Banyak yang terjadi dalam enam bulan terakhir ini. Sebenarnya bukan kejadiannya yang penting tapi pelajaran apa yang bisa diambil dari kejadian-kejadian itu. Berikut sekedar ceritanya. Mudah-mudahan ada hikmahnya.
Umur manusia itu rahasia Allah
Suatu hari di pertengahan Januari, sebuah sms datang di telepon saya. Isinya adalah saya diminta pulang ke Jakarta. Saya segera telepon ke si pemberi sms dan jalur telepon langsung diserahkan pada bapak, yang saat itu sedang dirawat di rumah sakit. Intinya, bapak meminta saya pulang ke Indonesia secepatnya. Saat itu bapak sudah dua mingguan dirawat di RS, tapi hari itu dijadwalkan pulang ke rumah. Namun malam sebelum pulang kondisi beliau drop dan sulit bernapas.
Segera saya konfirmasikan hal ini pada kakak-kakak saya, dan setelah beberapa lama mereka berkesimpulan ini mungkin hanya ‘false alarm‘ karena dokter tidak menemukan apa-apa dan membolehkan bapak pulang ke rumah. Namun demikian saya tetap merencanakan untuk pulang ke Indonesia beberapa hari ke depan untuk menengok beliau.
Tidak disangka, besok malamnya waktu Inggris, suara telepon berdering. Bapak masuk ICU.
Dalam hati terbersit bahwa ‘permintaan’ bapak kemarin pada saya adalah perintah beliau, yang mungkin juga adalah perintah terakhir beliau pada saya. Jadilah kami putuskan untuk pulang ke Indonesia siang hari itu juga. Sekeluarga. Semua rencana di-cancel termasuk sebuah seleksi rekrutmen amat penting yang harusnya saya lakukan beberapa hari sesudahnya.
Tiba di Jakarta lebih dari 24 jam kemudian, segera kami ke rumah sakit. Bapak masih di ICU. Selama beberapa hari sesudahnya kondisi beliau naik turun. Sempat keluar dari ICU dan dirawat di kamar biasa selama beberapa hari, tapi kemudian kembali lagi ke ICU, dan lalu keluar lagi. Siang malam beliau harus dijaga karena kondisinya naik turun. Dokter sudah nyaris angkat tangan. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk beliau. Seluruh keluarga sudah siap mengikhlaskan apa saja yang akan terjadi.
Dua minggu di Indonesia, kami harus kembali ke UK. Anak-anak tidak bisa kabur sekolah lebih lama lagi. Saya juga harus kembali bekerja dan ‘fight’ menghadapi kondisi pekerjaan yang sedang genting.
Beberapa hari kemudian, sebuah berita dari Jakarta masuk. Bapak akan dipindah perawatannya ke daerah tanah kelahirannya. Di sana jauh lebih banyak saudara, dan almarhumah ibu-pun dikebumikan di sana. Jadilah bapak kemudian dipindahkan dengan ambulans ke Gunung Kidul di Yogyakarta.
Tidak dinyana, dengan kebesaran Allah, kondisi bapak membaik. Bahkan beliau keluar dari rumah sakit, belajar jalan sendiri, dan seterusnya. Alhamdulillah. Bahkan sekarang bapak mencoba menjalankan keinginannya yang belum terlaksana. Membangun desa tempat beliau dilahirkan.
Ternyata Allah masih memberi waktu bagi kami untuk bisa merawat dan membahagiakan beliau.
Di lain pihak, sepulang kami dari Jakarta menengok bapak, seorang rekan kerja di kantor mendadak meninggal dunia. Di usia 47 tahun, rekan ini meninggal karena perdarahan otak. Padahal ia juga sedang menghadapi situasi yang sama dengan saya dalam urusan pekerjaan. Masih terbayang saat terakhir ia masuk ke ruangan saya untuk mendiskusikan nilai seorang mahasiswa dan membahas situasi terakhir pekerjaan kami. Tidak dinyana beberapa hari kemudian ia wafat. Organ dalam tubuhnya kemudian disumbangkan untuk transplantasi organ 5 orang pasien lain yang membutuhkan.
Selain itu kami juga dikejutkan oleh sebuah berita duka lain. Seorang sahabat kuliah saya dan istri wafat tiba-tiba. Walau si sahabat ini pernah terkena stroke beberapa tahun yang lalu, ia dikabarkan meninggal karena fatigue, dehidrasi, dan perawatan medis yang dibawah standar.
Ketiga hal ini memberikan pelajaran bahwa nyawa manusia tidak bisa ditebak. Siapa yang pergi duluan, siapa yang belakangan. Yang penting kita harus selalu siap-siap saja menghadapi sang Khalik.
Rejeki manusia itu rahasia Allah
Akhir November tahun lalu, saya dipanggil head of school. Isinya sederhana: akan ada pengurangan pegawai dan saya termasuk salah satu orang yang akan terkena. Lebih simpel lagi, saya akan di-PHK.
Hal ini tentu mengejutkan karena selama ini saya cukup sukses membangun dan mengelola program yang susah payah saya kembangkan. Selain itu baru sehari sebelumnya ada pertemuan ‘individual development‘ dengan line manager saya dimana dibahas apa yang akan saya lakukan setahun ke depan. Tidak disinggung sama sekali tentang urusan redundancy ini.
Bersama saya, ada 3 orang rekan lain dalam satu team yang harus ‘cabut’. Ditambah 2 orang lagi yang kontraknya tidak diperpanjang. Jadi dalam team kami tinggal satu orang saja yang akan tetap dipertahankan.
Mendengar ini tentu saya harus segera mencari ganti kerjaan ini. Untungnya, proses PHK ini total dibutuhkan waktu 5 bulan. Mulai dari konsultasi dengan serikat buruh/union, konsultasi individual, baru terakhir 3 bulan notice period. Jadi saya masih ada waktu untuk job hunting sebelum income dari kantor itu tidak ada lagi.
Jadilah segera dimulai inisiatif job hunting. Targetnya bukan cuma sekitar Manchester, tapi mulai dari Amerika, Eropa, Indonesia sampai New Zealand dan Fiji. Pokoknya semua harus dicoba. Sayangnya, job market sekarang memang sedang sulit. Hanya sebagian kecil dari lamaran yang dibuat itu yang berbalas positif. Sayapun datang memenuhi beberapa interview. Sayang juga tidak ada yang hasilnya positif. Maklum juga ekonomi di Inggris dan Eropa pada umumnya masih tidak baik. PHK dimana-mana.
Sampai saya agak frustasi juga akhirnya. Alternatif survival ekonomi keluarga kemudian harus dipikirkan.
Sampai suatu saat ada undangan interview dari kampus di dekat rumah – kesempatan baik yang harus saya ikuti tentunya. Kebetulan waktu itu saya sudah membeli tiket pulang ke Indonesia lagi untuk menengok bapak yang sedang proses recovery dari penyakitnya dan juga memenuhi janji mengisi acara di sebuah universitas di Indonesia. Karena waktu interviewnya tidak bisa diubah, terpaksa tiket pesawatnya yang harus diubah dengan penalti tentunya.
Alhamdulillah, interviewnya berjalan mulus dan sebelum berangkat ke Indonesia tawaran pekerjaan itu disampaikan via telepon. Lega sedikit karena dapat jalan keluar walau tawarannya jauh dibanding apa yang saya dapatkan di tempat kerja yang lama.
Sebelum berangkat ke Indonesia, ada satu lagi datang undangan interview. Sayangnya, waktu interviewnya bertepatan dengan waktu saya sedang di Indonesia. Dalam perjalanan Balikpapan-Samarinda saya menegosiasikan pengubahan waktu interview agar saya bisa tetap diinterview namun tidak membuahkan hasil. Yang mereka tawarkan adalah interview via Skype. Saya terima tanpa pikir panjang.
Akhirnya interview dilaksanakan juga. Saya pinjam tempat di kediaman kakak dimana ada koneksi internet yang mantap. Sayangnya, sewaktu proses interview malah ada masalah teknis sehingga web-camnya terpaksa dimatikan, dan pembicaraannya dilakukan secara bergantian. Ketika saya bicara, microphone mereka di-mute. Dan juga sebaliknya. Interviewnya juga singkat saja. 25 menit dan terpaksa harus dipotong karena mereka ada tugas lain. Yo wis, saya pun tidak berharap banyak.
Tidak dinyana, beberapa jam kemudian saya menerima email tawaran pekerjaan dari mereka. Alhamdulillah.
Tinggal sekarang saya yang bingung. Mau tetap menerima tawaran kerjaan dari kampus dekat rumah, atau menerima tawaran dari tempat yang satu lagi. Lokasi kantor yang menginterview via Skype ini letaknya sekitar 200 km dari rumah, jadi kalau diambil kami harus memikirkan pindah rumah. Bolak-balik tiap hari tentu bikin kantong bolong
Akhirnya, setelah konsultasi dengan istri tercinta dan diakhiri dengan shalat Istikharah, diambil keputusan untuk menerima tawaran kerja di kota Middlesbrough, tempat saya menulis note ini sekarang.
Alhamdulillah.
Umur dan Rejeki. Allah sudah merencanakan semuanya. Yang penting kita terus berusaha dan berdoa.