يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُڪُمۡ عَن ذِڪۡرِ ٱللَّهِ‌ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ
وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ قَرِيبٍ۬ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ
وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا‌ۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kami dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh”.
Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

QS 63: 9-11

ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعً۬ا وَخُفۡيَةً‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ

وَلَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَـٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفً۬ا وَطَمَعًا‌ۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ۬ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Berdoalah pada Tuhan-mu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dengan kepada orang yang berbuat kebaikan.

QS 7: 55-56

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban Ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya………..QS 2:233

Khatib khutbah Jumat siang tadi di masjid kampus mengingatkan tentang kisah Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Rasulullah SAW. Abdurrahman bin Auf adalah salah satu orang yang paling awal memeluk Islam setelah Rasulullah mendapatkan wahyu Allah SWT. Ia juga adalah salah satu dari 10 sahabat yang pernah disebut Rasullullah sebagai ahli Surga.

Yang menarik dari Abdurrahman bin Auf selain dari keimanannya adalah kerendahan hati dan kemurahan budinya.

Sewaktu hijrah dari kota Mekah ke Madinah, beliau disambut oleh kaum Anshar dan atas petunjuk Rasulullah SAW, beliau dititipkan pada keluarga Sad bin ar-Rabi’ah. Sedemikian tulusnya sambutan kaum Anshar pada saudara seiman kaum Muhajirin, sampai Sad menawarkan setengah hartanya dan bahkan salah satu dari kedua istrinya untuk diperistri oleh Abdurrahman bin Auf. Walau terharu dan berterima kasih atas tawaran saudara seimannya itu, Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan halus dan ia hanya ingin ditunjukkan dimana letak pasar tempat perdagangan di kota Madinah ketika itu.

Setelah ditunjukkan tempatnya, mulailah ia mendatangi pasar untuk mencari nafkah dengan berdagang. Karena kelihaiannya berdagang dan wataknya yang jujur, dalam waktu yang tidak lama ia segera dapat mengumpulkan uang dan mempunyai harta yang banyak.

Bahkan pernah dikiaskan bahwa jika Abdurrahman bin Auf membalikkan sebuah batu yang ditemui, maka dibawahnya akan ditemukan emas – sebuah perumpamaan yang menggambarkan betapa pandainya beliau mendapatkan harta dengan cara yang halal.

Walau ia kemudian menjadi kaya raya, Abdurrahman bin Auf tidaklah menjadi buta karena hartanya. Ia sangat pemurah dan selalu ingat pada harta sebagai salah satu bentuk nikmat tapi juga cobaan Allah. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya akan memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ia takut bahwa dengan bertambahnya umur dan bertambahnya harta, semakin berat pula hal yang akan kita pertanggungjawabkan di muka Allah.

Suatu saat di Madinah selepas kepulangannya dari berniaga di Syam (sekitar Syria sekarang), ia menyerahkan seluruh hasil perniagaannya sebanyak 700 unta berikut apa yang ada pada rombongannya semata-mata karena diingatkan pada sebuah perkataan Rasulullah yang pernah menyebutkan bahwa Rasulullah melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan. Ternyata Abdurrahman bin Auf takut bahwa harta yang didapatnya bisa memperlambatnya masuk surga, walaupun ia sudah dijanjikan Rasulullah sebagai salah satu akhli surga!

Saat menghadapi peperangan, Abdurrahman bin Auf siap menyumbangkan hartanya di jalan Allah. Saat menjelang ekspedisi pasukan muslim ke Tabuk, Umar bin Khattab RA melaporkan pada Rasulullah SAW bahwa Abdurrahman bin Auf menyumbangkan seluruh hartanya untuk ekspedisi itu dan tidak meninggalkan harta apapun untuk keluarganya di rumah. Ketika Rasulullah menanyakan kebenaran hal itu, Abdurrahman bin Auf menjawab bahwa ia sudah meninggalkan hal yang lebih baik pada keluarganya di rumah, yaitu sekedar harta untuk bertahan hidup dan pahala yang sudah dijanjikan oleh Allah dan Rasulullah .

Kerendahan hati, kemurahan budi, dan rasa takut akan Allah ini juga ditunjukkan pada sikapnya akan kekuasaan. Saat amirul mukminin Umar RA wafat, enam orang yang telah ditunjuk oleh Umar berembuk menentukan pemegang kekhalifahan berikutnya. Saat itu semua orang sudah mengharapkan Abdurrahman bin Auf untuk dipilih sebagai Khalifah berikutnya. Tidak dinyana ia malah berkata keras “Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut, lebih baik ambil pisau dan taruh di leherku, kemudian kalian tusukkan sampai tembus!”. Ia lalu menyerahkan kepada ke-lima sahabat yang telah ditunjuk itu untuk menentukan calon khalifah berikutnya.

Sahabat lainnya tentu tertegun mendengar perkataan Abdurrahman bin Auf ini dan malah lebih memunculkan rasa hormat yang lebih dalam. Merekapun sepakat meminta Abdurrahman bin Auf untuk memutuskan siapa yang akan dipilih, dan beliau memutuskan agar Usman bin Affan RA diangkat menjadi khalifah ketiga setelah Rasulullah SAW wafat.

Sampai saat Abdurrahman bin Auf sakit dan menjelang ajal, Aisyah RA menawarkan padanya bahwa jika ia meninggal apakah ingin dikuburkan di area dekat dengan kubur Rasulullah SAW, Abu Bakar RA, dan Umar RA. Walau tentu saja adalah merupakan kehormatan besar bila ia bisa dikuburkan di dekat junjungan kita Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf menolak kesempatan itu dengan alasan bahwa ia merasa tidak pantas diberi kehormatan seperti itu. Selain itu, iapun sudah pernah berpaut janji dengan sahabatnya Usman Bin Mazh’un untuk dikuburkan saling berdekatan jika wafat kelak. Akhirnya ia dikuburkan di kuburan Baqi, dekat dengan dimana sahabatnya itu dikuburkan.

Mudah-mudahan kita bisa meniru Abdurrahman bin Auf, yang walau pandai mencari harta, tidak terlalu menaruh cinta pada harta duniawi, ikhlas bersedekah, terus menjaga rasa malu, dan terus memegang janji sampai akhir hayat.

Seorang rekan baru saja menemukan tasnya yang semula tertinggal di kereta dalam perjalanan Virgin Train London-Manchester. Kebetulan saya waktu itu bepergian bersama teman ini dari London, jadi saya tahu betapa khawatir dan shock-nya si teman ini setelah sadar tasnya tertinggal di kereta api malam itu. Tas ransel itu berisi pasport, laptop dan sejumlah uang yang tidak sedikit. Malam itu juga kami telepon dan datang mengunjungi lost properti section di stasiun tujuan utama, dan juga bertanya pada manajer perusahaan kereta api yang ada di sana. Namun tidak ditemukan tanda-tanda dimana tas itu berada. Kereta api yang kami gunakan semula juga sudah tidak berada di stasiun itu, sudah pergi entah kemana.

Besok paginya, si teman ini menyambangi lagi stasiun kereta api itu untuk mencari tahu keberadaan tas yang berisi barang-barang yang penting itu. Bayangkan saja, pasport adalah identitas diri yang paling penting di negeri orang. Apalagi di dalamnya juga ada sticker berisi visa yang mengijinkan si pemegang paspor untuk tinggal di negeri ini selama menjalankan studinya. Di dalam laptopnya juga mungkin berisi dokumen-dokumen penting bagi studi si teman. Jika sampai tidak ditemukan, pasport harus diganti, visa harus dibuat ulang, laptop harus direlakan, dan dokumen elektonik dalam laptop juga musnah.

Setelah hampir putus asa dan pasrah kalau tasnya benar-benar tidak bisa ditemukan, tidak dinyana selang beberapa hari kemudian seorang manajer perusahaan perawatan kereta api mengirim email berisi pemberitahuan akan ditemukannya tas yang hilang itu dalam kereta yang dulu kami naiki. Betapa lega dan senang hati sang teman ini ketika tahu tasnya ditemukan. Bahkan tas itu kemudian diantar ke kediamannya oleh salah satu personel British Transport Police, tanpa ada kekurangan atau kehilangan di dalamnya.

Hal ini mengingatkan pada pengalaman seorang kawan yang juga pernah mengalami hal serupa. Kebetulan saya juga dalam perjalanan bersama dia saat itu. Tasnya tertinggal di rak barang dalam gerbong kereta api di salah satu stasiun kota London. Saat kami sadar tasnya tertinggal di sana, si kereta sudah berjalan meninggalkan stasiun menuju pemberhentian selanjutnya. Segera saja kami laporkan kehilangan ini ke petugas stasiun dan si petugas segera mengontak rekannya yang bekerja di stasiun tujuan berikut dari rangkaian kereta api itu. Kami lalu diminta segera naik kereta api selanjutnya menuju stasiun berikut dan menemui petugas yang ada disana. Ternyata tas dan segenap isinya ditemukan dengan baik tanpa kehilangan satu hal pun. Pasport, laptop dan barang-barang penting lainnya masih di sana. Senang menerima tasnya masih lengkap, si teman ini memberikan beberapa kaus souvenir bagi si petugas stasiun, walau umumnya hal ini jarang dilakukan di tanah ratu Elizabeth ini. Dengan mengucapkan terima kasih tulus saja sudah cukup. Mereka hanya menjalankan tugasnya. Menemukan dan mengembalikan tas yang hilang itu adalah bagian dari tugasnya tanpa perlu minta imbalan apa-apa.

Saya sendiri juga pernah kehilangan serupa, namun bukan berupa tas atau laptop. Saya pernah tidak sengaja lupa meletakkan handphone di bangku kereta api, dan lupa mengambilnya kembali saat saya tiba di stasiun tujuan di dekat rumah. Tanpa sadar telah melupakan si handphone, saya berjalan pulang ke rumah pelan-pelan. Tidak disangka saat masuk rumah telepon rumah berdering, dan si penelpon di ujung telepon mengabarkan kalau dia menemukan telepon saya di atas kereta api. Si penelepon adalah kondektur kereta api yang saya naiki tadi. Ia menemukan nomor rumah saya karena dalam call register muncul entri berjudul ‘Home’, yang jelas menggambarkan bahwa nomor itu adalah nomor rumah kediaman saya. Lalu saya segera diminta kembali ke stasiun tempat saya turun tadi karena ia akan kembali melintasinya saat si kereta api kembali ke arah stasiun kota asal.

Tentu saja saya segera berlari ke stasiun dan menunggu si kereta kembali datang. Begitu datang, dengan melihat saya menunggu di platform stasiun ia langsung menyerahkan si handphone (yang saat itu masih cukup gres kondisinya) pada saya tanpa bertanya apa-apa. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus lalu ia segera masuk kembali ke dalam kereta api untuk meneruskan pekerjaan dan perjalanannya.

Dari ketiga pengalaman pribadi di atas, saya merasa tidak ada pamrih pada ketiga pihak yang membantu menemukan barang-barang hilang itu. Mereka hanya menjalankan tugasnya dengan baik. Jangan sangka mereka tidak butuh uang, karena saya tahu juga sebenarnya gaji mereka-mereka ini tidak besar-besar amat. Memang secara nominal gaji pegawai di Inggris relatif lebih besar dibanding gaji di Indonesia, tapi pengeluarannya juga besar jadi sebenarnya ujung-ujungnya sama saja.

Lalu saya bayangkan pengalaman-pengalaman ini pada beberapa cerita teman-teman lain khususnya ketika masih di Indonesia. Biasanya, kalau kita ketinggalan sebuah barang berharga di kendaraan umum, kita tidak bisa harapkan bisa menemukan lagi barang-barang itu, atau setidaknya jika bisa ditemukan kembali ada yang hilang atau tidak lengkap. Kadang juga si penemu barang meminta imbalan baik secara terang-terangan maupun terselubung halus. Penemu kebanyakan berpamrih saat mengembalikan barang temuannya.

Apalagi jika kita sambungkan ini pada kasus Gayus yang sedang hangat diberitakan di media massa Indonesia. Gayus adalah pegawai negeri yang berurusan dengan pengurusan pajak beberapa perusahaan besar. Saat selesai membantu pengurusan pajak perusahaan-perusahaan itu, ia lalu menerima uang terima kasih dalam jumlah yang aduhai. Mulai dari $500 ribu, $1 juta, sampai $2 juta. Semua ini didapat extra dari pihak yang ‘berterima kasih’ atas jerih payah kerjanya.Tidak heran kemudian diketahui bahwa si Gayus ini, dalam usia yang relatif muda (30 tahun), ada uang sejumlah 25 milyar rupiah dalam rekening2nya, dan harta jenis lain dalam safe deposit box seharga 74 milyar!

Sebagai pegawai departemen keuangan, Gayus sudah menerima gaji dari rekening pemerintah untuk menjalankan tugasnya membantu para wajib pajak itu. Jadi, ucapan ‘terima kasih’ berupa uang ini sebenarnya adalah penerimaan yang tidak bisa dibenarkan alias gratifikasi. Apalagi gaji pegawai di departemen keuangan jumlahnya relatif memadai, jauh lebih besar dibanding pegawai negeri sektor lainnya.

Gayus tentu tidak sendirian. Dulu saya sering heran kalau bepergian ke kompleks perumahan pejabat pertanahan, perpajakan, atau kejaksaaan. Maaf-maaf saja, di sana mudah kita lihat rumah-rumah perkasa dan mentereng yang rasanya tidak sesuai dengan besar pendapatan sebagai pegawai negeri. Darimana sumber dana untuk membangun rumah-rumah keren itu? Mudah-mudahan sih bukan seperti apa yang Gayus lakukan. Tapi sangat sulit bagi saya untuk tidak berprasangka buruk pada pemilik rumah-rumah itu. Tapi jangan su’udzon lah yaw :D

Tinggal dan bekerja di negara dengan sistem sosial dan tata nilai yang berbeda, kadang menimbulkan masalah. Apa yang secara profesi harus kita lakukan kadang berlawanan dengan apa yang ada di hati.

Misalnya saja tahun lalu tempat saya kerja memberikan gelar kehormatan (honorary degree) pada seseorang yang telah bertahun-tahun memperjuangkan hak-hak para gay dan lesbian. Tentu saja saya tahu bahwa di Inggris ini adalah hak seseorang untuk mempertahankan dan ‘memproklamirkan’ kecenderungan seksualnya. Adalah sama hak seseorang di mata hukum tidak peduli apakah dia gay atau lesbian. Homoseksualitas adalah hal yang secara sosial dan hukum negara diterima sebagai kenyataan sosial. Perkawinan sesama jenis sudah diterima sebagai lumrah dan masuk dalam hukum formal negara.

Walau demikian, tentu berat bagi saya sebagai pribadi untuk dapat mendukung keputusan tempat saya kerja. Sebagai muslim, (dan saya yakin juga pemeluk agama lainnya) sulit bagi kita untuk menyokong keputusan itu. Silahkan saja jika seseorang memutuskan untuk jadi homoseksual, tapi tentunya sulit atau bahkan tidak mungkin bagi saya untuk mendukung institusi tempat saya bekerja untuk memberi rekognisi dan menglorifikasi hal-hal seperti itu.

Dalam diskusi di kelas Social Policy beberapa hari lalu, kebetulan topiknya adalah tentang social policy and sexuality dimana dibahas apakah sexual preference mempengaruhi hak-hak seseorang dalam kehidupan sosial. Dalam diskusi terungkap bahwa sebagian besar mahasiswa sepakat bahwa sexual preference tidak berarti apa-apa. Apapun preference seseorang terhadap kebutuhan seksualnya, selama itu antar sesama manusia, tidaklah menjadi masalah.

Memang masih ada beberapa kejanggalan yang masih bisa terlihat. Misalnya saja masih tidak umum atau risih melihat sesama pria jalan bergandengan atau berpelukan, di muka umum. Sementara jika yang melakukannya adalah sesama perempuan hal ini lebih lumrah diterima masyarakat umum.

Yang menarik adalah pendapat mahasiswa bahwa yang penting bagi mereka bukanlah siapa pasangan seksualnya, melainkan honesty alias kesetiaan pasangannya. Tidak masalah seseorang mau berpasangan dengan siapa saja asal ia lebih memilih untuk mempunyai pasangan jangka panjang.

Ada juga sebuah kasus yang juga tidak kalah menarik. Seorang mahasiswa yang tahun sebelumnya sebutlah bernama Rachel, tiba-tiba tahun ini merubah namanya menjadi Robert. Tentu saja tidak hanya ia memutuskan untuk mengganti namanya, tapi ia juga memutuskan untuk mengganti status jenis kelaminnya. Saya tidak tahu persis apakah ia menjalani operasi atau sejenisnya, tapi jelas ia mengganti status hukumnya dari seorang perempuan menjadi laki-laki.

Kasat matanya sih saat ini kalau kita bertemu dengan si mahasiswa, ia 100% laki-laki. Tidak ada kecurigaan sedikitpun kalau tahun lalu ia masih berstatus dan tampak seperti perempuan. Yang sulit, dalam bahasa Inggris kita memanggil seseorang dengan kata ganti maskulin atau feminin. Dulu ia dipanggil ‘Her’ sekarang berubah menjadi ‘Him’.

Dulu saya berpikiran kalau hal-hal semacam ini biasanya hanya bisa dilihat di film-film dokumentary, atau hanya terjadi pada golongan tertentu saja di masyarakat. Tidak dinyana, ini terjadi pada salah seorang mahasiswa yang saya kenal.

Di lain pihak, ada juga hal-hal lain yang membuat saya kagum dan kadang iri pada hak-hak warga negara di negara maju seperti Inggris ini.

Salah satu mahasiswa dalam kelas tutorial saya mempunyai kelainan tubuh yang cukup berat. Ia sulit bicara dan tidak bisa melihat dan membaca. Negara membantunya untuk bersekolah dengan menyediakan support yang memadai. Ia mempunyai seekor anjing penuntun (guide dog) yang membantunya untuk berjalan tanpa bantuan tongkat dan orang lain. Untuk membaca dokumen, ia punya laptop yang dilengkapi dengan software khusus yang membantunya untuk membaca dokumen. Selain itu – ini yang hebat – ia mempunyai seseorang yang khusus membantunya menjalani proses pendidikan setiap hari. Dengan kata lain ia punya asisten pribadi yang dibayar pemerintah untuk membantu A-Z proses pembelajarannya. Setiap dosenpun punya kewajiban untuk membantu proses pendidikan agar ia mempunyai akses pada materi yang sama dengan mahasiswa lainnya.

Mahasiswa lain yang punya kekurangan fisik maupun non-fisik juga berhak mendapat perhatian khusus agar mereka bisa menjalani pendidikan sama seperti rekan-rekan lainnya yang tidak berkekurangan. Misalnya mahasiswa yang disleksia (kesulitan membaca), harus diberi kesempatan mendapat handout dan bahan kuliah dalam huruf yang besar dan jelas, dan juga berhak mendapat waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan tugas dan ujian. Mahasiswa dengan kekurangan lain juga berhak mendapat hal sama.

Semua hal di atas itu manteranya satu: Equality and Diversity. Sedemikian kuatnya prinsip dan aturan ini ditetapkan sehingga semua hal-hal yang berbau ‘diskriminasi’ harus dibuang jauh-jauh.

Memang semua itu tentu terkait dengan ada atau tidaknya sumber daya (alias uang) untuk menjalankannya. Bagi Indonesia, tentu tidak mudah untuk bisa ikut menjalankan support semacam itu bagi mahasiswa. Mungkin nanti kalau Indonesia sudah bisa jadi negara kaya. Kapan ya? Atau kita minta uangnya ke si Gayus saja?

Kalau ditanya apa yang sering membuat saya sebal, salah satu jawabannya adalah sifat manusia yang selalu ingin ambil kesempatan. Jujurnya saja memang ini sifat yang dimilkiki setiap manusia tanpa kecuali. Tapi ada beberapa kasus yang membuat saya jengkel luar biasa.

Misalnya saja beberapa waktu belakangan ini ada berita di media massa bahwa angota komisi tertentu di DPR yang berencana ‘studi banding’ kegiatan ke-Pramukaan ke beberapa Negara lain. Kalau tidak salah Negara yang dituju adalah Jepang, Korea, dan Afrika Selatan.

Banyak kritik yang mengatakan bahwa kunjungan anggota yang terhormat itu hanyalah kunjungan pelesir alias jalan-jalan. Tidak banyak yang bisa dilakukan, dilihat, didiskusikan di Negara-negara tujuan itu, apalagi sampai mengharapkan hasil kunjungan yang positif sekembalinya ke Indonesia.

Dalam beberapa ‘kunjungan’ pejabat negara dan anggota parlemen yang pernah saya ikuti, hampir sebagian besar isinya nol besar saja. Tujuan kunjungannya sih macam-macam, mulai dari studi banding, sosialisasi, cari data, koordinasi atau apapun namanya.

Dari satu kunjungan ‘sosialisasi kebijakan’ yang pernah saya ikuti karena diundang sebagai salah satu wakil organisasi masyarakat Indonesia yang ada Inggris, ya terbaca deh kira-kira bahwa acara pertemuan dengan warga Indonesia yang seharusnya menjadi tujuan utama kunjungan cuma menjadi aksesoris atau syarat pelengkap. Dari 7 anggota yang datang pun hanya 2 yang duduk di depan dan sibuk berkoar. Lainnya duduk diam mengamini. Padahal mereka juga didampingi oleh beberapa staf alias ajudan yang membawakan tanda mata dan sejenisnya.

Ketika ada yang iseng bertanya apa tujuan mereka ini hanya sekedar untuk jalan-jalan saja, dasar anggota dewan yang terhormat, mereka pandai beralih bahwa semua ini sudah direncanakan dan masuk ke dalam Undang-undang. Kalau mereka tidak lakukan ‘perjalanan dinas’ ini mereka melanggar Undang-undang. Hehehe. Tentu saja begitu. Siapa yang buat undang-undang itu? Ya mereka sendiri.

Dari pertemuan lain yang pernah saya ikuti, idem ditto saja. Informasi yang didapat dari pertemuan itu seharusnya bisa dikirim via email, di post di website atau bahkan bisa juga via social networking site gratisan ala facebook.

Saya pernah ditugaskan mewakili sebuah panitia kegiatan Negara untuk menghadiri pertemuan sosialisasi di Belanda. Di sana hadir perwakilan panitia yang sama dari beberapa Negara lain, yang lucunya bahkan sampai kawasan Uzbekistan sana. Pertemuan ini bukan satu-satunya, ada pertemuan sejenis di Paris, Sydney dan beberapa kota dunia lainnya.

Tim yang datang dari Indonesia untuk ‘sosialisasi’ ada 5 orang. Satu anggota ‘komisi’ yang dipilih rakyat, dua staf lembaga komisi itu, dan dua lagi staf departemen terkait. Isinya ya itu-itu saja, tidak perlu rasanya mereka jauh-jauh datang dari Indonesia dengan ongkos pesawat besar (business class rasanya karena perjalanan dinas yang jauh), hotelnya, pelayanan dari KBRI, sampai ke honorarium atawa per-diem yang mereka dapatkan (dengar-dengar sekitar Rp 100 jt per orang untuk per diem saja). Belum lagi ongkos yang dikeluarkan oleh kami-kami ini para panitia lokal di beberapa Negara eropa (termasuk Russia dan Asia Tengah yang ikut di acara itu).

Lucunya, baru beberapa hari setelah acara berlangsung, saat panitia belum bisa bekerja melaksanakan hasil ‘sosialisasi’, dari pusat di Jakarta sudah mengirimkan pasukan tambahan, yang kali ini datang langsung ke London. Pasukan 3 staf wanita ini punya tugas khusus: menjemput data. Saya hampir tidak percaya. Bahkan si pasukan pemburu data ini belum/tidak tahu hasil pertemuan sosialisasi sebelumnya di Belanda. Tapi mereka tetap saja datang meminta data dari kami karena memang mereka hanya menjalankan tugas dari atasan. Urusan data yang kalau dikirim via internet hanya butuh sekian detik untuk mengkliknya via email, atau bisa dikirim via CD/DVD/Flash Disk, atau hardcopynya bisa dikirim via DHL/TNT/UPS atau sejenisnya. Ala birokrasi Indonesia gimana caranya? Kirim orang ke masing-masing negara!

Kalau dengar-dengar cerita dari teman-teman ‘orang dalam’ di kedutaan sana, banyak tamu pejabat, istri pejabat, anak pejabat, atau saudara pejabat dari Indonesia yang kalau datang ke London minta diservis ini itu. Pernah dengar kan isu anggota yang terhormat dilaporkan melakukan ‘kunjungan kerja’ ke Casino di London?

Oooo sedihnya masyarakat Indonesia. Uang negara yang tidak terlalu banyak, dengan banyak sumber uang hutang pula, digunakan untuk kegiatan yang cuma penuh ‘jalan-jalan’nya.

Memang ada sih pejabat lain yang malah sebaliknya, kalau pergi ke luar negeri pakai biaya sendiri, tidak mau dibantu sama sekali oleh perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri, dan tidak ingin ada beritanya sama-sekali di media. Tapi ini golongannya minoritas alias sedikit sekali jumlahnya.

Selepas shalat Dhuhur tadi saya disapa seorang bule di depan Masjid kampus. Bule ini sebelumnya saya lihat shalat Dhuhur sendiri karena telat ikut jamaah jam 13:30 siang tadi.

Kaget juga saya sebenarnya disapa dia. Saya bukan kaget karena bule itu menyapa saya dalam bahasa Indonesia. Saya kenal beberapa orang kulit putih yang tidak ada tampang Indonesianya sama sekali yang mampu berbahasa Indonesia secara halus dan baik. Jauh lebih baik tata bahasanya dari saya yang dari lahir sampai dewasa tinggal di Indonesia.

Misalnya, ada satu pasang suami istri yang dulu pernah tinggal di Bogor bertahun-tahun, karena sang suami menjadi pengajar di IPB. Setelah pensiun mereka kembali ke Inggris dan sering mengundang mahasiswa (yang umumnya berkocek tipis) untuk makan-makan di kediamannya yang asri. Ngobrol bahasa Indonesia sepuasnya bolehlah di kediamannya. Seorang lagi bahkan bahasa Indonesianya baik sekali. Saat saya ada proyek penerjemahan ke bahasa Indonesia, saya meminta beliau untuk menjadi salah seorang professional forward translator (menterjemahkan dari Inggris ke Indonesia) sementara beberapa penerjemah Indonesia diminta menjadi backward translator (dari Indonesia ke Inggris). Beliau ini juga beberapa tahun yang lalu memutuskan menjadi mualaf, Alhamdulillah.

Saat saya kuliah dulu juga punya seorang kenalan, bule Australia seumuran lepas SMA (ketika itu) yang pandai berbahasa Indonesia. Saat kebetulan saya mengerjakan tugas akhir di Melbourne beberapa kali kami jalan bareng sambil ber-loe-gue dengan dia. Maklum, dia ini dulu pernah ikut AFS di kawasan Kemayoran/Sunter dan bersekolah di SMA 13. Tiap hari dia ke sekolah naik becak naik metromini via Senen. Jadilah bahasa Indonesianya lancar ala abang-abang yang ada di Metromini.

Istri saya juga pernah ketemu anak muda bule, yang sedang berdagang baju dan aksesoris klub sepakbola Manchester United saat ada pertandingan di stadion Old Trafford. Si anak muda bule ini juga ber-loe-gue dengan istri saya dan teman-temannya karena ia sebenarnya tinggal di Jakarta mengikuti orang tuanya yang menjadi konsultan sebuah televisi swasta di sana.

Simpulannya, nggak heran kalau kita ketemu bule-bule yang pandai bicara bahasa Indonesia.

Kembali ke si Bule di masjid. Saya juga bukan kaget melihat bule shalat di masjid karena saat ini di Inggris memang banyak bule yang memeluk agama Islam. Diantara teman-teman orang Indonesia muslim yang menikah dengan pria bule, banyak diantara mereka yang mendalami agama Islam. Sebagian diantaranya sangat rajin dan bersemangat belajar agama. Di masjid lokal paling dekat dengan rumah kami (nggak dekat juga, jaraknya dengan rumah sekarang 6 miles = 9,65 km) marbot (atau di sini disebut Manager) masjidnya seorang mualaf bule. Beberapa orang jamaah yang rajin datang juga bule. Satu orang malah aktif minta saya mencarikan seorang gadis/janda yang siap nikah dengan dia.

Sebenarnya banyak mualaf yang sering ditemui di sini, dan bukan monopoli orang kulit putih Inggris alias bule. Pernah ada gadis asal eropa timur yang melafalkan syahadat di masjid itu. Istri saya punya kenalan beberapa mualaf Afrika di circle masjid. Jadi mualaf di Inggris bukan cuma bule saja.

Apalagi lihat umat muslim yang sedang umrah atau haji di tanah suci. Jamaah dari berbagai jenis rupa wajah, perawakan, warna kulit, bahasa dan kebiasaan yang datang ke sana. Dekat tempat penginapan kami dulu ada rombongan jamaah dari China, Taiwan, dan Brasil. Dulu saya tidak pernah bayangkan lho sebenarnya bahwa ada umat Islam yang tinggal di Brasil!

Simpulannya, nggak usah terlalu heran lihat bule yang rajin ke masjid.Yang ke masjid bukan cuma muslim dari Timur Tengah, Asia dan Afrika saja.

Kembali pada si bule yang menyapa saya di masjid. Sebenarnya apa yang membuat saya kaget? Sebelum saya disapanya, si bule ini saya dengar bercakap-cakap dalam bahasa Arab pada satu orang mahasiswa asal Timur Tengah. Lancar dan bagus bahasa Arabnya. Jadi saya pikir waktu itu dia ini pasti orang keturunan Eropa yang tinggal di salah satu negara Timur Tengah. Ternyata setelah itu dia menyapa saya dengan bahasa Indonesia! Wow. Bule yang mampu berbahasa Inggris, Arab dan Indonesia!

Setelah lepas rasa kaget saya, kamipun ngobrol sedikit. Ia ternyata staf pengajar baru di Universitas kami yang dulu pernah beberapa lama tinggal di Indonesia. Istrinya pun berasal dari negara Jiran Malaysia asal kota Kuala Lumpur. Si bule ini berasal dari Australia, dan dulu pernah kerja di Aceh. Ini menjelaskan mengapa ia bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Ia baru saja datang dari Australia untuk mengajar di Universitas kami. Apa yang diajarnya? Bahasa ARAB! Hebat kan?

Saya belum begitu lama jadi pengajar. Status pengajar ‘resmi’ baru saya sandang sejak tahun 2007 yang lalu. Memang saya sudah mulai mengajar sejak sepuluh tahun sebelumnya, tapi selama itu saya tidak tercatat sebagai pengajar ‘beneran’. Untuk menjadi pengajar ‘resmi’ waktu itu di universitas negeri di Indonesia seseorang haruslah mendapat status sebagai PNS alias Pegawai Negeri. Karena satu dan lain hal status pegawai negeri bukanlah menjadi rejeki saya dalam periode itu.

Sebagai pengajar, saya sangat menikmati profesi ini. Selain memberikan kepuasan tersendiri, mengajar juga membuka pintu interaksi dengan mahasiswa.

Selama hampir 4 tahun mengajar di negara ini, saya terlibat dari mahasiswa dari berbagai latar belakang. Selain mahasiswa asal Inggris sendiri tentunya, ada yang berasal dari Irlandia, Chech republic, Latvia, Brazil, Trinidad, Afghanistan, Iran, Saudi Arabia, Nigeria, Togo, Uganda, Zimbabwe, Swaziland, Pakistan, India, Srilanka, dan (alhamdulillah) Indonesia. Tahun depan, dari aplikasi yang masuk mahasiswanya akan jauh lebih beragam lagi. Ada pelamar yang dari Palestina, Libya, Canada, Afrika Selatan, Chili, dll.

Bergaul dengan mahasiswa dari banyak negara membuka mata kita tentang kehidupan di konteks yang berbeda dengan apa yang biasa kita temui. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki para mahasiswa itu tentu sangat berguna dalam interaksi baik di dalam maupun di luar kelas.

Namun demikian, tentu sulit untuk bisa ingat semua mahasiswa itu dari tahun ketahun. Selorohan saya pada mahasiswa di awal kuliah selalu mengulang hal yang sama: Jangan harap saya bisa mengingat semua nama mahasiswa. Saya cuma akan ingat beberapa jenis mahasiswa; yang cantik-cantik, yang pintar-pintar (atau kebalikannnya yang payah-payah), dan yang nakal-nakal. Mahasiswa yang ‘biasa-biasa’ saja biasanya akan cepat terhapus di memori.

Ada juga beberapa pengalaman dengan mahasiswa yang terpatri kuat dalam ingatan. Yang sulit biasanya adalah kalau ada mahasiswi (perempuan tentunya) yang menangis saat konsultasi dengan saya. Ada seorang mahasiswa yang bergelar dokter, dan gagal pada salah satu mata ajaran yang diajar kolega saya. Kegagalan itu sangat memukul hatinya karena baru sekali itulah dia diberi nilai tidak lulus dalam hidupnya. Si mahasiswi ini sebenarnya sangat pintar, dan rajin belajar. Namun dia sebelumnya tidak pernah menulis essay jadi tugas mata ajaran itu pun tidak bisa diselesaikannya dengan baik. Si mahasiswi itu menangis sejadi-jadinya di ruangan saya yang sangat sempit ketika itu. Saya sempat pusing juga takut dituduh kolega tetangga ruangan melakukan hal yang tidak-tidak pada si mahasiswi, tapi alhamdulillah setelah saya coba beri pengertian diapun bisa mengerti dan belajar dari kegagalannya. Saat ini dia sudah selesai dari studinya dan bekerja di sebuah NGO di negara asalnya.

Ada juga seorang mahasiswi lain (yang juga dokter) yang pernah menangis lebih parah dari si mahasiswi yang saya ceritakan barusan. Masalahnya memang lebih berat. Selain analisis disertasinya tidak sesuai dengan kriteria kelulusan untuk program kami, sebagian isi tulisannya juga merupakan hasil copy-paste alias plagiasi dari beberapa tulisan di jurnal-jurnal. Saat diinformasikan bahwa saya tahu bahwa sebagian tulisannya merupakan hasil ‘contekan’, iapun mulai menangis dan berteriak-teriak. Ia bahkan sampai menangis menggelosor di lantai ruangan saya.

Lain lagi pengalaman saya dengan seorang mahasiswi yang lain. Ia pernah cerita bahwa dirinya sudah berkeluarga dengan 3 anak yang usianya seumuran anak saya juga. Yang saya baru tahu beberapa waktu yang lalu adalah bahwa dia ternyata tinggal jauh dari anak-anaknya. Sangat jauh. Bahkan mereka tinggal di benua yang berbeda. Ternyata si ibu tinggal di UK untuk bekerja sambil meneruskan pendidikannya sementara ketiga anaknya ditinggal bersama keluarga besarnya di tempat yang terpisah jarak 9000 km lebih.

Salah satu mahasiswa dulu juga membuat saya terperanjat. Saya merasa bahwa keluarga dengan 7 anak seperti orang tua saya sudah cukup besar. Ternyata itu belum ada apa-apanya dibanding keluarga dia. Ia ternyata satu dari 35 anak yang ada di keluarganya. Hebatnya, ia tidak lupa satupun nama adik dan kakaknya. Hebat ya – saya saja kadang sudah terlewat lupa nama kakak atau ipar saya :D

Yang paling menyenangkan adalah jika kita hubungan dosen-mahasiswa bisa berlanjut walau si mahasiswa sudah lulus. Ada beberapa mahasiswa yang bahkan menjadi teman baik. Senang kalau bisa melihat mantan mahasiswa kita bisa sukses dan maju.

Kebalikannya, saya juga senang kalau bisa tetap menjaga hubungan dengan dosen-dosen dulu. Sebagian juga menjadi kolega dan teman sama seperti hubungan saya dengan mahasiswa.Sebagian dosen dulu malah seringkali bersikap sangat baik pada saya, dan saya banyak belajar dari mereka semua baik di dalam maupun di luar kelas. Terima kasih ya guru dan dosenku!

Saya ini termasuk orang yang punya banyak keinginan. Dari dulu keinginan saya macam-macam dan kadang sering berubah di tengah jalan. Sejak ikut kursus Islamic History oleh Dr. Salah Al Djazairi, saya sangat tertarik untuk mendalami sejarah peradaban Islam. Dalam hati saya punya keinginan untuk mengikuti jejak Ibnu Battutah yang menjelajah dunia Islam di abad ke 14 Masehi. Walau mungkin tidak realistik untuk berkelana selama bertahun-tahun (bahkan abad) seperti Ibnu Battutah, paling tidak saya ingin merasakan bagaimana dunia Islam di masa lampau, saat ini dan tantangannya di masa depan.

Agar perjalanan itu bukan hanya sekedar menghasilkan memori di ingatan saja, saya akan membuat buku ringkasan perjalanan dan observasi ala Ibnu Battutah yang juga membuat buku catatan perjalanan. Lebih baik lagi bila saya bisa membuat sebuah film documenter sederhana yang bisa lalu ‘dijual’ pada produser televisi untuk membuat seri documenter yang serius. Paling tidak perjalanan itu akan direkam dalam foto-foto yang menggambarkan situasi negeri yang dikunjungi, dari sejarah sampai kondisi sosio-ekonominya saat ini.

Berbeda dengan Ibnu Battutah yang memulai perjalanannya dari Tangier Maroko, perjalanan ini akan dimulai dari Toledo di Spanyol. Toledo terletak di kawasan Andalusia, yang menjadi salah satu kota keilmuan penting di jaman kekhalifahan Ummayah. Saat jatuh ke kekuasaan katolik Perancis dan Spanyol (“Reconquista”) perpustakaan di Toledo memuat ratusan ribu copy buku keilmuan dalam bahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke bahasa-bahasa Eropa ketika itu. Dari Toledo, perjalanan akan dilanjutkan ke Cordoba, pusat kekhalifahan juga Granada, banteng terakhir kekuasaan Islam di Andalusia.

Dari sana, perjalanan akan dilanjutkan menyeberangi selat Gibraltar ke benua Afrika. Tangier, Maroko adalah kota pertama yang akan dilewati di benua ini. Maroko setelah akhir kejayaan kekhalifahan Islam di Cordoba menjadi banteng invasi tentara Katolik dari Spanyol dan Portugal di Afrika Utara. Tercatat ada beberapa perang besar yang terjadi di kawasan Maroko yang berpengaruh besar pada tetap kuatnya populasi muslim di Afrika Utara. Salah satu perang besar yang terjadi di Maroko adalah perang Kshar al Kabir di kawasan Wadi (lembah) Makhazeen. Perang ini juga disebut sebagai “perang 3 raja” karena tiga orang raja (seorang raja Portugis dan dua raja Maroko) menemui ajalnya pada perang itu.

Dari sana perjalanan diteruskan ke kota Aljazair di Algeria. Kawasan Algeria juga mempunyai sejarah yang menegangkan dalam hubungannya dengan bangsa-bangsa Eropa. Aljazair pernah menjadi pusat kekuasaan kekhalifahan Usmaniah di kawasan Maghrib (Afrika Utara) sehingga menjadi area yang penting bagi bangsa-bangsa Eropa untuk menguasainya ketika itu. Kisah Barbarossa Brothers yang oleh sejarawan barat banyak disebut sebagai ‘bajak laut’ juga banyak terkait dengan kawasan ini. Mereka (Arrouj dan Khairuddin Barbarossa) sebenarnya adalah utusan resmi dari khalifah Usmaniah di Turki untuk membantu perjuangan umat muslim di kawasan Maghrib. Saat masa penjajahan Perancis, puluhan juta penduduk di kawasan ini menjadi korban imperialisme ketika itu.

Tujuan berikutnya adalah Tunis di Tunisia. Tunisia juga merupakan salah satu pusat peradaban yang penting di abad pertengahan (middle ages). Nigeria juga pernah diserang besar-besaran oleh pasukan perang salib dari Perancis di abad ke 16, sehingga banyak manuskrip dan tulisan penting lain hilang atau musnah terbakar. Ibnu Khaldun, ilmuwan, negarawan, dan sejarawan penting di peradaban Islam lahir di Tunisia.

Dari Tunisia, perjalanan akan dilanjutkan ke Tripoli di Libya, dilanjutkan ke Iskandariya (Alexandria) dan Cairo di Mesir. Mesir adalah pusat kekhalifahan Al-Fatimiyah (Fatimids) sampai abad ke 12. Era kekhalifahan Fatimiyah merupakan salah satu isu kontroversial dalam sejarah Islam karena saat perang Salib ditengarai penguasanya sedikit berpihak pada pasukan Perang Salib dari Eropa. Mesir juga pernah dikuasai dinasti Mamluk, yang berawal dari seorang budak perang yang memerdekakan dirinya untuk menjadi penguasa Mesir ketika itu.

Tujuan di Timur tengah selanjutnya adalah Yerusalem dan sekitarnya. Kawasan ini begitu pentingnya dalam sejarah sehingga pasti memerlukan waktu lama untuk mengunjunginya. Sayang saat ini akses ke kawasan ini sangat sulit mengingat konflik Israel dan Palestina yang tidak berujung. Mungkin kunjungan ke kawasan ini harus dilakukan secara khusus tanpa disambung dengan kunjungan ke daerah lainnya.
Damascus, Tripoli dan Aleppo adalah kota-kota tujuan berikutnya di Syria. Sebelumnya juga tentu kota Amman dan sekitarnya di Jordan juga wajib dikunjungi. Daerah-daerah itu adalah kawasan penting dalam sejarah timur tengah. Damascus misalnya adalah pusat kekhalifahan Ummayah selepas masa Khulafaur Rasyidin di Madinah. Aleppo, di utara Syria saat ini adalah salah satu pusat konflik di masa perang Salib.

Dari sana, tujuan terakhir bagian perjalanan ini adalah Turki, dimulai dari kota Edessa, yang terletak tidak jauh dari kota Aleppo. Dari situ baru perjalanan dilanjutkan ke kota Iznik, dan Istambul. Iznik (dulu disebut Nicaea) adalah kota historis yang memunculkan doktrin trinitas dalam ajaran Kristen saat ini. Istambul lebih bernilai historis lagi karena dulu menjadi pusat pemerintahan era Roman, Byzantium, Latin dan khalifah Usmaniah.

Perjalanan dari Toledo sampai Istambul di atas saya perkirakan akan membutuhkan waktu dua bulan. Detailnya akan saya siapkan satu persatu sebelum perjalanan. Ada yang bisa ditempuh via jalan darat (bus/kereta api), laut (Ferry), tapi ada juga yang mungkin harus dilalui via angkutan udara. Dari apa yang saya baca selama ini, perjalanan dari Tripoli (Libya) ke Iskandariyah (Mesir) misalnya sangat sulit dilakukan lewat jalan darat. Bisa tapi kawasan yang dilalui amat sangat berat karena harus mencicipi gurun sahara yang dahsyat.

Untuk setiap kota/kawasan yang dilewati, tentu saya perlu membuat persiapan untuk mengetahui sedikit banyak tentang obyek yang akan dikunjungi, termasuk sejarah dan hal-hal yang terkait dengannya. Ini pasti membutuhkan waktu riset yang cukup lama agar kunjungan ke daerah-daerah itu tidak hanya sekedar menjadi perjalanan wisata belaka.

Hhmmm…. Mudah-mudahan bisa terlaksana ya.

Setelah itu, tentu ada sambungannya. Ibnu Battutah mengunjungi kawasan sampai ke pantai Timur Afrika (Somalia dan Kenya), Asia Tengah, Pakistan, India, Maladewa, Srilanka, Bangladesh, Sumatera, Malaya, sampai ke daratan Cina. Selain itu ia juga melintasi gurun sahara dari Maroko sampai ke kawasan Afrika Tengah.

Ini juga perlu dipersiapkan tentunya. Siapa mau ikut atau kalau bisa mensponsori? :D

Tentu kita tidak bisa memilih dari rahim siapa kita ingin dilahirkan. Fait Accompli – alias kita nggak bisa protes. Ini saya katakan tanpa mengurangi rasa hormat dan bakti kita pada ibu tercinta,

Saya dilahirkan dari ibu yang lahir di kawasan pegunungan kering di pantai selatan pulau Jawa. Bapak saya juga berasal dari kawasan yang sama, bahkan dari desa yang sama pula. Oleh karena itu, saya pun dilahirkan dengan kulit coklat, badan tidak terlalu tinggi, dan mata hitam kecoklatan. Dan karena saya orangtua saya tinggal di sebuah negara yang pada tahun 1945 dinyatakan sebagai negara bernama Indonesia, sayapun otomatis menyandang kewarganegaraan Indonesia. Tanpa perlu bicara apapun, saya terlahir sebagai orang Indonesia dan warga negara Indonesia.

Putra-putri saya juga demikian. Karena mereka lahir di Indonesia dari ibu dan bapak yang berwarga negara Indonesia, maka merekapun otomatis menjadi warga negara Indonesia. Anak saya yang paling kecil tidak lahir di Indonesia, tapi karena saat ia lahir kami adalah warga negara Indonesia yang tinggal sementara di negara lain, maka iapun terlahir dengan status kewarganegaraan Indonesia. Paspornya bersampul hijau dengan logo burung Garuda bertamengkan lambang pancasila didada.

Perkara kewarganegaraan ini, walau nampaknya sederhana seringkali mempunyai implikasi yang cukup pelik.

Seorang kenalan dulu menikah dengan laki-laki warga negara lain di luar negeri. Anaknyapun terlahir di negeri asing itu. Karena negeri asing itu menganut azas Jus Sanguinis alias kewarganegaraan anak mengikuti kewarganegaraan orangtuanya, si anakpun terlahir dengan status sebagai warga negara sang suami. Kerepotan mulai muncul ketika sang anak ingin dibawa pulang berlibur ke Indonesia, dan sang anak perlu membuat visa untuk kunjungan ke Indonesia. Sayangnya lagi, kenalan saya itu lalu berpisah dengan suaminya sehingga status kewarganegaraan anaknya menjadi lebih pelik lagi.

Saat ini Indonesia tidak menganut kewarganegaraan ganda. Artinya, seseorang tidak diperbolehkan memiliki kewarganegaraan Indonesia dengan negara lainnya. Seseorang dengan kewarganegaraan asing yang ingin memperoleh status sebagai warganegara Indonesia harus melepaskan kewarganegaraan aslinya. Seseorang pemegang pasport Indonesia di lain pihak harus meninggalkan haknya atas kewarganegaraan Indonesia bila ia memiliki kewarganegaraan negara lain.

Di lain pihak, ada beberapa lain (seperti Inggris misalnya) yang mengakui status kewarganegaraan ganda. Jadi dari kacamata pemerintah Inggris boleh saja seseorang mempunyai paspor Inggris dan Indonesia secara bersamaan.

Pemilik paspor Republik Indonesia sayangnya tidak mempunyai kemudahan yang sama dengan pemilik paspor beberapa negara lain. Kalau ingin bepergian, hanya sebagian kecil negara saja yang mengijinkan kita untuk datang langsung tanpa menunjukkan visa, atau setidaknya bisa mengajukan visa on arrival. Negara tetangga di ASEAN, dan beberapa negara ‘jauh’ seperti Maroko bisa langsung kita masuki hanya dengan berbekal paspor Indonesia ‘kosongan’ tanpa visa. Untuk mengunjungi Negara-negara lain jangan harap seperti itu. Antri di depan kedutaan besarnya saja bisa berjam-jam untuk aplikasi visa. Belum lagi untuk memenuhi persyaratan lain yang demikian sulitnya.

Kita patut iri dengan pemegang paspor negara Singapura dan Jepang. Warga kedua negara ini bebas keluar masuk di hampir semua belahan dunia tanpa perlu memiliki visa masuk sebelumnya. Bukan berarti warga negaranya tidak ada yang brengsek dan bikin masalah, tapi reputasi kedua negara tersebut sangat baik untuk bisa meyakinkan negara lain bahwa warganegaranya tidak akan menimbulkan masalah di negeri yang dikunjunginya atau bahkan akan memberi manfaat yang banyak untuk mereka.

Tapi kita juga tidak perlu terlalu berkecil hati. Banyak warganegara lain yang lebih buruk statusnya dibanding pemegang paspor RI. Warganegara Nigeria, India, Pakistan dan beberapa negara lain misalnya harus melalui proses yang lebih panjang dan pelik dibanding warganegara Indonesia. Calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan di Inggris dari ketiga negara itu harus membayar deposit yang dua kali lebih besar jumlahnya dibanding calon mahasiswa dari negara lain. Mahasiswa RRC dan beberapa negara lain yang kuliah di universitas2 Inggris harus melapor secara reguler ke polisi walau tidak punya salah apa-apa.

Tadi siang malah saya menemui hal yang lebih menyedihkan lagi. Ada seorang calon mahasiswa yang berasal dari Gaza – Palestina, yang mendaftar untuk ikut program saya. Di formulir pendaftarannya tertulis alamat lengkapnya di “Gaza Strip, Palestinian Territory”. Sayangnya, di sistem penerimaan yang ada di Universitas kami tidak ada status “Palestinian Territory” karena secara de-facto kawasan itu berada di bawah cengkeraman negara Israel. Jadi di surat penerimaannya (offer letter) tertulis alamatnya sebagai “Gaza Strip, Stateless Country“.

Duh sedihnya.

Hari Senin awal minggu, saya pergi ke kantor dengan hati waswas. Pasti ada pertumpahan airmata dari si mahasiswa.

Lucunya sampai kantor saya kok lupa, dan malah asik mengerjakan kerjaan lainnya. Sampai hampir tengah hari tanpa mengetuk pintu si mahasiswa muncul. Wajah dan matanya memerah. Saya langsung tahu apa yang saya hadapi.

Langsung saja mulutnya nyerocos pada saya. Bukan ungkapan kasar sebetulnya, tapi kata-kata bernada marah dan protes. Saya mengerti kekesalan, kesedihan dan kemarahannya. Ia baru saja diberi tahu oleh kepala administrasi kampus bahwa status kemahasiswaannya sudah dicabut.

Panjang lebar ia mengutarakan kekesalannya, dan menuduh saya bersikat tidak fair. Ia berdalih bahwa di negara asalnya mengcopy tulisan orang lain adalah biasa. Ia hanya mengerjakan apa yang biasa dilakukan oleh semua mahasiswa lain di negara asalnya. Semua ini terjadi karena ketidak tahuannya akan peraturan di sini.

Saya menjelaskan bahwa selaku ketua program saya sudah menjelaskan semuanya pada mahasiswa saat masa induksi mahasiswa baru, dan bagi mereka yang terlambat atau tidak mengikuti masa induksi semua peraturan dan bahan induksi sudah diupload ke Blackboard, fasilitas e-learning di kampus kami. Selain itu saya juga sudah melakukan beberapa sesi tentang teknik mereferensikan tulisan, dan saya juga menawarkan pada mahasiswa untuk mengirimkan draft tulisannya pada saya sampai beberapa minggu menjelang deadline.

Si mahasiswa merasa tidak pernah mengetahui semua itu. Teman-temannya juga tidak ada yang memberitahukan tentang semua fasilitas itu. Di negaranya, dosen berbeda statusnya dengan mahasiswa. Tidak boleh mahasiswa memanggil dosennya dengan first name saja (“Dono” misalnya) dan harus menggunakan kata ‘Sir’ atau ‘Professor’. Dosen tidak pernah memberi feedback, cukup dengan mengatakan bahwa si mahasiswa lulus atau gagal sudah cukup. Dosen tidak pernah memberi waktu untuk konsultasi, urusan pribadi atau akademik, apalagi bersedia memeriksa draft tulisan.

Ia merasa bahwa ia tidak diberi tahu dengan baik oleh saya selaku ketua program, tentang semua fasilitas dan service yang kami berikan. Tentu saja saya menolak tudingannya itu. Mahasiswa yang lain memahami aturan main itu, dan memanfaatkan semua support yang kami siapkan.

Memang saya sadari bahwa ia terlambat mengikuti program kami. Ia baru mengikuti kuliah di minggu ke-5 setelah program dimulai. Jadi banyak hal yang harus ia ‘catch up’. Saya beranggapan bahwa program kami adalah program pasca sarjana, jadi saya harap dia bisa bersikap proaktif dan tidak hanya mengandalkan untuk diberi tahu secara mendetail apa yang dilakukan. Toh semua bahan sudah rapi di Blackboard. Tinggal upaya dia saja untuk mencermatinya.

Tentu saja pasti ada kelemahan saya dalam mengelola program ini. Maklum, sejak diluncurkannya kembali program yang saya pimpin, praktis saya hanya mengelolanya seorang diri. Boss yang juga mentor saya, yang seharusnya terlibat erat dengan program kami meninggal dunia di minggu-minggu awal program dijalankan. Sampai saat ini posisinya belum digantikan. Praktis saya ‘single fighter’ saja. Jadi kalau ada satu dua hal yang terlewat ya mau gimana lagi, saya kan manusia biasa juga.

Setelah lama bertukar percakapan dengan nada panas, tangisannya tidak mereda, bahkan lebih menjadi-jadi. Dipanggilnya nama Tuhan berkali-kali sampai saya bingung. Yang saya takutkan ia memutuskan untuk bunuh diri atau sejenisnya. Walau bukan tanggung jawab saya secara langsung, toh mau nggak mau saya juga concern terhadap keselamatan dan masa depannya.

Akhirnya saya bicara dengan dia dengan nada yang lebih pelan, dan mengutarakan pengalaman pribadi saya menghadapi masalah. Kadang kita harus berdamai dengan keadaan. Bersedia menerima kalau kita salah. Kalau kita kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana melangkah maju ke depan. Saya sarankan beberapa langkah realistis yang bisa ia lakukan. Misalnya dengan ‘appeal’ (naik banding) atas keputusan dari academic misconduct unit yang diterimanya.

Setelahg beberapa lama, akhirnya tangisnya mereda, dan selesailah pembicaraan kami.

Selepas itu, saya lalu mengecek status mahasiswa2 lain (bukan program saya) yang juga dituduhkan melakukan plagiarisme. Mereka yang terbukti plagiat tidak ada yang langsung dikeluarkan. Kebanyakan mereka dinyatakan tidak lulus dari modul berkaitan, dan modul-modul lain nilainya dikurangi sampai batas minimum. Lalu kenapa buat si mahasiswa ini keputusannya langsung berat sekali?

Segera saya menemui kepala unit administrasi mahasiswa untuk menanyakan statusnya. Ternyata, ia juga berpikiran yang sama dan menanyakan langsung pada academic misconduct unit. Hasilnya, ternyata ia salah menginterpretasi surat keputusan itu. Si mahasiswa hanya tidak diluluskan pada modul tersebut, dan peringatan keras secara formal dicatat di status kemahasiswaannya. Simpelnya, si mahasiswa TIDAK dikeluarkan dari universitas.

Segera kami coba mengkontak si mahasiswa untuk meng-clear-kan situasi. Lama juga mencari nomor teleponnya karena nomor telepon yang terdaftar di kampus sudah tidak bisa digunakan lagi. Jadi saya terpaksa menanyakannya pada rekan-rekan si mahasiswa yang kebetulan datang ke ruangan saya siang itu. Setelah dapat, langsung ia dikontak dan dijelaskan segala sesuatunya. Pasti ia sangat lega mendengarnya.

Esok paginya, si mahasiswa datang ke ruangan saya lagi. Air mukanya sangat berbeda dari hari sebelumnya. Tidak ada tangis walau tidak ada senyumnya juga. Nada bicaranya jauh melemah dibanding hari sebelumnya. Mungkin ia juga malu pada apa yang terjadi. Pasti ia juga tahu bahwa apa yang dilakukannya salah.

Akhirnya saya beritahu tentang langkah-langkah apa yang bisa ia lakukan, dan bagaimana supaya hal ini tidak terjadi lagi. Tidak lama pembicaraan kami pagi itu, dan ia langsung mengucapkan terima kasih pada saya dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya itu.

Kejadian dua hari itu sungguh mirip saat naik roller coaster! Alhamdulillah semuanya berakhir dengan baik.

Dalam sebuah pengajian yang dihubungkan dengan wafatnya kakek mertua saya, bapak Arief Rahman, tokoh pendidik Indonesia yang banyak dihormati orang, mengingatkan tiga hal yang menjadi tugas anak pada orangtuanya yang sudah meninggal dunia. Perkara pertama adalah meneruskan usaha baik yang sudah dijalankan orangtua. Jika orangtua mempunyai amal ibadah yang baik, maka menjadi tugas keturunannyalah untuk meneruskan amal ibadah tersebut. Perkara kedua adalah menyambung silaturahmi yang sudah dijalankan orangtua kita. Teman dan sahabat orangtua harus menjadi teman dan sahabat keturunannya juga. Perkara ketiga adalah menjalankan wasiat yang diwariskan orangtuanya.

Dari guru Islamic circle yang kami ikuti di masjid dekat rumah, pentingnya menjalankan wasiat orangtua ini juga ditekankan. Dalam penentuan pembagian harta waris, wasiat harus dikedepankan terlebih dahulu baru sisanya dibagi menurut aturan fara’id.

Saya beruntung mendengar beberapa wasiat Ibu beberapa waktu sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. Saat itu Ibu sedang mendekati tahap akhir dari kanker darah yang dideritanya. Walau fisiknya belum terlalu lemah, nampaknya beliau menyadari bahwa ajal sudah tidak lama lagi akan menjemput.
Saat nonton televisi dan ngobrol ringan dengan saya, Bapak,dan putri tertuanya (kakak saya), Ibu tiba-tiba mengatakan keinginannya jika ia dipanggil Allah. Keinginannya yang pertama adalah agar ia dikuburkan kelak di tanah kelahirannya, di kawasan berkapur kabupaten Gunung Kidul. Memang Ibu dan Bapak keduanya berasal dari Gunung Kidul, bahkan berasal dari satu desa yang sama di sana.

Wasiat kedua adalah agar Bapak tidak menikah lagi walau Ibu meninggal lebih dulu. Keinginan Ibu ini mungkin adalah cerminan dari cintanya pada Bapak. Walau Ibu bukanlah orang yang romantis, cenderung nrimo dan mengalah, saya yakin cintanya pada suami sangatlah luar biasa. Saat itu usia pernikahannya sudah menginjak tahun yang ke 56. Usia pernikahan yang bukan terbilang pendek dan pasti banyak mengalami pasang surut kehidupan berumah tangga.

Wasiat terakhirnya adalah bahwa supaya putra-putri dan keturunannya bisa hidup rukun dan menjalin silaturahmi yang baik selamanya. Ibu selalu sedih jika melihat pertengkaran kecil atau silang pendapat diantara putra-putrinya. Dalam hubungan kakak-beradik, tentunya normal saja terjadi hal-hal kecil seperti itu tapi Ibu sangat tidak senang kalau itu terjadi.

Alhamdulillah sampai saat ini semua wasiat Ibu bisa dijalankan. Saat Ibu wafat, jenasahnya dibawa via ambulans ke kota kecil Playen di kabupaten Gunung Kidul. Jarak perjalanan yang jauh malah menyisakan waktu yang cukup yang memungkinkan kami untuk ikut melihat wajah Ibu untuk yang terakhir kalinya.
Walau sudah 5 tahun ditinggal istri tercinta, Bapak juga tidak menikah lagi. Di usianya yang sudah senja, tentu beliau agak kesepian dalam menempuh hari-harinya. Tentu manusiawi saja jika Bapak berkehendak mencari teman hidup mengisi hari-hari tuanya. Tapi wasiat Ibu itu, danjuga mungkin karena cintanya yang dalam pada Ibu, Bapak tetap sendirian.

Wasiat Ibu agar kami tetap rukun juga bisa tetap dijalankan. Tentu saja dari ketujuh anggota keluarga keturunan Ibu dan Bapak ada saja silang pendapat dan friksi disana-sini, sampai sejauh ini malah rasanya hubungan antara kami malah lebih baik dibanding saat Ibu masih ada dulu.

Hal yang penting bagi kita yang masih hidup ini untuk juga mempersiapkan wasiat kita. Dalam satu hadist malah disebutkan bahwa saat menengok orang sakit, kita disarankan untuk mengingatkan si sakit untuk tidak lupa menyiapkan wasiat.

Mengingat kita tidak tahu kapan nyawa akan dicabut malaikat pencabut nyawa, baik rasanya untuk kita mulai menyiapkan wasiat.

Wasiat saya sih mungkin sederhana saja. Saya ingin dikuburkan sederhana saja, tanpa nisan tanpa kijing – di lokasi yang terdekat dengan tempat saya meninggal kelak. Kalau bisa mungkin seperti makam di tanah Arab yang kuburannya hanya ditandai batu atau kayu kecil. Makam yang megah ala maoseleum tidak akan mengubah kondisi kita di alam baka. Saya lebih ingin dikenang akan hal yang baik, disertai doa putra-putri yang tidak putus.

Wasiat lain akan saya sampaikan langsung pada istri dan anak-anak. In case saya yang lebih dulu meninggalkan dunia ini.

Kaum Yahudi memang “istimewa”. Dalam Al Quran kata “Yahudi” dan “bani-Israil” banyak didapati baik dalam konteks historikal maupun tidak. Sejak zaman nabi Yakub, yang menggariskan 12 suku bani Israil (atau Yahudi), banyak sekali kejadian yang menimpa bangsa ini. Mulai dari migrasi ke Mesir, terusir kembali ke Timur Tengah, dihancurkan Romawi sampai holocaust di pertengahan abad ke-20.

Kisah gerakan zionisme, berdirinya negara Israel sampai aneksasi tanah warga Palestina sampai saat ini masih menjadi cerita seru. Memang Allah sudah menggariskan bahwa kaum Israel menjadi kaum yang penuh kontroversi.

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yag beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik… (QS AL MAidah [5]:82)

Beberapa bulan yang lalu, saya ikut sebuah acara sharing session tentang agresi Israel mencaplok tanah Palestina. Mulai dari cara yang halus sampai yang keras dilakukan oleh pemerintah Israel dan zionis garis keras untuk mendapatkan tanah dan mengusir warga Palestina dari rumahnya sendiri. Tembok tinggi yang memisahkan kota dan perkampungan dibangun Israel jauh memasuki tanah-tanah Palestina. Warga dipisahkan dari tempat kegiatan ekonominya, warga dipisah dari warga lainnya.

Warga Palestina yang bertahan di kota besar, dihantui oleh zionis garis keras yang kerap mengganggu ketentraman di malam hari saat ada ‘curfew’ (jam malam) bagi warga Palestina. Singkatnya, segala cara dilakukan untuk menganeksasi tanah Palestina, cepat atau lambat. Semuanya didokumentasi dalam film dokumenter yang dibuat oleh sebuah LSM pro Palestina itu.

Hal ini sungguh kontras dengan perlakuan umat Islam kepada bangsa Yahudi dalam sejarah. Lihat saja, dalam sejarah kekhalifahan, tidak pernah dilaporkan adanya pengusiran warga Yahudi dari tanahnya, eksekusi atau konversi paksa umat Yahudi (atau umat lain juga).

Saat era kekhalifahan Abbasiah penerjemahan dan pengembangan ilmu dari peradaban Yunani, penerjemahan dilakukan oleh penerjemah Nasrani dan Yahudi. Di Andalus (Spanyol), kaum Yahudi hidup damai dan maju di bawah pemerintahan kekhalifahan Ummayah Cordoba. Di Palestina saat berada dalam kekuasaan Muslim, kaum Yahudi juga mendapat kebebasan hidup dan berkarya.

Salah seorang mahasiswa saya orang Yahudi. Walau dia sering konsultasi dengan saya di dalam dan di luar kelas, pembicaraan kami tidak pernah sampai pada hal-hal ‘sensitif’ tentang hubungan Palestina – Israel dan lain sebagainya. Sebagai pengajar saya tentu harus netral dan tidak condong pada satu perspektif dan harus menjaga situasi kondusif di dalam kelas. Maklum, mahasiswa saya berasal dari berbagai kawasan dunia – Pakistan, India, Indonesia, Uganda, Swaziland, Nigeria, Zimbabwe, Saudi Arabia, Togo, selain Inggris sendiri tentunya.

Pernah dalam satu sesi, si mahasiswa asal Israel ini mempresentasikan system kesehatan negaranya. Seorang mahasiswa lain iseng bertanya tentang alasan anggaran pertahanan Israel yang jauh lebih tinggi dibanding anggaran kesehatannya. Sebelum larut lebih jauh, saya ikut campur menetralisasi pertanyaan tersebut supaya kelas tidak memanas.

Di luar kelas saya pernah bertanya ke dia tentang hari Sabbath dan Hanukkah (Festival of Lights) dalam agama Yahudi. Dia menjelaskannya sekilas, tapi berkata jujur bahwa dia bukan Yahudi ‘beneran’ karena ia tidak benar-benar berdiam diri di hari Sabbath (Sabtu) dan juga tidak tahu asal-usul perayaan Hanukkah. Pokoknya, karena ia lahir dari ibu Yahudi maka ia pun beragama Yahudi. Mungkin sama dengan kategori ‘Islam KTP’ kalau di Indonesia.

Salah seorang tetangga di rumah kampus dulu juga pasangan asal Israel. Mereka berdua dengan kedua anaknya sahabat baik keluarga kami. Saat ada acara hari besar (Lebaran misalnya) mereka menyempatkan diri bertandang ke kediaman kami. Kami kerap pula diundang ngobrol-ngobrol di rumah mereka. Saat Fakhri luka dahinya dan perlu dibawa ke rumah sakit, teman inilah yang mengantar dan menemani selama di rumah sakit.

Hal yang menarik dari mereka adalah bahwa walau mereka dari keturunan bangsa Yahudi, si suami terus terang berkata bahwa mereka penganut ajaran Budha. Bukan Jewish.

Yang paling menarik dari pengetahuan saya tentang Yahudi, baik agama dan kaumnya, adalah saat bulan lalu menemani Dr Hamid Zarkasy dan Dr Adian Husaini berkunjung ke Manchester Jewish Museum di kawasan Cheetham Hill, Manchester. Museum ini sebenarnya adalah bekas Synagog (rumah ibadah agama Yahudi) yang kemudian dijadikan Museum.

Di museum yang masih terawat baik itu dijelaskan berbagai aspek peribadatan agama Yahudi. Mulai dari arah Synagog yang menghadap Yerusalem, (yang juga kiblat awal umat Islam sebelum dipindah ke Mekah), tidak adanya simbol manusia ataupun hewan dalam berbagai dekorasi ruangan, dan lain-lain.

Di jendela museum itu banyak terdapat hiasan kaca patri, yang herannya, berisi nama-nama berbau Arab, seperti “Abdullah” dan sejenisnya. Saat ditanya pada petugas ternyata itu karena Synagog ini awalnya didirikan oleh kaum Yahudi dari kawasan Moor atau Afrika Utara dan Andalusia. Mereka mulai pindah ke Inggris di abad ke-19 dan 20 karena mulai mendapat penindasan dari penguasa Katolik di Spanyol.

Sang penjaga juga bercerita tentang tatacara ibadah agama Yahudi, dimana laki-lakinya Yahudi wajib beribadah 3 kali sehari sementara perempuannya tidak. Di Synagog setiap jamaahnya mendapat kursi khusus yang setara dengan jumlah iuran yang dibayarkan setiap bulannya pada Rabi pengelola Synagog. Acara khitanan yang menjadi tradisi dari nabi Ibrahim juga dilakukan di Synagog, dengan kursi khusus tempat orang tua menggendong putra yang akan dikhitan di sana.

Di tembok luar Museum/Synagog ini, terpampang plakat di tembok yang menyatakan bahwa Chaim Weizmann, tokoh Zionis terkemuka yang juga menjadi Presiden pertama negara Israel, tinggal di Manchester. Lahir di Belarusia, Weizmann kemudian menjadi warga negara Inggris dan mengajar bioteknologi di Manchester University. Weizmann-lah yang banyak melakukan lobi dengan pihak penguasa Inggris di awal abad ke-20 dalam upaya menjalankan zionisme. Bahkan kesepakatannya dengan Arthur Balfour – atau Lord Balfour – yang menjabat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Inggris pada beberapa periode menghasilkan deklarasi Balfour (Balfour Declaration) di tahun 1917, dimana pemerintah Inggris menjanjikan tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.

Di rak buku dekat meja komputer yang saya gunakan saat ini, ada sebuah buku berjudul Balfour & Weizmann; The Zionist, the Zealot and the Emergence of Israel karangan Geoffrey Lewis yang dibeli beberapa bulan lalu masih belum tersentuh sampai saat ini. Kalau saya sudah membacanya kelak, insya Allah akan saya share isinya kembali pada semua.

Beberapa minggu lalu, saya mampir di sebuah toko buku. Di sudut anak-anak, mata saya tertumbuk pada sebuah buku yang kira-kira berjudul ‘Barbarossa Brothers’.

Sekilas saya baca buku untuk anak-anak itu dan isinya menggambarkan tentang Bajak Laut Laut Tengah (Pirates of the Mediteranean). Mungkin bagi kita judul ini lebih langsung mengingatkan pada sequel film Pirates of the Carribean beberapa tahun yang lalu. Film tersebut memang sedikit banyak terinspirasi oleh legenda the Barbarosa Brothers.

Buku itu menggambarkan tentang dua orang kakak beradik, Arrouj (Oruc) dan Khairuddin Barbaros sebagai tokoh bajak laut ternama di kawasan mediterania sekitar abad 16 Masehi. Digambarkan bahwa kedua kakak-beradik itu seringkali menghantam armada laut dari kerajaan-kerajaan Eropa, dan juga kota-kota pelabuhan di laut tengah (mediterania). Mereka kemudian secara kejam menghancurkan apa yang ditaklukkannya, mengambil harta benda berharga, dan menyandera yang kalah sebagai budak.

Saat itu ingatan saya langsung berpaling ke kelas kuliah Islamic History yang saya ikuti beberapa bulan yang lalu. Dr Salah Al-Djazairi mengungkapkan pemutarbalikan fakta dari legenda Barbarossa Brothers.

Saat itu, gerakan Recoinquista dari Spanyol Utara, Perancis dan Jerman sudah berhasil mengalahkan kekhalifahan Ummayah di Cordoba, di negara Spanyol saat ini dan bergerak maju ke kawasan Afrika Utara lewat kawasan Gibraltar. Serangan tentara Katolik diantaranya adalah ‘Crusade’ ke Tunisia, Tripoli (Libya), Aljazair dll.

Melihat hal ini, kekhalifahan Ottoman di Turki kemudian mengirimkan Arrouj, Khairuddin dan pasukannya untuk membantu kekuatan Muslim di negara-negara Afrika Utara ini untuk menghalangi pergerakan reconquista. Selain itu keduanya dibantu oleh kekaisaran Mamluk di Mesir yang membantu perlengkapan dan tenaga untuk berperang.

Selayaknya kondisi perang, memang layak jika terjadi pertumpahan darah dan lain-lain. Tapi jelas mereka bukan ‘bajak laut’ seperti yang digambarkan oleh sejarah barat. Dr Salah menggambarkan bahwa legenda Barbarossa Pirates ini sedemikian kuat di buku-buku sejarah, yang kemudian juga bisa tergambar sampai ke buku untuk anak-anak yang saya lihat di toko buku itu.

Sementara itu dari kalangan muslim sayangnya tidak atau belum banyak penulisan sejarah yang mampu meng-counter pemutarbalikkan fakta itu. Memang ada beberapa penulis barat yang berani mengungkapkan fakta sebenarnya tapi kebanyakan tidak digubris oleh mainstream historian.

Sampai tadi pagi saat mendengar berita di Televisi tentang penyerangan Kapal Bantuan untuk Gaza oleh pasukan Israel. Di perairan internasional laut tengah dekat kawasan Gaza, pasukan komando Israel menyerbu masuk (beberapa) kapal tersebut. Tentu saja mereka yang ada di kapal memberi sedikit perlawanan, namun apa daya tentu mereka kalah dengan persenjataan tentara yang mumpuni. Sedikitnya 10 orang tewas sampai saat ini.

Memasuki perahu orang lain, di kawasan internasional, membunuh awaknya, dan kemudian menguasai kapal tersebut untuk dibelokkan ke tujuan lain tentu sudah jelas adalah ciri-ciri pembajak bukan? Siapa yang melaksanakan?

Bukankah mereka ini Bajak Laut yang sebenarnya?

Let’s see what history would be written about them.

a

Visuals

luka

bertigo

Switzerland Trip

More Photos
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.