Sewaktu dulu bekerja di Jakarta, saya sering lihat banyak bule-bule seliweran di kantor-kantor jangkung. Necis dan bergaya. Banyak juga yang muda-muda. Mereka itu kaum expatriate yang kerja di perusahaan-perusahaan baik lokal maupun internasional. Ada juga yang kerja di LSM-LSM atau lembaga lain. Big boss di kantor dulu juga satu orang bule dari Adelaide Australia. Manajer saya langsung juga pernah seorang bule perempuan dari New Zealand.
Mereka semua bergaji tinggi. Manajerku saja dulu dapat fasilitas berupa serviced apartemen di Hilton, mobil, dan tentu saja gaji yang lumayan dalam bentuk dollar Amerika.
Tapi tidak semua expatriate itu berkulit putih. Manajerku setelah si bule New Zealand adalah orang Phillipina. Ada juga beberapa staf lain di kantor yang berasal dari Phillipina. Bagaimana dengan gaji dan fasilitas bagi mereka? Kebanyakan gajinya tidak setinggi bule-bule itu tapi tetap saja masih jauh lebih bagus dari gaji para staf lokal.
Bagaimana dengan kondisi sebaliknya? Maksud saya, para pekerja dari Indonesia yang kerja di luar negeri? Sayangnya, kebanyakan orang lebih memilih menggunakan kata TKI atau TKW yang lebih bernada ‘derogatory’ alias merendahkan. Menurut Webster Dictionary, “Expatriate” berasal dari bahasa Latin expatria (ex:out of - patria:native country). An expatriate is someone temporarily or permanently residing in a country and culture other than that of their upbringing or legal residence, ini kata Wikipedia.
Jadi sebenarnya TKI atau TKW itu adalah kaum expatriate juga. Tidak beda sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang memilih untuk tinggal sementara (untuk bekerja) di tempat yang bukan tanah airnya.
Di Inggris, mereka yang tergolong Indonesian expatriates ini lumayan juga jumlahnya. Dari beberapa yang saya kenal, ada yang bekerja di lembaga pendidikan/universitas baik sebagai pengajar atau researcher (seperti saya), di bank, di perusahaan telekomunikasi, hotel, perusahaan IT-related, konsultan engineering, sampai di area yang kurang formal seperti di restoran dll. Banyak juga mereka yang kerja di bidang “domestic” alias menjadi pembantu rumah tangga. Semuanya “Expatriates“.
Mereka yang beruntung mempunyai job skills yang laku di job market bisa masuk ke pekerjaan yang bergaji tinggi. Perusahaan minyak adalah salah satu jenis perusahaan yang menawarkan gaji tinggi. Telekomunikasi dan IT juga menawarkan tingkat gaji yang lumayan.
Namun demikian, expatriates di Inggris tidaklah mempunyai struktur gaji yang berbeda dengan para staf lokal (e.g. orang Inggris sendiri). Gaji expatriates sama saja dengan gaji staf lokal. Mungkin ada satu-dua pembedaan seperti fasilitas cuti pulang ke negeri asal dengan ongkos tiket dibayarkan oleh perusahaan. Tapi hanya itu.
Hak dan kewajiban para expatriates sama saja dengan “orang lokal” alias mereka yang berwarga kenegaraan Inggris atau negara-negara EU. Pajak, National Insurance, Pension, sama saja harus dibayar dengan rate yang sama.
Hak-hak pekerja dan keluarganya umumnya sama. Fasilitas kesehatan di NHS, Public School, dll bisa kita gunakan tanpa biaya sama halnya dengan penduduk asli Inggris. Ada beda sedikit sebenarnya dalam hal bahwa para pekerja asing ini tidak bisa mendapat beberapa state support seperti yang bisa didapat oleh orang Inggris seperti Job Seeker Allowance, Tax Credit, dll. Baru setelah mendapat status permanent residence di passport kita, fasilitas-fasilitas ini bisa didapat dari pemerintah Inggris.
Bagaimana dengan hak-hak para domestic worker asing di Inggris? Sama saja dengan ‘expatriates’ yang lain. Mereka punya jam kerja yang jelas, bukan 24 jam seperti di Indonesia. Mereka juga punya hak cuti yang jelas. Gaji mereka juga harus sesuai dengan minimum wage yang standar di Inggris. Pokoknya semuanya sama. Jadi, bekerja sebagai pembantu rumah tangga bukanlah pekerjaan yang rendah.
TKI/TKW atau Expatriates? Sama saja bung!




26 comments
Comments feed for this article
14 September 2006 pada 5:07 pm
Rinalda Radjab
Well said. Tapi ada juga exceptions, paling tidak di Amerika berdasarkan pengalaman saya jadi paid intern di sebuah kantor media yg disponsori pemerintah Amerika. Bayaran per jamnya sama rate-nya dengan graduate assistantship, tapi beberapa colleagues mengeluh karena merasa didiskriminasi dengan dibayar murah sementara mengerjakan pekerjaan yang sama dengan full-time employee, yang sama2 orang Indo. Sudah begitu, kalau dibandingkan dengan bayaran per jam editor bule yg ditugaskan editing bersama saya, bayaran saya 3 kali lipat lebih rendah dari dia. And that’s without getting any benefits whatsoever.
16 September 2006 pada 7:14 am
Dono Widiatmoko
Sue aja companynya. Di UK ada Equal Opportunity Acts kalau nggak salah. Kalau ada company yang ketahuan memperlakukan karyawanya secara berbeda, kita bisa ‘lawan’. Saya yakin di US juga ada peraturan seperti ini. Salaamm…..
21 September 2006 pada 10:37 am
Donny
Aneh juga memang ya. Kalau di Inggris ini, gaji TKI sama persis dengan gaji Bule sini, jika qualifikasi nya sama. Coba kalau ke Timur Tengah, misal Dubai, walaupun qualifikasi sama, tapi warna kulit serta nasionality beda, jangan harap gaji dan fasilitas bakalan sama. Di Malaysia dan Singapore, apalagi Indonesia, lebih parah lagi diskriminasinya. Nggak peduli lulusan UK, US, kalau paspornya hijau, pastilah gajinya kelas 2.
anyway, cheers mate.
29 September 2006 pada 1:13 pm
uangvalas
wah mao juga tuh kerja di inggris,tapi bener gak sih gak ada diskriminasi.gak yakin lah..! maklum gue tau sendiri.Orang indonesia itu kebanyakan di nilai sama bule bule gila itu katany pada goblok alias bodoh.buktinya gue.gak betah kerja ama mereka.Orang bule tuh pada licik .mereka klo ada maonya pasti bener-bener baik ama kita.tapi giliran kita di anggap gak di perlukan lagi.mereka gak segan-segan bilang gue pecat loe.!!!!.ini fakta..!!! makanya gue mengundurkan diri kerja di tempat yang rata-rat boss gue orang-orang bule.nasionalisme bro..! padahal gue bisa dapet 20 jutaan /bulan malah lebih.orang banyak bilang sayang,..! emang bener.!!! tapi hati nurani gue gak pas…,bule itu baik ama gue.tapi ama anak buah gue mereka memperlakukan seperti seorang penjajah.!!! lebih baik gue pergi.Biarlah mereka yang masih terpaksa bekerja karena butuh bertahan untuk sementara.walaupun karena rasa nasionalismenya itu,gue jadi boke nih!!!! ha ha….tapi gak masalah yang penting gue..merdeka!!! merdeka..!!! tapi kasihan mereka.temen-temen gue yang masih terpaksa.gue mah mendingan nyangkul tapi bebas,walaupun gak punya duit.Waduh…indonesiaku….rakyatmu masih di jajah!!!!!
2 Oktober 2006 pada 5:42 am
Mulan
Right. TKI/TKW or expatriates, we all actually the same. Our professions is another thing. Nice to know your blog- Warm regards from Malaysia
15 Oktober 2006 pada 11:25 pm
BP
Mas Don, kemarin ane ketemu expat Indo yg kerja di persh minyak. Weleh fasilitasnya hampir tidak beda dgn expat2 yg dulu kita biasa temui di jkt. Rumah mewah dapet, anak2 sekolah di private school, mobil dapet, etc. Yah ini mgk pengecualian. Sekedar info.
30 Oktober 2006 pada 11:24 am
jokondo
Salam
pengen juga neh kerja di UK,
Mujoko
http://jokondo.wordpress.com/
9 Nopember 2006 pada 1:36 pm
Tomi
hehehe, betul mas. Expat ato TKI ya sama aja. cuma bedanya kl bule di Indonesia kok kesannya kinclong banget sementara kl org Indo di eropa sini keliatannya biasa aja. Kok bisa ya….hehehe
5 Desember 2006 pada 2:21 pm
Anton
Saya punya rencana kerja di UK bidang perhotelan, biasaya gaji nominal disana berapa? terus saya dengar dari teman saya kataya kalok di UK biaya hidup lebih mahal dibandingkan USA and Australia..apakah benar itu??
thanks
12 Desember 2006 pada 12:17 pm
Dono Widiatmoko
mas Anton,
Rasanya banyak juga orang Indonesia yang kerja di bidang perhotelan di sini. Saya beberapa kali punya kenalan yang demikian. Biaya hidup memang besar di UK dibanding dengan USA dan Australia, tapi gaji yang didapat sebanding kok dengan pengeluarannya…..
17 Desember 2006 pada 8:17 am
james
salam….hi..teman2….saya pengen cari kerja di inggris…mohon bisa tolong kasih tau caranya..plis
19 Desember 2006 pada 6:58 pm
Dono Widiatmoko
Halo James,
kerja di inggris banyak jalurnya….
coba baca-baca di http://donnya.wordpress.com
atau baca yang resmi di sini: http://www.workingintheuk.gov.uk
atau join milis indoexpat: http://uk.indoexpat.org/
25 Desember 2006 pada 5:00 pm
vietha
assalamualaikum….
mas doni, aku mo sharing nih…
Suamiku dah berangkat duluan ke UK untuk S2, beasiswa dari chevning. Setelah lulus rencananya dia mo kerja dulu paling tidak 1 tahun (memanfaatkan temporary work permit). Kalau memungkinkan juga mo langsung lanjut S3. Menurut pengalaman mas Doni, gimana nih kalo sekiranya aku nyusul tahun depan (setelah suami lulus S2) sementara ada tanggungan 3 anak (1 sekolah SD, 2 balita). Bagaimana kira2 supaya betul2 penuh perhitungan. Di Indonesia saya bekerja sebagai PNS, kalo di UK kira2 apa ada yang bisa menerima saya kerja dengan kemampuan bahasa inggris yang minim (saat ini sedang terus ditingkatkan paling tidak untuk conversationnya). Thanks ya mas atas atensinya.
Wassalam
25 Desember 2006 pada 6:38 pm
Dono Widiatmoko
Wa’alaykum salam,
Tinggal di UK cukup mahal,
tapi Insya Allah kalau ada niat, ada jalan.
Biaya hidup keluarga dengan 2-3 anak di UK dibutuhkan sekitar £1000-1200 per bulan (non-London). Ini sudah termasuk telekomunikasi, transport, etc. Biaya pendidikan anak dan kesehatan gratis. Kalau suami masih sekolah S2 dengan biaya chevening, maka memang perlu tambahan penghasilan… (karena chevening ngasih sekitar £750-an ya?)
Kalau mau join ke sininya tahun depan, kala suami insya Allah sudah kerja, insya Allah penghasilan mencukupi karena graduate salary di sini sudah menutupi kebutuhan biaya hidup itu. Kalau anda mau kerja juga, boleh juga tapi perlu dipikirkan siapa yang menjaga anak-anak dan mengantar sekolah (maklum nggak ada pembantu di sini). Bisa juga cari kerjaan yang waktunya gantian dengan suami, kayak saya dulu waktu masih sekolah full time istri kerja sore hari, pas dia pulang saya berangkat kerja overnight pulang pagi, siang saya ke kampus….
Tentang kerjaannya, asal nggak terlalu milih jenis pekerjaan, insya Allah kesempatan kerja tuh ada aja, misalnya jadi kitchen assistant, store assistant, cleaner, carer, dll. Istri saya sekarang kerja jadi kitchen assistant di sebuah nursing home, kerjanya jam 9:30 -14:30, jadi pas dengan jam sekolah anak-anak (bisa antar jemput anak ke sekolah).
Tentang S3, silahkan mulai dicari dari sekarang, ada banyak kesempatan beasiswa S3 di uk. Gabung dengan milis beasiswa@yahoogroups.com atau cari di http://www.jobs.ac.uk…….. .
kalau mau kerja, silahkan coba buat networking dari sekarang, karena tentu saja kompetisi kerja di sini cukup keras (sama saja deng dengan di Indonesia….)….
wassalam, Dono
26 Desember 2006 pada 3:54 pm
vietha
Assalamualaikum….
sambung lagi nih mas, ga bosen kan….
Buat sewa flat aja udah hampir separohnya. dengan mengambil kerja part time aja suami belum berani bawa keluarga ke UK. Mungkin scholarship yang paling pelit chevning kali ya. walau begitu tetep aja orang pada berebut daftar, ya… daripada sekolah di UK pake biaya sendiri….
itulah mas sebabnya aku ga berani ikut suami sekarang2 karena yang di cover oleh chevning, ya segitu itu (disamping aku masih belum berani ambil resiko menanggalkan status PNS dengan “cuti di luar tanggungan negara”
Kalo mas Dony, bisa sekolah di University of York (master?) dan University of Anglia (PhD ?) aksesnya melalui apa mas? boleh kan tau….
Ngiri deh sama mas Dony, bisa tetap kumpul dengan keluarga tercinta, walaupun jauh dari kampung halaman. O ya, mas Dony dan keluarga ga kepengen balik ke Indonesia? apa mau menetap lebih lama lagi di UK?
Thanks ya mas. Salam untuk keluarga.
26 Desember 2006 pada 4:22 pm
Dono Widiatmoko
Pertama, saya Dono, kalau Donny itu sahabat saya di London yang ngeblog juga di wordpress (http://donnya.wordpress.com) …he…he…
Kedua, sepengetahuan saya, beasiswa chevening memberikan jumlah yang memadai…. cukup untuk kebutuhan mahasiswa di UK (single ya, bukan keluarga). beasiswa lain memberikan dalam jumlah yang lebih sedikit.
S2 saya dulu pakai beasiswa Si Doel, alias orang tua menyekolahkan saya dari hasil penjualan tanah yang digusur… ala si Doel anak sekolahan kan…..
S3, saya dapat beasiswa dari University of East Anglia. Beasiswanya full untuk home rate, yang artinya saya yang mahasiswa overseas harus dapat menutupi selisih tuition fee sebesar £6000-an setahun. Biaya hidup keluarga dan travel cost tidak ditanggung, jadi harus dicari sendiri juga. Ada sih research expenses sebesar £500 setahun yang bisa saya manfaatkan, dan juga dibantu biaya research dari pembimbing sebesar £3000. But that’s it. Jelas nggak cukup. Jadi kami berdua kerja semua. Istri kerja part time saya pun demikian. Selain itu alhamdulillah saya dapat rejeki lain sehingga bisa deh survive hidup di UK yang mahal ini. The downsidenya, walau mungkin nggak nyambung juga, sampai sekarang saya belum selesai sekolahnya…he..he….
Kapan kami pulang ke Indonesia? Yach sementara ini rejeki kami di sini ya ikuti saja dulu deh…..
Wassalam,
30 Desember 2006 pada 9:03 am
vietha
he….he…he… iya ya aku kok selalu panggil mas Dono dengan sebutan mas Dony sih…., baru aja sadar neh, maap ya hi…hi…hi….
abis gimana ya…sebab aku juga sering nyasar sih ke tempatnya si dony itu….(namanya mirip lagi, eh ngeblognya di tempat yang sama pula….wah jadi gak enak aku nih sampe nukerin nama orang. beneran ga sengaja loh….sekali lagi maaf ya….)
ok deh mas…
makasih ya udah mau berbagi.
ditunggu loh ceritanya yang seru2.
Sukses selalu buat mas dono dan keluarga.
16 Februari 2007 pada 3:29 am
Mukhlis Hidayat
Bagaimana caranya ya saya ingin kerja diluar negeri terutama di UK atau Jerman
25 Februari 2007 pada 7:21 am
Dendisaris
Assalamualaikum….
Salam kenal pak Don, nama saya ariss, sejak kuliah saya tertarik untuk kerja di overseas, apalagi di europe, cuma saat ini salah satunya masih terganjal oleh kontrak kerja tempat saya kerja smp Oct 2008. Saya sudah baca sebagian blog bpk, sgt menarik. Tetapi opportunity yg bpk contohkan kebanyakan dari bidang bpk, it`s okey, it can be understandable. Bidang saya bekerja saat ini di manufacturing, saya di bagian 3D modelling (using ProEngineer software) & casting (Magma soft ~ software untuk analisa casting ~ Foundry). Kira2 bagaimana peluang nya di UK untuk bidang tsb? Yg kedua, saya sering baca istilah PDMS Designer, boleh minta explain kan apa sih PDMS Designer itu (5W + 1H) include job description nya. Yg ketiga, bagaimana kehidupan komunitas muslim di UK dalam keseharian, artinya qt sebagai muslim diwajibkan menjalankan sholat 5 wkt, kira2 kesulitan gak, termasuk sholat jumat, kemudahan acces ke mosque.
Terimakasih.
Dendis Aris S
28 Februari 2007 pada 3:47 am
Hari Sudibyo
http://donnya.wordpress.com/
Blognya sudah dihapus, The contents is no longer available
3 Maret 2007 pada 5:27 am
Dendisaris
Kenapa sih blognya pak donny koq dihapus, saya browsing dah gak bisa lagi. Oia mohon maap pada mas dono, saya salah kirim , ternyata ada dua `don` dono dan donny.
Mohon maap mas.
16 Maret 2007 pada 4:17 pm
ulu
tidak asing lah dgn issue diskriminasi selama rambut si ekspat masih item dan gak pirang (makanya di cat tuh rambut !). Tapi ambil saja hikmahnya, ekspat indo yang dibayar murah biasanya kan laku keras ….(istilahnya : dari pada bayar bule yang biasanya mahal, mending ambil orang indo …kualitas sama, murah dan biasanya gak rewel lagi !)
5 April 2007 pada 8:17 pm
mirza
kasih tau dong bagaimana untuk mendapatkan beasiswa ke luar negri, sebab saya ingin melanjuti s2 diluar negri, tetapi dgn bantuan beasiswa, sebab ortu saya sudah tidak mampu lagi membiayai kuliah, tapi saya mempunyai tekad saya yakin saya mempunyai potensi untuk bersaing belajar diluar negri, kalau ada yg tau kirim ke e-mail saya ya ( m_fedralino@yahoo.com )
9 Mei 2007 pada 3:03 am
yani
Saya juga pengen kerja di amerika tolong dong kalo ada info kirim ke email dedeh_tea@plasa.com
soalnya di sini rasanya sudah sempit sesek tidak ada kesempatan secuil pun
17 Mei 2007 pada 9:47 am
ayip
Kalo saya mah pengen kerja di qatar. Bagaimana kalo kita saling berbagi informasi aja ya
13 September 2007 pada 6:52 am
Dwi
Di Jerman, sewaktu saya kunjungi Jerman selama sebulan. kebanyakan orang kulit hitam hanya bekerja rendahan dan sepertinya hanya untuk diperintah-perintah.