Beberapa waktu belakangan ini ramai diberitakan di media masa Indonesia, kasus pencemaran nama baik sebuah rumah sakit yang dilakukan oleh seorang Ibu Rumah Tangga di Tangerang. Melalui sebuah email pribadi yang bocor keberbagai milis, sang Ibu diantaranya menuduh dokter dan pihak Rumah Sakit memberikan informasi tidak akurat yang memaksanya untuk dirawat inap dan memberi tambahan pemasukan RS tersebut. Lepas dari aturan dan proses hukum yang telah dan masih dijalani diantara kedua belah pihak, tulisan ini berusaha menjelaskan dinamika motif ekonomi dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.

Hubungan antara pasien, dokter dan rumah sakit sebagai penyedia layanan kesehatan memang unik. Bila pasien menemui seorang dokter untuk meminta bantuan, maka dokter akan memeriksa kondisi kesehatan pasien dan mendiagnosa penyakit bila ada. Di sini dokter berperan memberikan jasa pengetahuannya di bidang medis sehingga bisa diketahui ‘Health Need’ dari pasien. Yang unik kemudian adalah si dokter berperan mengusulkan dan melakukan tindakan medis atau lainnya yang dianggap bermanfaat bagi pasien, misalnya memberikan obat baik oral maupun suntik, merujuk rawat inap, atau bahkan sampai pada tindakan operasi. Dengan kata lain, dokter telah menciptakan “Demand” akan pelayanan kesehatan dari pasiennya.

Dalam disiplin ilmu Ekonomi Kesehatan, peran dokter untuk menentukan arah pengobatan pasien selanjutnya disebut sebagai “Agency Relationship”, dimana dokter berperan sebagai ‘agen’ yang mengambil alih sebagian peran pasien dalam menentukan tahap pengobatannya. Misalnya saja, seseorang yang diindikasikan mempunyai penyakit jantung koroner oleh dokter akan disarankan untuk dioperasi atau diberi obat yang sesuai. Pasien yang dalam hal ini berada dalam posisi sebagai konsumen berada pada pihak yang lemah karena ketidaktahuannya mendiagnosa dan mengobati penyakitnya sendiri.

Keunikan hubungan dokter-pasien utamanya terletak pada kenyataan bahwa hubungan ini lekat dengan hidup-matinya seseorang, kecacatan, kesakitan atau ketidaknyamanan. Dalam hal ini biasanya pasien akan langsung menyerahkan status pengobatan dirinya langsung pada si dokter tanpa perlu berkonsultasi dengan dokter lainnya (second oppinion). Walau merupakan hak seorang pasien, pada prakteknya pasiennya sungkan, tidak mau, atau tidak mampu mencari second oppinion atas pemeriksaan status kesehatan dan tindakan yang harus dijalaninya.

Walau dokter diikat oleh sumpahnya sendiri (sumpah dokter yang diadaptasi dari sumpah Hippocrates) yang harus diucapkan setiap dokter saat lulus dari program kedokteran, banyak hal negatif yang muncul akibat hubungan dokter-pasien ini apalagi jika dilihat dari sistem pelayanan kesehatan yang ada di Indonesia sekarang ini.

Dokter kemudian dihadapkan pada terbukanya peluang ekonomi untuk memanfaatkan hubungan Agency Relationship antara Dokter-Pasien ini. Dokter mendapat imbalan berupa uang jasa medik untuk pelayanan yang diberikannya kepada pasien yang besar-kecilnya ditentukan dari negosiasi antara dokter dan manajemen rumah sakit. Semakin banyak jumlah pasien yang ditangani, semakin besar pula imbalan yang akan didapat dari jasa medik yang ditagihkan ke pasien. Dengan demikian, secara tidak langsung dokter didorong untuk meningkatkan volume pelayanannya pada pasien untuk mendapatkan imbalan jasa yang lebih.

Fenomena dimana dokter, atau penyedia layanan kesehatan lain meningkatkan volume demand terhadap pelayanan mereka disebut “Supply-Induced Demand”. Fenomena ini walau tidak sepenuhnya berkonotasi negatif tetaplah melekat dalam hubungan unik dokter-pasien. Contoh positif dari fenomena ini adalah misalnya munculnya kebutuhan/demand untuk pelayanan bedah tulang saat dokter spesialis bedah tulang mulai tersedia suatu daerah.

Contoh lain dari motivasi ekonomi pelayanan medis adalah praktek kolusi antara produsen/distributor farmasi dengan dokter. Sistem distribusi obat di Indonesia saat ini mendorong dokter untuk mendapatkan keuntungan finansial dari obat-obat yang diresepkannya. Sudah tidak menjadi rahasia lagi di kalangan medis jika perusahaan farmasi memberikan insentif finansial atau hal lainnya pada dokter yang meresepkan obat yang mereka produksi.

Di samping itu, ditengarai banyak rumah sakit, laboratorium klinik, dan institusi kesehatan lainnya memberikan komisi finansial untuk setiap rujukan, tindakan diagnostik, atau tindakan lain yang dilakukan atas ‘perintah’ seorang dokter.

Hal ini tidak terbatas pada hubungan di dalam negeri saja. Dalam sebuah perjalanan udara beberapa tahun yang lalu, saya pernah bertemu dengan sebuah agen marketing rumah sakit di salah satu negara tetangga yang bersedia memberikan sekian persen dari pendapatan yang diterima oleh rumah sakit itu jika dokter di Indonesia mau mengirim/merujuk pasiennya untuk berobat ke sana. Hal ini rupanya sangat umum ditawarkan oleh banyak rumah sakit di negara tetangga untuk menarik pasien dari Indonesia.

Perlu kita sadari bersama bahwa profesi dokter adalah sama dengan profesi lainnya, dimana keahlian dan jasanya harus dihargai dengan pantas. Dengan demikian motif ekonomi bagi penyedia layanan kesehatan sebenarnya bukanlah hal yang tabu. Yang diperlukan adalah sistem yang tepat untuk menyaring efek negatif dari motif ekonomi pelayanan kesehatan. Hal ini sangat diperlukan untuk menjaga hak-hak pasien, meningkatkan efisiensi, sambil tetap memperhatikan kepentingan para dokter dan pemberi jasa pelayanan kesehatan lainnya.

Kasus pencemaran nama baik sebuah rumah sakit yang dilakukan oleh Ibu Prita Mulyasari merebak menjadi pembicaraan banyak orang. Di sebuah email pribadi yang kemudian bocor ke berbagai milis, Prita menuduh dokter dan pihak rumah sakit memberikan informasi tidak akurat yang memaksanya untuk dirawat inap dan memberi tambahan pemasukan bagi RS tersebut. Nuansa yang ada di email Ibu Prita adalah pihak dokter dan rumah sakit yang berusaha menggunakan hasil laboratorium (yang kemudian dianggap salah) untuk ‘memaksa’ pasien untuk dirawat inap. Secara tidak langsung, Ibu Prita menuduh rumah sakit menggunakan segala cara untuk memaksimalkan pendapatannya.

Sudah jadi pengetahuan banyak orang bahwa ada kolusi terselubung antara dokter rumah sakit, apotek, laboratorium klinik, dan perusahaan farmasi. Dokter yang bisa membawa atau merujuk pasien yang ke institusi tertentu akan mendapat imbalan finansial atau komisi. Perusahaan farmasi memberi imbalan finansial atau fasilitas atas obat yang diresepkan para dokter.

Pembuktiannya memang agak ruwet karena memang hampir semua dilakukan di bawah tangan. Namun demikian, barisan  detailer ( medical representative ) yang banyak ditemui di ruang tunggu praktek dokter menunjukkan indikasi besarnya masalah ini.
Walau dokter terikat sumpah Hippokrates yang harus mendahulukan kepentingan pasien, sebagian dokter menggunakan posisinya yang lebih kuat (dari hubungan  agency-relationships antara pasien dan dokter) untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ini fenomena yang disebut  Supply-Induced Demand dalam Ilmu Ekonomi Kesehatan.  Demand pelayanan kesehatan dapat meningkat akibat pengaruh dari  supplier pelayanan kesehatan, dalam hal ini dokter dan RS.

Bagi pasien dan pengguna jasa, terjadinya fenomena ini sering kali menimbulkan perlakuan tindakan yang tidak perlu dan ekonomi biaya tinggi yang sangat memberatkan pasien yang sedang sakit dan keluarganya.Bagaimana cara mengatasinya? Komite medik di setiap rumah sakit adalah garda awal yang seharusnya berperan menyaring dan mempertahankan standar pelayanan medis di setiap rumah sakit. Masalahnya, kondisi rumah sakit di Indonesia bervariasi, ada yang sudah siap dengan struktur komite mediknya, tapi lebih banyak yang masih jauh dari ideal. Kemudian, dalam jajaran komite medis itu sendiri biasanya diketuai oleh dokter paling senior yang ada di rumah sakit itu. Tentu saja hasil komite itu akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, persepsi, dan praktik yang dilakukan oleh sang dokter senior. Ini mengingat pola paternalistik yang masih kental dalam dunia medis di Indonesia.

Apa yang bisa dilakukan dari luar institusi? Tentu saja  peer pressure dari berbagai  patient support group . Lembaga hukum yang siap membantu pasien yang merasa dirugikan juga bisa berperan penting. Masyarakat umum juga perlu lebih mengerti akan hak-hak dalam pelayanan yang dapat mereka dapatkan. Misalnya, pasien menyadari perlunya opini alternatif ( second oppinion ) dari penyedia layanan lain yang tersedia agar didapat pendapat yang seimbang.

Di lain pihak, banyak juga orang yang memanfaatkan kasus dugaan malapraktik untuk memeras rumah sakit. Yang banyak terdengar dari pihak rumah sakit, banyak ‘agen’ pengacara yang bertebaran di rumah sakit untuk menjaring pasien yang tidak puas atas pelayanan dokter dan rumah sakit. Tujuannya adalah mendapat keuntungan finansial dari si rumah sakit yang tidak mau repot-repot berhubungan dengan polisi/pengadilan atas tuduhan malapraktik atau ketidakpuasan pasien atas pelayanan yang diberikan.

Yang paling penting adalah dijalankannya struktur pembiayaan kesehatan yang mendorong terjadinya pelayanan kesehatan yang efisien.  Sistem out of pocket di mana pasien/keluarga membayar langsung biaya pelayanan kesehatan yang masih umum digunakan di Indonesia dapat menyebabkan terjadinya eksploitasi pada pasien. Sistem asuransi kesehatan sedikit lebih baik. Hal ini karena ada proses kontrol kelayakan pelayanan atas setiap klaim yang dilakukan oleh pihak penyedia layanan. Yang paling baik adalah tersedianya layanan yang komprehensif didukung pola pembiayaan yang sesuai, di mana dokter dan rumah sakit juga bertanggungjawab bukan hanya untuk melayani penderita secara kuratif, tetapi juga meningkatkan cara agar penderita tidak sakit, (promotif/preventif). Konsep Jaminan Pelayanan Kesehatan Nasional yang sudah dirumuskan di Indonesia masih maju mundur dalam pelaksanaannya.

Di Inggris, National Health System (NHS) yang dibiayai dari uang pajak menanggung hampir semua jenis pelayanan kesehatan, baik di tingkat pelayanan dasar ( primary care ) maupun pelayanan rujukan (rumah sakit). Dengan demikian, dokter tidak dipacu mencari kunjungan pasien sebanyak-banyaknya atau merujuk pasien untuk melakukan diagnostik atau tindakan lain secara berlebihan. Terjadi kontrol biaya atas apa yang dilakukan oleh dokter atau institusi pelayanan kesehatan lainnya. Namun demikian, tidak ada satu pun sistem yang sempurna. Yang harus kita lakukan adalah terus memperbaikinya ke arah yang lebih baik.

http://republika.co.id/koran/24/54782/Mencerna_Hubungan_Dokter_Pasien

Sewaktu pertama membaca kata-kata di atas di sebuah website saat blogwalking, saya sebenarnya juga bingung maksudnya apa. Ternyata ungkapan itu dipakai untuk menjelaskan upaya penipuan criminal yang menggunakan cara-cara persuasi yang kadang kita tidak sadar kalau itu adalah penipuan – sampai kita tahu kalau kerugian kita ternyata sangat nyata.

Misalnya yang klasik adalah adanya email dari seseorang yang menjanjikan adanya uang sekian juta dollar yang sudah lama tidak diklaim siapapun sebagai pemiliknya dari sesuatu bank, atau menjanjikan komisi sekian persen dari Mrs. Anu janda dari raja siapa di mana yang perlu menginvestasikan uangnya di Negara kita. Ada juga email yang memberi tahu kalau kita menang lotere sekian juta dollar atau menang undian Green Card untuk tinggal di Amerika sana.

Biasanya email itu dikirim menggunakan list email yang ada di berbagai mailing list, atau di bank email yang juga banyak diperjual belikan di internet. Walau kebanyakan saat ini fasilitas email sudah punya fasilitas untuk memfilternya langsung (bulk mail/spam),  Tapi kadang juga masih ada satu dua yang lolos.

Ciri email itu biasanya dikirim menggunakan email gratisan seperti Yahoo, Hotmail, atau Gmail. Perusahaan yang bonafide tentu saja akan menghindari penggunaan email gratisan seperti itu. menggunakan bahasa Inggris yang banyak salah ketik, atau salah grammarnya. Sekali lagi biasanya karyawan perusahaan yang bonafide tidak akan banyak salah dalam menulis hal-hal resmi kantor.

Yang aneh beberapa email itu bahkan menggunakan bahasa Indonesia antah berantah yang tidak sesuai dengan norma bahasa Indonesia umumnya. Sangat mungkin email itu dikirim menggunakan fasilitas seperti google translate dari bahasa Inggris atau bahasa lainnya.

Tidak sedikit orang yang terkena perangkap jenis penipuan kriminal ini. Saya kebetulan pernah mengelola beberapa organisasi dan websitenya yang ada di UK sudah sering menerima kontak dari orang di Indonesia (kenalan atau tidak kenal sama sekali) yang meminta bantuan untuk mengkonfirmasi si X di London, atau perusahaan Y di Manchester. Selama ini semuanya bohong belaka.

Modus operandinya adalah dengan menjanjikan si penerima email untuk menerima atau mengelola uang, menerima kiriman barang berharga atau sejenisnya. Namun kemudian untuk mengambilnya, harus ada uang administrasi atau uang pelabuhan yang harus dibayar lebih dahulu lewat pihak lain. Lalu kita disarankan untuk menghubungi si pihak ketiga yang akan membantu itu. Di sinilah kerugiannya terjadi. Biasanya kita diminta membayar uang administrasi atau sejenisnya itu melalui Western Union atau Money Gram. Uang yang dikirimkan lewat kedua jenis pengiriman uang itu bisa dicairkan dimanapun di seluruh dunia asal nomor kode pengirimannya diketahui.

Email penipuan ini biasanya berasal dari negara ketiga, yang menggunakan alamat pos ‘benaran’ di negara maju supaya penerima email percaya. Kadang website yang tertera di email adalah website resmi organisasinya, tapi biasanya nomor telepon yang diberikan adalah menggunakan +44703….. atau sejenisnya, yang merupakan nomor non-geographic yang bisa diforward ke nomor lain (biasanya ke nomor handphone di negara lain).  Beberapa kali saya mencoba menghubungi nomor-nomor itu langsung dan bahkan gantian ngerjain mereka!

Alamat yang ada di email bisa benar bisa juga bohong-bohongan saja. Misalnya ada yang mengaku perusahaan transport/logistik tapi menggunakan alamat satu kantor di Central London, yang sebenarnya adalah alamat salah satu radio besar di sana. Kalau mau ditelusuri lebih lanjut, email penipuan itu sebenarnya bisa ditelusuri dari IP Address yang tertanam di dalam body email, walau kebanyakan orang tidak bisa melihatnya langsung.

Belakangan modus penipuan seperti ini mulai beragam dan “kreatif”. Ada yang menawarkan berbisnis, ada yang menawarkan kerjaan, bahkan jodoh. Ada seseorang yang menanyakan tentang bekerja jadi Au Pair di London, karena dia sudah ‘diterima bekerja’ di sebuah keluarga kaya di kawasan Mayfair London. Saya telusuri informasinya ternyata bohong belaka. Pemerintah Inggris tidak akan mengijinkan pleamar visa Au Pair dari Indonesia. Kemungkinan besar si penipu tahu informasi tentang dia dari website Au Pair yang banyak ada di Internet.

Banyak juga penipuan yang melibatkan pekerja ‘professional’. Pelamar dari Indonesia diminta mengirimkan CV, yang kemudian data dari CV itu akan dijadikan amunisi penipuan mereka. Langsung diterima kerja tanpa wawancara macam-macam, kemudian disuruh melengkapi dokumen keimigrasian dengan biaya sekian. Setelah dikirim uangnya bukan urusan selesai tapi malah minta uang lebih banyak lagi. Bisa ditebak ijin kerja tidak keluar, uangnya saja yang terus dibongkar.

Yang paling keji adalah penipuan dengan modus cinta. Para penipu bisa mencari detail seseorang dari banyaknya site perjodohan yang ada di Internet. Dari situ mereka berpura-pura tertarik pada si calon korban yang ada, lalu berjanji ini itu. Merasa mendapat angin surga dari sang calon yang tinggal jauh di sana, apapun juga mungkin dilakukan untuk menggapainya. Misalnya si penipu bilang bahwa dia telah mengirimkan satu paket perhiasan mahal untuk digunakan sang calon, dan hanya tinggal membayar biaya ongkos cukai atau biaya ini itu sejumlah sekian ratus dólar saja.

Penipuan dengan menggunakan daya persuasi ini banyak juga dikenal di Indonesia dengan penipuan via sms, undian berhadiah, hipnotis, sirep, ‘ilmu gendam’ atau sejenisnya. Menurut saya pada dasarnya ya sama saja dengan penipuan via email bahwa si penipu mencoba mempengaruhi calon korbannya sehingga percaya apa yang dikatakannya. Begitu sang korban sudah terkena kait umpannya, gampang saja memanfaatkannya untuk mengeruk keuntungan yang banyak.

Saya sendiri pernah mengalami usaha ‘crimes of persuasión’ ini secara langsung. Suatu hari suami dari baby sitter yang membantu keluarga kami datang bersama seseorang dan mengabarkan bahwa sang baby sitter kecelakaan di suatu rumah sakit dan butuh biaya pengobatan. Yang memberi tahu informasi ini adalah si orang yang tidak dikenal itu. Saya kebetulan tahu kalau si baby sitter itu tidak sakit tapi memang pergi ke kampung untuk menjenguk keluarganya, jadi nggak mungkin dirawat di rumah sakit. Jadi saya berkeras itu nggak mungkin dan ternyata benar adanya!

—————–

Cerita tentang au pair di atas pernah saya tulis di sini: http://donowidiatmoko.multiply.com/journal/item/23/Yati_ingin_jadi_Au_Pair

Pagi tadi saya ikut training yang cukup membosankan. Topiknya tentang prosedur pelaksanaan “exam board” atas penilaian modul pelajaran di kampus kami. Walau semula saya tidak mendaftar untuk ikut training ini, tugas saya di kantor ‘mewajibkan’ saya untuk mengikutinya.

Pesertanya ada kira-kira 20 orang dari berbagai fakultas. Beberapa diantaranya adalah kolega dekat saya. Kebetulan kami diminta duduk dalam ruangan yang kursinya diatur menyerupai huruf U, seperti umumnya pengaturan meja saat exam board dilaksanakan.

Saat training sudah berjalan beberapa lama dan rasa bosan mulai menerpa, saya baru melihat-lihat rupa wajah peserta training lainnya. Duduk persis di depan saya seorang dosen laki-laki yang sudah cukup senior dari sekolah lain. Perawakan, wajah, dan pakaiannya biasa saja. Yang menonjol adalah matanya. Biru cerah bak warna air samudera.

Walau orang bermata biru tidak terlalu sulit dicari di tempat saya tinggal, tapi warna biru si dosen tadi sangat jarang atau belum pernah saya temui sebelumnya. Dari jauh saja sudah terlihat bahwa warna matanya sangat berbeda dengan kebanyakan orang lainnya.

Sayangnya (atau bagusnya), saya bukanlah orang yang berani bertatap mata berlama-lama jadi saya tidak bisa yakin apa warna mata tersebut asli miliknya atau ‘imitasi’ yang berasal dari contact lens yang juga bisa mengubah warna bola mata seseorang.

Pikiran saya lalu melayang ke medio pertengahan tahun ‘90-an, sewaktu saya bekerja di Depok. Saat itu ada seorang mahasiswi yang selalu tampil modis. Awalnya saya mengira dia ini ada keturunan bulenya karena warna matanya tidak sama dengan kebanyakan warna mata orang Indonesia atau Asia. Ternyata setelah bertemu beberapa kali warna matanya selalu berganti-ganti dengan menggunakan contact lens berwarna. Saat itu saya baru tahu kalau contact lens ternyata ada yang berwarna macam-macam dan bukan hanya untuk pengganti kacamata saja. Walau dia bukan sebangsa bunglon yang bisa mengubah warna kulitnya sesuai dengan lingkungannya (eh mata bunglon bisa berganti warna juga nggak ya?), tapi warna bola matanya selalu selaras dengan busana yang dikenakannya. Itu penampilan dia kala kuliah, bagaimana warna matanya kalau sedang Dugem silahkan bayangkan sendiri saja deh…

Lumayan kan untuk penghilang kebosanan mengikuti training :D

Rambut memutih pertanda tubuh dimakan usia. Demikian juga saya. Lima tahun lalu, hanya sehelai dua helai rambut putih yang bisa terlihat di kepala. Sekarang lain lagi ceritanya. Mudah saja mencari helai-helai putih pertanda berjalannya usia saya.

Selain memutih, jumlah rambut yang rontok tidak diimbangi oleh jumlah rambut yang tumbuh baru. Alhasil di beberapa sisi kepala rambut menipis, membotak, juga sebagai tanda penuaan.

Biasanya sekali dalam sebulan saya memotong rambut di tempat cukur rambut. Di dekat rumah saya, ongkos cukur biasa sangat mahal: £11 untuk proses cukur yang hanya 10-15 menit lamanya saja. Untuk student dan OAP (Old Age and Pensioner) ongkosnya £8.5. Sayang saya sekarang tidak punya lagi kartu mahasiwa full time jadi tidak bisa menghemat £2.5 alias sekitar Rp 35.000 per cukurnya.

Sebenarnya kalau mau lebih hemat, bisa mencari tempat cukur di kawasan perumahan Asia. Di sana ongkos cukur cuma skitar £5 saja. Lama lagi nyukurnya bisa sampai ngantuk-ngantuk saat dicukur. Walau tanpa pijat seperti di Indonesia, lumayan lah daripada 11 pound hanya dapat quick cut.

Sebenarnya paling hemat adalah minta dicukur konco wingking alias istri sendiri. Sayangnya, sudah hampir 12 tahun kami menikah baru satu kali dia berani mencukur saya. Itupun dengan gaya rambut hampir plontos kayak orang habis sakit tipus. Sejak itu dia tidak berani lagi mencukur rambut saya dan upaya penghematan tidak bisa dilakukan! Coba dia berani mencukur rambut saya (dan saya juga berani dicukur oleh dia), dalam satu bulan bisa dihemat uang £11, setahun £132 sekitar 2 juta rupiah! Banyak kan?rambut

Saat di asrama kampus dulu, saya bercukur di tukang cukur dalam kampus yang menyewa satu kamar di dalam kampus. Enak juga sih lokasinya persis di samping danau, dan kalau musim panas jendelanya dibuka bisa mencium aroma danau yang macem-macem. Tukang cukur itu hanya buka saat term time, dan kalau mau cukur harus buat appointment dulu. Nyukurnya ala kilat, pokoknya 10 menit harus kelar.

Di Indonesia, saya selalu pilih tukang cukur yang ongkosnya sudah mencakup ekstra service pijat bahum, leher dan kepala. Rasanya segar sekali sehabis ngantuk-ngantuk diurut otot yang kaku dan kulit kepala dipijat. Di beberapa tempat juga ongkosnya termasuk satu teh botol dingin. Segaarrrr…..

Yang patut dihindari adalah tukang cukur yang tempatnya banyak nyamuk. Ini sering saya alami dulu sewaktu jaman SMP di tukang cukur di daerah Tanah Tinggi dekat Senen. Nyukurnya sih OK dan enak, tapi nyamuk-nyamuk yang ada di sana berpesta pora meminum darah segar saya dari kaki yang tidak tertutup celana pendek SMP kala itu…..

Di luar Jakarta, saat ikut KKN saya pernah coba datang ke tukang cukur di Pasar Pandeglang (Jawa Barat ketika itu). Di tengah los pasar yang saat itu sepi di siang hari. Angin semilir menghembus disela suara radio dangdut disetel keras los sebelah. Bapak tukang cukur tua memainkan guntingnya dengan tangkas. Ongkosnya murah saja. Secarik puisi sempat tercurah setelah episode cukur siang itu. Rambutku tertinggal di Pasar Pandeglang.

Urusan cukur-mencukur rambut, saya juga punya satu talent terpendam – mencukur. Selama ini sih hanya dipraktekkan ke anak-anak dan istri saya. Dulu juga kadang ada tetangga berkantong kempes minta dicukurin ke saya. Sewaktu di asrama juga pernah mencukur rambut teman-teman di sana.

Semua ini dimulai dari tantangan mencukur rambut orang Ghana yang full kriwil. Tetangga kamar saya si orang Ghana kebetulan waktu itu membeli mesin cukur rambut, yang kala itu di tahun 90-an masih rada-rada termasuk alat canggih. Niatnya membeli untuk memotong rambut anak-anaknya yang ditinggal di Ghana. Dia juga ingin mencoba mesin itu dipakai di rambutnya. Saya yang waktu itu belum pernah mencukur rambut orang sama sekali dimintanya menjajal.  Okelah pikir saya. Rambut kriwil kan nggak ada mode-nya. Pasti cuma sembarang potong saja jadi.

Ternyata, dugaan saya salah sama sekali. Rambutnya yang kriwil kribo sudah bertahun-tahun tidak dikeramasin, disisirpun tidak. Jadi tugas pertama adalah menarik-narik rambutnya supaya bisa karuan bentuknya dengan sisir logam besar mirip garpu panjang, yang selama itu menjadi ’sisir’ utamanya. Minta ampun sampah yang keluar dari keriwil rambutnya. Segala macam ada deh. Setelah itu, sang mesin cukur baru beraksi. Tapi entah saya yang nggak bisa menggunakannya atau si mesin cukur yang kuat memotong gumpalan rambut yang hampir menggimbal itu, proses mencukurnya ini jadi lamaaaaa sekali. Hampir dua jam sepertinya baru selesai. Kapok deh nyukur rambut orang Afrika!

Tapi sejak itu saya lalu jadi PeDe kalau diminta nyukur rambut orang lain. Rambut orang Afrika aja bisa gimana cuma rambut orang Indonesia!

Kemarin pagi, saya mencukur rambut Sofia putri kami yang lahir 4 minggu yang lalu. Walau saat aqiqah dulu sebagian rambutnya sudah dipotong, sebagai bagian dari sunnah rasullullah SAW kami memutuskan untuk mencukurnya sekalian. Dua anak kami terdahulu tidak dicukur habis rambutnya, namun yang ketiga ini habis rambutnya dicukur nyaris botak.

Cukur aqiqah tentu saja bukan perlambang penuaan seperti yang terjadi pada saya, tapi melambangkan kasih orang tua pada anaknya. Yaitu dengan merawat sang anak dan juga memberinya nama yang baik. Semoga menjadi awal yang baik untuk sepanjang hidupnya.

Kemarin sore saat sedang sibuk mencampur kedele rebus dengan ragi dalam rangka pembuatan tempe, Rana anak kedua saya bicara sesuatu yang agak mengagetkan.

“Bapak, I want to live in Indonesia when I am 13″, katanya. “Why?” tanya saja. Bukan karena saya mau tinggal selamanya di sini tapi ngapain juga dia yang menentukan target sendiri.

“If I live here, I will find it difficult to find a husband”. Waaahhhhh!!!!!!????? Anak saya ini baru 8 tahun umurnya kok sudah ngomong ginian nih? “Why did you say that?” tanya saya lagi.

“You know it’s difficult to find a muslim boyfriend to be my husband, and it must be easier to find one in Indonesia” (more or less gitu deh omongannya… tepatnya saya juga sudah lupa).

Samber geledek! Putri kesayangan saya yang kecil imut ini sudah mikir sejauh itu ya. Saya lalu bingung juga mau menjawab bagaimana, tapi sedikit demi sedikit saya menceritakan kepada dia bahwa di sini (Inggris) juga banyak muslim boys, atau lihat saja beberapa teman keluarga kami yang menikah dengan mualaf di negeri bule ini. “Tuh lihat tante Helena, tante Mila, mereka punya suami orang bule muslim yang baik kan?” Memang kedua sahabat kami ini alhamdulillah menikah dengan mualaf bule. Perbincangan sore itu berlanjut cukup panjang sampai waktunya shalat maghrib.

Dalam hati saya bersyukur, anak saya yang belum akil baligh ini sudah berpikiran sejauh itu, tapi di sisi lain gelisah juga apakah sudah tepat anak seumur itu bicara tentang perkawinan dan lain sebagainya. Tapi mau nggak mau hal semacam ini pasti akan muncul juga di perbincangan keluarga jadi ya tinggal pandai-pandainya kita mengolah jawaban dan argumentasi yang baik saja pada mereka.

Rana putri saya ini tidak neko-neko. Saat ini cita-citanya dia ingin jadi musisi. Sewaktu di kelas ngajinya beberapa waktu lalu dia diberi tahu oleh gurunya kalau sebaiknya perempuan tidak memilih profesi sebagai professional entertainer, dia menangis sedih. “I want to perform in front of a lot of people”, katanya. Kami bilang bahwa boleh saja dia jadi pemain musik tapi sebaiknya tidak perlu menjadi musisi yang tampil di panggung menyanyi dan lain sejenisnya. Cita-citanya juga nanti sambil sekolah dia mau kerja part-time di supermarket untuk mendapat tambahan uang sakunya. “I will find a proper work when I was 20″, katanya.

Fakhri, anak saya yang laki-laki lain lagi. Cita-citanya sekarang adalah menjadi Chef, alias juru masak. Dia sebenarnya tidak terlalu senang menonton program masak-memasak Jamie Oliver atau sejenisnya, tapi entah kenapa dia memproklamirkan dirinya ingin jadi chef beberapa waktu lalu. Saat dia dapat Achievement Award beberapa waktu lalu di sekolah, dia juga menyampaikan cita-citanya di hadapan kepala sekolah dan seluruh siswa sekolah lainnya. Saya sih nggak masalah, dia mau jadi apa yang penting kerjaannya baik dan halal. Kita orang tua tinggal menyokong saja dengan baik. Minggu lalu saya mulai ajari Fakhri belajar memotong ayam. Dari ayam seekor utuh dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan masaknya. Nampaknya dia menikmati pelajaran dari saya itu juga.

Bulan lalu Fakhri bilang bahwa dia ingin maju jadi “Student Council”, alias DPR siswa di sekolahnya. Persiapannya juga serius lengkap dengan ‘kampanye’ dan pemilihannya. Dia membuat sebuat sendiri sebuah draft pidato kampanye, yang kemudian disampaikannya di kelas saat pemilihan. Kebetulan kepala sekolahnya juga ikut menghadiri acara itu di kelasnya. Saat pemilihan dia terpilih dengan suara mayoritas di kelasnya, tanpa saingan berat sama sekali. Agak mengherankan juga karena dia terhitung siswa baru (karena kami baru pindah 1,5 tahun lalu ke daerah ini) dan juga dia hanya salah satu segelintir dari siswa asing (non warga Inggris) yang ada di sekolah ini.

Kami tentu saja bangga melihat pencapaian dia, tapi juga was-was tentangnya. Memang nama yang kami beri pada dia adalah “Fakhri”, yang artinya adalah “kebanggaan”, tapi apakah kita selaku orang tua selalu mencari kebanggaan dari putra-putri kita?

Sewaktu harus ganti kereta di stasiun Manchester Piccadilly pagi tadi, kebetulan waktu nunggunya cukup lama, sekitar 20 menit. Ini terjadi karena ada beberapa kereta yang jadwalnya dibatalkan entah kenapa.

Dari arah peron kereta api, saya sengaja berbelok jalan menuju ruang tunggu dan tidak langsung menuju peron kereta berikutnya, soalnya masih lama nunggunya. Seorang petugas, melihat saya lalu menanyakan tiket kereta. Saya kira dia curiga bahwa saya tidak membawa tiket kereta atau mau cari gratisannya saja. Tentu saja saya lalu keluarkan tiket langganan kereta saya dan lalu dia periksa dengan telilti. No problem – jalan terus. Istirahatlah saya kemudian di ruang tunggu sambil minum coklat panas di musim dingin ini.

Setelah kereta hampir datang, saya lalu bergerak menuju peron. Eh ternyata ketemu lagi si petugas yang nanya tentang tiket saya sebelumnya. Saya perlihatkan tiket saya lagi, dan dia lalu ingat kalau sayalah yang tadi disetop dia dengan kecurigaan.

Tak dinyana dia lalu minta maaf tentang sikapnya beberapa menit yang lalu. Saya kaget juga sebenarnya, dan karena memang merasa dia tidak salah, ya saya jawab nggak apa-apa, karena itu memang tugasnya dia.

Dalam hati lalu saya bertanya, kenapa dia mesti minta maaf ya? Padahal kan itu tugasnya menanyakan tiket kereta siapapun yang akan memasuki peron. Kalau dia tidak bertanya, malah mungkin dia tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Mmmm….

Apa karena dia merasa malu telah mencurigai saya yang berlebihan karena tampang ‘minoritas’ saya atau gimana ya? Apalagi pagi itu saya memakai Shemagh alias scarf ala palestina yang sering dipakai Yaser Arafat. Apa karena itu dia minta maaf?

Sebenarnya saya sering mengalami hal seperti ini. Urusan tampang dan ‘potongan’ yang sering membuat orang salah kaprah.

Setiap tahun ajaran baru misalnya, saya sering disangka mahasiswa baru dan bukannya orang yang mengajar mereka di kelas. Yang salah sangka bukan hanya mahasiswa, tapi dosen dan staf lain juga.

Tampang saya yang ‘awet muda’ atau ‘awet kecil’ ini sering kadang membuat saya ‘direndahkan’. Bukannya saya ingin ‘dituakan’ atau ‘ditinggikan’ tapi kadang nggak enak juga selalu disangka mahasiswa undergraduate atau karyawan urusan domestik ;)

Kebetulan saya memang sering nggak peduli dengan penampilan. Whatever yang ada di lemari ya saya pakai saja. Urusan beli dll biasanya istri saya yang membelikan. Potong rambut ya terserah si tukang pangkas saja gayanya mau dibuat bagaimana.

Namun demikian, saya sendiri sering salah menilai orang dari penampilannya. Pernah suatu hari saat ketemu teman baru, saya sok akrab sok kenal nanya berapa bulan si kenalan baru ini hamil. Badannya agak gemuk dan pakai baju yang loose. Jadi saya kira hamil. Eh ternyata dia memang begitu badannya, kagak hamil sama sekali… kawin aja belum :D . Saya sama sekali tidak ada niat meledek atau mengolok-oloknya, tapi mungkin dia sih sakit hati ya maaf yaaa….. namanya juga salaaaahhhhh……

(nb: this is not by any means an exhaustive list)

Sebenarnya sudah beberapa kali ada yang minta saya menuliskan tentang ini, namun baru kali ini saya ‘tergerak’ menuliskannya karena yang minta adalah Sita, teman SD saya dulu (yang sudah 25 tahun nggak ketemu!).

  1. Kurus. Ini kayaknya nggak perlu diceritain karena kalau ketemu langsung semua orang pasti bisa ngeliat sendiri.  Nggak kurus-kurus amat sih tapi ya memang persediaan lemak tubuh dikit sekali di badan ini. Sejak lepas SMP sampai lulus S1 berat badan saya statis alias stabil alias sama saja di kisaran 48-52 kg. Setelah kawin sama saja ceritanya. Baru sekitar 4-5 tahun lalu berat badan saya naik 5-10% (ini statistically significant kali ya) menjadi sekitar 55 kg.
  2. Nggak bisa diem alias pecicilan. Salah seorang teman kuliah dulu pernah menjuluki saya sebagai ‘cacing’ alias mahkluk yang selalu bergerak mengulet ke kanan dan kekiri. Saya nggak marah karena memang karakter saya ya kurang lebih seperti itu. Tapi bukan karakter licin dan menjijikkan seperti cacing lho ya…. hihiihi….
  3. Pemalu. Pasti banyak yang nggak percaya tentang ini. But I am. Istri saya paling tahu tentang ini. Jadi kalau mau tahu lebih lanjut, silahkan saja tanya sama dia ya….he..he…
  4. Ingin jadi pelajar abadi. Ya, saya ingin belajar segala sesuatu tentang kehidupan ini. Ini kemudian menjadikan saya senang belajar tentang segala hal. Mulai dari Sejarah, Astronomi, Biomedis, Musik, Politik, Binatang dan Tumbuhan (termasuk bercocok tanam), Geografi, Sosial, Agama, Fotografi, sampai Sastra. Sekarang saya sedang belajar menjahit dan senang memasak. Yang saya ingin lakukan berikutnya adalah belajar bahasa lain. Bahasa Arab kali ya?
  5. Nggak bisa fokus. Ini mungkin akibat dari karakter nomor 4 saya di atas. Saya agak nggak tahu saya ini pintar di bidang apa karena tidak ada bidang yang saya geluti terus menerus secara fokus. Dulu waktu selesai SMA, saya mendaftar di 5 jurusan yang sama sekali berbeda: Elektro, Kesehatan Masyarakat, Jurnalistik, Komputer dan Desain Grafis. Waktu itu saya merasa punya cukup minat dan kemampuan untuk mendalami bidang-bidang itu. Apa saja yang diterima ya saya ambil deh. Yang diterima adalah Kesehatan Masyarakat. Jadilah saya kuliah di bidang itu. Setelah lulus, saya kemudian mendalami ekonomi kesehatan. Bidang baru lagi.
  6. Seneng utak-atik. Hampir semua benda di rumah saya pernah saya utak atik. Mulai dari slide projector dan binocular milik bapak saya, mesin cuci, mobil, sampai laptop. Pengalaman paling serius sih pernah kesetrum listrik dari TV rusak dan seisi rumah nggak ada yang tahu padahal saya sudah teriak kuerassssss sekali.
  7. Ambisius vs Air Mengalir. Mungkin banyak yang mengira saya ini ambisius. Mungkin juga kali ya, tapi saya sendiri malah merasa sama sekali tidak. Hidup saya hanya bagai air mengalir saja, tidak pakai target pasti atau grand idea. Whatever comes to my live I’ll take it.
  8. Nggak suka duren, keju dan masakan barat. Walau pada umumnya saya ini omnivore yang memakan semua makanan yang halal, tapi saya nggak suka dengan Duren. Tidak sampai taraf membenci bau duren seperti bapak saya sih, tapi ya kalau nggak bakal beli duren sendiri deh kecuali kalau mbeliin istri yang kalap kalau ketemu duren :D . Saya juga nggak suka Keju, dan Makanan2 ala barat lainnya. Kalau ada makanan Asia aja deh….
  9. Pengen traveling naik motor dari ujung Sumatera sampai ujung Nusa Tenggara. Masalahnya: Saya nggak pandai naik motor…. Cita-cita lain adalah pengen naik kereta api Siberian Express dari Moscow ke Beijing. Kapan ya bisa kesampaian…..
  10. Idealis? Pengennya, tapi seringkali masih terbentur dengan kenyataan dengan susahnya jadi orang idealis.

Rabu, 17 Desember 2008

http://www.republika.co.id/koran/24/20788.html

Iklim dan sistem demokrasi Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir telah berkembang sangat pesat. Dimulai dari dihentikannya oligopoli tiga partai zaman Orde Baru menjadi sistem multipartai, dibentuknya DPD sebagai bagian dari sistem parlemen bikameral, pemilihan presiden langsung, dan juga pilkada provinsi dan kabupaten.

Semuanya menggambarkan dinamisnya perubahan yang oleh kebanyakan kalangan dianggap sebagai perkembangan yang sangat positif. Pada setiap periode lima tahun, ada empat kegiatan besar yang harus dilakukan: pemilu legislatif, pemilu presiden, pilkada provinsi, dan pilkada kabupaten. Penyelenggaraan sistem demokrasi ini tentu harus ada harga yang dibayarkan oleh kita semua rakyat Indonesia, yang berbentuk pengeluaran pemerintah melalui APBN.

Pada tahun anggaran 2009 Komisi Pemilihan Umum (KPU) mendapatkan dana Rp 13,5 triliun yang merupakan penurunan dari jumlah anggaran yang diajukan oleh KPU, yaitu Rp 14,1 triliun. Dengan adanya penurunan anggaran ini maka KPU harus menekan biaya masing-masing komponen agar memenuhi pagunya.

Jika proporsi penggunaan anggaran ini sama dengan proporsi yang diajukan, maka bisa diperkirakan anggaran 2009 untuk pemilu DPR adalah Rp 4,82 triliun dan pemilu presiden sebesar Rp 8,68 triliun. Sebelumnya untuk anggaran 2008, KPU mendapat alokasi dana Rp 6,67 triliun. Jika kita asumsikan proporsi pengeluaran yang sama bisa digunakan untuk tahun anggaran 2008, jatah anggaran untuk pemilu presiden adalah Rp 4,29 triliun. Simpelnya, total biaya yang diperlukan untuk memilih paket presiden dan wakil presiden baru Indonesia untuk lima tahun ke depan Rp 12,97 triliun.

Untuk memilih anggota legislatif, perhitungannya menjadi lebih rumit karena ada beberapa tingkat pemilihan anggota legislatif, mulai dari DPR Pusat, DPRD I, DPDRD II, dan DPD. Untuk menyederhanakan analisis, kita misalkan saja untuk masing-masing kategori kegiatan tersebut bobot pembiayaannya sama. Jadi biaya penyelenggaraan pemilu pusat sama bobotnya dengan pemilu DPRD I dan II, dan juga DPD. Dari total anggaran pemilu legislatif sebesar Rp 7,19 triliun tadi bisa dibagi empat untuk masing-masing tingkat pemilihan sehingga anggaran untuk memilih anggota DPR pusat adalah sebesar Rp. 1,8 triliun.

Mengingat pada pemilu 2009 akan dipilih 550 anggota legislatif DPR pusat, untuk memilih seorang anggota DPR akan diperlukan biaya Rp 3,27 miliar per anggota DPR terpilih nantinya. Jika kita bagi total anggaran untuk penyelenggaraan pemilu nanti yang sebesar Rp 20,17 triliun tadi dengan jumlah seluruh pemilih sebesar 174,41 juta jiwa, maka biaya yang dikeluarkan untuk memilih pasangan presiden dan wapres sebesar Rp. 115,647 untuk setiap pemilih.

Jika kita bandingkan ini, misalnya dengan pengeluaran negara untuk kesehatan sebesar Rp 155,695 per orang (National Health Account 2006) terlihat jelas bahwa ongkos penyelenggaraan pemilu ini mahal adanya. Apalagi, jika dilihat analisis di atas baru terbatas pada biaya yang dikeluarkan oleh KPU dan belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh institusi terkait lainnya.

Biaya pengamanan pemilu, ongkos kampanye masing-masing parpol, caleg, dan capres, dan lain-lain belumlah masuk dalam hitungan tersebut. Belum lagi biaya yang diperlukan untuk memberikan gaji, fasilitas dan biaya operasional bagi mereka yang terpilih nantinya menjalankan tugasnya masing-masing.

Mungkin tidak ada yang tidak sepakat jika demokrasi adalah jalan terbaik yang harus dilalui Indonesia untuk menjamin kelangsungan hidup bernegara. Pemilu adalah tahap terpenting yang harus dilalui untuk menjamin terlaksananya demokrasi di Indonesia. Dengan demikian, ongkos pemilu yang harus dikeluarkan adalah konsekuensi logis dari kemauan kita mengikuti jalan demokrasi. Uang yang dikeluarkan sebesar itu mungkin harga tepat yang harus dibayar dalam proses demokrasi ini.

Mahalnya biaya proses demokrasi kita haruslah diimbangi oleh kinerja dan integritas para pengemban amanat demokrasi. Masyarakat yang pada gilirannya harus membayar ongkos demokrasi lewat pajak dan pengurangan fasilitas yang disediakan negara berhak meminta pertanggungjawaban mereka yang duduk di kursi empuk Senayan dan Istana Merdeka. Jika tidak, antipati masyarakat mungkin akan lebih muncul dan tingkat partisipasi politik akan menurun karenanya.

Sayangnya, masih sering rakyat Indonesia mendengar suara sumbang dan mencium bau busuk dari institusi pengemban amanah demokrasi. Terbongkarnya berbagai kasus suap bermiliar rupiah yang melibatkan para anggota legislatif, misalnya, semakin memperpuruk reputasi lembaga pengemban amanah itu.

Harapan besar yang semula timbul dari hasil reformasi 1998 seakan terus pudar. Tidak tampak perubahan berarti dari Senayan atau bahkan mungkin bahkan terasa lebih buruk dibanding dulu akibat diangkatnya kasus-kasus ini oleh KPK.

Harapan kita ke depan tentunya mereka yang terpilih di berbagai tingkatan dari pemilu mendatang sadar, rakyat Indonesia telah mengorbankan uang yang besar untuk memilih mereka. Mudah-mudahan itu kemudian bisa menjadi cambuk agar mereka dapat menjalankan tugas sebaik-baiknya.

The Times, sebuah harian terkemuka di Inggris (09/10/08) mengeluarkan daftar peringkat perguruan tinggi terkemuka di dunia tahun 2008. Seperti mungkin banyak diduga orang, perguruan tinggi dengan nama besar menduduki peringkat-peringkat atas. Harvard University dan Yale University di Amerika Serikat menduduki peringkat pertama dan kedua. Peringkat ketiga dan keempat diduduki oleh Cambridge University dan University of Oxford di Inggris. Selanjutnya perguruan-perguruan tinggi di benua Amerika Utara, Eropa, dan Australia mendominasi keseluruhan daftar itu.

 

Dari Benua Asia, University of Tokyo di Jepang didampingi University of Kyoto dan University of Hongkong sebagai wakil tertinggi Asia yang menduduki peringkat 19, 25 dan 26 di daftar itu. Dari negara-negara tetangga Indonesia, hanya National University of Singapore (peringkat 30) dan Nanyang Technological University (peringkat 77) yang mampu menembus rangking 100 besar Universitas di dunia. Hanya ada satu universitas lain dari Asean yang mampu duduk di rangking 166 dunia yaitu Chulalongkorn University dari Thailand.

 

 

Mungkin bukan hal yang aneh kalau tidak satu pun perguruan tinggi dari Indonesia yang bisa menembus peringkat 200 besar dunia. Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung yang merupakan universitas terkemuka di Indonesia belumlah dapat menandingi kualitas universitas-universitas dari manca negara.

 

 

Lepas dari hasil itu, marilah kita analisis kriteria apa yang digunakan untuk menentukan peringkat tersebut. Ada beberapa kriteria yang digunakan oleh penyusun peringkat ini. Kriteria paling penting dengan bobot 40% adalah penilaian berupa ‘peer review’ dari 6354 orang akademisi dari seluruh dunia yang mewakili berbagai bidang ilmu dan juga lokasi geografis. Para ahli dari Amerika Utara, Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Latin mendapat alokasi yang proporsional.

 

Kriteria penting berikutnya adalah jumlah kutipan tulisan di jurnal ilmiah internasional per staf akademik dan rasio staf akademik dibanding mahasiswa dengan bobot masing-masing 20%. Sisa pembobotan lainya adalah penilaian dari perusahaan atau institusi perekrut lulusan, serta jumlah mahasiswa dan staf akademik yang berasal dari luar negeri.

 

Menilik kriteria utama yang berupa penilaian dari akademisi di seluruh dunia tentang reputasi universitas lainnya, tidak ada satupun institusi dari Indonesia yang dipandang bahkan dengan sebelah mata oleh mereka. Nama perguruan-perguruan tinggi besar di Indonesia ternyata belum masuk dalam khasanah pemikiran para akademisi dunia.

 

Hal yang juga menarik adalah bahwa ternyata fasilitas gedung yang megah, halaman parkir yang luas, serta jumlah komputer yang tersedia bukanlah kriteria yang patut dijadikan pedoman baiknya mutu sebuah pendidikan tinggi. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa perguruan tinggi dengan gedung yang megah merupakan indikator utama mutu sebuah institusi pendidikan. Persepsi dikalangan kaum akademis sendiri ditambah dengan mutu produk yang dihasilkan (yang diukur dengan jumlah kutipan jurnal internasional dan rasio dosen-mahasiswa) adalah hal yang lebih penting.

 

Lalu bagaimana perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih meningkatkan namanya di mata internasional? Ada dua hal yang merupakan kunci jawaban dalam hal ini.

 

Hal yang sangat jelas perlu peningkatan adalah kualitas pendidikan. Selama ini ditengarai banyak perguruan tinggi yang mendahulukan kuantitas daripada kualitas pendidikan. Hal ini mungkin patut dimaklumi karena banyak perguruan tinggi yang mengedepankan kemampuan mereka untuk survive dulu dengan mencari pemasukan sebanyak-banyaknya dari SPP mahasiswa. Demikian pula dengan beberapa perguruan tinggi negeri yang berubah statusnya menjadi BHMN, dimana mereka dituntut untuk dapat mandiri dalam mengelola keuangannya.

Dengan meningkatkan kualitas pendidikan, lulusan perguruan tinggi pun akan lebih mudah dilirik oleh perusahaan-perusahaan serta institusi-institusi ternama yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan reputasi perguruan tinggi di Indonesia.

 

Bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan? Tentu saja faktor pendukung seperti gedung, fasilitas belajar-mengajar, perpustakaan, dan manajemen pendidikan merupakan hal penting yang harus selalu dicoba ditingkatkan kualitasnya. Namun hal yang paling utama adalah ketersediaan sumber daya manusia berupa staf akademis yang qualified dan berkomitmen. Kemampuan perguruan tinggi untuk menarik dan mempertahankan staf akademis yang berkualitas adalah kuncinya. Pihak perguruan tinggi harus berupaya untuk tidak hanya mampu menyediakan insentif finansial yang memadai namun juga harus mampu menciptakan iklim akademis yang mendukung agar stafnya dapat menghasilkan produk pendidikan dan penelitian yang baik.

 

Kedua diperlukan upaya serius untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas riset di perguruan tinggi dan diseminasi hasilnya di publikasi internasional. Selama ini, sudah banyak perguruan tinggi di Indonesia yang mendengung-dengungkan pentingya riset pada kehidupan sebuah perguruan tinggi. Hanya sayangnya sebagian besar hal ini hanya tinggal sebatas jargon belaka yang belum banyak buah nyatanya.

 

Persepsi kalangan akademik dunia terhadap perguruan tinggi di Indonesia bisa berubah bila mereka bisa lebih sering membaca produk riset berupa laporan hasil penelitian, review, pandangan, argumentasi, atau kritik ilmiah yang dituliskan pada berbagai jurnal-jurnal ilmiah internasional. Untuk itu, diperlukan upaya dari institusi di Indonesia untuk dapat menggencarkan upaya staf-nya agar dapat menelurkan riset dan mempublikasinya ke jurnal internasional.

 

Tentu saja ini membutuhkan upaya peningkatan kemampuan staf akademis dalam melakukan penelitian secara baik pada bidang-bidang yang strategis dan penting. Disamping itu, hasil penelitian yang brilian tidak akan bernilai apa-apa jika tidak dideseminasi dengan baik melalui tulisan-tulisan ilmiah. Ketidakmampuan menulis utamanya dalam bahasa Inggris menjadi hambatan utama dalam hal ini.

 

Peningkatan upaya riset tentu membutuhkan sumber daya finansial untuk mendukungnya. Perguruan tinggi bisa mencoba bermitra dengan perusahaan serta institusi baik dari dalam maupun luar negeri untuk bekerja sama dalam melakukan penelitian yang hasilnya berguna bagi kedua pihak. Pemerintah juga seyogyanya ikut membantu dengan mengalokasikan lebih banyak dana penelitian yang bisa diperebutkan oleh perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dalam bentuk dana hibah penelitian atau sejenisnya.

 

Hasil-hasil riset yang telah dikemukakan diatas dapat dijadikan amunisi yang kuat sebagai bekal peningkatan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan riset menjadi hal yang saling mendukung dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi secara umum.

 

Meningkatkan kualitas pendidikan dan riset adalah kunci agar perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia bisa lebih kompetitif di mata internasional. Suatu perjuangan berat yang tidak mudah namun tetap harus dimulai bagaimanapun juga beratnya.

Putri saya Rana gemar berjualan. Keinginannya adalah menjadi kasir di supermarket sebagai kerjaan part time, sungguh cita-cita yang simple saja sesuai dengan kenyataan hidup banyak orang di Inggris ini. Sedari kecil hobinya berlagak berjualan dengan cash machine mainan yang dibeli di car boot sale.

Beberapa minggu lalu kami pergi ke KIBAR Gathering di Nottingham. Rana berinisiatif mau menjual mainan dan buku-bukunya yang sudah tidak digunakan di acara itu. Lalu dia mengumpulkan semuanya, dan diberi label harga. Saya diminta mencetakkan tanda-tanda harga supaya jelas terlihat. Pada acara itu, tandas habis semua jualannya. Setelah dipotong sumbangan bazaar ke panitia, uangnya juga sedikit diberikan kepada Fakhri kakaknya.

Uang hasil penjualan itu lalu dibelikannya sebuah boneka Teddy Bear dari Build A Bear Workshop di Manchester Trafford Centre. Rana memanggil sahabat barunya itu “Rebecca”. Fakhri juga nggak mau kalah dan membeli sebuah boneka penguin yang dipanggilnya “Iggi”. Di Build A Bear Workshop juga dijual aksesoris seperti baju, sepatu, tas pelengkap boneka itu, dan Rana membeli juga sebuah baju untuk Rebecca di sana.

Minggu lalu, kebetulan Rana ditunjuk menjadi pemeran bidadari (Angel) di pertunjukkan akhir tahun sekolahnya. Dia perlu kostum warna putih sebagai seorang bidadari. Kami ingat beberapa tahun yang lalu saat dia berperan di sekolahnya yang lama baju kostumnya kami buat dari bahan kasar sekali yang membuat kulitnya gatal. Nah kali ini saya menawarkan pada dia untuk membuat kostum bidadarinya sendiri. Mumpung ada inspirasi dari pak Margono yang selalu membuat baju untuk cucunda tercinta.

Rana and Rebecca

Jadilah weekend lalu kami pergi ke toko HobbyCraft di Stockport membeli kain satin putih, yang ternyata tidak mahal harganya. Malam itu juga sambil nonton the X Factor di rumah, alat menjahit dikeluarkan dari sarangnya. Hanya dengan sketch sederhana saja dan tanpa membuat pola saya langsung potong kainnya sesuai dengan desain seadanya. Malam itu jadilah sepotong kostum bidadari untuk Rana.

Kebetulan juga saya pernah menjanjikan Rana untuk membuat baju tambahan untuk Rebecca. Kebetulan juga bahan baju bidadari itu masih sisa barang sekitar 1/2 meter, jadi esok paginya saat Rana dan Fakhri pergi mengaji di Masjid saya buatkan baju dengan desain serupa untuk Rebecca. Hasilnya lebih rapi sedikit dari baju bidadari yang saya buat untuk Rana karena sudah lebih ‘pengalaman’ pagi itu.

Hasilnya, Rana dan Rebecca bisa bergaya berdua dengan baju baru!

Harian Republika; Rabu 15 Oktober 2008
http://republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/0/news_id/7719
http://67.19.80.66/republika/RP/RP/2008/10/15/index.shtml?ArtId=006_006&Search=Y

Weapons of Mass Destruction yang banyak didengang-dengungkan oleh Amerika Serikat dan Inggris menjadi kenyataan. Meski demikian, senjata perusak massal tersebut ternyata tidak berasal dari Irak, Afghanistan, Iran, atau Korea Utara seperti yang banyak ditudingkan selama ini. Senjata itu berasal dari Amerika Serikat sendiri.

Senjata yang dimaksud adalah fundamental ekonomi Amerika Serikat yang ternyata membuat runtuhnya benteng keuangan liberal di sebagian besar negara dunia. Dimulai dari banyak macetnya sub-prime mortgage di Amerika Serikat yang kemudian diikuti oleh bertumbangnya banyak institusi finansial di berbagai negara.

Di pertengahan September 2008, Lehman Brothers, sebuah institusi Investment Banking ternama dunia bangkrut dan meninggalkan 26 ribu karyawannya tercerai-berai di seluruh dunia. Masalah yang dipicu di Amerika ini lalu melebar ke mana-mana. Seperti runtuhnya kartu domino, hal itu diikuti dengan kepanikan di banyak bursa keuangan dunia, tidak hanya di Amerika, bahkan di seluruh dunia.

Indeks keuangan Dow Jones di Wall Street, Amerika Serikat, dan FTSE di London terjun bebas. Indeks Nikkei di Tokyo, Micex di Moskow, dan banyak negara lain juga mengalami penurunan yang tajam. Nama-nama besar keuangan dunia, seperti Merrill Lynch, Morgan Stanley, Goldman Sachs, HSBC, satu demi satu mengumumkan besar kerugiannya. Pendeknya, institusi keuangan raksasa dunia mengalami tekanan luar biasa.

International Monetary Fund (IMF) bahkan memprediksikan bahwa keuangan dunia akan memasuki masa yang sulit. Beberapa negara diperkirakan akan mengalami penurunan pertumbuhan, bahkan resesi. Amerika Serikat, misalnya, diperkirakan ekonominya hanya akan tumbuh sebesar 0,1 persen tahun depan, Jerman nol persen, Inggris dan Italia akan mengalami pertumbuhan negatif. Hal ini sebenarnya sudah bisa dirasakan langsung di Inggris dengan turunnya harga rumah sebesar 13 persen dalam setahun terakhir ini, sebuah hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan di Indonesia akan turunnya harga rumah.

Menyadari beratnya risiko yang harus ditanggung jika economic downturn ini terus berlangsung, otoritas pemerintahan dan keuangan di berbagai negara melakukan berbagai upaya untuk minimal mengurangi risiko kejatuhan yang dalam. Pada akhir masa pemerintahannya, George Bush tergopoh-gopoh mengajak dua kandidat calon presiden Amerika berikutnya, Obama dan Mc Cain, untuk menyetujui paket bantuan keuangan untuk menyuntik bank-bank Amerika dengan uang sejumlah 700 miliar dolar AS (Rp 6.661 triliun) atau hampir tujuh kali belanja negara dalam APBN 2008.

Di Inggris, pemerintah Partai Buruh mengeluarkan langkah drastis serupa dengan mengumumkan bahwa Pemerintah Inggris akan menjamin semua uang simpanan masyarakat di institusi Inggris sampai maksimum 50 ribu poundsterling per account. Bahkan, Rabu (8/10) lalu Gordon Brown memaklumkan bahwa Pemerintah Inggris akan menyuntik dana ke institusi perbankan Inggris senilai 500 miliar poundsterling (865 miliar dolar AS atau Rp 8.232 triliun). Sebuah nilai fantastis yang menggambarkan besarnya masalah yang harus dihadapi Pemerintah Inggris.

Bank-bank sentral di berbagai negara berupaya mengatasi kesulitan likuiditas institusi keuangan dengan mengucurkan dananya secara besar-besaran. Ini tentu untuk mengurangi risiko hancurnya ekonomi dunia. Suku bunga diturunkan oleh hampir semua bank sentral di negara besar termasuk Cina dalam rangka menggairahkan ekonomi kembali.Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kabinetnya langsung mengadakan rapat antisipasi dampak kehancuran ekonomi dunia ini setelah kembali dari libur Idul Fitri. Tampaknya kabinet sudah mulai disiagakan untuk ikut mengatasi imbas yang mungkin terjadi pada masyarakat Indonesia.

Dampak akhir dari turunnya kondisi ekonomi akibat the new weapons of mass destruction ini masih harus kita tunggu. Entah sejauh mana upaya pemerintah berbagai negara termasuk Indonesia tadi akan bisa mengatasi dampaknya.Di Indonesia dampak bagi rakyat kecil tentunya yang harus mendapat perhatian. Jaminan akan terjangkaunya kebutuhan hidup dasar bagi lebih dari 200 juta rakyat Indonesia tentunya sangat diharapkan oleh semua.

Seorang teman pagi tadi memforward sebuah email ke milis pengajian Manchester. Isinya rekaman suara di cockpit pesawat Adam Air yang jatuh pada tanggal 1 Januari 2007 yang lalu. Kalau mau mendengar silahkan download di sini.

Tapi bagi yang kira-kira tidak kuat mendengarkan langsung, isinya secara garis besar menggambarkan percakapan pilot dan copilot tentang kerusakan instrumen pesawat mereka, dan suara instrumen pesawat ketika pesawat bank (miring) dan menukik, suara deru angin akibat kecepatan pesawat mendekati kecepatan suara (Mach 0.96), dan teriakan-teriakan memuja Allah ketika mereka sadar bahwa upaya menormalisasi keadaan sulit dilakukan, dan diakhiri oleh sunyi sebelum pesawat menyentuh muka air selat Makasar.

Saat itu pesawat Boeing 737-300 Adam Air Flight 574 terbang dari bandara Juanda Surabaya menuju bandara Sam Ratulangi Manado, di pagi hari pertama tahun 2007. Penerbangan semula berjalan lancar sampai mendekati daerah selat Makasar dimana kondisi cuaca tidaklah baik. Berbarengan dengan kondisi cuaca yang tidak baik itu, Pilot dan Copilot merasakan adanya keanehan pada instrumen IRS (Inertial Reference System), sistem yang memberikan informasi tentang posisi, arah dan kecepatan arah pesawat. Setelah beberapa lama mencoba memperbaiki semampunya, kedua awak pesawat sepakat untuk mematikan sistem IRS yang rusak itu. Mungkin tanpa disadari keduanya, saat alat IRS dimatikan, sistem autopilot yang semula ON menjadi OFF. Pesawat lalu sedikit demi sedikit miring ke arah kanan dan hidung pesawat menukik.

Pesawat terus miring sampai lebih dari 100 derajat dan menukik tajam sebanyak 60 derajat dengan moncong dibawah. Kecepatan bertambah-tambah karena ditarik oleh gaya gravitasi sampai mencapai 0,926 mach (1.138 km/jam atau 315 m/detik). Pesawat yang awalnya terbang pada ketinggian 35.000 kaki turun drastis ke 16.000 kaki dalam waktu kurang dari 50 detik.

Saat sadar apa yang terjadi, pilot mencoba melakukan pitch recovery tanpa sempat merubah kemiringan pesawat dulu. Hidung pesawat sempat naik tapi besarnya perubahan daya gravitasi yang dialami pesawat saat menghujam dan kemudian berbelok naik lagi terlalu besar bagi struktur pesawat untuk menahannya. Cockpit Voice Recorder merekam sebuah bunyi keras yang kemungkinan besar adalah bunyi patahnya struktur pesawat, dan diikuti oleh jeritan sebutan asma Allah oleh kedua orang awak pesawat di cockpit. Pada ketinggian 9.000 kaki rekaman suara berhenti.

Dari laporan lengkap Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), diperkirakan pesawat kemudian jatuh lurus menhujam muka selat Makasar yang berkedalaman laut sampai 2 kilometer ini. Laporan lengkap insiden ini dari KNKT dapat dilihat di sini.

Di luar dari aspek teknis tragedi ini, saya terus membayangkan suasana yang dialami oleh pilot dan copilot saat tahu bahwa ada sebuah kesalahan fatal pada penerbangan itu. Waktunya hanya sempit saja. Kurang dari satu menit sejak tahu ada kesalahan pada jalannya penerbangan, mungkin sudah hilanglah kehidupan keduanya, ditambah dengan 4 awak kabin, 85 penumpang dewasa, 7 anak, dan 4 bayi.

Entah apa yang melintas di benak keduanya saat tahu pesawat itu menghujam tajam menuju ke laut lepas. Entah apa yang mereka pikirkan saat tahu pesawat itu tidak mungkin bisa mendarat selamat. Jeritan Allahu Akbar berulang-ulang seakan-akan menggambarkan golakan hati dan pikiran mereka ketika itu. Apa pula yang dipikirkan oleh keluarga keduanya saat mendengar rekaman suara di cockpit ini, di detik-detik akhir usia mereka.

Subhanallah, mungkin rekaman itu akan membuka mata hati kita, supaya lebih siap menghadapi akhir hayat kita. Siapa yang tidak pernah meleng sedikit ketika mengendarai mobil atau motor, mengambil sesuatu dari tas di samping ketika nyetir mobil, atau menengok kebelakang mengecek anak yang sedang membuat hati kita jengkel. Di saat lengah itu mungkin bisa terjadi hal-hal yang membahayakan kita, dan siapa tahu pula nyawa kita bisa hilang karenanya.

Masih beruntung mungkin nasib kedua orang tersebut, yang masih bisa mengingat asma Allah saat keduanya hendak dipanggil Allah. Mungkinkah kita mendapat kesempatan seperti itu?

http://www.thejakartapost.com/news/2008/07/19/how-gain-worldclass-reputation.html

Several versions of university league tables, which rank universities worldwide, are available. In the UK alone, every major newspaper produces its own league tables with different rankings of universities, both within the UK and internationally. The ranking results differ slightly from table to table. However, the top 10 universities, headed by Oxford and Cambridge, consistently appear on all versions.

Critics say none of the league tables represents an overarching balanced assessment of the quality of the university. Each version may only describe a particular area of a university’s operation.

For example, one league may only evaluate the quality of the teaching whereas another may focus on the quality of research. Further, there are methodological and measurement issues in each of the tables which call their results into question. Despite those controversies in the methodology and the use of such league tables, they do provide easy, at-a-glance descriptions of the qualities of one university relative to others.

These tables show U.S. and UK universities dominate the rankings.

This is understandable as, first of all, both countries use English as their medium of communication. This gives them an advantage over non-English speaking universities: They can achieve a worldwide reputation quickly and easily through international publications, graduate jobs and foreign student enrollment. Australian universities are gaining ground in the rankings as they enjoy the same inherent benefit.

Second, the United States in particular has dominated world economy and politics, which in turn creates an opportunity for its universities to build good relationships and collaborations with businesses, research communities and international bodies.

Opportunities in the United States are so extensive that we find universities opening all kinds of programs and research projects. This strengthens their reputations, which leads to better rankings in the worldwide university league table.

UK universities, on the other hand, enjoy a reputation as age-old universities which still exercise their traditions and customs. Cambridge and Oxford are renowned for their collegiate university system. Universities in London such as the London School of Economics and the School of Oriental and African Studies are specialized institutions known for their expertise in select fields.

So what can we do to catch up in Indonesia? I think it is an almost impossible task which will take a long time. It requires the belief we can compete as well as financial and political backing from many supporters. Given the current Indonesian government’s financial capacities, little can be asked from that side. It is up to each individual university to strive to be competitive.

Human resources, of course, are the most important factor. Indonesian universities need many committed and qualified people with the appropriate skills to teach and conduct research.

Further, they must be supported by a decent salary structure and a well-managed teaching and research atmosphere on campus. This will require plenty of financial muscle. Retaining already acquired faculty and supporting their potential is also essential.

Universities should change their strategy from providing popular subjects to specializing their programs in a few selected fields to develop them to a higher level. For example, subjects related to bioengineering, fisheries and rural development should receive more attention than law or economics since almost all universities, both public and private, offer programs in those fields. Specialization is a bold tactic which could lead to a competitive ranking both in Indonesia and more widely.

Another important component is a university’s research capacity and performance. A strong research environment complements teaching activities. While many universities in Indonesia claim they prioritize research, very few are actually following though on these claims.

Further, research findings should be actively communicated to the outside world by publishing in international journals. A university’s overall reputation is enhanced by the amount and quality of published research.

Last but not least, a university can improve its reputation by enrolling highly qualified students. While improving the quality of high school graduates is the responsibility of the whole country, a competitive university should attract the best students countrywide as well as draw in as many foreign students as possible.

However, any quest to attract high-caliber students also requires good facilities, services and, yes, a solid reputation. Hence, Indonesian universities need to bravely and creatively set out to break this chicken-and-egg situation. Developing world-class universities requires strategic action, commitment and perseverance.

The writer is a senior lecturer at the Institute for Health and Social Care Research at the University of Salford, UK, and a leader in the master’s in public health program in their Centre for Public Health Research. He can be reached at d.widiatmoko@salford.ac.uk

Sudah pernah dengar belum kalau Tempe ternyata sudah dipatenkan oleh orang Jepang? Saya tadinya nggak terlalu yakin dengan hal itu, karena berpikir mana mungkin sih ada orang yang sejahat itu mengclaim makanan tradisional kita menjadi ‘hak milik’nya.

Kebetulan raksasa Google sudah mendigitisasi hampir semua dokumen aplikasi paten di Amerika, dan bisa diakses langsung di http://www.google.com/patents. Barusan saya iseng-iseng cari apa tempe ada di sana dan ternyataaaaa……. benar adanya…..

Sekelompok warga Jepang (Hideyuki Aoki, Ichiyo Uda, Noriko Miyamoto, Keiko Tagami, Yuji Furuya, Mitsumasa Mankura) telah mengklaim proses produksi secara modern untuk menghasilkan produk hasil fermentasi kacang kedele (soya beans) yang kaya dengan Gamma-aminobutyric acid dan Amino Acids (kedua jenis zat itu sangat berguna untuk metabolisme tubuh manusia). Produk ini tidak lain dan tidak bukan adalah TEMPE.

Paten ini dimasukkan ke US Patent and Trademark office pada tahun 2001 dan lolos resmi dipatenkan pada tahun 2003. Dokumennya bisa dilihat langsung di sini: http://www.google.com/patents?id=hJyFAAAAEBAJ

Lalu apa dampaknya bagi kita? Legalnya sih artinya tidak ada pihak lain yang boleh memproduksi dan menjual Tempe di Amerika dengan metode yang dijabarkan seperti di patent itu, selain si pemegang paten atau yang sudah di-approve oleh mereka. Saya juga tidak tahu apa ada metode lain dalam pembuatan tempe – metode mereka itu sama secara garis besar dengan metode tradisional pembuatan tempe di Indonesia

Karena buta masalah hukum, saya tidak tahu apakah tindakan si jepang-jepang ini sah dengan mempatenkan proses produksi tempe yang dikenal secara tradisional di Indonesia di negara lain. Hak komunal masyarakat Indonesia dalam hal ini rasanya diabaikan begitu saja (hak ulayat? bener nggak ya?).

Mungkin hal ini mirip juga dengan kasus lagu Rasa Sayange yang ‘dibajak’ oleh Malaysia untuk promo program turismenya. Bedanya mungkin lagu rasa sayange tidak diklaim ditulis oleh encik dan puan sana!

Di lain pihak kita juga mesti berkaca diri, kalau kebanyakan dari kita di Indonesia juga masih bermental pembajak, dengan sering menggunakan ciptaan orang lain tanpa ijin penciptanya. Lihat saja produk bajakan berkeliaran di mana-mana, termasuk di komputer kita sendiri ini. Dalam hal musik pun juga sering kita jumpai lagu bahasa Indonesia yang amat sangat mirip dengan lagu ciptaan orang lain. Lihat saja list-nya di sini.

Lepas dari itu, kita mesti mengambil pelajaran bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci dalam hal ini. Si jepang-jepang ini belajar mengurai proses produksi tempe yang sudah kita kuasai luar dalam tanpa tahu proses bioteknologinya lalu bergerak selangkah atau beribu langkah lebih cepat dari kita untuk mempatenkannya. Di Indonesia, mungkin sebagian dari kita punya juga kemampuan dan pengetahuan tapi tidak bertindak segesit mereka.

Saya belajar membuat 100% dari internet. Awalnya dulu dari website Isnet di pertengahan tahun ‘90-an. Belakangan ada beberapa site yang memberi petunjuk pembuatannya, tapi yang paling detail dan ilmiah adalah yang saya temukan di site University of Reading, sekali lagi yang membuat bukan orang Indonesia.

Dari semua ini, hal yang lebih langsung berhubungan dengan saya adalah kalau sampai paten ini diterima di Inggris, saya nggak boleh membuat tempe sendiri! Menyedihkan!

a

Visuals

luka

bertigo

Switzerland Trip

More Photos