The Times, sebuah harian terkemuka di Inggris, beberapa hari yang lalu (05/10/06) mengeluarkan rangking 200 perguruan tinggi terkemuka di dunia. Seperti sudah diduga, perguruan tinggi dengan nama besar menduduki peringkat-peringkat atas. Harvard dan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika menduduki peringkat pertama dan kedua. Peringkat ketiga dan keempat diduduki oleh Cambridge dan Oxford University di Inggris. Selanjutnya perguruan-perguruan tinggi di benua Amerika Utara, Eropa, dan Australia mendominasi keseluruhan daftar itu.

Beijing University di Cina yang diapit erat oleh Tokyo University di Jepang adalah wakil tertinggi perguruan tinggi dari benua Asia yang menduduki perigkat 15 dan 16 besar. Dari negara-negara yang ada di sekitar kita, National University of Singapore (NUS), menduduki peringkat ke 22 dan Nanyang Technological University (NTU) di peringkat ke 48. Chulalongkor University masih sanggup menempati posisi nomor 121 dunia sedangkan wakil dari negeri saudara dekat kita Malaysia adalah Malaya University di rangking ke 169.

Mungkin kita tidak terkejut kalau tidak bisa menemukan satu pun perguruan tinggi dari Indonesia yang bisa menembus peringkat 200 besar dunia.

Ada beberapa kriteria yang digunakan oleh penyusun daftar ini. Kriteria paling penting dengan bobot 40% adalah penilaian berupa ‘peer review’ dari 2375 akademisi dari seluruh dunia. Para akhli dari Amerika Utara, Eropa, dan Asia masing-masing mendapat jatah hampir 1/3 dari keseluruhan reviewer tersebut, sedangkan sisanya dijatahkan untuk akhli dari Afrika dan Amerika Latin.

Kriteria penting berikutnya adalah jumlah kutipan tulisan di jurnal ilmiah internasional per staf akademik dan rasio staf akademik dibanding mahasiswa dengan bobot masing-masing 20%. Sisa pembobotan lainya adalah penilaian dari perusahaan atau institusi perekrut lulusan, serta jumlah mahasiswa dan staf akademik yang berasal dari luar negeri.

Menilik kriteria utama berupa penilaian dari akademisi lain di seluruh dunia, tidak ada satupun institusi dari Indonesia yang dipandang bahkan dengan sebelah mata oleh mereka. Nama perguruan-perguruan tinggi besar di Indonesia ternyata belum masuk dalam khasanah pemikiran para akademisi dunia.

Hal yang juga menarik adalah bahwa ternyata fasilitas gedung yang megah, halaman parkir yang luas, serta jumlah komputer yang tersedia bukanlah kriteria yang patut dijadikan pedoman baiknya mutu sebuah pendidikan tinggi. Persepsi dikalangan kaum akademis sendiri ditambah dengan mutu produk yang dihasilkan (yang diukur dengan jumlah kutipan jurnal internasional dan rasio dosen-mahasiswa) adalah hal yang terpenting. Selama ini banyak orang menganggap bahwa perguruan tinggi dengan gedung yang megah merupakan indikator utama mutu sebuah institusi pendidikan.

Lalu bagaimana perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih meningkatkan gengsinya di mata internasional? Ada dua hal yang merupakan kunci jawabannya.

Upaya peningkatan riset dan diseminasi hasilnya adalah jawaban utama.

Selama ini, sudah banyak perguruan tinggi di Indonesia yang mendengung-dengungkan pentingya riset pada kehidupan sebuah perguruan tinggi. Hanya sayangnya sebagian besar hal ini hanya tinggal sebatas jargon belaka yang belum banyak buah nyatanya.

Persepsi kalangan akademik dunia terhadap perguruan tinggi di Indonesia bisa berubah bila mereka bisa lebih sering membaca produk riset berupa laporan hasil penelitian, review, pandangan, argumentasi, atau kritik ilmiah yang dituliskan pada berbagai jurnal-jurnal ilmiah internasional.

Tentu saja ini membutuhkan upaya peningkatan kemampuan staf akademis dalam melakukan penelitian secara baik pada bidang-bidang yang strategis dan penting. Disamping itu, hasil penelitian yang brilian tidak akan bernilai apa-apa jika tidak dideseminasi dengan baik melalui tulisan-tulisan ilmiah. Ketidakmampuan menulis utamanya dalam bahasa Inggris menjadi hambatan utama dalam hal ini.

Peningkatan upaya riset tentu membutuhkan sumber daya finansial untuk mendukungnya. Perguruan tinggi bisa mencoba bermitra dengan perusahaan serta institusi baik dari dalam maupun luar negeri untuk bekerja sama dalam melakukan penelitian yang hasilnya berguna bagi kedua pihak. Pemerintah juga seyogyanya ikut membantu dengan mengalokasikan lebih banyak dana penelitian yang bisa diperebutkan oleh perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dalam bentuk dana hibah penelitian atau sejenisnya.

Hal kedua yang patut mendapat adalah peningkatan kualitas pendidikan.

Selama ini ditengarai banyak perguruan tinggi yang mendahulukan kuantitas daripada kualitas pendidikan. Hal ini mungkin patut dimaklumi karena banyak perguruan tinggi yang mengedepankan kemampuan mereka untuk survive dulu dengan mencari pemasukan sebanyak-banyaknya dari SPP mahasiswa. Demikian pula dengan beberapa perguruan tinggi negeri yang berubah statusnya menjadi BHMN, dimana mereka dituntut untuk dapat mandiri dalam mengelola keuangannya.

Dengan meningkatkan kualitas pendidikan, lulusan perguruan tinggi pun akan lebih mudah dilirik oleh perusahaan-perusahaan serta institusi-institusi ternama yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan reputasi perguruan tinggi di Indonesia.

Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan? Tentu saja faktor pendukung seperti gedung, fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan, dan manajemen pendidikan merupakan hal penting yang harus selalu dicoba ditingkatkan kualitasnya. Namun hal yang paling utama adalah ketersediaan sumber daya manusia berupa staf akademis yang qualified dan berkomitmen. Kemampuan perguruan tinggi untuk menarik dan mempertahankan staf akademis yang berkualitas adalah kuncinya.

Hasil-hasil riset yang telah dikemukakan diatas dapat dijadikan amunisi yang kuat sebagai bekal peningkatan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan riset menjadi hal yang saling mendukung dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara umum.

Meningkatkan riset dan kualitas pendidikan ini adalah kunci agar perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih kompetitif di mata internasional. Suatu perjuangan berat yang tidak mudah namun tetap harus dimulai bagaimanapun juga beratnya.

Hayo UI, ITB, UGM, ITS, dan semuanya… kemana kamu?