Kaum Yahudi memang “istimewa”. Dalam Al Quran kata “Yahudi” dan “bani-Israil” banyak didapati baik dalam konteks historikal maupun tidak. Sejak zaman nabi Yakub, yang menggariskan 12 suku bani Israil (atau Yahudi), banyak sekali kejadian yang menimpa bangsa ini. Mulai dari migrasi ke Mesir, terusir kembali ke Timur Tengah, dihancurkan Romawi sampai holocaust di pertengahan abad ke-20.
Kisah gerakan zionisme, berdirinya negara Israel sampai aneksasi tanah warga Palestina sampai saat ini masih menjadi cerita seru. Memang Allah sudah menggariskan bahwa kaum Israel menjadi kaum yang penuh kontroversi.
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yag beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik… (QS AL MAidah [5]:82)
Beberapa bulan yang lalu, saya ikut sebuah acara sharing session tentang agresi Israel mencaplok tanah Palestina. Mulai dari cara yang halus sampai yang keras dilakukan oleh pemerintah Israel dan zionis garis keras untuk mendapatkan tanah dan mengusir warga Palestina dari rumahnya sendiri. Tembok tinggi yang memisahkan kota dan perkampungan dibangun Israel jauh memasuki tanah-tanah Palestina. Warga dipisahkan dari tempat kegiatan ekonominya, warga dipisah dari warga lainnya.
Warga Palestina yang bertahan di kota besar, dihantui oleh zionis garis keras yang kerap mengganggu ketentraman di malam hari saat ada ‘curfew’ (jam malam) bagi warga Palestina. Singkatnya, segala cara dilakukan untuk menganeksasi tanah Palestina, cepat atau lambat. Semuanya didokumentasi dalam film dokumenter yang dibuat oleh sebuah LSM pro Palestina itu.
Hal ini sungguh kontras dengan perlakuan umat Islam kepada bangsa Yahudi dalam sejarah. Lihat saja, dalam sejarah kekhalifahan, tidak pernah dilaporkan adanya pengusiran warga Yahudi dari tanahnya, eksekusi atau konversi paksa umat Yahudi (atau umat lain juga).
Saat era kekhalifahan Abbasiah penerjemahan dan pengembangan ilmu dari peradaban Yunani, penerjemahan dilakukan oleh penerjemah Nasrani dan Yahudi. Di Andalus (Spanyol), kaum Yahudi hidup damai dan maju di bawah pemerintahan kekhalifahan Ummayah Cordoba. Di Palestina saat berada dalam kekuasaan Muslim, kaum Yahudi juga mendapat kebebasan hidup dan berkarya.
Salah seorang mahasiswa saya orang Yahudi. Walau dia sering konsultasi dengan saya di dalam dan di luar kelas, pembicaraan kami tidak pernah sampai pada hal-hal ‘sensitif’ tentang hubungan Palestina – Israel dan lain sebagainya. Sebagai pengajar saya tentu harus netral dan tidak condong pada satu perspektif dan harus menjaga situasi kondusif di dalam kelas. Maklum, mahasiswa saya berasal dari berbagai kawasan dunia – Pakistan, India, Indonesia, Uganda, Swaziland, Nigeria, Zimbabwe, Saudi Arabia, Togo, selain Inggris sendiri tentunya.
Pernah dalam satu sesi, si mahasiswa asal Israel ini mempresentasikan system kesehatan negaranya. Seorang mahasiswa lain iseng bertanya tentang alasan anggaran pertahanan Israel yang jauh lebih tinggi dibanding anggaran kesehatannya. Sebelum larut lebih jauh, saya ikut campur menetralisasi pertanyaan tersebut supaya kelas tidak memanas.
Di luar kelas saya pernah bertanya ke dia tentang hari Sabbath dan Hanukkah (Festival of Lights) dalam agama Yahudi. Dia menjelaskannya sekilas, tapi berkata jujur bahwa dia bukan Yahudi ‘beneran’ karena ia tidak benar-benar berdiam diri di hari Sabbath (Sabtu) dan juga tidak tahu asal-usul perayaan Hanukkah. Pokoknya, karena ia lahir dari ibu Yahudi maka ia pun beragama Yahudi. Mungkin sama dengan kategori ‘Islam KTP’ kalau di Indonesia.
Salah seorang tetangga di rumah kampus dulu juga pasangan asal Israel. Mereka berdua dengan kedua anaknya sahabat baik keluarga kami. Saat ada acara hari besar (Lebaran misalnya) mereka menyempatkan diri bertandang ke kediaman kami. Kami kerap pula diundang ngobrol-ngobrol di rumah mereka. Saat Fakhri luka dahinya dan perlu dibawa ke rumah sakit, teman inilah yang mengantar dan menemani selama di rumah sakit.
Hal yang menarik dari mereka adalah bahwa walau mereka dari keturunan bangsa Yahudi, si suami terus terang berkata bahwa mereka penganut ajaran Budha. Bukan Jewish.
Yang paling menarik dari pengetahuan saya tentang Yahudi, baik agama dan kaumnya, adalah saat bulan lalu menemani Dr Hamid Zarkasy dan Dr Adian Husaini berkunjung ke Manchester Jewish Museum di kawasan Cheetham Hill, Manchester. Museum ini sebenarnya adalah bekas Synagog (rumah ibadah agama Yahudi) yang kemudian dijadikan Museum.
Di museum yang masih terawat baik itu dijelaskan berbagai aspek peribadatan agama Yahudi. Mulai dari arah Synagog yang menghadap Yerusalem, (yang juga kiblat awal umat Islam sebelum dipindah ke Mekah), tidak adanya simbol manusia ataupun hewan dalam berbagai dekorasi ruangan, dan lain-lain.
Di jendela museum itu banyak terdapat hiasan kaca patri, yang herannya, berisi nama-nama berbau Arab, seperti “Abdullah” dan sejenisnya. Saat ditanya pada petugas ternyata itu karena Synagog ini awalnya didirikan oleh kaum Yahudi dari kawasan Moor atau Afrika Utara dan Andalusia. Mereka mulai pindah ke Inggris di abad ke-19 dan 20 karena mulai mendapat penindasan dari penguasa Katolik di Spanyol.
Sang penjaga juga bercerita tentang tatacara ibadah agama Yahudi, dimana laki-lakinya Yahudi wajib beribadah 3 kali sehari sementara perempuannya tidak. Di Synagog setiap jamaahnya mendapat kursi khusus yang setara dengan jumlah iuran yang dibayarkan setiap bulannya pada Rabi pengelola Synagog. Acara khitanan yang menjadi tradisi dari nabi Ibrahim juga dilakukan di Synagog, dengan kursi khusus tempat orang tua menggendong putra yang akan dikhitan di sana.
Di tembok luar Museum/Synagog ini, terpampang plakat di tembok yang menyatakan bahwa Chaim Weizmann, tokoh Zionis terkemuka yang juga menjadi Presiden pertama negara Israel, tinggal di Manchester. Lahir di Belarusia, Weizmann kemudian menjadi warga negara Inggris dan mengajar bioteknologi di Manchester University. Weizmann-lah yang banyak melakukan lobi dengan pihak penguasa Inggris di awal abad ke-20 dalam upaya menjalankan zionisme. Bahkan kesepakatannya dengan Arthur Balfour – atau Lord Balfour – yang menjabat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Inggris pada beberapa periode menghasilkan deklarasi Balfour (Balfour Declaration) di tahun 1917, dimana pemerintah Inggris menjanjikan tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.
Di rak buku dekat meja komputer yang saya gunakan saat ini, ada sebuah buku berjudul Balfour & Weizmann; The Zionist, the Zealot and the Emergence of Israel karangan Geoffrey Lewis yang dibeli beberapa bulan lalu masih belum tersentuh sampai saat ini. Kalau saya sudah membacanya kelak, insya Allah akan saya share isinya kembali pada semua.