI MALANG gak?
plisss kasih tau yaa
gue lagi butuuuuh banget…
thanks b4
15 April 2007 pada 7:43 am
robert
keren bgt UKDW masuk urutan 89 univ terbaik di asia tenggara,satu2nya univ swasta dr jogja n UGM.bangga dong jadi nak UKDW.g’ perlu kampus besar, kecil gini aja dah punya nama,ok.GBU
20 April 2007 pada 6:47 am
inda_ardani
walah … gara-gara rangking aja kok jadi banyak pihak yang kebakaran jenggot ya? apa gara-gara yang bikin surveinya tu the times yang udah berkelas global?
hehehe, maap ni, maklum saya kan anak-kecil-yang-baru-melihat-dunia. yah, biarpun saya salah satu mahasiswa di universitas yang disebutin di daftar itu, tetep aja rasanya kok biasa aja ya?
bangga apa? saya belum berhak merasa bangga karena saya belum ikut ambil bagian dari usaha untuk pencapaian itu.
kalo menurut saya sih, hendaknya hasil yang mereka tampilkan itu, apapun itu, bisa jadi suntikan semangat buat kita. mustinya kita terdorong untuk belajar dari mereka2 yang di atas kita, sambil menggali potensi kita sendiri supaya kita nantinya tidak hanya unggul, tapi juga berkarakter.
anggaplah hasil survey itu sebagai vitamin, bukan makanan pokok. toh, pihak yang menyurvei itu memakai standar mereka yang belum tentu reliable untuk diterapkan di negara kita dengan segala kondisinya.
Jangan juga terlalu silau dengan mereka yang di atas. Waktu saya baca Medscape Med Students Blog, dengan judul artikel Ïs Your Med School Perfect?” yang isinya curhat2an seputar keluhan2 di kampus masing-masing, ada pula anak Harvard yang mengeluh (wow, … kirain ngga ada yang kurang di sana) kalo banyak banget hal yang bisa dikomplain, salah satunya beberapa profesor yang mentang-mentang terenal jadi jarang masuk ngajar!
mulai dari yang dekat2 dulu lah, dari diri kita sendiri dulu. kalau semua mahasiswanya bisa melakukan cara-cara agar IP tinggi dengan partisipasi terhadap masyarakat yang memadai disertai dengan dukungan cukup dari pihak PT dan pemerintah, masa sih kita ngga bisa lebih melesat lagi?
idealis ya? hehehe, anggaplah ini cuma mimpi. tapi kan mimpi juga bukan berarti nggak bisa diwujudkan
24 April 2007 pada 9:29 am
Soleh Udin Al Ayubi
[No.1]
Menarik sekali apa yang disampaikan teman2…
Mengetahui poisisi (kelemahan) kita adalah modal utama kita perbaikan, artinya dengan kata lain ‘lebih penting untuk memanfaatkan ilmu daripada mencari ilmu itu sendiri’.
Kita tahu keterbatasan kita, td disebutkan oleh temen2:
1. kualitas dan kemauan pengajar
2. kualitas fasilitas
3. kualitas dan kemauan mahasiswa
4. kualitas dan kemauan pemerintah
5. kualitas dan kemauan masyarakat
Jika kita orang internal kampus maka akan sangat bersinggungan dengan nomor 1 dan 2 yang jika ditelusuri akan berkaitan dana, kualitas tinggi umumnya akan didukung dengan dana tinggi, yang pada akhirnya akan berkaitan dengan nomor 4 dan 5.
[Continued 2]
24 April 2007 pada 9:30 am
Soleh Udin Al Ayubi
[No.2]
Fasilitas
———-
Fasilitas beberapa perguruan tinggi Indonesia memang jauh dari memadai, saya sendiri adalah lulusan IF ITB (dengan 850 komputer aktif untuk kira 800 mahasiswa) merasa bahwa komputer di IF ITB masih kurang, so it’s related with distributed system. Masih banyak hal lain jg yang bisa dibahas, misal buku, jaringan internet, tempat diskusi yang nyaman, lab yang memadai, diskusi-tukar pikiran dalam lingkup nasional, dll.
Mungkin banyak kampus lain yang lebih buruk ato tidak sedikit juga yang lebih baik.
Dana
——
Dan jika kita bicara tentang anggaran maka akan ada banyak hal yang bisa diperhatikan, seperti fakta bahwa anggaran pendidikan dari pemerintah untuk pendidikan kedinasan (IPDN, STAN, Akmil, Akpol, STT Tekstil, dll yang tidak di bawah Diknas) adalah sekitar 60Trilyun sedangkan anggaran untuk 50 Perguruan Tinggi Negeri adalah sekitar 12 Trilyun.
Ketika bicara tentang kebutuhan PT, saya contohkan adalah ITB, anggaran ITB tahun 2007 (Versi Revisi) adalah 405,744 Milyar, sedangkan dana DIPA ITB (dana Pemerintah) adalah 97,467 Milyar ditambah dana dari DIPA-DIKTI (dana Diknas untuk ITB dalam bentuk PHK dan I-MHERE 8,73 Milyar) sehingga pemenuhan kebutuhan ITB oleh Pemerintah hanya sekitar 26% saja. Sisanya paling besar dipenuhi oleh kegiatan penelitian ITB (kerma pendidikan, kerma pengabdian, dan kerma penelitian) sekitar 50% dan mahasiswa sekitar 25%.
Saya tidak bisa membayangkan untuk perguruan tinggi swasta, exlude PTS mapan, yang mungkin sudah tidak bermasalah dengan dana.
Fasilitas tidak akan bisa dilepaskan dengan dana, mungkin hanya beberapa bagian kecil dan sekunder saja yang bisa disiasati, seperti hemat energi listrik, listrik ITB sekitar 12M setahun.
[Continued 3]
24 April 2007 pada 9:32 am
Soleh Udin Al Ayubi
[No.3]
Kualitas pemimpin dan strategi
————————————-
Saya merasakan selama kuliah, mengalami 2 orang rektor, dan sangat berbeda sekali apa yang saya rasakan, ada pemimpin yang visioner dan bisa menularkan visi tersebut ke orang-orang kampus, ada juga pemimpin yang adem-ayem saja.
Saya masih ingat ketika masuk kampus ITB tahun 2001, terpampang tulisan besar di gerbang kampus ITB ‘Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bangsa’, dan selama periode tersebut banyak nuansa perbaikan yang luar biasa dikampus, seperti visi kampus bersih, layanan prima, research university, dll. Dan satu hal yang sedikit kontrovesional adalah selogan rector saya waktu itu, ‘ Mhs ITB, harus pinter, gaul, dan kaya!’. It’s exited!
Lain dengan rector skrg…
Kualitas dan Kemauan Pengajar
————————————–
Yah, semua orang tahu banyak dosen pinter di Indonesia, tapi banyak yang tidak bisa jadi dosen yang baik. Banyak dosen pinter yang kepinterannya hanya di simpen di kepala, ato perpustakaan, bangsa ini belum bisa merasakan kontribusi dosen pinter tsb.
Kualitas Lulusan SMA [di bahas lain waktu aja]
—————————-
— Fyuh, saatnya ashar—
Hanya melihat dari sudut pandang yang berlainan n maap kl ga terstruktur, ada temen yang mau menambahkan ato mengoreksi?
[Continued 4]
24 April 2007 pada 9:32 am
Soleh Udin Al Ayubi
[No.4]
Dan saya sebenernya tertarik dengan kontribusi apa yang bisa diberikan oleh PT untuk bangsa ini?
Oya, ada beberapa tulisan menarik tentang kualitas dan peringkat PT di Indo.
PERINGKAT PT
http://www.thes.co.uk/
http://www.ban-pt.or.id/
http://www.kompas.com/ver1/Dikbud/0611/15/101902.htm
PENDAPAT
1. Dosen IPB
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0009/04/opini/peri04.htm
2. Dirjen Dikti
http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=198063&kat_id=13
3. Rektor Unpad
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1105/22/0302.htm
4. Mantan Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN)
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/112006/06/0901.htm
5. Blog Dosen ITB (berkaitan dengan tes masuk)
http://rahard.wordpress.com/2006/07/24/apa-esensi-tes-masuk-perguruan-tinggi/
6. Dosen ITB (tentang Research University)
http://www.itb.ac.id/focus/131
7. Renstra UGM
http://www.ugm.ac.id/
27 April 2007 pada 4:57 am
taufik
skrang ini qta jngan lihat urutan ke brapa univ qta! tpi lihatlah urutan keberapa qta di univ tempat qta kuliah. jngan2 univ qta urutan teratas, tpi qtanya urutan terahir di univ.qta! lucukan!!! urutan tersebut bukan menjadi suatu jaminan qta akan sukses jka kuliah distu!!! satu lgi ada yang tau g pak SBY itu dri univ. mana sih?????? ksih tau donk!!!!!
27 April 2007 pada 5:05 am
moh
smangat……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..!
28 April 2007 pada 6:23 pm
adi
tidak penting darimana kita datang…
yang terpenting adalah mencapai tempat tujuan!
IMHO, klo emang niat, dan punya kemauan
mw, di PTN, di PTS juga saya yakin pasti bisa…
jangan pernah kualitas dan kuantitas dari fasilitas yang ada dijadikan alasan sebagai penghambat…
tapi bagaimana menghasilkan nilai maximal dari sebuah titik minimal…
untuk menjadi pintar tidak hanya di perlukan fasilitas yang memadai, tapi juga kemauan dan keinginan untuk pintar.
tapi ada baiknya jika sudah punya keinginan tapi punya fasilitas yang bagus…
sekarang yang terpenting, bagaimana memacu diri sendiri, untuk menjadi lebih baik! bukan begitu?!
30 April 2007 pada 6:35 am
Gerald Efamuttam
Halooooooooooooo
uda2 gak usah rebut-rebutan Rangking kayaaak anak esde inpres aja,
mending lo2 tuh blajarrr,jgn banyak ngoceh,
tuh liat India kampus2nya aja uda kayak bangunan SD inpres thn 80-an
tapi jgn tanya soal kualitasnya .banyak jebolan univ India yg di pakai di pasar eropa & USA,
ok gitu dulu ya adik2 jgn ribuutt Rangking2an lagi ya ntar di marah Bu Guru
Gerald Efamuttam
1 Mei 2007 pada 10:07 am
osinaga
salam kenal mas dono, menurut saya peningkatan anggaran pendidikan adalah syarat mutlak dan bisa memiliki efek berantai yang positif..dengan anggaran besar maka riset bisa berkembang dan menambah semangat para dosen untuk meneliti / menulis di jurnal internasional dan satu lagi dengan anggaran yg cukup mungkin salah satu faktor yang perlu dilakukan adalah merekrut dosen atau minimal pimpinan (dekan/rektor) dari luar ..supaya bisa membawa paradigma baru sehingga bisa meningkatkan daya saing.
2 Mei 2007 pada 2:23 am
rozaq
ku salut ma Universitas Brawijaya malang yang katanya si Universitas terbaik se-jawa timur yang katanya passing grend terbaik SPMB 2006 jawa timur,di urutan IPA; 5 and IPS;2 and masuk Universitas terbaik se-asia tenggara PT terbaik versi Laboratorium Cybermetrics milik CINDOC-CSIC yang bermarkas di Madrid, Spanyol yang katanya si bisah kalahkan kampus ku…
2 Mei 2007 pada 7:35 am
DiditJogja » Welcome To The Jungle
[...] ngributin traffic blognya. Ah, namun hari ini Hari Pendidikan Nasional, patut dimeriahkan dengan tulisan yang [...]
3 Mei 2007 pada 8:10 am
Harry fakultas kedokteran hewan IPB
ass. saya tertarik dengan rating yang dibuat akreditasi PT dunia terhadap perguruan tiggi dunia terutama indonesia, apalagi Indonesia ada BAN PT.itu semua adalah ajang meningkatkan Kualitas dan kuantitas PT tersebut. kemungkinan besok ugm tapi kalau tidak meningkat lagi atau tidak mempertahankan maka akan diraih yang lain. saya melihat banyak orang tidak mengerti tentang pengertian pertanian secara luas yang hanya tau membajak atau mencangkul tanah untuk digarap menjadi pertanian atau sejenisnya. miris hati saya yang sekolah jauh-jauh dari kalimantan untuk mengembangkan pertanian Indonesia tapi orang indonesia pemikirannya sempit. coba lihat sekarang itu otonomi daerah terbuka selebarnya, daerah yang miskin dan tertinggal dan hanya mengandalkan SDA yang seadannya tanpa manajemen dan pengelolaan yang benar maka kan membawa kekacauan. kecuali ditangani SDM yang sesuai, saya sekolah disin (IPB red) diajari Analisis pengelolaan pertanian, ekonemi indonesia berbasis pertanian dan pengelolaan peternakan dan bidang saya untuk menjadi dokter hewan yang handal dengan mengerti permasalahan penyakit tropis pada hewan dan manusia juga lingkungan. maka saya berkesimpulan pertanian itu sangat luas walaupun orang punya spesifikasi yang berbeda tapi dpat mengelola wilayah indonesia. ini terserah orang ipb nya yang mau mengelola dari sektor mana. jadi universitas terbaik sesuai dengan kebutuhan perkembangan di negerinya (kalau indonesia yang kaya alamnya dipenuhi orang teknik, biomedik, ekonomi, atau kedokteran aja mana bisa maju). saya senang sekolah di IPB, orangnya cerdas-cerdas, dosennya suka mencari ilmu dengan asli tanpa plagiat (ada universitas termuka indonesia dosennya suka plagiat karya ilmiah kata ibu saya yang pernah sekolah disana) dan suka memberi ilmunya tanpa pandang orang, banyak pusat riset unggulan terbaik di indonesia dan Internasional, dan banyak lagi. saya tidak berbangga diri tapi itu benar. Hidup dokter hewan indonesia
4 Mei 2007 pada 4:05 am
Soleh Udin Al Ayubi
Yah, saya setuju dengan kawan2 tentang rangking, rangking bukan segalanya, tapi tentu jg ada yang berkepentingan dg rangking tersebut ya it’s OK.
Jadi inget satu iklan [gudang garam kl ga salah]. Pendidikan itu gerbang masa depan, tapi apa pendidikan itu sma dengan sekolah? Dan kadang saya jg berpikir, apa semua orang harus sekolah? harus pinter? Krn saya pikir, bukan itu alasan Tuhan menciptakan manusia.
Saya baru aja baca buku [novel] bagus tentang pendidikan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, ada yang udah pernah baca? Bisa berbagi apa yang di dapat?
Btw,
ngomong-ngomong tentang passing grade,
kan deket-deket sama SPMB ni,
saya punya passing grade SPMB ITB, the real grade, bahkan untuk masing-masing anak. Mungkin bisa bermanfaat untuk adik2nya.
Kl ada yang tertarik bisa japri ke saya (kapten_yuba@yahoo.com).
Thx.
5 Mei 2007 pada 4:24 pm
rizky anhar
indonesia seharusnya mengikuti perkembangan jaman seperti amerika. mereka mempunyai pemerintahan yang fasilitas lengkap dan mereka mengutamakan kesejahteraan masyarakatnya. lain dengan indonesia yang melarang kebebasan dari warganya seperti menjual bebas majalah-majalah terlarang seperti; majalah porno
10 Mei 2007 pada 5:39 am
rozaq
to dit
emang wong ku kuliah di ITS ya tauh! q pengen Ikut SPMB lagi end masuk di Universitas Brawijaya malang,tolong yang tau passing grade Universitas Brawijaya malang kasih tau aku nya…
17 Mei 2007 pada 11:15 am
Kyo
Sehebat apa pun PT kalian jangan lupakan rakyat kita yang masih hidup dibawah garis kemiskinan dan tidak mempunyai akses pendidikan spt kalian.
Utk kawan2 UGM jangan lupakan jatidirinya sbg universitas rakyat, yang mempunyai tanggung jawab moral utk membantu masyarakat agar hidup sejahtera. Ingat ketika Bung Karno membangun UGM dia berucap “universitas ini dibangun atas darah dan air mata utk kesejateraan rakyat”.
23 Mei 2007 pada 3:45 am
den baguse
Menurut aku survey tersebut terlalu dini kalau dibilang objektif, karena permasalahan yang ada, hegemoni barat terhadap penilaian-penilaian yang bisa dibilang sarat dengan kepentingan….dan rangking tidak usah jadi persoalan….karena pendidikan dan manfaat itu tidak hanya sebatas “tolak ukur”, yang penting sekarang bagaimana keberanian tiap elemen bangsa ini untuk bersaing …dalam hal apa saja ( jangan korupsinya doang)….
peringkat anggaplah pemacu semangat, kalao penasaran bikin aja survey berdasarkan indikator dari kita ( karena indikator survey institusi pendidikan antara bangsa yang sudah maju dengan yang masih verkembang khan beda…iya ga cing
30 Mei 2007 pada 1:44 pm
in0
tEtEp Menurut Gw UgM dan UI bakalan bisa jadi universitas terbaik di dunia,,,asalkan pemerintah indonesia betul-betul serius dan sadar bahwa pentingnya pendidikan agar sagala infrastruktur perkuliahan tidak dianggap sebelah mata. dan satu lagi yang paling gw benci dari pemerintahan di tanah air indonesia KORUPTOR DI MANA-MANA
30 Mei 2007 pada 1:47 pm
in0 cool
SEMANGAT UI, UGM, DAN UNIVERSITAS-UNIVERSITAS YANG LAIN. Supaya turut menjadi yang terbaik dalam mencerdaskan bangsa indonesia,,,MUSNAHKAN KORUPTOR!!!
30 Mei 2007 pada 1:49 pm
in0 cool
tEtEp Menurut Gw UgM dan UI bakalan bisa jadi universitas terbaik di dunia,,,asalkan pemerintah indonesia betul-betul serius dan sadar bahwa pentingnya pendidikan agar sagala infrastruktur perkuliahan tidak dianggap sebelah mata. dan satu lagi yang paling gw benci dari pemerintahan di tanah air indonesia,,, KORUPTOR DI MANA-MANA
26 Juni 2007 pada 8:58 am
moli
unpad ada ga??
Peer kita bersama nih….Untuk meningkatkan kualitas PT Indonesia kira2 apanya dulu ya yang harus diperbaiki????
walopun belum ada di top 200, tetep semangat yaa…..
3 Juli 2007 pada 7:53 am
holan simbolon
memang klau dilihat pt Indonesia kita masih perlu banyak yang diperbaiki, tapi semuanya itu kembali kepada kita semua baik sebagai mahasiswa, apa sebenarnya yang bisa kita lakukan dan kita berikan buat pt kita masing2…..???
ingat bahwa mahasiswa dituntut untuk lebih, karena pada realitanya kita-kita inilah calon pemimpin bangsa dan negara kita tercinta ini….
hidup mahasiswa……(itb)
8 Juli 2007 pada 1:25 pm
galih d' metal Punk
pemerintah !
naikin anggaran pendidikannya donk !
subsidi PTN2 di indonesia…
galih w..
FISIP HI UNPAD
12 Agustus 2007 pada 8:51 am
dede
Ternyata dikti juga membuat pemeringkatan PT di Indonesia, hasilnya rada aneh sih. Unbraw sama Unhas ga masuk 50 besar. Padahal itu dua PTN yg punya reputasi bagus. Beberapa PT yg “ecek-ecek”, ga jelas, dan jarang terdengar justru peringkatnya bagus.
“Tanya kenapa?”
14 Agustus 2007 pada 10:55 pm
the S.I.G.I.T
aku pikir kita gak perlu sombong dan menepuk dada pada hasil pemerinkatan ini. lakukanlah yang terbaik bagi bangsa ini,lupakan soal peringkat yang penting setiap univ bekerja keras untuk meningkatkan kualitas tanpa harus menjadi benalu bagi generasi muda bangsa ini. aku pikir pengelola univ terdiri dari”orang-orang pintar” jadi sudah sewajarnya memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas tanpa menjadi benalu. meningkatkan nasionalisme juga perlu. udah tahukan klo banyak mahasiswa indonesia yang belajar ke luar negeri tapi gak mau balik lagi?nah itu apa sebabnya?terlalu rapuh nasionalisme kita.
pesen dari pengagum sukarno:
“aku titipkan bangsa ini kepadamu hai anak muda. jangn pernah kau gadaikan bangsa dengan uang. DAN JANGAN PERNAH MENJADI PELACUR BANGSA!!!!!”
BRAVO INDONESIA, BRAVO RAKYAT INDONESIA,BRAVO MAHASISWA INDONESIA,BRAVO PEMUDA INDONESIA, BRAVO FISIKA!!
salam perjuangan dari mahasiswa universitas negeri yogyakarta
21 Agustus 2007 pada 2:47 am
Jones
Wah…seru juga komtar-komentar anda ini. Yang jelas kita harus bangga jika masih ada perguruan tinggi yang masuk dalam kategori dunia. Walaupun saya alumni ipb tetapi prestasi ugm harus di apresiasi. Dan urusan kita semua untuk membangun kemampuan perguruan tinggi di Indonesia. Paling tidak pada tinggkat asia kita bisa bersaing dengan Jepang, Korea, China dan India. Di tingkat asia tenggara kita yang terbaik.
Dari semua komentar yang ada bisa disimpulkan:
1. Pemerintah harus peduli dengan pendidikan
2. lulusan perguruan tinggi di Indonesia harus harus mengabdi pada
bidang ilmunya
3. Tingkatkan kemampuan menulis dan meneliti
23 Agustus 2007 pada 5:51 am
Soleh Udin Al Ayubi
ada tulisan bagus ni…
——————————————————
Pemeringkatan Universitas: Membangunkan Tidur Dosen dan Pemerintah
Oleh CARDIYAN H I S
Musim pemeringkatan universitas di Asia dan Dunia kembali tiba. Sejak
dimulai pertama kali oleh majalah AsiaWeek (Hong Kong) pada 1997 telah
menempatkan University of Tokyo sebagai nomor 1 di Asia pada “50 Top
Asia Universities”. Dari Indonesia muncul ITB sebagai yang terbaik
yakni pada urutan no. 19. Pada survey tahun 2000, Kyoto University
menjadi no 1 karena Universitas Tokyo menarik diri. Sebab menurut
Presiden/Rektor Universitas Tokyo Shigehiko Husumi, PhD (ketika itu);
“Kualitas pendidikan dan riset tidak dapat dibandingkan antara
universitas yang satu dengan universitas yang lain. Seperti juga
karakteristik seseorang adalah sangat sulit untuk dikuantifikasi.
Namun demikian University of Tokyo akan terus secara konsisten
meningkatkan kualitas Advanced Research jauh ke depan”. (Missing Your
School? Why 35 universities did not join”, AsiaWeek June 30, 2000) dan
juga baca “A Word from President,
http://www.u-tokyo.ac.jp/president/index.html).
Entah kebetulan pada tahun 2000 itu juga majalah AsiaWeek bangkrut.
Dan survey “dilanjutkan” terakhir 5 Oktober 2006 oleh the Times Higher
Education Supplement-Quacquarelli Symonds (THES-QS) World University
Rankings dari Inggris dan sebelumnya Juli 2006 oleh Webometrics
Ranking of World Universities dari Spanyol.
Dari Asia Tenggara berdasarkan versi THES-QS Inggris, National
University of Singapore (NUS) melejit pada posisi 19. Indonesia
menempatkan UGM masuk 100 besar untuk katagori Ilmu-ilmu Sosial yakni
pada urutan 47, tetapi secara Total Skor Universitas, UGM masih
terperosok pada posisi 270, masih dibawah Universitas Indonesia di no
250 dan ITB no. 258.
Dari Asia Tenggara berdasarkan versi Webometrics, kembali NUS
menduduki no 3 pada “100 Top Asia Universities”, setelah University of
Tokyo dan Keio University, Jepang. Indonesia menempatkan ITB
satu-satunya wakil yakni pada posisi no. 43 Asia (sebelumnya no. 49)
dan no. 658 dunia (sebelumnya no. 707). UGM dan UI yang tak masuk “100Top Asia Universities” masing-masing hanya berada pada no. 1.462 dan
no. 1.895 dunia pada survey Webometrics per Januari 2006. Bahkan UGM
dan UI akhirnya terlempar dari 3000 dunia pada survey Webometrics per
Juli 2006.
Hanya Relevan untuk Negara Maju
Apa di balik gemerlap pemeringkatan universitas di dunia ini bagi
dunia pendidikan Indonesia? Kita hendaknya menyikapinya dengan bijak.
Yakni ada atau tidak ada pemeringkatan universitas di Asia dan Dunia,
kampus-kampus di Indonesia tak boleh tidur! Bangun, bangun, berpaculah
dalam balapan riset yang berbasis hak paten dan hak cipta (Hak Atas
Kekayaan Intelektual/HAKI) karena dari sinilah orientasi kerja
universitas yang benar; bagaimana kita harus mengejar ketertinggalan.
Jangan hanya semangat dan pintar mengisi borang agar mendapatkan
banyak akreditasi A versi BAN (Badan Akreditasi Nasional) tapi produk
riset berbasis HAKI-nya memble. Jadi jangan sedikit saja ada
“prestasi” versi BAN malah dijadikan “public relations” murahan yang
menipu diri sendiri.
Penulis sangat salut kepada sikap Kepala Pusat Studi Pedesaan dan
Kawasan (PSPK) UGM, DR. Susetiawan, yang mengingatkan tanpa menafikan prestasi UGM di katagori Ilmu-ilmu Sosial, UGM harus tetap mawas diri dan tak lupa melakukan otokritik. “Benarkah UGM sudah sesuai dengan peringkat kualitas tersebut?”, tanya doktor peneliti sosial UGM ini.
Menurut Susetiawan, kalangan akademik harus mempertanyakan keabsahan pemberian peringkat tersebut, sebab kenyataannya sampai saat ini belum ada figur ilmuwan sosial yang dilahirkan dari UGM dan menjadi rujukan kalangan akademik.
Sampai saat ini, mereka yang menjadi rujukan hasil
penelitian ilmu sosial di Indonesia justru berasal dari peneliti asing
seperti Lance Castel, Clifford Geertz dan Robert Hefner (”UGM Kembali
Masuk 100 Top World Universities: Optimis Jadi PT Terkemuka”, HU
“Seputar Indonesia”, 5 Nopember 2006, halaman 41).
Menurut pendapat penulis hasil pemeringkatan universitas di dunia
hanya cocok dan ada korelasi langsung dengan performa universitas yang
bersangkutan berdasarkan kriteria yang ditetapkan penerbitnya dan
validitasnya akan pas hanya pada negara-negara maju seperti Amerika
Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Swiss, Spanyol, Belanda,
negara-negara Skandinavia, Kanada, Australia dan Jepang. Bahkan untuk
universitas-universitas di Singapura seperti NUS dan NTU sekalipun,
masih perlu dipertanyakan peringkatnya karena masih mengandung “banyak kelemahan”.
Apa sih inovasi kelas dunia yang telah berhasil diraih oleh NUS dan
NTU dengan dana riset masing-masing sekitar US$ 200 juta/tahun atau
100 kali lebih besar dari dana riset ITB? Justru dosen-dosen peneliti
ITB yang perlu dibanggakan dan dihargai bangsa Indonesia karena dengan dana riset US$ 2 juta per tahun mampu menghasilkan inovasi-inovasi kelas dunia dari riset-riset dasar maupun riset terapan yang berbasis HAKI internasional (ITB memiliki 90 HAKI, 30 siap lisensi, 5 telah dikomersialisasi), yang hebatnya sebagian diseminarkan di “kandang
macan” NUS dan NTU.
Memang Singapura boleh disebut nomor 1 dari segi “Entrepreneur
Pendidikan” karena dengan dana berlimpah dari Pemerintahnya, mereka
berhasil mengelola universitasnya antara lain; berhasil merekrut
dosen-dosen asing kelas dunia dengan remunerasi sangat besar sehingga
mampu menyedot lebih banyak mahasiswa asing. NUS & NTU dengan mudah membeli fasilitas laboratorium secanggih apapun misalnya reaktor MOCVD canggih pembuatan film tipis untuk teknologi nano berapa pun harganya (Sementara Fisika ITB melalui Profesor Barmawi, untuk memiliki reaktor MOCVD harus membikin sendiri dan ternyata mampu membuat 3 reaktor dengan nilai biayanya sepertiga dari belanja NUS & NTU untuk pengadaan 1 reaktor!!!) .
NUS dan NTU enteng saja membangun jaringan internet dengan bandwidth super highway (dengan kapasitas 10 Gbps) karena
dananya melimpah, sementara ITB yang di Indonesia satu-satunya
universitas yang memiliki kapasitas terbesar yakni 55 Mbps masih harus
berjuang panjang untuk mendapatkan kapasitas yang telah dimiliki oleh
NUS dan NTU, agar para dosen peneliti di Observatorium Bosscha,
Departemen Astronomi ITB melalui jaringan radio Astronomi, Australia
(AARnet), Jepang dan Eropa bisa bekerja bergandengan dengan para
peneliti di NASA, USA, untuk menjelajah antariksa. Jangan dilupakan
pula, Singapura adalah salah satu pusat bisnis di dunia, sehingga para
lulusan NUS dan NTU telah memiliki kedekatan untuk selalu berada pada
pantuan para manajer SDM atau recruiters atau head hunter atau
endusers. Kriteria-kriteria pemeringkatan universitas yang
mengedepankan indikator-indikator seperti itulah yang menyebabkan NUS
dan NTU selalu mendapat skor tinggi.
Tetapi menurut pendapat penulis,
belum tentu demikian bila diukur dari segi kriteria pencapaian riset
berbasis HAKI yang murni hasil riset NUS dan NTU sendiri. Ini terbukti
manakala NUS dan NTU mendapat skor 0 (nol) untuk Score on Alumni dan
Score on Award versi Institute of Higher Education, Shanghai Jiao Tung
University, yang memberikan bobot 80% bagi hasil-hasil riset dalam
“Academic Ranking of World Universities 2006: Top 500 World University”.
Mengapa pemeringkatan universitas di dunia hanya cocok untuk
universitas-universitas seperti di Amerika Serikat misalnya? Karena di
Amerika Serikat, sudah ada sedikitnya 228 Universitas Riset (147 milik
pemerintah federal AS dan 81 universitas swasta) dari 3.700
universitas yang ada. Bahkan untuk universitas-universitas papan atas
(mereka menyebutnya Ivy Leage) derajatnya bukan soal Universitas Riset
lagi tetapi bagaimana menjadi Universitas Entrepreneur. Perbedaan skor
antar mereka sangat tipis dalam setiap kali pemeringkatan universitas.
Dan yang akan memenangkan persaingan adalah Universitas Riset mana
yang dapat mencetak berapa entrepreneur baru setiap tahunnya? Disini
MIT dan Stanford University sangat menonjol, sehingga dijuluki sebagai
“Universitas Entrepreneur”.
Dan perlu dicatat pula,
universitas-universitas papan atas di AS adalah mendominasi penerimaan
ratusan Hadiah Nobel yakni mencapai 70% dari yang diperoleh penerima
Hadiah Nobel di seluruh universitas dan lembaga riset di dunia.
(Sebagai ilustrasi, 63 orang civitas academica MIT berhasil menyandang
Hadiah Nobel sampai per 3 Oktober 2006).
Pemerintah Cuci Tangan, Dosen Tidur
Bagaimana mau mengejar ketertinggalan dalam balapan kemajuan sains dan teknologi, kalau Pemerintah RI malah cuci tangan dalam membelajakan dana bagi pendidikan demikian kecil. Pola pikir Pemerintah RI sudah harus dirubah mulai sekarang. Dari mana dana riset untuk universitas harus diadakan? Kalau berdasarkan prosedur dari dana APBN. Tetapi biasanya sangat sulit untuk direalisasikan padahal dana pendidikan 20% adalah amanat UUD 1945. Jadi yang logis dan praktis dalam jangka
pendek adalah dari Dana Kompensasi BBM (Bahan Bakar Minyak) yang
jumlahnya puluhan triliun rupiah!
Petakan universitas-universitas di Indonesia berdasarkan kemampuan
terbaik Program Studi (Prodi) masing-masing universitas. Bila
kemampuan terbaik masing universitas di Indonesia ini disinergikan
dalam suatu skenario besar, bisa dijadikan lokomotif penarik untuk
mampu bersaing di kawasan Asean pada tahap awal, tingkat Asia pada
tahap kedua dan secara jangka panjang pada tingkat Dunia.
Universitas-universitas mana yang diberi tugas membantu membina
universitas-universitas di daerah yang masih ketinggalan (affirmative
action).
Bila sekarang sebagian besar (90%) dana universitas dibelanjakan untuk
gaji pegawai dan biaya operasional sehari-hari. Maka untuk ke depan
secara bertahap dana tersebut sebagian besar hendaknya dialokasikan
untuk dana riset dimana di dalamnya sudah ada peningkatan signifikan
atas gaji dan tunjangan dosen peneliti, dana peningkatan fasilitas
laboratorium riset, dana belanja bahan, dana riset lapangan, dana
pengurusan HAKI dan komersialisasi HAKI dan sebagainya. Dengan telah
diakomodasikannya keinginan para pelaku utama di kampus-kampus
Indonesia tak ada alasan lagi bagi para dosen untuk terus tidur,
ngajar seenaknya, enggan meneliti tetapi ngobyek dimana-mana. Kini
mereka tidak hanya terbatas memberi kuliah mahasiswa di ruang kelas
saja tetapi juga aktif mendidik mahasiswa secara manusiawi agar
meningkat nilai tambahnya menjadi calon-calon pemimpin masa depan yang berkarakter.
Mereka hendaknya menghabiskan waktunya untuk membaca,
mengeksplorasi dunia maya, meneliti dan kemudian menuliskannya pada
jurnal-jurnal ilmiah kredibel, sehingga Citation Index para dosen
peneliti Indonesia meningkat pesat.
Pemerintah RI harus belajar kepada kepedulian Pemerintah Kerajaan
Malaysia tentang betapa pentingnya pendidikan. Pemerintah Kerajaan
Malaysia telah menghibahkan dana riset sebesar US$ 25 juta pada
periode 2000-2002 agar Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) meningkat
menjadi Universitas Riset. Meskipun hasil riset pada UKM belum begitu
impresif bila dibandingkan dengan pencapaian hasil-hasil riset ITB
misalnya, tetapi Pemerintah Malaysia paling tidak telah memberikan
komitmen tinggi dalam peletakan dasar yang kuat bagi tumbuh kembangnya iklim riset di kalangan kampus mereka.
Contoh yang lain adalah perlakuan khusus Pemerintah Korea Selatan
terhadap Seoul National University (SNU) dan KAIST (Korean Advanced
Institute of Science and Technology) yang dijadikan lokomotif
universitas di Korsel. Kendatipun telah menghasilkan riset-riset kelas
dunia (termasuk pengkloning pertama domba di dunia) ternyata secara
reguler SNU masih tetap menerima kucuran dana US$ 50 juta per tahun
untuk keperluan risetnya dari Pemerintah Korea Selatan (Research
Activities in SNU, 2003.6.17, Office of Research Affairs, SNU). Begitu
pula KAIST yang mendapat Research Grants per Professor sebesar 250
juta Won (sekitar Rp.15 milyar) per tahun 2003 dan ditargetkan
meningkat menjadi 300 juta Won (lk Rp. 18 milyar) pada tahun 2010.
Salah satu riset unggulan KAIST adalah berhasil dikomersialisasikannya
hasil penelitian KAIST yakni leukemia treatment bernilai milyaran US
dollar, (KAIST Vision 2010, http://www.kaist.edu).
Bahkan MIT yang sudah demikian hebat performanya masih dikucuri dana
investasi Pemerintah AS yakni 70% perolehan dana risetnya berasal dari
Pemerintah Federal yang memberikan proyek-proyek riset dasar skala
besar, sedangkan proyek riset lainnya berasal dari
perusahaan-perusahaan industri multinasional dan organisasi nirlaba
milik para filantropis kaya raya. Maka sudah sepatutnya Pemerintah
Indonesia juga harus memberikan perhatian yang lebih besar masalah
dana riset ini kepada universitas-universitas di Indonesia agar mereka
mampu berkiprah lebih jauh bagi kemajuan Bangsa Indonesia.
Tak mengherankan bila MIT pada tahun 1994 berdasarkan penelitian
Boston Bank yang bertajuk. “MIT: The Impact of Innovation”, telah
berkontribusi luar biasa tidak hanya bagi AS tetapi juga bagi dunia.
Para alumni MIT telah mampu membangun 4.000 perusahaan dengan “sales turnover” US$232 milyar, sehingga mereka mampu membuka kesempatan kerja bagi 1.100.000 orang di berbagai dunia. Pencapaian ini telah menempatkan MIT sama dengan kekuatan ekonomi dunia pada urutan ke 24 karena sales turnovernya setara 2 kali GDP Afrika Selatan yang besarnya US$ 116 milyar (MIT Graduates Have Started 4,000 Companies With 1,100,000 Jobs, $232 Billion in Sales in ‘94,
http://web.mit.edu/newsoffice/1997/jobs.html).
Suatu kalkulasi yang dilakukan MIT Technology Licensing Office
menyebutkan bahwa Pemerintah AS memperoleh keuntungan kembali yang sangat tinggi atas dana investasi Pemerintah pada pembiayaan riset
ilmiah di berbagai universitas dan lembaga riset. Sementara
universitas, lembaga riset dan para inventornya hanya mendapatkan
kurang dari 3% atas royalty dari hasil penjualan lisensi teknologinya.
Sedangkan Pemerintah AS mendapatkan 15% dari hasil penjualan lisensi
teknologi tersebut melalui “income taxes”, “payroll taxes”, “capital
gains taxes” dan “corporate taxes”. Serta jangan dilupakan Pemerintah
AS mendapat keuntungan signifikan pula karena bebas menggunakan
manfaat dari paten-paten tersebut (Kenneth D. Campbell, “TLO says
government research pays off through $3 billion in taxes”, MIT News
Offices, April 15, 1998).
Berkali-kali AS mengalami guncangan ekonomi karena terjadinya defisit
APBN bahkan jauh melebihi pada angka psikologis US$500 milyar per
tahun. Tetapi mereka selalu berhasil lolos dari krisis, dan dalam hal
ini peranan kampus-kampus universitas dan lembaga riset tak bisa
dibilang enteng. Mereka telah mampu memerankan sebagai mesin
pertumbuhan ekonomi, kata Presiden Yale University, Richard C. Levin
dalam pidatonya di Tsinghua University, Beijing, Cina (Richard C.
Levin, “The University As an Engine of Economic Growth”, Tsinghua
University, May 2001).
Cardiyan HIS adalah pengamat pendidikan dan perkembangan kualitas
institusi. Sehari-hari adalah President & CEO, SWI Group, Jakarta. ITB
angkatan tahun 1973, Teknik Geodesi dan Geomatika.
31 Agustus 2007 pada 6:28 am
mils
ya…. meranking sih bole2 aja, tapi mengenai parameter serta “hal2 yang perlu ditinjau” sebagai objek untuk menentukan suatu PTN itu kelas atas kan relatif?????
Misalnya aja yang kita liat sebagai parameternya adalah dalam bidang penelitian. dari sini aja kita belum bisa menentukan PTN mana yang terbaik, masih relatif…… kita bisa meninjau dari segi kualitas, kuantitas, peran serta beberapa pihak, dll.
Dan masih banyak lagi hal2 yang lain yang harus diperhatikan…
Salah satu hal yang perlu untuk kita perhatikan adalah: Apakah dengan adanya ranking PTN tersebut membuat kualitas PTN yang masuk dalam daftar PTN terbaik menjadi lebih baik??? sayangnya yang saya lihat adalah tidak demikian, karena hanya membuat banyak orang menjadi “takut” untuk mendaftar sebagai mahasiswa baru PTN yang bersangkutan. Terdengar TOP sih memang, tapi hanya sekedar top. Belum tentu civitas akademikanya memandang demikian
Mungkin maba UGM boleh berbangga atas ranking yang pernah diraih,,
iccon, Faculty of Mathematics and Natural Sciences ITB
4 September 2007 pada 6:39 am
Soleh Udin Al Ayubi
Ada presentasi dari WRSA (Wakil Rektor Senior Bidang Akademik) ITB tentang passing grade jurusan di ITB dan total ITB dengan kampus lain.
Bisa didownload di
http://www.itb.ac.id/focus/149
13 September 2007 pada 9:35 am
zeno
wawwwww,,keren
walaupun gua bkan mhasiswa dari 4 perguruan tinggi indo yang msuk di pt favorite indo,,gua tetap dukung.HIDUP DUNIA PENDIDIKAN tanah aiar.mdahan2 thun bsok UNRI msuk,,,
24 September 2007 pada 9:15 am
Mengapa universitas-universitas di Indonesia perlu untuk menembus peringkat dunia? « Another Riza’s Crib
[...] tahun 2006. Ingat, saya bilang saya mengenal dia, bukan dia yang kenal saya.. hahahaha.. Sebuah posting brilliant di Blog beliau yang membicarakan tentang bagaimana meningkatkan rangking [...]
9 Desember 2007 pada 9:29 am
prof.sumarna kreff
kampus yang ada di indonesia harus di rawat tolletnya,
parkirannya di urusin dwonk biar mobil gw aman,
parkiran doank bayar.
truss pungli di tiadakan
status doank kampus negri faforit tapi pungli di mana-mana
kasian donk ntar anak cucu gw
ok
“INI NYATA CUMA ADA DI INDONESIA”
prof.sumarna
9 Desember 2007 pada 2:28 pm
Dhany H.P. Lumbanraja
apaaaa???? ugm terbaik???? jgn mimpilah. ui tetap #1.
22 Desember 2007 pada 2:13 am
surososipil
Pemeringkatan perguruan tinggi perlu dilakukan untuk lebih keras lagi memacu kita supaya lebih maju dan maju lagi. Sehingga meningkatan daya saing bangsa. Standar penilaian tentu berbeda antar lembaga survei. Tetapi yang jelas tidak hanya menilai input (passing grade) saja! Proses dan sistem juga perlu. Jangan suka membanggakan IQ diri, mbok ya yang rendah hati. kemampuan manusia tidak statis tapi dinamis dan fluktuatif. Kadang cerdas tapi kadang juga nampak bodoh. Sekali lagi jangan membanggakan kecerdasan IQ !! mari kita bersaing secara sehat untuk kemajuan bangsa…
22 Desember 2007 pada 2:19 am
surososipil
Pemeringkatan berdasarkan nilai rata-rata NEM atau nilai SPMB, tentu akan menimbulkan penyimpangan baku yang besar jika perguruan tinggi tersebut memiliki program studi yang sangat banyak dengan variabilitas input yang cukup tinggi seperti di UGM. Coba dibandingkan dengan kampus yang memiliki program studi kecil dengan variabilitas kemampuan input yang cukup kecil. itulah statistik…
22 Desember 2007 pada 4:30 pm
Cosmas P. Sijabat
Bisa dipastikan, kalo dari sisi jumlah mahasiswa asing dan jumlah dosen yang bergelar Doktor, maka UGM adalah No. 1 (lebih dari 800 mahasiswa asing di UGM dan lebih dari 600 Doktor). Tapii..tapiii..tapi… apakah alumni UGM bisa membantu TKW2 Indonesia yg dilanggar HAM-nya di Malaysia…??? Padahal Ketua Komisi HAM PBB New York (Dr Makarim Wibisono) adalah alumni HI UGM. Mana tindakanmuuu…?? Mulai dari yang terkecil dan yang terrendah..
22 Desember 2007 pada 6:41 pm
erwin - astra agro
Saya yakin PTN di Indonesia sudah berusaha untuk mencapai yang terbaik, yang jadi masalah para pejabat tinggi kita malah nyekolahin anak2 mereka ke amrik ato inggris, ya pantes lah kalo PTN nggak dikasih dana subsidi……
Selamat berjuang.
6 Januari 2008 pada 10:24 am
yana
Bagaimana kalo diadu, Universitas mana yang paling banyak menghasilkan koruptor..?? Pasti jawabannya jelasnya adalah…: UI ..! Liat aja contoh kecilnya; Akbar Tanjung dan Wijanarko Puspoyo (Korupsi BULOG), Mulyana W. Kusuma dan Nazaruddin Syamsuddin (KPU). Yusril Ihza M. (Pengadaan alat sidik jari Setneg). Yang lainnya masih banyak yg belum disebut. Apa gak malu tuh alumni UI..?. Kecuali kalo emang udah putus urat syaraf malu-nya. Pasti malah bangga jadi produsen koruptor terbesar..
6 Januari 2008 pada 10:33 am
astrid
bener bgt… gw sampe skarang masih bingung campur heran… masak sich dulu (katanya) UI adlh salah satu Universitas terbaik di Indonesia. Kalo ITB atau UGM sich gw yakin. Coba skrg secara jernih kita renungkan. Kalo misalnya Ibukota negara dipindah dari Jakarta, atau kampus UI yg direlokasi keluar Jabodetabek… Apakah UI dan alumninya msh menganggap bhw mereka akan tetap masuk The Big Three… UI nampak bagus ya cuma pd masa Orba/Soeharto aja (karena alumninya banyak yg jd Menteri) dan karena secara lokasi deket dengan Ibukota. Lihat aja sekarang pasca lengsernya Soeharto, secara perlahan namun pasti UI tersalip oleh UGM dan ITB. Apalagi kalo nanti Ibukota dipindah dr Jakarta, siapa yang sudi melirik UI lagi….? Kita realistis saja dengan melihat gejala sekarang dan perkembangannya kedepan…
15 Januari 2008 pada 8:31 am
budi wibowo
ah astrid ini negatif thingking aja, yang jelas gak alumni UI, UGM, ITB sami mawon wae… smuanya cuma jago kandang… saya punya temen dari UI, UGM, juga ITB, awalnya pinter2 dan idealis… lama2 setelah masuk ke dunia yang sesungguhnya ya jadi… keliatan watak asli manusia indonesianya… yang saling sikut, salip, dsb,…. lulusan universitas LN spt Amrik atau Eropa itu unggul krn lingkungan sekitar mrk sangat kondusif buat belajar dan meningkatkan kemampuan diri, korupsi dan nyontek adalah hal yang memalukan walau mrk kadang2 gak punya agama…, UI, UGM, ITB adalah sarana saja… yang membuat individu itu berkualitas luar dalam dan berguna bagi masyarakat tdk tergantung dari alumni yang mana…setau saya juga UGM dan ITB banyak yang jadi koruptor dan petualang politik kok (sy bukan alumni UI lho), so…juga kita liat di UI sekarang, saya banyak ngobrol dgn para alumni UI yang dari daerah perifer jakarta, bhw UI sekarang keliatan lebih mahal dan mewah, seperti menara gading yang tak tersentuh…tapi kita juga mesti ingat bahwa HARVARD dan MIT pun di Amrik sono juga bukan universitas yang biayanya murah, UGM?saya denger dari temen yang profesi dokter dan ambil spesialis di UGM ternyata biayanya lebih mahal dari UI dan UNAIR, padahal fasilitas pendidikan tdk jauh berbeda, trus saya liat juga bahwa di UGM dan ITB pun, juga sama dgn di UI, para mahasiswa sekarang yang kuliah sekarang keliatan berasal dari golongan ekonomi yang lebih tinggi alias borju… so… kalo otak kita rada lemot tapi dompet rada tebel… ya kuliah aja di swasta kyk astrid ini deh…..
24 Januari 2008 pada 8:01 am
Dena
Gue nii lulusan UCLA….. PT-PT lokal anggak lah ya….
20 Februari 2008 pada 4:14 am
hook
he he he

astrid pesimis banget yach ma UI
trus si budi, wah wah malah pesimis banget ma perguruan tinggi di indon,
trus qt ini bisanya apa loh…?
20 Februari 2008 pada 4:27 am
hook
oh iya, ini data 3 tahun terakhir utk THES,
World Ranking 2005 2006 2007
UGM 341 270 360
ITB 408 258 369
UI 420 250 395
UNAIR 475 526 502
IPB - - 545
UNDIP - 495 553
Webometrics Jan 2008
ICT World Rank
UGM 753
ITB 844
UI 1998
Unibraw 2472
IPB 2546
UK Petra 2841
ITS 2981
Unhas 3297
STT Telkom 3356
UNAIR 3544
Univ Gunadarma 3738
Poltek Mesin Negeri Surabaya 3778
Univ BINUS 3803
23 Februari 2008 pada 6:31 am
Anto
wah…………. masih jauh tertinggal y mlihat dr data hook. oia mungkin krn PTN-PTN trutama yg punya prodi ke pendidikan tdk bergerak, dan hanya diem, pasrah trhdap kenyataan peringkat ini.
kualitas bangsa jg di pengaruhi oleh pendidkan, kalo PTN-PTN yg mnciptkn calon2 guru aj tdk trdengar,tdk trlihat batng hidungnya dlm kcah mncerdaskan bangsa. gmna nanti generasi brikutnya?? bisa-bisa mhsiswa skarang yg du2k d kursi PTN-PTN unggulan spt yg dbcarakan d atas dragukn kualitsny,,,akbt dr kualitas guru yg kurang
1 Maret 2008 pada 7:05 am
Ayub
Mm, walaupun bukan segalanya tapi anggaran (baca duit) tetap penting tuk operasional maupun transformasi PT menjadi lebih baik. Tuk mendorong dosen tetap fokus dengan kewajiban dia, harusnya semua kebutuhan dia di bidang ekonomi cukup terpenuhi so mereka ga akan sibuk lagi dengan proyekan di luar.
Dari sisi keuangan (dana), tuk PT yang bercita-cita menjadi world class university, bisa membandingkan dengan yang nomer satu ni, Harvard University (www.harvard.edu).
Harvard memiliki anggaran pendapatan dan belanja sekitar 3 milyard USD (ato sekitar 28 Trilyun rupiah) / tahun, ini data 2006-2007, coba bandingkan dengan ITB yang hanya 460 milyard rupiah ato UI yang sekitar 700 milyard, data tahun 2007. Anggaran 28 T itu lebih besar dari anggaran Pendidikan (Diknas) semua jenjang pendidikan di Indonesia, SD-SMP-SMA-PT-Kedinasan, dll seluruh Indonesia yang hanya 26T.
So, tetep tidak boleh kecil hati apalagi pesimis, tapi tetep menginjak bumi jg.
Money is not everything but without money everything is nothing
3 Maret 2008 pada 6:18 am
Ayub
Tambahan lagi Harvard memiliki Endowment Fund (sebagian Univ di Indonesia menyebutnya dana abadi) sebesar $ 35 Milyard (sekitar 340 Trilyun rupiah) dan dari dana itu mereka bisa mendapatkan sekitar $ 1 Milyard (30% dari anggaran mereka). Dana subsidi dari pemerintah hanya 17% dari anggaran mereka.
8 Maret 2008 pada 3:59 pm
Adler
UGM : U-niversitas G-ndeso M-nyogyakarto
Lihat aja Programnya ndeso-2. Ekonomi kerakyatan Model Prof. Mubyarto. Program KKN (Kuliah Kerja Nyata-nya) Prof. Koesna