Hari pendaftaran masuk sekolah aku pergi diantar salah seorang kakakku ke SMPN 5 di jalan dr. Sutomo, kawasan Pasar Baru Jakarta Pusat. Banyak sekali orang tua mengantarkan anaknya ketika itu. Akupun mencari namaku di papan pengumuman. Nama-namanya tidak diurut berdasarkan abjad sehingga sulit mencari nama calon siswanya. Kutelusuri dari depan sampai paling belakang tidak ketemu. Setelah hampir putus asa mencari, akhirnya aku temukan namaku tepat di pojok kiri atas papan pengumuman itu. Pantas saja susah ketemunya!

Sejak hari itu mulailah aku masuk sekolah setiap hari dengan mengenakan celana pendek biru dengan atasan putih. Dari SD ku, hanya Rakhmatdi Hatmosrojo (A’ang) yang masuk bersekolah di SMP yang sama. Kebetulan sekali si Aang ini sahabat baikku sejak SD dulu.

Setiap hari aku naik bus dari dekat rumahku menuju kawasan lapangan Banteng, seingatku yang paling sering aku naiki adalah bus nomor 52 jurusan Pulo Gadung – Lapangan Banteng via Gambir. Saat itu di Lapangan Banteng masih terdapat sebuah terminal bus yang tidak terlalu besar. Sesekali aku naik bus nomor 58 melewati kawasan Kemayoran yang padat. Sesekali juga aku pergi sekolah diantar oleh mas Alex Sebul supir bapakku.

Perjalanan bus ini kadang menyisakan pengalaman menarik. Badanku tergolong kecil diantara anak seusiaku. Tapi aku mensyukurinya karena dengan badan kecil urusan nyempil-nyempil naik bus yang penuh sesak tidaklah jadi perkara besar.

Suatu ketika, pulang dari sekolah naik bus bersama A’ang, entah bagaimana awalnya tiba-tiba si A’ang saling bertukar pukulan dan tendangan dengan seseorang dewasa di dalam bus kota. Sahabatku yang satu ini pandai beladiri karate sehingga adu hantam di bus itu tidaklah terlalu menakutkannya. Aku saja yang lebih memilih kabur daripada bonyok-bonyok…..

Selain si A’ang, sahabat pulang satu bus ketika itu ada si Budi, Evi, dll. Budi di kemudian hari menjadi sahabat dekatku juga. Di kelas ada Yodanto, Ardhana, Nyoman, Dewi, Etin, Doddy Salman, Kurniawan Rachmadi dan teman-teman lain. Dewi Priyantini adalah orang yang masih sering aku ingat. Dulu ia cukup pandai bernyanyi. Kalau disuruh menyanyi di depan kelas, ia akan bernyanyi dengan vibratonya yang kental sekali. Ia pula yang pertama kali berani menghitung mundur dari 100 ke 0 dalam bahasa Inggris di depan kelas. Saat ini Dewi berprofesi sebagai wartawati di TPI (Televisi Pendidikan Indonesia). Kalau Nyoman lain lagi, ia lahir pada tanggal yang sama dengan aku. Rumahnya di sebuah mess TNI AL di jalan Gunung Sahari. Beberapa kali kami main-main di rumahnya, atau berlatih sesuatu. Ada juga Basuki yang sangat pandai menggambar. Rumahnya di perumahan di samping belakang sekolah, berdekatan dengan geding SMA 1. Selain itu ada banyak teman-teman lain. Sayang aku sudah banyak yang tidak ingat nama-namanya.

– Oh ya, Putu Susan Rahma Dewi, yang di kelas satu duduk di depanku, belum lama ini kontak aku via friendster. Wah, senang ketemu teman lama walau hanya bisa lewat internet. Dia ini dulu rambutnya panjang, dan dikepang. Aku senang menggodanya dengan menarik-narik ujung rambutnya. Duduk di sebelahnya adalah si Handayani, yang juga sering aku ‘kerjain’. –

Di sekolah aku mulanya ikut kegiatan extrakurikuler PKS. Latihannya setiap minggu pagi di sekolah. Tapi karena badanku kecil aku sebal tidak pernah dilirik untuk ikut menjadi pengerek bendera atau semacamnya. Padahal aku yakin bahwa aku sangat mampu karena ini adalah hal yang biasa dilakukan di kegiatan Pramuka.

Lalu aku masuk PMR. Sayangnya aku bergabung agak terlambat, di pertengahan tahun dimana kawan-kawan semua sudah menjalani latihan-latihan dasar. Ditambah lagi dengan badanku yang dasarnya kecil jadilah aku selalu menjadi ‘pasien’ untuk latihan balut-membalut.

Namun demikian selama menjadi ‘pasien’ itu aku malah selalu bisa memperhatikan teman-temanku berlatih balut membalut sehingga lama-kelamaan aku juga bisa melakukannnya. Di PMR ini ada Sutiadi Kusuma alias Cecep, Erni, Leo Wirasaki, Ade Victor Bangsawan, Sri Elintang, Yudi, Eka Susanti, Putu Susan, Budi, Slamet, dll. Kami sangat kompak waktu itu.

Di penghujung kelas 1 kami anggota PMR baru dilantik di kawasan Parung. Saat itu kami berangkat ke Parung berimpit-impit menggunakan kendaraan pickup dengan tutup terpal. Di sana kami camping di kebun singkong. Di malam hari kami diatur untuk bangun bergiliran jaga malam. Kalau tidak salah malam itu aku harus berjaga dengan Erni. Masih jelas teringat saat itu kami duduk mengantuk di dekat bara api unggun sambil menatap langit. Banyak sekali bintang jatuh alias meteor malam itu yang lalu lalang melintas atmosfir bumi. Baru kali itu aku melihat bintang jatuh. Apalagi dalam jumlah yang banyak.

Acara jurit malamnya paling seru. Kami disuruh jalan sendiri-sendiri menyusuri parit dan ladang di tengah malam buta. Instruksinya adalah kalau ada tanda berupa lampu di jalan itu tandanya kita harus berbelok. Berjalanlah aku malam itu mengikuti perintah. Lucunya, malam itu aku lupa selain berjalan aku harus melakukan apa lagi. Aku pikir di setiap lampu itu aku harus melapor pada salah seorang kakak senior. Jadi, di tengah malam buta aku berdiri menghadap lampu sambil berkata: Lapor! Nama Dono Widiatmoko siap menjalankan perintah! Ditunggu lama, tidak ada yang menyaut. Aku ulangi sekali lagi. Tidak juga ada yang menyaut. Aku pikir dalam hati…. Wah nggak ada orangnya….. he..he.. jadi malu hati sendiri nih he…he….

Kakak seniorku ada beberapa. Ketuanya waktu itu kak Bunyamin Hatibie alias ‘Ulu. Ada juga kak Aldrin, dan beberapa orang lainnya.

Di kelas 2 ada pemusatan latihan PMR di kompleks kantor walikota Jakarta Pusat di Tanah Abang. Setiap hari Minggu pagi kami berlatih di sana disamping latihan rutin kami setiap hari Rabu di sekolah. Seperti biasa mulanya aku hanya jadi pasien saja. Lama kelamaan aku malah kemudian diangkat jadi ketua regu PMR, yang anggotanya antara lain si Leo dan Ade Victor yang jauh lebih berpengalaman dari aku.

Dari situ ada pemilihan ketua PMR yang baru. Tidak dinyana aku malah terpilih jadi ketua PMR SMPN V angkatan 11. Aku juga tidak tahu kenapa bisa mengingat aku termasuk anggota baru dan reputasiku sebagai ‘pasien’.

Tugasku sebagai ketua PMR adalah memimpin tim mengikuti lomba antar PMR sekolah di lokasi Jambore Cibubur, Jakarta Timur. Saat itu ada 4 tim yang kami siapkan. 2 tim putra dan 2 tim putri. Kami berlatih keras ketika itu, baik di sekolah maupun di Tanah Abang.

Sewaktu perlombaan, tim kami termasuk difavoritkan. Kami punya tim tandu yang tangguh, Ade Victor dan Cecep. Aku menjadi ketua regu putra kelas 2. Pasiennya diambilkan dari anggota kelas 1 yang berbadan kecil. Tidak dinyana kami selaku tim yang diunggulkan malah tidak menang. Yang menang adalah tim bayangan kami putra kelas 1 yang bisa jadi juara harapan 1 tingkat DKI. Ketua timnya Aris Djanan Wilogo yang kini berprofesi sebagai pilot pesawat terbang sebuah maskapai penerbangan kargo asing. Tim putrinya berhasil menang menjadi juara harapan 3 tingkat DKI.

Di kelas aku bukan termasuk siswa yang mendapat rangking teratas. Antara rangking 10-5 saja di kelasku, bukan di sekolah.

Saat itu aku senang pelajaran Biologi. Gurunya sudah cukup berumur namun baik sekali. Sayang aku sudah lupa namanya. Dia pernah menceritakan nama seorang siswinya yang bagus sekali: Oryza Sativa, nama latin untuk tanaman padi. Ternyata dia adalah senior kami di PMR juga.

Pelajaran lain yang aku suka adalah Matematika. Gurunya pak Karim yang juga wakil Kepala Sekolah. Sewaktu aku di kelas 3 aku didaftarkan untuk ikut kompetisi matematika antar siswa SMP-SMA tingkat DKI Jakarta. Yang ikut dari sekolahku adalah Vita Rosalita, Evi, Ardhana (kalau tidak salah) dan aku. Aku cukup kaget ketika diminta ikut oleh pak Karim karena aku bukanlah orang yang masuk rangking atas di sekolah.

Tapi jadilah aku ikut proses seleksi di sebuah SMP 216 di Salemba. Alhamdulillah aku lolos sementara teman-temanku tidak. Lalu masuk kompetisi tingkat semifinal di sebuah SMP katolik di depan RSCM. Sekali lagi aku lolos masuk tingkat final.

Finalnya diselenggarakan di gedung departemen pendidikan di kawasan Kuningan. Pak Karim ikut mengantar di hari Minggu itu. Soal ujian di babak final ini ternyata lain dari soal-soal pada babak sebelumnya. Setiap finalis diminta duduk menghadap beberapa meja yang ada pengujinya. Para penguji menanyakan beberapa soal sederhana namun sempat membuat pusing. Diantara para penguji itu ada Guru Besar IPB Prof. Andi Hakim Nasution yang saat itu sangat aku segani. Aku masih ingat beberapa soal yang ditanyakan. Misalnya kita disuruh menggambar pola lintasan semut yang menempel di sisi ban mobil. Juga bagaimana mengambil minyak sebanyak 3 liter dari gentong dengan menggunakan literan ukuran 2 dan 5 liter. Soal yang sederhana saja. Hasil kompetisinya langsung diumumkan siang itu juga. Aku tidak menang tapi masih mendapat hadiah berupa pena dari perusahaan ballpoint Pilot dan juga sertifikat. Pak Karim mengantarku pulang naik taksi sampai ke Senen, dan bahkan memberi aku uang Rp. 10.000 untuk pulang sendiri.

Di SMP 5 aku juga terlibat dalam kegiatan Paduan Suara. Untuk persiapan sebuah lomba paduan suara se Jakarta Pusat, aku termasuk yang dipanggil untuk memperkuat tim kelas 3. Sementara itu siswa-siswi kelas 2 juga dibuatkan sebuah tim khusus. Pelatihnya adalah guru seni suara kami, sayang aku sudah lupa namanya. Kami berlatih setiap hari Minggu di sekolah. Cukup sering juga, mungkin ada 5-7 kali hari Minggu ditambah hari-hari biasa juga. Sayangnya waktu itu aku juga sering tidak bisa latihan karena ikut lomba Kompetisi Matematika seperti yang diceritakan sebelumnya. Jadi seringkali aku terlambat datang atau bahkan tidak bisa ikut latihan di hari Minggu. Merasa aku kurang berlatih, pelatih grup paduan suara memintaku untuk bergabung dengan tim kelas 2, yang tidak terlalu diharapkan untuk menang.

Tiba saatnya kami berlomba, tepatnya di gelanggang remaja Pasar Senen. Kami tampil dengan rasa percaya diri, tanpa ada rasa takut kalah. Penampilan tim kelas 3 luar biasa, tim kami (tim kelas 2 walaupun aku sebenarnya sudah duduk di kelas 3) juga tidak kalah. Hasil akhirnya adalah tim kelas 3 menduduki juara 1 dan tim kelas 2 meraih nomor 2. Hasil yang luar biasa!

Beberapa hari kemudian, di kelas guru Fisika kelas kami – lagi-lagi aku sudah lupa namanya – yang menjadi supporter lomba paduan suara itu menyebutkan bahwa tim kelas 2 tidak akan menang kalau tidak ada aku. Betapa bangganya hatiku disebut begitu oleh guru yang aku hormati saat itu. Memang waktu itu aku jadi andalan suara bagi pengisi “suara 3”, karena anak-anak kelas 2 tidak ada yang cukup kuat ‘power’ suaranya.

Di kelas 3 kami juga pernah mengikuti studi tour ke Yogya yang diselenggarakan oleh sekolah. Aku juga tidak tahu kenapa ikut study tour itu karena sebenarnya setiap tahun paling tidak sekali kami sekeluarga pergi ke Yogya. Jumlah yang ikut mungkin sekitar 200-an orang. Kami menginap di penginapan di sebelah selatan keraton Yogya. Acaranya putar-putar ke keraton Yogya, Borobudur, Prambanan, Waduk Sempor, dll. Aku juga menyempatkan diri naik becak ke rumah kakakku mbak Yarti di Semaki.

Gedung SMP 5 merupakan gedung peninggalan Belanda yang terletak di dekat gedung Kesenian Jakarta, di sekitaran Pasar Baru. Gedungnya tinggi dengan jendela yang besar-besar. Kami bersekolah di pagi hari dan siangnya gedung itu digunakan oleh sebuah SMP swasta. Di malam hari suasanya gedungnya cukup menakutkan. Maklum gedung peninggalan Belanda. Gedung ini cukup unik karena ada beberapa ruang kelas yang punya tempat perapian, lengkap dengan cerobongnya. Aneh juga.

Di sekolah diadakan shalat jumat di lapangan basket sekolah. Setiap kelas digilir piket untuk membersihkan lantai dan menggelar tikarnya sebelum shalat jumat dimulai. Biasanya komandannya pak ………….. guru olahraga SMP 5.

Kami juga sering bermain sepakbola di kompleks lapangan Banteng. Seringnya dengan mempertaruhkan sejumlah uang yang kalau menang uangnya digunakan untuk membeli minuman dingin ramai-ramai.

Di sebelah sekolah kami ada gedung sekolah SMKK, Sekolah Menengah Keterampilan Keluarga, dimana hampir seluruh siswanya perempuan. Di samping lain dari gedung sekolah ada kantor BPS.

Saat ujian akhir SMP, aku bisa lulus dengan nilai yang lumayan, tapi tetap saja tidak tinggi-tinggi amat. Seingatku, nilai tertinggi diperoleh oleh Vita Rosalita – temanku yang waktu itu tinggal di Rawasari.