Sudah beberapa kali ini saya melihat sebuah Rolls Royce Phantom Drophead Coupe terparkir di masjid dekat rumah kami. Si pengendara bukan supir mengantar jemput tuannya dari sana, tapi adalah orang tua yang mengantar anaknya ikut kelas madrasah tiap sabtu-minggu di sana. Mobil ini jelas bukan mobil biasa, karena harganya yang hampir dua kali lipat dari harga rumah yang saya tinggali sekarang. Di Inggris tempat Rolls Royce diproduksi saja, jarang sekali bisa kita lihat mobil ini dari dekat karena memang hanya sedikit orang yang mampu (dan ingin) membeli mobil ini.

Selain itu, masih banyak mobil-mobil ciamik lain dari para pengantar jemput anak-anak madrasah itu. Ada yang Audi Q7, BMW seri terbaru yang kinclong, Mercedes Benz S class anyar, de el el. Mengkilat baru tanpa goresan.

Dalam hati saya senang tapi sekaligus juga gimana gitu melihatnya. Senangnya adalah bahwa banyak kaum muslim yang secara ekonomi berada, dan tetap menginginkan putra-putrinya untuk mendapatkan pendidikan keislaman tambahan di masjid. Jamaah masjid ini memang banyak dari keluarga cukup berada, kaum profesional seperti dokter, pengacara, pengusaha, dan bahkan ada juga international footballer yang kadang muncul di TV Indonesia datang untuk beribadah di masjid ini. Apa perlu ya punya Rolls Royce segala sementara masih banyak saudara kita yang kedinginan dan kelaparan di belahan dunia sana?

Chairman masjid ini seorang dokter muda yang tampan, yang amat sangat ramah kepada setiap jamaah masjid. Seorang pengurus senior lainnya juga dokter spesialis dengan jenggot putihnya yang lebat. Imamnya, seorang hafiz dengan ijasah membaca al Quran  dengan 3 qiraat. Dia digaji profesional, sebagai seorang imam masjid. Pemimpin Islamic circle yang saya ikuti pekerjaan utamanya adalah sales engineer sebuah perusahaan IT dunia. Ustadz yang memimpin weekend tafsir class setiap habis Subuh sampai masuk waktu Dhuha adalah seorang businessman yang cukup sukses. Beberapa rekan lain yang sering ketemu di masjid adalah dokter umum dan spesialis yang gajinya kalau di UK ini jelas di atas rata-rata orang kebanyakan.

Sebaliknya, suatu saat saya pernah ngobrol dengan seorang orang tua yang sedang menunggu anaknya ikut acara remaja tiap jumat malam akhir bulan di masjid. Si anak ini ternyata sudah hapal 12 juz al Quran di usianya yang di awal remaja. Saya melongo takjub. Kalau di Saudi, Syria, Jordan, atau Sudan sana mungkin mudah saja kita temui anak yang sudah menghafal al Quran sebanyak itu. Tapi ini di sebuah masjid kecil di pinggiran Manchester! Lebih kagumnya lagi ketika ngobrol lebih jauh si bapak itu ternyata profesinya adalah supir taksi. Hmmm salut pak!

Jadinya, sekarang saya lebih senang melihat taksi hitam legam dibanding Rolls Royce mengkilat.

Kita harus selalu siap si Dia datang. Si Dia yang dimaksud di sini adalah Izrail, malaikat dengan tugas special sebagai pencabut nyawa. Kapan Dia datang? Tentu kalau memang sudah waktunya datang bagi kita untuk mengakhiri masa hidup kita di dunia. Dunia yang fana ini.

Siapa bisa tebak masih berapa lama lagi nyawa masih menyatu dengan badan kita? Tidak ada yang bisa menerkanya walau kita percaya bahwa semuanya sudah tertulis di “Lauhul Mahfuz” sana. Memang dalam bidang ilmu saya dipelajari tentang umur harapan hidup manusia alias Life Expectancy. Yang faktor yang mempengaruhinya amat banyak dari unsur genetika, gaya hidup, penyakit, lingkungan dan lain sebagainya. Kalau di Indonesia, life expectancy dari anak yang lahir sekarang adalah sekitar 70 tahun. Di Inggris sini diperkirakan si anak bisa mencapai umur 80 tahun.

Tapi kenyataannya tidak begitu kan? Life expectancy itu diperoleh dari hitungan statistik resiko kematian masing-masing golongan umur dari seluruh populasi. Tentang diri kita sendiri bagaimana? Resiko mendapat umur pendek atau panjang masih bervariasi. Kita tidak bisa pastikan kapan nyawa kita berpisah dari badan.

Di berita internet saya baca wafatnya Ustadz Jefry ‘Uje’ Buchori. Selepas bersantai bersama kerabat di kafe beliau wafat kecelakaan sepeda motor. Siapa sangka dia kembali begitu cepat.

Dua hari lalu suami dari seorang sepupu saya wafat. Ia meninggal di pagi hari sewaktu hendak sarapan di meja makan. Tanpa pertanda, tanpa ucap kata. Memang beliau sudah pernah terkena stroke beberapa tahun yang lalu, namun selama ini sudah sangat jauh membaik kondisinya dibanding waktu awal terkena stroke itu.

Sementara itu, ibu dari sepupu saya ini (bulik/tante saya) yang juga terserang stroke lebih awal, dengan dampak yang lebih parah sampai tidak bisa berkomunikasi dan bergantung 100% pada rawatan keluarganya, alhamdulillah sampai saat ini masih panjang usianya.

Solikhin, seorang sahabat kuliah dulu juga wafat tanpa diduga. Beritanya ia meninggal karena kelelahan yang sangat selepas sibuk bekerja keluar kota, ditambah dengan layanan rumah sakit yang jauh dari harapan. Helen, kawan satu tim di Inggris, wafat karena perdarahan otak juga. Kedua rekan saya ini jika masih hidup berusia sama dengan saya saat ini.

Mira istri dari Yandi teman baik di Inggris juga wafat setelah sakit yang tidak lama. Ada juga teman masa kecil, Susi namanya. Susi yang ceria dan cantik. Wafat saat SMA.

Mas Nyoto, kakak nomor dua saya, juga meninggal tanpa diduga. Mas Nyoto yang pandai bergaul, yang sering menyuruh saya ini itu kala membantunya membongkar mesin mobil bapak.

Suatu hari Mas Nyoto berangkat tugas ke kota Ambon, naik kereta api dari Jakarta ke Surabaya, mampir di kediaman paklik/paman di Surabaya, lalu dilanjutkan dengan pesawat terbang dari Surabaya ke Ambon. Pesawat yang sudah tiba di atas bandara Pattimura Ambon tak dinyana menghujam tebing bukit Liliboi tak jauh dari tempat pesawat seharusnya mendarat. Tidak ada yang menyangka, tidak ada yang menduga. Apalagi mas Nyoto pergi diam-diam saja. Hanya pamit pergi pada istrinya, lalu pada keluarga paklik yang ditumpanginya di Surabaya. Masih jelas teringat saya sewaktu ditugaskan menyampaikan berita kemungkinan mas Nyoto menjadi korban jatuhnya pesawat Mandala di Ambon pada sang istri yang tinggal di Bogor.

Januari tahun lalu, bapak saya sakit keras. Beliau memanggil saya pulang segera. Jangan-jangan ini tanda dari Bapak kalau mungkin saya tidak bisa bertemu dengan beliau lagi. Demikian pikiran saya waktu itu. Setelah pembicaraan telepon itu memang lalu bapak dirawat di ICU berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Saat saya tiba di RS dimana beliau dirawat, seluruh keluarga bersama beberapa kerabat dekat sudah beberapa lama berkumpul mendoakan, dan sudah pada titik bahwa pada intinya kami harus rela jika Bapak dipanggil yang Maha Kuasa. Menyusul almarhumah Ibu yang wafat beberapa tahun sebelumnya, di rumah sakit yang sama pula. Para kerabat, tetangga, teman, dan kolega yang membesuk banyak yang sudah merasa bahwa sakaratul maut sudah dekat dengan Bapak. Betapa tidak. Kondisi beliau memang tidak banyak ada harapannya.

Hari demi hari di ICU dan di kamar perawatan dilalui. Kondisi Bapak naik turun. Sampai pada suatu hari Bapak ingin pulang ke tanah kelahirannya di Gunung Kidul, Yogyakarta. Ini pertanda juga, pikir saya. Dengan segala upaya, bapak dikirim dengan ambulans ke rumah sakit di Gading, Gunung Kidul. Rumah Sakit yang didirikannya sendiri atas cintanya pada tanah lahirnya. Alhamdulillah, tanpa diduga, kondisi Bapak berangsur membaik. Kesadarannya membaik terus. Kondisi fisiknya juga terus membaik. Prasangka dan tanda-tanda yang semula kami pikir memberi sinyal penghujung usia beliau ternyata tidak ada benarnya. Gusti Allah masih memberi kesempatan pada kami, putra-putri beliau untuk merawat beliau di hari tuanya.

Lalu kapan si Dia datang menjemput nyawa kita? Mungkin saja umur saya masih 50 tahun lagi. Mungkin saja saya besok tidak bernapas lagi. Panjangnya umur kita sendiri saja tidak tahu, apalagi orang lain.

Yang pasti, hidup kita itu sementara. Siap-siap saja kita menghadap-NYA.

 

Wong urip iku mung mampir ngombe.

Papiss Demba Cissé

Newcastle United Striker

 

“To be able to do all this is something absolutely incredible.” “It is the reason why I don’t have a big head, because I have come from nowhere and now I am here. I feel well loved by so many people and it is one of the great things about the job, to feel so well loved just for doing your job.”

“My home town is small place called Sedhiou in Senegal. It is more of a community than a town, to be honest.” “All of my family are still there and when I get the chance to go on holiday – or we are given time off – I will try to go there for as much of it as possible. That’s where my family and friends are and I do not want to forget it, even after all that has happened to me in Newcastle and in football.

“The area was not wealthy. My family weren’t necessarily a poor family, they did everything for me to have a good life and now I’m really happy because when I get my salary here, I can send it to them.” “I like to say thank you to the area that brought me up. It taught me a lot and I want to say thank you to my family because they are the reason why I do not get a big head.”

“For this reason I am in the middle of launching a couple of projects at the moment. I want to give something back.” “I am the only professional footballer from that community so I feel that I should help out. I am involved in a health information centre that is opening up and I am building a mosque there.”

“But my biggest hope is that I can help the hospital that is there. I have bought an ambulance for them because they need it, and they also don’t have an X-ray machine.”  “The hospital is lacking in materials and resources. For some emergencies, people need to go to a bigger city which is four or five hours away by road.”

“I was one of the people that took people from my home town to the city as an ambulance driver.”  “When I was 15, I did this for a couple of years. It is how I learned to drive, which was a very happy thing for me. But I also saw the other side of it: sometimes when we were driving to Dakar for treatment we would lose our patient on the way.”

“That is something that really touched me. Why should people die because of that? It made me determined to change things as soon as I was in a position to be able to do it.”  “Once you have seen that, you do not forget and I hope that I can help now that I am in a position to do that. I know that you can not do everything.”

Ceritanya sewaktu pesanan sebuah order via Amazon.co.uk datang, di dalamnya ada promosi perusahaan makanan cemilan Graze.com.

Konsepnya sih sederhana, kita mendaftar dan memilih jenis cemilan apa yang kita inginkan (atau tidak inginkan), pilih hari penerimaan cemilan (agar mereka bisa mempersiapkan dan mengirim tepat waktu), dan memasukkan detail kartu kredit untuk pembayaran pesanan. Setelah beres, tinggal tunggu saja pesanan makanan cemilan itu dikirimkan via Royal Mail.

Karena sedang ada promosi, saya diberi kesempatan mencicipi satu kiriman paket cemilan itu secara gratis. Namanya gratisan ya jelas saya senang dong :D

Setelah online order selesai di website-nya yang super menarik, user friendly dan efisien, tinggal saya tunggu pesanan yang saya minta untuk datang pada hari Senin, 10 Agustus.

Image

Tepat tanggal 10 Agustus, saya cek pigeon hole tempat surat-surat dikirimkan di kantor, ternyata paketnya sudah duduk manis di sana. Hmmm… profesional looking, but still very personal.

Image

Tentu segera saya buka paket dalam bungkusan karton dan cek isinya. Sangat mengagumkan. Di dalamnya ada tulisan personalised buat saya, dengan ucapan selamat menikmati dan informasi lain yang relevan.

  Image

…. termasuk juga informasi nutrisi dari jenis cemilan yang saya pesan…..

Image

Sampai kemudian tiba saatnya menjajal rasanya….. mmmmm lumayan….

Image

Secara garis besar saya sangat kagum dengan inovasi bisnis ini. Penjualan makanan ringan (cemilan) yang membidik target market cukup spesifik (karyawan kantoran yang biasanya lapar cari cemilan di sore hari), dengan produk yang sesuai dengan sentimen terkini (ethical products, environmental consciousness), dukungan IT yang mumpuni, serta user-friendliness dari websitenya. Produknya pun menurut saya lumayan dan menurut claim mereka all healthy foods.

Namun demikian saya memutuskan untuk berhenti berlangganan produk ini – maklum karena sudah tidak gratisan lagi dan pengeluaran tidak perlu harus saya kurangi di masa sulit sekarang ini :D

Ahmad. Dalam benak kita langsung tergambar profil laki-laki muslim. Sama sekali tidak terbayang bahwa nama ini bakal menjadi merek sebuah mobil listrik yang akan diluncurkan beberapa waktu lagi. Adalah DahAhmad e-Carlan Iskan sang menteri BUMN yang memperkenalkan e-car yang diproduksi oleh Dasep Ahmadi ini. Mobil ini akan menjadi mobil yang 100% menggunakan tenaga listrik sebagai penggeraknya.

Aspek jarak jelajah adalah merupakan faktor terpenting dari suksesnya pengembangan mobil yang 100% bersandar pada tenaga listrik. Tentunya kita tidak ingin menggunakan mobil listrik yang lalu kehabisan energi saat menggunakannya. Saat ini, karena memang mobil listriknya belum ada maka belum ada juga fasilitas umum untuk mengisi ulang baterenya (pom listrik). Masalahnya mobil listrik ini tidak bisa di charge di sembarang tempat. Tentu perlu konektor khusus yang aman dan reliable. Selain itu diperlukan sekitar 6-8 jam untuk mencharge batere dari kondisi kosong ke full charge. Tentu sulit untuk membuat pompa bensin listrik jika memerlukan waktu sebanyak ini untuk charging mobil.

Tentu masih banyak faktor lain yang mempengaruhi berapa jauh kendaraan itu bisa digunakan. Selain dari spesifikasi teknis kendaraan seperti kapasitas baterai, dinamo, drag (hambatan angin) coefficient, tyre drag, dll, faktor penggunaan kendaraan juga berpengaruh pada jarak jelajah. Car ChargerMisalnya saja kemiringan jelajah, akselerasi/deselerasi, kecepatan yang digunakan, drag (hambatan angin), jumlah penumpang kendaraan, dll.

Dalam beberapa media, termasuk blog milik Dasep Ahmadi sendiri, rancangan mobil listrik ini akan mempunyai jarak jelajah (range) 140 km. Jarak ini cukup lumayan sebenarnya tapi dalam kondisi real life,
dalam kemacetan, perlunya akselerasi-deselerasi, dan penggunaan AC untuk mengurangi panas dalam kabin, sangat mungkin jarak yang bisa ditempuh akan sangat menurun.

Nissan Leaf, salah satu mobil 100% listrik yang sudah diproduksi masal. Jelajahnya antara sekitar 100 – 220 km dalam satu full charge. Dengan jarak jelajah semacam ini mungkin sudah cukup untuk dapat mengandalkan kendaraan ini untuk keperluan sehari-hari (city car). Untuk perjalanan luar kota yang banyak tanjakannya mungkin masih belum cocok untuk digunakan. Nissan Leaf

Terakhir adalah aspek harga. Nissan Leaf, sedan kompak dengan kapasitas tempat duduk 4-5 orang, dijual di Inggris seharga £25000, lebih dua kali lipat dari harga yang ditawarkan untuk sedan sekelas yang bertenaga bensin. Menarik untuk mengetahui berapa harga yang akan ditawarkan untuk satu mobil merek ‘Ahmad’ kelak.

Salah satu poin penting yang ditawarkan sebagai faktir lebih dari Nissan Leaf di Inggris adalah faktor harga. Dengan memanfaatkan tarif listrik murah pada waktu-waktu tertentu (di Inggris ada pilihan untuk berlangganan listrik dengan tarif yang berbeda di pagi, siang, malam, dan dini hari), diklaim bahwa dengan kendaraan listrik penghematan energi dan operating cost akan luar biasa. Misalnya saja, dengan Nissan Leaf cukup diperlukan biaya £1,91 per 109 miles range, atau setara dengan £1,09 (Rp. 15.900) per 100 kilometer jarak tempuh. Bandingkan saja dengan kendaraan serupa berbahan bakar bensin yang membutuhkan 5,4 liter bensin (atau Rp. 24,300) per 100 km-nya. Jika dihitung dengan harga bensin di Inggris yang sebesar £1,30 per liter maka ongkos per 100 km mobil bensin setara dengan Rp 102 ribu.

Saya yakin untuk urusan teknologi akan sangat mudah untuk meningkatkan prospek penggunaan mobil listrik ini. Yang sulit adalah memulainya. Perlu orang-orang ‘gila’ yang konsekuen (dengan ke’gila’annya) dan didukung oleh orang-orang semacam pak Dahlan Iskan untuk bisa membuat sebuah mimpi menjadi kenyataan.

Banyak yang terjadi dalam enam bulan terakhir ini. Sebenarnya bukan kejadiannya yang penting tapi pelajaran apa yang bisa diambil dari kejadian-kejadian itu. Berikut sekedar ceritanya. Mudah-mudahan ada hikmahnya.

 

Umur manusia itu rahasia Allah

Suatu hari di pertengahan Januari, sebuah sms datang di telepon saya. Isinya adalah saya diminta pulang ke Jakarta. Saya segera telepon ke si pemberi sms dan jalur telepon langsung diserahkan pada bapak, yang saat itu sedang dirawat di rumah sakit. Intinya, bapak meminta saya pulang ke Indonesia secepatnya. Saat itu bapak sudah dua mingguan dirawat di RS, tapi hari itu dijadwalkan pulang ke rumah. Namun malam sebelum pulang kondisi beliau drop dan sulit bernapas.

Segera saya konfirmasikan hal ini pada kakak-kakak saya, dan setelah beberapa lama mereka berkesimpulan ini mungkin hanya ‘false alarm‘ karena dokter tidak menemukan apa-apa dan membolehkan bapak pulang ke rumah. Namun demikian saya tetap merencanakan untuk pulang ke Indonesia beberapa hari ke depan untuk menengok beliau.

Tidak disangka, besok malamnya waktu Inggris, suara telepon berdering. Bapak masuk ICU.

Dalam hati terbersit bahwa ‘permintaan’ bapak kemarin pada saya adalah perintah beliau, yang mungkin juga adalah perintah terakhir beliau pada saya. Jadilah kami putuskan untuk pulang ke Indonesia siang hari itu juga. Sekeluarga. Semua rencana di-cancel termasuk sebuah seleksi rekrutmen amat penting yang harusnya saya lakukan beberapa hari sesudahnya.

Tiba di Jakarta lebih dari 24 jam kemudian, segera kami ke rumah sakit. Bapak masih di ICU. Selama beberapa hari sesudahnya kondisi beliau naik turun. Sempat keluar dari ICU dan dirawat di kamar biasa selama beberapa hari, tapi kemudian kembali lagi ke ICU, dan lalu keluar lagi. Siang malam beliau harus dijaga karena kondisinya naik turun. Dokter sudah nyaris angkat tangan. Kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk beliau. Seluruh keluarga sudah siap mengikhlaskan apa saja yang akan terjadi.

Dua minggu di Indonesia, kami harus kembali ke UK. Anak-anak tidak bisa kabur sekolah lebih lama lagi. Saya juga harus kembali bekerja dan ‘fight’ menghadapi kondisi pekerjaan yang sedang genting.

Beberapa hari kemudian, sebuah berita dari Jakarta masuk. Bapak akan dipindah perawatannya ke daerah tanah kelahirannya. Di sana jauh lebih banyak saudara, dan almarhumah ibu-pun dikebumikan di sana. Jadilah bapak kemudian dipindahkan dengan ambulans ke Gunung Kidul di Yogyakarta.

Tidak dinyana, dengan kebesaran Allah, kondisi bapak membaik. Bahkan beliau keluar dari rumah sakit, belajar jalan sendiri, dan seterusnya. Alhamdulillah. Bahkan sekarang bapak mencoba menjalankan keinginannya yang belum terlaksana. Membangun desa tempat beliau dilahirkan.

Ternyata Allah masih memberi waktu bagi kami untuk bisa merawat dan membahagiakan beliau.

Di lain pihak, sepulang kami dari Jakarta menengok bapak, seorang rekan kerja di kantor mendadak meninggal dunia. Di usia 47 tahun, rekan ini meninggal karena perdarahan otak. Padahal ia juga sedang menghadapi situasi yang sama dengan saya dalam urusan pekerjaan. Masih terbayang saat terakhir ia masuk ke ruangan saya untuk mendiskusikan nilai seorang mahasiswa dan membahas situasi terakhir pekerjaan kami. Tidak dinyana beberapa hari kemudian ia wafat. Organ dalam tubuhnya kemudian disumbangkan untuk transplantasi organ 5 orang pasien lain yang membutuhkan.

Selain itu kami juga dikejutkan oleh sebuah berita duka lain. Seorang sahabat kuliah saya dan istri wafat tiba-tiba. Walau si sahabat ini pernah terkena stroke beberapa tahun yang lalu, ia dikabarkan meninggal karena fatigue, dehidrasi, dan perawatan medis yang dibawah standar.

Ketiga hal ini memberikan pelajaran bahwa nyawa manusia tidak bisa ditebak. Siapa yang pergi duluan, siapa yang belakangan. Yang penting kita harus selalu siap-siap saja menghadapi sang Khalik.

 

Rejeki manusia itu rahasia Allah

Akhir November tahun lalu, saya dipanggil head of school. Isinya sederhana: akan ada pengurangan pegawai dan saya termasuk salah satu orang yang akan terkena. Lebih simpel lagi, saya akan di-PHK.

Hal ini tentu mengejutkan karena selama ini saya cukup sukses membangun dan mengelola program yang susah payah saya kembangkan. Selain itu baru sehari sebelumnya ada pertemuan ‘individual development‘ dengan line manager saya dimana dibahas apa yang akan saya lakukan setahun ke depan. Tidak disinggung sama sekali tentang urusan redundancy ini.

Bersama saya, ada 3 orang rekan lain dalam satu team yang harus ‘cabut’. Ditambah 2 orang lagi yang kontraknya tidak diperpanjang. Jadi dalam team kami tinggal satu orang saja yang akan tetap dipertahankan.

Mendengar ini tentu saya harus segera mencari ganti kerjaan ini. Untungnya, proses PHK ini total dibutuhkan waktu 5 bulan. Mulai dari konsultasi dengan serikat buruh/union, konsultasi individual, baru terakhir 3 bulan notice period. Jadi saya masih ada waktu untuk job hunting sebelum income dari kantor itu tidak ada lagi.

Jadilah segera dimulai inisiatif job hunting. Targetnya bukan cuma sekitar Manchester, tapi mulai dari Amerika, Eropa, Indonesia sampai New Zealand dan Fiji. Pokoknya semua harus dicoba. Sayangnya, job market sekarang memang sedang sulit. Hanya sebagian kecil dari lamaran yang dibuat itu yang berbalas positif. Sayapun datang memenuhi beberapa interview. Sayang juga tidak ada yang hasilnya positif. Maklum juga ekonomi di Inggris dan Eropa pada umumnya masih tidak baik. PHK dimana-mana.

Sampai saya agak frustasi juga akhirnya. Alternatif survival ekonomi keluarga kemudian harus dipikirkan.

Sampai suatu saat ada undangan interview dari kampus di dekat rumah – kesempatan baik yang harus saya ikuti tentunya. Kebetulan waktu itu saya sudah membeli tiket pulang ke Indonesia lagi untuk menengok bapak yang sedang proses recovery dari penyakitnya dan juga memenuhi janji mengisi acara di sebuah universitas di Indonesia. Karena waktu interviewnya tidak bisa diubah, terpaksa tiket pesawatnya yang harus diubah dengan penalti tentunya.

Alhamdulillah, interviewnya berjalan mulus dan sebelum berangkat ke Indonesia tawaran pekerjaan itu disampaikan via telepon. Lega sedikit karena dapat jalan keluar walau tawarannya jauh dibanding apa yang saya dapatkan di tempat kerja yang lama.

Sebelum berangkat ke Indonesia, ada satu lagi datang undangan interview. Sayangnya, waktu interviewnya bertepatan dengan waktu saya sedang di Indonesia. Dalam perjalanan Balikpapan-Samarinda saya menegosiasikan pengubahan waktu interview agar saya bisa tetap diinterview namun tidak membuahkan hasil. Yang mereka tawarkan adalah interview via Skype. Saya terima tanpa pikir panjang.

Akhirnya interview dilaksanakan juga. Saya pinjam tempat di kediaman kakak dimana ada koneksi internet yang mantap. Sayangnya, sewaktu proses interview malah ada masalah teknis sehingga web-camnya terpaksa dimatikan, dan pembicaraannya dilakukan secara bergantian. Ketika saya bicara, microphone mereka di-mute. Dan juga sebaliknya. Interviewnya juga singkat saja. 25 menit dan terpaksa harus dipotong karena mereka ada tugas lain. Yo wis, saya pun tidak berharap banyak.

Tidak dinyana, beberapa jam kemudian saya menerima email tawaran pekerjaan dari mereka. Alhamdulillah.

Tinggal sekarang saya yang bingung. Mau tetap menerima tawaran kerjaan dari kampus dekat rumah, atau menerima tawaran dari tempat yang satu lagi. Lokasi kantor yang menginterview via Skype ini letaknya sekitar 200 km dari rumah, jadi kalau diambil kami harus memikirkan pindah rumah. Bolak-balik tiap hari tentu bikin kantong bolong :D Akhirnya, setelah konsultasi dengan istri tercinta dan diakhiri dengan shalat Istikharah, diambil keputusan untuk menerima tawaran kerja di kota Middlesbrough, tempat saya menulis note ini sekarang.

Alhamdulillah.

 

Umur dan Rejeki. Allah sudah merencanakan semuanya. Yang penting kita terus berusaha dan berdoa.

Jumlah warga Indonesia yang tinggal dan bekerja di luar negeri saat ini meningkat jumlahnya.Ada beberapa alasan mereka untuk tinggal di negeri asing, misalnya saja untuk belajar, bekerja, atau alasan lainnya. Mereka yang belajar keluar negeri pada umumnya akan kembali ke Indonesia begitu selesai proses pendidikannya. Tulisan ini ditujukan untuk membahas mereka yang tinggal atau bekerja di luar negeri dalam jangka waktu lama namun tetap ingin mempertahankan kewarganegaraannya.

Pernikahan adalah salah satu alasan sebagian kalangan untuk berpindah negara. Saat ini banyak warga negara Indonesia yang berpindah tinggal karena menikah dengan warga negara asing, dan juga sebaliknya. Sebagian dari mereka lalu memutuskan untuk mengganti status kewarganegaraannya dari Indonesia ke warga negara lain, atau juga sebaliknya melalui proses naturalisasi. Jumlah pernikahan campuran yang melibatkan warga Indonesia ini semakin meningkat jumlahnya. Mereka yang memutuskan untuk tinggal di luar negeri menjadi bagian dari diaspora masyarakat Indonesia di mancanegara.

Alasan lain perpindahan antar negara ini adalah alasan ekonomi. Pekerja Indonesia banyak bekerjadi berbagai negara untuk mengisi kesempatan pasar tenaga kerja di luar negeri. Mereka yang tidak terlalu mempunyai keterampilan khusus mengisi pasar kerja domestik (baca: pembantu rumahtangga) di keluarga-keluarga negara kawasan Timur Tengah, Malaysia, atau Singapura. Mereka ini lebih kerap disebut sebagai TKI atau TKW, sebutan yang agak bernada merendahkan kontribusi individual mereka.

Karena rendahnya tingkat kemampuan kompetitif yang ditawarkan oleh para pekerja kelompok ini, seringkali mereka mendapat perlakuan yang tidak pada tempatnya. Sudah berulang kali kita mendengar kisah pilu saudara-saudara kita di tanah rantau yang mendapat perlakukan semena-mena dari pemberi kerjanya, mendapat perlakuan kasar, dilecehkan baik secara fisik maupun mental. Pemerintah kitapun sering dituduh tidak mampu memberi perlindungan dan bantuan yang memadai bagi mereka.

Di lain pihak, belakangan ini juga makin banyak kita temui pekerja Indonesia yang bekerja dengan mengandalkan pendidikan dan keterampilan khusus yang mereka miliki. Banyak kita bisa temui pekerja Indonesia yang bekerja di sektor minyak dan gas di luar negeri, dari kawasan Timur Tengah,Asia Tenggara, sampai kawasan Eropa juga. Di bidang telekomunikasi banyak kita temui para insinyur Indonesia bekerja di berbagai perusahaan internasional mancanegara, demikian pula di bidang perhotelan, perbankan, dan konstruksi. Jumlah pekerja kesehatan Indonesia (umumnya perawat) yang bekerja di luar negeri juga mulai meningkat. Di bidang akademik, mulai banyak ditemui pengajar dan peneliti Indonesia yang bekerja di institusi-institusi pendidikan dan riset di Amerika, Malaysia, Singapura, Jerman, Belanda, dan Inggris. Di Inggris misalnya warga Indonesia yang bekerja di Universitas-universitas negara ratu Elizabeth ini sudah puluhan jumlahnya, baik sebagai peneliti, post-doctoral researcher, atau pengajar. Beberapa sudah mempunyai reputasi mendunia yangmengharumkan nama dan reputasi bangsa Indonesia di mata internasional.

Sebagaimana perpindahan manusia dengan alasan lain, migrasi ini ada yang bersifat tetap adajuga yang bersifat sementara. Kebanyakan kaum migran dari Indonesia sangat lekat kecintaannya pada keluarga dan tanah kelahiran mereka, sehingga banyak yang tetap bertekad untuk kembali ke Indonesia suatu saat nanti. Biar bagaimanapun juga, Indonesia adalah tanah tumpah darah, tempat dimana kita dilahirkan.

Sebagian besar dari mereka yang sudah cukup lama tinggal di negeri asing kemudian akan punyakesempatan untuk memiliki status kewarganegaraan negara yang ditinggalinya. Berawal dari permanent residency atau hak untuk menetap jangka panjang, yang kemudian bisa ditingkatkan menjadi hak untuk menjadi warga negara. Tentu saja ini kemudian menjadi ‘godaan’ bagi merekayang sudah lama tinggal di luar negeri karena memiliki status warga negara negara maju akan membawa banyak kemudahan bagi mereka. Dengan memiliki paspor salah satu negara Eropa misalnya, seseorang bisa berpindah tempat tinggal dan berpindah kerja dalam wilayah Uni Eropa tanpa perlu mendapat ijin kerja yang diperlukan oleh warga asing. Status kewarganegaraan juga membuka akses pada welfare system (seperti housing benefit, unemployment benefit, dll.) pada masing-masing negara. Singkatnya, ada berbagai faktor yang menjadi ‘penarik’ bagi warga Indonesia yang tinggal di luar negeri untuk mendapatkan status kewarganegaraan negara yang didiaminya.

Sayangnya Undang-Undang Indonesia yang umumnya merupakan warisan dari sistem hukum Belanda sampai saat ini tidak membolehkan warganya untuk memperoleh status kewarganegaraan ganda. Jika seseorang ingin mendapat status kewarganegaraan negara lain, maka ia harus meninggalkan status WNI-nya. Memang ada aturan yang membolehkan status kewarganegaraan ganda ini namun itu hanya berlaku bagi anak dari pasangan pernikahan campuran antar WNI dan WNA. Saat anak mencapai usia dewasa (18 tahun) maka sang anak harus memutuskan status kewarganegaraanya sendiri.

Beberapa negara membolehkan warganya menganut kewarganegaraan ganda. Inggris misalnya membolehkan warganya mempunyai kewarganegaraan lainnya. Jadi bisa kita lihat warga Inggris juga mempunyai status kewarganegaraan Australia, Canada, Amerika, dan negara-negara lain.

Lalu apa yang menjadi halangan untuk membolehkan warga Indonesia mendapat status kewarganegaraan ganda? Jika faktor penarik untuk mendapat status kewarganegaan asing cukup besar, godaannya adalah bagi mereka untuk melepaskan status WNI-nya sama sekali. Ini akan merupakan kerugian besar bagi bangsa Indonesia karena kebanyakan mereka yang mempunyai hak untuk mendapatkan status kewarganegaraan asing adalah high skilled workers yang keahlian, jaringan, pengalaman, dan juga kontribusi ekonomi bagi keluarga dan sahabat di Indonesia cukup bernilai besar. Jika mereka diberi kesempatan untuk tetap memiliki kewarganegaraan Indonesia, sedikit banyak kontribusinya pada Indonesia masih tetap bisa terjaga.

Beberapa negara (Swiss dan Australia) malah menganjurkan warga negaranya untuk dapat mempunyai status kewarganegaraan negara lain, dengan pertimbangan bahwa hal ini dapat meningkatkan peluang warganegaranya untuk berkompetisi secara internasional dan global, namun tetap mempunyai hubungan formal dengan negara asalnya.

Memang ada kekhawatiran bahwa dengan mempunyai status kewarganegaraan ganda bisa membuat seseorang mempunyai loyalitas ganda juga. Jika hal ini sampai terbukti terjadi, sebenarnya mudah saja mengatasinya dengan cara menarik salah satu status kewarganegaraannya.

Di luar itu, dari pengalaman dan pergaulan selama ini diantara warga Indonesia yang tinggal di luarnegeri, kebanyakan dari mereka masih mempunyai concern, nasionalisme dan loyalitas yang sangat tinggi pada Indonesia, bahkan bila dibandingkan dengan saat mereka masih tinggal di Indonesia.Lihat saja misalnya banyaknya organisasi yang dibentuk oleh warga Indonesia di luar negeri, seperti ormas sosial, keagamaan, perwakilan partai politik, dll. Disamping itu bermunculan pula organisasi kemanusiaan yang dibentuk oleh warga Indonesia di luar negeri untuk menyalurkan sumbangan, dan bentuk kepedulian lain pada aspek kemanusiaan di Indonesia. Semuanya menampilkan besarnya perhatian dan empati warga Indonesia yang tinggal di luar negeri pada apa yang terjadi di Indonesia.

Dengan memformalkan bentuk kewarganegaraan ganda, Indonesia bisa tetap mempertahankan aset warganya di luar negeri yang secara individu ataupun berkelompok juga mencoba mengharumkan nama bangsa di luar negeri.

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُڪُمۡ عَن ذِڪۡرِ ٱللَّهِ‌ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ
وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ قَرِيبٍ۬ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا‌ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kami dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh”.
Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

QS 63: 9-11

ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعً۬ا وَخُفۡيَةً‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفً۬ا وَطَمَعًا‌ۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Berdoalah pada Tuhan-mu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dengan kepada orang yang berbuat kebaikan.

QS 7: 55-56

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban Ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya………..QS 2:233

Khatib khutbah Jumat siang tadi di masjid kampus mengingatkan tentang kisah Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah SAW. Abdurrahman bin Auf adalah salah satu orang yang paling awal memeluk Islam setelah Rasulullah mendapatkan wahyu Allah SWT. Ia juga adalah salah satu dari 10 sahabat yang pernah disebut Rasullullah sebagai ahli Surga.

Yang menarik dari Abdurrahman bin Auf selain dari keimanannya adalah kerendahan hati dan kemurahan budinya.

Sewaktu hijrah dari kota Mekah ke Madinah, beliau disambut oleh kaum Anshar dan atas petunjuk Rasulullah SAW, beliau dititipkan pada keluarga Sad bin ar-Rabi’ah. Sedemikian tulusnya sambutan kaum Anshar pada saudara seiman kaum Muhajirin, sampai Sad menawarkan setengah hartanya dan bahkan salah satu dari kedua istrinya untuk diperistri oleh Abdurrahman bin Auf. Walau terharu dan berterima kasih atas tawaran saudara seimannya itu, Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan halus dan ia hanya ingin ditunjukkan dimana letak pasar tempat perdagangan di kota Madinah ketika itu.

Setelah ditunjukkan tempatnya, mulailah ia mendatangi pasar untuk mencari nafkah dengan berdagang. Karena kelihaiannya berdagang dan wataknya yang jujur, dalam waktu yang tidak lama ia segera dapat mengumpulkan uang dan mempunyai harta yang banyak.

Bahkan pernah dikiaskan bahwa jika Abdurrahman bin Auf membalikkan sebuah batu yang ditemui, maka dibawahnya akan ditemukan emas – sebuah perumpamaan yang menggambarkan betapa pandainya beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal.

Walau ia kemudian menjadi kaya raya, Abdurrahman bin Auf tidaklah menjadi buta karena hartanya. Ia sangat pemurah dan selalu ingat pada harta sebagai salah satu bentuk nikmat tapi juga cobaan Allah. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya akan memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ia takut bahwa dengan bertambahnya umur dan bertambahnya harta, semakin berat pula hal yang akan kita pertanggungjawabkan di muka Allah.

Suatu saat di Madinah selepas kepulangannya dari berniaga di Syam (sekitar Syria sekarang), ia menyerahkan seluruh hasil perniagaannya sebanyak 700 unta berikut apa yang ada pada rombongannya semata-mata karena diingatkan pada sebuah perkataan Rasulullah yang pernah menyebutkan bahwa Rasulullah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan. Ternyata Abdurrahman bin Auf takut bahwa harta yang didapatnya bisa memperlambatnya masuk surga, walaupun ia sudah dijanjikan Rasulullah sebagai salah satu akhli surga!

Saat menghadapi peperangan, Abdurrahman bin Auf siap menyumbangkan hartanya di jalan Allah. Saat menjelang ekspedisi pasukan muslim ke Tabuk, Umar bin Khattab RA melaporkan pada Rasulullah SAW bahwa Abdurrahman bin Auf menyumbangkan seluruh hartanya untuk ekspedisi itu dan tidak meninggalkan harta apapun untuk keluarganya di rumah. Ketika Rasulullah menanyakan kebenaran hal itu, Abdurrahman bin Auf menjawab bahwa ia sudah meninggalkan hal yang lebih baik pada keluarganya di rumah, yaitu sekedar harta untuk bertahan hidup dan pahala yang sudah dijanjikan oleh Allah dan Rasulullah .

Kerendahan hati, kemurahan budi, dan rasa takut akan Allah ini juga ditunjukkan pada sikapnya akan kekuasaan. Saat amirul mukminin Umar RA wafat, enam orang yang telah ditunjuk oleh Umar berembuk menentukan pemegang kekhalifahan berikutnya. Saat itu semua orang sudah mengharapkan Abdurrahman bin Auf untuk dipilih sebagai Khalifah berikutnya. Tidak dinyana ia malah berkata keras “Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut, lebih baik ambil pisau dan taruh di leherku, kemudian kalian tusukkan sampai tembus!”. Ia lalu menyerahkan kepada ke-lima sahabat yang telah ditunjuk itu untuk menentukan calon khalifah berikutnya.

Sahabat lainnya tentu tertegun mendengar perkataan Abdurrahman bin Auf ini dan malah lebih memunculkan rasa hormat yang lebih dalam. Merekapun sepakat meminta Abdurrahman bin Auf untuk memutuskan siapa yang akan dipilih, dan beliau memutuskan agar Usman bin Affan RA diangkat menjadi khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW wafat.

Sampai saat Abdurrahman bin Auf sakit dan menjelang ajal, Aisyah RA menawarkan padanya bahwa jika ia meninggal apakah ingin dikuburkan di area dekat dengan kubur Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan Umar RA. Walau tentu saja adalah merupakan kehormatan besar bila ia bisa dikuburkan di dekat junjungan kita Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf menolak kesempatan itu dengan alasan bahwa ia merasa tidak pantas diberi kehormatan seperti itu. Selain itu, iapun sudah pernah berpaut janji dengan sahabatnya Usman Bin Mazh’un untuk dikuburkan saling berdekatan jika wafat kelak. Akhirnya ia dikuburkan di kuburan Baqi, dekat dengan dimana sahabatnya itu dikuburkan.

Mudah-mudahan kita bisa meniru Abdurrahman bin Auf, yang walau pandai mencari harta, tidak terlalu menaruh cinta pada harta duniawi, ikhlas bersedekah, terus menjaga rasa malu, dan terus memegang janji sampai akhir hayat.

Seorang rekan baru saja menemukan tasnya yang semula tertinggal di kereta dalam perjalanan Virgin Train London-Manchester. Kebetulan saya waktu itu bepergian bersama teman ini dari London, jadi saya tahu betapa khawatir dan shock-nya si teman ini setelah sadar tasnya tertinggal di kereta api malam itu. Tas ransel itu berisi pasport, laptop dan sejumlah uang yang tidak sedikit. Malam itu juga kami telepon dan datang mengunjungi lost properti section di stasiun tujuan utama, dan juga bertanya pada manajer perusahaan kereta api yang ada di sana. Namun tidak ditemukan tanda-tanda dimana tas itu berada. Kereta api yang kami gunakan semula juga sudah tidak berada di stasiun itu, sudah pergi entah kemana.

Besok paginya, si teman ini menyambangi lagi stasiun kereta api itu untuk mencari tahu keberadaan tas yang berisi barang-barang yang penting itu. Bayangkan saja, pasport adalah identitas diri yang paling penting di negeri orang. Apalagi di dalamnya juga ada sticker berisi visa yang mengijinkan si pemegang paspor untuk tinggal di negeri ini selama menjalankan studinya. Di dalam laptopnya juga mungkin berisi dokumen-dokumen penting bagi studi si teman. Jika sampai tidak ditemukan, pasport harus diganti, visa harus dibuat ulang, laptop harus direlakan, dan dokumen elektonik dalam laptop juga musnah.

Setelah hampir putus asa dan pasrah kalau tasnya benar-benar tidak bisa ditemukan, tidak dinyana selang beberapa hari kemudian seorang manajer perusahaan perawatan kereta api mengirim email berisi pemberitahuan akan ditemukannya tas yang hilang itu dalam kereta yang dulu kami naiki. Betapa lega dan senang hati sang teman ini ketika tahu tasnya ditemukan. Bahkan tas itu kemudian diantar ke kediamannya oleh salah satu personel British Transport Police, tanpa ada kekurangan atau kehilangan di dalamnya.

Hal ini mengingatkan pada pengalaman seorang kawan yang juga pernah mengalami hal serupa. Kebetulan saya juga dalam perjalanan bersama dia saat itu. Tasnya tertinggal di rak barang dalam gerbong kereta api di salah satu stasiun kota London. Saat kami sadar tasnya tertinggal di sana, si kereta sudah berjalan meninggalkan stasiun menuju pemberhentian selanjutnya. Segera saja kami laporkan kehilangan ini ke petugas stasiun dan si petugas segera mengontak rekannya yang bekerja di stasiun tujuan berikut dari rangkaian kereta api itu. Kami lalu diminta segera naik kereta api selanjutnya menuju stasiun berikut dan menemui petugas yang ada disana. Ternyata tas dan segenap isinya ditemukan dengan baik tanpa kehilangan satu hal pun. Pasport, laptop dan barang-barang penting lainnya masih di sana. Senang menerima tasnya masih lengkap, si teman ini memberikan beberapa kaus souvenir bagi si petugas stasiun, walau umumnya hal ini jarang dilakukan di tanah ratu Elizabeth ini. Dengan mengucapkan terima kasih tulus saja sudah cukup. Mereka hanya menjalankan tugasnya. Menemukan dan mengembalikan tas yang hilang itu adalah bagian dari tugasnya tanpa perlu minta imbalan apa-apa.

Saya sendiri juga pernah kehilangan serupa, namun bukan berupa tas atau laptop. Saya pernah tidak sengaja lupa meletakkan handphone di bangku kereta api, dan lupa mengambilnya kembali saat saya tiba di stasiun tujuan di dekat rumah. Tanpa sadar telah melupakan si handphone, saya berjalan pulang ke rumah pelan-pelan. Tidak disangka saat masuk rumah telepon rumah berdering, dan si penelpon di ujung telepon mengabarkan kalau dia menemukan telepon saya di atas kereta api. Si penelepon adalah kondektur kereta api yang saya naiki tadi. Ia menemukan nomor rumah saya karena dalam call register muncul entri berjudul ‘Home’, yang jelas menggambarkan bahwa nomor itu adalah nomor rumah kediaman saya. Lalu saya segera diminta kembali ke stasiun tempat saya turun tadi karena ia akan kembali melintasinya saat si kereta api kembali ke arah stasiun kota asal.

Tentu saja saya segera berlari ke stasiun dan menunggu si kereta kembali datang. Begitu datang, dengan melihat saya menunggu di platform stasiun ia langsung menyerahkan si handphone (yang saat itu masih cukup gres kondisinya) pada saya tanpa bertanya apa-apa. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus lalu ia segera masuk kembali ke dalam kereta api untuk meneruskan pekerjaan dan perjalanannya.

Dari ketiga pengalaman pribadi di atas, saya merasa tidak ada pamrih pada ketiga pihak yang membantu menemukan barang-barang hilang itu. Mereka hanya menjalankan tugasnya dengan baik. Jangan sangka mereka tidak butuh uang, karena saya tahu juga sebenarnya gaji mereka-mereka ini tidak besar-besar amat. Memang secara nominal gaji pegawai di Inggris relatif lebih besar dibanding gaji di Indonesia, tapi pengeluarannya juga besar jadi sebenarnya ujung-ujungnya sama saja.

Lalu saya bayangkan pengalaman-pengalaman ini pada beberapa cerita teman-teman lain khususnya ketika masih di Indonesia. Biasanya, kalau kita ketinggalan sebuah barang berharga di kendaraan umum, kita tidak bisa harapkan bisa menemukan lagi barang-barang itu, atau setidaknya jika bisa ditemukan kembali ada yang hilang atau tidak lengkap. Kadang juga si penemu barang meminta imbalan baik secara terang-terangan maupun terselubung halus. Penemu kebanyakan berpamrih saat mengembalikan barang temuannya.

Apalagi jika kita sambungkan ini pada kasus Gayus yang sedang hangat diberitakan di media massa Indonesia. Gayus adalah pegawai negeri yang berurusan dengan pengurusan pajak beberapa perusahaan besar. Saat selesai membantu pengurusan pajak perusahaan-perusahaan itu, ia lalu menerima uang terima kasih dalam jumlah yang aduhai. Mulai dari $500 ribu, $1 juta, sampai $2 juta. Semua ini didapat extra dari pihak yang ‘berterima kasih’ atas jerih payah kerjanya.Tidak heran kemudian diketahui bahwa si Gayus ini, dalam usia yang relatif muda (30 tahun), ada uang sejumlah 25 milyar rupiah dalam rekening2nya, dan harta jenis lain dalam safe deposit box seharga 74 milyar!

Sebagai pegawai departemen keuangan, Gayus sudah menerima gaji dari rekening pemerintah untuk menjalankan tugasnya membantu para wajib pajak itu. Jadi, ucapan ‘terima kasih’ berupa uang ini sebenarnya adalah penerimaan yang tidak bisa dibenarkan alias gratifikasi. Apalagi gaji pegawai di departemen keuangan jumlahnya relatif memadai, jauh lebih besar dibanding pegawai negeri sektor lainnya.

Gayus tentu tidak sendirian. Dulu saya sering heran kalau bepergian ke kompleks perumahan pejabat pertanahan, perpajakan, atau kejaksaaan. Maaf-maaf saja, di sana mudah kita lihat rumah-rumah perkasa dan mentereng yang rasanya tidak sesuai dengan besar pendapatan sebagai pegawai negeri. Darimana sumber dana untuk membangun rumah-rumah keren itu? Mudah-mudahan sih bukan seperti apa yang Gayus lakukan. Tapi sangat sulit bagi saya untuk tidak berprasangka buruk pada pemilik rumah-rumah itu. Tapi jangan su’udzon lah yaw :D

Tinggal dan bekerja di negara dengan sistem sosial dan tata nilai yang berbeda, kadang menimbulkan masalah. Apa yang secara profesi harus kita lakukan kadang berlawanan dengan apa yang ada di hati.

Misalnya saja tahun lalu tempat saya kerja memberikan gelar kehormatan (honorary degree) pada seseorang yang telah bertahun-tahun memperjuangkan hak-hak para gay dan lesbian. Tentu saja saya tahu bahwa di Inggris ini adalah hak seseorang untuk mempertahankan dan ‘memproklamirkan’ kecenderungan seksualnya. Adalah sama hak seseorang di mata hukum tidak peduli apakah dia gay atau lesbian. Homoseksualitas adalah hal yang secara sosial dan hukum negara diterima sebagai kenyataan sosial. Perkawinan sesama jenis sudah diterima sebagai lumrah dan masuk dalam hukum formal negara.

Walau demikian, tentu berat bagi saya sebagai pribadi untuk dapat mendukung keputusan tempat saya kerja. Sebagai muslim, (dan saya yakin juga pemeluk agama lainnya) sulit bagi kita untuk menyokong keputusan itu. Silahkan saja jika seseorang memutuskan untuk jadi homoseksual, tapi tentunya sulit atau bahkan tidak mungkin bagi saya untuk mendukung institusi tempat saya bekerja untuk memberi rekognisi dan menglorifikasi hal-hal seperti itu.

Dalam diskusi di kelas Social Policy beberapa hari lalu, kebetulan topiknya adalah tentang social policy and sexuality dimana dibahas apakah sexual preference mempengaruhi hak-hak seseorang dalam kehidupan sosial. Dalam diskusi terungkap bahwa sebagian besar mahasiswa sepakat bahwa sexual preference tidak berarti apa-apa. Apapun preference seseorang terhadap kebutuhan seksualnya, selama itu antar sesama manusia, tidaklah menjadi masalah.

Memang masih ada beberapa kejanggalan yang masih bisa terlihat. Misalnya saja masih tidak umum atau risih melihat sesama pria jalan bergandengan atau berpelukan, di muka umum. Sementara jika yang melakukannya adalah sesama perempuan hal ini lebih lumrah diterima masyarakat umum.

Yang menarik adalah pendapat mahasiswa bahwa yang penting bagi mereka bukanlah siapa pasangan seksualnya, melainkan honesty alias kesetiaan pasangannya. Tidak masalah seseorang mau berpasangan dengan siapa saja asal ia lebih memilih untuk mempunyai pasangan jangka panjang.

Ada juga sebuah kasus yang juga tidak kalah menarik. Seorang mahasiswa yang tahun sebelumnya sebutlah bernama Rachel, tiba-tiba tahun ini merubah namanya menjadi Robert. Tentu saja tidak hanya ia memutuskan untuk mengganti namanya, tapi ia juga memutuskan untuk mengganti status jenis kelaminnya. Saya tidak tahu persis apakah ia menjalani operasi atau sejenisnya, tapi jelas ia mengganti status hukumnya dari seorang perempuan menjadi laki-laki.

Kasat matanya sih saat ini kalau kita bertemu dengan si mahasiswa, ia 100% laki-laki. Tidak ada kecurigaan sedikitpun kalau tahun lalu ia masih berstatus dan tampak seperti perempuan. Yang sulit, dalam bahasa Inggris kita memanggil seseorang dengan kata ganti maskulin atau feminin. Dulu ia dipanggil ‘Her’ sekarang berubah menjadi ‘Him’.

Dulu saya berpikiran kalau hal-hal semacam ini biasanya hanya bisa dilihat di film-film dokumentary, atau hanya terjadi pada golongan tertentu saja di masyarakat. Tidak dinyana, ini terjadi pada salah seorang mahasiswa yang saya kenal.

Di lain pihak, ada juga hal-hal lain yang membuat saya kagum dan kadang iri pada hak-hak warga negara di negara maju seperti Inggris ini.

Salah satu mahasiswa dalam kelas tutorial saya mempunyai kelainan tubuh yang cukup berat. Ia sulit bicara dan tidak bisa melihat dan membaca. Negara membantunya untuk bersekolah dengan menyediakan support yang memadai. Ia mempunyai seekor anjing penuntun (guide dog) yang membantunya untuk berjalan tanpa bantuan tongkat dan orang lain. Untuk membaca dokumen, ia punya laptop yang dilengkapi dengan software khusus yang membantunya untuk membaca dokumen. Selain itu – ini yang hebat – ia mempunyai seseorang yang khusus membantunya menjalani proses pendidikan setiap hari. Dengan kata lain ia punya asisten pribadi yang dibayar pemerintah untuk membantu A-Z proses pembelajarannya. Setiap dosenpun punya kewajiban untuk membantu proses pendidikan agar ia mempunyai akses pada materi yang sama dengan mahasiswa lainnya.

Mahasiswa lain yang punya kekurangan fisik maupun non-fisik juga berhak mendapat perhatian khusus agar mereka bisa menjalani pendidikan sama seperti rekan-rekan lainnya yang tidak berkekurangan. Misalnya mahasiswa yang disleksia (kesulitan membaca), harus diberi kesempatan mendapat handout dan bahan kuliah dalam huruf yang besar dan jelas, dan juga berhak mendapat waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan tugas dan ujian. Mahasiswa dengan kekurangan lain juga berhak mendapat hal sama.

Semua hal di atas itu manteranya satu: Equality and Diversity. Sedemikian kuatnya prinsip dan aturan ini ditetapkan sehingga semua hal-hal yang berbau ‘diskriminasi’ harus dibuang jauh-jauh.

Memang semua itu tentu terkait dengan ada atau tidaknya sumber daya (alias uang) untuk menjalankannya. Bagi Indonesia, tentu tidak mudah untuk bisa ikut menjalankan support semacam itu bagi mahasiswa. Mungkin nanti kalau Indonesia sudah bisa jadi negara kaya. Kapan ya? Atau kita minta uangnya ke si Gayus saja?

Kalau ditanya apa yang sering membuat saya sebal, salah satu jawabannya adalah sifat manusia yang selalu ingin ambil kesempatan. Jujurnya saja memang ini sifat yang dimilkiki setiap manusia tanpa kecuali. Tapi ada beberapa kasus yang membuat saya jengkel luar biasa.

Misalnya saja beberapa waktu belakangan ini ada berita di media massa bahwa angota komisi tertentu di DPR yang berencana ‘studi banding’ kegiatan ke-Pramukaan ke beberapa Negara lain. Kalau tidak salah Negara yang dituju adalah Jepang, Korea, dan Afrika Selatan.

Banyak kritik yang mengatakan bahwa kunjungan anggota yang terhormat itu hanyalah kunjungan pelesir alias jalan-jalan. Tidak banyak yang bisa dilakukan, dilihat, didiskusikan di Negara-negara tujuan itu, apalagi sampai mengharapkan hasil kunjungan yang positif sekembalinya ke Indonesia.

Dalam beberapa ‘kunjungan’ pejabat negara dan anggota parlemen yang pernah saya ikuti, hampir sebagian besar isinya nol besar saja. Tujuan kunjungannya sih macam-macam, mulai dari studi banding, sosialisasi, cari data, koordinasi atau apapun namanya.

Dari satu kunjungan ‘sosialisasi kebijakan’ yang pernah saya ikuti karena diundang sebagai salah satu wakil organisasi masyarakat Indonesia yang ada Inggris, ya terbaca deh kira-kira bahwa acara pertemuan dengan warga Indonesia yang seharusnya menjadi tujuan utama kunjungan cuma menjadi aksesoris atau syarat pelengkap. Dari 7 anggota yang datang pun hanya 2 yang duduk di depan dan sibuk berkoar. Lainnya duduk diam mengamini. Padahal mereka juga didampingi oleh beberapa staf alias ajudan yang membawakan tanda mata dan sejenisnya.

Ketika ada yang iseng bertanya apa tujuan mereka ini hanya sekedar untuk jalan-jalan saja, dasar anggota dewan yang terhormat, mereka pandai beralih bahwa semua ini sudah direncanakan dan masuk ke dalam Undang-undang. Kalau mereka tidak lakukan ‘perjalanan dinas’ ini mereka melanggar Undang-undang. Hehehe. Tentu saja begitu. Siapa yang buat undang-undang itu? Ya mereka sendiri.

Dari pertemuan lain yang pernah saya ikuti, idem ditto saja. Informasi yang didapat dari pertemuan itu seharusnya bisa dikirim via email, di post di website atau bahkan bisa juga via social networking site gratisan ala facebook.

Saya pernah ditugaskan mewakili sebuah panitia kegiatan Negara untuk menghadiri pertemuan sosialisasi di Belanda. Di sana hadir perwakilan panitia yang sama dari beberapa Negara lain, yang lucunya bahkan sampai kawasan Uzbekistan sana. Pertemuan ini bukan satu-satunya, ada pertemuan sejenis di Paris, Sydney dan beberapa kota dunia lainnya.

Tim yang datang dari Indonesia untuk ‘sosialisasi’ ada 5 orang. Satu anggota ‘komisi’ yang dipilih rakyat, dua staf lembaga komisi itu, dan dua lagi staf departemen terkait. Isinya ya itu-itu saja, tidak perlu rasanya mereka jauh-jauh datang dari Indonesia dengan ongkos pesawat besar (business class rasanya karena perjalanan dinas yang jauh), hotelnya, pelayanan dari KBRI, sampai ke honorarium atawa per-diem yang mereka dapatkan (dengar-dengar sekitar Rp 100 jt per orang untuk per diem saja). Belum lagi ongkos yang dikeluarkan oleh kami-kami ini para panitia lokal di beberapa Negara eropa (termasuk Russia dan Asia Tengah yang ikut di acara itu).

Lucunya, baru beberapa hari setelah acara berlangsung, saat panitia belum bisa bekerja melaksanakan hasil ‘sosialisasi’, dari pusat di Jakarta sudah mengirimkan pasukan tambahan, yang kali ini datang langsung ke London. Pasukan 3 staf wanita ini punya tugas khusus: menjemput data. Saya hampir tidak percaya. Bahkan si pasukan pemburu data ini belum/tidak tahu hasil pertemuan sosialisasi sebelumnya di Belanda. Tapi mereka tetap saja datang meminta data dari kami karena memang mereka hanya menjalankan tugas dari atasan. Urusan data yang kalau dikirim via internet hanya butuh sekian detik untuk mengkliknya via email, atau bisa dikirim via CD/DVD/Flash Disk, atau hardcopynya bisa dikirim via DHL/TNT/UPS atau sejenisnya. Ala birokrasi Indonesia gimana caranya? Kirim orang ke masing-masing negara!

Kalau dengar-dengar cerita dari teman-teman ‘orang dalam’ di kedutaan sana, banyak tamu pejabat, istri pejabat, anak pejabat, atau saudara pejabat dari Indonesia yang kalau datang ke London minta diservis ini itu. Pernah dengar kan isu anggota yang terhormat dilaporkan melakukan ‘kunjungan kerja’ ke Casino di London?

Oooo sedihnya masyarakat Indonesia. Uang negara yang tidak terlalu banyak, dengan banyak sumber uang hutang pula, digunakan untuk kegiatan yang cuma penuh ‘jalan-jalan’nya.

Memang ada sih pejabat lain yang malah sebaliknya, kalau pergi ke luar negeri pakai biaya sendiri, tidak mau dibantu sama sekali oleh perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri, dan tidak ingin ada beritanya sama-sekali di media. Tapi ini golongannya minoritas alias sedikit sekali jumlahnya.

Selepas shalat Dhuhur tadi saya disapa seorang bule di depan Masjid kampus. Bule ini sebelumnya saya lihat shalat Dhuhur sendiri karena telat ikut jamaah jam 13:30 siang tadi.

Kaget juga saya sebenarnya disapa dia. Saya bukan kaget karena bule itu menyapa saya dalam bahasa Indonesia. Saya kenal beberapa orang kulit putih yang tidak ada tampang Indonesianya sama sekali yang mampu berbahasa Indonesia secara halus dan baik. Jauh lebih baik tata bahasanya dari saya yang dari lahir sampai dewasa tinggal di Indonesia.

Misalnya, ada satu pasang suami istri yang dulu pernah tinggal di Bogor bertahun-tahun, karena sang suami menjadi pengajar di IPB. Setelah pensiun mereka kembali ke Inggris dan sering mengundang mahasiswa (yang umumnya berkocek tipis) untuk makan-makan di kediamannya yang asri. Ngobrol bahasa Indonesia sepuasnya bolehlah di kediamannya. Seorang lagi bahkan bahasa Indonesianya baik sekali. Saat saya ada proyek penerjemahan ke bahasa Indonesia, saya meminta beliau untuk menjadi salah seorang professional forward translator (menterjemahkan dari Inggris ke Indonesia) sementara beberapa penerjemah Indonesia diminta menjadi backward translator (dari Indonesia ke Inggris). Beliau ini juga beberapa tahun yang lalu memutuskan menjadi mualaf, Alhamdulillah.

Saat saya kuliah dulu juga punya seorang kenalan, bule Australia seumuran lepas SMA (ketika itu) yang pandai berbahasa Indonesia. Saat kebetulan saya mengerjakan tugas akhir di Melbourne beberapa kali kami jalan bareng sambil ber-loe-gue dengan dia. Maklum, dia ini dulu pernah ikut AFS di kawasan Kemayoran/Sunter dan bersekolah di SMA 13. Tiap hari dia ke sekolah naik becak naik metromini via Senen. Jadilah bahasa Indonesianya lancar ala abang-abang yang ada di Metromini.

Istri saya juga pernah ketemu anak muda bule, yang sedang berdagang baju dan aksesoris klub sepakbola Manchester United saat ada pertandingan di stadion Old Trafford. Si anak muda bule ini juga ber-loe-gue dengan istri saya dan teman-temannya karena ia sebenarnya tinggal di Jakarta mengikuti orang tuanya yang menjadi konsultan sebuah televisi swasta di sana.

Simpulannya, nggak heran kalau kita ketemu bule-bule yang pandai bicara bahasa Indonesia.

Kembali ke si Bule di masjid. Saya juga bukan kaget melihat bule shalat di masjid karena saat ini di Inggris memang banyak bule yang memeluk agama Islam. Diantara teman-teman orang Indonesia muslim yang menikah dengan pria bule, banyak diantara mereka yang mendalami agama Islam. Sebagian diantaranya sangat rajin dan bersemangat belajar agama. Di masjid lokal paling dekat dengan rumah kami (nggak dekat juga, jaraknya dengan rumah sekarang 6 miles = 9,65 km) marbot (atau di sini disebut Manager) masjidnya seorang mualaf bule. Beberapa orang jamaah yang rajin datang juga bule. Satu orang malah aktif minta saya mencarikan seorang gadis/janda yang siap nikah dengan dia.

Sebenarnya banyak mualaf yang sering ditemui di sini, dan bukan monopoli orang kulit putih Inggris alias bule. Pernah ada gadis asal eropa timur yang melafalkan syahadat di masjid itu. Istri saya punya kenalan beberapa mualaf Afrika di circle masjid. Jadi mualaf di Inggris bukan cuma bule saja.

Apalagi lihat umat muslim yang sedang umrah atau haji di tanah suci. Jamaah dari berbagai jenis rupa wajah, perawakan, warna kulit, bahasa dan kebiasaan yang datang ke sana. Dekat tempat penginapan kami dulu ada rombongan jamaah dari China, Taiwan, dan Brasil. Dulu saya tidak pernah bayangkan lho sebenarnya bahwa ada umat Islam yang tinggal di Brasil!

Simpulannya, nggak usah terlalu heran lihat bule yang rajin ke masjid.Yang ke masjid bukan cuma muslim dari Timur Tengah, Asia dan Afrika saja.

Kembali pada si bule yang menyapa saya di masjid. Sebenarnya apa yang membuat saya kaget? Sebelum saya disapanya, si bule ini saya dengar bercakap-cakap dalam bahasa Arab pada satu orang mahasiswa asal Timur Tengah. Lancar dan bagus bahasa Arabnya. Jadi saya pikir waktu itu dia ini pasti orang keturunan Eropa yang tinggal di salah satu negara Timur Tengah. Ternyata setelah itu dia menyapa saya dengan bahasa Indonesia! Wow. Bule yang mampu berbahasa Inggris, Arab dan Indonesia!

Setelah lepas rasa kaget saya, kamipun ngobrol sedikit. Ia ternyata staf pengajar baru di Universitas kami yang dulu pernah beberapa lama tinggal di Indonesia. Istrinya pun berasal dari negara Jiran Malaysia asal kota Kuala Lumpur. Si bule ini berasal dari Australia, dan dulu pernah kerja di Aceh. Ini menjelaskan mengapa ia bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Ia baru saja datang dari Australia untuk mengajar di Universitas kami. Apa yang diajarnya? Bahasa ARAB! Hebat kan?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.987 pengikut lainnya.