Suatu malam di tengah bulan Januari, ketika malam sudah agak larut, kakak perempuanku datang bersama seorang wanita berkerudung dari Surabaya. Kutilik usia tamu itu masih muda, mungkin lebih muda dari umurku. Kakakku memperkenalkan pada kami semua siapa wanita itu. Ternyata ia ‘orang pintar’ yang sengaja diundang kakakku untuk ikut mengobati penyakit Leukemia Ibundaku. Aku tidak tahu apa istilahnya, Tabib mungkin. Tapi kata Tabib umumnya dipakai untuk pria, belum pernah aku mendengar kata Tabib dipakai pada seorang wanita. Tapi tak apalah, siapapun dia, asal dia berniat baik untuk membantu menyembuhkan Ibundaku, aku akan sangat berterima kasih.

Setelah ngobrol sedikit, sang ‘Tabib’ meminta diambilkan sebuah buku tafsir Al Qur’an. Setelah diberikan, ia mengatakan bahwa di dalam Al Qur’an terdapat sumber segala penyembuh. Ia duduk di samping bundaku, dan tafsir Al Qur’an itu diulurkan pada bunda untuk dibuka halaman manapun. Halaman yang dipilih bunda kemudian dibaca keras-keras olehnya. Dengan lancar dibacanya ‘tafsir’ surat dan ayat yang dipilih oleh bundaku dengan acak. Anehnya, ayat yang dibaca jelas-jelas menyebut penyakit bundaku dan menceritakan mengapa ia berbahaya bagi tubuh. Diulanginya proses itu sekali lagi. Ibundaku diminta untuk memilih secara acak halaman al Quran itu. Hasilnya sekali lagi menunjukkan sebuah arti ayat yang berhubungan langsung dengan penyakit Ibuku. Hening ruangan saat itu mendengar tafsir yang dibacakan sang Tabib.

Dalam hati terbersit rasa curigaku pada apa yang dikatakan sang Tabib. Setahuku, dalam Al Qur’an tidak pernah disinggung-singgung tentang penyakit kanker darah yang menghinggapi Ibundaku. Tapi kecurigaanku aku buang jauh-jauh. Masa ada orang yang berani memainkan Al Quran sih?

Apa Ibu mau diobati? Kalau Ibu bersedia dan siap saya sanggup membantu, tapi kalau tidak ya tidak apa-apa”, demikian ucapnya. Setelah mendapat persetujuan dari Ibundaku dan mendapat anggukan dari bapak, mulailah ia mempersiapkan perlengkapannya.

Ibu diminta masuk kamar dan bersiap diri. Tempat tidurnya diberi alas banyak perlak plastik, ditambah pula dengan kapas berbuntal-buntal. Ibu diminta untuk dibuka bajunya dan diminta tidur miring karena akan diperiksa tulang belakangnya.  Mulanya aku tidak ingin masuk ke dalam kamar karena tidak ingin mengganggu proses tersebut, tapi kakak perempuanku malah memanggilku untuk masuk. Maklum, di keluarga kami akulah yang biasanya paling berani melihat hal-hal seperti ini.

Sang Tabib minta disiapkan gunting dan air hangat. Gunting kertas yang ada di kamar bapak aku ambil dan aku serahkan padanya. Di muka banyak orang ia kemudian mencuci gunting itu dengan air hangat sambil membaca doa-doa.

Mau diapakan ibu ini pikirku.

Sang Tabib kemudian mengajakku masuk ke kamar Ibu. Di dalam Kamar, hanya ada Ibu, si Tabib, kakakku dan aku sendiri. Sang Tabib lalu memeriksa tulang belakang Ibuku. Gunting besar itu didekatkan pada punggung ibu sambil ia terus berkomat-kamit membaca sesuatu. Setelah beberapa lama iapun berkata, “kalau sudah siap, mari kita bacakan ayat-ayat suci”. Kami yang ada di dalam kamar kemudian membacakan ayat-ayat suci sebisa kami.

Suara gunting digerakkan terdengar bergerincing ditengah heningnya kamar. Diantara tumpukan berbundel-bundel kapas, tiba-tiba aku melihat percikan warna merah menggelontori perlak dan kulit ibuku. Sepercik bau obat juga terasa di udara. Pikiranku berpikir cepat. Mana mungkin Ibuku bisa ‘dioperasi’ dengan gunting kertas itu? Gunting itu tidak cukup tajam untuk dapat melukai kulit dengan mudah. Kulihat dengan cepat raut muka Ibuku, ia juga tidak menampakkan raut muka kesakitan. Apa yang terjadi?

Lalu sepintas aku mendengar suara air bergericik, dan kulihat di balik tangan sang Tabib yang menutupi gunting dan kulit ibuku keluar ‘darah’ yang cukup deras. Sambil terus membaca ayat-ayat suci, aku kemudian terus memperhatikan proses yang dilakukan sang Tabib. Rasa curigaku bertambah-tambah.

Masya Allah. Tidak sengaja aku melihat sepucuk kepala botol dari balik tangan sang Tabib. Dari situ ternyata sumber cairan merah berbau itu. Ingin meluap rasanya kata-kata dari mulutku untuk bertanya langsung padanya tentang hal itu, tapi aku tahan sekuatnya demi menjaga peraaan ibu dan kakakku yang ada di dalam kamar saat itu.

Ini darah kotor ibu sudah saya keluarkan. Silahkan lihat sendiri darahnya. Baunyapun sudah busuk sekali karena ibu terlalu banyak minum obat”. Hah! Bohong besar itu, batinku. Kakak perempuanku mendekat dan ikut melihat cairan merah yang membasahi perlak di tempat tidur. Walau dadaku bergemuruh ingin protes, namun aku tidak mau menyakiti hati kakakku yang sedemikian percaya dan juga ibuku yang pasrah saja di tempat tidur.

Setelah selesai sang Tabib minta seluruh kapas yang bernoda cairan merah tadi dibuang ke aliran sungai. Kakak iparku segera mengemas dan membuangnya ke sungai dekat rumah.

Aku, yang sudah tidak respek lagi pada sang Tabib, segera keluar dari kamar dan mundur ke ruang televisi untuk ngobrol dengan keponakan-keponakanku di belakang. Sang Tabib, dan semua orang kemudian pindah ke ruang tamu. Aku hampir sudah tidak peduli lagi.

Aku buka Al Quran yang tadi dipegang si Tabib, dan aku cek surat yang ia sebutkan. Tidak ada sama sekali hal-hal yang diucapkan dia sebelumnya. Tidak ada tafsir tentang darah putih memakan darah merah di Al Quran. Jelas ia pembohong besar yang menjual ayat-ayat Quran demi kepentingannya sendiri.

Setelah si Tabib pulang, aku diminta masuk ke ruang tamu untuk membicarakan proses pengobatan ibu. Rupanya sang Tabib minta agar Ibu tidak diberi makanan yang bersumber dari kacang-kacangan. Mulanya aku coba menekan perasaanku untuk tidak terlalu banyak berkomentar, terutama untuk menjaga perasaan bapak dan kakak-kakakku. Tapi aku tahu kalau sang Tabib ini hanya seorang penipu. Penyakit Ibuku tidak diobati, jadi memang tinggal tunggu waktu saja kasarnya demikian. Jadi mestinya waktu yang tersisa ini dimanfaatkan untuk menyenangkan hati Ibu sebisa mungkin. Tidak tega aku melarang Ibu makan tempe, tahu dan hal-hal lain kesukaannya yang dilarang oleh si Tabib pembohong itu. Jadilah aku bicara agak keras menentang saran sang Tabib yang dibicarakan kembali oleh Bapak.

Bapak bersikeras bahwa kalau Ibu mau sembuh tentu kita harus menuruti saran si Tabib. Aku juga berkeras sampai akhirnya aku kemukakanlah apa yang aku lihat tadi semasa proses ‘operasi’ di kamar. Semuanya bohong belaka.

Di ujung mataku kulihat kakak iparku agak marah padaku. Setelah ‘rapat’ itu selesai, di luar rumah ia berkata padaku, “Harusnya kamu tadi nggak usah ngomong begitu. Aku juga tahu kayaknya dia nggak benar, tapi jangan begitu ngomong di depan Bapak. Kasihan. Bapak kan pengin Ibu sembuh”. Aku juga ingin Ibu sembuh, tapi kalau yang mengobati itu cuma pembohong besar, buat apa aku turuti kata-katanya. 

Malam itu aku tahu. Wujud luar baik belum tentu berhati baik. Orang bicara dengan Al Quran belum tentu mulia juga hatinya.

Malam itu aku tahu.